Senin, 24 November 2014

Mengandalkan Allah

Info

Selasa, 25 November 2014


Mengandalkan Allah



4:16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, –


4:17 seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" –di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.


4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."


4:19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.


4:20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,


4:21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.


4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.



Ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah . . . dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. —Roma 4:20-21


Mengandalkan Allah


Waktu itu adalah liburan keluarga kami yang terakhir sebelum putra sulung kami pergi untuk menempuh kuliahnya. Ketika kami duduk di barisan belakang dalam sebuah gereja kecil di tepi pantai, hati saya begitu terharu ketika saya melirik ke arah lima anak saya yang sedang duduk di dekat kami. “Tolong jaga iman mereka dan dekatkan mereka selalu kepada-Mu, ya Tuhan.” Saya berdoa dalam keheningan, sambil memikirkan beragam tekanan dan tantangan yang akan dihadapi oleh mereka masing-masing.


Refrain dari himne terakhir yang kami nyanyikan dengan penuh semangat didasarkan pada 2 Timotius 1:12, “Namun ‘ku tahu yang kupercaya dan aku yakin ‘kan kuasa-Nya, Ia menjaga yang kutaruhkan hingga hari-Nya kelak!” Pujian itu memberi saya damai sejahtera karena saya diyakinkan bahwa Allah akan selalu menjaga jiwa mereka.


Tahun demi tahun telah berlalu setelah peristiwa itu. Ada di antara anak-anak saya yang pernah menyimpang dari iman, dan ada juga yang pernah memberontak. Ada kalanya saya bertanya-tanya tentang kesetiaan Allah. Namun kemudian saya ingat pada Abraham. Abraham pernah tersandung, tetapi ia tidak pernah gagal mempercayai janji yang diterimanya (Kej. 15:5-6; Rm. 4:20-21). Sepanjang tahun-tahun penuh penantian yang diwarnai dengan usahanya yang gagal untuk memperbaiki keadaan, Abraham tetap bertahan dan memegang janji Allah sampai akhirnya Ishak lahir.


Pengalaman Abraham yang mengingatkan untuk tetap percaya itu sungguh telah menguatkan saya. Kita memberi tahu permohonan kita kepada Allah. Kita ingat bahwa Dia peduli. Kita tahu Dia sungguh berkuasa. Kita bersyukur kepada Allah atas kesetiaan-Nya. —MS


Ya Tuhan, aku sering kurang sabar dan rencanaku sering tidak sesuai

dengan kehendak-Mu. Ampunilah aku atas kebimbanganku,

dan tolonglah aku untuk lebih mempercayai-Mu.

Terima kasih atas kesetiaan-Mu.


Kesabaran adalah mata pelajaran untuk jangka panjang.


facebook google_plus


Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu







from WarungSateKaMu.org

via IFTTT

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari