Selasa, 25 Januari 2011

Integritas (4): Jujur

Ayat bacaan: Yesaya 33:15-16
===================
"Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin."

jujur, integritas"Kalau mau jujur mana bisa untung?" Itu pernah dikatakan oleh salah seorang teman yang berjualan sambil tertawa. Apa yang dikatakannya menggambarkan pandangan yang dianut begitu banyak pebisnis. Tidak tertutup di kalangan anak Tuhan pun bisa saja berpendapat seperti itu. Seorang teman RHO pernah memberi komentar bahwa ini adalah salah satu kelemahan anak-anak Tuhan, bahkan tidak menutup kemungkinan di kalangan pelayan-pelayan Tuhan pun masih menerapkan pola seperti itu dalam dunia pekerjaannya, dan saya setuju itu. Tapi tidak semua tentu saja yang berpandangan demikian. Ada beberapa teman sekerja di gereja saya yang sudah meninggalkan pola pikir seperti itu dalam berdagang. Dan untuk itu memang ada harga yang harus dibayar. Untung lebih sedikit, harus rela mengeluarkan biaya lebih besar, seperti seorang teman yang tidak memakai minyak bersubsidi dan membayar penuh misalnya, dan tidak jarang pula mereka harus gagal dalam tender karena mereka tidak mau menyuap. Tapi menarik jika melihat apa yang mereka peroleh dari keputusan yang mungkin dianggap "bodoh" oleh dunia itu. Mereka semua berkata bahwa ada banyak keuntungan yang mereka peroleh dari keputusan untuk berlaku jujur dalam bekerja. Pertama mereka tidak lagi dihakimi oleh hati nurani mereka, mereka merasa nyaman dan bahagia meski dengan untung yang lebih sedikit, dan ini yang penting: mereka membuktikan sendiri bahwa tangan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk memberkati mereka. Dengan berlaku jujur mereka sama sekali tidak menjadi berkekurangan, malah justru meningkat. Uniknya perilaku mereka kemudian menular kepada karyawan yang akhirnya ikut-ikutan jujur. Hubungan antara atasan dan bawahan menjadi baik, keuntungan meningkat, hidup menjadi jauh lebih bahagia. Semua ini berawal dari keputusan untuk berlaku jujur dalam pekerjaan maupun kehidupan secara umum.

Setelah kita membahas mengenai kesetiaan dan kebenaran, hari ini mari kita melihat kejujuran yang merupakan satu lagi nilai yang terkandung di dalam integritas. Masalah kejujuran adalah masalah klasik yang sudah seperti menjadi darah daging bagi kita. Jika kita melihat bahwa hari ini sulit untuk menemukan orang yang jujur, sejak dahulu kala pun masalah yang sama sebenarnya sudah menjadi bagian permasalahan dalam kehidupan. Padahal jujur merupakan sebuah unsur penting yang tercakup di dalam integritas dan dengan demikian tentu saja merupakan aspek penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Dalam berdagang, firman Tuhan memberikan landasan penting yang berbunyi "Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain...Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu." (Imamat 25:14,17) Masalah jujur bukan saja berbicara secara sempit mengenai dunia transaksi, tetapi juga menyangkut aspek-aspek kehidupan lainnya, seperti perilaku, perkataan, sikap, berbuatan dan lain-lain. Berani mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab, tidak menipu atau membohongi, tidak curang di saat ujian dan sebagainya, itu pun merupakan aspek-aspek yang berkaitan dengan kejujuran.

Apakah Tuhan menghargai kejujuran itu dengan nilai yang tinggi? Tentu saja. Ayat bacaan hari ini menggambarkan jelas bagaimana Tuhan menilai kejujuran itu. "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16). Tuhan menjanjikan penyertaanNya secara luar biasa bagi orang-orang yang mau memilih untuk hidup jujur. Mudahkah untuk itu? Jelas tidak. Tetapi meskipun sulit dan mungkin menyulitkan atau malah mendatangkan kerugian, Tuhan tidak akan pernah menutup mataNya dari usaha dan keseriusan kita, dan itu semua tetap bisa kita lakukan. Ingat baik-baik bahwa "Tuhan tidak akan pernah menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela." (Mazmur 84:12). Tuhan juga berfirman "Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia." (Amsal 2:7-8). Karenanya tepatlah jika Pemazmur mengatakan "Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!" (Mazmur 32:11).

Dalam perkataan pun kita harus pula berhenti berbohong. Mungkin awalnya sedikit, tetapi itu bisa menjadi kebiasaan yang pada suatu ketika sudah menjadi sulit untuk diubah. Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Kejujuran dalam berbicara atau berkata-kata juga sangat penting untuk kita perhatikan. Seperti halnya "orang benar" yang kita bahas kemarin, orang jujur pun bukan saja membawa manfaat baik pada diri sendiri tetapi juga bisa membawa berkat bagi kotanya. Dalam Amsal kita bisa membaca sebuah ayat yang berbunyi "Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya." (Amsal 11:11).

Jika anda menelaah sepanjang isi Alkitab maka anda akan menemukan panggilan tentang kejujuran dalam begitu banyak ayat. Ini jelas menunjukkan betapa pentingnya hidup dengan jujur di mata Allah. Pandangan dunia mungkin akan mengatakan bahwa semakin anda pintar menipu maka keuntungan akan semakin besar, namun selain itu bertentangan dengan firman Tuhan, hal itu juga seringkali berakhir pada sesuatu yang akan merugikan kita. Tidak main-main, bahkan dalam sebuah ayat Tuhan dikatakan jijik melihat penipu. (Mazmur 5:7). Maka Allah pun tidak main-main dalam menyikapi penipu, seperti apa yang dikatakan Paulus: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10)

Agar bisa menerapkan sikap jujur, kita harus ingat bahwa dunia tidak akan pernah bisa menjamin kebahagiaan kita. Tidak peduli seberapa besarpun harta kekayaan yang kita miliki, kebahagiaan sejati hanyalah berasal dari Tuhan. Apa yang dialami beberapa teman saya yang memilih untuk bersikap jujur membuktikan bahwa Tuhan menepati janjiNya secara penuh. Oleh karena itulah kita harus mulai menerapkan sikap hati yang tulus untuk memilih bersikap jujur. Sikap hati yang tulus, itulah yang menjadi awal dari datangnya kejujuran. Firman Tuhan berkata "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." (Amsal 11:3). Tuhan tidak akan pernah menutup mata dan mengabaikan anak-anakNya yang mau memilih untuk jujur, itu haruslah kita imani dengan sungguh-sungguh. Dunia mungkin memandang kejujuran sebagai kerugian, tetapi yakinlah bahwa itu bernilai tinggi di mata Tuhan. Bayangkan sebuah hidup yang diisi dengan kejujuran, dan didalamnya penuh limpahan berkat Allah. Bukankah itu luar biasa menyenangkan? Itu bisa menjadi bagian dari hidup kita. Kitalah yang bisa membuktikan bahwa kejujuran bukan mendatangkan kerugian malah bisa mendatangkan keuntungan baik di dunia ini maupun dalam kehidupan selanjutnya kelak. Mari kita belajar untuk memelihara sikap jujur dan jadilah orang-orang yang berintegritas dalam segala aspek kehidupan.

"Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya." (Amsal 15:8)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari