Rabu, 29 Februari 2012

2 Maret

"Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum"
(Yeh  18:21-28; Mat 5:20-26)

" Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas." (Mat 5:20-26), demikian kutipan  Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Jika kita dengan jujur dan benar mawas diri kiranya tidak ada seorangpun diantara kita yang tidak pernah marah. Wujud marah yang paling lembut adalah mengeluh atau menggerutu, sedangkan yang paling kasar adalah membunuh. Bukankah kita jika menghadapi apa yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau keinginan diri sendiri, kemudian mengeluh atau menggurutu? Misalnya: makanan kurang enak atau tidak sesuai dengan selera pribadi mengeluh, menghadapi pekerjaan sedikit berat atau sulit mengeluh, jalanan macet mengeluh dst.. Yesus bersabda bahwa siapa yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Hemat saya tidak perlu dihukum orang yang marah pada umumnya sudah terhukum dengan sendirinya, yaitu ia semakin terasing atau kurang dicintai oleh sesamanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk tidak mudah mengeluh, menggerutu atau marah-marah. Cara mengatasinya adalah senantiasa berusaha untuk 'menikmati apa yang ada di depan kita atau yang harus kita kerjakan atau makan'. Dalam hal makan misalnya: enak dan tidak enak hanya sebentar saja yaitu di lidah, maka jika makanan tidak enak asal sehat telan saja tanpa dikunyah, karena Tuhan telah menganugerahi kita mesin penggiling/pengolah yang handal dan hebat di dalam tubuh/usus kita.
Pendek kata jika sehat nikmati saja, tak perlu dirasa-rasakan. Maka kami berharap agar anak-anak di dalam keluarga dididik untuk senantiasa membiasakan diri menikmati jenis makanan apapun yang sehat, karena jika tidak ada masalah dalam hal makanan hemat kami yang bersangkutan juga tidak akan mudah marah, mengeluh atau menggerutu ketika harus menghadapi apa-apa yang tidak sesuai dengan selera pribadinya.
•       "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya." (Yeh 18:20-21). Kutipan ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua jika kita menghendaki hidup bahagia, selamat dan damai sejahtera selama hidup di dunia ini maupun setelah meninggal dunia nanti. Marilah kita jauhkan perbuatan dosa sekecil apapun dan senantiasa berusaha untuk "berpegang pada segala ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran". Segala ketetapan Tuhan hemat saya mengarahkan dan mengajak kita untuk senantiasa melakukan keadilan dan kebenaran. Berbuat adil dan benar antara lain dapat kita wujudkan dengan senantiasa menjujung tinggi harkat martabat manusia di dalam hidup sehari-hari, tidak pernah melanggar hak-hak asasi manusia atau melecehkan harkat martabat manusia. Marah, mengeluh atau menggerutu terhadap sesama manusia hemat saya merupakan bentuk pelecehan harkat martabat manusia. Memang kita boleh memarahi sesama kita jika yang bersangkutan melecehkan harkat martabat manusia, sebagaimana Yesus memarahi para pedagang di Bait Allah atau tempat ibadat, karena mereka mengkormersielkan tempat suci.  Apa yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang dalam hal marah pada umumnya karena ketidaksesuaian dengan selera pribadi saja.

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang." (Mzm 130:1-4)
Ign 2 Maret 2012

1Maret


"Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya"

(Est 4:10a.10c.12.17-19; Mat 7:7-12)

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada ereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 7:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·    Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beragama atau beriman; mengaku beragama atau beriman tetapi tidak pernah berdoa setiap hari berarti pembohong. Memang ada orang malas berdoa atau tidak mau berdoa lagi karena merasa tidak ada gunanya, doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan. Ada kemungkinan mereka salah berdoa atau berdoa mohon kepada Tuhan bukan apa yang berkenan pada Tuhan, bukan apa yang baik. Apa yang baik adalah apa-apa yang menyelamatkan jiwa manusia, maka ketika berdoa mohon kepada Tuhan hendaknya mohon apa-apa yang baik, yang menyelamatkan jiwa. Jika dicermati doa-doa  permohonan dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dapat dilihat contoh-contoh: pertama-tama mendoakan para pemimpin kita, entah pemimpin bangsa maupun Gereja/Agama, kemudian berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan dan baru kemudian berdoa bagi diri sendiri, yang isinya adalah agar dapat menghayati sabda Tuhan sebagaimana diwartakan hari ini. Kita perlu mendoakan para pemimpin karena mereka memiliki tugas berat dan mulia yaitu harus bekerja dan berjuang demi kesejahteraan dan keselamatan jiwa rakyat atau umat Allah. Kita berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan agar dengan rendah hati berani menyatukan diri dengan Yesus yang telah memiskinkan DiriNya untuk memperkaya orang lain, dan tentu saja mohon agar Tuhan mengutus orang-orang untuk menolong mereka yang miskin dan berkekurangan. Mohon untuk diri sendiri adalah agar kita menjadi pelaksana-pelaksana sabda Tuhan. Jika kita mohon yang demikian itu percayalah bahwa permohonan kita pasti dikabulkan. Yang tidak boleh dilupakan adalah doa syukur dan terima kasih karena kita telah menerima anugerah Allah secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan kita, berbuat baik kepada kita.

·   "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya." (Est 4:16-17). Berpuasa demi tujuan atau maksud yang baik, itulah kiranya isi utama dari kutipan di atas ini. Dan memang kiranya siapapun yang melakukan puasa pasti mendambakan sesuatu yang baik, yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa manusia. Coba perhatikan dan cermati kisah-kisah mereka yang bertapa dan berpuasa di tempat-tempat sepi dan sunyi untuk beberapa waktu! Bukankah mereka melakukan yang demikian itu demi tujuan yang mulia, yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia? Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua , yang sedang berada dalam masa Puasa atau masa Berahmat atau Retret Agung umat ini, untuk melakukan matiraga demi tujuan yang baik dan yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. Hal ini kiranya juga dapat kita hayati secara positif, artinay selama masa Prapaska ini kita lebih meningkatkan dan memperdalam penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, sehingga yang terpanggil menjadi imam semakin menjadi penyalur doa umat kepada Tuhan dans sebaliknya juga menjadi penyalur berkat Tuhan bagi umat, yang menjadi bruder atau suster semakin membaktikan diri seutuhnya  kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesamanya, yang menjadi suami-isteri semakin saling mengasihi, yang bertugas belajar semakin terampil dalam belajar, yang bekerja semakin terampil dalam bekerja, dst.. Hendaknya kita berusaha juga untuk melebihi dari apa yang diharuskan atau yang semestinya, dan jangan sampai kurang dari apa yang semestinya.

" Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku."

(Mzm 138:1-3)

Ign 1 Maret 2012


RS: Jadi Saluran Mujizat

Guys, seorang hamba Tuhan (Ps. Jeffrey Rachmat) berkata, 'Jangan hanya meminta mujizat, tetapi jadilah saluran mujizat Tuhan bagi komunitas kita." Kita tahu, bahwa bagi Allah tak ada yang mustahil (Luk 1:37), dan karena kepercayaannya maka Maria telah mengalami mujizat yang luar biasa (Luk 1:38). Rahim Maria telah menjadi tempat bagi bayi Yesus, sang Mesias. Cerita belum selesai. Maria ternyata tidak hanya telah menerima mujizat dari Allah, tetapi ia juga telah menjadi saluran mujizat-Nya bagi dunia ini. Sebab, kelahiran Yesus telah menjadi mujizat yang terbesar bagi umat manusia, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). INILAH KERINDUAN ALLAH ATAS KITA SEMUA! Ia rindu memakai hidup kita untuk menjadi saluran mujizat-Nya bagi komunitas kita, agar mereka boleh melihat dan percaya, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Atau, dengan kata lain, kita ini telah dipanggil untuk menerima berkat-berkat-Nya, agar kita boleh memberkati komunitas kita (1 Pet 3:9). Karena itu, jika selama ini kita telah melihat bagaimana Allah telah mengerjakan perkara-perkara yang mustahil di dalam hidup kita, mari kita mau memberikan hidup kita untuk Allah melakukan perkara-perkara yang mustahil bagi sesama kita, sesuai dengan kadar dan karunia yang telah dianugerahkan-Nya pada kita. Are you ready to be a blessing? Gbu.

Kalahkan Takut dengan Iman

Ayat bacaan: Mazmur 121:4
=========================
"Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel."

jangan takutSeberapa jauh ketakutan bisa menghantui kita dan membuat kita tidak nyaman dan terganggu? Rasa takut bisa membuat kita tidak bisa berpikir, gampang emosi, sulit tidur hingga merusak kesehatan. Rasa takut pun bisa menjauhkan kita dari Tuhan, membuat jarak yang merentang semakin panjang sampai-sampai kita tidak lagi bisa mendengar suara Tuhan atau merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Bagaikan seseorang yang terus berjalan menjauhi lawan bicaranya, semakin menjauh maka semakin kecil pula suara yang terdengar hingga lama-lama ia tidak lagi bisa mendengar apapun yang dikatakan lawan bicaranya diseberang sana. Seperti itulah perasaan takut, cemas atau kuatir yang terus dibiarkan merongrong perasaan kita. Memang benar, ada saat dimana rasa takut itu bisa muncul ketika kita menghadapi sebuah atau beberapa masalah, atau ketika menghadapi situasi tak pasti. Solusi tidak terlihat, sementara kita harus terus berhadapan dengan masalah tersebut dari detik ke detik. Jika kita terus membiarkan diri kita dicekam perasaan takut, maka rasa takut ini akan terus menggali jarak antara kita dengan Tuhan sehingga pada suatu ketika nanti kita tidak lagi bisa mendengarnya dan merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita sendirian bahkan kemudian menjadi sinis dengan menuduh Tuhan bertindak kejam dan tidak adil terhadap kita.

Beberapa tokoh besar Alkitab pernah mengalami hal seperti ini dalam pergumulan mereka masing-masing. Ayub pernah mengalami kepahitan terhadap Tuhan. Lihat apa yang pernah ia katakan: "Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah." (Ayub 22:23). Atau lihatlah bagaimana Daud meratap ketika ia berada dalam pergumulan. "Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?" (Mazmur 10:1), "...janganlah berdiam diri terhadap aku..."(28:1), "Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!" (54:4), "Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku, janganlah bersembunyi terhadap permohonanku!" (55:2). Begitu sulitnya dunia yang kita jalani hari ini mengakibatkan banyak orang mulai kehilangan arah dan goyah imannya. Apakah benar Allah tidak sanggup mengangkat anak-anakNya keluar dari kesulitan? Tentu saja Tuhan sanggup. Tidak ada hal yang mustahil bagi Dia, tidak ada hal yang mustahil yang tidak sanggup Dia lakukan bagi orang percaya. Sesungguhnya Tuhan selalu perduli dan tidak pernah lengah dalam memperhatikan kita. Alkitab dengan jelas berkata: "Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel". (Mazmur 121:4).

Tuhan tetap ada mengawasi dan melindungi kita. Dia rindu untuk terus memberkati kita, bahkan menjanjikan posisi sebagai ahli waris KerajaanNya kepada semua orang yang mengasihiNya seperti apa yang tertulis dalam Yakobus 2:5. "Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?" Ketika hari-hari yang sulit ini tidak lagi bisa cukup disikapi dengan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau orang lain, inilah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidaklah mampu berbuat apa-apa. Di sinilah kita harus menyadari bahwa kita harus mengandalkan kekuatan Tuhan, Raja dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Membiarkan rasa takut terus tumbuh dalam hidup kita tidak akan pernah membawa manfaat apapun. Justru itu akan semakin memperbesar jarak antara kita dengan Bapa yang baik dan setia, dan itu akan membuat segalanya justru bertambah runyam. Karena itu kita harus mengatasi rasa takut kita dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita harus senantiasa berseru kepada Tuhan dan harus senantiasa membangun hubungan yang semakin intim lagi dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah lengah. Dia tidak pernah tertidur dalam menjaga kita, Israel secara rohani. Dia lebih dari sanggup untuk menurunkan mukjizatNya dan segera melepaskan anda dari himpitan beban masalah seperti apapun. Yang Dia perlukan hanyalah iman kita. Iman yang teguh, tidak goyah dalam kondisi apapun, dan tetap percaya dengan pengharapan penuh akan kuasa Tuhan.

Kita selanjutnya bisa melihat apa yang terjadi pada saat Yesus ada di dalam perahu bersama murid-muridNya ditengah badai dalam Matius 8:23-27. Benar, disana dikatakan Yesus tengah tidur di buritan. Dan pada saat itu murid-muridNya sempat panik menghadapi terjangan badai. (ay 24) Apakah itu berarti bahwa Tuhan tertidur dan lengah? Tentu saja tidak. Yesus tidak berkata, "maaf, Saya ketiduran.." atau "maaf saya lengah", tapi Yesus malah menegur murid-muridNya. "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali." (ay 26). Perhatikan bahwa situasi seperti apapun bukanlah menjadi masalah sulit bagi Tuhan. Tuhan justru menantikan reaksi dari kita untuk membangun sebuah hubungan yang didasari rasa percaya yang kokoh dan terus menjalin komunikasi yang baik dengan Dia.

Firman Tuhan berkata: "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5). Itulah yang terjadi apabila kita terus mengandalkan kekuatan sendiri sedang hati kita semakin menjauh dari Tuhan. Di saat seperti inilah kita harus mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih dari apapun juga. Kita harus mampu menyadari bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan yang tidak pernah padam. Janji-janji Tuhan tidak akan ada yang sia-sia. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji dan semuanya pasti Dia genapi. Imanilah hal itu dengan sungguh-sungguh, dan teruslah dekat padaNya dengan penuh rasa percaya. Dalam Mazmur dikatakan: "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23). Lalu ada pula tertulis "Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku." (63:7-9), dan juga "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (37:23). Ini semua adalah janji Tuhan yang berlaku bagi siapapun yang mengasihi Dia dengan iman yang teguh. Dalam Mazmur kemudian kita bisa menemukan sebuah pesan yang sangat indah, bahwa Tuhan akan selalu ada bagi kita semua yang setia dan berharap padaNya. (31:24-25). Masalah seperti apapun boleh datang, namun percayalah Tuhan sanggup melepaskan anda dari jeratan badai seganas apapun. Karenanya kalahkan rasa takut dengan iman anda, berpeganglah kepada Tuhan, Sang Penjaga Israel.

Tuhan tidak pernah lengah menjaga anak-anakNya yang selalu mengasihi Dia dengan setia dan dengan iman yang teguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Selasa, 28 Februari 2012

RS: Harus Ada Iman

Guys, adakah kita tidak terlalu bersemangat saat mendengar atau membaca bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil? Kita hanya merespon dengan setengah hati, ya... siapa tahu saja mujizat Allah benar-benar akan terjadi. Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi. Kita mungkin sudah lelah menantikan pertolongan Allah yang tak kunjung datang. Atau, kita sudah tak melihat lagi dasar untuk berharap, karena semuanya sudah begitu buruk. Atau juga, kita melihat bahwa semuanya terlambat untuk dipulihkan. Hei ... ini tak seharusnya terjadi! Kita harus menerimanya dengan iman, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, dan jangan biarkan situasi yang ada mengebiri keyakinan kita bahwa kuasa mujizat Allah masih berlangsung bagi kita yang percaya. Belajarlah dari Maria, ibu Yesus, yang menerima firman Allah dengan sepenuhnya, meskipun apa yang difirmankan-Nya itu begitu mustahil, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; JADILAH padaku MENURUT perkataanmu itu." Luar biasa! Bukannya meragukan, Maria justru langsung mengaminkannya tanpa keraguan (Luk 1:38). Mujizat pun terjadi. Atau, dari Petrus, meski telah sepanjang malam ia bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi waktu Yesus berkata agar ia bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya, ia melakukan dengan patuh dan menerima mujizat (Luk 5:4-6). Guys, dua contoh di atas menunjukkan, bahwa kita harus menaruh iman, saat kita mendengar dan membaca berita bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Hati yang beriman akan melahirkan kepatuhan, dan kepatuhan akan melahirkan mujizat. Karena itu, apapun yang terjadi, biarlah kita tetap boleh menaruh iman dengan sepenuh hati, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yup, jangan menunggu bukti dulu seperti Tomas, baru kita mau percaya (Yoh 20:25). Atau, seperti Abraham dan Sara yang tertawa dalam hatinya, saat mereka mendengar bahwa mereka akan mempunyai anak (Kej 17:17, 18:2). Akhirnya, ingatlah, harus ada iman dulu di dalamnya, baru ada mujizat yang terjadi. Gbu.

Warisan Iman Turun Temurun

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
=====================
"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu"

warisan iman turun temurun"Bakat musiknya mengalir dari kedua orang tuanya yang merupakan musisi terkenal pada jamannya, dan lebih jauh lagi dari kakeknya yang juga aktif di dunia musik di tahun 50an." Demikian bunyi profil seorang artis pada suatu kali. Kesuksesan seseorang seringkali dipandang orang lain sebagai buah dari keberhasilan didikan yang dimulai dari beberapa generasi sebelumnya. Bakat diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Jika kita sukses maka orang tua kita pun akan turut harum namanya, bahkan kakek dan nenek kita juga akan dipuji orang, sebaliknya apabila kita berbuat sesuatu yang tidak baik maka orang tua dan beberapa generasi sebelumnya bahkan nama keluarga pun bisa turut tercemar. Betapa seringnya seorang anak nakal yang berbuat onar akan dinilai dari orang tuanya. "Bandel sekali, anak siapa sih itu?" Komentar seperti ini sering kita dengar, dan itu tidaklah heran. Anak kecil bagaikan buku tulis kosong yang isinya akan tergantung dari apa yang dituliskan oleh ayah dan ibunya atau bahkan kakek dan neneknya di dalamnya. Meski anak-anak akan memiliki sifat-sifat tersendiri, namun bagaimana orang tua mendidik anak akan sangat menentukan seperti apa mereka kelak pada saat menginjak dewasa.

Bukan hanya pengajaran atau didikan, tapi orang tua pun harus sanggup menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sadar atau tidak, anak akan mencontoh perilaku orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja hanya sebatas di bibir saja  sementara mereka tidak memberi contoh yang sama. Mereka mengira bahwa mereka bisa memerintah anak saja tanpa harus menunjukkan contoh teladan dari perilaku mereka sendiri secara langsung. Mereka tidak sadar bahwa apabila ini yang terjadi, anak pun berpotensi untuk tidak menganggap serius semua itu, bahkan bisa-bisa berpandangan sinis terhadap apa yang diajarkan orang tuanya. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah, tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian membawa dampak negatif dalam perkembangan si anak. Bayangkan jika orang tua hanya getol menguliahi anaknya tentang iman, tetapi mereka selalu terlihat ketakutan dalam hidup mereka, hanya berpikir untung dan rugi secara finansial menjadikan materi sebagai segala-galanya, tidakkah itu akan berpengaruh buruk bagi perkembangan jiwa sang anak juga? Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, jika orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka sehari-hari untuk dicontoh dan dijadikan teladan.

Ayat bacaan kita hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Alkitab mencatat bahwa Timotius terkenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2). Dari mana ia tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Mari kita baca ayat bacaan hari ini. "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu" (2 Timotius 1:5). Ayat tersebutmenjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius.

Jika peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun tidak kalah pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu". (Amsal 1:8). Bahkan dari contoh mengenai Timotius di atas kita bisa melihat bahwa peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun. Firman Tuhan berkata: "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (Ulangan 6:6-9). Disini kita bisa melihat bahwa sebuah keteladanan pun tidak kalah pentingnya dengan menyampaikan pengajaran Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita. Mendidik mereka akan budi perkerti, ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lainnya akan sangat baik buat masa depan mereka. Tetapi jangan lupa bahwa mengajarkan mereka tentang firman Tuhan dan menumbuhkan iman mereka sejak dini pun merupakan faktor yang teramat sangat penting yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting justru dengan keteladanan secara langsung lewat cara, sikap dan gaya hidup kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya. Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka? Seperti apa mereka kelak dikemudian hari akan sangat tergantung dari seberapa baik kita mendidik mereka dan memberi keteladanan langsung lewat segala aspek dalam kehidupan kita.

Wariskan yang baik buat anak-anak kita lewat keteladanan nyata

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

29 Feb


"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat"

(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)

" Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!" (Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda Yesus bahwa "angkatan ini adalah angkatan yang jahat", rasanya boleh dikenakan pada kebanyakan orang masa kini, antara lain para petinggi, pemimpin, politisi atau siapapun yang berpengaruh dalam hidup bersama, yang kurang memperhatikan budi pekerti atau nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup. Mereka juga tidak memiliki budaya malu lagi, artinya melakukan korupsi serta berbohong merasa enak-enak saja; mereka sungguh memiliki 'rai gedeg'. Memang kejahatan angkatan masa kini juga tak terlepas dari cara hidup dan cara bertindak angkatan pendahulunya. Bukankah mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama masa kini, entah mereka yang ada di badan legislatif, eksekutif maupun yudikatif, adalah dididik dan dibesarkan sejak masa Orde Baru, tepatnya sekitar tahun 1980-1990?. Perubahan sistem pendidikan yang lebih menekankan nilai atau kepandaian daripada keutamaan atau budi pekerti waktu itu hemat saya merupakan awal kemerosotan moral bangsa. Buah sistem pendidikan yang juga masih berlangsung sampai sekarang adalah orang-orang yang lebih menekankan apa yang kelihatan daripada apa yang tidak kelihatan, yang lebih mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak, lebih menekankan material investment daripada spiritual investment. Maka kebanyakan angkatan saat ini tidak peka lagi akan tanda-tanda kehidupan, yang kemudian menjadi tidak memiliki kepekaan social atau kepedulian pada orang lain. Marilah di masa tobat atau masa berahmat ini kita memperbaharui diri: kita perdalam dan kembangkan sikap peduli dan berbagi, sehingga kita juga akan memiliki kepekaan akan kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari.

·   "Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya" (Yun 3:8). Kutipan ini hendaknya menjadi permenungan atau refleksi kita dan kemudian sungguh kita hayati atau laksanakan. Kita semua diingatkan dan diajak untuk berbalik dari tingkah laku kita yang jahat maupun aneka macam bentuk kekerasan yang pernah atau sedang/masih kita lakukan. Pertama-tama dan terutama saya mengajak dan mengingatkan para orangtua untuk tidak bertindak keras terhadap anak-anaknya, lebih-lebih secara phisik, karena kekerasan yang telah mereka terima dari anda sebagai orangtua akan tumbuh berkembang menjadi lebih keras lagi di kemudian hari. Coba perhatikan dan cermati melalui aneka mass media: anak-anak sekolah tawuran dan saling menyakiti merasa enak saja, karena mereka telah menerima yang demikian itu di dalam keluarga mereka. Anak-anak adalah buah kasih, maka hanya akan dapat tumbuh berkembang dengan baik jika mereka dididik dan dibesarkan dalam dan oleh kasih. Kami berharap kepada kita semua hidup dan bertindak dijiwai oleh cintakasih dan kebebasan. Kita dapat melakukan apapun asal tidak melecehkan atau menginjak-injak harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Aneka bentuk kejahatan dan kekerasan hemat saya melecehkan harkat martabat manusia. Maaf, saya juga pernah menerima informasi bahwa antar suami-isteri pun dapat terjadi kekerasan secara diam-diam, yaitu dalam rangka hubungan seksual, dimana salah satu merasa dipaksa atau diperkosa. Jika hal itu terjadi maka orang melakukan kekerasan atau kejahatan tak akan merasa lagi alias dianggap biasa-biasa saja. Kami berharap juga di sekolah-sekolah diberlakukan 'dilarang menyontek dalam ulangan dan ujian': membiarkan menyontek berarti membiarkan kejahatan tumbuh dan berkembang.

" Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku" (Mzm 51:3-4.12-13)

Ign 29 Februari 2012


Senin, 27 Februari 2012

RS: Artinya Ada Harapan

Guys, saat Allah berfiman di dalam Luk 1:37, "SEBAB bagi Allah tidak ada yang mustahil," maka Dia tidak hanya ingin menyampaikan bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Dia, tetapi ada satu pesan yang ingin disampaikan-Nya pada kita. Apakah itu? Ia ingin berkata, bahwa MASIH ADA HARAPAN bagi setiap pergumulan yang sedang kita hadapi -tidak perduli seberat apapun pergumulan yang sedang kita hadapi atau seburuk apapun situasi dan kondisi kita pada hari ini, SEBAB bagi Dia tidak ada yang mustahil. Itulah pesan yang ingin Ia sampaikan pada kita. Karena itu, Allah tak hanya berkata,"Bagi Allah tidak ada yang mustahil," untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang maha kuasa, tetapi Ia telah berkata, "SEBAB bagi Allah tidak ada yang mustahil," untuk menunjukkan bahwa masih ada harapan bagi kita DI DALAM DIA. Itu artinya, jika hari ini firman Tuhan yang sama telah diperdengarkan lagi pada kita, maka Allah sedang menguatkan hati kita lagi, bahwa MASIH ADA HARAPAN bagi kita, SEBAB bagi Dia tak ada yang mustahil. Iya, masih ada harapan bagi kita, untuk tertolong dan dipulihkan, disembuhkan, diperkaya, dihidupkan, dibangun, diangkat, dipercaya, diberkati dan yang serupa dengan itu. Lalu, apakah yang Allah harapkan dengan pesan yang ingin Ia sampaikan itu? Ia mau, agar kita tidak menjadi putus asa dan menyerah di tengah-tengah pergumulan kita, tetapi kita boleh tetap bertekun dan tidak berhenti untuk beriman, berdoa dan berjuang dengan segenap kekuatan kita, hingga kita memperoleh apa yang kita harapkan di dalam Dia. Yaitu, kemenangan atas setiap pergumulan yang kita hadapi di dalam tiap area kehidupan kita, SEBAB bagi Allah tidak ada yang mustahil. Gbu.

28 Feb


"Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah"

(Yes 55:10-11; Mat 6:7-15)

"Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu" (Mat 6:7-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada sekelompok orang atau pribadi ketika berdoa sungguh bertele-tele, panjang-panjang, dan ketika selesai berdoa ditanyakan perihal apa yang didoakan tidak tahu lagi apa isinya. Maklum mereka itu hanya membaca teks doa yang dibuat orang lain atau sekedar menghafalkan saja dan tak tahu maksud dan isinya. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar berdoa dengan sederhana sesuai dengan apa yang bergejolak di dalam hati kita atau kebutuhan hidup kita lebih-lebih demi kebahagiaan atau keselamatan jiwa kita. Yesus memberi contoh doa yang begitu tepat dan bagus, yaitu doa Bapa Kami, yang kiranya kita semua sungguh telah hafal juga. Maka marilah kita renungkan isi doa tersebut sesuai dengan situasi dan kebutuhan hidup kita masing-masing. Sesuai dengan tema APP tahun ini, yaitu ajakan untuk 'berbagi dan peduli' kiranya baik kita renungkan kata-kata ini "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya". Isi doa ini tidak lain adalah permohonan agar kita hidup dengan sederhana, tidak berfoya-foya. Segelintir orang kaya di dunia atau Negara kita ini rasanya begitu serakah dan boros, kurang peduli terhadap orang-orang yang miskin dan berkekurangan atau kelaparan. Jika kita semua hidup sederhana kiranya tidak akan ada lagi orang-orang yang  kelaparan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun kaya kaya atau berkecukupan untuk peduli kepada orang lain yang kelaparan serta dengan rela dan besar hati berbagi kepada mereka. Sebagai warga Indonesia marilah kita bersama-sama berjuang mewujudkan cita-cita "Keadilan sosial bagi seluruh bangsa", sebagaimana tercantum dalam dasar Negara kita Pancasila. Kembali dalam hal doa: kami harapkan kita sungguh berdoa, tidak hanya membaca teks doa atau menghafalkan kata-kata saja.

·   "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yes 55:10-11). Kutipan dari kitab Nabi Yesaya ini kiranya merupakan ajakan atau peringatan bagi kita semua untuk senantiasa dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan berusaha menghayati atau melaksanakan sabda Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Dengan kata lain ingatlah, sadari dan hayati bahwa dalam hal hidup beriman atau beragama kita dibina untuk sabda-sabda Tuhan. Jika kita sungguh beriman atau beragama pasti akan menghayati bahwa sabda Tuhan sungguh mahakuat dan mahakuasa, maka ketika mendengarkan sabdaNya tak mungkin lagi menghindar dan dengan demikian akan dikuasainya, mau tak mau harus menghayati sabda Tuhan. Kami percaya di masa Prapaska ini di dalam keluarga, lingkungan atau di sekolah-sekolah diselenggarakan gerakan pendalaman iman bersama, maka kami berharap agar kegiatan atau gerakan tersebut tidak disia-siakan. Kami berharap kita semua berpatisipasi aktif dalam pendalaman iman di masa Prapaska ini. Manfaatkan sebaik dan seoptimal mungkin buku-buku atau bahan-bahan pendalaman iman di masa Prapaska yang telah disiapkan dengan baik oleh Panitia APP. Semoga gerakan 'peduli dan berbagi' juga menjadi perhatian khusus di masa Prapaska ini, sebagaimana senantiasa terjadi setiap tahun: pengumpulan harta benda atau uang guna rmembantu mereka yang miskin dan berkekekurangan.

" Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya" (Mzm 34:4-7)

Ign 28 Februari 2012


27 Feb


"Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini kamu tidak melakukannya juga untuk Aku"

(Im 19:1-2.11-18; Mat 25:31-46)

 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal." (Mat 25:31-46)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Katolik sejati harus peduli dan berbagi", demikian tema APP tahun 2012 ini. Warta Gembira hari ini kiranya sangat cocok untuk merenungkan tema tersebut, sebagaimana disabdakan bahwa "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku". Yang paling hina antara lain adalah yang lapar, haus, terasing, telanjang, sakit dan terpenjara, dst.. Di dalam lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari hemat saya pasti ada orang-orang terhina tersebut, entah secara phisik, social, emosional maupun spiritual. Tanpa pandang bulu marilah kita peduli dan siap berbagi dengan mereka yang hina di lingkungan hidup kita, marilah kita wujudkan kemurahan hati kita kepada mereka. Jika di lingkungan hidup dan kerja anda sendiri tak ada yang hina, marilah kita perhatikan alias kita wujudkan kemurahan hati kita kepada mereka yang berada di tempat-tempat panti asuhan atau penampungan-penampungan orang-orang yang kurang menerima perhatian. Dalam hal pendidikan dan kesehatan kiranya masih cukup banyak yang membutuhkan kemurahan hati anda, kepedulian anda, entah itu dengan memberi beasiswa kepada mereka yang tak mampu, atau memberi sumbangan dana bagi yang menderita sakit dan tidak memiliki dana atau uang untuk berobat. Yang hina di sekolah-sekolah antara lain adalah para peserta didik yang bodoh atau nakal, maka hendaknya anda para guru/pendidik peduli terhadap meraka. Di rumah-rumah sakit terbaring mereka yang sedang menderita sakit, baiknya jika ada kesempatan atau  kemungkinan kami ajak anda untuk mendangi atau mengunjungi mereka, memberi sapaan atau sentuhan kasih dan kemurahan hati, dan jangan bertanya kesana - kemari kepada mereka yang sedang terbaring sakit. Datang, sapa dengan kasih dan doakan mereka. Kami berharap juga kepada para orangtua yang memiliki bayi atau anak balita untuk sungguh memboroskan waktu dan tenaga bagi mereka, sebagai bukti kasih anda.

·   "Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN" (Im 19:11-18). Kutipan dari Kitab Imamat ini hemat saya sudah cukup jelas sebagai perintah moral, yang hendaknya kita laksanakan atau hayati di dalam cara hidup dan cara

·bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Anda kiranya dapat memilih sendiri perintah moral mana yang sesuai dengan lingkungan hidup atau kerja kita, yang harus kita hayati dengan sepenuh hati. Sebagai contoh perkenankan saya mengangkat masalah mencuri dan berbohong, mengingat dan memperhatikan pada masa kini masih cukup banyak orang suka mencuri dan berbohong melalui aneka bentuk dan kesempatan, sebagaimana nampak dalam tindakan korupsi atau berbohong, bahkan dilakukan oleh mereka yang disebut terhormat, misalnya pada anggota DPR, para aksekutif maupun para legislatif. Bapak Karni Ilyas melalui TV senantiasa mengangkat kata-kata: "Kalau yamg memerintah, mengawasi dan seharusnya melayani sudah korupsi, lalu siapa lagi yang dapat memberantas korupsi". Semoga kata-kata ini tidak memperlemah anda semua dalam rangka memberantas korupsi dan kebohongan yang masih marak di negeri kita ini.

"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya," (Mzm 19:8-10)

Ign 27 Februari 2012


Melatih Kesabaran

Mazmur 105:19
Sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji Tuhan membenarkannya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 54; Kisah Para Rasul 26; Imamat 18-19

Ingatkah Anda kepada Yakub? Pemuda yang rela bekerja selama 7 tahun di rumah Laban hanya untuk mendapatkan Rahel. Tetapi karena Laban berbuat curang, dengan memberi Lea kepada Yakub dan bukan Rahel, maka Yakub pun harus bekerja selama 7 tahun lagi untuk Laban. Waktu 14 tahun bukanlah waktu yang singkat tetapi karena kesabarannya, akhirnya Yakub mendapatkan apa yang ia inginkan.

Yusuf pun akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir berkat kesabarannya. Banyak penderitaan yang harus ia alami, mulai dari diperlakukan buruk olah kakak-kakaknya, dilempar ke sumur, dijual sebagai budak, sampai dimasukkan dalam penjara karena menolak keinginan istri Potifar. Yusuf mengalami rentetan kususahan yang begitu panjang seolah tidak akan pernah berakhir. Tetapi ketika sudah genap waktunya Tuhan, maka Ia pun mengangkat Yusuf sebagai penguasa atas seluruh tanah Mesir.

Sama halnya dengan Daud. Perjuangannya untuk menjadi raja Israel dipenuhi oleh rintangan yang berat. Saul selalu mengejarnya tanpa henti dan berusaha membunuhnya. Mungkin bila saya yang menjadi Daud, saya akan berkata "Tuhan, katanya saya akan diangkat menjadi raja, tapi kok malah hidup sebagai buronan? Capek nih Tuhan!"

Suka atau tidak, kita harus mengakui bahwa hidup merupakan periode menunggu. Seorang anak harus menunggu sampai cukup umur untuk memiliki KTP. Seorang yang sedang sekolah atau kuliah harus menunggu sampai ia berhasil menyelesaikan studinya dan mencapai gelar. Seorang karyawan harus menunggu dengan sabar sampai ia dipromosikan dan mendapat kenaikan gaji. Seorang ibu harus menunggu selama sembilan bulan untuk melahirkan bayinya dan sebagainya.

Kesabaran bukan hanya berbicara tentang menunggu tetapi lebih berfokus kepada sikap kita pada saat menantikan janji Tuhan. Apakah kita akan bersungut-sungut atau bersukacita? Kita perlu meminta Roh Kudus memampukan kita untuk bersikap sabar. Bahkan Allah sendiri mau belajar bersikap sabar terhadap kelalaian, kelambatan dan kebodohan manusia. Jadi bagaimana mungkin kita tidak mau belajar bersabar? Jangan takut, ada Roh Kudus yang selalu menolong kita!

Kesabaran adalah pohon yang pahit tetapi menghasilkan buah yang manis.

Lagu Baru Buat Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 33:3
=================
"Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!"

lagu baru buat TuhanMusik adalah sesuatu yang progresif dan dinamis. Bayangkan betapa membosankannya apabila musik yang kita dengar sama saja sejak jaman batu sampai hari ini. Playlist yang ada di komputer kita, ipod, telepon genggam dan berbagai perangkat lainnya pun akan terus berganti seiring berjalannya waktu. Tentu saja ada beberapa lagu yang sangat kita sukai atau mungkin sangat berkesan sehingga kita tidak bosan-bosan mendengarkannya bertahun-tahun, tetapi secara rata-rata tentu lagu-lagu yang kita dengar pun berganti dari masa ke masa. Jenis musik tiap dasawarsa pun berganti. Coba dengarkan lagu tahun 90an, itu sudah terasa kuno bagi kita apalagi jenis musik pada dasawarsa-dasawarsa sebelumnya. Padahal pada masanya lagu-lagu itu tentu terdengar modern, menggantikan jenis pada periode sebelumnya. Seperti itulah progresif dan dinamisnya musik. Lagu yang anda dengar hari ini akan terasa usang beberapa waktu lagi, digantikan lagu baru yang akan pula menjadi usang setelah sekian masa.

Mengingat bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan kita selalu menyukai hadirnya lagu-lagu baru, tidakkah itu berarti bahwa Tuhan pun menyukai lagu-lagu yang baru untuk mewakili pujian-pujian yang hadir dari anak-anakNya? Memakai logika sederhana kita bisa sampai pada kesimpulan itu. Tetapi sesungguhnya Alkitab juga menyatakan demikian. Dalam banyak kesempatan kita bisa mendapati bahwa Tuhan memandang penting musik sebagai media penyembahan dan pengungkapan rasa syukur. Mazmur yang berisi lagu-lagu pujian penyembahan pada jamannya saja terdiri dari 150 pasal, yang dalam bayangan saya mungkin merupakan lagu-lagu hits atau populer pada masa itu, seandainya tangga lagu waktu itu sudah ada. Jatuh dan bangun Daud tergambar jelas disana, seringkali hadir secara puitis dan indah. Begitu indah sehingga banyak diantara kita yang lebih senang membaca kitab Mazmur untuk merasakan sesuatu yang menenangkan atau melegakan. Dan itulah salah satu fungsi terpenting sebuah lagu. Meski pada perkembangannya musik atau lagu bisa dipakai untuk tujuan-tujuan lain bahkan untuk tujuan yang negatif bahkan destruktif, tetapi kita harus menyadari bahwa sejatinya musik adalah salah satu ciptaan Tuhan yang terindah. Bayangkan sebentuk kehidupan tanpa adanya musik. Betapa sepi dan suramnya hidup itu. Bagi saya yang berkecimpung di dunia musik, saya merasakan betul betapa Tuhan memberkati manusia lewat adanya musik. God blesses us with music. God loves music. And He surely loves new songs.

Dari mana kita tahu bahwa Tuhan menyukai lagu baru? Lihatlah salah satu ayat dalam Mazmur berkata seperti ini. "Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!" (Mazmur 33:3). Ini seruan yang mengingatkan kita agar jangan pernah berhenti untuk memuji Tuhan lewat lagu-lagu yang baru. Jika anda hanya bolehmendengar satu lagu saja sepanjang hidup anda, tidakkah anda akan sangat jenuh dan bosan? Demikian pula Tuhan. Musik datang dari kreativitasNya yang tak terbatas. Kita bisa mengetahui dari Alkitab bahwa musik bukan saja ada di bumi tetapi juga di surga. Lihatlah dalam kitab Wahyu bagaimana jelasnya digambarkan sebuah orkestra agung dengan ensembel super besar yang terdiri dari perpaduan antara ribuan malaikat, seluruh manusia di bumi, di laut dan sebagainya bersatu memanjatkan pujian kepada Tuhan dan Kristus. "Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" (Wahyu 5:11-13) Dari sini kita bisa melihat bahwa musik merupakan sesuatu yang penting bagi Tuhan. Sama seperti kita, Tuhanpun menyukai musik dan nyanyian.

Perkembangan musik yang begitu pesat memang merupakan buah karya hasil kreativitas manusia. Akan tetapi jangan lupa bahwa kreativitas, kemampuan dan ide-ide cemerlang dalam menciptakan lagu sesungguhnya berasal dari Tuhan. Daud menyadari itu dan berkata: "Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN." (Mazmur 40:4). Lewat lagu kita bisa memuji dan memuliakan Tuhan, bahkan membawa jiwa-jiwa untuk kembali kepada jalanNya. Inspirasi, ide, kreativitas, semua itu adalah anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada manusia dan harusnya dipakai untuk tujuan-tujuan positif demi kemuliaanNya. Oleh sebab itu, jika kita suka bernyanyi untuk menghibur diri sendiri, menghibur orang lain, atau bahkan untuk membuat bayi-bayi dan anak-anak tidur dengan nyenyak dalam damai, mengapa kita tidak menyenangkan Tuhan lebih lagi lewat lagu-lagu? Mengapa kita tidak terus menciptakan lagu-lagu baru yang memuliakan Tuhan dan membuatNya tersenyum bahagia?

Seperti yang sudah saya sebutkan beberapa hari terakhir, ada kuasa dalam puji-pujian. Itu jelas, karena Tuhan suka berada di atasnya. "Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:3). Dia memberkati kita dengan musik dan kemampuan untuk terus berbuat sesuatu yang baru di dalamnya, dan sudah seharusnya kita memakai itu untuk memuliakanNya sebagai ungkapan rasa syukur kita atas keindahan berkat Tuhan yang hadir lewat musik atau lagu. Ini tentu bukan berarti bahwa lagu yang lama sama sekali tidak berkenan bagi Tuhan. Baik lagu lama maupun baru yang kita nyanyikan dari hati kita akan bernilai tinggi bagi Tuhan. Tetapi sama seperti kita, Tuhan pun sesungguhnya menyenangi sesuatu yang dinamis dan progresif. Lagu lama tetap baik, tetapi jangan sampai kita berhenti untuk membuat atau menyanyikan lagu-lagu baru. Kita tidak akan mau mendengar satu lagu dengan lirik yang sama seumur hidup kita, Tuhan pun demikian. Anda menyanyi untuk menghibur diri dan orang lain, mengapa tidak melakukannya juga untuk Tuhan yang penuh dengan kasih setia? Selain doa-doa, isilah saat-saat teduh dan waktu-waktu anda bersamanya dengan pujian dan penyembahan. Kita bisa kreatif dalam melakukannya. Memakai piano, keyboard, gitar atau alat musik lainnya, atau bersenandung dengan sepenuh hati secara acapella. Apapun itu, dasarkanlah dari hati yang benar-benar mengasihi Tuhan dan kerinduan untuk menyenangkan hatiNya. Bukankah itu terdengar menyenangkan? Jika anda mampu menciptakan lagu, teruslah buat lagu baru untuk Tuhan. Jika tidak, teruslah menyanyi buat Tuhan dan "upgrade" terus diri anda dengan koleksi-koleksi anyar. Mari terus nyanyikan lagu-lagu baru dan senangkan Tuhan di dalamnya.

Tuhan menyukai kreativitas kita dalam menciptakan lagu-lagu baru untuk memuliakanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Minggu, 26 Februari 2012

Hikmat 009

In every giving that we receive there was always a new purpose and new duty from God for us.

RS: He Can Do Everything

Guys, apabila kita melihat apa yang tertulis di dalam Luk 1:37, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil," kita akan akan melihat satu kebenaran, bahwa bagi Allah TIDAK ADA yang mustahil. Nah, yang perlu digarisbawahi di sini, bahwa kata 'tidak ada' di sini, bukan hanya berbicara bobot tingkat kesulitan problema yang sedang kita hadapi, tetapi juga mencakup jumlah ragam persoalan yang ada di depan mata kita. Artinya, TIDAK ADA SATU PUN aspek hidup kita yang tidak Allah pahami dan Ia tidak dapat menolong kita untuk melakukan yang terbaik. Ini berbicara, apapun aktivitas yang kita lakukan di dalam tiap aspek hidup kita, Allah lebih dari sanggup untuk memberikan kita hikmat dan pengertian, agar kita boleh melakukan yang TERBAIK, bahkan TEROBOSAN di dalam melakukan hal tersebut. Coba sebutkan, apa yang menjadi aktivitas atau tanggung jawab kita, baik itu di rumah, kantor, gereja atau di mana pun kita berada dan melakukan segala sesuatu. Akuntansi, perpajakan, marketing, kontruksi, konsultan, furniture, mendidik anak,  mengatur rumah tangga, finance, bagian personalia, trainer, perbankan, forex, administrasi, designer, atau apapun yang bisa kita sebut, semua itu Allah bisa lakukan dan memberikan kita hikmat, ide atau inspirasi untuk melakukan yang terbaik, bahkan terobosan di dalamnya. Yup, Allah tak hanya cakap urusan gereja dan bikin mujizat, tetapi Ia juga sangat ahli tentang segala sesuatu di dalam tiap aspek hidup kita. Karena itu, awalilah setiap aktivitas atau tanggung jawab kita dengan meminta pimpinan dan hikmat Allah terlebih dulu, maka kita pun akan melihat bagaimana hikmat, terobosan dan mujizat-Nya bekerja dengan luar bisa di dalam setiap area hidup kita, sebab bagi Dia tidak ada yang mustahil. Gbu.

Puji-Pujian bagi Tuhan

Ayat bacaan: Ayub 35:10
===================
"tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam"

pujianMusik adalah sebuah bagian dari seni yang tidak pernah statis. Musik selalu berkembang, dinamis dan sangat progresif. Setiap saat ada jenis musik baru yang akan selalu menghibur diri kita. Lagu baru terus hadir setiap hari. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Tuhan tidak menciptakan musik sama sekali. Memang manusia yang bermain musik, menyanyi dan terus mengembangkan musik secara progresif, tetapi bukankah semua itu pun Tuhan yang menyediakan sebagai sebuah anugerah tersendiri yang luar biasa indahnya? Musik sudah menjadi bagian hidup saya sejak lahir, dan musik tidak pernah gagal menghibur hati saya. Musik bagi saya punya makna yang sangat besar, saya yakin teman-teman pun beranggapan demikian. Tetapi ingatlah bahwa nyanyian bukan hanya untuk menghibur kita saja, tetapi akan sangat baik jika dipakai pula sebagai sarana pujian dan penyembahan untuk Tuhan.

Betapa seringnya kita hanya fokus kepada permasalahan yang terjadi ketimbang menyadari kasih setia Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Hidup tidaklah mudah. Terkadang dalam perjalanan hidup kita akan bertemu dengan saat-saat dimana kita merasa bahwa hidup ini tidaklah selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada saat senang, ada pula saat susah, bahkan terkadang kita harus berjalan dalam kegelapan. Tetapi ingatlah bahwa di saat seperti itupun kita tetap berjalan dengan penyertaan Tuhan, tidak akan pernah sendiri. Firman Tuhan berkata "Sekalipun aku berjalan dalam lembah  kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Kemarin saya sudah menulis mengenai kuasa di balik puji-pujian, bagaimana puji-pujian mampu mendahului kemenangan bagi Yosafat dan bangsa Yehuda dalam menghadapi serangan pasukan besar dari berbagai penjuru. Hari ini saya pun memiliki masalah-masalah sendiri untuk diselesaikan, belum lagi tumpukan pekerjaan yang tidak habis-habisnya. Puji Tuhan Dia telah menciptakan musik dan telah memberkati saya dengan suara. Sambil menulis renungan ini saya menyanyi kecil, dan nyata benar Tuhan memberikan kekuatan agar saya bisa menyelesaikan tugas demi tugas dan masalah satu persatu dan yang pasti Tuhan pun memberikan rasa sukacita disamping kelegaan dan kekuatan yang hadir lewat puji-pujian yang saya panjatkan untuk Tuhan.

Lewat kitab Ayub kita bisa melihat betapa seringnya manusia hanya memandang kepada masalah dan melupakan Tuhan. "Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa" kata Ayub (Ayub 35:9), "tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam.." (ay 10).  Ya, mengapa kita hanya berteriak dalam kesesakan tetapi lupa untuk memuji penyertaan Tuhan yang setia, yang tidak pernah meninggalkan dan membiarkan kita sendirian? Pemazmur tahu betul akan hal itu, ia berkata "TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku." (Mazmur 42:9). Sepanjang kita melakukan berbagai aktivitas di siang hari Tuhan dengan setia terus bersama kita, tidakkah indah apabila pada malam hari sebelum kita beristirahat kita pun memanjatkan nyanyian-nyanyian pujian dan penyembahan  kepadaNya?

Ada kuasa dalam puji-pujian. Selain lewat kisah Yosafat kemarin, lihatlah contoh lain tentang bagaimana tembok Yerikho runtuh di hari ke tujuh setelah dikelilingi berhari-hari. Apa yang membuat tembok itu runtuh pada akhirnya? Selain memang Allah sendiri yang telah menjanjikan, "Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa." (Yosua 6:2), tapi lihatlah bahwa pujian dan sorak sorai bagi Tuhan membuat tembok itu akhirnya runtuh. "Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu." (ay 20). Dalam kisah lainnya, kita tahu bagaimana Gideon dengan prajurit berjumlah hanya 300 orang mampu menaklukkan musuh tak terhitung banyaknya, seperti belalang dan pasir di tepi laut, lewat puji-pujian dan gemuruh suara sangkakala seperti yang bisa kita baca dalam Hakim Hakim 7. Lalu ingatkah anda apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas yang tengah terpasung di dalam penjara? Mereka memutuskan untuk tidak meratapi diri melainkan berdoa dan memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan. "Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka." (Kisah Para Rasul 16:25). Dan yang terjadi selanjutnya adalah seperti ini. Alkitab mencatat hadirnya gempa menyelamatkan mereka (ay 26). Bukan itu saja, tetapi keputusan mereka pun membawa pertobatan orang lain. (ay 30-33). Lihatlah bagaimana besarnya kuasa di balik puji-pujian, dan itu semua bisa terjadi karena ada Tuhan yang bertahta/bersemayam di atas puji-pujian. (Mazmur 22:4).

Setelah lelah bekerja sepanjang hari, atau kecapaian menghadapi segudang masalah, masihkah kita menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah absen menyertai kita? Sudahkah kita memuji Dia malam ini? Ingatlah bahwa ada kuasa di balik puji-pujian. Bukan saja kita memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan lewat puji-pujian tulus dari hati kita, tetapi kita pun akan diberi kelegaan, kekuatan, semangat dan sukacita baru untuk terus melangkah melewati hari demi hari yang sulit, bahkan kemenangan yang ajaib pun bisa hadir lewat puji-pujian itu. Malam ini marilah kita panjatkan pujian dan penyembahan dengan sepenuh hati kepadaNya.

Pujilah Tuhan dan jangan lupakan kasih setiaNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sabtu, 25 Februari 2012

RS: Itu Semua Karena Tuhan

Guys, ada satu fakta penting yang harus kita sadari sepenuhnya, saat kita berbicara tentang kata "tidak ada yang mustahil', bahwa Tuhan merupakan KEY PERSON di balik terjadinya semua perkara-perkara yang mustahil di dalam kehidupan orang-orang percaya. Alkitab menuliskan, "Sebab BAGI ALLAH tidak ada yang mustahil." (Luk 1:37). Kata 'bagi Allah' memberitahukan kita, bahwa Dialah SUMBER dan PENYEBAB dari terjadinya berbagai perkara-perkara yang MUSTAHIL dan MUJIZAT di dalam hidup orang-orang percaya. Itu artinya, jika kita rindu mengalami kemenangan atas pergumulan kita di dalam setiap aspek hidup kita, maka kita mutlak bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, sang sumber mujizat. Yup, hal ini berbicara bahwa kita harus hidup melekat kepada Dia, seperti ada tertulis, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa TINGGAL DI DALAM AKU dan AKU DI DALAM DIA, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh 5:15). Inilah rahasianya! Kita tidak hanya harus hidup MELEKAT, bahkan harus hidup MENYATU dengan Tuhan. Ini berbicara tentang hidup yang selalu selaras dengan Tuhan. Atau, dengan kata-kata yang lebih lugas, kita hidup di dalam ketaatan akan Tuhan dan firman-Nya. Hal inilah yang senantiasa diingatkan oleh ketua komsel saya, bahwa kepatuhan akan melahirkan mujizat. Karena itu, marilah kita senantiasa menjadi pelaku firman, supaya hidup kita boleh senantiasa ada di dalam Dia dan Dia di dalam kita, sebab hanya dengan demikianlah kita boleh senantiasa melekat kepada Dia, agar kuasa mujizat-Nya boleh bekerja di dalam hidup kita dan melahirkan perkara-perkara yang luar biasa. Are you ready to receive a miracle from God? Obedience is the key! Gbu.

Minggu Prapaska I


Mg Prapaskah I : Kej 9:8-25; 1Petr 3:18-22; Mrk 1:12-15

"Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun"

Padang gurun di daerah Timur Tengah membentang sangat luas, dan ketika berada di tengah padang gurun apa yang dapat dilihat adalah pasir dan debu, serta sejauh mata dapat memandang: ke atas kelihatan langit luas dan di dataran tiada tanaman atau pohon serta tidak kelihatan lalu lalang orang maupun kendaraan. Dengan kata lain pergi ke padang gurun berarti pergi ke tempat sunyi sepi, dan di dalam kesepian yang memuncak tersebut orang dapat melakukan apapun menurut kemauan atau keinginan sendiri. Di dalam kesepian pada umumnya muncul dorongan dan godaan yang berasal dari Roh atau setan alias untuk melakukan apa yang baik atau yang jahat. Namun siapapun yang memasuki padang guru didorong dan dipimpin oleh Roh tentu memiliki tujuan atau cita-cita yang baik, mulia dan luhur. Memasuki masa Prapaskah atau Puasa hemat saya juga bagaikan memasuki padang gurun, maka kami berharap anda semua memasuki masa Prapaskah ini juga didorong dan dipimpin oleh Roh, sehingga apa yang kita lakukan selama masa Prapaskah adalah apa-apa yang menuntun dan mengarahkan kita menuju keselamatan jiwa kita. Marilah meneladan Yesus yang memasuki padang gurun dalam pimpinan Roh agar kita juga mampu mengatasi aneka godaan dan rayuan setan atau roh jahat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari.

"Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia" (Mrk 1:12-13)

Situasi masyarakat atau Negara kita masa kini kiranya bagaikan padang gurung, dimana aneka cobaan atau godaan dari Iblis atau setan merajalela di sana-sini di dalam hidup sehari-hari, lebih-lebih di kota-kota besar atau mereka yang berada, hidup dan bekerja dalam peredaran uang. Godaan Iblis yang paling kentara dan mudah memang melalui uang, karena dengan uang orang lalu dapat melakukan apapun sesuai dengan kemauan atau keinginan diri sendiri, entah itu yang terkait dengan kenikmatan phisik, psikologis, social atau emosional: makanan dan minuman, seks, aneka jenis narkoba, aneka jenis barang mewah, dst..yang mendorong orang untuk egois atau puas diri maupun sombong atau melecehkan orang lain. Orang yang sudah dikuasai oleh Iblis kehilangan jati dirinya sebagai yang ber-Tuhan atau tidak menghayati kasih Allah lagi. Jati dirinya terletak kepada tindakan mampu membeli dan menguasai, bukan melayani, memberi dan bermurah hati sebagaimana Allah telah bermurah hati kepada kita.

Memasuki atau hidup di tengah masyarakat dijiwai oleh Roh berarti hidup dan bertindak menghayati keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Kemurahan atau bermurah hati kiranya merupakan salah satu keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat dan memperhatikan semangat egois alias kekurang pekaan terhadap orang lain semakin merajalela dan menjangkiti banyak orang. Murah hati secara harafiah berarti hatinya dijual murah sehingga siapapun dapat membeli hatiku, dengan kata lain bermurah hati berarti berusaha memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Salah satu bentuk perhatian yang sungguh dibutuhkan masa kini adalah kehadiran, dimana orang memboroskan waktu dan tenaga bagi orang lain, yang dihadiri.

Di samping murah hati adalah kelemah-lembutan, mengingat dan memperhatikan aneka bentuk kekerasan yang mengarah ke tawuran, saling merusak dan membunuh dst..semakin marak di sana-sini, lebih-lebih atau terutama di kota-kota besar. Untuk mendukung kebutuhan hidup layak orang bekerja keras, namun sungguh sayang kekerasan tidak berhenti pada kerja, tetapi melebar dan meluas dalam kehidupan bersama, bahkan dalam hidup bersama yang paling mendasar, yaitu hidup berkeluarga. Orang mau jalan sendiri-sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, dan ketika ada orang lain yang mengahanginya kemudian dihadapi dengan kekerasan atau kekuatan phisik. Kekerasan sebagaimana sering dilakukan FPI ternyata juga menarik dan memikat cukup banyak orang muda untuk bergabung, artinya menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan phisik. Kekerasan dilawan kekerasan akan terjadi saling menghancurkan dan membunuh, maka hendaknya hadapi dan sikapi kekerasan dengan kelemah-lembutan. Sikap lemah lembut kiranya merupakan pengahayatan iman akan Allah yang senantiasa lemah lembut tcrhadap manusia ciptaanNya. Sikap lemah lembut juga merupakan perwujudan sikap hormat terhadap orang lain, yaitu "sikap dan perilaku yang menghargai orang lain, siapa pun dia tanpa memandang kedudukan, kekayaan dan kekuasaannya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 25).

"Kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya." (1Ptr 3:21-22).

Kita diingatkan bahwa selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk membersihkan hari nurani kita, sehingga memiliki hati yang suci dan dari hati kita, sebagaimana dari Hati Kudus Yesus keluar air dan darah segar sebagai lambang sakramen-sakramen yang menyelamatkan, keluarlah apa-apa yang menyelamatkan, membahagiakan dan menghidupkan orang lain. Secara konkret kita diajak untuk mawas diri perihal baptisan, dimana ketika dibaptis kita menerima anugerah atau rahmat Allah untuk hanya mau mengabdi Allah saja serta menolak godaan setan. Hemat saya jika orang setia pada janji baptis akan memiliki hati nurani yang bersih atau suci. Marilah mawas diri perihal baptisan kita dan kelak di malam Paskah kita perbaharui bersama-sama.

"Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." (Kej 9:9-11). Kutipan dari Kitab Kejadian ini kiranya dapat menjadi motivasi dan kekuatan kita dalam mawas diri perihal baptisan. Jika kita setia pada janji baptis maka kita akan hidup bahagia, mulia dan sejahtera, baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual. Semua ciptaan Allah di bumi akan baik adanya sebagaimana ketika ia baru diciptakan jika kita semua setia pada janji baptis kita masing-masing.

Karena keserakahan dan kesombongan manusia, maka air bah atau banjir bandang merajalela dimana-mana sebagaimana terjadi akhir-akhir ini. Karena pemanasan global suhu air laut naik, demikian juga permukaan air laut naik, sehingga menimbulkan badai disana-sini dan banjir rob di pantai-pantai. Hemat saya bencana air bah dalam aneka bentuk ini karena keserakahan manusia mengkomsumsi hasil bumi, seperti kayu, minyak, aneka jenis tambang dst..: hutan digunduli, tanah diobrak-abrik sehingga musnahlah kehidupan yang ada di dalamnya atau di atasnya. Kami berharap kepada mereka yang serakah untuk bertobat, karena dengan keserakahan anda berarti hati nurani anda sungguh busuk dan kotor serta menjijikkan. Bersihkan hati nurani anda dengan meninggalkan aneka bentuk keserakahan dan kesombongan.  Sebaliknya kepada mereka yang telah memiliki hati nurani bersih dan suci kami harapkan meningkatkan dan memperdalam doa dengan permohonan agar mereka yang kotor hati nuraninya dapat memperoleh rahmat dan kekuatan untuk membersihkannya.

"Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat." (Mzm 25:4-8)

Ign 26 Februari 2012

   


25 Feb


"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit"

(Yes 58: 9b-14; Luk 5:27-32)

"Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Luk 5: 27-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memang dikenal sebagai orang-orang sombong, yang senantiasa mengagung-agungkan dirinya serta melecehkan orang lain, terutama mereka yang berdosa. Orang-orang berdosa tidak diselamatkan, melainkan dilecehkan dan disingkirkan dari pergaulan di tengah masyarakat, maka ketika Yesus memperhatikan orang-orang berdosa serta makan bersama mereka, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepadaNya :"Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa". Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan seluruh dunia, maka dimana ada yang tidak selamat, terutama maanusia, Ia segera menyelamatkannya. Sebagai orang yang beriman kepadaNya kita dipanggil untuk meneladan Dia, maka marilah kita perhatikan dan cermati dengan teliti apakah ada yang tidak selamat di lingkungan hidup dan kerja kita, terutama manusia-manusianya. Dengan rendah hati kita datangi dan tolong mereka: yang sakit kita sembuhkan, yang berdosa kita ampuni, yang lemah kita kuatkan, yang kurang diperhatikan kita perhatikan dst.. Demikian juga lingkungan hidup yang kotor dan kumuh segera kita bersihkan, yang amburadul segera kita atur. Jika ada orang yang berkomentar seperti orang-orang Farisi atau ahli-ahli Taurat, sikapi saja bagaikan 'angin berlalu'. Secara khusus kami ingatkan para guru/pendidik untuk memperhatikan mereka yang bodoh, nakal dan kurangajar serta tidak melecehkan mereka. Dengan rendah hati dan sabar dampingi dan didik mereka, beri kemungkinan dan kesempatan bagi mereka untuk membebaskan diri dari kebodohan, kenakalan dan kekurangajaran mereka.

·   "TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan" (Yes 58:11). Kutipan ini kiranya menjadi hiburan dan kekuatan serta dorongan bagi siapapun yang menghendaki bebas dari dosa, kelemahan dan kerapuhan, putus asa, dst.. Tuhan akan menuntun anda melalui orang-orang baik dan rendah hati di lingkungan hidup dan kerja anda. Maka kepada mereka yang berdosa, lemah dan rapuh kami harapkan tetap memiliki pengharapan, yang menjadi nyata dalam kegairahan dan keceriaan dalam menanggapi aneka ajakan untuk diampuni, disembuhkan atau dikuatkan. Harapan merupakan salah satu dari ketiga keutamaan utama, maka kami ajak anda untuk sungguh menghayati keutamaan harapan ini. Marilah kita imani  janji bahwa "engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan". Pengharapan bertemu dengan uluran kasih sayang dan perhatian akan menjadi  sesuatu yang indah, mempesona dan memikat, sehingga siapapun yang menghayati pertemuan ini akan tidak pernah mengecewakan siapapun, melainkan senantiasa membahagiakan. Kepada mereka yang patah hati karena putus pacar atau tunangan, kami harapkan tetap bergairah dan gembira, dan ingat serta sadari pepatah bahwa 'dunia ini tidak seperti seluas daun kelor' alias dunia ini begitu sempit. Hayati bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, bukan hasil jerih payah, perjuangan dan keringat anda. Demikian juga kepada mereka yang merasa gagal dalam ulangan atau ujian, hendaknya tetap bergairah, serta jadikan kegagalan sebagai dorongan dan motivasi untuk terus belajar tiada henti. Cukup banyak orang-orang sukses dalam karir atau profesi  di dunia ini karena kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Ada penulis buku yang termashyur saat ini dari pengalaman telah berkali-kali tulisannya ditolak oleh penerbit, namun tak pernah putus asa dan menjadikan penolakan sebagai kesempatan untuk terus memperbaharui dan mengembangkan dirinya.

"Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku."

 (Mzm 86:1-6)

Ign 25 Februari 2012


Puji-Pujian Mendahului Kemenangan

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:21
=======================
"Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

pujian mendahului kemenanganAnda tentu masih ingat lagu-lagu perjuangan yang sering dinyanyikan oleh para pejuang dalam membela tanah air di masa perang dahulu. Maju Tak Gentar, Hari Merdeka, Halo-Halo bandung dan lain-lain pada masa itu sering dinyanyikan untuk membangkitkan semangat juang dalam menghadapi penjajah, dan hingga hari ini kita masih mengenal baik lagu-lagu tersebut. Di setiap negara tentara pun sering bernyanyi sembari berlatih agar mereka tetap bersemangat setiap waktu. Lagu atau nyanyian bagi saya yang berkecimpung di dunia musik merupakan salah satu anugerah terindah dari Tuhan. Saya sulit membayangkan bagaimana keringnya hidup ini tanpa adanya lagu. Bagi banyak orang lagu memberi hiburan, tapi lagu juga bisa berfungsi lebih dari sekedar hiburan. Ada beberapa artis yang bisa membuat komposisi-komposisi begitu indah sehingga ketika mendengarkannya serasa tengah mengagumi potret atau lukisan. Bagi para pejuang atau tentara lagu bisa menaikkan semangat dan keberanian. Lagu yang kita sukai bisa menjadi cerminan siapa diri kita dan apa isi hati kita. Jelaslah bahwa lagu memiliki makna yang jauh lebih banyak ketimbang sekedar hiburan. Bagi Tuhan pun ternyata lagu-lagu pujian yang diberikan kepadaNya bermakna sangat besar. Tuhan menyukai musik dan lagu, sehingga lagu pujian kita kepada Tuhan bisa membawa perubahan besar dalam hidup kita, bahkan saya bisa berkata bahwa lagu pujian itu mendahului atau membawa kemenangan.

Sebuah contoh nyata bisa kita lihat pada akhir pemerintahan raja Yosafat yang tertulis dalam 2 Tawarikh 20. Alkitab mencatat bahwa pada masa itu ada laskar yang besar datang dari berbagai penjuru untuk menyerang Israel. Sementara pasukan Israel sangat sedikit jumlahnya, tidak sebanding dengan jumlah besar kekuatan yang hendak menghancurkan mereka. Tidak mengherankan apabila Yosafat kemudian menjadi takut. Kita pun tentu takut jika mengalami hal yang sama. Tetapi meski takut, Yosafat mengambil sebuah keputusan yang benar dalam merespon rasa takutnya. "Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa." (2 Tawarikh 20:3). Bukan hanya keputusan untuk pribadinya sendiri saja, tetapi ia pun mengajak serta memimpin bangsanya untuk mengambil keputusan yang benar."Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN." (ay 4). Mereka berdoa dan berpuasa secara nasional, isi doanya pun bisa kita baca dalam perikop ini. Lantas Tuhan pun menjawab doa mereka lewat Yahaziel. Yahaziel dikatakan dihinggapi Roh Tuhan (ay 14) dan menyampaikan pesan dari Tuhan kepada Yosafat dan bangsa Yehuda. "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (ay 15). Tidakkah pesan ini sangat luar biasa? Tuhan dengan jelas berkata bahwa mereka tidak perlu takut, karena Tuhan sendiri yang akan berperang melawan mereka. Kita tahu bahwa kuasa Tuhan tidak terbatas dan tidak tertandingi oleh apapun. Apa yang harus ditakutkan kalau Tuhan yang Maha Kuasa sudah menjanjikan itu? Tuhan bahkan berkata: "Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu." (ay 17).

Apa yang kemudian dilakukan Yosafat dan bangsa Yehuda dalam merespon pesan Tuhan ini? Diluar dugaan mereka membentuk kelompok paduan suara untuk memuji Tuhan! Mereka mengangkat para penyanyi dan pemuji lalu mengutus mereka untuk ditempatkan di barisan depan. "Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (ay 21). Kita mungkin dengan cepat menganggap hal ini sebagai sebuah keputusan yang aneh dalam menghadapi perang, tetapi iman mereka percaya sepenuhnya kepada Tuhan sehingga mereka tahu bahwa apa yang terpenting bagi mereka adalah menyatakan ucapan syukur mereka dan memuliakan kebesaran Allah lebih dari apapun. Dan ketika mereka mulai menyanyikan puji-pujian, terjadilah keajaiban seperti yang dijanjikan Tuhan itu. "Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah." (ay 22). Alkitab tidak mencatat adanya pasukan Yehuda yang gugur. Tapi Alkitab jelas mencatat bahwa tidak satupun musuh yang luput. Dan itu terjadi tanpa mereka perlu bertempur. "Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh. Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput." (ay 23-24). Tidak itu saja, tapi merekapun kemudian mendapat jarahan yang sangat banyak. Saking banyaknya sampai-sampai mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk mengangkut ternak, barang berharga dan pakaian untuk dibawa pulang. (ay 25). Lihatlah bagaimana puji-pujian mendahului kemenangan dan membawa hasil yang luar biasa mengatasi batas logika dan pikiran kita. Bangsa Yehuda dibawah pimpinan Yosafat memperoleh kemenangan besar, dan semua itu dimulai dengan pengambilan keputusan yang benar dan didahului lewat puji-pujian.

Apakah anda hari ini tengah mencari kemenangan sejenis atas berbagai masalah yang anda hadapi? Apakah ada diantara teman-teman yang tengah bergumul dan merasa putus asa menghadapi sejumlah besar tekanan hidup? Apakah semua ini mulai membuat logika anda berkata bahwa anda sudah harus menyerah kalah? Jika ya, berdirilah tegak dan lakukan hal yang sama seperti Yosafat dan bangsanya. Panjatkan puji-pujian dan serukan kemuliaan bagi Tuhan. Bernyanyilah dengan penuh sukacita dan iman yang percaya, dan anda bisa mengalami situasi serupa seperti yang mereka alami saat itu. Ada sepasukan musuh menyerang anda. Apakah itu tumpukan masalah, sakit penyakit, krisis keuangan dan sebagainya. Itu bisa hadir menyerang, tetapi ingatlah bahwa Yesus sudah mengalahkan semua itu. Yesus sudah memenangkan pertempuran itu bagi anda dan saya pada saat kebangkitanNya. Ada kuasa besar dibalik puji-pujian, dan Alkitab sudah menyatakan bahwa ada Tuhan yang bertahta/bersemayam di atas puji-pujian. (Mazmur 22:4). Apa yang perlu kita lakukan hanyalah mempercayainya secara penuh dan mulai memujiNya. Hari ini anda bisa mulai melakukannya. Berikan puji-pujian kepada Tuhan, nyanyikanlah disertai iman dan semua itu akan mematahkan masalah apapun yang tengah kita hadapi saat ini. Bernyanyilah bagi Tuhan, dan anda akan melihat bahwa tidak satupun dari musuh atau masalah yang berpeluang sama sekali untuk meruntuhkan anda.

Puji-pujian mendahului datangnya kemenangan besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari