Rabu, 22 Agustus 2012

Gembira dalam Bekerja

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=============================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"

Tidak bekerja salah, sudah bekerja pun salah juga. Ini menjadi sikap begitu banyak orang. Ada saja yang dikeluhkan, mulai dari rendahnya jabatan, rendahnya gaji, berat-ringannya pekerjaan, jarak dari rumah, jam bekerja yang terlalu pagi atau malah sering lembur dan lain-lain. Tampaknya manusia semakin sulit saja untuk bersyukur atas apa yang ada pada mereka hari ini. Mereka lebih suka melihat apa yang tidak ada dan kemudian mengeluhkannya ketimbang mensyukuri dan memanfaatkan dengan baik apa yang ada pada mereka hari ini. Di sisi lain, ada seorang pekerja bangunan yang sering melintas di depan rumah saya yang selalu tersenyum ramah baik ketika hendak pergi kerja maupun pulang. Setiap saya bertemu dengannya ia selalu gembira. Anaknya yang masih balita sering menyambutnya di tengah jalan dan itu sering terjadi tepat di depan rumah saya. Berapa sih upah pekerja bangunan? Ia bercerita bahwa ia hanya memperoleh sekitar 50 ribu per hari setelah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar yang menuntut tenaga dan stamina luar biasa. Capai? Tentu saja. Sebandingkah upah yang ia peroleh dibandingkan tenaga yang ia kerjakan? Mungkin kita bisa berkata tidak. Tapi semua itu ternyata tidak menghalangi hatinya untuk tetap bergembira. Oleh karena itu selalu menyenangkan untuk ngobrol dengannya setidaknya sebentar, karena suasana hatinya yang positif itu ternyata bisa menular dan membuat saya ikut merasakan sebuah sukacita pula.

Memiliki suasana hati yang gembira dalam bekerja itu sangatlah penting. Selain kinerja kita bisa menjadi lebih baik dan maksimal, itu juga akan membuat kita jauh dari berbagai tekanan psikis, stress atau hal-hal lainnya yang bisa mengganggu kesehatan atau bahkan mengganggu orang-orang yang ada di dekat kita. Bayangkan seorang ayah yang terus menggerutu sepulang kerja, bersikap kasar atau ketus terhadap istri dan anak-anaknya, bagaimana kita bisa mengharapkan sesuatu yang positif ada di dalam keluarga itu? Soal gembira tidaknya dalam bekerja itu tergantung dari suasana hati kita, dan bukan tergantung dari situasi, kondisi, tingkat, besar gaji dan sebagainya dalam pekerjaan. Alkitab pun menyebutkan betapa pentingnya bagi kita untuk bergembira dalam bekerja. Lihatlah apa yang dikatakan dalam kitab Pengkotbah berikut ini:  "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Begitu pentingnya hal ini sampai-sampai dikatakan bahwa tidak ada yang lebih baik ketimbang bergembira dalam pekerjaan kita.  Sebab jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, apa yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan? Emosi? Adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu atau mengecewakan orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk memberi hasil terbaik atas segala sesuatu yang kita lakukan.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya. Mungkin juga ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik. Tetapi hari ini ijinkan saya mengingatkan bahwa atas itu semua kita wajib memanjatkan rasa syukur kita kepada Tuhan. Berhentilah menjadi orang yang sulit atau bahkan tidak tahu berterima kasih, dan gantilah itu dengan sebentuk hati yang dipenuhi ucapan syukur. Itulah yang akan mampu membuat kita untuk tetap bersukacita tanpa terpengaruh kepada keadaan yang tengah terjadi saat ini. Kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Meski apa yang anda lakukan saat ini terasa tidak berarti atau terlalu kecil, siapa yang bisa menyangkal bahwa Tuhan sanggup melakukan sesuatu yang luar biasa atas itu? Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Itu tugas kita, dan Tuhan pun akan memberkatinya secara berlimpah-limpah apabila kita menerapkan hal itu. Kemudian kita harus tahu pula bahwa kita tidak akan pernah bisa bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan apabila kita memiliki hati yang terus mengeluh tanpa ada rasa gembira sedikitpun didalamnya. Sekali lagi, tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Dari bapak buruh bangunan kita bisa melihat bahwa meskipun profesinya bagi sebagian orang dianggap rendah, namun ia bisa tetap bergembira dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Itu sering kita lihat, bukan? Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan setitik cinta pada pekerjaan kita, mengucap syukur atasnya, lalu memberikan yang terbaik dari kita atas pekerjaan itu? Disanalah kita akan melihat bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati pekerjaan kita secara luar biasa. Marilah mulai belajar untuk bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan. Bersyukurlah, dan bergembiralah!

Ucapkan syukur dan bergembiralah atas pekerjaan yang anda miliki saat ini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari