Tampilkan postingan dengan label Filipi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filipi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Fokus pada Kasih dan Karunia Tuhan bukan pada Masalah

Ayat Renungan Harian Kristen hari ini :

"Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya" (Mazmur 34:4).

Selama berabad-abad, jauh sebelum penemuan kacamata, orang menggunakan kaca pembesar untuk membaca cetakan yang berhuruf kecil atau membantu mereka untuk melihat lebih baik. Tentu saja, kaca pembesar tidak benar-benar mengubah ukuran sesuatu, ia mengubah perspektif anda sehingga tampak lebih besar pada penglihatan anda.

Menariknya, pikiran kita bekerja layaknya seperti kaca pembesar. Semakin anda memikirkan sesuatu, semakin besar anda melihat hal itu terjadi. Ketika anda fokuskan perhatian pada situasi anda, tidak benar-benar mengubah apa pun di alam, tetapi situasi anda menjadi lebih besar dan lebih besar dalam pikiran anda. Membesarkan hal yang salah dapat secara cepat membawa hidup anda pada jalan yang salah. Itu sebabnya kita harus menjaga hal-hal dalam perspektif yang benar dan tahu kapan harus berhenti memikirkan hal yang tidak dapat kita tidak rubah. Jika anda terus fokus pada masalah anda, mereka (masalah anda) bisa menjadi begitu besar dalam pikiran anda bahkan anda benar-benar dapat tenggelam dalam masalah-masalah tersebut. Tapi ketika anda berfokus pada Tuhan dan memuliakan-Nya dalam hidup anda, semua hal dari dunia ini; tantangan, hambatan dan kekecewaan semuanya akan lenyap begitu saja.

Berikut adalah cara lain untuk menggambarkan penjelasan di atas: jika anda memegang uang logam di tangan anda dengan posisi lengan terentang dan satu mata ditutup, uang logamnya tampaknya kecil dibandingkan dengan segala sesuatu yang anda lihat di sekitar anda. Tetapi jika anda menarik uang logam lebih dekat ke mata anda, maka akan tampak jauh lebih besar. Bahkan, jika anda memegangnya dengan sangat dekat dengan mata, anda tidak akan dapat melihat hal lain. Inilah yang sering terjadi dalam hidup - kesulitan dan tantangan yang tampaknya jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya, hanya karena kita menaruh mereka lebih dekat dari yang diperlukan.

Perspektif yang salah akan membawa anda ke jalan yang salah, tetapi mengubah perspektif anda dapat terjadi dalam hitungan detik hanya dengan mengubah fokus anda. Ketika saya menghadapi tantangan, saya mengingatkan diriku pada semua hal besar yang telah Tuhan lakukan bagi saya. Saya mulai berterima kasih karena telah mengizinkan saya untuk mengenal Dia, saya berterima kasih untuk keluarga saya, pekrjaan saya, teman-teman saya bahkan segala hal yang telah DIA karuniakan dalam hidup saya. Saya ingat bagaimana Tuhan membawa saya melalui ujian, masa lalu dan kesulitan. Saya selalu takjub melihat betapa perubahan perspektif saya ketika saya memiliki hati yang bersyukur dan memilih untuk memperbesar/fokus pada hal yang benar dalam hidup saya!

Saat ini, saya mendorong anda untuk melakukan inventarisasi pikiran anda. Anda dapat membuat daftar semua hal yang dikaruniakan-Nya dalam kehidupan anda sekarang. Pegang daftar itu di depan anda dan renungkanlah tentang seberapa besar Allahmu! Mintalah Dia untuk menyatakan diri-Nya kepada anda dalam cara yang lebih besar. Nyanyikan sebuah lagu pujian kepada-Nya saat anda melepas daftar itu ke dalam pelukan kasihNya. Ingat, muliakan Dia dan lihat segala beban dan masalah duniawi anda akan hilang. Amin !

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku"
(Filipi 4:13)

Senin, 30 Januari 2012

Melupakan Masa Lalu dan Bergerak Maju didalam Allah

Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini:

Filipi 3:13-14,  "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus".

Apa yang dikatakan Paulus dalam Filipi 3:13, pada dasarnya bahwa ia tidaklah sempurna, "Kau tahu, aku tidak sempurna, saya belum mencapai semuanya.. Tapi satu hal yang saya lakukan-saya mengarahkan diri pada apa yang di depanku." Dia fokus pada bergerak maju. Dia tidak mau tinggal di mana dia berada sekarang. Dia tidak ingin puas biasa-biasa saja. Dia membuat keputusan untuk terus tumbuh dan berusaha untuk maju. Dan kemudian, ia memberitahu kita apa yang dia lakukan untuk maju, ia melepaskan diri dari (dosa) masa lalu. Dia "melupakan" apa yang ada di belakangnya. Dengan kata lain, ia tidak terpaku dengan (dosa) masa lalunya. Dia tidak membiarkan hal itu menahannya. Sebaliknya, ia mengarahkan masa depannya dengan berpedoman pada Firman Tuhan.

Ini tidak selalu mudah. Bahkan, ini adalah sebuah pertarungan. Tapi, itu pertarungan yang bagus. Alkitab menyebut ini pertandingan iman. Apakah Anda tahu apa yang membuat pertarungan yang bagus? Ketika Anda berada di pihak yang menang! Anda tahu bahwa Anda menang selama Anda terus berdoa, terus menyatakan kasih Allah, tetap mengampuni, tetap mentaati Firman-Nya. Anda harus tinggal dalam permainan jika Anda tahu akan menang! Musuh (iblis) akan mencoba sepanjang waktu untuk mengambil Anda keluar dengan mengingatkan Anda tentang apa yang terjadi di masa lalu Anda. Dia akan mengingatkan Anda setiap kali Anda membuat kesalahan atau mengatakan sesuatu yang salah. Iblis akan terus menyerang dengan segala daya di medan perang pikiran Anda. 
Tapi apakah Anda tahu bagaimana untuk melawan pikiran-pikiran negatif ketika mereka datang? Anda hanya dapat melawannya dengan berbicara kebenaran Firman Tuhan. Lihat, Anda tidak dapat berbicara satu hal dan berpikir tentang sesuatu yang berbeda. Pikiran Anda harus mengikuti kata-kata Anda. Itulah mengapa Matius 6:31 mengatakan, "Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" 
Karena ketika Anda mengatakan sesuatu, Anda memegang itu dalam hati Anda. Jika Anda mengucapkan kata-kata khawatir, Anda akan memegang khawatir. Jika Anda berbicara janji-janji Allah, Anda memegang janji Allah.

Hari ini, saya mendorong Anda untuk memegang hal-hal baik yang Tuhan telah sediakan untuk masa depan Anda. Seperti Paulus, jika ada satu hal yang menjadi fokus pada tahun ini, fokuslah pada bergerak ke depan. Fokuslah pada berbicara Firman Allah atas diri dan keluarga Anda setiap hari. Memegang kebenaran. Mengikat ke hati Anda. Biarkan Firman Allah memelihara dan menyegarkan jiwa Anda. Ketika Anda mengatur fokus ke depan, Anda akan bergerak maju dan menjadi apa yang telah Tuhan rencanakan bagi anda.
_________________________
Renungan Harian Kristen

Rabu, 28 Desember 2011

Tahun Baru, Visi Baru


Renungan Harian Kristen kali ini bertemakan Tahun Baru dengan Judul  : Tahun Baru, Visi Baru

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:13-14)

Tahun yang baru biasanya diawali dengan sebuah resolusi. Setiap orang punya targetnya sendiri. Tentunya di tahun yang baru ada harapan yang baru untuk hidup lebih baik lagi. Ada tujuan-tujuan mulia yang ingin dicapai supaya hidup lebih bermakna. Lalu bagaimana dengan kita sebagai orang percaya? Seringkali di awal tahun kita membuat resolusi yang baru, sebuah tujuan yang baik. Namun sudahkah tujuan tersebut berpusat pada Kristus atau justru berpusat pada diri sendiri?
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengungkapkan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Paulus tidak mengejar kekayaan, kehormatan, popularitas, maupun kebahagiaan yang semu. Dia mengejar panggilan Allah di dalam Kristus Yesus. Baginya, panggilan Allah bukanlah suatu beban tanggung jawab lagi yang menyusahkan, melainkan sebuah hadiah. Sebuah keistimewaan karena boleh bekerja melayani Allah yang hidup.
Setiap orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk percaya saja, melainkan juga untuk melakukan pelayanan dalam Kerajaan Allah. Pelayanan seperti apa? Nah, itulah tugas setiap orang untuk mencari dan mempergumulkan. Apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan dengan hidupku? Bagaimana aku menjawab panggilan Tuhan dalam melayani kepentingan Kerajaan-Nya?
Bagaimana kita bisa mengetahui dan menemukan panggilan hidup kita di dalam Kristus? Ikuti teladan Paulus:

1.    Melupakan apa yang di belakangku.
Segala kepahitan, kemarahan, sakit hati, bahkan kebanggaan di tahun 2011 harus ditinggalkan. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Sudah bukan saatnya lagi kita terus mengingat-ingat kesalahan orang lain, menyesali terus-menerus kesalahan yang kita perbuat, membanggakan terus-menerus prestasi tahun lalu. Jika kita terus menoleh ke belakang, sulit bagi kita untuk terus maju.

2.    Mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.
Fokus. Apapun yang ada di hadapan Saudara, fokus selesaikan dengan maksimal dan sepenuh hati. Jangan biarkan apapun atau siapapun membuatmu menyimpang dari tujuan. Buatlah suatu strategi yang menolong Saudara untuk fokus.

3.    Berlari ke tujuan.
Orang yang berlari memberikan energi lebih banyak, berusaha lebih keras. Kalau tahun lalu Saudara berikan 2 jam per hari untuk belajar, tahun ini berikan 4 jam. Kalau tahun lalu Saudara tidur 10 jam per hari, tahun ini cukup 7 jam saja. Kalau tahun lalu Saudara berSaat Teduh 10 menit setiap pagi, tahun ini berikan 15-20 menit. Kalau tahun lalu Saudara belajar Alkitab sejam seminggu, tahun ini berikan dua jam. Berikan energi lebih banyak untuk mencapai tujuanmu, yaitu memperoleh panggilan surgawi!

Lulus kuliah penting. Meraih gelar penting. Sukses dalam pekerjaan juga penting. Punya pacar penting. Menikah penting. Punya anak penting. Apapun yang penting dalam hidupmu, tidak ada yang lebih penting daripada memperoleh panggilan surgawi di dalam Kristus Yesus. Apa panggilanmu dan bagaimana mencapainya? Pergumulkan dengan tekun di dalam doa dan persekutuan dengan saudara-saudara seiman! Pegang terus ketiga prinsip Paulus dan lakukan apa yang Firman Tuhan katakan dalam hidupmu!

Selamat Tahun Baru!
_________________________________________
dikirim oleh : 
Novi Kurniadi - novi.kurniadi.****@***mail.com

Sabtu, 26 November 2011

MENGENAKAN SIFAT-SIFAT SEORANG HAMBA

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini Filipi 2:5-9

Mendengar istilah "hamba" (abdi, pelayan), atau "jipen" (bhs. Dayak Ngaju), "walah" (bhs.Dayak Maanyan), maka yang segera terlintas dalam benak kita adalah, suatu penempatan posisi yang rendah dalam strata sosial kemanusiaan, yang di lekatkan pada seseorang atau sekelompok orang, Dalam dunia nyata (kalau mau jujur), berstatus "hamba" (abdi, pelayan, jipen atau walah), sekiranya mungkin pastilah dihindari orang. Terhadapnya, komentar pun mungkin bernada sama: "amit-amit, jangan sampai mengenai kita, sebab mendengar namanya saja sudah tak mengundang se­lera!". Demikian kira-kira tanggapan kebanyakan orang bila diungkap dengan kata-kata.
Hal demikian dapat dimaklumi. Sebab, bukankah berstatus "hamba" gelar-gelar terhormat ja­di susah didapat? Tapi pasti lain sikap orang terhadap istilah "tuan" (majikan, bos, pimpinan atau komandan), umpama. Itu kebalikannya! Ham­pir setiap orang mengidamkannya. Berstatus "tuan", duhai sangatlah menggoda! Manusia normal macam apa bentuknya bila sampai tak tergiur untuk meraih­nya? Atau paling tidak memimpikannya? Berstatus "tuan", wahai sangatlah mempesona! Maklum, di sana tersedia seperangkat nikmat segudang kesenangan Boleh jadi hidup dibuatnya terasa nyaman. Serba menjanjikan Tidak heran bila ada orang sampai stres best gara-gara kemilaunya idaman seperti disebutkan tadi karena hanya singgah di penghi­as mimpi-mimpi semata. Tak mampu muncul di alam nyata! Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih e­naknya? Ah, itu terang bagai siang! Sebab predi­kat "hamba" bukanlah kemilaunya sosok seorang raja dengan mahkota. Semua orang pun tau itu! Tapi kenapa kepada kita selaku orang percaya atau ge­reja dinasihatkan Rasul Paulus melalui nas ini, supaya kita mengenakan sifat-sifat "hamba" seperti diteladankan oleh Yesus sendiri? Di sinilah intinya. Ini penting dan sangat menentukan! Pasalnya? Karena di sinilah kita menjumpai kedalaman hakikat kekristenan kita, standar kenormalan hidup kekristenan kita (bdk.Matius 20:26-27; bdk. Markus 10:43-44).

Sifat-sifat “hamba" yang dinyatakan di situlah titik berangkat peran keterpanggilan dan pe­ngabdian kita yang sesungguhnya. Bahwa hakikat kekristenan kita adalah pengabdian dan pelayanan bagi kemanusiaan. Hadir dan berjuang untuk kehi­dupan yang lebih manusiawi. Hadir di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Bagi pembebasan kemanusiaan dari kepekatan dosa. Dari segala ma­cam penderitaan, ketidakadilan, maupun dari berbagai bentuk pelecehan kemanusiaan. Itu antinya, sifat-sifat "hamba" yang dinyatakan adalah bobot, nilai dan isi dari kekristenan kita. Di situlah dijumpai kehormatan dan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Dengan kata lain, bahwa segala bentuk kehormatan dan kemuliaan itu baru me­miliki nilai apabila kita tempatkan pada aras yang setara dengan pengabdian, dalam pelayanan, kerja dan karsa yang dilandasi kerendahan hati, ketulusan dan ketaatan.

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih nikmatnya? Nah... nah... nah.. disinilah masalah­nya. Di sinilah kesulitannya! Pasalnya? Apabila orang mau sungguh-sungguh mengenakan sifat-si­fat "hamba" maka sekaligus ia harus berani ber­jalan pada jalan salib! Berjalan pada sebuah keberprilakuan solidaritas kemanusiaan secara u­tuh dan menyeluruh. Kenapsa mesti jalan salib? Karena hanya jalan saliblah jalan satu-satunya yang telah teruji kualitas kemafanannya untuk sebuah solidaritas. Tak ada jalan lain. Toh pun ada jalan lain, pastilah jalan pintas namanya! Gaya hidup kehambaan adalah gaya hidup berteladankan Yesus sendiri.dengan komitmen penuh bersedia merendahkan diri, mengabdi. Turun dari ketinggiannya yang mengawan-awan. Hadir dan berada di tengah-tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Berjuang untuk kehidupan manusia yang lebih manu­siawi. Bukan sebaliknya, semakin meninggi mangawang-awang membangun kelompok alit rohani bagi pemuliaan diri sendiri!

Tapi di sinilah titik masalahnya! Pasalnya ? Sebab dalam dunia nyata orang lebih suka yang se­baliknya. Kekuasaan, kehormatan dan kemuliaan adalah sarana pemasyuran diri pribadi. Sedangkan materi dan kelimpahan adalah tujuan pemasyhuran untuk di­ri sendiri. Dalam keadaan demikian, nilai-nilai pengabdian dan pelayanan sering menjadi persoal­an. Sebab itu dapat kita mengerti jika untuk sebuah kekuasaan, kemasyhuran dan ketenaran, orang bersedia mengorbankan apa saja untuk nueraihnya ;Bahkan mengorbankan orang lain kalau perlu. Demi meraup sejumput kekuasaan dan kehormatan, orang tak segan-segan melepaskan seberapa yang ada di tangan, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Karena memang, manusia lebih cenderung sera­kah dan mementingkan diri sendiri. Lebih cenderung menghitung-hitung untung ruginya. Karena i­tu tidak heran bila orang baru mungkin melakukan hal-hal besar dan spektakuler asal nama juga i­kut besar dan popoler! Tidak heran pula bila o­rang sulit berkorban, apalagi sampai mati demi pengabdian dan pelayanan. Tetapi sebaliknya rela berkorban bahkan sampai mati kalau perlu demi kekuasaan, kemasyhuran, ucapan selamat demi tumpukan piagam penghargaan!

Mengenakan sifat-sifat “hamba", apa sih is­timewanya? Nah... nah...nah... di sinilah tantangannya Di sinilah batu ujiannya! Pasalnya? Apabila orang sungguh-sungguh mengenakan sifat-sifat "hamba" maka sekaligus ia harus berani meng­hadapi resiko yang siap menghadang di muka! Kenapa mesti resiko? Karena itulah harga pantas yang harus dibayar mahal taruhannya! Soalnya, mengenakan sifat-sifat "hamba" memang tidak mudah. Popularitas pun tak cukup kuat untuk ikut serta. Me­ngenakan sifat-sifat "hamba" juga tidak murah. Dacing penimbang untung rugi mana pun tak mampu menimbangnya!

Sebagai orang-orang Kristen yang mengaku percaya pada Yesus atau gereja yang mengaku-nga­ku sebagai tubuh Kristus, apakah kita juga mengenakan sifat-sifat "hamba" yang diteladankan Yesus sendiri? Orang-orang Kristen yang menyadari hakikatnya sebagai pengikut Kristus atau gereja sebagai tubuh Kristus adalah orang-orang Kris­ten atau gereja yang mampu mempersepsikan diri­nya dalam pengabdian dan pelayanannya di tengah-tengah dunia di mana ia hadir di dalamnya. Karena itu, sifat-sifat "hamba" yang dimiliki selaku pengikut-pengikut Kristus mestinya menjadi norma di setiap aktivitas kita; entah kita sebagai pemimpin (abdi negara), entah kita sebagai tokoh (abdi masyarakat), entah kita sebagai pelayan-pelayan gereja atau pun kita sebagai jemaat Tuhan.

Orang-orang Kristen atau gereja yang tidak memiliki sift-sifat "hamba" adalah orang-oramg Kristen atau gereja yang telah kehilangan haki­kat dirinya dan telah kehilangan kesadaran akan panggilannya di tengah-tengah dome di mana is ditempatkan. Karena itu, maaf, mumpung tak lu pa members tahu, bahwa tugas orang Kristen atau gereja bukan nikmat-nikmat rohani saja Atau penjaja doa dan mujizat semata! Kalau hanya i­tu, orang Kristen atau gereja yang pincang namanya, Banci den mandul istilahnya! Orang Kristen atau gereja yang tak bereksistensi lagi bahasa elitnya. Orang Kristen atau gereja yang tak selayaknya hadir di bumi nyata!

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apakah an­da termasuk salah satunya? Bila anda telah faham sampai kedalaman maknanya, renungkan dalam-­dalam dan tariklah nafas panjang! Sebab sifat-sifat "hamba" hanya dapat dikenakan oleh orang-orang Kristen atau gereja sungguhan. Bukan yang tiruan. Dan selanjutnya, gelar-gelar kehormatan dan keagungan yang sesungguhnya diberikan oleh Allah sendiri secara absolut tak meragukan. Tanpa rekayasa apalagi kekeliruan! (bdk, ay.9). A­pakah anda juga termasuk hitungan?

Dan... Oh ya, sifat-sifat "hamba"  hanya kemilau, agung, mempesona, jika dikenakan oleh o­rang-orang Kristen sungguhan. Bukan yang "kristen-kristenan". Hanya oleh orang Kristen atau gere­ja yang bernyali dan paham akan kedalaman makna hidup dan matinya. Ya, hanya bagi orang-orang atau gereja yang paham pula akan letak kehormatan, keagungan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Karena memang, keagungan seorang Kristen sejati itu bukan diukur dari gelar, jabatan atau repu­tasinya. Bukan pula diukur dari apa dan berapa yang ia dapatkan. Tetapi dari apa dan berapa yang dapat ia berikan. Dari apa dan berapa be­sar pengabdian, pelayanan serta kerelaan berkorban yang dapat kita nyatakan sebagai bukti ketaatan iman dan kasih tulusnya kepada Tuhan. AMIN.
____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh., M.Div)

Sabtu, 25 Juni 2011

Tertawa Adalah Obat Yang Paling Mujarab

Banyak penyakit di dunia kita hanya karena kita tidak memiliki sukacita yang seharusnya kita miliki. Ketika kita hidup dalam ketegangan karena berbagai tekanan didalam kehidupan, hal itu menyebabkan sakit kepala, masalah pencernaan, kekurangan energi dan sakit lainnya. Kita tidak bisa tidur nyenyak. Sebagian besar ini akan hilang jika kita belajar bagaimana mengatasi stres yang benar. Salah satu penghilang stres terbesar Tuhan telah memberi kita tawa. Tertawa adalah seperti minum obat. Ini tidak hanya membuat Anda merasa lebih baik tetapi sebenarnya melepaskan energi penyembuhan ke seluruh sistem tubuh Anda. Ketika kita tertawa mengembalikan dan meremajakan apa yang menjadi tekanan hidup telah dibawa keluar.
Baca selengkapnya »

Sabtu, 01 Mei 2010

You're not alone...

“...Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)


Sebagai manusia biasa, sempat timbul perasaan negatif dalam diri saya. Seringkali saya merasa “sendirian”, dalam menghadapi persoalan hidup ini terutama yang menyangkut masalah dalam rumah tangga. Setiap ingin berbagai dengan saudara ataupun dengan orangtua ada perasaan  saya takut ditolak lagi. Jujur saja, dari sejak saya masih sekolah sampai dengan saat ini saya sudah berkeluarga, saya selalu tersisihkan dalam keluarga besar saya. Tanpa saya ketahui apa penyebabnya sehingga kedua orangtua saya tidak terlalu menaruh perhatian mereka kepada saya. Bahkan di saat-saat masa peralihan sekolah ke kuliah , semua saya jalani seorang diri. Saat itu saya benar-benar putus asa  dan berusaha untuk mengakhiri hidup saya karena merasa bahwa tidak ada lagi yang perduli terhadap saya.
Baca selengkapnya »

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari