Rabu, 25 Februari 2015

Mengubah Perspektif

Info

Kamis, 26 Februari 2015


Mengubah Perspektif



17:16 Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.


17:17 Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.


17:18 Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" Tetapi yang lain berkata: "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing." Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.


17:19 Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: "Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini?


17:20 Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu."


17:21 Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.


17:22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.


17:23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.



Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. —Kisah Para Rasul 17:16


Mengubah Perspektif


Sebagai orang yang suka bangun pagi, istri saya menikmati waktu-waktu yang hening sebelum orang lain dalam rumah terjaga. Ia menggunakan waktu itu untuk membaca Alkitab dan berdoa. Baru-baru ini ia hendak duduk di kursi favoritnya, tetapi pikirannya teralih ketika melihat ada sofa yang berantakan setelah saya pakai saat menonton pertandingan sepakbola malam sebelumnya. Awalnya, kekacauan itu mengalihkan perhatian istri saya, dan rasa frustrasinya terhadap saya mengusik kehangatan pagi yang hening itu.


Lalu tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Ia memilih pindah dari kursi favoritnya dan duduk di sofa itu. Dari sofa tersebut, lewat jendela depan, ia dapat menyaksikan pemandangan matahari yang terbit di atas Samudera Atlantik. Keindahan yang dilukiskan Allah pada pagi itu telah mengubah perspektif istri saya.


Saat ia menceritakan pengalamannya, kami berdua menyadari pelajaran dari pagi itu. Meski kita tidak dapat selalu mengendalikan hal-hal dalam hidup ini yang mempengaruhi hati kita, kita tetap diberi pilihan. Kita dapat terus memikirkan “kekacauan” yang ada, atau kita dapat mengubah perspektif kita. Ketika Paulus berada di Atena, “sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Kis. 17:16). Namun ketika Paulus mengubah perspektifnya, ia memanfaatkan minat orang terhadap agama sebagai kesempatan untuk mewartakan tentang Allah yang sejati, Yesus Kristus (ay.22-23).


Ketika istri saya berangkat untuk bekerja, tibalah giliran saya untuk mengubah perspektif saya. Saya mempersilakan Tuhan untuk menolong saya melihat kekacauan-kekacauan yang telah saya perbuat, melalui sudut pandang istri saya dan juga sudut pandang-Nya. —RKK


Ya Tuhan, berilah kami hikmat untuk mengubah sudut pandang kami

daripada berlama-lama memikirkan kekacauan yang terjadi.

Tolong kami untuk melihat—dan memperbaiki—

segala “kekacauan” yang kami akibatkan kepada sesama.


Berhikmat berarti melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah.


Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 15-16; Markus 6:1-29


facebook google_plus


Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu







from WarungSaTeKaMu.org

via IFTTT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari