Rabu, 06 Februari 2013

Coffee Cupper

Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."

Pernahkah anda mendengar profesi "coffee cupper" atau "coffee taster"? Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa dan aroma dari secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup. Sekalipun anda tidak berprofesi sebagai coffee cupper tetapi anda telah berhubungan bertahun-tahun dengan yang namanya kopi, anda akan memiliki kepekaan tersendiri akan kualitas kopi. Saya sering berbincang-bincang dengan seorang penjual kopi generasi ke tiga. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentang kopi, maka ia tumbuh menjadi orang yang peka dan ahli di bidangnya. Ia selalu bersemangat dalam menerangkan jenis-jenis kopi, rasa yang akan di dapat atau tajam/tidaknya aroma dari masing-masing jenis kopi. Itu di dunia kopi.  Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah "wine taster", orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.

Kepekaan bisa terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Itu sama dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka. Kita tidak akan secara instan bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
 (Efesus 5:10). Bagaimana bisa menguji jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran? Lebih lanjut Paulus berkata, untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Istilah "anak terang" dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (ay 13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya bisa bermacam-macam, jalan masuknya pun demikian. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Dan itu bisa dicapai dengan tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan "coffee-cupper" dan "wine taster" yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari