Sabtu, 16 Juni 2012

renungan harian online: Anak-anak di Mata Tuhan (1)

renungan harian online
renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan
Anak-anak di Mata Tuhan (1)
Jun 16th 2012, 15:00

Ayat bacaan: Mazmur 127:4
====================
"Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."

anak-anak dimata Tuhan"Saya tidak suka sama anak-anak..." kata seorang teman sambil cemberut melihat beberapa anak kecil yang berlari-lari sambil berteriak-teriak disebuah mal. Ada banyak orang yang berpikir sama seperti dia. Di beberapa negara Eropa pemerintahnya mulai kesulitan karena populasi semakin sedikit akibat penduduknya semakin tidak menginginkan keturunan. Banyak orang yang menganggap repot mengurus anak. Biayanya tinggi, jadi tidak punya waktu untuk istirahat dan sebagainya sering dijadikan alasan bagi pasangan-pasangan untuk menolak kehadiran anak dalam keluarga mereka. Mereka tidak mau direpotkan dengan kehadiran anak sama sekali. Lahir satu anak artinya harus menambah sedikitnya satu baby sitter dan satu pembantu. Pemandangan ini pun sering kita lihat, dimana sang ibu akan berjalan di depan bagai pragawati sedang dibelakangnya baby sitter dan pembantu akan tergopoh-gopoh menjaga anak-anaknya. Bukannya disyukuri, tapi kehadiran anak malah dianggap sebagai pengganggu kesenangan hidup. Ini bukanlah gambaran yang tepat menurut Tuhan. Anak-anak sesungguhnya memiliki posisi yang sangat berharga dan begitu istimewa di mata Tuhan.

Dalam kitab Mazmur kita bisa melihat sebuah ayat yang berkata demikian: "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda." (Mazmur 127:4). Anak-anak digambarkan bagaikan anak-anak panah di tangan pahlawan, as arrows in the hand of a warrior. Jika anda ingin memanah sebuah target, tidakkah anda akan membidik dengan sebaik-baiknya agar bisa tepat mengenai sasaran? Seperti itulah pentingnya mengarahkan anak sejak masa kecil mereka agar mereka tampil menjadi orang-orang yang baik dan benar ketika mereka dewasa kelak. Begitu pentingnya sehingga kata pahlawan/warrior dipakai untuk menggambarkan posisi orang tua bagi anak-anaknya. Artinya, jika orang tua malas mengurus anak, tidak memperhatikan atau mempedulikan mereka dan lebih suka memberikan anak-anaknya ke tangan orang lain untuk mengurus, itu berarti mereka tidak bertindak sebagai pahlawan di mata Tuhan. Lebih lanjut lagi Tuhan pun mengatakan: "Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (ay 5). Happy, blessed and fortunate, itu bahasa Inggris yang dipakai untuk menggantikan kata "berbahagialah" dalam versi English AMP-nya. Jika tidak mengurus anak dengan baik, selain merugikan masa depan anak tapi juga akan membuat orangtuanya mendapat malu pada suatu saat nanti akibat perilaku anak-anak mereka yang tidak terpuji.

Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang menolak kehadiran anak-anak? Kita bisa melihat perihal ini dalam Matius 19:13-15. Pada saat itu ada orang yang membawa anak-anak kecil mereka untuk bertemu dan diberkati Yesus. Reaksi murid-muridNya adalah memarahi orang-orang itu. Mereka mengira bahwa Yesus akan terganggu dengan kehadiran anak-anak kecil. Tapi ternyata tidak demikian. Yesus justru menegur mereka. "Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (ay 14). Lalu kemudian Yesus pun memberkati anak-anak itu. Lihatlah sambutan penuh kasih dan kelembutan Tuhan terhadap anak-anak. Begitu tinggi posisi anak-anak di mata Tuhan sehingga Yesus sampai perlu mengatakan: "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 18:10). Anak-anak memang bisa terkadang merepotkan. Mereka bisa bertanya tentang banyak hal termasuk yang kita anggap tidak penting. Cerewet, bandel, dan membutuhkan banyak perhatian. Tapi itu semua bukan berarti bahwa kita boleh merendahkan mereka. Kita harus memberi kasih sayang kepada mereka, mendidik, merawat juga mengenalkan mereka akan firman Tuhan dan pribadi Tuhan sejak dini, agar mereka bisa bertumbuh menjadi teladan-teladan di tengah masyarakat kelak.

Anak kecil pun dijadikan role model oleh Yesus sendiri dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang sesungguhnya berkenan di hadapan Tuhan. Perhatikan kata Yesus berikut ini dengan menempatkan seorang anak kecil langsung di hadapan murid-muridNya. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3-4). Tidak lupa pula Yesus pun menyatakan pentingnya menyambut hadirnya seorang anak dimataNya. "Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (ay 5).

(bersambung)

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari