Senin, 01 Oktober 2012

Breaking Up the Routines

Ayat bacaan: Markus 1:35
=====================
"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."

Dalam hidup ini, kita kerap dihadapkan kepada pola kegiatan berulang setiap hari alias rutinitas. Bangun pada jam yang sama, bersiap-siap dengan durasi yang sama, bekerja dalam panjang waktu yang sama dan kemudian pulang lalu beristirahat. Keesokan hari itu akan berulang kecuali di hari Minggu atau libur. Terkadang hari Minggu dan libur itu pun dipakai dengan rutinitas yang sama, seperti membawa anak-anak bermain atau beristirahat panjang seharian di rumah, atau bagi yang rajin beribadah, tentunya pergi ke gereja. Ada kalanya kejenuhan terhadap pola berulang ini muncul, dan itu wajar, karena kita memang diciptakan bukan sebagai robot terprogram. Dalam hal kerohanian ada kalanya kejenuhan pun muncul ketika kita berdoa, bersaat teduh dan bentuk-bentuk ibadah lainnya terus menerus dengan cara dan pola yang sama. Oleh karena itu ada saat dimana kita perlu keluar dari rutinitas dalam berhubungan dengan Tuhan. Dahulu di kota kelahiran saya ada banyak orang yang memilih untuk pergi ke luar kota dengan membawa gitar, tikar dan bekal. Mereka menempuh jarak sekitar satu jam untuk sampai di bukit kecil dimana mereka bisa bersama-sama memuji Tuhan sambil melakukan rekreasi bersama teman-teman. Mereka mengambil waktu untuk lepas dari rutinitas, mencari tempat dengan suasana berbeda yang lebih santai dan udara yang lebih segar. Menarik bukan?

Dalam dunia pekerjaan, sebuah perusahaan akan memberikan waktu cuti agar performa para pegawai bisa kembali segar setelah jenuh bekerja sepanjang tahun. Rutinitas dalam pekerjaan itu bisa menurunkan produktifitas dan kualitas, dan untuk itulah liburan atau setidaknya cuti diperlukan bagi orang yang bekerja. Sebuah rutinitas yang terpola dan dilakukan dengan cara yang sama terus menerus bisa membuat kita merasa bosan dan tidak lagi bersemangat dalam melakukannya. Rutinitas dalam berbagai aspek kehidupan bisa seperti itu, dan dalam hal kerohanian pun kita bisa mengalami hal yang sama. Bangun pagi dan bersaat teduh, sebelum mulai mengerjakan aktivitas sehari-hari rutin dilakukan banyak orang percaya yang mengerti pentingnya meluangkan waktu secara khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Kerinduan dan kasih kepada Allah akan selalu membuat saat teduh ini begitu dinikmati. Namun ketika kita terus rutin berulang-ulang setiap hari, terkadang kita bisa terjebak pada sebuah pola rutinitas, yang suatu ketika bisa membuat kita mulai merasa jenuh dan mengalami stagnasi dalam pertumbuhan iman. Tentu saja bukan saat teduhnya yang salah, karena itu merupakan sesuatu yang sangat baik dan penting untuk dilakukan, namun sifat manusia yang akan merasa jenuh ketika melakukan sesuatu secara rutin dan terpola bisa membuat kita mulai kehilangan sesuatu ketika kita mengambil waktu untuk berdoa. Jangan-jangan isi doa pun berisi perulangan yang persis sama. Lama-kelamaan berdoa bukan lagi didasari oleh kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi namun menjadi sebuah kebiasaan semata yang harus dilakukan dalam waktu yang sama. Karena itulah terkadang kita butuh saat-saat dimana kita perlu membuat variasi dalam bersekutu dengan Tuhan.

Sangatlah menarik jika memperhatikan bahwa Yesus beberapa kali terlihat memilih untuk menyepi ketika hendak berdoa. Ayat bacaan hari ini misalnya menggambarkan hal itu. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35). Atau dalam kesempatan lain di malam hari: "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Yesus mengetahui betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk sekitarnya atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi.

Bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya akan maksimal kita rasakan apabila konsentrasi kita tidak terpecah-pecah dengan apapun yang ada disekitar kita. Hiruk pikuk di sekitar kita bisa membuat itu tidak maksimal, kebosanan akibat rutinitas pun bisa menimbulkan gangguan yang sama dalam menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Yang penting adalah kita bisa menemukan tempat atau situasi dimana kita bisa berdoa dengan tenang tanpa gangguan apapun. Bersama Tuhan kita akan memperoleh kekuatan dan sukacita berlimpah yang akan mampu membuat kita lebih kuat dalam menjalani hari-hari yang melelahkan. "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa." (Mazmur 16:11). Itulah sebabnya kita harus bisa memaksimalkan waktu dimana kita bisa bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Yesus pun menggambarkan hal ini ketika mengajarkan bagaimana cara berdoa yang baik. "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6). Ini adalah hal yang baik untuk dicermati. Penting bagi kita untuk mencari sebuah tempat dan situasi dimana kita bisa konsentrasi penuh dalam berdoa tanpa harus terganggu oleh kegiatan yang berjalan di sekitar kita. Mungkin bukan kesibukan dan keributan di sekeliling yang mengganggu kita hari ini, namun rutinitaslah yang mulai membuat kita merasa bosan. Jika itu yang menjadi masalah, itu artinya sudah saatnya bagi kita untuk mencari terobosan atau variasi dalam meluangkan waktu bersama Tuhan.Apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok keluarga, persekutuan atau teman yang pergi ke atas bukit seperti yang saya ceritakan di awal mungkin bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Keluar dari rutinitas akan membuat kita kembali segar. When we start feeling dry, we need to break the routine. Kapan terakhir kali anda membaca alkitab bersama keluarga dan teman-teman di padang rumput yang indah atau sambil menikmati gemericik air menyegarkan kaki? Duduk di bawah pepohonan rindang dengan angin sepoi-sepoi, ditemani sebuah gitar dan makanan/minuman atau camilan yang dibawa dari rumah, lalu bersama-sama memuji Tuhan disana? Atau mungkin duduk di depan rumah, menikmati terbitnya matahari dan kicauan burung sambil merenungkan firman Tuhan? Ini semua bisa membuat kita keluar dari rutinitas yang bisa membuat jenuh, dan membawa kita kembali menikmati keindahan saat-saat bersama Tuhan dengan maksimal. Tinggalkan sejenak semua masalah pekerjaan, masalah hidup dan hal-hal yang mengganggu pikiran kita dan mari nikmati waktu bersama Tuhan dalam hadiratNya secara khusus. Setelah itu, libatkanlah Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan, karena Dia selalu ada beserta kita. Hindari kekeringan rohani yang bisa terjadi akibat kejenuhan dalam rutinitas yang tanpa sadar bisa membuat doa-doa kita hanyalah berupa unsur kebiasaan saja yang penuh dengan perulangan. Sehari cuma 24 jam, tidak banyak waktu yang bisa kita pakai untuk secara khusus berdialog dengan Tuhan dan mendengar suaraNya. Oleh sebab itu, manfaatkanlah waktu yang ada itu semaksimal mungkin agar bisa mengalami kehidupan penuh sukacita melimpah yang maksimal pula.

Ketika rasa jenuh mulai muncul, itu saatnya untuk keluar dari rutinitas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari