Selasa, 04 Maret 2008

Kulihat Pelangi - tentang pengharapan


KULIHAT PELANGI – tentang pengharapan

Ini kisah pengalaman yang hampir lupa saya ceritakan, padahal paling berkesan di hati dan ingatan. Saat boat yang kami tumpangi menuju Sikabaluan melewati setiap gelombang tinggi yang berlapis-lapis, nyali yang sedari awal ciut mulai tenang ketika saya menatap lekat-lekat pak Pir dan Immanuel, sopir boat yang dengan wajah basah kuyub tetap tersenyum meyakinkan kami bahwa semuanya akan aman-aman saja meski jelas-jelas pantat perahu berbunyi keras ketika menghentak di atas permukaan laut. Sempat juga saya memikirkan yang bukan-bukan…”andai hidup kami berakhir di sini, apa jadinya? Dua sampai tiga kali kami harus memutar haluan boat memasuki perairan di pulau-pulau kecil untuk menghindari gelombang yang besar. Menurut Wira, teman saya…ini selalu dilakukan setiap kali mereka berhadapan dengan gelombang tinggi. Tetapi setiap kali keluar lagi dari pulau-pulau kecil itu dan kembali ke laut lepas, rasanya keder lagi..
Di antara nyali yang masih keder dan juga kepercayaan bahwa everthing gonna be okay saya baru menyadari bahwa ada pelangi yang tergambar jelas di laut, cekung dan seolah-olah terus bergerak mengikuti boat kami. Rasa takut yang berlebihan membuat saya tidak menyadari betapa indahnya pelangi, sebuah realitas yang bagi saya tidak cukup dijelaskan sebagai realitas fisis saja. Saya memilih melihatnya sebagai tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan bagi kami. Saya percaya Tuhan menyediakan akhir yang indah bagi hidup saya….Kalaupun hidup saya berakhir di situ, saya tetap ditemani…Pelangi yang memantul jelas di laut yang biru hari itu meyakinkan saya bahwa iman adalah pilihan yang selalu dirayakan dan diperbaharui setiap saat. Mempercayakan diri kepada seorang pribadi yang menyambut dan menerima kita tanpa syarat sangatlah membahagiakan. Dan saya kemudian merasa tidak pernah selama hidup setenang ketika duduk di atas boat memandangi terus pelangi, memainkan jemari saya pada air laut dan memperhatikan kawanan burung yang berputar-putar mencari ikan.

Merenungkan kembali pelangi, saya malah makin mengerti apa artinya pengharapan. Harapan yang saya maksud tidak sama dengan harapan seperti ketika mengharapkan gaji atau pangkat yang naik; tidak sebanding pula dengan keinginan untuk mendapatkan jejaka ideal dst..nya. Harapan tidak sesederhana perwujudan yang belum tuntas dari penjumlahan keinginan-keinginan kita walaupun kita tetap bisa mendefiniskannya demikian. Erich Fromm pernah nulis bahwa berharap berarti siap selalu menanti saat keinginan kita terwujud, dan tidak menjadi patah arang ketika keinginan itu tidak berhasil diwujudkan.
Hope means to be ready at every moment for that which is not yet born, and yet not become desperate if there is no birth in our lifetime.
Lalu apakah itu berarti kita akan terus tinggal dalam kabut ketidaktahuan? Arti pengharapan seperti ini tidak cukup memuaskan kita. Kita bisa tetap terus mengajukan pertanyaan, lalu apa yang bisa tetap menjamin bahwa kita tetap tidak patah arang? Bukankah harus ada sesuatu yang tetap menjamin bahwa harapan itu bukanlah harapan yang palsu?

Menghadirkan lagi ingatan saya akan pelangi, membantu saya untuk yakin bahwa jaminannya adalah janji. Harapan selalu bersanding dengan janji. Dan untuk memahami janji/promise, kita mesti sadar bahwa harapan sejatinya adalah buah relasi, buah perjumpaan dengan Allah - pribadi yang mengasihi kita tanpa syarat. Jadi bukan buah dari keinginan-keinginan kita. Harapan menjadi palsu justru karena harapan itu sebenarnya adalah proyeksi kebutuhan-kebutuhan dasar-egoistik kita akan makan, minum, rasa aman, sukses, dst. Kita putus asa, dan bisa gantung diri ketika tidak mendapatkan semua itu juga justru karena dasar harapan kita lebih pada kebutuhan untuk survive; bukan pada relasi kita dengan Allah di mana akhirnya kita bukan lagi survive tapi mau menyerahkan dan mempercayakan diri pada Sang Maha Cinta.
Harapan bukanlah terbatas pada kerinduan akan hidup yang lebih baik, hidup kekal dan seterusnya. Jauh lebih dari itu, harapan mendorong kita menemukan bahwa dalam keadaan sesulit apa pun sekarang ini - sebagaimana halnya ketakutan-ketakutan saya di atas perahu - janji Yesus bahwa “Aku menyertai kalian sampai akhir zaman” (Mat.28:20), bukanlah janji palsu. Dan pelangi yang saya pandangi hari itu memang mengigatkan saya akan kebenaran ini.
Kita ingat bagaimana Maria Magdalena disapa begitu personalnya oleh Yesus ketika ia masih larut dalam kesedihan karena kematian sang Guru. Saya yakin Tuhan yang sama, yang karena cintanya telah menderita, wafat dan bangkit, memanggil kita, anda dan saya, masing-masing dengan nama kita…Fitri, Glenn, Montie, Ignaz, Vea, Rita, Jonal, dst… Harapan itu mengajak kita terus berikhtiar menemukan bahwa sejak sekarang sebuah dunia baru sudah hadir justru karena kita tetap memilih untuk percaya, memilih untuk berharap dan akhirnya memilih mengasihi tanpa syarat sebagaimana Dia yang telah menderita dan wafat mencintai kita.
Di atas boat yang akhirnya membawa kami dengan selamat ke Sikabaluan saya mensyukuri semua pengalaman ini, mensyukuri anugerah panggilan Tuhan untuk masuk dalam barisan para pencinta yang mau mengubah dunia ini menjadi satu keluarga. Pelangi itu hilang bersamaan dengan air biru yang berganti cokelat ketika kami memasuki muara Sikabaluan… yah…Tuhan sekarang menjadikan saya dan tentu saja anda yang membaca ini pelangi-pelangi lain yang mau membawa pengharapan bagi orang lain.

Saya yang selalu mendoakan anda di masa prapaskah ini

ronald

“Janganlah kamu berdukacita seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan” (I Tesalonika 4:13b)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari