Tampilkan postingan dengan label Amsal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amsal. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Sukacita Natal yang Sejati

Natal tinggal beberapa hari lagi, lagu-lagu Natal telah terdengar di setiap lingkungan rumah kami tak ketinggalan bunyi dentuman petasan. Renungan Harian Kristen kali ini bertemakan Natal yakni "Sukacita Natal yang Sejati"

Salah satu kenangan favorit saya tentang Natal ketika remaja adalah menyaksikan kemurahan hati ayahku kemana pun ia pergi. Terlahir Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga, ayah saya tidak punya banyak waktu untuk mengisi hidupnya dengan bermain layaknya anak-anak yang lain karena keluarganya yang kurang mampu. Waktunya diisi dengan membantu orang tua. Masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan, tapi dia tampaknya bertekad untuk berbagi sebanyak apa yang dia bisa di kemudian hari kelak jika dia menjadi orang yang "berada".
Sebagai seorang anak miskin yang tumbuh selama masa Depresi, ayah saya memiliki empati untuk orang miskin dan dorongan untuk membantu orang lain. Orang-orang tampaknya merasakan juga. Saya tidak bisa mengatakan berapa kali orang asing, entah dari mana datangnya, berjalan langsung ke Ayah seolah-olah dibimbing kepadanya oleh tangan surgawi. Saya sekitar lima belas tahun dan bepergian dengan ayah saya ke luar negeri selama liburan Natal ketika saya menyaksikan salah satu kejadian tersebut. Kami berada di terminal bandara kecil dengan atap jerami di sebuah pulau di Filipina. Aku sedang berjalan kembali dari konsesi berdiri ketika saya menemukan ayah saya berbicara dengan seorang pria muda dengan rambut panjang dan ransel. Mereka memiliki percakapan yang mendalam, yang tidak biasa karena Ayah suka mendengar cerita-cerita rakyat. Hal berikutnya yang saya tahu, ayah saya meraih dompetnya dan menyerahkan pemuda segepok uang-beberapa ratus dollar. Ketika saya bertanya kepadanya tentang hal itu kemudian dia berkata, "Yah, kita cuma ngobrol, dan dia bilang dia sedang mencoba untuk kembali ke Amerika tapi salah perhitungan berapa banyak uang yang dibutuhkan dan terjebak di bandara. Jadi aku memberinya cukup untuk pulang ke orangtuanya untuk liburan.

Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin ayah memberikan begitu saja sejumlah uang (yang lumayan besar jumlahnya) kepada orang yang baru dikenalnya beberapa menit saja ? tetapi kemudian aku berpikir lain, bagaimana jika hal tersebut terjadi pada putra / putri saya ??? tidak kah aku juga berharap ada orang yang akan menolong mereka???

Itulah cara ayah saya menjalani hidupnya. Dia adalah seorang pria yang murah hati dengan hati memberi. Dia percaya yang terbaik pada orang-orang dan memberi mereka tanpa keraguan. Ia berbagi apa pun dan dia mana pun ia pergi dan menemukan sukacita Natal yang sejati.

Pada Natal Tahun 2011 ini, saya mendorong Anda untuk menemukan sukacita sejati Natal dengan berbagiapa yang Anda miliki dengan orang lain. Carilah cara untuk menjadi berkat. Biarkan Tuhan menggunakan Anda menjadi berkat bagi orang lain di Natal tahun 2011 ini dan setiap hari dalam hidup anda !
"Ada yang menyebar harta tapi bertambah kaya, ada yang berhemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan" (Amsal 11:24).

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika renungan harian kristen  ini memberikan motivasi bagi anda untuk berubah ke arah yang lebih baik  maka dengan rendah hati kami berharap anda untuk berbagi renungan ini kepada teman, kerabat dan keluarga melalui tombol social media (Facebook, Google+, Twitter) yang tersedia di bagian bawah judul tulisan ini. Tuhan Yesus memberkati!

Selamat merayakan Natal 2011

Minggu, 18 Desember 2011

Tanggung Jawab Sebagai Orang Tua

Seorang kenalan dokter sedang sarapan di kantin RS pada suatu pagi. Di sebuah meja beberapa meter darinya, ada seorang ibu beserta anak laki-laki berumur kurang lebih 6 tahun yang memiliki hidung meler. Dia tampak seperti menderita asma atau masalah pernapasan. Dia tampaknya tidak berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Namun pada waktu yang sama, ia sedang makan sereal diisi dengan gula, tidak ada nutrisi apapun. Setelah sarapan, ibu itu berkata, "Nak, sudah waktunya untuk minum obat." Dia mengeluarkan botol kecil obat ungu. Ia meminumkannya tanpa ragu. Dokter mengatakan kepada temannya yang duduk di sampingnya saat sarapan, "Anak kecil itu tidak sakit. Dia diracuni. "
Kita sebagai orang tua perlu memperhatikan makanan dan atau minuman yang kita berikan bagi anak-anak kita. Jangan hanya ambil minuman buah dan berkata, "Oh, itu sehat." Baca labelnya. Biasanya pada setiap kemasan makanan atau minuman terdapatan label informasi gizi dan nutrisi. Mereka mungkin baik-baik saja sekarang, makan gula konstan, tepung putih dan kafein, tetapi apa yang terjadi jika di kemudian hari, mereka terkena penyakit serius karena kebiasaan makan yang buruk. Apakah Anda pernah berpikir tentang hal ini? Anda bisa terkena flu seketika, tetapi Anda tidak bisa kena kanker dalam seketika.  Ini adalah hal/penyakit yang berkembang selama jangka waktu yang lama baru bisa terdeteksi oleh kita.

Sekarang ini Anak-anak kita memiliki kebiasaan makan yang buruk dipengaruhi terutama dari semua iklan TV. Bahkan pada anak-anak kita yang kecil, saya kagum pada bagaimana mereka dibanjiri dengan pesan-pesan pada iklan. Tapi, kita sebagai orang tua perlu menyadari bahwa banyak dari iklan-iklan itu adalah tehnik/strategi pemasaran! Sebagai orang tua kita harus mampu memfilter/menyaring/menyeleksi apa yang baik bagi anak-anak kita. Salah satu cara  yakni dengan membaca serta memperhatikan informasi
nutrisi yang ada pada kemasan makanan dan minuman.

Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita mengembangkan kebiasaan makan yang buruk.
Dan tidak heran mengapa beberapa anak-anak saat ini memiliki masalah di sekolah dan mengapa mereka tidak bisa berkonsentrasi. Banyak kali, itu karena pola makan mereka yang buruk. Bahkan ada yang ke sekolah tanpa sarapan.Kita perlu memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang tepat. 

Saya membaca satu studi yang menunjukkan tujuh puluh lima persen anak-anak punya masalah dengan gula darah mereka. Itulah akar penyebab. Kita bisa mengobati mereka sepanjang hari, tetapi jika kita mulai memperlakukan sumber daripada gejala, maka kita dapat memperbaiki masalah dan melakukan keadilan yang lebih besar kepada anak-anak kita.

Ketika kita memberikan anak-anak kita makan makanan sehat, tidak hanya memberi mereka jenis energi yang baik, tapi memberikan mereka pikiran lebih tajam. Ini dapat memberi mereka kapasitas mental yang lebih besar. Alkitab mengatakan dalam 

Amsal 22:06 "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun dia tidak akan menyimpang dari itu."

Demi panggilan mereka dan takdir mereka yang telah diciptakan oleh Allah Yang Mahakuasa, lakukan bagian Anda dengan mengajar anak-anak Anda kebiasaan makan yang sehat sehingga mereka akan menjadi kuat dan perkasa !

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika renungan harian kristen  ini memberikan motivasi bagi anda untuk berubah ke arah yang lebih baik  maka dengan rendah hati kami berharap anda untuk berbagi renungan ini kepada teman, kerabat dan keluarga melalui tombol social media (Facebook, Google+, Twitter) yang tersedia di bagian bawah judul tulisan ini. Tuhan Yesus memberkati!

Senin, 21 November 2011

MENGUBUR MENTAL FARISI

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas15:1-7

Perumpamaan tentang domba yang hilang dalam nas i­ni adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus sendiri. Perumpamaan ini disampaikan-Nya dalam ra­ngka menjawab sungutan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, karena Yesus menerima dan bergaul dengan oang berdosa. Saudara, hampir setiap kali kita membaca tentang orang-orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Alkitab, selalu kita memperoleh kesan yang ne­gatif. Negatif, karena sikap-sikap yang mereka tunjukan. Melalui nas ini kita dapat melihat sifat-sifat mereka yang negatif itu.

Pertama:  mereka selalu menganggap dirinya benar suci dan istimewa. Yang selalu harus dihargai dan dihormati. Ingin dihargai dan dihormati itu sendi­ri sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Setiap orang wajar menginginkannya. Wajar untuk mendapatkannya. Tapi masalahnya, bila hanya ingin dihargai dan dihormati tetapi tidak perrnah menghargai orang lain! Mengejar kebenaran atau kesucian  itu juga seharusnya dilakukan setiap orang. Bahkan hal tersebut justru dianjurkan oleh Tuhan. Tapi masalahnya, apabila selalu menganggap diri benar, menganggap diri sendirilah yang suci lalu menjadi alat untuk menghakimi bahwa orang lain selalu salah, selalu tidak benar?

Wah...wah...wah...Celakanya lagi bila sampai merasa diri tidak pernah salah, tidak pernah keliru, tidak pernah berdosa. Waduh...ini pas­ti kesombongan namanya. Kemunafikan istilahnya! Jika mental Farisi dan Ahli Taurat semacam ini sampai melanda persekutuan gereja, tentu tidak mungkin ada persekutuan yang balk, tidak mungkin adanya saling mengasihi. Yang ada tentulah saling membenarkan diri, saling menyalahkan, saling merasa berharga, dan seterusnya...

Karena itu marilah kita mengoreksi diri masing-ma­sing, kita bercermin dari terang kebenaran firman Tuhan ini, supaya jika ada mental Farisi dan Ahli Taurat menghinggapi persekutuan kita, akan kita kubur dalam-dalam. Dan jika ada, maka juga langkah paling bijaksana yang harus dilakukan adalah "per­tobatan". Bertobat berarti kita bersedia menanggalkannya, lalu menguburnya dalam-dalam kemudian mengarahkan hidup kita pada jalan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Memang pada dasarnya tidak ada seorang manusia juapun di dunia ini (kecuali Yesus) yang tidak pernah keliru, tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi itu tidak mengapa, andai ada pertobatan. Yesus sendiri berkata: "Demikian juga akan ada sukacita di sorga karma satu prang berdosa yang bertobat, lebih daripada eukacita karma sembila puluh sembilan p­rang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (ay.7).

Kedua: Mereka adalah orang-orang yang selalu mencari kesalahan orang lain, tatapi mereka sendiri tidak pernah mengakui dan menyadari kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa mereka. Selalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain sebenarnya adalah ungkapan perasaan hati terselubung yang dihiasi sifat dengki dan kebencian secara menyamar. Sifat yang  pada dasarnya untuk menutupi kekurangan diri sendiri. Sifat yang pada dasarnya untuk menutupi ke kurangan diri sendiri. Takut karena perasaan tersi­sih, tersaingi atau merasa kalah dari orang lain.

Saudara, apabila kita mencari kesalahan orang lain, ya memang selalu ada. Semakin kita mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, ya tentu semakin banyak yang kita dapatkan. Andaikata hal demikian kita lakukan, sebaiknya kita menyadari, apakah saya juga tidak memi­liki kekurangan-kekurangan, kesalahan-kesalahan atau juga dosa-dosa? Jangan-jangan kesalahan, kelemahan dan dosa kitea jauh lebih besar dari orang lain! Ibaratkan telunjuk kita, jika menunjuk ke arah porang lain, makea pada saat yang sama kits harus me­nyadari bahwa masih ada tiga bahkan empat jari yang lain menunjuk ke arah diri kita.

Sebab itu saudara, baiklah berdasarkan kebenaran firman Tuhan ini kita diingatkan supaya menjalani hidup secara baik dan positif. Tidak terlalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain. Orang dapat menghargai kita sebenarnya juga tergantung dari cara kita menghargai orang lain. Orang menjadi senang itu pun tergantung dari apa yang kita laku­kan sehingga orang menjadi senang.

Seorang yang benar-benar rendah hati memang sulit ditemukan. Namun tentunya Tuhan menyenangi orang  yang rendah hati. Booker T.Washington, seorang pen­didik negro yang terkenal dari Institut Tukegee me­rupakan contoh yang baik untuk kebenaran ini. Tentunya yang perlu kita tiru. Tidak lama setelah ia menjabat presiden dari Institut Tukegee di Alabama, ia berjalan-jalan di pinggir kota. Seorang wanita kulit putih tiba-tiba menghentikannya. Karena tidak mengenal tuan Washington, maka wanita yang kaya ini menawarkan apakah laki-laki negro itu mau menda­patkan uang dengan memotongkan kayu untuknya. Sete­lah berfikir bahwa tak ada urusan yang mendesak, maka Prof.Washington tersenyum dan menggulung lengan bajunya lalu mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta.

Setelah selesai membawa kayu-kayu itu ke dalam ru­mah dan meletakkannya di dekat perapian. Seorang gadis kecil mengenalnya dan kemudian mengatakan kepada wanita itu. Keesokan harinya wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kuntor tuan Washington dan meminta  maaf. "Tak apa-apa, nyonya", jawabnya, "Adakalanya saya menyukai pekerjaan kasar, disamping itu sungguh menyenangkan dapat menolong seorang teman", lanjutnya.

Wanita tadi dengan hangat menjabat tangan tuan Washington dan memberikan pujian buat perilakunya yang rendah hati. Beberapa waktu kemudian wanita tadi menyatakan penghormatannya dengan ikut menyumbang be­ribu-ribu dolar untuk Institut Tukegee. Alkitab berkata; "Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian" (Amsal. 29:23). Saudara, hanya de­ngan kerendahan hati maka kasih dapat dilakukan. Dengan kerendahan hati di situlah ketinggian dan kea­gungan kita selaku pengikut-pengikut Yesus. AMIN
_____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Selasa, 27 September 2011

SEBAGAI SURAT KRISTUS YANG TERBUKA

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini :
II Korintus 3:1-8

Sejak jaman dahulu orang memang sudah gemar menulis surat. Diukir di atas loh batu, menggunakan buluh yang dicelup pada tinta, pena, pulpen hingga mengetik, semua itu merupakan perkembangan dari hal tulis menulis ini. Surat bukan hal asing bagi kita, hampir semua orang pernah menerima surat ataupun berkirim surat. Ada banyak macam jenis surat, diantaranya; surat cinta, surat undangan, surat wasiat, surat hutang, surat tagihan, surat nikah, surat keputusan, surat elektronik, surat edaran, surat terbuka, dan ada pula surat kaleng. Surat sebagai salah satu media untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan sikap seseorang mengenai suatu hal. Isi surat menggambarkan maksud dari seseorang atau bahkan bisa memberikan informasi mengenai isi hati, pikiran dan bahkan karakter seseorang. Kedalaman hati dan karakter seseorang bisa diketahui salah satunya melalui karakter tulisan dan gaya bahasa dalam sebuah surat.
Lalu apa artinya menjadi surat Kristus?  Terlebih, sebagai surat Kristus yang terbuka? Rasul Paulus menyatakan kita adalah Surat Kristus yang dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang. Dengan demikian kita  menjadi surat yang terbuka, surat yang dapat diketahui oleh semua orang. Sebagai surat Kristus kita menyatakan apa yang menjadi pikiran dan perasaan Kristus. Kristus adalah sosok pribadi yang terbuka, kemanapun Dia pergi selalu dapat dikenali oleh semua orang. Dia pribadi yang menebarkan kasih dan bahkan membuka “rahasia sorga” yaitu rencana Allah dalam rangka menyelamatkan manusia. Keterbukaan dan kejelasan diri harus kita utamakan dalam bergaul dengan orang lain, apalagi ketika mengirim surat. Sadarkah kita jika diri kita pun sebenarnya merupakan sebuah surat, bukan hanya surat tapi juga surat terbuka? Ya, kita adalah  surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang.
Surat Kristus berarti surat yang membawa terang. Sama seperti Kristus yang merupakan Terang Dunia, kita pun seharusnya siap menjadi terang yang bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah, lewat tulisan Roh Kudus, Roh Allah sendiri dalam loh-loh daging atau hati kita. Yesus berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Karena itulah kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, hingga kita bisa mencapai tingkatan yang diinginkan Tuhan bagi kita. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Disaat seperti itulah kita bisa menjadi surat Kristus yang benar untuk dibaca banyak orang.

Sebagai orang percaya, kita seharusnya menjadi surat yang bukan sembarang surat, tapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca oleh orang lain. Firman Tuhan berkata "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). We are like a piece of paper that can be read by everyone. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain. Orang percaya seharusnya menjadi sebuah surat Kristus. Yang bukan ditulis dengan tinta biasa, bukan pada loh-loh batu, tapi ditulis oleh Roh Allah yang hidup langsung ke dalam hati kita. Dan dari hati kitalah terpancar cara hidup kita, yang akan mampu dibaca orang lain. Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orangpun bisa "membaca" siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.

Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Apakah hati kita berisi firman Tuhan dan mencerminkan Kristus dengan benar, atau kita terus menerus menunjukkan karakter jelek, itu akan mempengaruhi pengenalan orang akan Kristus. Rajin beribadah, selalu menyebut Tuhan, tapi berperilaku jelek, tidakkah itu akan membuat orang menertawakan Tuhan dan Juru Selamat kita? Ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita renungkan.

Penulis kitab Amsal juga mengingatkan kita untuk terus menjaga hati, karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita. Yesus pun mengingatkan pentingnya menjaga hati,"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23).

1. Kita adalah surat Kristus yang ditulis oleh Roh Allah

Jika Anda memiliki sepucuk surat dari Mark Twain di loteng Anda, nilai nominalnya bisa sangat mahal. Sebuah surat pribadi sepanjang sembilan halaman yang ia tulis kepada putrinya pada tahun 1875 terjual seharga 33.000 dolar di tahun 1991. Surat-menyurat biasa dengan penulis Tom Sawyer biasanya berharga 1.200 hingga 1.500 dolar per halaman. Para ahli mengatakan bahwa walaupun Twain menulis 50.000 surat sepanjang hidupnya, permintaan akan surat-surat pribadi dari salah satu penulis favorit Amerika ini masih tetap tinggi.  Anda mungkin tidak memiliki sepucuk surat pun dari Mark Twain, namun sesungguhnya Anda memiliki kumpulan surat yang tak ternilai harganya. Karena di dalam diri Anda adalah isi kitab Kristus itu sendiri yang tak ternilai harganya. Dan surat-surat itu sungguh berharga, karena mengandung kisah yang tak ternilai tentang Yesus Kristus. Bagi setiap orang kristiani, nilai terpenting dari surat kehidupan bukanlah nilai nominalnya, melainkan hikmat bagi hati yang terbuka, yakni hikmat dari Allah sendiri.

Kesaksian yang paling efektif dari orang Kristen terhadap orang yang belum percaya adalah hidup orang Kristen itu sendiri. Hidup seseorang yang telah diubahkan karena kasih dan kuasa Kristus berbicara jauh lebih “keras” daripada ribuan kata-kata. Jadi, hidup orang Kristen yang telah diubahkan adalah “senjata” yang ampuh untuk menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan. Namun sayang, kenyataannya justru sebaliknya. Tidak sedikit orang yang tidak tertarik atau bahkan antipati kepada kekristenan justru karena hidup orang Kristen itu sendiri. Sebut saja misalnya, Mahatma Gandhi, di depan ribuan mahasiswa Kristen di Colombo pernah berujar, “Seandainya kekristenan hanyalah kotbah di bukit, maka saya telah menjadi orang Kristen. Tetapi karena hidup orang-orang Kristenlah maka saya tidak mau menjadi Kristen.”

Pengalaman yang menyakitkan dialami oleh Gandhi adalah ketika ia ditolak untuk masuk ke dalam gereja oleh orang-orang kulit putih dengan alasan kulitnya tidak berwarna sama dengan mereka. Friedrich Nietzche, seorang filsuf atheis, pernah menjawab pertanyaan mengapa ia sangat membenci kekristenan. Dia menjawab, “saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka (orang Kristen), apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.”

Ada lagi kisah tentang Anton Szandor LaVey sang pendiri gereja Setan. Pada mulanya LaVey adalah seorang yang taat beribadah bahkan melayani di gereja. Di dalam pengalamannya, LaVey melihat banyak pria kristen yang hidup dalam kemunafikan. Pada hari Minggu mereka ini terlihat sebagai orang-orang yang saleh di gereja, tapi di hari-hari lain mereka berkanjang di dalam berbagai dosa dan kenistaan. Pengalaman itu mendorong LaVey untuk mendirikan gereja (setan) di mana para anggotanya bebas mengumbar nafsu tanpa dibungkus kemunafikan.

Masih banyak lagi orang-orang seperti Gandhi, Nietzche dan LaVey di sekitar kita. Mungkin mereka adalah orangtua, anggota keluarga, sahabat-sahabat atau orang-orang yang mengenal kita yang urung menjadi Kristen karena melihat hidup kita. Betapa sering kita tidak mampu menampakkan diri sebagai “surat pujian” dari Allah, karena dalam prakteknya kita lebih banyak menebarkan benih kebencian, pikiran jahat, percabulan, perzinahan, keserakahan, kelicikan, iri hati, hujat, kesombongan dan seribu macam rupa keduniawian di antara sesama manusia.

2. Sebagai surat Kristus kita harus menjadi sebuah kisah tentang cinta Yesus

Seperti halnya Yesus mencintai anda, setiap sendi kehidupan kita juga sudah selayaknya menjadi kertas yang dipakai oleh guratan pena Tuhan untuk menyatakan kasihNya yang begitu besar kepada dunia ini. Roh Allah tidak sekedar memberikan coretan kasar tapi sebuah gambaran akan kasih yang begitu indah sebagai gambaran Kristus. Apakah itu bisa dibaca orang lain, atau malah kita meninggalkan goresan-goresan kasar yang mencabik-cabik hati orang lain? Seperti apa Kristus yang kita gambarkan lewat diri kita? Sejak hari ini, marilah kita terus menjaga hati kita. Penuhi terus dengan firman Tuhan yang penuh kuasa. Ijinkan Roh Kudus terus menulis tentang Kristus dalam hati kita, dan biarlah Tuhan dipermuliakan dengan segala gambaran yang muncul keluar dari diri kita. Ingatlah bahwa diri kita selalu ibarat surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Apa isi surat yang terbaca lewat anda hari ini?

Di sebuah universitas di Inggris, sekelompok mahasiswa mengajukan pertanyaan berikut, "Kamu ingin menjadi apa?" Mereka melontarkan berbagai jawaban yang berbeda-beda, yakni atlet berprestasi, politisi yang berpengaruh, cendekiawan terkenal. Dengan malu-malu, namun pasti, seorang mahasiswa mengatakan sesuatu sehingga timbul keheningan yang dalam, "Kalian boleh menertawakan saya, tapi saya ingin menjadi orang kudus." Bayangkan, orang kudus! Apa pun konsep mahasiswa itu tentang orang kudus, banyak orang di masyarakat sekuler kita yang akan memandang aneh ambisi tersebut. Namun sebagai orang kristiani, hal itu sepatutnya menjadi prioritas tertinggi dalam hidup kita. Inti dari kekudusan adalah menyerupai Yesus. Paulus berkata bahwa tujuan utama Allah Bapa adalah menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Roma 8:29).

Tentu saja, setiap orang percaya memiliki jaminan keserupaan yang sempurna dengan Kristus di dunia yang akan datang nanti. Namun, Allah tidak ingin kita menanti dengan pasif hingga kita memasuki surga, di mana perubahan adikodrati itu terjadi (1 Yohanes 3:2). Kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus untuk tumbuh menjadi lebih dan semakin lebih menyerupai Kristus "di dalam dunia ini" (4:17). Ya, kita sudah menjadi orang-orang kudus karena kita beriman di dalam Kristus Yesus (Filipi 1:1). Namun, setiap hari kita menghadapi tantangan untuk menjadi diri kita yang sebenarnya, yakni keserupaan dengan Kristus di setiap bidang kehidupan kita.

3. Sebagai surat Kristus kita harus mencerminkan kemuliaan Kristus

Dalam 2 Korintus 3:18, digambarkan bahwa kita "mencerminkan kemuliaan Tuhan". Apabila kita mencerminkan kemuliaan-Nya, kita akan diubah "menjadi serupa dengan gambar-Nya", yaitu menyerupai Kristus. Barangkali kita bertanya-tanya mengapa cara berpikir dan perilaku kita masih jauh dari serupa dengan Kristus. Mungkin pertanyaan berikut ini dapat menolong: "Hidup siapakah yang kita cerminkan?" Umat Allah harus mencerminkan kemuliaan Allah. Untuk itu kita harus membiasakan diri mencerminkan kemuliaan-Nya. Kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya. Kita harus berdoa dan memercayai Roh Kudus Allah untuk bekerja di dalam hati kita. Barulah setelah itu kita dapat menaati perintah-Nya dan berpegang pada janji-Nya. Kemuliaan siapakah yang dalam hidup kita?

Raut muka adalah cerminan hati. Apakah orang lain melihat Yesus pada raut muka Anda? Ketika Musa turun dari Gunung Sinai setelah bertemu dengan Allah, wajahnya begitu bercahaya sehingga bangsa Israel tidak mampu menatapnya (Keluaran 34:29,30; 2 Korintus 3:7). Paulus membandingkan kemuliaan itu dengan kemuliaan lebih besar yang dapat dialami oleh mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Kristus. Ia mengatakan bahwa kita diubahkan oleh Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita, sehingga kita akan semakin menyerupai Tuhan Yesus (2 Korintus 3:18). Tak ada kosmetik wajah yang lebih baik dibandingkan anugerah Allah yang mengubahkan. Persahabatan dengan Kristus mungkin tidak membuat wajah kita sempurna, tetapi dapat menggantikan keriput dan kerutan di dahi dengan kedamaian batin yang memancarkan keindahan Kristus melalui diri kita.

Dalam beberapa hal, hukum Taurat Musa bagi orang kristiani sama seperti kruk bagi seorang atlet. Keduanya baik apabila diperlukan dan digunakan dengan benar. Namun, kruk tidak dapat digunakan untuk memenangkan perlombaan lari cepat 90 meter. Demikian juga bersandar pada sebuah sistem hukum tidak pernah dapat membawa kemenangan rohani bagi kita. Paulus menekankan penyusutan kebesaran hukum Perjanjian Lama dengan membandingkannya dengan kemuliaan hidup dan kebebasan di dalam Roh yang tiada taranya. Mengacu pada wajah Musa yang bersinar setelah menerima Sepuluh Perintah Allah, Rasul Paulus berkata bahwa memudarnya sinar wajah Musa sama seperti wahyu di Gunung Sinai yang diterimanya. Wahyu itu bersifat sementara dan tidak lengkap. Orang Israel akan segera menyadari bahwa pesan Allah dari gunung itu juga standar yang akan digunakan untuk menghakimi mereka.

Namun, di mana Roh Kudus memerintah, di sana terdapat anugerah yang melimpah, dan keagungan-Nya jauh melebihi keagungan Taurat itu. Bayangkan sebatang korek api yang menyala di dalam sebuah tempat yang gelap gulita. Munculnya nyala api yang tiba-tiba itu memberikan sebuah pertunjukan sinar yang mengesankan. Namun, jika Anda menyalakan sebuah korek api di bawah terik sinar matahari, percikan sinarnya akan tampak tidak berarti. Kesepuluh perintah tersebut bersifat menuntut dan pada akhirnya menghakimi. Akan tetapi, hidup di dalam Roh membawa pengalaman kuasa Allah yang mengubahkan ke dalam hati kita

Pudarnya keagungan Taurat tidak sebanding dengan kemuliaan anugerah Allah. Perjanjian baru itu lebih baik daripada perjanjian lama (bd.Rom 7:1-25) karena mengampuni sama sekali dosa dari orang-orang yang bertobat (Ibr 8:12), menjadikan mereka anak- anak Allah (Rom 8:15-16), memberikan mereka hati dan tabiat yang baru sehingga dapat mengasihi dan menaati Allah dengan spontan (Ibr 8:10; bd. Yeh 11:19-20), menuntun mereka kepada hubungan pribadi yang lebih intim dengan Yesus Kristus dan Bapa di sorga (Ibr 8:11), serta menyediakan pengalaman yang lebih indah di dalam Roh Kudus (Yoel 2:28; Kis 1:5-8; Kis 2:16-17,33,38-39; Rom 8:14- 15,26).

Kabar baik tentang Kristus harus dimulai dari diri kita, sehingga apakah sesama kita juga dapat membaca “Injil” di dalam diri kita, yaitu kualitas kehidupan dan spiritualitas iman serta kasih kita kepada Kristus. Jadi makin jelaslah bagi kita bahwa tugas pemberitaan Injil bukan sekedar kumpulan kata-kata saleh dan rohani agar orang-orang di sekitar kita mengenal Kristus sebagai Juru-selamatnya. Tetapi pemberitaan Injil secara esensial menyangkut kualitas hidup kita di hadapan Allah dan sesama, yaitu apakah hidup kita sungguh-sungguh telah menjadi surat pujian dan surat Kristus ?
______________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Rabu, 05 Mei 2010

Jalan Orang Benar

"Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya Fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari "
(Amsal 4:18)


Kadang-kadang mudah untuk menjadi sangat berorientasi pada tujuan dan begitu terfokus pada impian kita, bahwa kita mengabaikan hal-hal sederhana yang harus kita nikmati dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi kita harus ingat bahwa hidup ini tidak benar-benar tentang tujuan, ini tentang bagaimana kita menjalani hidup ini. Ini tentang jalan hidup kita yang harus sesuai kehendak Allah.

Baca selengkapnya »

Sabtu, 01 Mei 2010

First Love

“Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” (Efesus 5:18)


 Salah satu kebutuhan dasar manusia secara psikologis adalah cinta. Cinta sangatlah luas misalnya cinta kepada Tuhan, sesama, pelayanan, sekolah/kuliah, pekerjaan, hobi atau benda – benda lain yang dianggap berharga. Di usia tertentu biasanya ketika menginjak masa remaja atau yang lebih dikenal dengan istilah masa puber seseorang akan mengalami cinta pertama atau ‘First Love’ kepada lawan jenisnya.
Cinta pertama adalah cinta paling murni dalam sejarah perjalanan percintaan lelaki dan perempuan yaitu saat kita jatuh cinta pertama kali pada seseorang, bayangan kita tentang cinta sangatlah indah dan mulia. yang cute dan innocent, Lembut, polos, kekanakan dan menggemaskan Kalau kita mencintai seseorang, kita cenderung memberikan sesuatu yang khusus sebagai tanda kita mencintainya, entah itu berupa barang, waktu atau apapun bentuknya. 
Baca selengkapnya »

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari