Tampilkan postingan dengan label Lukas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lukas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

PEREMPUAN PENDOSA

Lukas 7:36–50

PEREMPUAN PENDOSA YANG MERAIH KERAJAAN SORGA!

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas 7 : 36-50

Dapat kita bayangkan situasi pesta yang diselenggarakan oleh seorang yang bernama Simon dalam nas ini. Tentu ini bukanlah pesta biasa, tetapi pesta istimewa. Maklum, Simon adalah seorang sosok yang dianggap terhormat di lingkungan sosial masyarakatnya. Tentu yang diundangnya juga adalah para orang terpandang setingkat pejabat. Orang-orang dari kalangan terhormat. Yesus pun rupanya diundang juga ke perjamuan tersebut. Namun apa dinyana,rupanya, di tengah suasana pesta yang mulia dan terhormat, terjadi suatu peristiwa yang sebenarnya tidak diharapkan. Tamu tak diundang datang ke tengah pesta, merusak pemandangan. Ya, karena yang datang adalah seorang perempuan hina, bahkan diberi embel-embel sebagai “pelacur” kelas kakap! (ay. 37).

Oh..., suasana pesta si Simon yang terhormat seolah tercoreng begitu saja dengan kehadiran tamu yang satu ini! Bayangkan seorang pelacur, seorang pendosa ada di tengah-tengah pesta para orang terhormat. Situasi yang seharusnya tidak diinginkan terjadi. Namun itu pernah terjadi. Sungguh-sungguh terjadi di luar dugaan di tempat pesta si Simon orang terpandang! Disaksikan puluhan hingga ratusan mata geram yang memandang! Lalu apa yang dilakukan perempuan ini? Astaga... Perempuan ini datang sambil menangis. Tangis dibawa-bawa ke tempat orang bersukaria? Merusak suasana pesta?!

Oh... situasi rusaknya pesta semakin menjadi-jadi manakala perempuan jalang ini duduk mendekat kumpulan para tamu laki-laki terhormat! Sungguh suatu tindakan yang sangat merusak! Tidak terpuji! Merusak tatanan adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat Yahudi. Malah ia duduk dekat kaki Yesus, membasahi kaki Yesus dengan air matanya, lalu minyaki dengan minyak yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya! Astaga..... Suatu sikap penghormatan yang luar biasa. Suatu tindakan rasa merendahkan diri yang tidak mampu terucap dengan kata-kata.
Namun itu dilakukan oleh seoran perempuan pendosa yang hina, bukan oleh seorang Simon yang mulia!

Saudara, bukankah biasanya bila berangkat ke sekolah umpama, seorang anak paling banter hanya mencium tangan papi maminya saja? Tidak sampai mencium kakinya segala sebagai tanda kehormatan?! Bukankah antara tuan rumah dan para tamu undangan yang datang ke pesta, umpama (juga yang biasa terjadi di Indonesia yang sudah ke-Barat-Baratan) biasanya paling-paling hanya cium pipi saja sebagai tanda simpatik keramahan? Tidak sampai cium kaki segala?! Namun itu sungguh-sungguh dilakukan oleh seorang perempuan berdosa ini kepada Yesus, bukan oleh Simon atau oleh orang terhormat, atau oleh orang suci yang mengaku beragama!

Lalu apa tindakan Simon sebagai tuan rumah yang empunya pesta kehormatan? Atau reaksi para tamu istimewa yang diundang? Oh.... pasti dapat Anda duga! Lontaran kritik pedas dari sana sini, tentu saja! Dengan bermacam versi dan gaya seperti yang biasa terjadi juga dalam situasi kehidupan nyata kita! Coba baca saja dalam nas in! Simon juga tidak kalah pedasnya mengkritik, baik kepada Yesus, juga kepada perempuan ini (walau itu dilakukannya hanya dalam hati!).

Apa kritik Simon dalam hati kepada Yesus? Nah, ini! Simon melecehkan kredibitas salah satu jabatan Yesus sebagai nabi yang “Maha Tahu”! Sebab jika Yesus itu “Maha Tahu” (demikian katanya dalam hati), mestinya Ia menegor atau mengusir perempuan pelacuri ini. Karena najis hukumnya?! Hanya yang tidak kalah menarik, si Simon sendiri serba terjepit, dan ia sendiri tidak berani mengusir perempuan sundal ini. Ada apa dengan Simon yang satu ini, kelihatannya terhormat di masyarakat ini? Jangan-jangan si Somon adalah salah seorang langganan si perempuan sundal ini? (Akh, maaf.... ini cuma dugaan saja....!). Tapi bila dugaan itu misalnya benar? Nah...nah...nah...! Pantas saja si Simon tidak berani mengusirnya. Sebab bila sampai Simon mengusirnya, dapatkah Anda bayangkan bagaimana pelacur ini menempelak Simon di tengan orang banyak, bahwa ia juga salah satu langganannya? Bisa jadi, karena nyatanya Simon hanya berani mengkritik di dalam hati! Eheeem....!

Apa kritik Simon dalam hati kepada perempuan ini? Terang bagai siang, karena jelas-jelas dalam nas ini menyebutkan, bahwa Simon juga melecehkan status perempuan ini, tidak ubahnya seperti sampah saja di matanya! Jelas-jelas Simon juga menghakimi perempuan ini sebagai yang dianggap pelacur orang “berdosa”, calon penghuni neraka tak berguna! Oh....betapa sulitnya seseorang menerima kehadiran sesamanya bila dianggap memiliki reputasi buruk di tengah-tengah mereka. Seorang perempuan yang dikenal umum berprofesi sebagai perempuan sundal dianggap berdosa dan sangat tidak layak berada di tengah-tengah orang Farisi, orang suci, orang terhormat! Toh pun perempuan ini sekarang telah bertobat!

Lalu reaksi para undangan terhormat, para tokoh Farisi, orang saleh, orang terhormat lainnya? Dari nas yang sejajar, dalam cerita yang sama (bdk. Mat. 26:8-9; Mrk. 14:4; Yoh. 12:4-5), tidak kurang si Yudas bendaharawan terhormat juga tidak kalah pedasnya memberikan kritik pedas! Menurut Yudas, minyak narwastu itu mahal, bernilai ekonomis tiga ratus dinar. Lebih berguna uang sebesar itu dibagikan kepada orang miskin. Tujuan penggunaan uang hasil penjualan narwastu itu benar mulia. Eittt, tapi tunggu dulu, lihat motivasinya..!!! Apa sesungguhnya yang ada di otak Yudas? Karena sebenarnya bukan karena ia memperhatikan nasib orang–orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri. Yudas tidak tulus untuk memberi kepada orang–orang miskin. Yudas menghargai Yesus terlalu rendah sehingga ia protes ketika perempuan berdosa ini meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya.

Sekarang, apa reaksi Yesus sendiri? Nah, ini perlu kita renung dalam-dalam! Dugaan Simon ternyata meleset! Ternyata Yesus sungguh-sungguh Maha Tahu. Ternyata Tuhan Yesus menunjukkan kepekaan seorang nabi; Ia tahu apa yang ada di benak Simon (ay.40), dan hal ini sangat mengejutkan Simon. Ironisnya, Tuhan Yesus tidak menanggapi pertanyaan tersebut, Ia malah memberikan contoh ilustrasi tentang dua orang yang berhutang dan kedua-duanya dibebaskan dari hutang. Menarik sekali, Simon sebenarnya tahu jawabannya tapi ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut; ia enggan menjawab namun ia tahu pertanyaan itu harus dijawab.

Yesus langsung memberikan tiga perbandingan (ay. 41-45 ): (1) Perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan air mata sedang Simon tidak, (2) Perempuan itu menciumi kaki Yesus dengan tiada henti-hentinya sedang Simon tidak, (3) Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi sedang Simon tidak meminyaki kepala Yesus bahkan dengan minyak biasa. Yesus memberikan cara pandang yang seharusnya orang lakukan, bila mengaku bertobat, bila sungguh-sungguh sebagai orang beragama atau orang terhormat. Terhormat dalam pandangan Allah Yang Maha tahu, tentu saja!

Saudara, siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa namanya tidak disebut di sini? Saudara, rupanya penulis Injil Lukas sengaja tidak mencantumkan nama perempuan ini di sini, tidak ingin mempermalukannya (kode etik), terlebih karena ia sudah cukup menderita, jangan lagi menambah penderitannya. Berbeda dengan manusia-manusia pada umumnya, sudah baik dan banyak sekali pun yang dilakukan sesdamanya, pengakuan dan penghargaan pun terkadang bisa jarang dilakukan. Apalagi bila itu dilakukan oleh para mantan pelacur, mantan narapidana, atau oleh orang-orang kecil biasa. Walau sekarang mereka telah bertobat! Berbeda dengan orang besar, sekali saja berbuat kebaikan hal yang biasa, bisa jadi namanya terpampang di koran dengan huruf-huruf besar! Walau itu dengan motivasi sekedar menutupi dosa yang lebih besarlagi!

Bila kita membaca dalam nas lain, dalam cerita yang sama (Yoh.12:3), kita temukan bahwa nama perempuan ini adalah Maria, atau lengkapnya Maria Magdalena. Di masa lalunya, ia disembuhkan oleh Yesus dari penyakitnya, yaitu yang dicatat: "Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan." (Luk. 8:2; bdk.Mrk.16:9). Perempuan yang bernama Maria ini bukan saja mengorbankan apa yang mungkin merupakan seluruh tabungannya, ia juga mempertaruhkan reputasinya. Dalam budaya Timur Tengah abad pertama, wanita terhormat tidak pernah memperlihatkan rambutnya di depan umum. Namun ibadah yang benar tidaklah peduli pada apa pendapat orang lain tentang kita (bdk.2 Sam. 6:21-22).

Kenapa dan apa alasannya hingga ia sanggup melakukan perkara besar, bahkan bila kita mau jujur mungkin jarang, malah mungkin tak pernah dilakukan oleh orang yang mengklaim dirinya beragama, suci, dan sebagai orang terhormat?! Permohonan ampun memang dilakukan juga, namun yang hanya sebatas doa kepada Tuhan dalam kata-kata basa-basi saja? Tanpa aksi nyata, apalagi tindakan besar seperti yang dilakukan perempuan berdosa yang satu ini! Untuk menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral. Namun iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang percaya.

Tetapi kita harus hati-hati dalam mengartikan ayat 47; ayat tersebut seolah-olah menggambarkan pada kita bahwa karena ia telah berbuat kasih maka dosanya diampuni. Itu keliru besar! Justru sebaliknya, Tuhan terlebih dahulu mengampuni dosa perempuan itu dan sebagai ucapan syukurnya, ia berbuat kasih. Menurut penafsiran, dilihat dari konteks sebelumnya dan sesudahnya maupun dari bahasa aslinya, lebih tepat diterjemahkan dengan “sebab itu.“ Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia banyak berbuat kasih (Luk. 7:47).

Dari fakta-fakta yang ada dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perempuan tersebut telah bertobat sebelumnya. Ia telah terlebih dahulu membuka diri, diisi oleh kasih Tuhan, dan telah menerima pengampuanan besar dari Allah terlebih dahulu (bdk. ayat sebelumnya 18-35). Kesadaran ini, membuatnya mengasihi lebih daripada yang dilakukan orang lain. Perempuan ini melakukan perbuatan yang lebih dari batas sewajarnya dan paling berharga, karena keluar dari lubuk hati yang terdalam sebagai tanda ucapan syukurnya atas pengampunan dosa yang telah ia terima. Karena itu sebagai ungkapan syukurnya, ia berbuat kasih; ia menyadari hutangnya terlalu besar untuk diampuni, namun Tuhan Yesus mau berkenan mengampuni dosanya yang banyak itu.

Karenanya, untuk menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral. Namun iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang percaya. Dan lihatlah, seperti yang dicatat dalam kitab-kitab Injil, bahwa ia juga adalah sebagai orang pertama yang bertemu Yesus setelah bangkit dari kematian, dan orang pertama yang mengabarkan tentang "Yesus yang bangkit" kepada murid-murid yang lain. Luar biasa! Seorang perempuan yang dianggap hina, namun pertobatannya bukan sekedar sebatas kata-kata doa permohonan ampun semata! Imannya tidak sekedar teori saja, tapi mempersembahkan, bahkan mempertaruhkan yang terbaik dari seluruh hidupnya! AMIN! *
_____________________
(Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Kamis, 14 Juni 2012

Dasar Kehidupan Orang Kristen


Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Matius 7:24-29

Bila memperhatikan perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus kita dapat mengetahui bahwa Ia sering menggunakan perbandingan dalam perumpamaan-Nya. Misalnya perumpaan sepuluh anak dara (Matius 25), orang kaya dan Lazarus (Lukas 16), dua orang yang membangun rumah (Mat 7:21-29, Luk 6:46-49), dll. Perumpamaan-perumpamaan tersebut menghadapkan perbandingan-perbandingan antara yang pandai/bijak dengan yang bodoh dan yang kaya dengan yang miskin. Adapun orang itu terdapat di antara pendengar-pendengar yang sehari-hari mengelilingi Tuhan Yesus untuk mendengar perkataan-Nya. Karena itulah Tuhan Yesus menegaskan kepada para pendengar-Nya, bahwa barang siapa yang mendengar perkataan-Nya diumpamakan dengan seorang yang bijak (ay 24). Tetapi bukan saja menjadi pendengar melainkan harus juga menurutinya. Ini berarti orang tersebut menyambut Tuhan Yesus dan menjadikan-Nya sebagai batu alas/dasar kehidupannya sehingga dalam hidupnya akan beroleh damai dan sentosa.

Dengan demikian orang yang bijak itu diumpamakan sebagai yang mendirikan rumah di atas batu dan ketika turun hujan dan air bah melanda serta angin topan menerpa rumah itu tidak roboh karena beralaskan pada batu (ay 24-25). Demikian pula di kehidupan ini, sering kali kita diserang dengan sangat ganas oleh kuasa kegelapan yang diibaratkan sebagai air bah dan angin topan, hidup kita hendak ditangkap oleh kuasa kegelapan dengan berbagai jebakan-jebakannya yang menuju kepada kebinasaan. Namun berbahagialah kita karena iman kita beralaskan Batu Zaman yang Kekal yakni Tuhan Yesus, karena itu kita tidak akan gentar dan takut terhadap segala bahaya yang diterbitkan oleh kuasa kegelapan.

Sebaliknya dikemukakan oleh Tuhan Yesus tentang orang yang bodoh, yakni yang hanya mendengar perkataan-perkataan-Nya tetapi tidak menuruti-Nya. Orang ini diumpamakan oleh Tuhan Yesus sebagai yang rumahnya dialaskan di atas pasir saja dan ketika hujan lebat, banjir dan angin topan melanda maka robohlah rumah tersebut. Ini berarti jikalau hidup kita didasarkan pada keduniawian (kekayaan dan kesenangan dunia) semata maka ketika segala bahaya yang diterbitkan oleh kuasa kegelapan menerpa kita maka kita pun ikut terseret kedalam kebinasaan.

Oleh karena itu baiklah kita menjadi orang yang bijak yang menjadikan Tuhan Yesus sebagai dasar kehidupan kita orang Kristen !

Selasa, 27 Desember 2011

JANGAN TEMPATKAN YESUS PADA PALUNGAN YANG KE DUA

NATS : LUKAS  2 : 7
Peristiwa yang terpenting di dunia ini, yang sangat perlu untuk kita renungkan adalah ketika Yesus dilahirkan.
merupakan satu kehinaan yang teramat besar ketika seorang keturunan raja,bangsawan atau seorang keturunan pejabat yang disegani dan dihormati namun pada kenyataannya dilahirkan di kandang yang hina dan di tempatakan didalam palungan bahkan dibungkus dengan kain lampin( kain terapu ). namun itu yang di alami oleh Yesus yang lebih dari seorang keturunan bangsawan bahkan bukan anak seorang pejabat tapi dia adalah Anak dari Bapa disorga yang datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
Saudaraku..ketika Yesus ditempatkan dipalungan bukanlah pengenapan nubuat,karena kalau kita pelajari tentang nubuat-nubuat yang disampaikan oleh nabi-nabi di zaman perjanjian lama tidaklah disampaikan bahwa Yesus akan ditempatkan dalam palungan,Yesus Putra Natal yang adalah Raja diatas segala raja ditempatkan di palungan itu disebabkan oleh ulah manusia yang ternyata dari semenjak Yesus dilahirkan kedunia ini sudah mengalami PENOLAKAN dan itu diakibatkan oleh karena Dosa sudah sangat menguasai manusia pada saman itu. Jarak antara kitab Maleakhi dan kitab Matius adalah kurang lebih 450 Tahun dan ini dikenal dengan Zaman ENTERTESTMENT yang artinya Zaman dimana tidak ada pewahyuan lagi yang diterima oleh Nabi-nabi oleh karena kehidupan manusia yang terlalau banyak berbuat dosa. Kalau kita melihat kembali pada zaman Nuh dan Abraham dimana ada dua peristiwa yang mengerihkan yang terjadi dimana Allah membinasakan manusia oleh karena dosa-dosa manusia yang lebih dikenal dengana Bahterah Nuh serta Sodom dan Gomora.
Namun pada peristiwa ini Allah tidak mengirim hujan yang lebat selam 40 hari serta membuka seluruh mata air yang ada dimuka bumi ini untuk menenggelamkan seluruh manusia yang berdosa sebagaimana yang dicatat dalam Firman Tuhan dalam Kitab Kejadian Pasal 7 dan Allah tidak mengirim api untuk membakar manusia yang berdosa seperti di Sodom dan Gomora sebagai penghukuman bagi manusia yang terlebih suka berbuat Dosa dari pada berbuat baik tapi justru sebaliknya bukan penghukuman yang Allah berikan tapi Kaih Karunia Allah (GRACE) yang teramat besar YANG Allah berikan  lewat lahirnya Anaknya yang tunggal itulah Yesus putra Natal yang memberikan Terang bagi Dunia ini yang sudah menjadi Gelap oleh karena Dosa-dosa manusia.
   
Saudaraku…menempatkan Yeus di palungan merupakan penolakan bagi Yesus sang Putra Natal yang memberikan Keselamatan bagi seluruh manusia yang percaya padaNya.Karena itu jangan tempatkan Yesus lagi dalam palungan yang kedua. Kenapa demikian ? :

I. PALUNGAN ITU TEMPAT MAKAN ( Jangan jadikan Yesus hanya sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan jasmania saja tetapi untuk kebutuhan Rohania ).

Orang Israel adalah suatu umat Tuhan yang suka memelihara ternak diantaranya kambing dan domba semenjak mereka keluar dari Mesir.oleh kerena itu tidak heran kalu disetiap rumah dari orang-orang yahudi pasti ada kandang domba dan kambing dan yang pasti kalau ada kandang hewan pasti ada Palungan.Biasanya setiap kambing atau domba yang dipelihara oleh orang-orang Yahudi setiap pagi siang dan petang mereka kembali kedalam kandang mereka untuk mencari palungan yang sudah berisikan makanan yang adalah kebutuhan hewan tersebut sudah di sediakan oleh sipemilik hewan.

Menempatakan Yesus dalam Palungan mempunyai arti : jangan mencari Yesus hanya untuk kebutuhan saja.
Ada banyak orang yang mencari Yesus hanya karena kebutuhan Sandang,Pangan dan Papan yang merupakan kebutuhan pokok manusia tapi tidakkah kita ketahuilah bahwa ada kebutuhan yang lebih dari itu yang Tuhan sediakan bagi kita? Saudaraku Tujuan hidup kita bukanlah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup ini secara Fisikal tapi lebih dari pada itu tujuan kita adalah kebutuhan Supranaturalisme itu bicara kehidupan rohani kita.
Rasul paulus berkata dalam Kitab FILIPI 3 : 14 “aku berlari-lari pada Tujuan yaitu menuju pada panggilan sorgawi didalam Kristus Yesus”.
Barclay berkata : Kamu tidak kan berpikir tentang jiwamu jika kamu hanya berpikir tentang perutmu.
Ketika Yesus dicobai oleh iblis dalam Injil Matius 4 : 4 Yesus berkata bahwa manusia Hidup bukan berasal dari roti saja tapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah. Perhatikan kata hidup yang disampaikan oleh Yesus.Tuhan yesus setiap kali bicara tentang hidup Dia selalu mengunakan kata ZOE dalam bahasa ibarani yang mengandung arti hidup yang kekal.

Saudraku..makanan tidak akan memberikan makna untuk kehidupan yang kekal.
Yesus berkata “Akulah Roti Hidup” memberitahukan kita: Yesus adalah makanan yang memelihara kehidupan rohani (6:35), siapa yang makan dagingNya dan minum darahNya, beroleh hidup kekal (6:51-54), siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan lapar dan haus lagi secara rohani, karena Roh Kudus mendiami orang percaya (6:40). Hasilnya adalah, (1) Mereka tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (6:39,40) “ jangan berfokus pada kebutuhan jasmani yang bersifat semu tapi berfokuslah pada kebutuhan Rohani yang bersifat kekal.
   
Jarak antara Galilea dan Kapernaun kurang lebih ada 20 km,ketika Yesus berangkat dari Galilea ke Kapernaum orang banyak mengikuti Dia tapi bukannya Yesus memuji mereka atas kerja keras dan semangat mereka untuk mengikuti Yesus tapi justru Yesus marah dengan mereka karena Motifasi mereka yang keliru mengikuti Yesus. Yesus berkata kamu mengikuti Aku karena kamu sudah makan roti yang aku berikan (Mujizat 5 roti dan 2 Ikan) tapi ketahuilah Aku adalah Roti hidup makanlah Roti yang memberikan kamu kehidupan yang kekal bukan pada makanan yang hanya bersifat sementara.
Allah sengaja membawa kita dalam satu kebutuhan yang sangat-sangat kita perlukan contoh yang kekurangan perlu diberkati untuk memiki kecukupan,yang lemah dikuatkan oleh Allah bahkan yang sakit disembuhkan Oleh Allah,namun pada kenyataannya ada banyak orang ketika kebutuhannya dipenuhi oleh Allah ada banyak orang yang meninggalkan Allah setelah terpenuhi kebutuhannya (Lukas 17:17 Kisah 10 orang kusta yang disembuhkan Allah).sebetulnya ditengah tengah kebutuhan kita Allah sementara merindukan KEINTIMAN kita dengan Allah.Daud seorang raja yang dipilih Allah sendiri sebagai raja kedua mengantikan raja Saul namun kenyataannya, ada banyak kali Daud berkata dalam kitab Mazmur sampai berapa lama lagi Engkau ya Allahku menyembunyikan wajahMu yang sebenarnya Allah sengajah mengijinkan hal itu untuk membawa Daud terus mencari Tuhan


II. PALUNGAN ITU KOTOR

Satu waktu ketika saya dalam perjalan pulang menuju ke bandara untuk pulang ke Manado disebabkan tugas pelayanan penginjilan,ada seorang rekan hamba Tuhan yang mengantar saya ke bandara bertanya pada saya demikian :
Brur seandainya satu waktu dirumah anda ada seorang tamu yang datang dan berkata semua isi perabot yang sudah tua-tua dan yang kurang baik yang ada di dalam rumah keluarkan dan buang saja. Kalau kita belum mengetahui maksut dari tamu tersebut pasti kita tidak akan setuju.tapi..ketika tamu itu berkata semua yang kamu keluarkan dan yang kamu buang itu akan saya gantikankan dengan perabot yang baru-baru dan mewah,pasti kita akan setuju.

Dalam kitab Efesus 3:17 “oleh imanmu Kristus diam didalam hatimu” kota Korintus adalah kota dimana banyak orang yang melakukan penyembahan berhala dimana dijalan-jalan Rasul paulus banyak melihat ada banyak bangunan-bangunan kecil yang dibuat mereka yang menurut mereka bahwa itu tempat kediaman allah mereka. Sehingga Paulus berkata Bahwa Allah yang kita sembah tidak diam didalam buatan tangan manusia tetapi tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Allah?
Saudaraku…ada banyak orang yang tidak bertahan didalam iman pengharapan dan kasih pada Allah mengapa??karena mereka tidak menempatkan Yesus di dalam hati makanya salomo berkata dalam kitab Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dalam segala kewaspadaan sebab dari situlah terpancar kehidupan. Jika Kristus ada dalam hati maka terang Natal akan bersinara dari dalam kehidupan kita. Yesus berkata kamu adalah garam dan terang dunia.kadangkala kehidupan kita tidak memancarkan Terang kasih Kristus karena kristus tidak ada dalam hati.saudaraku..milikilah hati yang bersih supaya Kristus putra Natal itu ada dalam hati kita dan dari dalamnya memancarkan kehidupan yang menjadi berkat bagi banyak orang.
 
Dalam kitab Yesaya 32:17 “Dimana ada kebenaran disitu tumbuh damai sejahterah”. Lukas 2:14 “Damai sejahterah bagi orang yang berkenan padaNya”. Ketika kita hidup benar dihadapan Allah maka damai Natal itu akan bertumbuh didalam kehidupan kita. Jangan ada dengki,amarah dan kebencian didalam hati kita lagi 1 Yohanes 3:15 “jangan membenci saudaramu sebab orang yang membenci saudara sama dengan pembunuh”. Biarlah di mingu-minggu advent ini kita memiliki winal aidin walfaidin kita saling memaafkan,mengampuni sebab tidak ada alasan bagi kita untuk membenci dan menghakimi orang lain sebab Yesus telah melakukan jauh terlebih besar dari apa yang kita lakukan.Milikilah hati yang bersih supaya Yesus Putra Natal itu ada dalam hati kita dan Damai Natal itu boleh kita rasakan dalam hidup kita.


III. YANG DIDALAM PALUNGAN ADALAH BAYI YANG KECIL YANG BISANYA HANYA BERDIAM,MENANGIS DAN TIDUR DAN TIDAK BISA BERBUAT APA-APA.

Berapa banyak hari-hari ini orang yang mengalami kekecewaan dikarenakan usaha yang bangkrut hasil pertanian yang kurang memuaskan dan berbagai macam usaha yang tidan mencapai sesuai dengan keinginan.Alasannya apa?... Tidak melibatkan Tuhan didalamnya.

Saudaraku…ada satu tokoh dalam alkitab yang sangat terkenal oleh karena keberhasilannya namanya Daud. Kunci keberhasilan Daud dalam peperangannya adalah dia selalu mengandalkan Tuhan (1 samuel 23:2) Daud adalah seorang raja yang selalu bertanya kepada Tuhan setiap kali dia akan mengadakan peperangan melawan musuh-musuhnya.dengan strategi dan konsepnya Allah dia selalu berperang melawan musuh-musuhnya.

Berapa banyak umat Tuhan diakhir zaman ini yang setiap kali merencanakan sesuatu atau melakukan sesuatu tanpa melibatkan Tuhan didalamnya bahkan menyikapi setiap persolalan bukan dengan cara-cara yang sesuai dengan firman Tuhan tapi dengan konsep dan kepikiran manusia yang sebernanya kata paulus dalam kitab korintus kepintaran manusia adalah kebodohan di mata Allah,yang pada akhirnya mengalami kegagalan dan kekecewaan dan pada akhirnya menghilangkan damai natal didalam hati.
Saudaraku ketika kita mengandalkan Tuhan dalam setiap pergumulan kita maka yang mustahil bagi kita  bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Gideon dalam peperangan melawan musuhnya yang berjumlah 135.000 tentara Midian yang gagah perkasa tidak mengalami ketakutan dan kuatir sedikitpun walaupun jumlahnya hanya 300 orang artinya 1 berbanding 450 orang,dalam konsep dan logika manusia ini tidak mungkin tapi bagi Allah ini satu persoalan yang kecil. Sejarah mencatat dalam kita hakim-hakim maka orang-orang midian itu dikalahkan oleh Gideon dan para tentara yang hanya berjumnlah 300 orang.
Saudaraku..kadangkalah kita diperhadapkan pada persolan semacam ini.kita mungkin berkata beban ini terlalu berat,persoalan ini terlalu besar tapi saya brani berkata bahwa Allah yang kita sembah bukanlah Bayi yang kecil sama seperti yang ada didalam palungan,tapi Dialah Yesus yang terlebih besar dari setiap persoalanmu. Karena itu andalkan Tuhan dalam segala hal jangan mengandalkan kekuatanmu sendiri.
Kata firmanNya : Diberkatilah orang yang mengandalakan Tuhan yang menaruh harapnya hanya kepada Tuhan.

Akhirnya  :
1. Jangan cari Yesus hanya untuk kebutuhan yang sementara saja tapi untuk kehidupan yang kekal sebab hidup ini hanya sementara  
2. Milikilah hati yang bersih supaya Yesus diam di dalam hatimu sehingga damai Natal itu akan senantiasa dirasakan dalam hidupmu
3. Andalkan Tuhan dalam segala hal sehingga hidupmu di berkati. Amin

Atas nama Pribadi dan keluarga mengucapkan :
selamat merayakan hari Natal 25 Desember 2011
dan selamat menyongsong
Tahun baru 1 januari 2012
Tuhan memberkati...  Imanuel !

__________________________________
Dikirim oleh : nofly_koun***@*****[dot]com

Senin, 21 November 2011

MENGUBUR MENTAL FARISI

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas15:1-7

Perumpamaan tentang domba yang hilang dalam nas i­ni adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus sendiri. Perumpamaan ini disampaikan-Nya dalam ra­ngka menjawab sungutan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, karena Yesus menerima dan bergaul dengan oang berdosa. Saudara, hampir setiap kali kita membaca tentang orang-orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Alkitab, selalu kita memperoleh kesan yang ne­gatif. Negatif, karena sikap-sikap yang mereka tunjukan. Melalui nas ini kita dapat melihat sifat-sifat mereka yang negatif itu.

Pertama:  mereka selalu menganggap dirinya benar suci dan istimewa. Yang selalu harus dihargai dan dihormati. Ingin dihargai dan dihormati itu sendi­ri sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Setiap orang wajar menginginkannya. Wajar untuk mendapatkannya. Tapi masalahnya, bila hanya ingin dihargai dan dihormati tetapi tidak perrnah menghargai orang lain! Mengejar kebenaran atau kesucian  itu juga seharusnya dilakukan setiap orang. Bahkan hal tersebut justru dianjurkan oleh Tuhan. Tapi masalahnya, apabila selalu menganggap diri benar, menganggap diri sendirilah yang suci lalu menjadi alat untuk menghakimi bahwa orang lain selalu salah, selalu tidak benar?

Wah...wah...wah...Celakanya lagi bila sampai merasa diri tidak pernah salah, tidak pernah keliru, tidak pernah berdosa. Waduh...ini pas­ti kesombongan namanya. Kemunafikan istilahnya! Jika mental Farisi dan Ahli Taurat semacam ini sampai melanda persekutuan gereja, tentu tidak mungkin ada persekutuan yang balk, tidak mungkin adanya saling mengasihi. Yang ada tentulah saling membenarkan diri, saling menyalahkan, saling merasa berharga, dan seterusnya...

Karena itu marilah kita mengoreksi diri masing-ma­sing, kita bercermin dari terang kebenaran firman Tuhan ini, supaya jika ada mental Farisi dan Ahli Taurat menghinggapi persekutuan kita, akan kita kubur dalam-dalam. Dan jika ada, maka juga langkah paling bijaksana yang harus dilakukan adalah "per­tobatan". Bertobat berarti kita bersedia menanggalkannya, lalu menguburnya dalam-dalam kemudian mengarahkan hidup kita pada jalan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Memang pada dasarnya tidak ada seorang manusia juapun di dunia ini (kecuali Yesus) yang tidak pernah keliru, tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi itu tidak mengapa, andai ada pertobatan. Yesus sendiri berkata: "Demikian juga akan ada sukacita di sorga karma satu prang berdosa yang bertobat, lebih daripada eukacita karma sembila puluh sembilan p­rang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (ay.7).

Kedua: Mereka adalah orang-orang yang selalu mencari kesalahan orang lain, tatapi mereka sendiri tidak pernah mengakui dan menyadari kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa mereka. Selalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain sebenarnya adalah ungkapan perasaan hati terselubung yang dihiasi sifat dengki dan kebencian secara menyamar. Sifat yang  pada dasarnya untuk menutupi kekurangan diri sendiri. Sifat yang pada dasarnya untuk menutupi ke kurangan diri sendiri. Takut karena perasaan tersi­sih, tersaingi atau merasa kalah dari orang lain.

Saudara, apabila kita mencari kesalahan orang lain, ya memang selalu ada. Semakin kita mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, ya tentu semakin banyak yang kita dapatkan. Andaikata hal demikian kita lakukan, sebaiknya kita menyadari, apakah saya juga tidak memi­liki kekurangan-kekurangan, kesalahan-kesalahan atau juga dosa-dosa? Jangan-jangan kesalahan, kelemahan dan dosa kitea jauh lebih besar dari orang lain! Ibaratkan telunjuk kita, jika menunjuk ke arah porang lain, makea pada saat yang sama kits harus me­nyadari bahwa masih ada tiga bahkan empat jari yang lain menunjuk ke arah diri kita.

Sebab itu saudara, baiklah berdasarkan kebenaran firman Tuhan ini kita diingatkan supaya menjalani hidup secara baik dan positif. Tidak terlalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain. Orang dapat menghargai kita sebenarnya juga tergantung dari cara kita menghargai orang lain. Orang menjadi senang itu pun tergantung dari apa yang kita laku­kan sehingga orang menjadi senang.

Seorang yang benar-benar rendah hati memang sulit ditemukan. Namun tentunya Tuhan menyenangi orang  yang rendah hati. Booker T.Washington, seorang pen­didik negro yang terkenal dari Institut Tukegee me­rupakan contoh yang baik untuk kebenaran ini. Tentunya yang perlu kita tiru. Tidak lama setelah ia menjabat presiden dari Institut Tukegee di Alabama, ia berjalan-jalan di pinggir kota. Seorang wanita kulit putih tiba-tiba menghentikannya. Karena tidak mengenal tuan Washington, maka wanita yang kaya ini menawarkan apakah laki-laki negro itu mau menda­patkan uang dengan memotongkan kayu untuknya. Sete­lah berfikir bahwa tak ada urusan yang mendesak, maka Prof.Washington tersenyum dan menggulung lengan bajunya lalu mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta.

Setelah selesai membawa kayu-kayu itu ke dalam ru­mah dan meletakkannya di dekat perapian. Seorang gadis kecil mengenalnya dan kemudian mengatakan kepada wanita itu. Keesokan harinya wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kuntor tuan Washington dan meminta  maaf. "Tak apa-apa, nyonya", jawabnya, "Adakalanya saya menyukai pekerjaan kasar, disamping itu sungguh menyenangkan dapat menolong seorang teman", lanjutnya.

Wanita tadi dengan hangat menjabat tangan tuan Washington dan memberikan pujian buat perilakunya yang rendah hati. Beberapa waktu kemudian wanita tadi menyatakan penghormatannya dengan ikut menyumbang be­ribu-ribu dolar untuk Institut Tukegee. Alkitab berkata; "Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian" (Amsal. 29:23). Saudara, hanya de­ngan kerendahan hati maka kasih dapat dilakukan. Dengan kerendahan hati di situlah ketinggian dan kea­gungan kita selaku pengikut-pengikut Yesus. AMIN
_____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Senin, 03 Oktober 2011

MASUK SORGA BUKANLAH SOAL MISKIN ATAU KAYA!

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas 16:19-31

Menurut saudara, apakah sebabnya seorang kaya yang diceriterakan dalam Injil Lukas ini tidak masuk sorga, sedangkan Lazarus yang sangat menderita dan miskin mendapat tempat dalam kemuliaan Allah di sorga? Apakah si orang kaya ini masuk neraka, alasannya hanya karena dia kaya, dan Lazarus masuk sorga hanya karena dia miskin? Apakah "kaya" itu dianggap sesuatu yang duniawi, jahat, rendah dan kotor? Lalu "miskin"  itu dianggap sesuatu yang rohani, baik, suci dan mulia, sehingga dianggap sebagai syarat yang ideal untuk masuk sorga? Saudara, kita keliru besar bila memiliki pemikiran seperti itu. Sebab kekayaan menurut Alkitab juga merupakan berkat atau anugerah Tuhan, bukan pemberian setan! Sedangkan kemiskinan itu pun bukanlah sesuatu yang ideal atau syarat untuk masuk sorga
Alkitab sendiri banyak berbicara tentang kekayaan dalam nada yang positif. Raja Daud misalnya, mengakui bahwa kekayaan itu juga adalah pemberian Tuhan: "Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu..." (I Taw.l 29:12). Dalam Mazmur 112:1, 3 berkata: "Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang suka kepada segala perintah-Nya. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya." Juga dalam Pengkhotbah 5:18 diikatakan: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya - juga itupun karunia Allah."

Lalu mengenai kemiskinan? Alkitab sendiri tidak selalu berbicara dalam nada yang positif tentang kemiskinan! Amsal 13:18 sendiri berkata: "Kemiskinan dan cemoh menimpa orang yang mengabaikan didikan." Kemudian Amsal 28:19 berkata: "Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makaqnan, tetapi siapa yang mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinannya." Juga dalam Amsal 10:15b dikatakan: "...tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinannya."  Saudara, apabila kita memahami dari keterangan ayat-ayat Alkitab di atas, jelaslah bagi kita bahwa kemiskinan itu pun bukanlah menjadi jami8nan untuk masuk sorga dan kekayaan juga bukanlah menjadi alasan untuk masuk neraka. Atau dengan kata lain, tidak semua orang kaya harus masuk neraka dan tidak semua orang miskin otomatis menjadi penghuni kemuliaan sorga!

Saudara, lalu di mana letak kesalahan si orang kaya dalam nas ini sampai ia masuk ke neraka? Si orang kaya ini masuk neraka bukanlah hanya karena dia kaya, tetapi letak kesalahannya ialah karena ia mengubah fungsi kekayaan itu bukan sebagai alat, tetapi sebagai "tuhan" dan tujuan. Sehingga yang muncul adalah ketamakan. Dan ketamakan menurut Alkitab adalah akar segala kejahatan. Yang salah dari si orang kaya ini adalah, karena oleh kekayaannya ia semakin mengarah kepada dirinya, bukan kepada sesama. Ia menjuadi lupa diri atau takabur atas berkat yang diberikan Tuhan kepadanya.

Orang kaya dalam Injil Lukas ini masuk neraka memang bukan karena ia menipu atau merugikan orang lain, tetapi kekayaannya itu dianggapnya satu-satunya yang paling berharga. Bahkan lebih berharga dari keselamatannya sendiri. Itulah yang menjadikannya tidak rela perduli kepada Lazarus yang miskin tergeletak di depan pintu rumahnya, sementara ia bersukaria dalam kemewahannya tiap-tiap hari. Pada dasarnya Alkitab tidak pernah anti terhadap orang kaya, sebab Allah adalah Allah semua orang, baik bagi orang kaya maupun bagi orang miskin. Yang Allah anti adalah, orang-orang kaya yang tidak mau berbagi, kikir dan serakah! Apalagi bila sampai memeras dan menindas sesamanya yang miskin. Bila ini yang terjadi, maka Tuhan akan berdiri di pihak yang tertindas dan melawan si penindas! Yang Allah anti adalah, orang-orang kaya yang miskin akan keperdulian, kemurahan dan kasih.

Lalu mengenai kemiskinan? Apakah Lazarus masuk sorga alasannya hanya karena dia miskin? Saudara, Lazarus masuk dalam kerajaan sorga alasannya bukanlah hanya karena dia miskin, tetapi karena Allah mau menyatakan kasih-Nya yang besar. Kasih yang tidak terbatas oleh apapun. Kasih-Nya berlaku bagi siapapun dan orang yang bagaimana jua pun. Bahkan bagi orang-orang yang dianggap paling hina, paling sengsara dan tidak berdaya seperti Lazarus sekalipun. Tetapi ini bukanlah berarti Yesus mengagung-agungkan kemiskinan atau menjadikannya syarat yang ideal untuk masuk sorga. Menurut Alkitab, kemiskinan juga justru tidak ideal! Contohnya, seperti dalam perumpamaan "Anak Yang Hilang" (Lukas 15), yang kelaparan dan melarat, sampai mengisi perutnya dengan ampas makanan babi. Dalam situasi seperti itu, apa yang dapat diharapkan sebagai sumber daya manusia yang tangguh, berprestasi dan berkualitas?! Bila orangnya saja kekurangan gizi, sakit-sakitan, apa yang dapat diharapkan ibaratnya ia seorang olahragawan?

Bagaimana dapat berkarya semaksimal mungkin, sementara perut keroncongan? Kemiskinan sauadara, kadang-kadang justru membuat orang sulit untuk membuka diri terhadap sesama. Sebab bila kebutuhan sendiri saja sudah tidak terpenuhi, bagaimana mungkin dapat memikirkan kebutuhan orang lain? Andai kata bila untuk membeli makanannya saja sudah tidak ada uang, bagaimana mungkin dapat memberi persembahan? Orang miskin pun bisa kehilangan martabatnya bila ia diperbudak oleh kemiskinannya. Diperbudak oleh kemiskinan berarti, dipenjarakan oleh rasa rendah diri, merasa tidak berdaya dan putus asa. Lalu tidak lagi merasa mampu berbuat apa-apa. Tidak jarang, inilah juga alasan bagi orang miskin untuk menghindar dari tanggung jawab. Alasan untuk tidak dapat mengabdi, tidak taat dan tidak mampu berkorban. Kadang-kadang, kemiskinan juga dapat menciptakan peluang terhadap segala jenis kejahatan. Contohnya, seorang melarat yang sampai menjadi penjahat. Juga seorang penjahat yang disalibkan di sebelah kiri Yesus dan menjadi murtad (Lukas 23:29).

Sebenarnya dalam nas ini Yesus tidak berbicara soal kekayaan atau kemiskinan untuk menjadi syarat masuk sorga. Tetapi Yesus justru mengoreksi sikap orang-orang yang keliru tentang soal kekayaan dan kemiskinan. Artinya, salahlah kita apabila mengagung-agungkan orang secara berlebihan hanya karena dia kaya atau pun melecehkan dan menganggap rendah orang hanya karena dia miskin. Salah pulalah kita bila oleh kekayaan lalu mau berbuat seenaknya. Apalagi bila sampai menginjak-injak hak dan martabat orang. Lalu soal kemiskinan? Salah jugalah kita bila karena kemiskinan kita lalu putus asa, bahkan sampai menjual harga diri hanya demi sesuap nasi. Apalagi bila sampai merampok atau menipu orang. Alkitab tidak pernah melarang orang orang menjadi kaya, hanya kekayaan memang berbahaya dan selalu menggoda. Berbahaya, karena tidak jarang membuat orang menjadi lupa diri dan lupa Tuhan! Menggoda, karena tidak jarang membuat orang seolah-olah telah memiliki sorga yang sesungguhnya. Untuk itu, Yesus pun telah mengisyaratkan: "Dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada."  (Luk.12:34). Namun Alkitab tidak pernah menganjurkan orang untuk menjadi miskin. Tetapi kemiskinan uga berbaya. Tidak jarang dapat membuat orang menjadi nekad dan tidak dapat perpikir panjang.

Saudara, orang kaya tidak selalu harus masuk neraka andakata ia memiliki sikap yang berbeda dari orang kaya yang ada dalam Injil Lukas ini. Lihat saja Lidia, seorang pengusaha besar, pedagang kain ungu dari Tiatira. Ia kaya, namun sangat berbakti kepada Tuhan. Tidak sedikit bantuan dan fasilitas yang ia sediakan untuk menunjang pelayanan Rasul Paulus. Lihat juga Zakeus, seorang milyuner dari kota Yerocho! Ia kaya, namun setelah pertobatannya ia penuh dengan keperdulian, kemurahan dan kasih. Bahkan separoh dari harta miliknya diperuntukkannya bagi pelayanan (Kis.16:13-15, 40; Lul.19:1-10). Dalam kehidupan bergereja juga tidak sedikit orang-orang kaya yang memiliki sikap seperti itu. Haruskah orang-orang kaya seperti ini sampai masuk neraka? Orang miskin pun tidak perlu sampai kehilangan jatah masuk sorga, andaikata kemiskinannya bukan menjadi alasan untuk tidak dapat taat, mengabdi, beriman, berbuat kebenaran dan kasih. Lihatlah warga jemaat di Smirna. Mereka sangat menderita dan miskin, namun mereka kaya dalam iman, kasih, ketekunan dan pelayanan (Why.2:8-11). Dalam kehidupan bergereja pun tidak sedikit orang-orang miskin yang memiliki jiwa pengabdian yang tinggi. Jangan heran bila orang miskin seperti ini kaadang-kadang lebih baik dalam bersyukur ketimbang sebahagian orang kaya. Contohnya seorang janda miskin dalam Alkitab.

Saudara, Persoalannya sekarang bukanlah soal kekayaan atau pun kemiskinan yang akhirnya menentukan. Melainkan bagaimana sikap kita menjalankan kehidupan, entak kita sebagai seorang kaya atau seorang yang miskin. Berbahagialah orang-orang kaya, mana sudah kaya, kaya pula di hadapan Allah. Dan berbahagialah juga orang-orang miskin, yang walaupun miskin tetapi kaya di hadapan Allah. Tetapi yang paling celaka adalah, orang yang mana sudah miskin, miskin pula di hadapan Allah. Miskin akan iman, miskin kasih, miskin pengabdian, miskin kebenaran, dan miskin akan ketaatan. Pokoknya, miskin dunia akhirat. Dan ini yang pasti tidak idel, tidak layak jadi penghuni sorga! AMIN.
____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div).

Selasa, 27 September 2011

POHON YANG BAIK VS POHON YANG TIDAK BAIK

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas 6:43-45

Pohon Ara (Ficus Carica) adalah sejenis pohon beringin. Di Indonesia ada sekitar 30 jenis pohon Ara yang dapat dijumpai buahnya sepanjang tahun. Buah Ara ini sangat disukai oleh satwa hutan dan burung-burung. Pada umumnya, dalam setahun pohon ara dapat berbuah sebanyak tiga kali. Buah pertama disebut bikurah atau buah sulung. Inilah yang disebut sebagai buah ara hijau. Orang Israel mempunyai ketetapan bahwa buah sulung merupakan milik Tuhan. Buah kedua disebut buah ara bungaran. Buah kedua ini rasanya segar dan enak serta buahnya paling banyak. Pada saat inilah pemilik pohon berhak memanfaatkannya untuk    penghidupannya, termasuk menjadikannya sebagai komoditas ekonomi. Buah ketiga disebut buah pag. Buah ini tidak boleh diambil pemiliknya, karena merupakan hak orang-orang Lewi dan orang-orang miskin. Ini berarti sebatang pohon yang sehat dapat memberi buah selama sepuluh bulan.
Pada zaman Hellenisme (Yunani-Romawi) buah ara merupakan salah satu komoditi ekonomi penting setelah anggur dan minyak zaitun, sehingga orang-orang Yunani membuat undang-undang khusus untuk mengatur pengeksporannya. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus buah-buahan yang baru dipetik untuk dibawa ke pasar dan sekarang ini menjadi komoditas yang mahal. Buah ara selain dapat dimakan langsung, juga dapat dibuat kue yang mahal harganya, karena makanan ini pun biasa dihidangkan bagi raja-raja (2Raj. 20:7; Yes. 38:27). Meski begitu kue buah juga ara merupakan makanan yang sangat digemari masyarakat dan kerap dibawa saat bepergian (1 Sam. 25:18).

Sedangkan Anggur? Anggur  merupakan tanaman buah berupa perdu merambat yang termasuk ke dalam keluarga Vitaceae. Tanaman ini sudah dibudidayakan sejak 4000 SM di Timur Tengah. Buah ini biasanya digunakan untuk membuat jus anggur, jelly,  minuman anggur,  minyak biji anggur, dan kismis, atau dimakan langsung. Buah anggur dikenal karena mengandung banyak senyawa polifenol dan resveratol yang berperan aktif dalam berbagai metabolisme tubuh. Berdasarkan hasil penelitian para ahli biakui bahwa buah anggur mengandung flavanoid, yakni antioksidan yang akan membantu memperlambat proses penuaan akibat radikal bebas. Buah anggur pun kaya vitamin A, C, B6, folat, serta mineral penting (potassium, kalsium, zat besi, fosfor, magnesium, dan selenium). Anggur memiliki kekuatan yang memadukan dan meningkatkan kelembapan di paru-paru. Anggur merah memiliki kandungan antibakterial dan antivirus yang kuat sehingga mampu melindungi tubuh dari infeksi.

Disamping itu, anggur mampu meningkatkan kesehatan otak dan menjaganya dari serangan penyakit seperti Alzheimer. Sebab, anggur mengandung resveratol, sebuah polifenol yang akan mengurangi tingkat amyloidal-beta peptides pada penderita Alzheimer. Anggur  juga mengandung asam organik, gula, dan selulosa yang bertindak sebagai pencahar. Jus anggur ungu mampu mencegah kanker payudara yang secara signifikan mengurangi massa tumor pada payudara. Demikian juga jus anggur mengandung energi instan. Dan jus anggur putih kaya akan zat besi untuk mengurangi kelelahan. Disamping itu, oksida nitrat yang terkandung pada anggur sangat bermanfaat untuk mencegah gumpalan dan mengurangi risiko penyakit jantung. Antioksidannya juga menghentikan oksidasi kolesterol LDL alias kolesterol jahat yang menghambat pembuluh darah. Anggur mengeluarkan panas dan menyembuhkan gangguan pencernaan serta iritasi pada perut. Bahkan, Anggur mampu menyingkirkan asam pada sistem ginjal yang akan mengurangi gangguan tekanan di ginjal.

Dalam beberapa kesempatan, Yesus menggunakan perumpamaan pohon dan buah dalam pengajaran-Nya. Dalam Lukas pasal 6 ayat 44 yang setara dengan Matius pasal 12 ayat 33;  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya, “Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara, dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.” Di dalam Alkitab kehidupan orang Kristen sering digambarkan dengan kehidupan pohon. Yesus juga menggunakan metafor tentang pohon untuk menggambarkan pembedaan manakah orang Kristen sejati dan manakah yang palsu (ayat 43-44). Pohon yang baik pasti mengeluarkan buah-buah yang baik. Sebaliknya, pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah-buah yang buruk. Yang baik selalu melahirkan yang baik pula. Ini prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Demikian juga orang baik akan melakukan perbuatan baik karena di dalamnya (hatinya) hanya ada kebaikan, sedangkan orang jahat hanya melakukan kejahatan karena di dalamnya (hatinya) penuh kejahatan.

Buah ditentukan oleh pohonnya. Pohon ara jelas akan berbuahkan ara, sedangkan pohon anggur jelas akan berbuahkan anggur. Sedangkan semak duri tidak mungkin dapat menghasilkan buah yang baik semisal buah ara atau pun anggur. Bagaimana kualitas "buah" kehidupan kita? Keluarga? Pekerjaan? Tuhan Yesus tentu kecewa terhadap pohon yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Yesus tentu tidak menghendaki kita para murid-Nya  seperti pohon ara, yang hanya indah dipandang tapi tidak berbuah. Tidak membawa manfaat bagi orang. Pohon yang berbuah baik  menggambarkan kehidupan orang benar, sedangkan pohon yang tidak berbuah baik menggambarkan kehidupan orang fasik. (bdk.Mzm.1:1-6).  Lalu, siapakah orang-orang Kristen yang benar dan palsu itu? Lalu apa saja bentuk buah-buah kehidupan kita sebagai orang percaya yang diharapkan?

Para penafsir Alkitab mengatakan bahwa ‘buah’ adalah ‘kehidupan’ orang itu. Jadi, ‘buah yang baik’ menunjuk pada ‘kehidupan yang baik’, sedangkan ‘buah yang tidak baik’ menunjuk pada ‘kehidupan yang tidak baik’. Kalau kita membandingkan antara Mat 7:16-20 / Luk 6 43-45 dengan Mat 3:8-10 dan Mat 12:24,33-37 (perhatikan bahwa ketiga bagian ini mengandung ayat-ayat yang mirip / sama. Jadi, arti ‘buah’ dalam ketiga bagian ini pasti sama), maka jelas bahwa ‘buah’ artinya adalah ‘kehidupan’. Arti ini cocok dengan konteks (lihat Mat 7:21,23 yang menunjukkan kehidupan yang jahat dari nabi palsu), dan arti ini juga didukung oleh bagian-bagian Kitab Suci yang lain yang menunjukkan bahwa nabi palsu mempunyai hidup yang tidak baik, seperti mengejar keuntungan (Yer 8:10  Tit 1:11  2Pet 2:3), bersikap baik terhadap orang yang menguntungkan (Mikha 3:5), dsb. Tidak baiknya kehidupan juga bisa kelihatan dari kata-katanya. Ini terlihat dari ay 45 - “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”. Ayat ini menunjukkan bahwa dari kata-kata yang tidak baik terlihat hati yang tidak baik.

Kata-kata yang tidak baik ini tidak harus diartikan sebagai kata-kata kotor, cabul, makian, dusta, dan sebagainya. Untuk itu perhatikan kata-kata William Barclay berikut ini: “Nothing shows the state of a man’s heart so well as the words he speaks when he is not carefully considering his words, when he is talking freely and saying, as we put it, the first thing which comes into his head. If you ask directions to a certain place, one person may tell you it is near such and such a church; another, that it is near such and such a cinema; another, that it is near such and such a football ground; another, that it is near such and such a public house. The very words of the answer to a chance question often show where a man’s thoughts most naturally turn and where the interests of his heart lie” (Tidak ada yang menunjukkan keadaan hati manusia dengan begitu baik seperti kata-kata yang ia ucapkan pada waktu ia tidak mempertimbangkan kata-katanya dengan teliti, pada waktu ia berbicara secara bebas dan mengatakan hal-hal pertama yang timbul pada pikirannya. Jika engkau menanyakan arah ke suatu tempat tertentu, satu orang akan memberitahumu bahwa itu dekat dengan sebuah gereja tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan sebuah bioskop tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan lapangan sepak bola tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan suatu bangunan umum tertentu. Kata-kata dari jawaban terhadap pertanyaan sembarangan sering menunjukkan kemana pikiran-pikiran orang itu mengarah secara alamiah dan dimana letaknya kesenangan-kesenangan hatinya). Lalu apa saja  prinsip-prinsip yang harus dimiliki agar kita dapat menjadi pohon yang berbuah baik?

I.Dasar Pertumbuhan Pohon yang Baik

Pohon akan tumbuh sehat jika ia mendapatkan makanan yang cukup dan sehat. Kehidupan orang Kristen yang sehat ialah ajaran Firman Tuhan yang sehat, yang menjadi kesukaannya, yang terus menerus menjadi santapannya, sehingga ia tidak berjalan menurut kesukaan orang fasik yang seperti sekam tidak berguna (bdk. Mzm.1:1,4,5).  Berkaitan dengan hal ini, ada dua kata yang penting untuk dipahami di sini, yaitu: ascentia and fiducia. Ascentia adalah "ascent" mental, pengetahuan mengenai keberadaan sesuatu. Setan-setan mengakui dan percaya bahwa Allah ada. Fiducia lebih dari ascentia. Ia melibatkan suatu kepercayaan penuh kepada sesuatu, penyerahan total kepadanya, suatu kepercayaan penuh dan penerimaan atas sesuatu. Ini adalah jenis iman yang dimiliki oleh orang Kristen dalam Kristus. Seorang Kristen, karenanya, memiliki fiducia; yakni, ia memiliki iman sejati dan percaya kepada Kristus, tidak hanya sekedar mengakui bahwa Ia pernah hidup di bumi pada suatu masa tertentu. Cara lain untuk menjelaskan perbedaan kedua kata ini adalah banyak orang di dunia percaya bahwa Yesus pernah hidup di bumi: ascentia. Tetapi mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Juru Selamat mereka, satu-satunya tempat berpaling dan menaruh kepercayaan untuk pengampunan atas dosa-dosa mereka. Ascentia tidak membawa kepada perbuatan. Fiducia menghasilkan perbuatan yang berkenan kepada Allah. Ascentia tidak berasal dari hati. Fiducia yang berasal dari hati. Hanya Firman Tuhan yang sehat yang menjamin seorang Kristen dapat berbuah sesuai kehendak-Nya. Alkitab mengajarkan beberapa prinsip tentang pertumbuhan iman yang sehat:

Pertama, Alkitab menyaksikan, bahwa iman yang sehat adalah iman yang Theocentris (berpusat pada Allah). Orang yang makin bertumbuh imannya adalah orang yang belajar untuk mengutamakan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah dan bukan bagi kepentingan dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis memiliki obsesi, yaitu dia harus makin kecil, tetapi Kristus yang makin besar (Yoh 3:30). Orang yang bertumbuh imannya bukan lagi si “AKU” yang duduk di atas tahta, tetapi Allah Tritunggal. Banyak orang yang mundur dari pekerjaan Tuhan karena tersinggung. Hal utama yang membuat dia tersinggung adalah karena ke “aku”annya tidak dihargai. Seharusnya sebagai anak Tuhan ia sadar, bahwa hidupnya sudah dibeli, harganya telah lunas dibayar, karena itu orientasi hidupnya hanyalah untuk kemuliaan bagi Allah dan bukan bagi dirinya sendiri (1Kor 6:19-20, Rom 14:7-9, 1Kor 10:31). “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”( Fil 3:10).

Kedua, orang Kristen yang bertumbuh dengan sehat adalah orang yang mengutamakan pengenalan akan Kristus lebih dari yang lain (Fil 3:10). Bagaikan orang yang jatuh cinta, selalu ingin dekat pada sang kekasih dan mengenalnya dengan lebih dalam serta melakukan apa yang disenangi kekasihnya, demikian pula mirip dengan orang yang mengalami kasih Kristus (Yoh 14:15). Kasih akan Kristus saat ini diwujudkan dengan kerinduan yang terus menerus untuk mengenal firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jemaat mula-mula punya kerinduan yang besar untuk menyelidiki firman Tuhan dengan segenap hati (Kis 17:11, bnd Luk 8:15). “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Luk 8:15)

Ketiga, orang yang bertumbuh imannya dengan sehat, adalah rela ber”korban” demi pekerjaan Tuhan (kerajaan Allah). Pada umumnya manusia selalu mencari aman untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi orang yang telah bertumbuh dalam iman yang benar, tidak akan memikirkan untung rugi dalam mengikut Tuhan. Dia belajar mempersembahkan hidupnya (Rom 12:1) dan bahkan siap “rugi” demi Kristus, karena sudah mendapat “untung” terlalu banyak. Ia tidak lagi menguitamakan bagaimana dirinya bisa mendapat berkat, tetapi bagaimana dia bisa menjadi saluran berkat. Nilai pengorbanan Kristus itulah yang menjadi penggerak utama dalam dirinya untuk belajar memberi yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan (2Kor 5:14, Luk 19:8, 21:4), komitmen untuk memprioritaskan pelebaran Kerajaan Allah (1Kor 9:16), bahkan rela mati bagi Kristus (2Tim 4:6, Fil 2:17).

Keempat, Iman yang benar bukan positive thinking atau sugesti diri. Banyak orang yang mengaitkan iman dengan percaya yang pasti menyembuhkan, hidup penuh sukses, makin kaya, doa yang pasti dikabulkan dan lain-lain. Iman semacam ini adalah iman yang menyesatkan dan anthropocentris. Iman yang benar adalah iman yang mau tunduk pada kehendak Allah dan percaya, bahwa apa saja yang menjadi kehendak Allah (bukan kehendak saya) itulah yang akan terjadi dan saya akan belajar mengamininya serta taat dengan memberikan respon yang terbaik. Iman yang benar adalah iman yang berpikir dengan positif (bukan positive thinking) dan berpikir dengan positif adalah berpikir yang mau tunduk dengan apapun yang menjadi kehendak Allah. Positive thinking adalah suatu aliran sesat yang mengajarkan, bahwa kita bisa merubah keadaan dengan kekuatan berpikir kita. Kesesatan ajaran positive thinking adalah tidak mengandalkan kekuatan pada Tuhan, tetapi berpusat pada diri sendiri (Anthropocentris).

Kelima, Iman yang benar bukan identik dengan moral dan tingkah laku agama. Banyak orang berpikir, bahwa saya sudah beriman dengan saya rajin ke gereja, rajin memberi persembahan dan melakukan segala aktifitas rohani. Kesalahan utama bangsa Israel adalah menganggap segala kesalehan dan aktifitas rohani sudah membuktikan mereka orang beriman dan akan dapat membuat hati Tuhan senang, Tuhan bukan berhala yang bisa senyum bila ada orang yang “menyogok” atau “menyuap”nya. Hal yang terpenting dalam ibadah adalah relasi (hubungan pribadi) dengan Tuhan, alias “hati” yang dekat dengan Tuhan. Percuma segala aktivitas rohani seseorang, bila semua itu dilakukan dengan hati yang jauh dari Tuhan. Dan hati yang dekat dengan Tuhan adalah hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus, dilahir barukan, yang telah mengalami pertobatan sejati, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Orang yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya adalah orang yang pasti memprioritaskan Tuhan dan pekerjaanNya dalam hidupnya.

II. Pohon yang Menghasilkan buah berkualitas

Puncak kehidupan sebuah pohon adalah menghasilkan buah, itulah natur pohon yang semestinya. Metafor yang dilukiskan oleh Yesus sungguh indah, bila kita mengerti kehidupan sebuah pohon, demikian pula mestinya kehidupan kita sebagai orang Kristen yang berbuah. Hanya murid Tuhan sejati, yang fondasi kehidupannya dibangun berdasar pada firman Tuhan, yang akan bertahan menghadapi badai kehidupan (47-48).  Iman percaya kita haruslah menjadi iman yang aktif berbuah, bukan iman yang pasif dan statis. Iman yang berbuah adalah iman yang terus menerus dipraktekkan, dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan sekedar iman untuk pemuasan batin kita semata. Tanpa buah dalam kehidupan kita, iman kita tidak berguna bagi Tuhan. Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus.

Sebagai anak-anak Allah, kita harus tahu bahwa jika kita menghasilkan buah yang buruk, maka itu berarti kita bukan Kristen sama sekali. Karena di dalam Matius 7:18 dikatakan, "Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik," tepat seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes dalam 1 Yoh 5:18, "setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa," artinya, tidak terus menerus berbuat dosa. Jadi, janganlah berkata, "Tak peduli bagaimanapun caraku menjalani kehidupan ini, yang penting aku orang Kristen." Tak heran jika orang dunia berkata, "Aku tidak dapat melihat di mana letak perbedaan antara seorang Kristen dengan yang lain."

Seharusnya ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Jika hidup Anda tidak berbeda dari hidup orang dunia, maka besar kemungkinan Anda bukanlah orang Kristen sejati seperti yang Yesus kehendaki. Harus ada perbedaan yang nyata antara buah yang baik dengan buah yang tidak baik. Hal tentang arti buah itu sendiri bisa kita lihat di dalam Galatia pasal 5. Di sana kita diberitahu tentang buah dari daging, yang digambarkan sebagai perbuatan daging. Perbuatan dan buah adalah hal yang sama di dalam Kitab Suci. Anda akan melihat adanya kasih, sukacita yang tertib, damai sejahtera, kelemah lembutan, kerendahan hati, dst.  Hal-hal ini akan membuat orang yang bersangkutan tampil berbeda dari yang lain. Bisa terlihat dari semua hal-hal kecil yang dia lakukan. Sungguh indah jika Anda melihat seorang Kristen yang sikapnya sangat menyenangkan!

Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Seperti Apa Pohon dan Buah Anda?  Tuhan mengenal umat-Nya. Dia tahu mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang palsu pada suatu hari akan terbongkar kepalsuannya, sama seperti semak duri yang tak berguna. Yang sejati, pada suatu hari akan nampak kesejatiannya, sama seperti buah ara atau anggur yang berguna bagi kehidupan.  Karena itu, ukuran kesejatian seorang anak Tuhan terletak pada kesetiaannya untuk terus menerus menghasilkan buah-buah kebenaran.

III. Pohon yang Selalu Berbuah di Segala Musim

Kita akan akan menghasilkan buah, tak peduli apapun musim yang yang kita hadapi, kalau kita hidup dalam Yesus dan menerima kasihNya. Sebagai orang kristen kita tidak lagi menjadi tanaman yang berdiri sendiri dan bersandar kepada kemampuan kita untuk hidup. Ketika kita mengikuti Kristus, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus, kita adalah murid-muridNya. Kita adalah ranting dari pohon utama kita yaitu Yesus Kristus. Yesus menjadi pohon utama kita, dan kita hidup didalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Kita bukan lagi pohon kita sendiri, kita tidak lagi hidup yang berdiri sendiri, tetapi hidup kita adalah bagian dari hidup Kristus itu sendiri. Yesus mengatakan dalam Yohanes 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah? Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus. Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah?

Secara  ilmiah memang pohon berbuah ada skilusmya, ada musimnya. Ada saatnya ia berbuah ada saatnya ia tidak berbuah. Walaupun demikian  Allah Sang Pencipta dapat memberikan berbagai hal yang melawan apa yang ‘normal’ yang umumnya terjadi, karena memang Dialah pemilik dan pencipta kehidupan. Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya, karena mereka akan tetap menghasilkan buah walaupun bukan ‘musim’nya. Seperti itulah yang diharapkan akan keberadaan kita sebagai saksi Kristus, selalu ditunggu untuk tetap berbuah kasih,  menghasilkan perbuatan baik, memberikan perkataan baik, membangunkan semangat senantiasa. Berkarya bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik. Selalu, setiap saat dan tidak mengenal musim. Tidak tergantung apapun situasinya.

Tanpa sadar kita sering penuh dengan alasan bila terlibat dalam pelayanan dan dalam membangun relasi dengan Tuhan. Baru berdoa kalau ada masalah, baru ikut pertemuan lingkungan kalau diadakan dirumah sendiri, baru ikut Misa kalau dapat tempat duduk yang enak. Baru ikut koor kalau seragam disediakan, baru ikutan kepanityaan kalau pulsa dan transport tersedia. Dan banyak lagi litani ‘kalau’… itupun kalau doanya dijawab. Kita lupa bahwa Tuhan telah mencintai kita sehabis-habisnya tanpa syarat, tanpa ‘kalau’ bahkan saat kita masih belum mengenalNya, belum bertobat dan belum membalas kasihNya. Kita lupa bahwa orang-orang disekitar kitapun ada yang tetap mendoakan dan mengasihi kita tanpa syarat, tetap mengharapkan yang terbaik dari kita. Kalau saja kita terus menerus membangun relasi yang akrab dengan Tuhan, selalu berupaya mencari tahu dan mengenali kehadiranNya lewat setiap kondisi bahkan lewat setiap perjumpaan, maka seharusnya kita akan melatih diri kita untuk senantiasa memberikan buah-buah rohani yang banyak dinikmati orang-orang disekitar kita. Tanpa syarat, tanpa menunggu musim.

Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Seperti Apa Pohon dan Buah Anda?  Tuhan mengenal umat-Nya. Dia tahu mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang palsu pada suatu hari akan terbongkar kepalsuannya, sama seperti semak duri yang tak berguna. Yang sejati, pada suatu hari akan nampak kesejatiannya, sama seperti buah ara atau anggur yang berguna bagi kehidupan.  Karena itu, ukuran kesejatian seorang anak Tuhan terletak pada kesetiaannya untuk terus menerus menghasilkan buah-buah kebenaran.*  AMIN.
________________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Sabtu, 13 Agustus 2011

GEREJA: RUMAH DOA ATAU RUMAH PUSAT DOSA?

(Lukas 19:45-48)

Yesus masuk kota Yerusalem. Ia masuk kota Yerusalem tentu saja bukan maksudnya sebagai turis rohani. Atau sekedar menikmati indah dan megahnya kota Yerusalem (maklum, Yerusalem disebut-sebut sebagai personifikasi kota Sorga yang ada di bumi). Bukan itu maksudnya. Tetapi Yesus masuk kota Yerusalem untuk melaksanakan misi suci, mengorbankan diri-Nya sebagai korban yang sempurna dari Allah sendiri dalam rangka penyelamatan umat manusia. Menjadi tebusan bagi dosa manusia. Sesampainya di kota Yerusalem, demikian dicatat dalam kitab Injil, Yesus lalu menangisi kota itu. Tangisan yang sarat makna. Seperti seorang bapa menangisi anak kesayangannya yang tidak memahami akan betapa jauhnya kini mereka menyimpang dari hidup yang seharusnya 
(bdk. Luk. 19:41-44).
Baca selengkapnya »

Selasa, 14 Juni 2011

Kuasa Pengampunan

Saya ingin berbagi cerita yang luar biasa dari kekuatan "pengampunan" dengan Anda. Dan bagian yang terbaik adalah, ini kekuatan yang sama tersedia bagi kita semua hari ini, "kekuatan kuasa yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati" (Efesus 1:19-20, TLB). Kekuatan ini adalah milikmu karena Yesus Kristus bangkit dari kubur pada pagi Paskah pertama!
Baca selengkapnya »

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari