Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Lama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Lama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

Renungan Tahun Baru - Mengandalkan Tuntunan Tuhan


Mengandalkan Tuntunan Tuhan Dalam Memasuki Tahun yang Baru


Beberapa saat lagi kita akan melewati tahun 2012 dan memasuki tahun yang baru;2013. Tentunya banyak hal yang telah kita lalui dan rasakan di sepanjang tahun 2012 ini. Suka maupun duka, tangis dan juga tawa, kesuksesan ataupun kegagalan, semuanya pasti pernah kita alami dalam menjalani tahun 2012 ini. Sudah menjadi lazim ketika akan memasuki tahun yang baru kita selalu membuat rencana-rencana maupun resolusi untuk menatap tahun di depan yang akan kita lalui. Sebagai orang Kristen, kita diingatkan oleh Alkitab bahwa dalam setiap rencana dan harapan yang kita buat hendaklah kita melibatkan dan mengandalkan Tuhan Allah, karena seperti yang tertulis dalam Alkitab :
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita..." (Ulangan 29:29)

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat kita memasuki hari esok di tahun yang akan datang, oleh karena itu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, hal yang utama adalah menaruh segala harapan kita dan selalu mengandalkan DIA dalam segala hal. Mengapa kita harus menaruh pengharapan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita ?
"Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (Yeremia 17:7-8)

"Sebab AKU ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-KU mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (Yeremia 29:11)

Dari kutipan ayat-ayat di atas jelaslah bagi kita bahwa orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan hidupnya pasti akan selalu diberkati, disertai dan dilindungi Tuhan.

Ada banyak pengalaman dan kejadian yang telah kita lalui di tahun 2012 namun satu yang pasti bahwa Tuhan Allah selalu bersama dengan kita. Tuhan Allah tidak berubah, baik kemarin, hari ini dan selamanya. Kasih dan Anugerah-NYA memberikan kekuatan serta pengharapan untuk meneruskan langkah kita ke depan. Merayakan tahun baru 2013 akan semakin asyik dan terasa begitu indah apabila kita merasakan betapa Tuhan Allah mencintai kita dan oleh karenanya memasuki tahun yang baru ini patutlah kita menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan Firman-NYA sebaliknya harus hidup menurut Firman-NYA dan selalu menaruh pengharapan dan mengandalkan DIA dalam setiap langkah hidup kita niscaya hidup dan kehidupan kita di tahun yang baru akan diberkati oleh-NYA. Amin.
Selamat Tahun Baru - Imanuel !


Senin, 24 Desember 2012

Kegagalan Yang Mahal

Ayat Renungan Harian Kristen hari ini :
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa saja yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Tahun 2001, aku baru saja lulus informatika perguruan tinggi terkenal di surabaya, dan setelah kelulusan, aku mempunyai keinginan yang sangat keras untuk pergi ke amerika untuk bekerja. Aku berusaha dengan segala cara agar keinginanku ini terwujud. Aku banyak mencari informasi dan rela bolak balik Sidoarjo-Surabaya sampai aku sudah tidak kuat lagi menaiki sepeda motor. Aku rela membayar biaya yang sangat mahal untuk agen/calo visa. Cita-citaku memang ingin mempunyai penghasilan besar di Amerika, mengingat aku tidak mempunyai usaha keluarga untuk diteruskan. Tidak seperti rata-rata teman-temanku yang hampir semua mempunyai usaha keluarga sendiri. Bila aku bekerja di perusahaan, gaji yang kuterima hanya sekitar 1 jt (th 2001), memang cukup untuk sendiri, tapi tidak untuk masa depan meskipun tiap tahun naik 10%. (saat itu aku menunggu wisuda aku sambil bekerja di bank selama 9 bln). Biaya hidup yang tinggi membuatku harus berpikir untuk mencari penghasilan yang lebih besar. Jika dibandingkan dengan luar negri, memang sangat jauh. Aku pernah berpikir seminggu waktuku kuhabiskan di Indonesia, berarti aku telah membuang 5 jt, jika bekerja di luar negri. 

Dengan pikiran tiap minggu kehilangan kesempatan memperoleh 5 jt, aku berusaha keras untuk bisa bekerja di luar negri. Aku berusaha keras meminta persetujuan orang tua, dengan janji2ku. Akhirnya dengan berat hati, orang tua menyetujui. Tinggal masalah visa yang terberat. Karena aku harus interview langsung, dan untuk mendapat visa Amerika memang tidak mudah. Selain itu aku harus memalsu beberapa dokumen. Selama ini aku bertanya2 pada Tuhan, apakah yang kulakukan ini benar, apakah Dia setuju dengan rencanaku ini, apakah Dia juga ikut mendukung ? Akupun sempat berjanji2 pada Tuhan apabila aku berhasil. Selama itu aku merasa tidak mendengar jawabanNya, atau aku yang tidak bisa mendengarNya saat itu. Memang banyak kesulitan aku temui, banyak penghalang yang muncul dalam pengurusan visa, tapi aku “memaksa” Tuhan dengan berdoa “Tuhan, ijinkanlah aku berangkat !”. Aku berpatokan kalau memang visaku gagal berarti aku tidak boleh berangkat. Banyaknya penghalang dalam visa aku artikan sebagai ujian dari Tuhan untuk menguji kesungguhanku. Aku berusaha mencari solusi dalam tiap proses sampai akhirnya visaku benar2 disetujui. Alangkah gembiranya aku saat itu, usahaku selama ini tidak sia-sia, aku bisa berangkat ke Amerika dan Tuhan sudah tunjukkan ijinNya, berarti Tuhan setuju. Aku senang sekali, meskipun bayanganku nanti aku akan berhadapan dengan kerja keras dan penderitaan, tapi aku optimis aku akan sanggup menghadapinya. Akhirnya aku berangkat ke Amerika. Banyak hal kualami mulai dari keberangkatan, karena aku berangkat sendirian. 

Di Amerika aku mulai hidup mandiri. Aku mulai mengalami apa itu penderitaan. Meskipun aku telah banyak mempersiapkan diri, mulai timbul banyak masalah. Aku hidup di dunia yang menyeramkan. Hari demi hari kulalui, “Aku harus sanggup bertahan!” Dengan tangis air mata, aku berpikir “Aku tau bakal seperti ini, aku harus maju terus!” Dengan tekadku aku berhasil penyesuaian bertahan dalam hal makanan dan pekerjaan fisik. Setiap hari aku makan seadaanya, sampai pernah harus disumbang sosis 2 irisan kecil. Tapi aku bisa menyesuaikan dengan makanan dalam kondisi yang memalukan. Tak masalah bagiku. Aku sudah berjuang untuk visa, tak ingin usahaku sia-sia. Begitu juga dengan kerja fisik, badanku telah pegel linu, kaki kram karena bekerja harus berdiri, sampai demam, ditambah lagi suhu musim dingin saat itu 5-10o C. Lama-lama badanku terbiasa, kakiku sudah kuat berdiri berjam-jam lamanya.
Sebagai seseorang yang mencari uang, apa yang diperlukan sudah cukup, yaitu makanan, tempat tinggal, dan pekerjaan. Sudah cukup untuk bertahan di Amerika. Tapi ternyata aku salah perhitungan. Satu hal yang membuatku sangat menderita adalah rasa “kesepian”. Hatiku benar-benar “kosong”. Aku terlalu menganggap remeh hal ini. Aku optimis bisa mengatasinya saat itu karena aku berpikir apalah artinya masalah kecil ini. Ternyata tidak berhasil. Aku mendapat beberapa teman, tapi hatiku tetap kosong. Aku menjadi gelisah, apa yang salah ? Hidupku sudah berkelanjutan dan bisa mendapat uang, tapi ada sesuatu yang mencambukku terus menerus dan aku kesakitan. Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mengisinya dengan bekerja. Aku terus menanamkan pada diriku bahwa tujuanku ke Amerika adalah mencari uang. Aku bahagia sekali setiap aku menerima gajiku. “Inilah hasil usahaku” Perjuanganku dari awal tidak sia-sia, tapi kesakitan itu terus menyerang. Tiap malam aku menderita, aku berusaha untuk tidak emosional dan terlalu memikirkan hatiku, tapi aku tidak bisa. Aku ingin lari dari kenyataan, tapi kemana aku harus berlari, aku bingung karena arah pelarianku tidak tepat, aku tau itu. Tapi aku tidak ingin kesakitan lebih lama lagi, bagaimana cara mengisi kekosongan hati ini, aku menjerit, aku menangis, aku berseru pada Tuhan setiap hari, setiap malam, sampai aku kecapekan dan akhirnya tertidur. Dalam malam2 yang sangat dingin itu aku meratap, hari demi hari, sampai akhirnya aku menyerah. Ternyata hatiku lebih unggul daripada ego dan logikaku. 

Suatu minggu aku ke gereja, bagaikan disambar petir aku mendengar kata-kata kotbah “Jangan sampai dollar menjadi kutuk dalam hidupmu !” Aku tau bahwa saat itu Tuhan sedang berbicara padaku. Aku sedih, aku merasa Tuhan tidak berada di pihakku. Bukankah selama ini Tuhan tolong aku, Tuhan setujui permohonanku, visaku. Untuk apa semua perjuangan berat itu jika aku harus pulang kembali ke Indonesia. Kenapa kalau memang Tuhan melarang aku berangkat ke Amerika, kok tidak dari awal-awal saja ? visaku gagal kan beres, aku tidakjadi berangkat ?! Aku merasa Tuhan mempermainkan aku. Tapi saat itu juga aku melihat Dia berdiri begitu Agung dihadapanku, begitu Mulia, Maha kuasa. Dia memandangku dengan tersenyum dan penuh kasih. Aku tau Dialah yang berencana atas hidupku. Aku tau apa maksudNya. Dia tunjukkan kalo aku sendirilah yang memaksa untuk ke Amerika, dengan sok yakin. Tuhan telah tunjukkan kelemahanku. Ternyata aku tidak sanggup mengatasi kekosongan hatiku. Aku telah gagal. Tapi Dia tetap mengasihiku. Dia tidak membiarkanku bertambah hancur. Dia telah kabulkan permintaanku ke Amerika yang telah aku minta dengan paksa, meskipun berakhir dengan kegagalan. Mengapa ? Karena Dia begitu mengasihi anakNya. Dia tahu kalau aku tidak akan sadar kalau belum mencobanya sendiri. Aku yang keras kepala ini. Dia tahu kalau aku akan belajar sesuatu dari pengalaman ini. Dengan berat aku memutuskan pulang. Aku merasa di Indonesia buahku akan lebih manis rasanya. Pengalaman yang mahal ini membuatku belajar untuk menerima apapun keputusanNya, meskipun tidak sejalan dengan keinginanku yang bagiku rasional. Tapi ternyata Dia lebih mengerti.
 
Saat ini, meskipun penghasilanku di indonesia hanya cukup untuk diriku sendiri, aku tidak ingin mengkuatirkannya karena aku tau Tuhan ada di pihakku, dan Dia berencana atas hidupku, Aku yakin dia punya rencana lain untuk ku di masa depan. Dia pegang kendali, dan dalam kendaliNya kita akan tampak lebih indah.
Seperti ada tertulis :
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa saja yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” - Yeremia 29:11

-------------------------------------------
Dikirim oleh : JHWDGP - angel*****@yahoo.com

Senin, 05 November 2012

SUPAYA KAMU HIDUP



Supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. (Ulangan 4:1b)

Salah satu masalah utama yang dihadapi orang Israel adalah bagaimana mereka hidup dalam keatiaan kepada Tuhan. Bagaimana mereka dapat menahan diri dari godaan untuk mengikuti allah lain yang disembah oleh bangsa lain di sekitar mereka. Saat mereka hidup berdampingan dengan bangsa lain mereka mudah tergoda untuk mengikuti penyembahan berhala dan menyimpang dari iman mereka.

Ketetapan-ketetapan Tuhan sering mereka lupakan dan digantikan dengan ketetapan-ketetapan dewa-dewa lain. Untuk itu mereka diingatkan oleh Musa sebelum melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian.

Mereka diingatkan untuk setia dan memelihara ketetapan Tuhan. Tujuannya agar mereka dapat hidup di negeri yang diberikan Tuhan bagi mereka. "Supaya kamu hidup" yang diungkapkan Musa bukan sekedar dalam artian hidup-bernafas dan jantung yang berdetak tetapi lebih dalam dari itu, yakni agar mereka memiliki hidup dan kehidupan mereka dengan segala mutunya. Bukan sekedar bernyawa tetapi memiliki kebahagiaan, memiliki semangat dan keakraban dengan Tuhan. Agar mereka dapat menikmati kehidupan yang penuh berkat di tanah perjanjian.

Segala mutu kehidupan dapat mengalir ke dalam kehidupan kita jika kita pun menjaga dan memelihara ketetapan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita akan merasakan keindahan hidup ketika kita mengasihi Tuhan dan sesama kita, ketika kita bekerja keras dan jujur, ketika kita menolong sesama, ketika kita melakukan segala tugas dengan penuh tanggung jawab.

Walaupun jalan hidup kita tidak selamanya akan terus indah namun mutu kehidupan dan penyertaan Tuhan akan selalu mengikuti kita yang memelihara ketetapanNya. Marilah... dengan memohon kekuatan dari Tuhan, kita berusaha untuk selalu menjalankan dan memelihara ketetapa-ketetapanNya di dalam hidup kita dimanapun kita berada. Amin!

Kamis, 12 April 2012

Menikmati Hadirat Tuhan

Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini: : Keluaran 16
“Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35)

Kisah Tuhan menurunkan manna kepada Bangsa Israel merupakan kisah di mana kita pada hari ini belajar untuk mempercayai bimbinganNya hari demi hari. Ketika kita bangun di pagi hari, apakah yang ada di benak kita: pekerjaan yang bertumpuk, beban-beban sepanjang hari, urusan-urusan yang masih terbengkalai? Pernakah terpikir oleh kita untuk memulai hari baru dengan merenungkan kasih Yesus yang telah berkorban untuk kita? Saat orang Israel bersungut-sungut, Tuhan menurunkan manna di perkemahan orang Israel, dan tidak ada satu orangpun yang kekurangan. Dari firman Allah, kita mengenal Yesus sebagai roti hidup, pada hari ini Ia ingin memberikan damai, kasih karunia, penghiburan dan sukacita kepada kita(dengan kata lain menurunkan manna), tetapi bila kita lebih memikirkan kepentingan-kepentingan kita sendiri- kita melibatkan Tuhan hanya untuk membuat program-program kita berhasil atau dengan kata lain Tuhan bukan yang terutama dalam hidup kita, roti itu akan berulat dan berbau busuk. Kita menjadi mudah marah kepadaNya saat kita malah terjebak dalam kesulitan atau bahkan apa yang ingin kita raih tidak tercapai.

Kekhawatiran juga menyebabkan kita tidak dapat memuliakan namaNya. Orang Israel yang kuatir tidak akan mendapat manna keesokan harinya, mengambil jatah yang melebihi kebutuhannya sehari, dan hasilnya roti itu juga tidak dapat dimakan. Saat kita tenggelam dalam kekuatiran, kita cenderung meragukan pimpinan Tuhan, dan karenanya kita mengambil langkah apa yang menurut pikiran kita benar dan masuk akal. Akibatnya, kita mudah sekali kehilangan sukacita, damai, penghiburan dan kasihNya yang sebenarnya sungguh berlimpah dan diberikan cuma-cuma bagi kita. Sesungguhnya kasih karunia Tuhan baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23), dan pemeliharaanNya selalu tersedia bagi kita, anak-anakNya. Namun, kita akan menganggap Tuhan jahat dan tidak sayang pada kita bila hati kita hanya terisi oleh kesibukan-kesibukan duniawi serta tidak bersandar penuh kepadaNya.

Kiranya kita dapat selalu menikmati hadirat Tuhan dalam setiap pergumulan yang kita hadapi. Seperti manna yang rasanya manis, kasih Yesus pada kita juga sangatlah manis. Semakin kita bertekun di dalamNya, hidup kita semakin lama semakin akan terasa manis. Ikutlah Yesus dan berpeganglah pada firman Tuhan agar jangan sampai hidup kita menjadi tawar, dan berarti kita telah menyia-nyiakan kematian Yesus di kayu salib. Amin!

__________________________
Dikirim oleh : Kumalawaty Sundari

Minggu, 18 Maret 2012

DOSA KESOMBONGAN

YA TUHAN, AMPUNILAH DOSA KESOMBONGAN KAMI

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Yehezkiel 26:1-21

Pada hakikatnya, ada tiga perkara pada umumnya yang menjatuhkan manusia, yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri alias "sombong". Kesombongan... saudara, adalah salah satu penyakit qalbu yang paling mematikan. Penyakit ini membuat seseorang terlempar jauh dari hakikatnya sebagai manusia yang sesungguhnya. Blaise Pascal dalam salah satu ungkapannya pernah berkata bahwa salah satu sifat manusia adalah: “orang berdosa yang merasa dirinya benar.” Kesombongan tidak lain merupakan ‘pendewaan terhadap diri sendiri’, di mana seseorang menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang sepatutnya.

Berbicara tentang kadar kesombongan, ada satu bentuknya yang terkadang sering dilakukan, walau tanpa disadari, yaitu meremehkan orang lain. Tanpa sadar kita menganggap orang lain masih kalah hebat dari kita dan menganggapnya tidak mungkin bisa menyaingi atau menandingi kita, baik itu dalam segi ilmu, kepemilikan harta benda, rupa fisik, keterampilan dan lain-lain. Meremehkan orang lain, merupakan bentuk kesombongan yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Walau terkadang cara operasinya terkadang kurang terlalu kentara. Bisa jadi, tanpa suara istilahnya. Ya, terkadang bisikan-bisikan setan mempengaruhi agar kita meremehkan orang lain dan merasa diri ‘lebih segala-galanya’. Lebih dari orang lain tentu saja!

Terhadap dosa kesombongan, Alkitab mencatat betapa tegas dan keras tindakan yang Allah lakukan untuk menentang dosa tersebut. Akibat yang dialami pelakunya benar-benar mendatangkan kehancuran. Allah menentang orang yang sombong dan Allah pasti akan menghukumnya. Penyakit semacam ini saudara, juga menghinggapi bangsa Tirus seperti yang dicatat dalam nas ini. Lihatlah akibatnya! Apa bentuk kesombongan mereka hingga mereka dimurkai oleh Tuhan? Ini saudara! Tirus bersukacita atas kejatuhan Yerusalem karena percaya bahwa mereka akan memperoleh keuntungan keuangan karena Yehuda selaku saingan kini sudah tidak ada. Tirus adalah bangsa yang kuat dalam kelautan dan perniagaan. Ia menjadi panutan bangsa-bangsa pesisir dan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain. Keinginan Tirus akan kekayaan tanpa memikirkan penderitaan yang diakibatkan olehnya pada orang lain mendatangkan hukuman Allah (bdk. Yes. 23:1-18).

Dalam kesombongannya Tirus melihat kehancuran umat Tuhan dengan rasa syukur. Mereka malah sesumbar untuk menjadikan Yerusalem jarahan mereka (ayat 2). Mereka menjadi serakah! Justru keserakahan Tirus menjadi bumerang buat mereka (ayat 5). Tuhan melakukan pembalasan. Tidak satupun dari yang mereka megahkan akan tinggal tegak, semua akan dihancurkan dan dijarah bangsa lain. Semua ini terjadi agar mereka tahu bahwa Tuhan, Allah orang Israel, adalah Allah yang menjaga umat-Nya. Dan bayangkan saudara, akibat hukuman dosa kesombongan yang mereka terima, satu kota yang megah, kuat, dan kaya (ayat 12; bdk. Zak. 9:3) serta tersohor akan menjadi reruntuhan, bagai kota mati. Bahkan kota itu akan tidak lagi dikenal orang karena ditelan oleh daratan bumi. Saudara, ketika manusia dihinggapi oleh sifat kesombongan, maka biasanya ia tidak lagi akan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Bahkan tidak jarang, Allah pun diremehkannya. Dianggapnya tidak ada sama sekali. Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya seolah-olah ‘bebas’ dari Allah, ‘merendahkan’ Allah, karena disadari atau tidak, menganggap diri mampu menyamai Allah.

Akibat dari Kesombongan

Ada begitu banyak orang di dunia ini, yang mengalami kegagalan, kehancuran, akibat dari kesombongan itu sendiri. Merasa yang paling hebat, paling pintar, paling cerdas, paling kaya, paling kuat, tidak terkalahkan, atau apapun, yang pada akhirnya membuat dia berhenti berproses, tanpa disadari. Sedangkan kehidupan itu sendiri sangat dinamis, ada kalanya kita diatas, dan ada kalanya pula kita berada dibawah. Dan ketika kita berada diatas, seolah kita adalah rajanya, penguasanya, sehingga bisa dengan mudah mentertawakan orang lain, merendahkan orang lain, menghina, dan dengan segala keburukan lainnya. Akan tetapi ketika kita memasuki aliran kebawah, maka kita akan mengeluh, merasa yang paling susah, mengemis bantuan kepada orang lain, menyesal, atau bahkan hancur berkeping-keping. Kesombongan membuat manusia angkuh dan serakah. Tidak jarang diikuti sikap ketakaburan. Ingin menguasai segalanya. Ingin menaklukkan segalanya dengan cara apa saja. Lihatlah contohnya, Adolf Hitler dengan ambisinya dan keangkuhannya yang membuat dia mendapatkan kehancuran total.

Cara Menjauhi Dosa Kesombongan

Saudara, kita telah melihat betapa Allah sangat membenci kesombongan serta akibat yang diterima oleh para pelakunya. Ketika kita menyadari siapa diri kita sebenarnya di hadapan Tuhan, apakah mungkin masih ada hal yang dapat kita banggakan bahkan sombongkan? Sebagai umat Tuhan kita perlu memerangi dan menjauhi dosa kesombongan ini. Bagaimana caranya? Bagaimana cara kita memerangi dan menjauhi dosa kesombongan? Saudara, hal penting yang harus kita lakukan adalah dengan mengenakan sifat kerendahan hati (Ef. 4:2; Kol. 3:12). Kita dapat menjadi seorang yang rendah hati apabila kita dapat mengenal diri kita sendiri. Seorang bernama Bernard berkata: “Sifat rendah hati itu adalah sifat yang membuat manusia sadar akan ketidaklayakannya, sebagai akibat dari pengenalan yang paling dalam akan dirinya sendiri.” Ya Tuhan, ampunilah dosa kesombongan kami, entah yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari... AMIN.
_______________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Minggu, 11 Maret 2012

Fokus pada Kasih dan Karunia Tuhan bukan pada Masalah

Ayat Renungan Harian Kristen hari ini :

"Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya" (Mazmur 34:4).

Selama berabad-abad, jauh sebelum penemuan kacamata, orang menggunakan kaca pembesar untuk membaca cetakan yang berhuruf kecil atau membantu mereka untuk melihat lebih baik. Tentu saja, kaca pembesar tidak benar-benar mengubah ukuran sesuatu, ia mengubah perspektif anda sehingga tampak lebih besar pada penglihatan anda.

Menariknya, pikiran kita bekerja layaknya seperti kaca pembesar. Semakin anda memikirkan sesuatu, semakin besar anda melihat hal itu terjadi. Ketika anda fokuskan perhatian pada situasi anda, tidak benar-benar mengubah apa pun di alam, tetapi situasi anda menjadi lebih besar dan lebih besar dalam pikiran anda. Membesarkan hal yang salah dapat secara cepat membawa hidup anda pada jalan yang salah. Itu sebabnya kita harus menjaga hal-hal dalam perspektif yang benar dan tahu kapan harus berhenti memikirkan hal yang tidak dapat kita tidak rubah. Jika anda terus fokus pada masalah anda, mereka (masalah anda) bisa menjadi begitu besar dalam pikiran anda bahkan anda benar-benar dapat tenggelam dalam masalah-masalah tersebut. Tapi ketika anda berfokus pada Tuhan dan memuliakan-Nya dalam hidup anda, semua hal dari dunia ini; tantangan, hambatan dan kekecewaan semuanya akan lenyap begitu saja.

Berikut adalah cara lain untuk menggambarkan penjelasan di atas: jika anda memegang uang logam di tangan anda dengan posisi lengan terentang dan satu mata ditutup, uang logamnya tampaknya kecil dibandingkan dengan segala sesuatu yang anda lihat di sekitar anda. Tetapi jika anda menarik uang logam lebih dekat ke mata anda, maka akan tampak jauh lebih besar. Bahkan, jika anda memegangnya dengan sangat dekat dengan mata, anda tidak akan dapat melihat hal lain. Inilah yang sering terjadi dalam hidup - kesulitan dan tantangan yang tampaknya jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya, hanya karena kita menaruh mereka lebih dekat dari yang diperlukan.

Perspektif yang salah akan membawa anda ke jalan yang salah, tetapi mengubah perspektif anda dapat terjadi dalam hitungan detik hanya dengan mengubah fokus anda. Ketika saya menghadapi tantangan, saya mengingatkan diriku pada semua hal besar yang telah Tuhan lakukan bagi saya. Saya mulai berterima kasih karena telah mengizinkan saya untuk mengenal Dia, saya berterima kasih untuk keluarga saya, pekrjaan saya, teman-teman saya bahkan segala hal yang telah DIA karuniakan dalam hidup saya. Saya ingat bagaimana Tuhan membawa saya melalui ujian, masa lalu dan kesulitan. Saya selalu takjub melihat betapa perubahan perspektif saya ketika saya memiliki hati yang bersyukur dan memilih untuk memperbesar/fokus pada hal yang benar dalam hidup saya!

Saat ini, saya mendorong anda untuk melakukan inventarisasi pikiran anda. Anda dapat membuat daftar semua hal yang dikaruniakan-Nya dalam kehidupan anda sekarang. Pegang daftar itu di depan anda dan renungkanlah tentang seberapa besar Allahmu! Mintalah Dia untuk menyatakan diri-Nya kepada anda dalam cara yang lebih besar. Nyanyikan sebuah lagu pujian kepada-Nya saat anda melepas daftar itu ke dalam pelukan kasihNya. Ingat, muliakan Dia dan lihat segala beban dan masalah duniawi anda akan hilang. Amin !

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku"
(Filipi 4:13)

Sabtu, 03 Maret 2012

Kuasa Tuhan Tidak Terbatas

Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini: 

"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar ..." (Yesaya 59:1).


Pada suatu hari Minggu, seorang wanita datang kepada seorang pendeta untuk berdoa pada waktu doa di salah satu kebaktian gereja. Dia mengatakan kepada pendeta itu bahwa dia telah membuat beberapa keputusan yang salah dalam hubungannya dengan putrinya, dan mereka berada dalam perselisihan dan tidak berbicara satu sama lain. Wanita itu begitu putus asa. Sepertinya tak ada harapan untuk situasi menjadi normal seperti semula. Sepertinya ada sebuah gunung di antara dirinya dan putrinya.
Saat pendeta mendengarkan ceritanya, secara jujur dalam hati dia berkata bahwa dia tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam doanya, tetapi ketika pendeta itu mulai berdoa, seakan-akan mendengar dirinya berkata sesuatu yang dia rasa tidak pernah dikatakan sebelumnya. Dia berkata, "Tuhan, sepertinya tangannya terikat Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.." Kemudian sesuatu menggerakan hatinya dan dia berkata, "Tapi Tuhan, meskipun tangannya terikat, aku tahu tangan Tuhan tidak terikat." Begitu kata-kata melewati bibirnya, sesuatu melompat dalam dirinya dan dia melihat cahaya harapan bersinar pada wajah wanita itu. Wanita itu segera mengubah fokus dan penuh dengan iman. Dia (wanita itu) tahu dia tidak memiliki semua jawaban, tapi dia bisa melihat melampaui batasnya pikirannya dan membuka hatinya untuk apa yang Tuhan bisa lakukan dalam hidupnya. Dengan imannya dia yakin bahwa Tuhan akan membuka jalan agar hubungan dia dan putrinya akan kembali harmonis seperti sedia kala.

Hari ini, mungkin anda sedang menghadapi situasi yang sama atau mirip seperti wanita tadi, dan merasa seperti tangan anda terikat dan anda tak berdaya. Mungkin suara-suara negatif yang terus berdengung dalam kepala anda, mengingatkan anda bahwa itu tidak akan berhasil, atau hal-hal yang tampaknya tidak mungkin terjadi. Mungkin benar bahwa tangan terikat dan tak berdaya, semua usaha telah anda lakukan tapi hasilnya tetap sama : tak berhasil! Tetapi ingatlah selalu bahwa tangan Tuhan tidak pernah terikat. Dengan Dia, segala sesuatu mungkin. Dia bisa melakukan apapun yang diperlukan untuk membawa Anda melalui semua pergumulan anda. Kekuasaan-Nya tidak terbatas! Tidak ada yang terlalu sulit bagi-Nya!

Tidak hanya tangan-Nya bebas untuk membantu Anda hari ini, tetapi tangan-Nya selalu berusaha meraih anda, mengundang anda untuk datang dan mendapat ketenangan jiwa anda. Tidak peduli apa yang telah anda lakukan, tidak peduli apa yang telah menimpa anda, kasih Allah tidak mengenal batas. Dia siap, bersedia dan mampu membantu anda ketika anda datang kepada-Nya

Hari ini, saya ingin supaya anda mencoba untuk melihat melampaui batas pikiran anda dan mempertimbangkan apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan anda. Anda mungkin tidak melihat sebuah jalan keluar dari masalah atau pergumulan anda, tapi Tuhan bisa membuat jalan keluar bagi anda. Tidak peduli apa yang akan anda hadapi, hadapi itu dalam iman dan jangan mundur. Tangan-Nya tidak pernah terikat, dan Dia lebih dari mampu melakukan hal yang mustahil dalam hidup anda!.

"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar ..." (Yesaya 59:1).
___________________

Jumat, 13 Januari 2012

Bless Your Children

Sebagai orangtua, kita dapat sangat mempengaruhi arah kehidupan anak-anak kita dengan kata-kata yang kita katakan pada mereka. Namun banyak orangtua gagal untuk melakukannya. "Oh, anak-anak saya tahu bahwa saya mencintai mereka," banyak orang tua mengatakan demikian. "Mereka tahu bahwa Aku berdoa untuk mereka." Mungkin begitu, tetapi anak-anak Anda perlu mendengar kata-kata berkat dalam hidup mereka. Dan kabar baiknya adalah bahwa hal itu tidak sulit untuk mengubah warna di  rumah Anda. Anda dapat mulai berbicara kebenaran positif ke dalam kehidupan anak-anak Anda setiap kali Anda inginkan. Kita sebagai orang tua harus berusaha untuk berbicara Firman Tuhan ke dalam kehidupan anak-anak kita, di keseharian hidup kita. Misalnya, ketika kita mengantar anak-anak kita ke sekolah, bahkan sebelum mereka keluar dari mobil, kita bisa mengingatkan mereka, "Kamu diberkati hari ini nak, kamu adalah kesukaan Allah"

Kita sebagai orangtua - anda - dapat melakukan sesuatu yang serupa. Bicara Firman Allah atas anak-anak Anda setiap hari sebelum mereka pergi ke sekolah atau pergi keluar untuk bermain. Anda tidak perlu untuk memberitakan khotbah; hanya mengatakan sesuatu seperti, "kata Firman Tuhan bahwa Dia mengasihi kamu, dan Dia memiliki sesuatu yang khusus untuk kamu hari ini!" dan lain sebagainya.

Atau berdoa, "Tuhan, Engkau berjanji seperti dalam Mazmur 91 bahwa Engkau akan memberikan malaikat MU menjaga kami dan bahwa tidak ada kejahatan akan datang dekat rumah kami. Jadi saya berterima kasih kepada Mu ya Tuhan bahwa kami dan anak-anak dilindungi, dan Engkau akan selalu membimbing dan menjagai mereka. Bapa, Engkau berkata bahwa kita kepala dan bukan ekor, dan akan mengelilingi kami dengan nikmat. Jadi saya berterima kasih kepada Mu ya Bapa bahwa anak-anak saya diberkati, dan mereka akan unggul dalam apa pun yang mereka mereka lakukan. "

Entah kita menyadarinya atau tidak, kata-kata kita mempengaruhi masa depan anak-anak kita untuk baik atau jahat. Kita perlu berbicara kata-kata cinta dan kasih sayang, kata-kata yang mendorong, menginspirasi, dan memotivasi anak-anak kita untuk pertumbuhan iman mereka. Ketika kita melakukannya, kita sedang berbicara berkat ke dalam kehidupan mereka. Kita menyatakan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka.

Terkadang kita, orang tua bersikap terlalu keras dan kritis dengan anak-anak kita, dan mudah marah jika menemukan kesalahan dalam apa pun yang anak-anak lakukan. Misalnya : "Mengapa kau tidak bisa mendapat nilai lebih baik?; Pergi membersihkan kamar kamu - kamar kok terlihat seperti kandang babi! apakah kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar? " kalimat-kalimat seperti itu yang sering terlontar dari kita para orang tua kepada anak-anak kita.

Kata-kata negatif tersebut akan menyebabkan anak kita kehilangan rasa nilai Allah yang telah ditempatkan dalam diri mereka. Tentu saja, sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab di hadapan Tuhan dan masyarakat untuk mendidik anak-anak kita, untuk mendisiplinkan mereka ketika mereka tidak taat, untuk memperbaiki mereka dengan penuh kasih ketika mereka membuat pilihan yang salah. Tapi kita tidak harus terus kecapi pada anak-anak kita dengan kata-kata negatif. Jika Anda terus-menerus mengucapkan kata-kata yang mengecilkan hati dan mematahkan semangat, maka cepat atau lambat, sadar atau tidak sadar Anda akan menghancurkan citra diri anak Anda. Dan dengan kata-kata negatif Anda, Anda akan membuka pintu, yang memungkinkan musuh untuk membawa segala macam ketidaknyamanan dan rendah diri ke dalam kehidupan anak Anda.
Anda Memiliki Tanggung jawab untuk Memberkati Anak Anda

Ingat, jika Anda membuat kesalahan terus-menerus berbicara kata-kata negatif atas anak-anak Anda, Anda mengutuk masa depan mereka. Selain itu, Allah akan meminta Anda bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukakan terhadap tanggungjawab yang telah diberikanNYA. Otoritas di ikuti pula dengan tanggung jawab, dan Anda memiliki tanggung jawab sebagai otoritas rohani atas anak Anda untuk memastikan bahwa ia merasa dicintai, diterima, dan disetujui. Anda memiliki tanggung jawab untuk memberkati anak-anak Anda.

Selain itu, kita semua menginginkan hal-hal yang baik bagi anak-anak kita. Kita ingin anak-anak kita untuk diberkati. Mengapa tidak menempatkan pikiran-pikiran dan perasaan menjadi kata-kata? "Sebuah berkat tidak benar-benar berkat sampai diucapkan." Ucapkanlah kata-kata tersebut dengan suara yang lantang yang akan memberkati anak-anak Anda: "Kamu adalah anak Allah. Allah memiliki hal-hal yang baik yang di berikan untuk Anda. Anda diberkati! " Lalu perhatikan bagaimana anak Anda mulai berkembang, bagaimana sikap tentang dirinya sendiri akan berubah, bagaimana tindakannya dengan orang lain. Berkat Allah mulai berakar dalam kehidupan anak-anak anda.! 

_________________________________

Renungan Harian Kristen | Bless Your Children

Kamis, 05 Januari 2012

Harapan yang Tak Pernah Hilang

Sebuah harapan adalah awal dari setiap hal yang baik dalam hidup kita. Harapan selalu membantu memberikan rasa percaya untuk mendapatkan yang terbaik, bahkan dalam menghadapi keadaan terburuk sekalipun. Bagi kita orang yang percaya kepada Kristus, harapan jauh lebih dari sekedar keinginan, kerinduan atau pandangan positif, hal itu didasarkan pada janji-janji Allah yang ditemukan dalam FirmanNya.

Kita dapat memiliki harapan dalam hidup tidak peduli apa yang mengelilingi dan terjadi di sekeliling kita, karena kita melayani Allah yang perkasa yang peduli, Allah yang tahu nama kita (Yesaya 45:3), Allah yang memahami keinginan hati kita (1 Tawarikh 28:9), dan Allah yang tahu siapa kita bahkan sebelum kita  dibentuk di dalam rahim ibu (Yeremia 1:5).

Mungkin Anda sedang menghadapi tantangan ataupun kemunduran didalam pekerjaan Anda atau mungkin juga didalam hubungan dengan orang yang anda kasihi. Mungkin Anda sedang berjuang secara finansial atau tekanan hidup yang besar sedang menimpa Anda. Jika itu sedang terjadi pada Anda, JANGAN TAKUT SAUDARA KU ... selalu ada harapan! Allah SELALU ada untuk Anda, DIA tidak akan berpaling dari Anda bahkan tidak untuk sedetikpun !. Sumber daya-Nya tak terbatas, kekuasaan dan cinta kasihNYA tidak mengenal batas. Tuhan ada di pihak Anda. Jangan biarkan musuh, Setan, pikiran Anda sendiri, atau orang lain memberitahu Anda sesuatu yang berbeda yang ingin menjauhkan harapan hidup dari anda. Ingat, jangan pernah menyerah! Lihatlah kepada Allah dan mengharapkan mukjizat, tetaplah berpengharapan.

Saya berdoa agar pengharapan menjadi nyata di dalam kamu. Allah adalah Allah yang "Maha" segalanya. Dia tidak memiliki kekurangan apapun. Dia selalu memiliki solusi bagi setiap persoalan kita.Allah siap untuk berbicara kepada Anda, untuk mendukung Anda dan menyelamatkan Anda.

Di mana harapan Anda hari ini... Apakah pada orang? pada Kemampuan Anda sendiri? pada Pekerjaan Anda? Bangkitkan dan bangunlah harapan Anda hanya pada Yesus saja. Siapa yang berpengharapan di dalam Tuhan dan percaya di dalam Dia, tidak akan pernah kecewa. Yesus adalah satu satunya harapan kita yang tak akan pernah hilang. HE will always stand by you !!!
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau !
(Mazmur 55:23a)
________________________________________________
Renungan Harian Kristen

Senin, 19 Desember 2011

Sukacita Natal yang Sejati

Natal tinggal beberapa hari lagi, lagu-lagu Natal telah terdengar di setiap lingkungan rumah kami tak ketinggalan bunyi dentuman petasan. Renungan Harian Kristen kali ini bertemakan Natal yakni "Sukacita Natal yang Sejati"

Salah satu kenangan favorit saya tentang Natal ketika remaja adalah menyaksikan kemurahan hati ayahku kemana pun ia pergi. Terlahir Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga, ayah saya tidak punya banyak waktu untuk mengisi hidupnya dengan bermain layaknya anak-anak yang lain karena keluarganya yang kurang mampu. Waktunya diisi dengan membantu orang tua. Masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan, tapi dia tampaknya bertekad untuk berbagi sebanyak apa yang dia bisa di kemudian hari kelak jika dia menjadi orang yang "berada".
Sebagai seorang anak miskin yang tumbuh selama masa Depresi, ayah saya memiliki empati untuk orang miskin dan dorongan untuk membantu orang lain. Orang-orang tampaknya merasakan juga. Saya tidak bisa mengatakan berapa kali orang asing, entah dari mana datangnya, berjalan langsung ke Ayah seolah-olah dibimbing kepadanya oleh tangan surgawi. Saya sekitar lima belas tahun dan bepergian dengan ayah saya ke luar negeri selama liburan Natal ketika saya menyaksikan salah satu kejadian tersebut. Kami berada di terminal bandara kecil dengan atap jerami di sebuah pulau di Filipina. Aku sedang berjalan kembali dari konsesi berdiri ketika saya menemukan ayah saya berbicara dengan seorang pria muda dengan rambut panjang dan ransel. Mereka memiliki percakapan yang mendalam, yang tidak biasa karena Ayah suka mendengar cerita-cerita rakyat. Hal berikutnya yang saya tahu, ayah saya meraih dompetnya dan menyerahkan pemuda segepok uang-beberapa ratus dollar. Ketika saya bertanya kepadanya tentang hal itu kemudian dia berkata, "Yah, kita cuma ngobrol, dan dia bilang dia sedang mencoba untuk kembali ke Amerika tapi salah perhitungan berapa banyak uang yang dibutuhkan dan terjebak di bandara. Jadi aku memberinya cukup untuk pulang ke orangtuanya untuk liburan.

Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin ayah memberikan begitu saja sejumlah uang (yang lumayan besar jumlahnya) kepada orang yang baru dikenalnya beberapa menit saja ? tetapi kemudian aku berpikir lain, bagaimana jika hal tersebut terjadi pada putra / putri saya ??? tidak kah aku juga berharap ada orang yang akan menolong mereka???

Itulah cara ayah saya menjalani hidupnya. Dia adalah seorang pria yang murah hati dengan hati memberi. Dia percaya yang terbaik pada orang-orang dan memberi mereka tanpa keraguan. Ia berbagi apa pun dan dia mana pun ia pergi dan menemukan sukacita Natal yang sejati.

Pada Natal Tahun 2011 ini, saya mendorong Anda untuk menemukan sukacita sejati Natal dengan berbagiapa yang Anda miliki dengan orang lain. Carilah cara untuk menjadi berkat. Biarkan Tuhan menggunakan Anda menjadi berkat bagi orang lain di Natal tahun 2011 ini dan setiap hari dalam hidup anda !
"Ada yang menyebar harta tapi bertambah kaya, ada yang berhemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan" (Amsal 11:24).

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika renungan harian kristen  ini memberikan motivasi bagi anda untuk berubah ke arah yang lebih baik  maka dengan rendah hati kami berharap anda untuk berbagi renungan ini kepada teman, kerabat dan keluarga melalui tombol social media (Facebook, Google+, Twitter) yang tersedia di bagian bawah judul tulisan ini. Tuhan Yesus memberkati!

Selamat merayakan Natal 2011

Selasa, 27 September 2011

SEBAGAI SURAT KRISTUS YANG TERBUKA

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini :
II Korintus 3:1-8

Sejak jaman dahulu orang memang sudah gemar menulis surat. Diukir di atas loh batu, menggunakan buluh yang dicelup pada tinta, pena, pulpen hingga mengetik, semua itu merupakan perkembangan dari hal tulis menulis ini. Surat bukan hal asing bagi kita, hampir semua orang pernah menerima surat ataupun berkirim surat. Ada banyak macam jenis surat, diantaranya; surat cinta, surat undangan, surat wasiat, surat hutang, surat tagihan, surat nikah, surat keputusan, surat elektronik, surat edaran, surat terbuka, dan ada pula surat kaleng. Surat sebagai salah satu media untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan sikap seseorang mengenai suatu hal. Isi surat menggambarkan maksud dari seseorang atau bahkan bisa memberikan informasi mengenai isi hati, pikiran dan bahkan karakter seseorang. Kedalaman hati dan karakter seseorang bisa diketahui salah satunya melalui karakter tulisan dan gaya bahasa dalam sebuah surat.
Lalu apa artinya menjadi surat Kristus?  Terlebih, sebagai surat Kristus yang terbuka? Rasul Paulus menyatakan kita adalah Surat Kristus yang dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang. Dengan demikian kita  menjadi surat yang terbuka, surat yang dapat diketahui oleh semua orang. Sebagai surat Kristus kita menyatakan apa yang menjadi pikiran dan perasaan Kristus. Kristus adalah sosok pribadi yang terbuka, kemanapun Dia pergi selalu dapat dikenali oleh semua orang. Dia pribadi yang menebarkan kasih dan bahkan membuka “rahasia sorga” yaitu rencana Allah dalam rangka menyelamatkan manusia. Keterbukaan dan kejelasan diri harus kita utamakan dalam bergaul dengan orang lain, apalagi ketika mengirim surat. Sadarkah kita jika diri kita pun sebenarnya merupakan sebuah surat, bukan hanya surat tapi juga surat terbuka? Ya, kita adalah  surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang.
Surat Kristus berarti surat yang membawa terang. Sama seperti Kristus yang merupakan Terang Dunia, kita pun seharusnya siap menjadi terang yang bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah, lewat tulisan Roh Kudus, Roh Allah sendiri dalam loh-loh daging atau hati kita. Yesus berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Karena itulah kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, hingga kita bisa mencapai tingkatan yang diinginkan Tuhan bagi kita. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Disaat seperti itulah kita bisa menjadi surat Kristus yang benar untuk dibaca banyak orang.

Sebagai orang percaya, kita seharusnya menjadi surat yang bukan sembarang surat, tapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca oleh orang lain. Firman Tuhan berkata "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). We are like a piece of paper that can be read by everyone. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain. Orang percaya seharusnya menjadi sebuah surat Kristus. Yang bukan ditulis dengan tinta biasa, bukan pada loh-loh batu, tapi ditulis oleh Roh Allah yang hidup langsung ke dalam hati kita. Dan dari hati kitalah terpancar cara hidup kita, yang akan mampu dibaca orang lain. Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orangpun bisa "membaca" siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.

Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Apakah hati kita berisi firman Tuhan dan mencerminkan Kristus dengan benar, atau kita terus menerus menunjukkan karakter jelek, itu akan mempengaruhi pengenalan orang akan Kristus. Rajin beribadah, selalu menyebut Tuhan, tapi berperilaku jelek, tidakkah itu akan membuat orang menertawakan Tuhan dan Juru Selamat kita? Ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita renungkan.

Penulis kitab Amsal juga mengingatkan kita untuk terus menjaga hati, karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita. Yesus pun mengingatkan pentingnya menjaga hati,"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23).

1. Kita adalah surat Kristus yang ditulis oleh Roh Allah

Jika Anda memiliki sepucuk surat dari Mark Twain di loteng Anda, nilai nominalnya bisa sangat mahal. Sebuah surat pribadi sepanjang sembilan halaman yang ia tulis kepada putrinya pada tahun 1875 terjual seharga 33.000 dolar di tahun 1991. Surat-menyurat biasa dengan penulis Tom Sawyer biasanya berharga 1.200 hingga 1.500 dolar per halaman. Para ahli mengatakan bahwa walaupun Twain menulis 50.000 surat sepanjang hidupnya, permintaan akan surat-surat pribadi dari salah satu penulis favorit Amerika ini masih tetap tinggi.  Anda mungkin tidak memiliki sepucuk surat pun dari Mark Twain, namun sesungguhnya Anda memiliki kumpulan surat yang tak ternilai harganya. Karena di dalam diri Anda adalah isi kitab Kristus itu sendiri yang tak ternilai harganya. Dan surat-surat itu sungguh berharga, karena mengandung kisah yang tak ternilai tentang Yesus Kristus. Bagi setiap orang kristiani, nilai terpenting dari surat kehidupan bukanlah nilai nominalnya, melainkan hikmat bagi hati yang terbuka, yakni hikmat dari Allah sendiri.

Kesaksian yang paling efektif dari orang Kristen terhadap orang yang belum percaya adalah hidup orang Kristen itu sendiri. Hidup seseorang yang telah diubahkan karena kasih dan kuasa Kristus berbicara jauh lebih “keras” daripada ribuan kata-kata. Jadi, hidup orang Kristen yang telah diubahkan adalah “senjata” yang ampuh untuk menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan. Namun sayang, kenyataannya justru sebaliknya. Tidak sedikit orang yang tidak tertarik atau bahkan antipati kepada kekristenan justru karena hidup orang Kristen itu sendiri. Sebut saja misalnya, Mahatma Gandhi, di depan ribuan mahasiswa Kristen di Colombo pernah berujar, “Seandainya kekristenan hanyalah kotbah di bukit, maka saya telah menjadi orang Kristen. Tetapi karena hidup orang-orang Kristenlah maka saya tidak mau menjadi Kristen.”

Pengalaman yang menyakitkan dialami oleh Gandhi adalah ketika ia ditolak untuk masuk ke dalam gereja oleh orang-orang kulit putih dengan alasan kulitnya tidak berwarna sama dengan mereka. Friedrich Nietzche, seorang filsuf atheis, pernah menjawab pertanyaan mengapa ia sangat membenci kekristenan. Dia menjawab, “saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka (orang Kristen), apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.”

Ada lagi kisah tentang Anton Szandor LaVey sang pendiri gereja Setan. Pada mulanya LaVey adalah seorang yang taat beribadah bahkan melayani di gereja. Di dalam pengalamannya, LaVey melihat banyak pria kristen yang hidup dalam kemunafikan. Pada hari Minggu mereka ini terlihat sebagai orang-orang yang saleh di gereja, tapi di hari-hari lain mereka berkanjang di dalam berbagai dosa dan kenistaan. Pengalaman itu mendorong LaVey untuk mendirikan gereja (setan) di mana para anggotanya bebas mengumbar nafsu tanpa dibungkus kemunafikan.

Masih banyak lagi orang-orang seperti Gandhi, Nietzche dan LaVey di sekitar kita. Mungkin mereka adalah orangtua, anggota keluarga, sahabat-sahabat atau orang-orang yang mengenal kita yang urung menjadi Kristen karena melihat hidup kita. Betapa sering kita tidak mampu menampakkan diri sebagai “surat pujian” dari Allah, karena dalam prakteknya kita lebih banyak menebarkan benih kebencian, pikiran jahat, percabulan, perzinahan, keserakahan, kelicikan, iri hati, hujat, kesombongan dan seribu macam rupa keduniawian di antara sesama manusia.

2. Sebagai surat Kristus kita harus menjadi sebuah kisah tentang cinta Yesus

Seperti halnya Yesus mencintai anda, setiap sendi kehidupan kita juga sudah selayaknya menjadi kertas yang dipakai oleh guratan pena Tuhan untuk menyatakan kasihNya yang begitu besar kepada dunia ini. Roh Allah tidak sekedar memberikan coretan kasar tapi sebuah gambaran akan kasih yang begitu indah sebagai gambaran Kristus. Apakah itu bisa dibaca orang lain, atau malah kita meninggalkan goresan-goresan kasar yang mencabik-cabik hati orang lain? Seperti apa Kristus yang kita gambarkan lewat diri kita? Sejak hari ini, marilah kita terus menjaga hati kita. Penuhi terus dengan firman Tuhan yang penuh kuasa. Ijinkan Roh Kudus terus menulis tentang Kristus dalam hati kita, dan biarlah Tuhan dipermuliakan dengan segala gambaran yang muncul keluar dari diri kita. Ingatlah bahwa diri kita selalu ibarat surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Apa isi surat yang terbaca lewat anda hari ini?

Di sebuah universitas di Inggris, sekelompok mahasiswa mengajukan pertanyaan berikut, "Kamu ingin menjadi apa?" Mereka melontarkan berbagai jawaban yang berbeda-beda, yakni atlet berprestasi, politisi yang berpengaruh, cendekiawan terkenal. Dengan malu-malu, namun pasti, seorang mahasiswa mengatakan sesuatu sehingga timbul keheningan yang dalam, "Kalian boleh menertawakan saya, tapi saya ingin menjadi orang kudus." Bayangkan, orang kudus! Apa pun konsep mahasiswa itu tentang orang kudus, banyak orang di masyarakat sekuler kita yang akan memandang aneh ambisi tersebut. Namun sebagai orang kristiani, hal itu sepatutnya menjadi prioritas tertinggi dalam hidup kita. Inti dari kekudusan adalah menyerupai Yesus. Paulus berkata bahwa tujuan utama Allah Bapa adalah menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Roma 8:29).

Tentu saja, setiap orang percaya memiliki jaminan keserupaan yang sempurna dengan Kristus di dunia yang akan datang nanti. Namun, Allah tidak ingin kita menanti dengan pasif hingga kita memasuki surga, di mana perubahan adikodrati itu terjadi (1 Yohanes 3:2). Kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus untuk tumbuh menjadi lebih dan semakin lebih menyerupai Kristus "di dalam dunia ini" (4:17). Ya, kita sudah menjadi orang-orang kudus karena kita beriman di dalam Kristus Yesus (Filipi 1:1). Namun, setiap hari kita menghadapi tantangan untuk menjadi diri kita yang sebenarnya, yakni keserupaan dengan Kristus di setiap bidang kehidupan kita.

3. Sebagai surat Kristus kita harus mencerminkan kemuliaan Kristus

Dalam 2 Korintus 3:18, digambarkan bahwa kita "mencerminkan kemuliaan Tuhan". Apabila kita mencerminkan kemuliaan-Nya, kita akan diubah "menjadi serupa dengan gambar-Nya", yaitu menyerupai Kristus. Barangkali kita bertanya-tanya mengapa cara berpikir dan perilaku kita masih jauh dari serupa dengan Kristus. Mungkin pertanyaan berikut ini dapat menolong: "Hidup siapakah yang kita cerminkan?" Umat Allah harus mencerminkan kemuliaan Allah. Untuk itu kita harus membiasakan diri mencerminkan kemuliaan-Nya. Kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya. Kita harus berdoa dan memercayai Roh Kudus Allah untuk bekerja di dalam hati kita. Barulah setelah itu kita dapat menaati perintah-Nya dan berpegang pada janji-Nya. Kemuliaan siapakah yang dalam hidup kita?

Raut muka adalah cerminan hati. Apakah orang lain melihat Yesus pada raut muka Anda? Ketika Musa turun dari Gunung Sinai setelah bertemu dengan Allah, wajahnya begitu bercahaya sehingga bangsa Israel tidak mampu menatapnya (Keluaran 34:29,30; 2 Korintus 3:7). Paulus membandingkan kemuliaan itu dengan kemuliaan lebih besar yang dapat dialami oleh mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Kristus. Ia mengatakan bahwa kita diubahkan oleh Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita, sehingga kita akan semakin menyerupai Tuhan Yesus (2 Korintus 3:18). Tak ada kosmetik wajah yang lebih baik dibandingkan anugerah Allah yang mengubahkan. Persahabatan dengan Kristus mungkin tidak membuat wajah kita sempurna, tetapi dapat menggantikan keriput dan kerutan di dahi dengan kedamaian batin yang memancarkan keindahan Kristus melalui diri kita.

Dalam beberapa hal, hukum Taurat Musa bagi orang kristiani sama seperti kruk bagi seorang atlet. Keduanya baik apabila diperlukan dan digunakan dengan benar. Namun, kruk tidak dapat digunakan untuk memenangkan perlombaan lari cepat 90 meter. Demikian juga bersandar pada sebuah sistem hukum tidak pernah dapat membawa kemenangan rohani bagi kita. Paulus menekankan penyusutan kebesaran hukum Perjanjian Lama dengan membandingkannya dengan kemuliaan hidup dan kebebasan di dalam Roh yang tiada taranya. Mengacu pada wajah Musa yang bersinar setelah menerima Sepuluh Perintah Allah, Rasul Paulus berkata bahwa memudarnya sinar wajah Musa sama seperti wahyu di Gunung Sinai yang diterimanya. Wahyu itu bersifat sementara dan tidak lengkap. Orang Israel akan segera menyadari bahwa pesan Allah dari gunung itu juga standar yang akan digunakan untuk menghakimi mereka.

Namun, di mana Roh Kudus memerintah, di sana terdapat anugerah yang melimpah, dan keagungan-Nya jauh melebihi keagungan Taurat itu. Bayangkan sebatang korek api yang menyala di dalam sebuah tempat yang gelap gulita. Munculnya nyala api yang tiba-tiba itu memberikan sebuah pertunjukan sinar yang mengesankan. Namun, jika Anda menyalakan sebuah korek api di bawah terik sinar matahari, percikan sinarnya akan tampak tidak berarti. Kesepuluh perintah tersebut bersifat menuntut dan pada akhirnya menghakimi. Akan tetapi, hidup di dalam Roh membawa pengalaman kuasa Allah yang mengubahkan ke dalam hati kita

Pudarnya keagungan Taurat tidak sebanding dengan kemuliaan anugerah Allah. Perjanjian baru itu lebih baik daripada perjanjian lama (bd.Rom 7:1-25) karena mengampuni sama sekali dosa dari orang-orang yang bertobat (Ibr 8:12), menjadikan mereka anak- anak Allah (Rom 8:15-16), memberikan mereka hati dan tabiat yang baru sehingga dapat mengasihi dan menaati Allah dengan spontan (Ibr 8:10; bd. Yeh 11:19-20), menuntun mereka kepada hubungan pribadi yang lebih intim dengan Yesus Kristus dan Bapa di sorga (Ibr 8:11), serta menyediakan pengalaman yang lebih indah di dalam Roh Kudus (Yoel 2:28; Kis 1:5-8; Kis 2:16-17,33,38-39; Rom 8:14- 15,26).

Kabar baik tentang Kristus harus dimulai dari diri kita, sehingga apakah sesama kita juga dapat membaca “Injil” di dalam diri kita, yaitu kualitas kehidupan dan spiritualitas iman serta kasih kita kepada Kristus. Jadi makin jelaslah bagi kita bahwa tugas pemberitaan Injil bukan sekedar kumpulan kata-kata saleh dan rohani agar orang-orang di sekitar kita mengenal Kristus sebagai Juru-selamatnya. Tetapi pemberitaan Injil secara esensial menyangkut kualitas hidup kita di hadapan Allah dan sesama, yaitu apakah hidup kita sungguh-sungguh telah menjadi surat pujian dan surat Kristus ?
______________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

POHON YANG BAIK VS POHON YANG TIDAK BAIK

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas 6:43-45

Pohon Ara (Ficus Carica) adalah sejenis pohon beringin. Di Indonesia ada sekitar 30 jenis pohon Ara yang dapat dijumpai buahnya sepanjang tahun. Buah Ara ini sangat disukai oleh satwa hutan dan burung-burung. Pada umumnya, dalam setahun pohon ara dapat berbuah sebanyak tiga kali. Buah pertama disebut bikurah atau buah sulung. Inilah yang disebut sebagai buah ara hijau. Orang Israel mempunyai ketetapan bahwa buah sulung merupakan milik Tuhan. Buah kedua disebut buah ara bungaran. Buah kedua ini rasanya segar dan enak serta buahnya paling banyak. Pada saat inilah pemilik pohon berhak memanfaatkannya untuk    penghidupannya, termasuk menjadikannya sebagai komoditas ekonomi. Buah ketiga disebut buah pag. Buah ini tidak boleh diambil pemiliknya, karena merupakan hak orang-orang Lewi dan orang-orang miskin. Ini berarti sebatang pohon yang sehat dapat memberi buah selama sepuluh bulan.
Pada zaman Hellenisme (Yunani-Romawi) buah ara merupakan salah satu komoditi ekonomi penting setelah anggur dan minyak zaitun, sehingga orang-orang Yunani membuat undang-undang khusus untuk mengatur pengeksporannya. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus buah-buahan yang baru dipetik untuk dibawa ke pasar dan sekarang ini menjadi komoditas yang mahal. Buah ara selain dapat dimakan langsung, juga dapat dibuat kue yang mahal harganya, karena makanan ini pun biasa dihidangkan bagi raja-raja (2Raj. 20:7; Yes. 38:27). Meski begitu kue buah juga ara merupakan makanan yang sangat digemari masyarakat dan kerap dibawa saat bepergian (1 Sam. 25:18).

Sedangkan Anggur? Anggur  merupakan tanaman buah berupa perdu merambat yang termasuk ke dalam keluarga Vitaceae. Tanaman ini sudah dibudidayakan sejak 4000 SM di Timur Tengah. Buah ini biasanya digunakan untuk membuat jus anggur, jelly,  minuman anggur,  minyak biji anggur, dan kismis, atau dimakan langsung. Buah anggur dikenal karena mengandung banyak senyawa polifenol dan resveratol yang berperan aktif dalam berbagai metabolisme tubuh. Berdasarkan hasil penelitian para ahli biakui bahwa buah anggur mengandung flavanoid, yakni antioksidan yang akan membantu memperlambat proses penuaan akibat radikal bebas. Buah anggur pun kaya vitamin A, C, B6, folat, serta mineral penting (potassium, kalsium, zat besi, fosfor, magnesium, dan selenium). Anggur memiliki kekuatan yang memadukan dan meningkatkan kelembapan di paru-paru. Anggur merah memiliki kandungan antibakterial dan antivirus yang kuat sehingga mampu melindungi tubuh dari infeksi.

Disamping itu, anggur mampu meningkatkan kesehatan otak dan menjaganya dari serangan penyakit seperti Alzheimer. Sebab, anggur mengandung resveratol, sebuah polifenol yang akan mengurangi tingkat amyloidal-beta peptides pada penderita Alzheimer. Anggur  juga mengandung asam organik, gula, dan selulosa yang bertindak sebagai pencahar. Jus anggur ungu mampu mencegah kanker payudara yang secara signifikan mengurangi massa tumor pada payudara. Demikian juga jus anggur mengandung energi instan. Dan jus anggur putih kaya akan zat besi untuk mengurangi kelelahan. Disamping itu, oksida nitrat yang terkandung pada anggur sangat bermanfaat untuk mencegah gumpalan dan mengurangi risiko penyakit jantung. Antioksidannya juga menghentikan oksidasi kolesterol LDL alias kolesterol jahat yang menghambat pembuluh darah. Anggur mengeluarkan panas dan menyembuhkan gangguan pencernaan serta iritasi pada perut. Bahkan, Anggur mampu menyingkirkan asam pada sistem ginjal yang akan mengurangi gangguan tekanan di ginjal.

Dalam beberapa kesempatan, Yesus menggunakan perumpamaan pohon dan buah dalam pengajaran-Nya. Dalam Lukas pasal 6 ayat 44 yang setara dengan Matius pasal 12 ayat 33;  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya, “Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara, dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.” Di dalam Alkitab kehidupan orang Kristen sering digambarkan dengan kehidupan pohon. Yesus juga menggunakan metafor tentang pohon untuk menggambarkan pembedaan manakah orang Kristen sejati dan manakah yang palsu (ayat 43-44). Pohon yang baik pasti mengeluarkan buah-buah yang baik. Sebaliknya, pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah-buah yang buruk. Yang baik selalu melahirkan yang baik pula. Ini prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Demikian juga orang baik akan melakukan perbuatan baik karena di dalamnya (hatinya) hanya ada kebaikan, sedangkan orang jahat hanya melakukan kejahatan karena di dalamnya (hatinya) penuh kejahatan.

Buah ditentukan oleh pohonnya. Pohon ara jelas akan berbuahkan ara, sedangkan pohon anggur jelas akan berbuahkan anggur. Sedangkan semak duri tidak mungkin dapat menghasilkan buah yang baik semisal buah ara atau pun anggur. Bagaimana kualitas "buah" kehidupan kita? Keluarga? Pekerjaan? Tuhan Yesus tentu kecewa terhadap pohon yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Yesus tentu tidak menghendaki kita para murid-Nya  seperti pohon ara, yang hanya indah dipandang tapi tidak berbuah. Tidak membawa manfaat bagi orang. Pohon yang berbuah baik  menggambarkan kehidupan orang benar, sedangkan pohon yang tidak berbuah baik menggambarkan kehidupan orang fasik. (bdk.Mzm.1:1-6).  Lalu, siapakah orang-orang Kristen yang benar dan palsu itu? Lalu apa saja bentuk buah-buah kehidupan kita sebagai orang percaya yang diharapkan?

Para penafsir Alkitab mengatakan bahwa ‘buah’ adalah ‘kehidupan’ orang itu. Jadi, ‘buah yang baik’ menunjuk pada ‘kehidupan yang baik’, sedangkan ‘buah yang tidak baik’ menunjuk pada ‘kehidupan yang tidak baik’. Kalau kita membandingkan antara Mat 7:16-20 / Luk 6 43-45 dengan Mat 3:8-10 dan Mat 12:24,33-37 (perhatikan bahwa ketiga bagian ini mengandung ayat-ayat yang mirip / sama. Jadi, arti ‘buah’ dalam ketiga bagian ini pasti sama), maka jelas bahwa ‘buah’ artinya adalah ‘kehidupan’. Arti ini cocok dengan konteks (lihat Mat 7:21,23 yang menunjukkan kehidupan yang jahat dari nabi palsu), dan arti ini juga didukung oleh bagian-bagian Kitab Suci yang lain yang menunjukkan bahwa nabi palsu mempunyai hidup yang tidak baik, seperti mengejar keuntungan (Yer 8:10  Tit 1:11  2Pet 2:3), bersikap baik terhadap orang yang menguntungkan (Mikha 3:5), dsb. Tidak baiknya kehidupan juga bisa kelihatan dari kata-katanya. Ini terlihat dari ay 45 - “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”. Ayat ini menunjukkan bahwa dari kata-kata yang tidak baik terlihat hati yang tidak baik.

Kata-kata yang tidak baik ini tidak harus diartikan sebagai kata-kata kotor, cabul, makian, dusta, dan sebagainya. Untuk itu perhatikan kata-kata William Barclay berikut ini: “Nothing shows the state of a man’s heart so well as the words he speaks when he is not carefully considering his words, when he is talking freely and saying, as we put it, the first thing which comes into his head. If you ask directions to a certain place, one person may tell you it is near such and such a church; another, that it is near such and such a cinema; another, that it is near such and such a football ground; another, that it is near such and such a public house. The very words of the answer to a chance question often show where a man’s thoughts most naturally turn and where the interests of his heart lie” (Tidak ada yang menunjukkan keadaan hati manusia dengan begitu baik seperti kata-kata yang ia ucapkan pada waktu ia tidak mempertimbangkan kata-katanya dengan teliti, pada waktu ia berbicara secara bebas dan mengatakan hal-hal pertama yang timbul pada pikirannya. Jika engkau menanyakan arah ke suatu tempat tertentu, satu orang akan memberitahumu bahwa itu dekat dengan sebuah gereja tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan sebuah bioskop tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan lapangan sepak bola tertentu; yang lain memberitahumu bahwa itu dekat dengan suatu bangunan umum tertentu. Kata-kata dari jawaban terhadap pertanyaan sembarangan sering menunjukkan kemana pikiran-pikiran orang itu mengarah secara alamiah dan dimana letaknya kesenangan-kesenangan hatinya). Lalu apa saja  prinsip-prinsip yang harus dimiliki agar kita dapat menjadi pohon yang berbuah baik?

I.Dasar Pertumbuhan Pohon yang Baik

Pohon akan tumbuh sehat jika ia mendapatkan makanan yang cukup dan sehat. Kehidupan orang Kristen yang sehat ialah ajaran Firman Tuhan yang sehat, yang menjadi kesukaannya, yang terus menerus menjadi santapannya, sehingga ia tidak berjalan menurut kesukaan orang fasik yang seperti sekam tidak berguna (bdk. Mzm.1:1,4,5).  Berkaitan dengan hal ini, ada dua kata yang penting untuk dipahami di sini, yaitu: ascentia and fiducia. Ascentia adalah "ascent" mental, pengetahuan mengenai keberadaan sesuatu. Setan-setan mengakui dan percaya bahwa Allah ada. Fiducia lebih dari ascentia. Ia melibatkan suatu kepercayaan penuh kepada sesuatu, penyerahan total kepadanya, suatu kepercayaan penuh dan penerimaan atas sesuatu. Ini adalah jenis iman yang dimiliki oleh orang Kristen dalam Kristus. Seorang Kristen, karenanya, memiliki fiducia; yakni, ia memiliki iman sejati dan percaya kepada Kristus, tidak hanya sekedar mengakui bahwa Ia pernah hidup di bumi pada suatu masa tertentu. Cara lain untuk menjelaskan perbedaan kedua kata ini adalah banyak orang di dunia percaya bahwa Yesus pernah hidup di bumi: ascentia. Tetapi mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Juru Selamat mereka, satu-satunya tempat berpaling dan menaruh kepercayaan untuk pengampunan atas dosa-dosa mereka. Ascentia tidak membawa kepada perbuatan. Fiducia menghasilkan perbuatan yang berkenan kepada Allah. Ascentia tidak berasal dari hati. Fiducia yang berasal dari hati. Hanya Firman Tuhan yang sehat yang menjamin seorang Kristen dapat berbuah sesuai kehendak-Nya. Alkitab mengajarkan beberapa prinsip tentang pertumbuhan iman yang sehat:

Pertama, Alkitab menyaksikan, bahwa iman yang sehat adalah iman yang Theocentris (berpusat pada Allah). Orang yang makin bertumbuh imannya adalah orang yang belajar untuk mengutamakan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah dan bukan bagi kepentingan dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis memiliki obsesi, yaitu dia harus makin kecil, tetapi Kristus yang makin besar (Yoh 3:30). Orang yang bertumbuh imannya bukan lagi si “AKU” yang duduk di atas tahta, tetapi Allah Tritunggal. Banyak orang yang mundur dari pekerjaan Tuhan karena tersinggung. Hal utama yang membuat dia tersinggung adalah karena ke “aku”annya tidak dihargai. Seharusnya sebagai anak Tuhan ia sadar, bahwa hidupnya sudah dibeli, harganya telah lunas dibayar, karena itu orientasi hidupnya hanyalah untuk kemuliaan bagi Allah dan bukan bagi dirinya sendiri (1Kor 6:19-20, Rom 14:7-9, 1Kor 10:31). “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”( Fil 3:10).

Kedua, orang Kristen yang bertumbuh dengan sehat adalah orang yang mengutamakan pengenalan akan Kristus lebih dari yang lain (Fil 3:10). Bagaikan orang yang jatuh cinta, selalu ingin dekat pada sang kekasih dan mengenalnya dengan lebih dalam serta melakukan apa yang disenangi kekasihnya, demikian pula mirip dengan orang yang mengalami kasih Kristus (Yoh 14:15). Kasih akan Kristus saat ini diwujudkan dengan kerinduan yang terus menerus untuk mengenal firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jemaat mula-mula punya kerinduan yang besar untuk menyelidiki firman Tuhan dengan segenap hati (Kis 17:11, bnd Luk 8:15). “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Luk 8:15)

Ketiga, orang yang bertumbuh imannya dengan sehat, adalah rela ber”korban” demi pekerjaan Tuhan (kerajaan Allah). Pada umumnya manusia selalu mencari aman untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi orang yang telah bertumbuh dalam iman yang benar, tidak akan memikirkan untung rugi dalam mengikut Tuhan. Dia belajar mempersembahkan hidupnya (Rom 12:1) dan bahkan siap “rugi” demi Kristus, karena sudah mendapat “untung” terlalu banyak. Ia tidak lagi menguitamakan bagaimana dirinya bisa mendapat berkat, tetapi bagaimana dia bisa menjadi saluran berkat. Nilai pengorbanan Kristus itulah yang menjadi penggerak utama dalam dirinya untuk belajar memberi yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan (2Kor 5:14, Luk 19:8, 21:4), komitmen untuk memprioritaskan pelebaran Kerajaan Allah (1Kor 9:16), bahkan rela mati bagi Kristus (2Tim 4:6, Fil 2:17).

Keempat, Iman yang benar bukan positive thinking atau sugesti diri. Banyak orang yang mengaitkan iman dengan percaya yang pasti menyembuhkan, hidup penuh sukses, makin kaya, doa yang pasti dikabulkan dan lain-lain. Iman semacam ini adalah iman yang menyesatkan dan anthropocentris. Iman yang benar adalah iman yang mau tunduk pada kehendak Allah dan percaya, bahwa apa saja yang menjadi kehendak Allah (bukan kehendak saya) itulah yang akan terjadi dan saya akan belajar mengamininya serta taat dengan memberikan respon yang terbaik. Iman yang benar adalah iman yang berpikir dengan positif (bukan positive thinking) dan berpikir dengan positif adalah berpikir yang mau tunduk dengan apapun yang menjadi kehendak Allah. Positive thinking adalah suatu aliran sesat yang mengajarkan, bahwa kita bisa merubah keadaan dengan kekuatan berpikir kita. Kesesatan ajaran positive thinking adalah tidak mengandalkan kekuatan pada Tuhan, tetapi berpusat pada diri sendiri (Anthropocentris).

Kelima, Iman yang benar bukan identik dengan moral dan tingkah laku agama. Banyak orang berpikir, bahwa saya sudah beriman dengan saya rajin ke gereja, rajin memberi persembahan dan melakukan segala aktifitas rohani. Kesalahan utama bangsa Israel adalah menganggap segala kesalehan dan aktifitas rohani sudah membuktikan mereka orang beriman dan akan dapat membuat hati Tuhan senang, Tuhan bukan berhala yang bisa senyum bila ada orang yang “menyogok” atau “menyuap”nya. Hal yang terpenting dalam ibadah adalah relasi (hubungan pribadi) dengan Tuhan, alias “hati” yang dekat dengan Tuhan. Percuma segala aktivitas rohani seseorang, bila semua itu dilakukan dengan hati yang jauh dari Tuhan. Dan hati yang dekat dengan Tuhan adalah hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus, dilahir barukan, yang telah mengalami pertobatan sejati, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Orang yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya adalah orang yang pasti memprioritaskan Tuhan dan pekerjaanNya dalam hidupnya.

II. Pohon yang Menghasilkan buah berkualitas

Puncak kehidupan sebuah pohon adalah menghasilkan buah, itulah natur pohon yang semestinya. Metafor yang dilukiskan oleh Yesus sungguh indah, bila kita mengerti kehidupan sebuah pohon, demikian pula mestinya kehidupan kita sebagai orang Kristen yang berbuah. Hanya murid Tuhan sejati, yang fondasi kehidupannya dibangun berdasar pada firman Tuhan, yang akan bertahan menghadapi badai kehidupan (47-48).  Iman percaya kita haruslah menjadi iman yang aktif berbuah, bukan iman yang pasif dan statis. Iman yang berbuah adalah iman yang terus menerus dipraktekkan, dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan sekedar iman untuk pemuasan batin kita semata. Tanpa buah dalam kehidupan kita, iman kita tidak berguna bagi Tuhan. Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus.

Sebagai anak-anak Allah, kita harus tahu bahwa jika kita menghasilkan buah yang buruk, maka itu berarti kita bukan Kristen sama sekali. Karena di dalam Matius 7:18 dikatakan, "Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik," tepat seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes dalam 1 Yoh 5:18, "setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa," artinya, tidak terus menerus berbuat dosa. Jadi, janganlah berkata, "Tak peduli bagaimanapun caraku menjalani kehidupan ini, yang penting aku orang Kristen." Tak heran jika orang dunia berkata, "Aku tidak dapat melihat di mana letak perbedaan antara seorang Kristen dengan yang lain."

Seharusnya ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Jika hidup Anda tidak berbeda dari hidup orang dunia, maka besar kemungkinan Anda bukanlah orang Kristen sejati seperti yang Yesus kehendaki. Harus ada perbedaan yang nyata antara buah yang baik dengan buah yang tidak baik. Hal tentang arti buah itu sendiri bisa kita lihat di dalam Galatia pasal 5. Di sana kita diberitahu tentang buah dari daging, yang digambarkan sebagai perbuatan daging. Perbuatan dan buah adalah hal yang sama di dalam Kitab Suci. Anda akan melihat adanya kasih, sukacita yang tertib, damai sejahtera, kelemah lembutan, kerendahan hati, dst.  Hal-hal ini akan membuat orang yang bersangkutan tampil berbeda dari yang lain. Bisa terlihat dari semua hal-hal kecil yang dia lakukan. Sungguh indah jika Anda melihat seorang Kristen yang sikapnya sangat menyenangkan!

Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Seperti Apa Pohon dan Buah Anda?  Tuhan mengenal umat-Nya. Dia tahu mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang palsu pada suatu hari akan terbongkar kepalsuannya, sama seperti semak duri yang tak berguna. Yang sejati, pada suatu hari akan nampak kesejatiannya, sama seperti buah ara atau anggur yang berguna bagi kehidupan.  Karena itu, ukuran kesejatian seorang anak Tuhan terletak pada kesetiaannya untuk terus menerus menghasilkan buah-buah kebenaran.

III. Pohon yang Selalu Berbuah di Segala Musim

Kita akan akan menghasilkan buah, tak peduli apapun musim yang yang kita hadapi, kalau kita hidup dalam Yesus dan menerima kasihNya. Sebagai orang kristen kita tidak lagi menjadi tanaman yang berdiri sendiri dan bersandar kepada kemampuan kita untuk hidup. Ketika kita mengikuti Kristus, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus, kita adalah murid-muridNya. Kita adalah ranting dari pohon utama kita yaitu Yesus Kristus. Yesus menjadi pohon utama kita, dan kita hidup didalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Kita bukan lagi pohon kita sendiri, kita tidak lagi hidup yang berdiri sendiri, tetapi hidup kita adalah bagian dari hidup Kristus itu sendiri. Yesus mengatakan dalam Yohanes 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah? Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus. Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah?

Secara  ilmiah memang pohon berbuah ada skilusmya, ada musimnya. Ada saatnya ia berbuah ada saatnya ia tidak berbuah. Walaupun demikian  Allah Sang Pencipta dapat memberikan berbagai hal yang melawan apa yang ‘normal’ yang umumnya terjadi, karena memang Dialah pemilik dan pencipta kehidupan. Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya, karena mereka akan tetap menghasilkan buah walaupun bukan ‘musim’nya. Seperti itulah yang diharapkan akan keberadaan kita sebagai saksi Kristus, selalu ditunggu untuk tetap berbuah kasih,  menghasilkan perbuatan baik, memberikan perkataan baik, membangunkan semangat senantiasa. Berkarya bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik. Selalu, setiap saat dan tidak mengenal musim. Tidak tergantung apapun situasinya.

Tanpa sadar kita sering penuh dengan alasan bila terlibat dalam pelayanan dan dalam membangun relasi dengan Tuhan. Baru berdoa kalau ada masalah, baru ikut pertemuan lingkungan kalau diadakan dirumah sendiri, baru ikut Misa kalau dapat tempat duduk yang enak. Baru ikut koor kalau seragam disediakan, baru ikutan kepanityaan kalau pulsa dan transport tersedia. Dan banyak lagi litani ‘kalau’… itupun kalau doanya dijawab. Kita lupa bahwa Tuhan telah mencintai kita sehabis-habisnya tanpa syarat, tanpa ‘kalau’ bahkan saat kita masih belum mengenalNya, belum bertobat dan belum membalas kasihNya. Kita lupa bahwa orang-orang disekitar kitapun ada yang tetap mendoakan dan mengasihi kita tanpa syarat, tetap mengharapkan yang terbaik dari kita. Kalau saja kita terus menerus membangun relasi yang akrab dengan Tuhan, selalu berupaya mencari tahu dan mengenali kehadiranNya lewat setiap kondisi bahkan lewat setiap perjumpaan, maka seharusnya kita akan melatih diri kita untuk senantiasa memberikan buah-buah rohani yang banyak dinikmati orang-orang disekitar kita. Tanpa syarat, tanpa menunggu musim.

Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Seperti Apa Pohon dan Buah Anda?  Tuhan mengenal umat-Nya. Dia tahu mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang palsu pada suatu hari akan terbongkar kepalsuannya, sama seperti semak duri yang tak berguna. Yang sejati, pada suatu hari akan nampak kesejatiannya, sama seperti buah ara atau anggur yang berguna bagi kehidupan.  Karena itu, ukuran kesejatian seorang anak Tuhan terletak pada kesetiaannya untuk terus menerus menghasilkan buah-buah kebenaran.*  AMIN.
________________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari