Jumat, 24 Oktober 2014

Pertolongan Pertama


Ketika suami saya, Tom, dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani sebuah operasi darurat, saya mulai menelepon setiap anggota keluarga kami. Saudari saya dan suaminya segera datang untuk mendampingi saya, dan kami pun berdoa sambil menunggu kabar. Saudari Tom mendengar nada cemas dari suara saya melalui telepon dan ia langsung berkata, “Cindy, boleh aku berdoa bersamamu?” Pada saat pendeta saya dan istrinya tiba, ia juga berdoa untuk kami (Yak. 5:13-16).


Oswald Chambers menulis: “Kita cenderung menggunakan doa sebagai pertolongan terakhir, tetapi Allah menghendaki doa menjadi garis depan dalam pertahanan kita. Kita biasa berdoa pada saat kita sudah tidak berdaya, tetapi Allah menghendaki kita berdoa sebelum kita melakukan apa pun.”


Pada dasarnya, doa merupakan sebuah percakapan dengan Allah, yang diucapkan dengan harapan bahwa Allah pasti mendengar dan menjawabnya. Doa tidak sepatutnya menjadi pertolongan terakhir. Dalam firman-Nya, Allah mendorong kita untuk melibatkan-Nya dalam doa (Flp. 4:6). Kita juga memegang janji-Nya bahwa ketika “dua atau tiga orang berkumpul” dalam nama-Nya, Dia akan “ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).


Seseorang yang telah mengalami sendiri kuasa Allah yang Mahakuasa akan terbiasa berseru kepada-Nya untuk mencari pertolongan pertama atas masalah yang dihadapinya. Andrew Murray, seorang pendeta di abad ke-19, pernah mengatakan: “Doa membuka jalan bagi Allah sendiri untuk melakukan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui diri kita.”



Saat aku menghadap ke hadirat-Nya

Di dalam doa yang tak diketahui siapa pun,

Apakah aku menyadari keagungan luar biasa

Dari kuasa-Nya yang menantiku di dalamnya? —Hallen






from Santapan Rohani http://ift.tt/1DIwoKq

via IFTTT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari