Selasa, 05 Februari 2013

Pernikahan = Peternakan?

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
====================
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Seorang teman datang kepada saya dan menangis, karena suaminya baru saja meminta persetujuannya untuk kawin lagi. Alasannya? "Karena setelah 3 tahun menikah saya belum juga bisa memberinya anak.." katanya sambil terus menangis. Ini adalah potret buram di negara kita seperti halnya di beberapa negara lainnya. Ironis sekali karena ketika saya tanya apakah mereka sudah pernah ke dokter untuk mengetahui letak permasalahannya, ia berkata belum. "Suamiku tidak mau diperiksa" katanya. Sangatlah tidak adil bagi teman saya itu, karena bisa jadi permasalahan bukan terletak pada dirinya tapi mungkin saja sang suami yang punya masalah dengan kesuburannya. Betapa sempitnya jika kesuksesan sebuah pernikahan hanyalah diukur dari ada tidaknya anak. Itu terlalu sempit. Benar, kita tentu mendambakan buah hati sebagai penerus keturunan, tetapi itu bukanlah hal yang terpenting dari sebuah ikatan dari dua menjadi satu dimana Tuhan sendirilah yang bertindak sebagai saksi atas ikrar yang kita ucapkan dalam sebuah pernikahan (Maleakhi 2:14).  Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak. Pernikahan bukanlah peternakan.

Dari pengalaman pahit teman saya di atas dan banyak kasus lain mengenai kegagalan rumah tangga akibat tidak mendapat keturunan, saya melihat adanya kekeliruan atau salah kaprah mengenai tujuan utama mendirikan lembaga pernikahan. Mereka memandang pernikahan layaknya sebuah peternakan, dimana kita bisa mengembangbiakkan keturunan kita sebanyak yang kita mau. Sekali lagi, lembaga pernikahan bukanlah peternakan. Lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga yang sakral dimana Tuhan sendiri yang memateraikan pembentukannya, dan lembaga ini punya tujuan yang jauh lebih penting daripada sekedar memiliki keturunan. Apalagi jika dasarnya hanyalah "kejar tayang" atau takut disebut bujang lapuk bagi pria atau perawan tua bagi wantia, akibat nafsu, gengsi, desakan orang tua/keluarga dan lain-lain. Itu semua bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan menurut firman Tuhan.

Ayat bacaan hari ini diambil dari kitab paling awal dalam Alkitab yang menyatakan jelas tujuan Tuhan dalam penciptaan segala sesuatu, termasuk manusia. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ayat ini menyatakan dengan jelas tujuan Allah menciptakan pasangan wanita buat pria, yaitu sebagai penolong. Bukan sekedar penolong lalu berada di bawah pria, tetapi seorang penolong yang sepadan. "Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging." (ay 21). Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Itu menggambarkan sebuah hubungan erat, bahwa istri adalah bagian hidup suami, bukan sekedar alat pemuas nafsu dan "pabrik" pembuat anak.Tuhan melengkapi kita dengan seorang pasangan agar kita bisa saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling menolong dalam menjalani hidup dengan segala perbuatan baik yang memuliakanNya diatasnya. Dalam sebuah pernikahan yang diberkati Tuhan, kita bisa mengalami, menikmati dan saling berbagi sukacita dan cintakasih. Kita bisa saling support ketika salah satu tengah mengalami kesulitan. Kita bisa menghidupkan sebuah persekutuan dengan memuliakan Allah diatas segalanya. Janji pernikahan yang kita ucapkan pun menyatakan hal itu, bukan menyatakan bahwa kita menikah untuk membuat anak. Memiliki penerus garis keturunan adalah penting dan merupakan dambaan hampir setiap orang, namun itu bukanlah yang satu-satunya tujuan untuk menikah, setidaknya menurut rencana Tuhan sejak semula.

Firman Tuhan selanjutnya berkata: "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN.." (Mazmur 127:3). Anak adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan dan bukan produk buatan kita. Jangan tawar hati jika anda sampai saat ini belum saatnya untuk dikaruniai anak. Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Tuhan, Sang Pencipta. Yang penting adalah kita menyadari hakekat dari sebuah pernikahan sesuai apa yang difirmankan Tuhan. Jangan merasa bahwa tanpa anak, lembaga pernikahan yang anda bangun sebagai sebuah kegagalan. Karena ada Allah yang bertahta di atasnya, yang telah memberkati dan mengikat penyatuan hubungan antara suami dan istri. Jadikan pernikahan sebagai tempat dimana anda bisa bersinergi dengan pasangan untuk memuliakan Tuhan, dan bersama-sama seiring sejalan melakukan kehendak Allah atas kehidupan kita. Pernikahan yang gagal bukanlah pernikahan yang tidak melahirkan anak, melainkan pernikahan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ada anak atau tidak, tetaplah miliki pernikahan yang sukses penuh dengan kebahagiaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari