Minggu, 09 Maret 2008

Bara Api Cinta

Bara Api Cinta
Gambaran tentang penghakiman terakhir tidak pertama-tama mengedepankan figur Allah sebagai penghakim dan eksekutor meskipun. Sebaliknya yang mau dikatakan adalah bahwa Allah yang sungguh mencintai kita, tidak mencintai kita secara buta; seolah-olah tidak peduli dengan apakah kita suka atau tidak suka, menolak atau mencintai Dia. Menolak Dia secara definitif samahalnya menolak untuk dicintai dan diselamatkan. Inilah arti neraka sesungguhnya. Sebaliknya, jika kita dalam segala kerapuhan, tetap mencintai Dia, kita mengalami surga yakni persekutuan kekal dengan-Nya. Maka saya lebih suka dengan istilah pengadilan terakhir (last judgement). Istilah ini lebih menunjuk pada kualitas puncak perjumpaan kita dengan Allah yakni bahwa Allah mencintai kita secara adil.
Kita adalah peziarah di dunia. Bagi kita orang beriman, peziarahan itu bukanlah pengembaraan tanpa tujuan dan makna; seakan-akan kita tidak pernah tahu apa yang kita tuju, apa yang kita cari. Sejatinya, kita berziarah menuju kebenaran, menuju perkembangan hidup kita yang paling penuh. Saya tertarik dengan apa yang digarisbawahi Paus Benediktus dalam ensiklik Spe Salvi. Di situ dia mengatakan bahwa pada dasarnya di kedalaman hati setiap manusia, ada hasrat dan kerinduan akan kebenaran walaupun betapa rapuhnya kita. Akan tetapi, dalam pilihan konkret hidup kita setiap hari, selalu kita berkompromi dengan kejahatan – yang kebanyakan membuat cinta kita tidak murni (cf.artikel 46). Misalnya, meskipun saya betul-betul mau memaafkan teman yang melukai hati saya, tapi tetap dalam hati kecil menuntut agar dia yang terlebih dahulu datang meminta maaf…Di balik pikiran semacam ini, kita pada dasarnya lebih menuntut dicintai daripada mencintai. Contoh lain, kita mengatakan sungguh mau melayani sesama dan memang cukup sering setiap bulan kita menyisihkan beberapa dari penghasilan kita untuk sumbangan dana kemanusiaan; atau sekali seminggu kita aktif di lingkungan. Akan tetapi, tidak jarang kita cukup sadar bahwa kita diam-diam minta diakui dan diperhitungkan. Inilah contoh betapa kita mencintai tidak murni.
Lalu apa jadinya kita -yang ‘tidak murni’ dalam mencintai ini- ketika berhadapan dengan Allah yang ‘mengadili’kita? Kita akan dimurnikan. Itulah jawabannya. Kita akan melalui ‘api yang memurnikan’. Rasul Paulus dalam arti kiasan mengungkapkan realitas ini dalam surat pertamanya kepada umat Korintus : “Hari Tuhan akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu “ (1 Kor.3:13b). Selanjutnya dalam sejarah Gereja Katolik di Barat pada masa lampau, maksud Paulus ini secara salah kaprah dikembangkan dalam doktrin/ajaran tentang Purgatory atau Api Penyucian. Yang salah kaprah bukan namanya, melainkan kesan yang pada waktu itu timbul dan ditekankan. Saat itu realitas api penyucian lebih dititikberatkan pada soal tempat dan materi api daripada kualitas yang mau disampaikan dengan gambaran ‘api’. Kualitas yang dimaksud adalah pemurnian; cinta Tuhan yang memurnikan hidup kita.
Kita peziarah dan jalanan yang sudah lama kita tempuh telah banyak membuat tubuh kita kotor ‘berdebu, bau berkeringat’. Kita membawa semuanya itu, yakni ketamakan, iri hati, kepentingan diri, dengki yang sering membuat kita tidak mencintai dengan sungguh.
Api itu adalah Kristus sendiri yang telah mencintai kita sehabis-habisnya. Paus mengatakan bahwa “api kasih itu membakar sekaligus menyelamatkan; meninggalkan perih tapi perih cinta (a blessed pain). Perjumpaan dengan Kristus mentransformasi dan membebaskan kita dan menyempurnakan cinta kita yang rapuh sehingga kita betul-betul menjadi diri kita dan total menjadi milik Allah. Itulah arti keselamatan". Kita dimurnikan oleh kasih-Nya yang tanpa batas sehingga kita betul-betul bersatu dengan Allah.
Dan akhirnya, menyambung apa yang sungguh digarisbawahi bapa suci, pengadilan terakhir akhirnya adalah saat pemenuhan pengharapan kita. “Sebab pengadilan itu merupakan rahmat dan pada saat yang sama juga perlakuan Allah yang adil. Allah yang menjadi manusia dalam diri Kristus menyatukan kedua hal tadi yakni keadilan dan rahmat” (art.47). Dia datang mengusahakan dan mengundang kita mengerjakan keadilan di bumi seperti di dalam surga. Inilah alasan kenapa kita mesti memperjuangkan keadilan hingga saat ini. Di pihak lain, dengan rahmat cinta-Nya, Dia memungkinkan kita berharap bahwa Allah tetap mau menerima dan memurnikan kita dengan cinta-Nya meski kita tidak sungguh mencintai, tidak sungguh mengusahakan keadilan. Trims sekali lagi untuk Yvonie, yang mengilhami semuanya ini….Semoga dalam banyak hal kita semua terus bertekun untuk dari hari ke hari makin murni mencintai.
Saya yang selalu mendoakan anda semua!
ronald,s.x.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari