Sabtu, 17 November 2012

Orang Tua Teladan

Ayat bacaan: Titus 2:7
==================
"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"

Ijinkan saya untuk melanjutkan renungan kemarin yang menyoroti premanisme dan kesesatan di kalangan anak-anak muda atau remaja, kali ini dari sisi orang tua. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan meminta kita para orang tua untuk memperkenalkan dan mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:7). Ini penting untuk dilakukan hingga si anak menjadi paham akan pentingnya hal tersebut dan hingga Firman itu tertanam dengan baik dalam diri mereka. Kita juga diingatkan Tuhan bahwa dengan mendidik anak dengan baik, mereka pun akan memiliki jalan kehidupan yang lurus sebagai bekal penting untuk menuju kehidupan berkemenangan hingga akhir. (Amsal 22:6). Masalahnya, bagaimana kita sebagai orang tua (atau calon orang tua) bisa melakukan itu apabila kita sendiri tidak menjadi contoh nyata dari apa yang kita ajarkan? Ada banyak orang tua yang melakukan itu. Mereka mengajarkan anak-anaknya, melarang ini dan itu, tapi mereka sendiri melakukannya. Itu bukanlah contoh yang baik dan malah akan membuat anak-anak tidak bisa menerima hal-hal baik yang diajarkan tersebut. Singkatnya, apabila kita mau efektif dalam mendidik anak-anak, tidak ada jalan lain, kita harus terlebih dahulu menjadi contoh nyata dan teladan dari segala sesuatu yang kita ajarkan.

Menjadi teladan artinya menjadi sosok yang patut ditiru, dijadikan panutan  atau menjadi role model. Sebuah keteladanan akan jauh lebih efektif ketimbang bentuk-bentuk pengajaran yang hanya bersifat teori saja. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan yang bisa menjadi pelajaran yang baik bagi kita, dalam alkitab pun tersedia begitu banyak keteladanan yang akan sangat bermanfaat buat kita. Dari masa lalu ada banyak teladan, di masa sekarang pun banyak, dan di masa depan nanti akan ada lagi teladan-teladan yang bisa kita jadikan panutan untuk menjadi orang yang lebih baik. Dan anak-anak kita sangat membutuhkan hal itu dalam perkembangan jiwa mereka. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Jika ada pertanyaan, mengapa harus kita, tidakkah cukup orang lain saja yang melakukan itu? Jawabannya ada di Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Salah satunya bisa kita lihat dari ayat bacaan hari ini yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan terutama dalam hal berbuat baik."Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa transfer ilmu pengetahuan dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidak akan pernah cukup. Kita harus meningkatkan level kita terlebih dahulu hingga kita bisa menunjukkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, namun praktek sangatlah penting. Semua yang kita ajarkan hanyalah teori kosong, buta atau bohong jika kita hidup bertentangan dengan apa yang kita ajarkan.

Kita bisa melihat contoh keteladanan nyata dari Yesus sendiri. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih, tapi Dia tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari pengajaran Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Pada kesempatan lain, Lalu pada kesempatan lain Yesus berkata: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. Ketika Yesus berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (ay 13), Yesus pun telah membuktikan langsung lewat karya penebusanNya. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus agar kita tampil meneladani sosoknya dan kemudian menjadi teladan pula bagi banyak orang.

Tidak adil jika hanya orang tua yang dituntut menjadi teladan, karena Tuhan sebenarnya menginginkan anak-anakNya bisa menjadi teladan sejak usia mudanya. Lihatlah pesan Paulus buat Timotius yang masih muda. "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12) Dari sini terlihat bahwa masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi sejak muda pun kita sebenarnya sudah dituntut untuk bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam berbagai hal. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia dan hidup suci/kudus. Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang."Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan.

Anak-anak tidak akan bisa tampil menjadi teladan bagi orang-orang disekelilingnya jika tidak mendapatkan keteladanan dari orang tuanya. Tidak ada jalan lain bagi kita selain harus terus berusaha menjaga kehidupan kita, tindakan, perbuatan dan tingkah laku kita sesuai dengan firman Tuhan. Ingatlah bahwa apapun yang kita perbuat akan selalu mendapat perhatian orang lain, dan tentunya oleh Tuhan sendiri. Apakah kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi banyak orang, garam yang memberi rasa kepada dunia yang tawar, atau kita malah menjadi batu sandungan bagi orang lain, semua itu tergantung dari sejauh mana kita mau belajar menjadi teladan. Kita harus bisa menjadi pelaku-pelaku Firman secara nyata. Seperti apa figur Kristus yang kita pertontonkan kepada orang lain lewat sikap kita? Tuhan yang penuh kasih, tidak memandang hina siapapun, tidak meninggalkan yang menderita, tidak membeda-bedakan orang, atau Tuhan yang eksklusif, pilih kasih, egois, kasar, penuh kecurigaan dan lain-lain? Apapun yang kita jalani saat ini, ingatlah selalu bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri saja. Ada orang lain di sekitar kita, ada lingkungan di sekeliling kita yang butuh warna cerah, butuh keteladanan. Siapkah kita untuk memberkati orang lain dan mewarnai dunia dengan perbuatan-perbuatan penuh kasih yang mencerminkan Tuhan secara benar? Apakh kita sudah menjadi orang tua teladan bagi anak-anak kita? Jika belum, maukah kita mulai dari sekarang?

Para orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, agar mereka pun bisa menjadi terang bagi sekelilingnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari