Rabu, 30 September 2009

Hakekat Ibadah

Ayat bacaan: Yesaya 29:13
======================
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan"

hakekat ibadahRasanya semua anak Tuhan akan sependapat bahwa beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang sifatnya wajib. Ada hari yang harus kita pergunakan sebagai kesempatan untuk beribadah bersama-sama dengan saudara-saudari seiman di gereja, berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bersyukur atas penyertaanNya dalam hidup kita. Selain itu ada pula yang turut dalam persekutuan-persekutuan, kumpulan keluarga dan sebagainya dimana selain menyembah Tuhan bersama-sama, disana para anggotanya juga akan saling menguatkan, menghibur, menasehati dan saling menolong. Diluar itu semua, setiap hari kita juga sangat dianjurkan untuk meluangkan waktu untuk bersaat teduh, membangun mezbah keluarga, dan alangkah baiknya jika setiap saat kita bisa menyadari bahwa ada Tuhan beserta kita sehingga kita menjalani hari ke hari sepenuhnya bersama Tuhan. Semua itu merupakan hal wajib yang idealnya dilakukan oleh semua orang percaya. Karena wajib itu pula, ada banyak orang yang kemudian melupakan esensi dari sebuah ibadah dan melakukannya hanya karena kewajiban semata, sebagai sebuah rutinitas yang terbiasa dilakukan tanpa mengingat makna penting di balik itu semua. Kita melihat ada orang yang terkantuk-kantuk di gereja, lalu menyalahkan kotbah yang dianggap membosankan sehingga membuatnya mengantuk. Ada pula yang menyalahkan worship leader ketika mereka merasa sulit masuk ke dalam hadirat Tuhan ketika pujian dan penyembahan. Tempat kurang nyaman sehingga sulit konsentrasi, ibadahnya terlalu lama dan sebagainya, sering dipakai sebagai alasan, ini semua menggambarkan bahwa orang tersebut sebetulnya melupakan hakekat utama dari ibadah. Semua masih dipandang sebagai rutinitas lahiriah saja, sehingga pengaruh-pengaruh luar pun dapat dengan mudah mengganggu kita dalam menunaikan ibadah.

Fokus yang salah dalam beribadah, mengacu lebih kepada hal-hal lahiriah ketimbang untuk membangun kekuatan rohaniah kita tidak akan membawa kita untuk mendapatkan apa-apa. Padahal ibadah sangat berguna untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat pertumbuhan rohani kita semakin dewasa. Hal ini tentu hanya dapat dicapai jika kita memahami hakekat sebenarnya dari ibadah itu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena menjelang hari-hari terakhir. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5). Ini adalah golongan yang secara lahiriah melakukan ibadah, datang ke gereja, berdoa, menyanyi, namun semua itu dilakukan tanpa disertai kerinduan yang sungguh-sungguh, melainkan hanya sebatas aktivitas rutin semata. Tidak heran mereka ini akan tetap hidup dalam keraguan dan gampang goyah ketika permasalahan menerpa mereka. Mereka hadir dalam ibadah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya. Secara fisik mereka menjalankan kewajiban beribadah, tapi sebenarnya mereka tidak menangkap inti dari ibadah itu sendiri. Maka tidak akan ada apa-apa yang dialami dan diperoleh dari ibadah itu sendiri. Semua hanyalah akan sia-sia.

Ibadah yang benar seharusnya bisa membuat hidup diubahkan menjadi lebih baik dengan pertumbuhan iman yang pesat. Hakekat dari ibadah sesungguhnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, masuk dan diam dalam hadiratNya, bersekutu dan bergaul akrab dengan Tuhan. Jika ini kita sadari penuh, maka kita tidak akan main-main lagi dalam ibadah kita. Ibadah yang benar akan menghasilkan sesuatu yang besar. Kita bisa belajar dari kesungguhan hati jemaat mula-mula. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:46-47). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati mereka dengan jiwa-jiwa.

Ibadah tidak hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Tuhan tidak suka dengan orang-orang seperti itu. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27).

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ini adalah pesan penting bagi kita. Kita diminta untuk terus berusaha hidup kudus, sehingga kita bisa memberikan hidup kita sebagai persembahan yang berkenan bagi Allah. Inilah sesungguhnya ibadah yang sejati, bukan hanya melakukan segala sesuatu secara lahiriah dan terus membiarkan diri kita untuk dikuasai berbagai dosa. Ibadah yang sejati akan menghasilkan perubahan budi, yang akan membuat pribadi kita menjadi baru, terus bertumbuh lebih baik lagi dengan mengetahui kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. (ay 2). Kita harus terus melatih diri kita untuk beribadah dengan benar, karena itu akan sangat berguna baik untuk hidup di dunia maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:7b-8). Tuhan telah memberi keselamatan atas kita sebagai kasih karuniaNya yang begitu besar, oleh karena itu ia menginginkan kita untuk meninggalkan kefasikan dan kedagingan, nafsu-nafsu duniawi dan memilih hidup bijaksana dan taat beribadah. "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Titus 2:11-12). Ibadah yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati akan sangat berguna, sebaliknya ibadah yang dilakukan hanya sebatas lahiriah atau seremonial saja selain tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa malah akan menjatuhkan hukuman atas kita. Karenanya selagi kesempatan untuk beribadah masih ada, manfaatkanlah itu sebaik-baiknya dan lakukanlah dengan menyadari hakekat ibadah yang benar. Don't turn your back on God, let's worship Him with our heart and soul.

beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu (1 Samuel 12:20b)

Hakekat Ibadah

Ayat bacaan: Yesaya 29:13
======================
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan"

hakekat ibadahRasanya semua anak Tuhan akan sependapat bahwa beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang sifatnya wajib. Ada hari yang harus kita pergunakan sebagai kesempatan untuk beribadah bersama-sama dengan saudara-saudari seiman di gereja, berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bersyukur atas penyertaanNya dalam hidup kita. Selain itu ada pula yang turut dalam persekutuan-persekutuan, kumpulan keluarga dan sebagainya dimana selain menyembah Tuhan bersama-sama, disana para anggotanya juga akan saling menguatkan, menghibur, menasehati dan saling menolong. Diluar itu semua, setiap hari kita juga sangat dianjurkan untuk meluangkan waktu untuk bersaat teduh, membangun mezbah keluarga, dan alangkah baiknya jika setiap saat kita bisa menyadari bahwa ada Tuhan beserta kita sehingga kita menjalani hari ke hari sepenuhnya bersama Tuhan. Semua itu merupakan hal wajib yang idealnya dilakukan oleh semua orang percaya. Karena wajib itu pula, ada banyak orang yang kemudian melupakan esensi dari sebuah ibadah dan melakukannya hanya karena kewajiban semata, sebagai sebuah rutinitas yang terbiasa dilakukan tanpa mengingat makna penting di balik itu semua. Kita melihat ada orang yang terkantuk-kantuk di gereja, lalu menyalahkan kotbah yang dianggap membosankan sehingga membuatnya mengantuk. Ada pula yang menyalahkan worship leader ketika mereka merasa sulit masuk ke dalam hadirat Tuhan ketika pujian dan penyembahan. Tempat kurang nyaman sehingga sulit konsentrasi, ibadahnya terlalu lama dan sebagainya, sering dipakai sebagai alasan, ini semua menggambarkan bahwa orang tersebut sebetulnya melupakan hakekat utama dari ibadah. Semua masih dipandang sebagai rutinitas lahiriah saja, sehingga pengaruh-pengaruh luar pun dapat dengan mudah mengganggu kita dalam menunaikan ibadah.

Fokus yang salah dalam beribadah, mengacu lebih kepada hal-hal lahiriah ketimbang untuk membangun kekuatan rohaniah kita tidak akan membawa kita untuk mendapatkan apa-apa. Padahal ibadah sangat berguna untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat pertumbuhan rohani kita semakin dewasa. Hal ini tentu hanya dapat dicapai jika kita memahami hakekat sebenarnya dari ibadah itu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena menjelang hari-hari terakhir. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5). Ini adalah golongan yang secara lahiriah melakukan ibadah, datang ke gereja, berdoa, menyanyi, namun semua itu dilakukan tanpa disertai kerinduan yang sungguh-sungguh, melainkan hanya sebatas aktivitas rutin semata. Tidak heran mereka ini akan tetap hidup dalam keraguan dan gampang goyah ketika permasalahan menerpa mereka. Mereka hadir dalam ibadah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya. Secara fisik mereka menjalankan kewajiban beribadah, tapi sebenarnya mereka tidak menangkap inti dari ibadah itu sendiri. Maka tidak akan ada apa-apa yang dialami dan diperoleh dari ibadah itu sendiri. Semua hanyalah akan sia-sia.

Ibadah yang benar seharusnya bisa membuat hidup diubahkan menjadi lebih baik dengan pertumbuhan iman yang pesat. Hakekat dari ibadah sesungguhnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, masuk dan diam dalam hadiratNya, bersekutu dan bergaul akrab dengan Tuhan. Jika ini kita sadari penuh, maka kita tidak akan main-main lagi dalam ibadah kita. Ibadah yang benar akan menghasilkan sesuatu yang besar. Kita bisa belajar dari kesungguhan hati jemaat mula-mula. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:46-47). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati mereka dengan jiwa-jiwa.

Ibadah tidak hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Tuhan tidak suka dengan orang-orang seperti itu. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27).

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ini adalah pesan penting bagi kita. Kita diminta untuk terus berusaha hidup kudus, sehingga kita bisa memberikan hidup kita sebagai persembahan yang berkenan bagi Allah. Inilah sesungguhnya ibadah yang sejati, bukan hanya melakukan segala sesuatu secara lahiriah dan terus membiarkan diri kita untuk dikuasai berbagai dosa. Ibadah yang sejati akan menghasilkan perubahan budi, yang akan membuat pribadi kita menjadi baru, terus bertumbuh lebih baik lagi dengan mengetahui kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. (ay 2). Kita harus terus melatih diri kita untuk beribadah dengan benar, karena itu akan sangat berguna baik untuk hidup di dunia maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:7b-8). Tuhan telah memberi keselamatan atas kita sebagai kasih karuniaNya yang begitu besar, oleh karena itu ia menginginkan kita untuk meninggalkan kefasikan dan kedagingan, nafsu-nafsu duniawi dan memilih hidup bijaksana dan taat beribadah. "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Titus 2:11-12). Ibadah yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati akan sangat berguna, sebaliknya ibadah yang dilakukan hanya sebatas lahiriah atau seremonial saja selain tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa malah akan menjatuhkan hukuman atas kita. Karenanya selagi kesempatan untuk beribadah masih ada, manfaatkanlah itu sebaik-baiknya dan lakukanlah dengan menyadari hakekat ibadah yang benar. Don't turn your back on God, let's worship Him with our heart and soul.

beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu (1 Samuel 12:20b)

Menang Terhadap Sisi Tersembunyi Hidup Anda

Kejadian 3:9-10

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?; Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.

Bagaimana kita bisa sungguh-sungguh membiarkan seseorang mengenal diri kita ketika kita sendiri bahkan tidak mengenal siapa kita? Coba pikirkan apa yang seseorang pernah katakan berikut ini, "Ketika dua orang bertemu, sesungguhnya ada enam pribadi yang hadir: dua dari cara mereka melihat diri mereka sendiri, dua dari cara mereka melihat orang lain, dan dua dari kenyataan diri mereka sesungguhnya. "

Dalam setiap diri manusia pasti memiliki sisi yang dinamakan sisi yang tersembunyi. Sisi tersembunyi manusia ini biasanya adalah bagian yang diketahui oleh orang tersebut, tetapi dijaga agar orang lain tidak mengetahuinya.

Sisi tersembunyi yang dimiliki manusia, baik itu Anda maupun saya adalah sisi yang diberikan Allah dalam kehidupan kita. Sisi ini menunggu untuk diakui dan dibongkar keluar. Sisi ini merupakan harta terpendam yang ditanam oleh Tuhan sendiri, menunggu untuk diungkapkan dalam hidup kita. Begitu pun dengan apa yang dilakukan oleh Adam ketika jatuh dalam dosa.

Adam menyembunyikan diri dari Allah ketika dia melanggar aturan Taman Eden dan ikut memakan buah terlarang. Pada saat memakan buah tersebut, ia semakin menyadari hal yang memalukan dari dirinya dibandingkan dengan sebelum ia tidak taat. Rasa malu adalah satu kekuatan yang sangat kuat dan menyakitkan, yang mendorong kita untuk bersembunyi. Rasa malu ini perlu disembuhkan. Tetapi, di balik rasa malu sering kali ditemukan hal-hal terlarang yang telah kita perbuat.

Identitas kita begitu terikat dengan keakraban dengan Tuhan, ketika kita gagal untuk tetap berada dalam kebebasan yang telah Dia berikan bagi kita, kita tidak dapat menikmati berjalan bersama-Nya di dalam "hari yang sejuk" (yang dalam bahasa Ibrani berarti hari kemuliaan Tuhan). Kita menyembunyikan diri kita di balik pepohonan ketika Tuhan hadir mendekati kita, sama seperti yang diperbuat oleh Adam.

Kejatuhan Adam sebenarnya bukanlah dikarenakan oleh pihak luar yang membuat dirinya kehilangan kemuliaan Allah, melainkan karena pilihan-pilihan yang telah diambil sebelumnya. Adam memilih untuk mempercepat pengenalannya terhadap Allah dengan cara yang tidak benar, yakni melanggar larangan yang Allah berikan.

Akhir dari pelanggaran yang Adam lakukan adalah hubungannya dengan Allah menjadi semakin menjauh dan kebenaran yang dia miliki sebelumnya telah tercemari dengan dosa. Pada saat Allah mencari Adam,yang diinginkan oleh Allah ketika itu bukanlah posisi adam yang berada di balik pohon melainkan keberadaan dirinya. Namun, Adam tidak mengerti pertanyaan oleh Penciptanya sehingga jawaban yang keluar pun tidak seperti yang diharapkan oleh Allah. Adam mulai mencari alasan. Dia sudah tidak murni lagi dihadapan Tuhan.

Adam mulai mempersalahkan Tuhan dan istrinya yang kemudian pada gilirannya menyalahkan si ular. Ketidakmampuannya untuk mengakui pilihan, posisi, dan kenyataannya yang ada sekarang telah mendorongnya untuk menekan kebenaran dalam jiwanya. Dengan memakan buah terlarang itu jiwa Adam terbelah. Kematian dialami jiwanya dan ia sekarang tidak menikmati kebersamaanya dengan Tuhan.

Sisi tersembunyi ini merupakan tempat putusnya hubungan yang nyata, dan menghalangi keintiman serta pengungkapan diri yang murni. Sisi tersembunyi ini lebih berpotensi merusak daripada sisi tak terlihat karena sisi tersembunyi tersebut menekan hal-hal begitu dalam pada alam "bersentuhan" dengan alasan mengapa kita melakukan dan mengatakan hal-hal tertentu. Oleh karena itu diperlukan adanya pemulihan dan penyembuhan terhadap hal-hal tersembunyi ini.

Sebelum mengetahui bagaimana memulihkan dan menyembuhkan sisi tersembunyi dalam hidup kita, ada baiknya mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi penghalang kita memasuki sisi tersembunyi tersebut.

Yang menjadi penghalang kita dapat memasuki sisi tersembunyi kita adalah perasaan, penilaian, dan keyakinan yang kita miliki. Mereka setiap kali menampakkan diri, seperti katak di lumpur, ketika seseorang terlalu mendekati daerah terlarang dari hidup kita. Kita "bersuara parau" di dalam ketakutan dan rasa sakit ketika seseorang menginjak sisi tersembunyi kita. Kata-kata orang lain dan berbagai kejadian membuat reaksi bawah sadar kita bergolak dalam diri kita hampir secara "spontan". Seseorang bisa mengatakan sesuatu tanpa bermaksud apa-apa, tetapi reaksi kita terhadap perkataannya bisa mengagetkannya dan mengagetkan diri kita sendiri.

Kita mungkin berusaha memperbaiki keadaan dengan mengatakan sesuatu seperti, "Saya tidak bermaksud demikian". Namun, sebenarnya dengan berkata tersebut sebenarnya diri kita sedang berusaha untuk bersembunyi dari orang lain, Tuhan, dan terutam dari persoalan-persoalan yang belum terselesaikan serta dari diri kita sendiri.

Jika kita gagal menghadapi ketiga hal penghalang tersebut, kita tidak akan bisa menghapus dampak ketiganya terhadap realitas kita yang sekarang. Kita mendapati bahwa kita berkali-kali melakukan apa yang coba kita hindari. Akibatnya, sisi tersembunyi kita akan semakin besar dan besar.

Ada empat langkah yang dapat Anda lakukan agar lepas dari sisi terdalam Anda yang telah rusak yang sebenarnya telah dibawa oleh nenek moyang manusia, yakni Adam.

Langkah 1: Berdamai dengan sejarah hidup kita. Sejarah hidup kita yang kelam mungkin tidak akan pernah bisa ubah, tetapi Tuhan memberikan kuasa-Nya agar kita dapat terbebas dari semua masa lalu kita tersebut. Dengan kuasa-Nya, kita bisa mendapatkan pengertian dan kebebasan dari kepahitan penilaian-penilaian kita, berbagai penilaian kita yang lain, dan keyakinan kita yang tidak tepat tentang diri sendiri, orang lain, keadaan kita, dan Tuhan.

Langkah 2: Meminta Roh Kudus untuk meneliti dan menunjukkan kepada kita. Sebuah krisis adalah suatu momen penentuan dalam hidup kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, krisis yang kita hadapi dapat mengantarkan kita memasuki suatu proses yang akan membebaskan kita dari keterbatasan yang telah membelenggu kita. Kita semua membutuhkan pertolongan Tuhan, Seseorang yang Paling Penting, dan orang lain yang peduli menolong kita untuk melakukan pemilahan melalui sisi tersembunyi yang ada dalam hidup kita.

Langkah 3: Memahami sejarah hidup kita. Jika gagal memahami sejarah hidup kita, kita dengan mudah bisa menggagalkan tujuan kita. Adalah maksud Bapa untuk membawa kita dari krisis, melewati proses penyempurnaan, dan mencapai kemuliaan.

Langkah 4: Menyiapkan diri kita - prosesnya akan menyakitkan. Melibatkan Tuhan dan sejarah hidup kita serta menghadapi hal-hal yang ada di dalam lumpur sisi tersembunyi hidup membantu kita untuk melangkah menuju kemuliaan. Walaupun prosesnya sakit, tetapi nantinya kita akan bisa menikmati hasilnya dalam jangka panjang.

Keputusan adalah hal yang penting yang perlu Anda lakukan agar keluar menjadi orang yang jujur kepada Tuhan dan orang sekeliling Anda. Saat Anda mau untuk masuk ke dalam sisi tersembunyi hidup Anda dan menanganinya maka sebenarnya Anda sedang sedang melangkah ke dalam kemuliaan yang telah ia janjikan.

Selasa, 29 September 2009

Kreativitas

Ayat bacaan: Kejadian 11:4
=====================
"Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

kreativitas, inovasiApa yang timbul di benak ketika mendengar kata nuklir? Mungkin yang langsung terbersit adalah bom nuklir, sebuah bom dengan daya musnah yang dahsyat yang sanggup memusnahkan seisi bumi. Padahal nuklir tidaklah hanya melulu soal bom. Ketika sumber energi minyak bumi semakin berkurang, energi nuklir sebenarnya bisa merupakan sumber energi yang layak diperhitungkan dan mendatangkan manfaat bagi manusia. Jika contoh nuklir terlalu berat, saya ambil contoh sebilah pisau. Pisau akan memberi kegunaan positif ketika kita pakai untuk memotong sayur atau daging, tapi sebaliknya bisa berbahaya jika dipakai untuk menyerang orang lain. Inovasi akan terus berkembang seiring perkembangan jaman, demikian pula halnya dengan kreativitas. Mungkin banyak diantara kita yang lupa bahwa kreativitas yang memampukan kita untuk membuat inovasi-inovasi baru merupakan anugerah yang sangat besar dari Tuhan. Adalah baik jika kreativitas kita kembangkan untuk kebaikan bagi orang lain, tapi di sisi lain kreativitas kita pun bisa disalah gunakan untuk hal-hal yang justru merugikan orang lain. Ada pula orang yang menganggap bahwa dirinya tidak kreatif dan menjadikan itu alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Padahal sesungguhnya semua orang diciptakan memilik kreativitasnya masing-masing dalam kapasitas dan bidang yang berbeda-beda.

Lihatlah betapa kreatifnya Tuhan ketika menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Kisah penciptaan yang luar biasa di awal kitab Kejadian menunjukkan kreativitas Tuhan yang tidak terbatas. Betapa indahnya bumi, langit dan seluruh alam semesta dan segala yang terdapat di dalamnya. Tapi ada yang berbeda ketika Tuhan menciptakan manusia. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27). Manusia diciptakan Tuhan menurut gambarNya sendiri. Ini termasuk menganugerahkan kreativitas ke dalam manusia sebagai cerminan dari gambaran Allah yang kreatif itu sendiri. Ini membuat kita mampu menciptakan sesuatu, melakukan inovasi-inovasi yang semakin berkembang dari masa ke masa. Tujuan diberikannya segala kemampuan itu dengan tujuan baik, agar kita bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup dan isinya. (ay 26, 28-30). Tapi sayangnya ada banyak orang yang memanfaatkan anugerah Tuhan ini justru untuk mendatangkan kejahatan di muka bumi. Kreativitas dan kemampuan tidak lagi dipakai untuk memuliakan Tuhan tapi justru dipakai untuk kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia dan kelestarian alam bahkan untuk menyaingi Tuhan. 

Mari kita lihat sejenak kisah menara Babel. Pada masa itu kreativitas manusia sudah tinggi. Saking tingginya hingga timbul kesombongan dan melupakan siapa yang telah memberikan itu semua kepada mereka. "Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4). Mereka ingin membangun menara setinggi-tingginya agar bisa mencapai langit, semuanya untuk kemegahan diri. Tuhan tidak berkenan atas perilaku manusia pada saat itu yang menyalahgunakan anugerah yang berasal dariNya untuk tujuan yang salah. Maka turunlah hukuman Tuhan sehingga semua orang disana tercerai berai dan saling tidak memahami bahasa masing-masing. (ay 7-8). Lihatlah Tuhan tidak berkenan ketika manusia menggunakan kreativitas itu menyalahi tujuan semula. Ironisnya manusia tampaknya tidak pernah mau belajar dari kisah menara Babel ini. Hingga hari ini masih banyak orang yang mempergunakan kreativitas dan kemampuannya untuk tujuan-tujuan yang salah. Bukannya memuliakan Tuhan, tapi malah berniat menyaingi Tuhan. Bukannya semakin takut akan Tuhan, tapi justru semakin berani menghujat. Bukannya semakin menyadari keberadaan Tuhan, tapi malah terpicu untuk mencari pembuktian bahwa Tuhan tidaklah nyata. Ada banyak orang yang sesat, menganggap bahwa mereka tidak perlu Tuhan karena mereka merasa kreativitas mereka sudah berada di atas segalanya. Penciptaan-penciptaan yang bisa merugikan orang banyak pun terus bermunculan tanpa peduli apa dampak yang ditimbulkan bagi masa depan umat manusia di bumi ini.

Kreativitas adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada kita untuk tujuan yang baik, yang tidak boleh kita salah gunakan dengan sembarangan. Semua itu hendaknya dipakai justru untuk kemuliaan Tuhan, Sang Pemberi. Dalam surat Kolose Paulus mengingatkan kita agar "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Bukan untuk nama besar, kemasyhuran, kemegahan diri, tapi untuk Tuhan. Jika kita mengingat untuk menggunakan kreativitas kita demi nama Tuhan, maka kita tidak akan memakainya untuk hal-hal negatif yang merusak. Kita pun dipanggil untuk mempergunakan kreativitas kita agar kita bisa menjadi terang bagi sesama kita. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16). Semakin kita menyadari betapa luar biasanya kreativitas yang telah diberikan Tuhan kepada kita, sudah seharusnya kita semakin menyadari keberadaanNya dan semakin memuliakanNya. Ini adalah penting, "supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:15). Hendaklah kita mempergunakan segala kreativitas dan kemampuan yang telah dianugerahkan Tuhan untuk tujuan yang baik dimana Tuhan bisa dipermuliakan. Jangan menjadi lupa diri, jangan menjadi sombong, tapi syukurilah itu semua sebagai pemberian yang besar harganya. Artinya, kita harus mampu terus mengembangkan kreativitas kita dengan terus menundukkannya di bawah firman Tuhan. Masing-masing orang mendapat panggilannya sendiri-sendiri. Ketika anda dipanggil untuk berkreasi dalam bidang tertentu, lakukanlah itu untuk kemuliaanNya. Kembalikanlah itu semua mengacu kepada nilai-nilai yang terkandung di dalam Alkitab. Teruslah kembangkan potensi diri dengan kreativitas yang telah diberikan Tuhan tapi ingatlah selalu bahwa semua itu haruslah bertujuan untuk memberi kebaikan bagi kelangsungan hidup kita dimana Tuhan akan bercahaya terang di dalamnya. Itulah yang diinginkan Tuhan ketika Dia membekali kita dengan kreativitas sesuai gambar dan rupaNya.

Pergunakanlah kreativitas untuk tujuan yang baik dimana Tuhan bisa dipermuliakan

Kreativitas

Ayat bacaan: Kejadian 11:4
=====================
"Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

kreativitas, inovasiApa yang timbul di benak ketika mendengar kata nuklir? Mungkin yang langsung terbersit adalah bom nuklir, sebuah bom dengan daya musnah yang dahsyat yang sanggup memusnahkan seisi bumi. Padahal nuklir tidaklah hanya melulu soal bom. Ketika sumber energi minyak bumi semakin berkurang, energi nuklir sebenarnya bisa merupakan sumber energi yang layak diperhitungkan dan mendatangkan manfaat bagi manusia. Jika contoh nuklir terlalu berat, saya ambil contoh sebilah pisau. Pisau akan memberi kegunaan positif ketika kita pakai untuk memotong sayur atau daging, tapi sebaliknya bisa berbahaya jika dipakai untuk menyerang orang lain. Inovasi akan terus berkembang seiring perkembangan jaman, demikian pula halnya dengan kreativitas. Mungkin banyak diantara kita yang lupa bahwa kreativitas yang memampukan kita untuk membuat inovasi-inovasi baru merupakan anugerah yang sangat besar dari Tuhan. Adalah baik jika kreativitas kita kembangkan untuk kebaikan bagi orang lain, tapi di sisi lain kreativitas kita pun bisa disalah gunakan untuk hal-hal yang justru merugikan orang lain. Ada pula orang yang menganggap bahwa dirinya tidak kreatif dan menjadikan itu alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Padahal sesungguhnya semua orang diciptakan memilik kreativitasnya masing-masing dalam kapasitas dan bidang yang berbeda-beda.

Lihatlah betapa kreatifnya Tuhan ketika menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Kisah penciptaan yang luar biasa di awal kitab Kejadian menunjukkan kreativitas Tuhan yang tidak terbatas. Betapa indahnya bumi, langit dan seluruh alam semesta dan segala yang terdapat di dalamnya. Tapi ada yang berbeda ketika Tuhan menciptakan manusia. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27). Manusia diciptakan Tuhan menurut gambarNya sendiri. Ini termasuk menganugerahkan kreativitas ke dalam manusia sebagai cerminan dari gambaran Allah yang kreatif itu sendiri. Ini membuat kita mampu menciptakan sesuatu, melakukan inovasi-inovasi yang semakin berkembang dari masa ke masa. Tujuan diberikannya segala kemampuan itu dengan tujuan baik, agar kita bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup dan isinya. (ay 26, 28-30). Tapi sayangnya ada banyak orang yang memanfaatkan anugerah Tuhan ini justru untuk mendatangkan kejahatan di muka bumi. Kreativitas dan kemampuan tidak lagi dipakai untuk memuliakan Tuhan tapi justru dipakai untuk kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia dan kelestarian alam bahkan untuk menyaingi Tuhan. 

Mari kita lihat sejenak kisah menara Babel. Pada masa itu kreativitas manusia sudah tinggi. Saking tingginya hingga timbul kesombongan dan melupakan siapa yang telah memberikan itu semua kepada mereka. "Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4). Mereka ingin membangun menara setinggi-tingginya agar bisa mencapai langit, semuanya untuk kemegahan diri. Tuhan tidak berkenan atas perilaku manusia pada saat itu yang menyalahgunakan anugerah yang berasal dariNya untuk tujuan yang salah. Maka turunlah hukuman Tuhan sehingga semua orang disana tercerai berai dan saling tidak memahami bahasa masing-masing. (ay 7-8). Lihatlah Tuhan tidak berkenan ketika manusia menggunakan kreativitas itu menyalahi tujuan semula. Ironisnya manusia tampaknya tidak pernah mau belajar dari kisah menara Babel ini. Hingga hari ini masih banyak orang yang mempergunakan kreativitas dan kemampuannya untuk tujuan-tujuan yang salah. Bukannya memuliakan Tuhan, tapi malah berniat menyaingi Tuhan. Bukannya semakin takut akan Tuhan, tapi justru semakin berani menghujat. Bukannya semakin menyadari keberadaan Tuhan, tapi malah terpicu untuk mencari pembuktian bahwa Tuhan tidaklah nyata. Ada banyak orang yang sesat, menganggap bahwa mereka tidak perlu Tuhan karena mereka merasa kreativitas mereka sudah berada di atas segalanya. Penciptaan-penciptaan yang bisa merugikan orang banyak pun terus bermunculan tanpa peduli apa dampak yang ditimbulkan bagi masa depan umat manusia di bumi ini.

Kreativitas adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada kita untuk tujuan yang baik, yang tidak boleh kita salah gunakan dengan sembarangan. Semua itu hendaknya dipakai justru untuk kemuliaan Tuhan, Sang Pemberi. Dalam surat Kolose Paulus mengingatkan kita agar "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Bukan untuk nama besar, kemasyhuran, kemegahan diri, tapi untuk Tuhan. Jika kita mengingat untuk menggunakan kreativitas kita demi nama Tuhan, maka kita tidak akan memakainya untuk hal-hal negatif yang merusak. Kita pun dipanggil untuk mempergunakan kreativitas kita agar kita bisa menjadi terang bagi sesama kita. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16). Semakin kita menyadari betapa luar biasanya kreativitas yang telah diberikan Tuhan kepada kita, sudah seharusnya kita semakin menyadari keberadaanNya dan semakin memuliakanNya. Ini adalah penting, "supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:15). Hendaklah kita mempergunakan segala kreativitas dan kemampuan yang telah dianugerahkan Tuhan untuk tujuan yang baik dimana Tuhan bisa dipermuliakan. Jangan menjadi lupa diri, jangan menjadi sombong, tapi syukurilah itu semua sebagai pemberian yang besar harganya. Artinya, kita harus mampu terus mengembangkan kreativitas kita dengan terus menundukkannya di bawah firman Tuhan. Masing-masing orang mendapat panggilannya sendiri-sendiri. Ketika anda dipanggil untuk berkreasi dalam bidang tertentu, lakukanlah itu untuk kemuliaanNya. Kembalikanlah itu semua mengacu kepada nilai-nilai yang terkandung di dalam Alkitab. Teruslah kembangkan potensi diri dengan kreativitas yang telah diberikan Tuhan tapi ingatlah selalu bahwa semua itu haruslah bertujuan untuk memberi kebaikan bagi kelangsungan hidup kita dimana Tuhan akan bercahaya terang di dalamnya. Itulah yang diinginkan Tuhan ketika Dia membekali kita dengan kreativitas sesuai gambar dan rupaNya.

Pergunakanlah kreativitas untuk tujuan yang baik dimana Tuhan bisa dipermuliakan

Promise yourself

Promise yourself to be strong that nothing can disturb your peace of mind

To talk health,happiness, and prosperity to every person you meet

To make all your friends feel there is something in them

To look at the sunny side of everything and make your optimism come true

To think only of the best, work only for the best, and expect only for the best

To be as enthusiastic about the success of the others as you are about your own

To forget the.........

Read more
---

TENTANG HAMBA TUHAN

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” 1 Korintus 4:1.

Istilah hamba Tuhan kian marak dalarn pelayanan kekristenan masa kini di mana banyak orang bangga bila gelar hamba Tuhan tersebut melekat kepadanya, tanpa memahami makna sesungguhnya kata hamba tersebut.
Seiring berjalannya waktu, pengertian kata hamba Tuhan secara perlahan mengalami pergeseran. Sering ada anggapan bahwa menjadi hamba Tuhan berarti harus mendapatkan perlakuan khusus atau service plus, beroleh pengormatan di mana pun melayani dengan segala fasilitas yang memadai. Hal ini tidak seratus persen keliru! Itu adalah bonus atau berkat yang mengikuti pelayanan hamba Tuhan. Namun jangan sampai hal ini mengalihkan motivasi kita sehingga tidak murni lagi untuk mencerminkan jiwa pengabdian, melainkan hanya tuntutan profesi yang menyebabkan kita ke luar dari jalur Tuhan.

Di awal suratnya yang ia tulis kepada jemaat di Roma rasul Paulus menyebut dirinya hamba Yesus Kristus: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” (Roma 1:1), begitu juga di hadapan jemaat Korintus. Paulus menyadari benar makna kata hamba yang melekat pada dirinya, yaitu tidak lebih dari seorang budak. Sebagai budak ia harus mengabdikan diri dengan segenap jiwa dan raga untuk Tuannya. Jadi hamba Tuhan juga bisa diartikan orang-orang yang membaktikan setiap nafas hidupnya untuk Tuhan, melepaskan segala kenyamanan duniawi, tunduk kepada pemerintahan sorgawi dan tidak punya hak untuk menuntut, serta bukan seorang bos. Paulus mengakui dirinya adalah hamba Yesus Kristus. Ada pun jabatan sebagai rasul diberikan oleh Kristus kepadanya, bukan ia sendiri yang mengangkat dirinya sebagai rasul. Tetapi Paulus tetap mengedepankan status dirinya yang tidak lebih dari seorang hamba. Dalam perjalanannya sebagai seorang hamba Tuhan Paulus melayani dengan tulus, tidak bersikap menuntut, tidak mencari keuntungan diri sendiri di balik pelayanan, melainkan mengabdi dengan sungguh-sungguh demi kemajuan Injil di muka bumi ini.

Mari kita melayani Tuhan dengan penuh pengabdian, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,..” (Matius 20:28).

Senin, 28 September 2009

Semua Dapat Kesempatan

Ayat bacaan: Matius 21:31
=====================
"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah."

kesempatan yang sama, bertobat, perempuan sundal, pemungut cukaiKetika saya dibaptis sekian tahun yang lalu, ada seorang wanita muda yang dibaptis bersama-sama dengan saya berteriak sambil menangis sesaat setelah ia dicelupkan ke dalam air. Hal itu mengagetkan saya, karena jujur sebelumnya saya belum pernah melihat hal seperti itu. Raut wajahnya saya ingat betul sampai sekarang. Ia menangis dan sedikit histeris tapi wajahnya tersenyum. Ia berkata setelahnya bahwa hidupnya dulu bergelimang dosa dan berisi banyak kepahitan. Dulu dia tidak percaya bahwa dirinya punya kesempatan untuk diselamatkan biar bagaimanapun akibat banyaknya dosa di masa lalu yang ia perbuat. Tapi hari ini, katanya, ia menjadi orang merdeka. Ia sudah diampuni, ia menjadi tahir kembali dan menerima kesempatan untuk lahir baru, hidup menjadi pribadi yang telah diperbaharui, lepas dari segala belenggu yang mengikatnya di masa lalu. Karena itulah begitu ia dibaptis, ia sempat histeris saking gembiranya. Ini perasaan yang luar biasa, tidaklah heran ia bereaksi demikian. Ada banyak orang yang mungkin menganggap dirinya sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa sehingga pintu kesempatan untuk selamat tidak akan mungkin lagi dibukakan baginya. Tapi dengarlah, bahwa siapapun bisa mendapatkan keselamatan selama orang itu mau mempergunakan kesempatan yang masih ada untuk berbalik jalan, mengakui semua perkara di hadapan Tuhan dan bertobat dengan kesungguhan hati yang utuh.

Sedikit melanjutkan apa yang sudah saya tulis kemarin mengenai stereotipe, mungkin ada banyak di antara kita yang terlalu mudah menghakimi orang lain, menganggap bahwa dosa mereka jauh lebih besar dari kita, sehingga terburu-buru menganggap bahwa mereka sudah pasti berakhir di dalam siksaan kekal kelak. Disisi lain, ada pula banyak orang yang merasa kesempatan mereka sudah tertutup. Saya tertarik untuk mengangkat sebuah perumpamaan singkat namun dalam artinya yang pernah diucapkan Yesus sendiri, yaitu perumpamaan tentang dua orang anak. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini di hadapan para imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang merasa diri mereka paling alim di antara yang lainnya, yang begitu mudahnya menghakimi orang lain seperti yang tercatat berkali-kali dalam Injil. Yesus berkata demikian: "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur." (Matius 21:28). Inilah pembuka perumpamaan itu. Ketika anak sulung itu diminta untuk bekerja di kebun anggur, ternyata anak sulung itu menolak. (ay 29). Mungkin anak sulung menganggap bahwa sebagai anak tertua ia sudah pasti mendapatkan segalanya sehingga ia tidak perlu lagi berbuat apapun. Anak sulung itu tahu ia wajib melakukan kehendak ayahnya, tapi ia tidak melakukannya karena merasa dirinya sudah aman. Lalu sang ayah mendatangi anak keduanya dan mengulangi permintaannya. Tanggapan si anak kedua ternyata berbeda. Mulanya menolak, namun kemudian ia menyesal dan menuruti permintaan ayahnya. "Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga." (ay 30). Lihatlah ada perbedaan nyata antara keduanya. Yesus pun kemudian menanyakan pendapat para imam dan tua-tua Yahudi: "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ay 31). Mengapa? Inilah sebabnya: "Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (ay 32).

Perbedaan antara yang masuk ke dalam Kerajaan Allah dan yang tidak bukanlah tergantung dari apa yang terjadi di masa lalu, tapi dari bagaimana kita menyikapi hidup ini, apakah dengan menyesali penolakan kemudian berbalik untuk percaya atau tetap menolak untuk itu. Para imam kepala dan pemimpin Yahudi itu tahu persis apa yang telah berulang kali dinubuatkan sebelumnya, namun mereka tidak juga bisa percaya meski sudah langsung bertemu muka dengan Kristus. Sementara di sisi lain, orang-orang berlumur dosa mungkin hidup dalam kegelapan sepanjang hidupnya, namun ketika mereka membuka hati mereka dan bertobat, mau mempercayakan hidup mereka sepenuhnya pada Yesus, maka Kerajaan Allah pun menjadi bagian dari mereka. Ini perumpamaan yang mengajarkan hal penting bagi kita. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, menganggap bahwa kita jauh lebih baik dari mereka, dan dari sisi lain kita bisa belajar bahwa setiap orang, yang berlumur dosa sekalipun tetap diberikan kesempatan untuk mendapatkan janji Tuhan akan keselamatan dan menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Ada begitu banyak contoh lain mengenai hal ini, misalnya kisah perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ketika keduanya masuk ke bait Allah, ada perbedaan nyata dari sikap hati keduanya. Sementara orang Farisi menyombongkan kerajinannya beribadah dan tata cara hidupnya yang dianggapnya paling benar, pemungut cukai merendahkan dirinya habis-habisan. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (ay 13). Pemungut cukai lah yang akhirnya pulang sebagai orang yang dibenarkan. (ay 14). Sementara mengenai wanita pelacur, kemarin kita sudah melihat bagaimana Rahab yang awalnya merupakan wanita tuna susila kemudian menjadi satu dari sederet pahlawan iman lainnya sekaliber Musa, Abraham, Yusuf dan lain-lain lewat imannya.

Semua orang dapat kesempatan yang sama tanpa terkecuali untuk bertobat. Tidak terkecuali pendosa seperti wanita pelacur atau pemungut cukai sekalipun, yang biasanya akan mendapatkan stereotipe negatif dari masyarakat. Asalkan mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka dan memilih untuk kembali kepada Tuhan, hidup sesuai firmanNya dan tentunya percaya kepada Kristus, maka mereka pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan bagian di Kerajaan Allah. Justru kepada kita yang berlumur dosa inilah Yesus datang. "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32). Dia sudah menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib demi kita semua, agar kita bisa diselamatkan. Kesempatan diberikan secara luas kepada siapapun, tapi ingatlah bahwa kesempatan untuk itu tidak akan ada selamanya. "kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15). Jangan terlena dengan status kita yang dirasa sudah "aman" ketika kita sudah menerima Kristus, lalu terlena dalam status kita dan lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita seperti halnya anak sulung dalam perumpamaan tentang dua orang anak di atas. Hendaklah kita terus menjaga diri kita, menjauhkan diri kita dari memberi stereotip-stereotip seenaknya dan terus berusaha hidup lebih taat lagi dari hari ke hari. Semua orang punya kesempatan yang sama, tidak peduli apapun latar belakang dan dosa-dosa di masa lalu. Kita yang sudah menyandang status sebagai anak sulung pun bisa terpeleset jika kita tidak berhati-hati. Hari ini mari kita semua melembutkan hati dan taat melakukan apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, agar kita semua bisa bersama-sama mendapat bagian dalam KerajaanNya.

Siapapun yang percaya dan melakukan Firman Tuhan akan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah

Semua Dapat Kesempatan

Ayat bacaan: Matius 21:31
=====================
"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah."

kesempatan yang sama, bertobat, perempuan sundal, pemungut cukaiKetika saya dibaptis sekian tahun yang lalu, ada seorang wanita muda yang dibaptis bersama-sama dengan saya berteriak sambil menangis sesaat setelah ia dicelupkan ke dalam air. Hal itu mengagetkan saya, karena jujur sebelumnya saya belum pernah melihat hal seperti itu. Raut wajahnya saya ingat betul sampai sekarang. Ia menangis dan sedikit histeris tapi wajahnya tersenyum. Ia berkata setelahnya bahwa hidupnya dulu bergelimang dosa dan berisi banyak kepahitan. Dulu dia tidak percaya bahwa dirinya punya kesempatan untuk diselamatkan biar bagaimanapun akibat banyaknya dosa di masa lalu yang ia perbuat. Tapi hari ini, katanya, ia menjadi orang merdeka. Ia sudah diampuni, ia menjadi tahir kembali dan menerima kesempatan untuk lahir baru, hidup menjadi pribadi yang telah diperbaharui, lepas dari segala belenggu yang mengikatnya di masa lalu. Karena itulah begitu ia dibaptis, ia sempat histeris saking gembiranya. Ini perasaan yang luar biasa, tidaklah heran ia bereaksi demikian. Ada banyak orang yang mungkin menganggap dirinya sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa sehingga pintu kesempatan untuk selamat tidak akan mungkin lagi dibukakan baginya. Tapi dengarlah, bahwa siapapun bisa mendapatkan keselamatan selama orang itu mau mempergunakan kesempatan yang masih ada untuk berbalik jalan, mengakui semua perkara di hadapan Tuhan dan bertobat dengan kesungguhan hati yang utuh.

Sedikit melanjutkan apa yang sudah saya tulis kemarin mengenai stereotipe, mungkin ada banyak di antara kita yang terlalu mudah menghakimi orang lain, menganggap bahwa dosa mereka jauh lebih besar dari kita, sehingga terburu-buru menganggap bahwa mereka sudah pasti berakhir di dalam siksaan kekal kelak. Disisi lain, ada pula banyak orang yang merasa kesempatan mereka sudah tertutup. Saya tertarik untuk mengangkat sebuah perumpamaan singkat namun dalam artinya yang pernah diucapkan Yesus sendiri, yaitu perumpamaan tentang dua orang anak. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini di hadapan para imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang merasa diri mereka paling alim di antara yang lainnya, yang begitu mudahnya menghakimi orang lain seperti yang tercatat berkali-kali dalam Injil. Yesus berkata demikian: "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur." (Matius 21:28). Inilah pembuka perumpamaan itu. Ketika anak sulung itu diminta untuk bekerja di kebun anggur, ternyata anak sulung itu menolak. (ay 29). Mungkin anak sulung menganggap bahwa sebagai anak tertua ia sudah pasti mendapatkan segalanya sehingga ia tidak perlu lagi berbuat apapun. Anak sulung itu tahu ia wajib melakukan kehendak ayahnya, tapi ia tidak melakukannya karena merasa dirinya sudah aman. Lalu sang ayah mendatangi anak keduanya dan mengulangi permintaannya. Tanggapan si anak kedua ternyata berbeda. Mulanya menolak, namun kemudian ia menyesal dan menuruti permintaan ayahnya. "Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga." (ay 30). Lihatlah ada perbedaan nyata antara keduanya. Yesus pun kemudian menanyakan pendapat para imam dan tua-tua Yahudi: "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ay 31). Mengapa? Inilah sebabnya: "Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (ay 32).

Perbedaan antara yang masuk ke dalam Kerajaan Allah dan yang tidak bukanlah tergantung dari apa yang terjadi di masa lalu, tapi dari bagaimana kita menyikapi hidup ini, apakah dengan menyesali penolakan kemudian berbalik untuk percaya atau tetap menolak untuk itu. Para imam kepala dan pemimpin Yahudi itu tahu persis apa yang telah berulang kali dinubuatkan sebelumnya, namun mereka tidak juga bisa percaya meski sudah langsung bertemu muka dengan Kristus. Sementara di sisi lain, orang-orang berlumur dosa mungkin hidup dalam kegelapan sepanjang hidupnya, namun ketika mereka membuka hati mereka dan bertobat, mau mempercayakan hidup mereka sepenuhnya pada Yesus, maka Kerajaan Allah pun menjadi bagian dari mereka. Ini perumpamaan yang mengajarkan hal penting bagi kita. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, menganggap bahwa kita jauh lebih baik dari mereka, dan dari sisi lain kita bisa belajar bahwa setiap orang, yang berlumur dosa sekalipun tetap diberikan kesempatan untuk mendapatkan janji Tuhan akan keselamatan dan menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Ada begitu banyak contoh lain mengenai hal ini, misalnya kisah perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ketika keduanya masuk ke bait Allah, ada perbedaan nyata dari sikap hati keduanya. Sementara orang Farisi menyombongkan kerajinannya beribadah dan tata cara hidupnya yang dianggapnya paling benar, pemungut cukai merendahkan dirinya habis-habisan. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (ay 13). Pemungut cukai lah yang akhirnya pulang sebagai orang yang dibenarkan. (ay 14). Sementara mengenai wanita pelacur, kemarin kita sudah melihat bagaimana Rahab yang awalnya merupakan wanita tuna susila kemudian menjadi satu dari sederet pahlawan iman lainnya sekaliber Musa, Abraham, Yusuf dan lain-lain lewat imannya.

Semua orang dapat kesempatan yang sama tanpa terkecuali untuk bertobat. Tidak terkecuali pendosa seperti wanita pelacur atau pemungut cukai sekalipun, yang biasanya akan mendapatkan stereotipe negatif dari masyarakat. Asalkan mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka dan memilih untuk kembali kepada Tuhan, hidup sesuai firmanNya dan tentunya percaya kepada Kristus, maka mereka pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan bagian di Kerajaan Allah. Justru kepada kita yang berlumur dosa inilah Yesus datang. "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32). Dia sudah menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib demi kita semua, agar kita bisa diselamatkan. Kesempatan diberikan secara luas kepada siapapun, tapi ingatlah bahwa kesempatan untuk itu tidak akan ada selamanya. "kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15). Jangan terlena dengan status kita yang dirasa sudah "aman" ketika kita sudah menerima Kristus, lalu terlena dalam status kita dan lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita seperti halnya anak sulung dalam perumpamaan tentang dua orang anak di atas. Hendaklah kita terus menjaga diri kita, menjauhkan diri kita dari memberi stereotip-stereotip seenaknya dan terus berusaha hidup lebih taat lagi dari hari ke hari. Semua orang punya kesempatan yang sama, tidak peduli apapun latar belakang dan dosa-dosa di masa lalu. Kita yang sudah menyandang status sebagai anak sulung pun bisa terpeleset jika kita tidak berhati-hati. Hari ini mari kita semua melembutkan hati dan taat melakukan apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, agar kita semua bisa bersama-sama mendapat bagian dalam KerajaanNya.

Siapapun yang percaya dan melakukan Firman Tuhan akan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah

10 signs that say he is serious about you!

1) He seeks your opinion in everything from minor decisions to major ones
It could be something as simple as buying a tie to match his shirt. Or major ones like what car he should buy. It shows that he values your opinions and thinks that you have great judgement and insight as well.

2) He wants you to meet his family, friends and everybody else
He is serious in making you part of his social circle and does not see you as just another casual date when he wants you to meet his family.

3) He spends a lot of time together with you
If he is not genuinely interested in you, would he spend time with you rather than go for his favourite soccer match with his buddies

Read more .....
Click this link ->10 signs
---

Lakukan Lebih Banyak

“Jika anda hanya punya satu anak panah untuk dilempar ke sebuah dartboard, berapa kesempatan anda untuk mencapai sasaran utama? Sangat kecil, bukan? Jika anda mendapatkan 100 anak panah untuk dilemparkan ke dartboard tersebut, meski anda seorang yang bodoh sekalipun, maka dapat dipastikan paling tidak, lebih dari satu anak panah yang mengenai sasaran tersebut.

Sukses memang sesederhana itu. Lakukan lebih banyak maka anda akan sukses! Itu sebabnya ciri-ciri orang sukses adalah mengalami kegagalan lebih banyak dibandingkan dengan orang biasa. Masuk akal, karena orang sukses juga mencoba dan melakukan jauh lebih banyak dari orang biasa. Jika anda melakukan semakin banyak, maka semakin besar juga peluang anda untuk meraih kesuksesan.

Sebagai contoh, orang asuransi sangat akrab dengan istilah 10:3:1 yang artinya jika agen asuransi tersebut bertemu dengan 10 orang, maka 3 orang akan tertarik mendengar presentasinya dan 1 orang bakal beli asuransi. Apa yang harus dilakukan supaya bisa mendapatkan 5 nasbah? Tawarkan saja kepada 50 orang, maka menurut hokum rata-rata kita pasti mendapat 5 nasabah.

Masalahnya, banyak orang tidak mau melakukan lebih banyak. Tidak mau mencoba lebih sering. Atau, jika anda seorang sales, tidak mau menawarkan ke lebih banyak orang. Semakin sedikit tindakan yang dilakukan, tentu semakin kecil juga kemungkinan untuk berhasil. Inilah yang membedakan orang biasa dan orang sukses. Amatilah bagaimana orang-orang sukses bekerja, anda akan tahu bahwa mereka selalu lebih rajin dari orang biasa. Mereka tidak bermalas-malasan , tapi do it, do it, and do it again.

Lemparkan anak panah lebih banyak maka semakin besar juga peluang anda mengenai sasaran.

Semakin sering anda mencoba, maka semakin besar juga kemungkinan anda untuk berhasil.

Tuhan Yesus Memberkati..

" Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah " ( Galatia 6 : 9 )

Minggu, 27 September 2009

Stereotipe

Ayat bacaan: Ibrani 11:31
=====================
"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik."

stereotipe, rahabMusik itu universal, tapi jazz bagi sebagian orang dianggap eksklusif milik hanya sebagian orang. Salah seorang siswa saya pernah berkata sambil tertawa ketika mengetahui saya mengelola sebuah situs jazz. "wah jazz? berarti orang kaya dong pak.." Ya, begitulah nasib jazz di Indonesia. Musik jazz di negeri kita seringkali mendapat gambaran yang salah. Beberapa stereotipe acap kali ditimpakan secara tidak adil kepada jenis musik ini. Jazz adalah musik kaum elite, kaum eksklusif, jazz adalah musik orang kaya, atau bahkan di kalangan anak muda jazz dianggap sebagai musik orang tua yang membosankan, bikin ngantuk, atau bagi sebagian orang lagi merupakan musik yang komplikatif, ribet dan sulit dicerna. Padahal faktanya, ada lebih dari 50 sub genre jazz dan akan terus bertambah. Dengan keragaman ini, pastinya ada satu-dua sub genre yang akan cocok dengan pendengar jenis musik lain di luar jazz. Memang ada yang kompleks, sulit dicerna bagi pendengar awam, namun tidak sedikit pula yang easy listening, bahkan tampil dalam "perkawinan" harmonis dengan jenis musik lainnya seperti rock, pop, RnB bahkan etnik dan dangdut sekalipun.

Sadar atau tidak kita sering terbiasa untuk memberi label, cap atau stereotipe kepada suku, bangsa, ras, budaya, kalangan, golongan tertentu , dan sebagainya. Suku A itu malas, suku B itu terkenal pelit, suku C itu penipu, dan sebagainya. "Pantas saja kasar, dia suku X sih.." , "ya jelas kaya, dia kan suku Y", "dasar X, tidak heran.." kata-kata seperti ini begitu mudahnya keluar dari mulut kita baik dalam keadaan disadari atau tidak. Padahal Allah tidak membeda-bedakan orang, dan tidak menganjurkan kita untuk memberi cap atau stereotipe seperti ini kepada siapapun.

Mari kita lihat kisah mengenai Rahab dalam kitab Yosua. Rahab adalah wanita pelacur di Yerikho. Pada suatu ketika datanglah dua pengintai utusan Yosua untuk mengamati Yerikho. Mereka datang dan menginap di rumah penginapan milik Rahab. Kedatangan dua pengintai ini ternyata sampai ke telinga raja Yerikho, dan segeralah ia memerintahkan bawahannya untuk menangkap kedua mata-mata itu ke penginapan Rahab. Ternyata Rahab memilih untuk menyembunyikan kedua pengintai itu dan karenanya mereka selamat dari penangkapan. Mengapa Rahab menyelamatkan pengintai yang hendak mengambil alih kotanya? Inilah alasan Rahab seperti yang ia katakan kepada kedua pengintai. "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah." (Yosua 2:9-11). Rahab ternyata memiliki iman terhadap Allah Israel. Ia percaya bahwa jika Allah sudah memutuskan demikian, maka itulah yang akan terjadi. Sebab Tuhan, Allah Israel adalah Allah atas langit dan bumi. Ia tahu benar bahwa jika Allah berkehendak, tidak akan ada manusia yang mampu mencegah, termasuk bangsanya sendiri. Ini menunjukkan iman Rahab yang luar biasa.

Siapakah Rahab? Ia adalah wanita pelacur. Dalam posisi demikian, Rahab tentulah mendapat cap sebagai wanita penuh noda dan dosa. Hidupnya penuh aib, namun ternyata ia memiliki iman yang penuh akan Allah. Ia pun kemudian selamat ketika bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Tidak saja dirinya sendiri, tapi seisi rumahnya pun selamat. "Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho." (Yosua 6:25). Iman Rahab ini menjadi harum, hingga di kemudian hari Penulis Ibrani pun menggolongkan Rahab sebagai pahlawan iman sejajar dengan sederetan nama besar seperti Musa, Abraham, Ishak, Yusuf, Yakub dan lain-lain. "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11:31). Agaknya setelah kejadian itu, Rahab bertobat meninggalkan masa lalunya dan mulai hidup dengan benar. Ia menikah dengan Salmon, menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan lahirlah Boas. Kita tahu selanjutnya Boas menikah dengan Rut, dan Yesus pun lahir dari garis keturunan ini. Lihatlah nama Rahab tercantum dalam silsilah Yesus. "Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai.." (Matius 1:5).

Alkitab mencatat banyak kisah stereotipe yang dipatahkan. Lihatlah bagaimana pemungut cukai yang doanya lebih didengarkan ketimbang orang Farisi ahli Taurat (Lukas 18:9-14), lihat bagaimana Yesus menunjukkan kasihnya terhadap orang-orang berdosa yang sudah mendapat cap rendah/hina di masa itu. Yesus menerima undangan pemungut cukai dalam Markus 2:13-17 dan sebagainya. Tuhan tidak pernah memandang muka. Ia tidak memandang masa lalu kita yang kelam, dosa-dosa kita yang bertumpuk di waktu lalu. Pertobatan sungguh-sungguh akan selalu berharga dan bermakna di hadapan Tuhan. "Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka." (Efesus 6:9b). Jika Tuhan tidak memandang muka, demikian pula kita seharusnya tidak boleh memberikan stereotipe-stereotipe kepada siapapun. Stereotipe akan selalu menjadi penghambat untuk menilai sesuatu secara objektif. Stereotipe akan mengarah kepada menghakimi orang lain, dan itu jelas merupakan pelanggaran. "Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran." (Yakobus 2:9). Berapa banyak stereotipe sudah tertanam dalam pikiran kita? Seberapa sering hal itu muncul sebagai penghalang bagi kita untuk menjadi terang dan garam bagi banyak orang? Seberapa banyak hal itu menghambat diri kita untuk melihat potensi orang lain bahkan diri sendiri? Kita selalu diminta untuk mendasarkan segala sesuatu kepada semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Sedangkan stereotipe hanya akan mengarah kepada bentuk-bentuk penghakiman yang tidak akan pernah selalu benar. Semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk bertobat dan ditahirkan dari dosa-dosa di masa lalu, tidak terkecuali wanita pelacur seperti Rahab sekalipun bisa mendapat anugerah keselamatan yang luar biasa. Mari kita hancurkan segala bentuk stereotipe yang melekat dalam pikiran kita hari ini.

Stereotipe adalah penghalang bagi kita untuk melihat segala sesuatu secara objektif dari sudut pandang positif

Stereotipe

Ayat bacaan: Ibrani 11:31
=====================
"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik."

stereotipe, rahabMusik itu universal, tapi jazz bagi sebagian orang dianggap eksklusif milik hanya sebagian orang. Salah seorang siswa saya pernah berkata sambil tertawa ketika mengetahui saya mengelola sebuah situs jazz. "wah jazz? berarti orang kaya dong pak.." Ya, begitulah nasib jazz di Indonesia. Musik jazz di negeri kita seringkali mendapat gambaran yang salah. Beberapa stereotipe acap kali ditimpakan secara tidak adil kepada jenis musik ini. Jazz adalah musik kaum elite, kaum eksklusif, jazz adalah musik orang kaya, atau bahkan di kalangan anak muda jazz dianggap sebagai musik orang tua yang membosankan, bikin ngantuk, atau bagi sebagian orang lagi merupakan musik yang komplikatif, ribet dan sulit dicerna. Padahal faktanya, ada lebih dari 50 sub genre jazz dan akan terus bertambah. Dengan keragaman ini, pastinya ada satu-dua sub genre yang akan cocok dengan pendengar jenis musik lain di luar jazz. Memang ada yang kompleks, sulit dicerna bagi pendengar awam, namun tidak sedikit pula yang easy listening, bahkan tampil dalam "perkawinan" harmonis dengan jenis musik lainnya seperti rock, pop, RnB bahkan etnik dan dangdut sekalipun.

Sadar atau tidak kita sering terbiasa untuk memberi label, cap atau stereotipe kepada suku, bangsa, ras, budaya, kalangan, golongan tertentu , dan sebagainya. Suku A itu malas, suku B itu terkenal pelit, suku C itu penipu, dan sebagainya. "Pantas saja kasar, dia suku X sih.." , "ya jelas kaya, dia kan suku Y", "dasar X, tidak heran.." kata-kata seperti ini begitu mudahnya keluar dari mulut kita baik dalam keadaan disadari atau tidak. Padahal Allah tidak membeda-bedakan orang, dan tidak menganjurkan kita untuk memberi cap atau stereotipe seperti ini kepada siapapun.

Mari kita lihat kisah mengenai Rahab dalam kitab Yosua. Rahab adalah wanita pelacur di Yerikho. Pada suatu ketika datanglah dua pengintai utusan Yosua untuk mengamati Yerikho. Mereka datang dan menginap di rumah penginapan milik Rahab. Kedatangan dua pengintai ini ternyata sampai ke telinga raja Yerikho, dan segeralah ia memerintahkan bawahannya untuk menangkap kedua mata-mata itu ke penginapan Rahab. Ternyata Rahab memilih untuk menyembunyikan kedua pengintai itu dan karenanya mereka selamat dari penangkapan. Mengapa Rahab menyelamatkan pengintai yang hendak mengambil alih kotanya? Inilah alasan Rahab seperti yang ia katakan kepada kedua pengintai. "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah." (Yosua 2:9-11). Rahab ternyata memiliki iman terhadap Allah Israel. Ia percaya bahwa jika Allah sudah memutuskan demikian, maka itulah yang akan terjadi. Sebab Tuhan, Allah Israel adalah Allah atas langit dan bumi. Ia tahu benar bahwa jika Allah berkehendak, tidak akan ada manusia yang mampu mencegah, termasuk bangsanya sendiri. Ini menunjukkan iman Rahab yang luar biasa.

Siapakah Rahab? Ia adalah wanita pelacur. Dalam posisi demikian, Rahab tentulah mendapat cap sebagai wanita penuh noda dan dosa. Hidupnya penuh aib, namun ternyata ia memiliki iman yang penuh akan Allah. Ia pun kemudian selamat ketika bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Tidak saja dirinya sendiri, tapi seisi rumahnya pun selamat. "Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho." (Yosua 6:25). Iman Rahab ini menjadi harum, hingga di kemudian hari Penulis Ibrani pun menggolongkan Rahab sebagai pahlawan iman sejajar dengan sederetan nama besar seperti Musa, Abraham, Ishak, Yusuf, Yakub dan lain-lain. "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11:31). Agaknya setelah kejadian itu, Rahab bertobat meninggalkan masa lalunya dan mulai hidup dengan benar. Ia menikah dengan Salmon, menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan lahirlah Boas. Kita tahu selanjutnya Boas menikah dengan Rut, dan Yesus pun lahir dari garis keturunan ini. Lihatlah nama Rahab tercantum dalam silsilah Yesus. "Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai.." (Matius 1:5).

Alkitab mencatat banyak kisah stereotipe yang dipatahkan. Lihatlah bagaimana pemungut cukai yang doanya lebih didengarkan ketimbang orang Farisi ahli Taurat (Lukas 18:9-14), lihat bagaimana Yesus menunjukkan kasihnya terhadap orang-orang berdosa yang sudah mendapat cap rendah/hina di masa itu. Yesus menerima undangan pemungut cukai dalam Markus 2:13-17 dan sebagainya. Tuhan tidak pernah memandang muka. Ia tidak memandang masa lalu kita yang kelam, dosa-dosa kita yang bertumpuk di waktu lalu. Pertobatan sungguh-sungguh akan selalu berharga dan bermakna di hadapan Tuhan. "Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka." (Efesus 6:9b). Jika Tuhan tidak memandang muka, demikian pula kita seharusnya tidak boleh memberikan stereotipe-stereotipe kepada siapapun. Stereotipe akan selalu menjadi penghambat untuk menilai sesuatu secara objektif. Stereotipe akan mengarah kepada menghakimi orang lain, dan itu jelas merupakan pelanggaran. "Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran." (Yakobus 2:9). Berapa banyak stereotipe sudah tertanam dalam pikiran kita? Seberapa sering hal itu muncul sebagai penghalang bagi kita untuk menjadi terang dan garam bagi banyak orang? Seberapa banyak hal itu menghambat diri kita untuk melihat potensi orang lain bahkan diri sendiri? Kita selalu diminta untuk mendasarkan segala sesuatu kepada semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Sedangkan stereotipe hanya akan mengarah kepada bentuk-bentuk penghakiman yang tidak akan pernah selalu benar. Semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk bertobat dan ditahirkan dari dosa-dosa di masa lalu, tidak terkecuali wanita pelacur seperti Rahab sekalipun bisa mendapat anugerah keselamatan yang luar biasa. Mari kita hancurkan segala bentuk stereotipe yang melekat dalam pikiran kita hari ini.

Stereotipe adalah penghalang bagi kita untuk melihat segala sesuatu secara objektif dari sudut pandang positif

Tetap Hormati Orang Tua

(Ulangan 5:16) Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

(Matius 15:4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

Ada seorang bapak tua kaya raya yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Bapak tua itu mempunyai seorang putra yang telah menikah. Setelah mendapat izin darinya, putra dan menantunya tinggal bersama dengan dia di apartementnya yang mewah. Cinta yang besar membuat bapak tua tsb segera menghibahkan seluruh harta kekayaannya, termasuk apartement yang ditinggalnya kepada anak tunggalnya.

Suatu hari terjadi pertengkaran yang cukup hebat antara bapak tua itu dan putranya, sehingga diusir dari apartementnya sendiri. Pengusiran itu membuat sibapak tua terlunta lunta dan menjadi pengemis di Orchad Road , Singapure. Suatu hari seorang teman lama mengenalinya saat memberikan sedekah. Saat ditanya apakah dia teman yang sudah lama tidak ada kabar beritanya, bapak tua itu menyangkalinya. Tanpa sepengetahuan si bapak tua, temannya tersebut memberitahukan kecurigaannya kepada teman teman yang lain. Saat sahabat karib bapak tua itu datang dan mendesaknya untuk mengakui bahwa dia adalah teman lama yang mereka cari cari, bapak tua itupun tak kuasa lagi untuk menyangkal. Dengan derai airmata ia menceritakan peristiwa getir yang menerpa hidupnya. Mendengar itu teman-temanya panas hati. Singkat kata kejadian ini sampai kepada Perdana Menteri Singapure. PM Lee segera memanggil dan bertindak tegas terhadap anak dan menantunya bapak tua tersebut. PM Lee memanggil notaris dan membatalkan penghibaan harta warisan terhadap anak dan menantu yang telah tega mengusir orang tuanya ke jalanan. Sejak saat itu anak dan menantu yang tak tahu diri tersebut dilarang masuk ke apartemen si bapak tua.

Peristiwa ini membuat PM Lee mengambil keputusan bijaksana, yang melarang semua orangtua untuk menghibahkan seluruh harta bendanya kepada siapa pun sebelum mereka meninggal. Kemudian supaya para lansia tetap dihargai hingga akhir hayatnya, beliau membuat dekrit yang berisikan pemberian pekerjaan kepada para lansia agar mereka tidak lagi tergantung pada anak atau menantu. Para lansia itu juga bisa bangga karena masih bisa mampu memberi sesuatu dari hasil keringat mereka kepada cucu-cucu mereka. Di Singapure cleaning service toilet di bandara, mal, restoran adalah para lansia.

Anak yang bijak akan terus memelihara rasa hormat dan saying kepada orang tuanya, apapun kondisi orang tuanya. Meskipun orang tua kita sudah tidak sanggup duduk atau berdiri, atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, kita harus tetap menghormatinta dengan cara merawatnya. Ingatlah bahwa waktu kita masih balita, mereka dengan sukacita membersihkan tubuh kita dari semua bentuk kotoran, memberi kita makan dengantangan mereka sendiri, dan menggendong kita sampai dini hari pada waktu kita sedang sakit. Dapatkah kita membalas semua kebajikan itu? Hormatilah orang tua atau mertua kita. Tuhan akan memberkati kita dengan umur panjang jika kita menghormati mereka.

DOA: Tuhan, berkatilah bapak dan ibuku dengan kekuatan dan kesehatan. Mampukan aku berbakti kepada mereka sampai akhir hayat mereka. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Kata-kata bijak: Kesejatian seorang anak nyata tatkala ia tetap mengasihi orang tuanya yang terbaring tak berdaya.

Sabtu, 26 September 2009

Rumah Bapa

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
======================
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."

rumah Bapa, Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkanKebutuhan orang akan perumahan sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Krisis global boleh terjadi, mencari uang boleh menjadi lebih sulit, namun kebutuhan akan rumah jelas merupakan salah satu kebutuhan primer seperti sandang dan pangan. Karena itulah dunia properti akan terus hidup, meski bisa saja mengalami peningkatan atau penurunan. Jumlah pertambahan penduduk akan terus meningkat, dan semua orang rasanya butuh tempat tinggal. Tidak heran ketika kita melihat di koran-koran bahwa ada banyak perumahan yang mengiklankan bahwa unit yang tersedia tinggal sedikit lagi. Ada banyak perumahan yang terus berkembang seiring dibukanya cluster-cluster baru menyikapi penuhnya cluster lama yang ada ditambah tingginya permintaan. Di kota saya, pusat kota sudah jenuh. Tidak ada tempat lagi untuk membuka lahan perumahan, sehingga para developer atau pengembang seakan berlomba-lomba untuk membuka lahan baru di berbagai pinggiran kota. Lokasinya bisa jauh sekali untuk dicapai dari pusat kota, malah beberapa perumahan bisa makan waktu sejam untuk dicapai. Namun hal itu tampaknya tidak menyurutkan keinginan orang untuk membeli rumah. Meski jauh dari pusat kota, tetap saja rumah-rumah itu terus laku.

Pada suatu waktu, semua lahan itu pun akan penuh. Saya membayangkan bagaimana kedepannya jika tidak ada lagi lahan yang bisa diolah. Tempat di dunia ini tentu punya batas maksimal. Itu buat kehidupan di dunia yang hanya sementara ini. Sementara nanti di "rumah masa depan" kita, ternyata Tuhan telah menjanjikan bahwa masih ada begitu banyak lahan kosong untuk kita tempati. Rumah Bapa yang menjadi tujuan kita selanjutnya tidaklah terbatas luasnya, tidak akan pernah ditutup karena sudah penuh. Karena itu seandainya seluruh isi dunia ini bertobat, semuanya pasti akan mendapat tempat disana. Hal ini dikatakan langsung oleh Yesus. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2). Yesus kemudian melanjutkan: "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (ay 3). Yesus sudah kembali kesana, mempersiapkan tempat bagi orang percaya, dan pada suatu saat nanti Dia akan kembali untuk membawa kita pulang ke rumah Bapa yang telah Dia persiapkan secara khusus.

Rumah Bapa, atau Kerajaan Allah adalah sesuatu yang tidak tergoncangkan. Dunia boleh saja gonjang ganjing, dunia memang tidak abadi, namun Kerajaan Allah adalah sebuah tempat yang tidak akan tergoncangkan dalam kondisi apapun. Penulis Ibrani mengingatkan kita mengenai Kerajaan yang tidak tergoncangkan ini, dan bagaimana kita bisa mendapat bagian di dalamnya. "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?" (Ibrani 12:25). Kita harus mampu menjaga diri kita agar tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan. Jika orang yang tidak mau mendengar saja tidak luput, apalagi kita yang sudah mendengar tapi masih bebal? Penulis Ibrani melanjutkan: "Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga. Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan." (ay 26-27). Bumi memang bisa dan akan digoncangkan. Pengayakan akan terjadi, dimana gandum akan dipisahkan dari lalang. Gandum akan dikumpulkan kedalam lumbung, sedangkan lalang akan dilemparkan ke dalam api. (Matius 13:24-30). Bagi "gandum", yang berbicara mengenai orang-orang percaya yang taat kepada Tuhan, mereka akan masuk ke dalam lumbung Kristus, Kerajaan Allah, yang tidak akan pernah tergoncangkan. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28). Apa yang dijanjikan Allah untuk kita terima adalah anugerah yang luar biasa. Sebuah tempat di rumah Bapa yang tidak tergoncangkan, tanpa ratap tangis dan dukacita, tanpa penderitaan,penyakit dan berbagai masalah-masalah lainnya seperti yang ada di dunia ini, telah disediakan Kristus bagi kita yang percaya kepadaNya. Untuk itulah kita sudah lebih dari sepantasnya untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan dengan penuh rasa hormat dan takut.

Hal inilah yang diingatkan kepada kita. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18), dan "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8). Ini dua hal yang harus selalu menyertai setiap derap langkah kita dalam menjalani kehidupan, agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh bagian dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan itu. Hidup hari ini boleh saja berat, permasalahan boleh bertubi-tubi memukul kita dari segala arah, tapi janganlah pernah lupa untuk bersyukur dan terus tekun dalam beribadah. Karena apa yang dijanjikan Allah sesungguhnya jauh lebih besar daripada segala hal di dunia yang hanya sementara ini. Tidak seperti lahan perumahan yang suatu saat akan mencapai titik jenuh, rumah Bapa masih dan akan tetap tersedia bagi siapapun yang mengikuti firmanNya. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu. Maka Yesus pun berkata: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." (Yohanes 14:1). Jagalah diri dan kehidupan kita agar tetap layak dan berkenan di hadapan Tuhan, sehingga kita akan mendapatkan bagian kita di rumahNya kelak.

Jangan biarkan kesempatan untuk beroleh tempat di rumah Bapa melayang akibat keteledoran kita menyikapi hidup

Rumah Bapa

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
======================
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."

rumah Bapa, Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkanKebutuhan orang akan perumahan sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Krisis global boleh terjadi, mencari uang boleh menjadi lebih sulit, namun kebutuhan akan rumah jelas merupakan salah satu kebutuhan primer seperti sandang dan pangan. Karena itulah dunia properti akan terus hidup, meski bisa saja mengalami peningkatan atau penurunan. Jumlah pertambahan penduduk akan terus meningkat, dan semua orang rasanya butuh tempat tinggal. Tidak heran ketika kita melihat di koran-koran bahwa ada banyak perumahan yang mengiklankan bahwa unit yang tersedia tinggal sedikit lagi. Ada banyak perumahan yang terus berkembang seiring dibukanya cluster-cluster baru menyikapi penuhnya cluster lama yang ada ditambah tingginya permintaan. Di kota saya, pusat kota sudah jenuh. Tidak ada tempat lagi untuk membuka lahan perumahan, sehingga para developer atau pengembang seakan berlomba-lomba untuk membuka lahan baru di berbagai pinggiran kota. Lokasinya bisa jauh sekali untuk dicapai dari pusat kota, malah beberapa perumahan bisa makan waktu sejam untuk dicapai. Namun hal itu tampaknya tidak menyurutkan keinginan orang untuk membeli rumah. Meski jauh dari pusat kota, tetap saja rumah-rumah itu terus laku.

Pada suatu waktu, semua lahan itu pun akan penuh. Saya membayangkan bagaimana kedepannya jika tidak ada lagi lahan yang bisa diolah. Tempat di dunia ini tentu punya batas maksimal. Itu buat kehidupan di dunia yang hanya sementara ini. Sementara nanti di "rumah masa depan" kita, ternyata Tuhan telah menjanjikan bahwa masih ada begitu banyak lahan kosong untuk kita tempati. Rumah Bapa yang menjadi tujuan kita selanjutnya tidaklah terbatas luasnya, tidak akan pernah ditutup karena sudah penuh. Karena itu seandainya seluruh isi dunia ini bertobat, semuanya pasti akan mendapat tempat disana. Hal ini dikatakan langsung oleh Yesus. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2). Yesus kemudian melanjutkan: "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (ay 3). Yesus sudah kembali kesana, mempersiapkan tempat bagi orang percaya, dan pada suatu saat nanti Dia akan kembali untuk membawa kita pulang ke rumah Bapa yang telah Dia persiapkan secara khusus.

Rumah Bapa, atau Kerajaan Allah adalah sesuatu yang tidak tergoncangkan. Dunia boleh saja gonjang ganjing, dunia memang tidak abadi, namun Kerajaan Allah adalah sebuah tempat yang tidak akan tergoncangkan dalam kondisi apapun. Penulis Ibrani mengingatkan kita mengenai Kerajaan yang tidak tergoncangkan ini, dan bagaimana kita bisa mendapat bagian di dalamnya. "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?" (Ibrani 12:25). Kita harus mampu menjaga diri kita agar tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan. Jika orang yang tidak mau mendengar saja tidak luput, apalagi kita yang sudah mendengar tapi masih bebal? Penulis Ibrani melanjutkan: "Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga. Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan." (ay 26-27). Bumi memang bisa dan akan digoncangkan. Pengayakan akan terjadi, dimana gandum akan dipisahkan dari lalang. Gandum akan dikumpulkan kedalam lumbung, sedangkan lalang akan dilemparkan ke dalam api. (Matius 13:24-30). Bagi "gandum", yang berbicara mengenai orang-orang percaya yang taat kepada Tuhan, mereka akan masuk ke dalam lumbung Kristus, Kerajaan Allah, yang tidak akan pernah tergoncangkan. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28). Apa yang dijanjikan Allah untuk kita terima adalah anugerah yang luar biasa. Sebuah tempat di rumah Bapa yang tidak tergoncangkan, tanpa ratap tangis dan dukacita, tanpa penderitaan,penyakit dan berbagai masalah-masalah lainnya seperti yang ada di dunia ini, telah disediakan Kristus bagi kita yang percaya kepadaNya. Untuk itulah kita sudah lebih dari sepantasnya untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan dengan penuh rasa hormat dan takut.

Hal inilah yang diingatkan kepada kita. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18), dan "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8). Ini dua hal yang harus selalu menyertai setiap derap langkah kita dalam menjalani kehidupan, agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh bagian dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan itu. Hidup hari ini boleh saja berat, permasalahan boleh bertubi-tubi memukul kita dari segala arah, tapi janganlah pernah lupa untuk bersyukur dan terus tekun dalam beribadah. Karena apa yang dijanjikan Allah sesungguhnya jauh lebih besar daripada segala hal di dunia yang hanya sementara ini. Tidak seperti lahan perumahan yang suatu saat akan mencapai titik jenuh, rumah Bapa masih dan akan tetap tersedia bagi siapapun yang mengikuti firmanNya. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu. Maka Yesus pun berkata: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." (Yohanes 14:1). Jagalah diri dan kehidupan kita agar tetap layak dan berkenan di hadapan Tuhan, sehingga kita akan mendapatkan bagian kita di rumahNya kelak.

Jangan biarkan kesempatan untuk beroleh tempat di rumah Bapa melayang akibat keteledoran kita menyikapi hidup

Keselarasan Antara Kata-kata dengan Perbuatan

Segala sesuatu yang selaras akan selalu kelihatan lebih baik. Apapun bentuk keselarasan itu. Misalnya saja seorang wanita yang memakai gaun berwarna putih akan nampak serasi dengan sepatu dan hiasan kepala dengan warna putih juga. Dan pasti akan terlihat janggal kalau gaunnya berwarna putih sedangkan sepatunya warna kuning dan hiasan kepalanya berwarna merah.

Keselarasan yang seperti itu pula berlaku dalam relasi antara kata-kata dan perbuatan. Apa yang diucapkan harus dilakukan. Kata-kata yang keluar dari mulut harus sesuai dengan tindakan. Apabila kita berkata “mengasihi” maka yang harus kita lakukan adalah mengasihi. Apabila kita berkata “tolonglah sesamamu yang sedang kesusahan” maka yang harus kita perbuat adalah menolong saudara kita yang sedang kesusahan. Bukan melakukan sebaliknya.

Dalam hidup kekristenan sehari-hari kita sering menjumpai ketidakselarasan antara kata-kata dengan perbuatan. Tidak usah jauh-jauh melihat kesalahan orang lain. Mari kita lihat kedalam diri sendiri. Apakah kata-kata yang kita ucapkan sudah kita lakukan? Jangan hanya bisanya berkata-kata rohani namun perbuatannya selalu menyinggung perasaan orang lain. Jauh kata-kata dari perbuatan.

Ketidakselarasan antara kata-kata dengan perbuatan ini menjadi salah satu masalah yang cukup jamak terjadi di lingkungan gereja—gereja disini bukan bicara mengenai organisasi saja, tapi juga tubuh Kristus yakni,setiap umat Kristen. Sangat sering kita jumpai orang-orang yang berkelakukan berbeda dengan kata-katanya, tidak terkecuali dengan kita sendiri. Padahal ketidakselarasan ini merupakan batu sandungan yang cukup besar dalam perjalanan rohani kekristenan. Ketidakselarasan antara kata-kata dengan perbuatan adalah arti lain dari kata munafik. Dan Allah benci dengan kemunafikan. Dengan munafik, berarti kita juga menciptakan plafon untuk doa-doa dan pujian kita sendiri.

Memang tidak mudah untuk melakukan apa yang kita katakan. Tapi biar sesulit apapun kita harus melakukannya. Kalau merasa berat untuk melakukan apa yang sudah kita katakan, adalah lebih baik untuk berdiam diri, tidak berkata-kata. Atau dengan kata lain jangan omong besar.

Alkitab sendiri berkata, bahwa “yang membuat najis adalah apa yang keluar dari mulut manusia bukan apa yang masuk kedalamnya”. Dan kata-kata yang tidak selaras dengan perbuatan merupakan sesuatu yang menajiskan. Maka dari itu mulai sekarang jangan lagi kita sembarangan berkata-kata. Kalau tidak bisa melakukan apa yang kita katakan, lebih baik berdiam diri. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa melakukannya juga.

Ada beberapa tips yang dapat membantu kita untuk mengurangi ketidakselarasan antara kata-kata dengan perbuatan. Yakni:

1. Sedikit bicara banyak baca Firman
2. Sedikit bicara banyak berdoa
3. Sedikit bicara perbanyak pujian
4. Sedikit bicara banyak menolong orang

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari