Minggu, 07 Desember 2014

Tidak Ada Gereja yang Sempurna

Info

Oleh: Gracea Elyda S Sembiring


tidak-ada-gereja-sempurna


Masih teringat jelas dalam memori bagaimana aku pertama kali dimuridkan dalam sebuah PMK. Saat itu aku baru pertama kali merantau. Senang rasanya bisa jadi bagian dalam persekutuan itu. Sikap-sikapku banyak yang diubahkan melaluinya.


Namun, mungkin karena melihat banyak hal yang baik dalam persekutuan di kampus itu, aku mulai tidak puas dengan gerejaku sendiri. Aku tidak lagi tertarik beribadah di sana. Aku mulai mempermasalahkan sistem pelayanan di gereja, dan berdebat dengan orangtuaku yang melayani di sana.


Awalnya, aku semangat ingin membawa perubahan. Aku suka menanyakan bagaimana saat teduh teman-teman di gereja, apakah ada hal yang bisa kudoakan untuk mereka. Tapi, aku malah dianggap sok suci. Pernah aku coba menawarkan bahan saat teduh yang dapat mereka gunakan, tanpa dikenakan biaya, tapi ditolak. Aku kecewa berat. Apalagi saat kemudian aku melihat bagaimana kehidupan para pengurus di gereja. Mulailah aku menghakimi mereka. Aku mengkritik cara rapat mereka, ketidaktepatan waktu mereka, pergaulan mereka, studi mereka, dan sebagainya.


Tuhan menegurku melalui sebuah buku yang ditulis oleh Rick Warren, The Purpose Driven Life. Dalam bab yang ke-21 dari buku itu, sebuah kalimat menyentakku: “Adalah tanggung jawabmu untuk melindungi kesatuan gerejamu”. Kesatuan adalah jiwa persekutuan. Dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum ditangkap, inilah yang menjadi doa Yesus bagi murid-murid-Nya. Kasih dan kesatuan dalam tubuh Kristus adalah suatu kesaksian yang sangat kuat bagi dunia. Jika aku meninggalkan gereja hanya karena perbedaan yang kulihat, bukankah itu tindakan yang sangat bodoh dan tidak dewasa? Aku memang masih bertahan di gereja itu, namun sikapku sinis dan penuh kritik. Dalam hati aku berkata, “Aku akan tetap beribadah di sini, tapi tidak akan terlibat dalam pelayanan.” Tuhan menyadarkanku, betapa mengerikannya sikapku saat itu. Sombong, dan sangat tidak dewasa. Betapa aku perlu belajar tentang makna persekutuan yang sejati.


Dalam buku yang sama, Warren menasihati setiap orang Kristen untuk bersikap realistis dengan harapan-harapan yang kita miliki. Kita harus mengingat bahwa gereja dibentuk dari orang-orang berdosa, termasuk diri kita sendiri. Sebab itu, bisa saja kita saling melukai, entah itu secara sengaja maupun tidak. Wajar jika kita kecewa, mengalami konflik, atau merasa tidak puas. Namun, meninggalkan gereja bukanlah solusi untuk kekecewaan atau ketidakpuasan kita. Saat kita pindah ke gereja lain, kita mungkin akan kecewa lagi, karena memang tidak ada gereja yang sempurna. Akan lebih menolong jika kita tidak “lari” dari masalah, tetapi justru menghadapi masalah tersebut. Bila ada konflik, bereskan hingga tuntas. Jika sebuah gereja harus sempurna untuk memuaskan kita, kesempurnaan itu akan melarang kita untuk menjadi anggotanya, karena kita sendiripun tidak sempurna.


Saat ini aku melanjutkan studi di Surabaya dan aktif di salah satu gereja. Bersyukur bahwa aku bisa menikmati hubungan persahabatan yang baik dengan orang-orang di gereja ini. Aku mendapat kesempatan melayani, dan bahkan membagikan pengalaman pelayananku di PMK dulu. Dengan kasih, bukan penghakiman, orang-orang ternyata lebih terbuka untuk bertumbuh. Beberapa rekan kini bahkan menyatakan kerinduan mereka untuk memulai pemuridan di gereja, dan mulai membawa hal itu sebagai wacana dalam rapat-rapat pengurus!


Mungkin banyak di antara kita yang ingin berbuat sesuatu di gereja kita, tapi terhalang oleh perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. Mari ambil satu langkah untuk masuk di tengah gereja. Bukan untuk menghakimi dan menunjukkan bahwa kita lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi garam di sana, bertumbuh bersama. Mari bersyukur atas persekutuan yang kita miliki. Tuhan sudah menempatkan kita di sana, Dia juga yang akan berkarya di tengah persekutuan anak-anak-Nya.


Dietrich Bonhoeffer pernah menulis: “orang yang lebih menyukai impiannya akan sebuah komunitas Kristen daripada komunitas Kristen itu sendiri menjadi para perusak komunitas Kristen… mungkin yang kita dapatkan dalam persekutuan dengan sesama orang Kristen bukanlah pengalaman yang hebat atau hal-hal yang memperkaya hidup kita, tetapi justru banyak kekurangan, iman yang lemah, dan kesulitan. Namun, bila kita tidak mengucap syukur setiap hari atas persekutuan yang kita miliki, dan sebaliknya terus mengeluh kepada Tuhan betapa picik dan tidak bergunanya segala hal dalam persekutuan itu, kita sebenarnya sedang menghalangi Tuhan untuk membuat persekutuan kita bertumbuh …”


Kiranya Tuhan menolong kita untuk makin mencintai gereja-Nya.


facebook google_plus


Artikel ini termasuk dalam kategori 11 - Desember 2014: Diterima & Menerima, Artikel, Pena Kamu, Tema 2014







from WarungSaTeKaMu.org

via IFTTT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari