Tampilkan postingan dengan label Matius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matius. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2014

Mengapa silsilah begitu penting? Matius 1:1-17 (Mat 1:1)

Kita tergoda melewati daftar silsilah Yesus yang begitu panjang. Dalam 17 ayat pertama Injil Matius ada 46 tokoh yang hidupnya tidak kurang dari 2000 tahun. Walaupun nenek moyang Yesus, tak satu pun yang sama: kepribadian, pengalaman maupun spiritualitasnya. Beberapa adalah pahlawan iman. Sebagian kelabu hidupnya. Sebagian lagi orang-orang biasa (Hezron, Ram, Nahason, Akhim). Sebagian lagi jahat (Abia, Manasye). Karya Allah dalam sejarah tidak dibatasi oleh kegagalan dan dosa manusia! Bukankah ini mendorong kita rendah hati dan berbesar harap?

Keajaiban besar. Pernahkah merenungkan Tuhan Yesus? Bahwa Ia sungguh unik tiada dua? Satu-satunya manusia ber-Bapa di surga tanpa ibu, beribu di dunia tanpa bapa! Itu sebabnya Yusuf diperkenalkan sebagai suami Maria. Mengapa silsilah-Nya di Matius dan Lukas berbeda? Matius menelusuri sampai ke Abraham karena ditujukan kepada orang Yahudi, Lukas sampai ke Adam sebab tulisannya untuk orang non-Yahudi. Yesus adalah Juruselamat orang Yahudi maupun non-Yahudi

Renungkan: Jika Anda masuk rencana-Nya, Anda tidak terlalu kecil tanpa arti bagi-Nya.

Doa: Aku rindu terlibat dalam rencana besar-Mu, ya Tuhan.

Rabu, 23 Oktober 2013

HAMBA YANG SETIA ATAU JAHAT (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Oktober 2013 -Baca:  Matius 25:14-30 "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."  Matius 25:21

Kita sudah sering mendengar dan membaca tentang perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus ini, perumpamaan tentang talenta yang menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesetiaan dan ketekunan yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya.

     Sebagai anak-anak Tuhan kita masing-masing mendapatkan karunia dari Tuhan sebagai modal melayaniNya.  Karunia-karunia yang kita dapatkan dari Tuhan ini digambarkan sebagai talenta.  Talenta berbicara tentang kecakapan, kemampuan, kemahiran, waktu dan juga kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita.  Setiap talenta yang dipercayakan Tuhan telah disesuaikanNya dengan kemampuan masing-masing.  Jadi besarnya talenta masing-masing orang berbeda-beda.  "Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya,"  (Matius 25:15).  Meski besarnya talenta tersebut berbeda-beda, setiap kita memiliki hak yang sama untuk menjadi hamba yang baik dan setia, tergantung kepada kesetiaan dan ketekunan kita sendiri.  Setiap talenta adalah kepercayaan;  berapa pun talenta yang diberikan kepada kita, apakah itu lima, dua atau satu sekalipun adalah kepercayaan.  Dengan demikian  "...tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."  (2 Timotius 3:17), dan  "...untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin."  (Ibrani 13:21).

     Jadi setiap talenta yang telah kita terima dari Tuhan harus kita kembangkan.  Apabila kita tidak mau mengembangkan talenta yang telah kita terima, atau dengan sengaja mengabaikannya seperti yang dilakukan oleh hamba yang mendapatkan satu talenta, di mana ia  "...pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya."  (Matius 25:18), ada konsekuensi yang harus kita tanggung.  Terhadap orang yang mendapatkan satu talenta tapi tidak mau mengembangkannya, si tuan menyebut dia sebagai hamba yang jahat dan malas.  Maukah kita disebut sebagai anak-anak Tuhan yang jahat dan malas?  (Bersambung)

Sumber : airhidupblog.blogspot.com

Senin, 21 Oktober 2013

MENOLAK UNDANGAN TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Oktober 2013 -Baca:  Matius 22:1-14 "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."  Matius 22:14

Kalau kita menyadari bahwa hidup ini adalah karena kasih karunia Tuhan semata, maka seharusnya kita memiliki respons yang benar akan keselamatan yang Tuhan berikan dan juga panggilanNya.  Sampai saat ini pintu anugerah keselamatan dan berkat-berkatNya masih terbuka dan tersedia untuk siapa pun yang mau datang memenuhi undangan Tuhan.  Tapi masih banyak dari kita yang tidak mengalami dan menikmati berkat-berkat Tuhan sepenuhnya, padahal kita telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.  Yang menjadi persoalan adalah kita memiliki banyak sekali alasan untuk menghindari undangan Tuhan.  Alasan-alasan inilah yang dijadikan senjata oleh Iblis untuk menjauhkan orang percaya dari kasih karunia Tuhan.  Alasan dan dalih sesungguhnya adalah bentuk dari pelemparan tanggung jawab.  Orang yang suka mencari-cari alasan atau dalih adalah orang yang tidak punya rasa tanggung jawab dan sulit untuk bisa dipercaya.

     Inilah yang seringkali menjadi alassan banyak orang untuk menolak dan menghindari undangan Tuhan Yesus:  1.  Karena harta kekayaan.  Mereka berkata,  "Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan."  (Lukas 14:18).  Ladang berbicara tentang harta kekayaan.  Seringkali banyak orang lebih mengasihi harta kekayaannya daripada mengasihi Tuhan, hatinya melekat kepada harta dan tidak lagi kepada Tuhan;  lebih mengutamakan perkara-perkara duniawi daripada rohani;  uang, rumah mewah, mobil, perhiasan dan sebagainya telah membutakan mata rohani mereka.  Kita bisa belajar dari pengalaman orang muda yang kaya  (baca  Matius 19:16-26), yang lebih memilih meninggalkan Yesus daripada harus membagi hartanya kepada orang miskin.  Kita patut bersyukur jika Tuhan melimpahkan berkat melimpah, namun semua itu tidak boleh menjadi berhala dalam hidup kita atau mengalihkan fokus kita dari Tuhan.  Jika itu terjadi, itu merupakan kejahatan di mata Tuhan.

     Di zaman sekarang ini orang lebih beriorientasi mengejar harta siang dan malam, sementara ibadah, pelayanan dan menabur tidak mereka pedulikan sama sekali.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).  (Bersambung)

Sumber : airhidupblog.blogspot.com

Selasa, 15 Oktober 2013

CARA HIDUP YANG SIA-SIA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2013 -Baca:  Galatia 3:1-14 "Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!"  Galatia 3:4

Adakalanya kita tak ubahnya seperti  "...orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."  (Matius 7:26).

     Adapun dasar hidup yang benar bagi orang percaya adalah firman Tuhan.  Jika firman Tuhan yang menjadi dasar hidup kita, kita akan mengalami campur tangan Tuhan yang luar biasa, sebab firmanNya adalah ya dan amin, karena  "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:11).  Jadi,  "... seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:"  (Yesaya 14:24), dan  "Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,"  (Yesaya 46:10).  Kita juga dikatakan memiliki cara hidup yang sia-sia apabila kita tidak menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.  Kepada jemaat di Galatia rasul Paulus menegur dengan keras,  "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?"  (Galatia 3:3).  Seseorang dikatakan bodoh bukan karena ia tidak berbuat apa-apa;  mungkin ia melakukan segala sesuatu, namun tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir sehingga apa yang dikerjakan itu pun menjadi tidak berguna.  Inilah yang dilakukan rasul Paulus,  "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."  (2 Timotius 4:7), agar  "...supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:27).

     Ingin menjadi pribadi yang berdampak bagi orang lain, hidup berkemenangan dan makin berkenan kepada Tuhan?  Mulai dari sekarang tinggalkan cara hidup yang sia-sia.  Tuhan memanggil kita untuk menjadi kepala, bukan ekor  (Ulangan 28:13);  untuk menjadi garam dan terang dunia  (Matius 5:13-16).  Karena itu jangna hanya berfokus pada diri sendiri, tapi berusahalah supaya kehidupan kita menjadi berkat dan berdampak bagi orang lain.  Jadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup dan andalkan Tuhan dalam segala hal, serta kerjakan segala perkara yang dipercayakan kepada kita dengan setia sampai akhir.

Jangan sia-siakan pengorbanan Kristus dengan melakukan hal yang sia-sia lagi!

Sumber : airhidupblog.blogspot.com

Jumat, 11 Oktober 2013

PENGHALANG KASIH KEPADA TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2013 -Baca:  Mazmur 31:1-25 "Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!"  Mazmur 31:24a

Hal lain yang menghalangi seseorang mengasihi Tuhan adalah kesombongan, menganggap diri sendiri kuat, pintar, mampu, cantik, tampan, gagah dan sebagainya, sehingga kita merasa bahwa dengan kekuatan sendiri sanggup mengatasi segala sesuatunya.  Kesombongan itu berakar dari segala sesuatu yang dapat dibanggakan dan diandalkan.  Tidak seharusnya kita bersikap demikian!  Mari menyadari bahwa kekuatan kita sangat terbatas.  Sadarilah bahwa di luar Tuhan sesungguhnya kita tidak dapat berbuat apa-apa.  Karena itu firman Tuhan dengan keras menyatakan,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5), sebaliknya,  "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"  (Yeremia 17:7).  Siapakah kita ini?  Nabi Yesaya mengingatkan bahwa keberadaan manusia itu  "...tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?"  (Yesaya 2:22).

     Selain itu harta kekayaan juga seringkali menggeser posisi Tuhan dalam hidup seseorang.  Karena uang dan harta kekayaan yang dimilikilah seseorang tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati.  Mereka lebih mencintai hartanya daripada mengasihi Tuhan.  Sungguh benar apa yang dikatakan firman Tuhan,  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Ketika hati seseorang melekat kepada uang dan harta kekayaannya, secara otomatis dia tidak lagi mengutamakan perkara-perkara rohani.  Uang dan harta kekayaan menjadi andalannya.  Mereka berpikir bahwa dengan memiliki uang dan kekayaan, mereka bisa mendapatkan segalanya dan memuaskan segala keinginannya.  Baca kisah tentang orang muda yang kaya (Matius 19:16-26) dan juga orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21).

     Memiliki banyak uang dan harta melimpah bukanlah dosa selama berada di bawah kendali kita.  Sebaliknya bila mamon tersebut menguasai kita dan menjadi tuan atas kita, ia akan menjadi sebuah bencana bagi kita.  "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."  (1 Timotius 6:10).

Dosa, kesombongan, kekayaan menghalangi orang mengasihi Tuhan sepenuhnya!

Sumber : airhidupblog.blogspot.com

Minggu, 06 Oktober 2013

Senin, 7 Oktober 2013 - PERUBAHAN HIDUP MATIUS (Matius 9:9-13)

  Tampilan cetakSenin, 7 Oktober 2013

Bacaan   : Matius 9:9-13Setahun : Matius 15-17Nats       : Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, "Ikutlah Aku." Matius pun bangkit dan mengikut Dia. (Matius 9:9)

Pemungut cukai alias petugas pajak adalah profesi yang disegani dan sekaligus dibenci banyak orang. Orang cenderung tidak suka berurusan dengan petugas pajak. Petugas pajak distereotipkan sebagai orang yang tidak jujur; bukan hanya menipu rakyat, mereka juga mengelabui pemerintah. Mereka dianggap memperkaya diri dengan mencari untung dari orang kaya yang tidak mau membayar pajak dengan semestinya. Matius, selain pemungut cukai, juga dipandang sebagai antek penjajah Romawi. Jadi, bisa dibayangkan betapa orang Yahudi membencinya.

Namun, Yesus Sang Mesias tidak segan untuk mencari mereka yang berdosa dan yang dibenci banyak orang seperti Matius. Dia justru memberikan pengampunan, keselamatan, dan perubahan hidup menjadi manusia baru bagi pemungut cukai itu. Hidupnya tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi berpusat pada kemuliaan Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sukacita dan perubahan hidup membuat Matius rindu bersaksi bagi orang-orang di sekitarnya yang sedang bergumul dengan dosa, agar mereka juga berkesempatan disapa dan dijamah Yesus.

Matius meninggalkan meja cukai yang dulu memberinya banyak keuntungan duniawi. Kini ia memperoleh harta surgawi dan harkat hidup yang tak ternilai. Tuhan memakai kemampuannya mencatat dengan teliti untuk menuliskan Injil yang memberkati banyak orang dan mengantar mereka berjumpa dengan Yesus Sang Juru Selamat. Rindukah Anda menyerahkan hidup untuk diubah dan dipakai oleh Yesus? Sambutlah panggilan-Nya! --Susanto

KEHIDUPAN YANG BERPUSAT PADA TUHANAKAN MENDATANGKAN BERKAT BAGI SESAMA.

Dilarang mengutip atau memperbanyak materi Renungan Harian tanpa seizin penerbit (Yayasan Gloria)

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:https://www.facebook.com/groups/renungan.harian/

Sumber : www.sabda.org

Jumat, 04 Oktober 2013

Sabtu, 5 Oktober 2013 - KERAS KEPALA (Matius 28:11-15)

  Tampilan cetakSabtu, 5 Oktober 2013

Bacaan   : Matius 28:11-15Setahun : Matius 12Nats       : Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu. (Matius 28:12)

Tokoh Giant dalam film kartun Doraemon digambarkan sebagai anak yang keras kepala dan mau menang sendiri. Ia sering menolak nasihat dari orangtua, teman atau gurunya jika saran mereka tidak sesuai dengan keinginannya. Kadang-kadang ia malah memukuli teman yang memberi masukan.

Dalam Alkitab, kita mengenal para pemimpin orang Yahudi pada zaman Yesus juga sebagai orang yang keras kepala. Dalam banyak kesempatan, mereka melihat sendiri tanda-tanda mengenai ketuhanan Yesus. Tetapi, mereka tetap mengeraskan hati, menolak untuk percaya kepada-Nya. Bacaan Alkitab hari ini adalah salah satu contohnya.

Para serdadu yang menjadi saksi mata kebangkitan Yesus datang untuk melaporkan hal itu kepada imam-imam kepala. Nampaknya para imam kepala dan tua-tua sebetulnya tahu bahwa laporan ini benar. Karena itu, mereka tidak menuduh para serdadu berbohong. Meskipun demikian, mereka memilih untuk mengeraskan hati, tidak bersedia menyambut Yesus sebagai Kristus (Mesias). Mereka malah menyuap para serdadu untuk menutup mulut.

Dalam kehidupan kita, Allah juga terus berusaha berbicara kepada kita untuk menyampaikan teguran, kebenaran, dan kehendak-Nya. Caranya bisa melalui Alkitab, perkataan orang lain, suara hati, bahan bacaan, dsb. Bagaimana respon kita? Jangan sampai kita justru berusaha membungkam si penyampai pesan dengan berbagai cara. Mungkin dengan menganggap Alkitab tidak relevan, menyepelekan perkataan orang lain itu, dsb. Sebaliknya, kita belajar membuka hati dan menaati-Nya. --Alison Subiantoro

PIMPINAN TUHAN BISA JADI TIDAK SESUAI DENGAN HARAPAN KITA;MAUKAH KITA BERLAPANG HATI MENYAMBUTNYA?

Dilarang mengutip atau memperbanyak materi Renungan Harian tanpa seizin penerbit (Yayasan Gloria)

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:https://www.facebook.com/groups/renungan.harian/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 27 Mei 2013

Selasa, 28 Mei 2013 - SARAH COINER (Matius 28:16-20)

  Tampilan cetakSelasa, 28 Mei 2013

Bacaan   : Matius 28:16-20Setahun : 2 Tawarikh 25-27Nats       : Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu... (Matius 28:19, 20)

Sarah Coiner menderita cedera otak sejak balita. Aktivitasnya terbatas. Untuk menggerakkan tubuh ia nyaris tak bisa. Ke mana-mana ia harus ditolong sang ibu dan kursi rodanya. Pada usia 36 tahun, Sarah mendengar tentang Global Media Outreach. Dan, ia menangkap panggilan Tuhan yang menyuruhnya "pergi ke segala bangsa" untuk mengabarkan Injil. Sang ibu sangsi, bagaimana Sarah bisa melakukannya. Namun, ia lalu sadar, Tuhan bisa menciptakan cara, saat sepertinya tak ada cara. Dan, jika Dia memanggil, Dia pasti memperlengkapi.

Sarah tak dapat berbicara. Ia berkomunikasi melalui tulisan dengan bantuan komputer yang melekat di kursi rodanya. Untuk "berbicara", ia menekan papan tuts dengan semacam stik yang menempel di "helm penyokong" yang selalu ia pakai. Dengan alat itulah Sarah melayani bersama Global Media Outreach. Ia menjawab banyak e-mail dari berbagai belahan dunia. Ia "pergi" ke seluruh dunia dengan menjadi misionaris online!

Menjelang naik ke surga, Yesus memberikan mandat untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia kepada murid-murid-Nya. Dan, mereka sudah menuntaskannya. Kini, pekerjaan itu diteruskan kepada kita, suatu pekerjaan besar. Tak cukup dilakukan oleh sebagian anak Tuhan saja. Setiap pengikut Kristus mesti mengambil bagian dalam meneruskan berita Injil kepada berbagai bangsa, berbagai generasi, berbagai kalangan. Dengan berbagai cara. Mari menilik ke dalam diri dan mencari cara yang dapat kita lakukan untuk berperan dalam pekerjaan ini. --AW

JIKA TUHAN MEMANGGIL KITA UNTUK MELAYANI,DIA TENTU MENYEDIAKAN CARA DAN PERLENGKAPANNYA.

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/05/28/

Sumber : www.sabda.org

Selasa, 28 Mei 2013 - SARAH COINER (Matius 28:16-20)

  Tampilan cetakSelasa, 28 Mei 2013

Bacaan   : Matius 28:16-20Setahun : 2 Tawarikh 25-27Nats       : Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu... (Matius 28:19, 20)

Sarah Coiner menderita cedera otak sejak balita. Aktivitasnya terbatas. Untuk menggerakkan tubuh ia nyaris tak bisa. Ke mana-mana ia harus ditolong sang ibu dan kursi rodanya. Pada usia 36 tahun, Sarah mendengar tentang Global Media Outreach. Dan, ia menangkap panggilan Tuhan yang menyuruhnya "pergi ke segala bangsa" untuk mengabarkan Injil. Sang ibu sangsi, bagaimana Sarah bisa melakukannya. Namun, ia lalu sadar, Tuhan bisa menciptakan cara, saat sepertinya tak ada cara. Dan, jika Dia memanggil, Dia pasti memperlengkapi.

Sarah tak dapat berbicara. Ia berkomunikasi melalui tulisan dengan bantuan komputer yang melekat di kursi rodanya. Untuk "berbicara", ia menekan papan tuts dengan semacam stik yang menempel di "helm penyokong" yang selalu ia pakai. Dengan alat itulah Sarah melayani bersama Global Media Outreach. Ia menjawab banyak e-mail dari berbagai belahan dunia. Ia "pergi" ke seluruh dunia dengan menjadi misionaris online!

Menjelang naik ke surga, Yesus memberikan mandat untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia kepada murid-murid-Nya. Dan, mereka sudah menuntaskannya. Kini, pekerjaan itu diteruskan kepada kita, suatu pekerjaan besar. Tak cukup dilakukan oleh sebagian anak Tuhan saja. Setiap pengikut Kristus mesti mengambil bagian dalam meneruskan berita Injil kepada berbagai bangsa, berbagai generasi, berbagai kalangan. Dengan berbagai cara. Mari menilik ke dalam diri dan mencari cara yang dapat kita lakukan untuk berperan dalam pekerjaan ini. --AW

JIKA TUHAN MEMANGGIL KITA UNTUK MELAYANI,DIA TENTU MENYEDIAKAN CARA DAN PERLENGKAPANNYA.

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/05/28/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 01 April 2013

Selasa, 2 April 2013 - Menjadi murid yang memuridkan (Matius 28:16-20)

  Tampilan cetakSelasa, 2 April 2013

Judul: Menjadi murid yang memuridkanPernahkah Anda mendapat amanat? Misalnya, amanat dari orang tua Anda untuk melanjutkan usaha keluarga. Amanat merupakan pesan atau perintah yang keberadaannya lebih dari sekadar permintaan. Ada wibawa yang mengikat dalam sebuah amanat untuk kita laksanakan. Biasanya bila kita menerima suatu amanat, kita merasa terbeban untuk memenuhi amanat tersebut. Itulah yang terjadi pada hari ketika Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ia memberikan amanat kepada murid-murid-Nya. Amanat inilah yang kemudian dikenal sebagai Amanat Agung.

Amanat Agung mengandung tiga makna yang saling berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah "Pergi dan jadikan murid". Tugas menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus adalah tugas mereka yang telah menjadi murid Kristus terlebih dahulu. Menurut Andar Ismail dalam bukunya "Selamat Berkiprah", menjadi murid di sini berarti mengikut guru dan melakukan kehendaknya. Dengan melakukan kehendak sang Guru, diharapkan adanya buah yang ditunjukkan lewat perilaku sehari-hari, sehingga orang lain yang melihatnya akan tertarik dan mau menjadi murid Yesus. Perkara pertobatan adalah karya Roh Kudus, perkara pemuridan adalah tanggung jawab murid Kristus!

Yang kedua mengenai baptisan. Baptisan adalah tanda atau meterai bahwa kita telah menjadi bagian dari keluarga besar Kerajaan Allah. Baptisan juga adalah kesaksian atau pengakuan percaya. Menjadi murid Kristus tidak berhenti pada pengakuan dalam hati, tetapi pengakuan kepada publik. Yang ketiga, mengenai ajaran. Kalimat "Melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" merupakan amanat agar ajaran Yesus kemudian juga terus disebarkan oleh semua orang yang menerimanya sama seperti yang murid-muridnya lakukan.

Amanat Agung Yesus ini berlaku turun temurun. Kita adalah murid Kristus karena murid-murid-Nya yang terdahulu telah memuridkan kita. Tongkat estafet pemuridan kini ada di tangan Anda dan saya. Apakah tongkat itu akan terhenti perjalanannya di tangan kita?

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/04/02/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 04 Maret 2013

Senin, 4 Maret 2013 - Kesadaran rohani (Matius 21:28-46)

  Tampilan cetakSenin, 4 Maret 2013

Judul: Kesadaran rohaniJohn Newton menyadari bahwa di sepanjang hidupnya ia menerima banyak anugerah Allah. Pada usia 80 tahun, John menjadi pikun. Namun ia berkata, "Tetapi ada dua hal yang saya tidak bisa lupa, bahwa saya adalah pendosa besar, dan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang Besar."

Dari dua perumpamaan, kita akan belajar tentang dua kesadaran rohani yang harus dimiliki saat berhadapan dengan kebesaran anugerah Allah. Pertama, kesadaran bahwa kita dahulu adalah orang-orang yang pernah melawan Tuhan, tetapi kemudian sadar dan menyesali dosa-dosa kita. Sikap pemimpin Yahudi seperti anak sulung yang ketika diperintahkan oleh sang bapak bersikap seolah-olah menaati kehendak bapaknya, tetapi tidak melakukan. Meskipun anak sulung terlihat sopan dan hormat di luar, di dalam hatinya dia tidak hormat. Di sisi lain, Yesus menggambarkan sikap orang-orang berdosa sebagai anak bungsu (32). Ia terlihat kasar, tetapi dia jujur walaupun salah dan akhirnya menyesal/ bertobat. Yesus memperingatkan kita jangan sampai di luar kita terlihat taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.

Kedua, kesadaran akan betapa berdosanya kita dan betapa tidak terpahaminya kasih Allah kepada kita manusia yang berdosa. Yesus menegur kejahatan yang dilakukan umat Israel dan para pemimpin agama dengan mengambil gambaran tentang penggarap kebun anggur. Para penggarap kebun itu menyiksa dan membunuh hamba-hamba dari pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh nabi-nabi.Mereka juga membunuh anak pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus (37-38).Yesus sebenarnya sedang mengungkapkan kenyataan yang sepertinya tidak masuk akal, tetapi benar. Yesus sendiri adalah Anak Allah yang dikirim ke dalam dunia yang jahat, tetapi Ia mati disalib oleh karena kejahatan mereka.

Kesadaran rohani akan betapa berdosanya kita dulu dan betapa besarnya anugerah Allah kepada kita, akan memampukan kita hidup di dalam kerendahan hati dan ucapan syukur.

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/03/04/

Sumber : www.sabda.org

Minggu, 03 Maret 2013

Senin, 4 Maret 2013 - Kesadaran rohani (Matius 21:28-46)

  Tampilan cetakSenin, 4 Maret 2013

Judul: Kesadaran rohaniJohn Newton menyadari bahwa di sepanjang hidupnya ia menerima banyak anugerah Allah. Pada usia 80 tahun, John menjadi pikun. Namun ia berkata, "Tetapi ada dua hal yang saya tidak bisa lupa, bahwa saya adalah pendosa besar, dan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang Besar."

Dari dua perumpamaan, kita akan belajar tentang dua kesadaran rohani yang harus dimiliki saat berhadapan dengan kebesaran anugerah Allah. Pertama, kesadaran bahwa kita dahulu adalah orang-orang yang pernah melawan Tuhan, tetapi kemudian sadar dan menyesali dosa-dosa kita. Sikap pemimpin Yahudi seperti anak sulung yang ketika diperintahkan oleh sang bapak bersikap seolah-olah menaati kehendak bapaknya, tetapi tidak melakukan. Meskipun anak sulung terlihat sopan dan hormat di luar, di dalam hatinya dia tidak hormat. Di sisi lain, Yesus menggambarkan sikap orang-orang berdosa sebagai anak bungsu (32). Ia terlihat kasar, tetapi dia jujur walaupun salah dan akhirnya menyesal/ bertobat. Yesus memperingatkan kita jangan sampai di luar kita terlihat taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.

Kedua, kesadaran akan betapa berdosanya kita dan betapa tidak terpahaminya kasih Allah kepada kita manusia yang berdosa. Yesus menegur kejahatan yang dilakukan umat Israel dan para pemimpin agama dengan mengambil gambaran tentang penggarap kebun anggur. Para penggarap kebun itu menyiksa dan membunuh hamba-hamba dari pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh nabi-nabi.Mereka juga membunuh anak pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus (37-38).Yesus sebenarnya sedang mengungkapkan kenyataan yang sepertinya tidak masuk akal, tetapi benar. Yesus sendiri adalah Anak Allah yang dikirim ke dalam dunia yang jahat, tetapi Ia mati disalib oleh karena kejahatan mereka.

Kesadaran rohani akan betapa berdosanya kita dulu dan betapa besarnya anugerah Allah kepada kita, akan memampukan kita hidup di dalam kerendahan hati dan ucapan syukur.

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/03/04/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 4 Maret 2013 - Kesadaran rohani (Matius 21:28-46)

  Tampilan cetakSenin, 4 Maret 2013

Judul: Kesadaran rohaniJohn Newton menyadari bahwa di sepanjang hidupnya ia menerima banyak anugerah Allah. Pada usia 80 tahun, John menjadi pikun. Namun ia berkata, "Tetapi ada dua hal yang saya tidak bisa lupa, bahwa saya adalah pendosa besar, dan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang Besar."

Dari dua perumpamaan, kita akan belajar tentang dua kesadaran rohani yang harus dimiliki saat berhadapan dengan kebesaran anugerah Allah. Pertama, kesadaran bahwa kita dahulu adalah orang-orang yang pernah melawan Tuhan, tetapi kemudian sadar dan menyesali dosa-dosa kita. Sikap pemimpin Yahudi seperti anak sulung yang ketika diperintahkan oleh sang bapak bersikap seolah-olah menaati kehendak bapaknya, tetapi tidak melakukan. Meskipun anak sulung terlihat sopan dan hormat di luar, di dalam hatinya dia tidak hormat. Di sisi lain, Yesus menggambarkan sikap orang-orang berdosa sebagai anak bungsu (32). Ia terlihat kasar, tetapi dia jujur walaupun salah dan akhirnya menyesal/ bertobat. Yesus memperingatkan kita jangan sampai di luar kita terlihat taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.

Kedua, kesadaran akan betapa berdosanya kita dan betapa tidak terpahaminya kasih Allah kepada kita manusia yang berdosa. Yesus menegur kejahatan yang dilakukan umat Israel dan para pemimpin agama dengan mengambil gambaran tentang penggarap kebun anggur. Para penggarap kebun itu menyiksa dan membunuh hamba-hamba dari pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh nabi-nabi.Mereka juga membunuh anak pemilik kebun, gambaran dari orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus (37-38).Yesus sebenarnya sedang mengungkapkan kenyataan yang sepertinya tidak masuk akal, tetapi benar. Yesus sendiri adalah Anak Allah yang dikirim ke dalam dunia yang jahat, tetapi Ia mati disalib oleh karena kejahatan mereka.

Kesadaran rohani akan betapa berdosanya kita dulu dan betapa besarnya anugerah Allah kepada kita, akan memampukan kita hidup di dalam kerendahan hati dan ucapan syukur.

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/03/04/

Sumber : www.sabda.org

Sabtu, 02 Maret 2013

Sabtu, 2 Maret 2013 - Jangan Mengabaikan kebenaran (Matius 21:23-27)

  Tampilan cetakSabtu, 2 Maret 2013

Judul: Jangan Mengabaikan kebenaranDi dalam pengadilan, terdakwa atau saksi disumpah untuk mengucapkan kebenaran dan tak ada yang lain kecuali kebenaran. Saat mereka mengabaikan kebenaran, hal itu berdampak buruk kepada diri sendiri juga orang lain. Para imam dan tua-tua Yahudi dalam bacaan hari ini telah mengabaikan kebenaran.Apa yang terjadi ketika kita mengabaikan kebenaran?

Pertama, kita menjadi tidak fokus terhadap hal yang esensial. Para pemuka Yahudi ini mendatangi Yesus saat Ia mengajar. Mereka mempertanyakan sumber kuasa Yesus di dalam menyembuhkan orang sakit (14), menyucikan Bait Allah (12-13), dan mengajar (23). Pertanyaan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memedulikan kebenaran.Mereka berkeras hati menolak kebenaran yang sudah nyata. Yesus mengajak mereka kembali membicarakan kebenaran. Ia tidak menjawab pertanyaan mereka secara langsung. Ia menjawab dengan memberikan pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis karena Yohanes Pembaptis mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Kalau mereka mengakui bahwa Yohanes Pembaptis dari Allah, mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, sehingga memiliki kuasa untuk melakukan apa yang Ia lakukan.

Kedua, kita bisa jatuh di dalam pragmatisme. Para pemuka Yahudi ini telah jatuh ke dalam pragmatisme, yang hanya mementingkan hasil akhir tanpa memedulikan benar tidaknya cara yang ditempuh. Tujuan mereka bukan mencari kebenaran, tetapi apa yang menguntungkan mereka. Orang yang lebih mementingkan keuntungan diri sendiri daripada prinsip, biasanya tidak akan menanyakan apakah sesuatu itu benar, tetapi hanya apa yang aman untuk dikatakan. Pragmatisme juga telah membuat mereka tidak takut kepada Allah, sehingga mereka berani berdusta (27), sekalipun mereka sebenarnya tahu apa yang benar yang harus dikatakan.

Marilah kita mengarahkan hidup kita pada kebenaran firman Tuhan dan menjauhkan diri kita dari pragmatisme, melihat setiap aspek kehidupan kita dari sudut pandang kebenaran firman Tuhan.

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/03/02/

Sumber : www.sabda.org

Jumat, 01 Maret 2013

Sabtu, 2 Maret 2013 - Jangan Mengabaikan kebenaran (Matius 21:23-27)

  Tampilan cetakSabtu, 2 Maret 2013

Judul: Jangan Mengabaikan kebenaranDi dalam pengadilan, terdakwa atau saksi disumpah untuk mengucapkan kebenaran dan tak ada yang lain kecuali kebenaran. Saat mereka mengabaikan kebenaran, hal itu berdampak buruk kepada diri sendiri juga orang lain. Para imam dan tua-tua Yahudi dalam bacaan hari ini telah mengabaikan kebenaran.Apa yang terjadi ketika kita mengabaikan kebenaran?

Pertama, kita menjadi tidak fokus terhadap hal yang esensial. Para pemuka Yahudi ini mendatangi Yesus saat Ia mengajar. Mereka mempertanyakan sumber kuasa Yesus di dalam menyembuhkan orang sakit (14), menyucikan Bait Allah (12-13), dan mengajar (23). Pertanyaan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memedulikan kebenaran.Mereka berkeras hati menolak kebenaran yang sudah nyata. Yesus mengajak mereka kembali membicarakan kebenaran. Ia tidak menjawab pertanyaan mereka secara langsung. Ia menjawab dengan memberikan pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis karena Yohanes Pembaptis mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Kalau mereka mengakui bahwa Yohanes Pembaptis dari Allah, mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, sehingga memiliki kuasa untuk melakukan apa yang Ia lakukan.

Kedua, kita bisa jatuh di dalam pragmatisme. Para pemuka Yahudi ini telah jatuh ke dalam pragmatisme, yang hanya mementingkan hasil akhir tanpa memedulikan benar tidaknya cara yang ditempuh. Tujuan mereka bukan mencari kebenaran, tetapi apa yang menguntungkan mereka. Orang yang lebih mementingkan keuntungan diri sendiri daripada prinsip, biasanya tidak akan menanyakan apakah sesuatu itu benar, tetapi hanya apa yang aman untuk dikatakan. Pragmatisme juga telah membuat mereka tidak takut kepada Allah, sehingga mereka berani berdusta (27), sekalipun mereka sebenarnya tahu apa yang benar yang harus dikatakan.

Marilah kita mengarahkan hidup kita pada kebenaran firman Tuhan dan menjauhkan diri kita dari pragmatisme, melihat setiap aspek kehidupan kita dari sudut pandang kebenaran firman Tuhan.

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/03/02/

Sumber : www.sabda.org

Selasa, 26 Februari 2013

Rabu, 27 Februari 2013 - SUSAH BERBUAT BAIK? (Matius 26:36-46)

  Tampilan cetakRabu, 27 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 32-33Nats: ... "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

Bacaan: Matius 26:36-46

Suatu saat acara donor darah di kampus saya diikuti oleh lebih banyak peserta. Waktu menunggu giliran seorang pendonor menjadi lebih lama dari biasanya. Dalam kejemuan menunggu, seorang pendonor bergumam, "Mau berbuat baik saja kok susah sekali ya?"

Memang seringkali berbuat baik itu tidak mudah. Ini yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dia harus melewati proses hukuman salib yang mengerikan. Yesus sempat merasa gentar. Karena itu, Dia sempat bertanya apakah ada cara lain. Tetapi, memang tidak ada jalan lain. Yesus harus menerima penderitaan dan kematian melalui salib itu untuk menyelamatkan manusia. Selanjutnya kita tahu bahwa akhirnya Yesus, karena kasih-Nya, menanggung semuanya itu bagi penebusan kita.

Dalam usaha kita berbuat baik bagi orang lain, kadang banyak kesulitan dan rintangan yang menghadang. Orang yang menolong korban kecelakaan lalu lintas malah dibebani dan ditanyai bermacam hal oleh pihak yang berwenang. Orang yang ingin menolong korban bencana teralangi oleh jalur transportasi yang terputus. Organisasi yang ingin melakukan bakti sosial dicurigai memiliki motivasi tersembunyi. Dan sebagainya.

Akan tetapi, jangan sampai alangan tersebut membuat kita berhenti berbuat baik. Biarlah rintangan yang muncul itu menjadi ujian bagi ketulusan kita. Dan, jika kita sungguh-sungguh tulus, sebagaimana Yesus menanggung penyaliban, kita akan dimampukan untuk melewati berbagai hambatan tersebut. --ALS

BERBUAT BAIK MEMANG TIDAK SELALU MUDAH,NAMUN TETAPLAH BERBUAT BAIK

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/27/

Sumber : www.sabda.org

Rabu, 27 Februari 2013 - SUSAH BERBUAT BAIK? (Matius 26:36-46)

  Tampilan cetakRabu, 27 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 32-33Nats: ... "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

Bacaan: Matius 26:36-46

Suatu saat acara donor darah di kampus saya diikuti oleh lebih banyak peserta. Waktu menunggu giliran seorang pendonor menjadi lebih lama dari biasanya. Dalam kejemuan menunggu, seorang pendonor bergumam, "Mau berbuat baik saja kok susah sekali ya?"

Memang seringkali berbuat baik itu tidak mudah. Ini yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dia harus melewati proses hukuman salib yang mengerikan. Yesus sempat merasa gentar. Karena itu, Dia sempat bertanya apakah ada cara lain. Tetapi, memang tidak ada jalan lain. Yesus harus menerima penderitaan dan kematian melalui salib itu untuk menyelamatkan manusia. Selanjutnya kita tahu bahwa akhirnya Yesus, karena kasih-Nya, menanggung semuanya itu bagi penebusan kita.

Dalam usaha kita berbuat baik bagi orang lain, kadang banyak kesulitan dan rintangan yang menghadang. Orang yang menolong korban kecelakaan lalu lintas malah dibebani dan ditanyai bermacam hal oleh pihak yang berwenang. Orang yang ingin menolong korban bencana teralangi oleh jalur transportasi yang terputus. Organisasi yang ingin melakukan bakti sosial dicurigai memiliki motivasi tersembunyi. Dan sebagainya.

Akan tetapi, jangan sampai alangan tersebut membuat kita berhenti berbuat baik. Biarlah rintangan yang muncul itu menjadi ujian bagi ketulusan kita. Dan, jika kita sungguh-sungguh tulus, sebagaimana Yesus menanggung penyaliban, kita akan dimampukan untuk melewati berbagai hambatan tersebut. --ALS

BERBUAT BAIK MEMANG TIDAK SELALU MUDAH,NAMUN TETAPLAH BERBUAT BAIK

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/27/

Sumber : www.sabda.org

ORANG KRISTEN ADALAH GARAM DUNIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Februari 2013 -

Baca:  Matius 5:13-16

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."  Matius 5:13

Seringkali kita tidak menyadari bahwa sebagai seorang Kristen kehidupan kita selalu menjadi sorotan orang-orang di luar Tuhan.  Rasul Paulus mengatakan,  "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang."  (2 Korintus 3:2).  Kita ini adalah surat yang terbuka, yang dapat dibaca dan dilihat oleh semua orang.  Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku hidup kita sehari-hari.  Jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka atau menjadi buah mulut (negatif) sehingga nama Tuhan tercoreng karena perbuatan kita.  Ayat nas menegaskan bahwa keberadaan kita ini adalah sebagai garam di tengah-tengah dunia.  Apa nilai lebih dari garam sehingga Alkitab menggunakan kata ini untuk mengkiaskan kehidupan orang percaya?

     Dalam Perjanjian Lama garam sudah menjadi bagian dari korban sajian yang dipersembahkan oleh umat kepada Tuhan:  "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam."  (Imamat 2:13).  Mengapa setiap korban sajian perlu dibubuhi garam?  Garam perlu ditambahkan di setiap sajian supaya menghasilkan bau yang harum dan sedap, dan kita tahu bahwa persembahan yang harum itu menyenangkan hati Tuhan:  "...kepada persembahan yang harum Aku berkenan kepadamu..."  (Yehezkiel 20:41).  Tuhan menghendaki agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepadaNya.  Kita adalah garam bagi dunia ini.  Namun perhatikanlah, garam akan bernilai guna jika ia berada pada keadaan aslinya yaitu asin.  Tetapi jika garam itu sudah menjadi tawar, ia tidak akan berguna lagi.

     Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah seperti korban sajian yang dibubuhi garam, suatu kehidupan yang berdampak dan menjadi berkat bagi orang lain.  Oleh karena itu jangan pernah main-main dengan kekristenan Saudara.

Sudahkah hidup kita hasilkan  "...bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa."?  2 Korintus 2:15

Sumber : airhidupblog.blogspot.com

Rabu, 27 Februari 2013 - SUSAH BERBUAT BAIK? (Matius 26:36-46)

  Tampilan cetakRabu, 27 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 32-33Nats: ... "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

Bacaan: Matius 26:36-46

Suatu saat acara donor darah di kampus saya diikuti oleh lebih banyak peserta. Waktu menunggu giliran seorang pendonor menjadi lebih lama dari biasanya. Dalam kejemuan menunggu, seorang pendonor bergumam, "Mau berbuat baik saja kok susah sekali ya?"

Memang seringkali berbuat baik itu tidak mudah. Ini yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dia harus melewati proses hukuman salib yang mengerikan. Yesus sempat merasa gentar. Karena itu, Dia sempat bertanya apakah ada cara lain. Tetapi, memang tidak ada jalan lain. Yesus harus menerima penderitaan dan kematian melalui salib itu untuk menyelamatkan manusia. Selanjutnya kita tahu bahwa akhirnya Yesus, karena kasih-Nya, menanggung semuanya itu bagi penebusan kita.

Dalam usaha kita berbuat baik bagi orang lain, kadang banyak kesulitan dan rintangan yang menghadang. Orang yang menolong korban kecelakaan lalu lintas malah dibebani dan ditanyai bermacam hal oleh pihak yang berwenang. Orang yang ingin menolong korban bencana teralangi oleh jalur transportasi yang terputus. Organisasi yang ingin melakukan bakti sosial dicurigai memiliki motivasi tersembunyi. Dan sebagainya.

Akan tetapi, jangan sampai alangan tersebut membuat kita berhenti berbuat baik. Biarlah rintangan yang muncul itu menjadi ujian bagi ketulusan kita. Dan, jika kita sungguh-sungguh tulus, sebagaimana Yesus menanggung penyaliban, kita akan dimampukan untuk melewati berbagai hambatan tersebut. --ALS

BERBUAT BAIK MEMANG TIDAK SELALU MUDAH,NAMUN TETAPLAH BERBUAT BAIK

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/27/

Sumber : www.sabda.org

Rabu, 27 Februari 2013 - SUSAH BERBUAT BAIK? (Matius 26:36-46)

  Tampilan cetakRabu, 27 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 32-33Nats: ... "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

Bacaan: Matius 26:36-46

Suatu saat acara donor darah di kampus saya diikuti oleh lebih banyak peserta. Waktu menunggu giliran seorang pendonor menjadi lebih lama dari biasanya. Dalam kejemuan menunggu, seorang pendonor bergumam, "Mau berbuat baik saja kok susah sekali ya?"

Memang seringkali berbuat baik itu tidak mudah. Ini yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dia harus melewati proses hukuman salib yang mengerikan. Yesus sempat merasa gentar. Karena itu, Dia sempat bertanya apakah ada cara lain. Tetapi, memang tidak ada jalan lain. Yesus harus menerima penderitaan dan kematian melalui salib itu untuk menyelamatkan manusia. Selanjutnya kita tahu bahwa akhirnya Yesus, karena kasih-Nya, menanggung semuanya itu bagi penebusan kita.

Dalam usaha kita berbuat baik bagi orang lain, kadang banyak kesulitan dan rintangan yang menghadang. Orang yang menolong korban kecelakaan lalu lintas malah dibebani dan ditanyai bermacam hal oleh pihak yang berwenang. Orang yang ingin menolong korban bencana teralangi oleh jalur transportasi yang terputus. Organisasi yang ingin melakukan bakti sosial dicurigai memiliki motivasi tersembunyi. Dan sebagainya.

Akan tetapi, jangan sampai alangan tersebut membuat kita berhenti berbuat baik. Biarlah rintangan yang muncul itu menjadi ujian bagi ketulusan kita. Dan, jika kita sungguh-sungguh tulus, sebagaimana Yesus menanggung penyaliban, kita akan dimampukan untuk melewati berbagai hambatan tersebut. --ALS

BERBUAT BAIK MEMANG TIDAK SELALU MUDAH,NAMUN TETAPLAH BERBUAT BAIK

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/27/

Sumber : www.sabda.org

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari