Minggu, 05 April 2009

Tuhan Telah Mati dan Kitalah Penontonnya


Tuhan Telah Mati dan Kitalah Penontonnya


Dengan palma di tangan, kita berarak merenungkan dan mengingat kembali kisah masuknya Yesus ke Yerusalem. Injil Matius dan Markus menemani kita. Injil Matius berkisah tentang Yesus yang berarak masuk dengan sebuah keledai hina dan disambut banyak orang dengan teriakan Hosanna (yang artinya Tuhan selamatkan Kami) sambil membentangkan daun dan bahkan pakian mereka. Keledai mengingatkan kita pada sejarah dan pengharapan mesianik Israel. “Katakanlah pada putri Sion, lihalah Rajamu datang, ia yang rendah hati duduk di atas keledai” (Yes.62:11). Yesus dengan masuk menunggangi keledai mau mengingatkan orang-orang yang menyambutnya pada pengharapan Israel akan Mesias, tetapi sekaligus pengharapan yang murni seperti yang dimaksudkan Yesaya. Lalu kita bertanya, apa yang bisa diharapkan dari seorang raja yang nampak tak punya kekuatan ini, yang nasibnya kemungkinan besar akan berakhir tragis ini? Saya teringat kisah Simson yang pasti anda kenal (Hak.15:9-20) ia yang memukul kalah orang Filistin dengan kepala keledai. Keledai lagi-lagi adalah undangan untuk berharap sebesar Yesus.
Injil Markus mengisahkan penderitaan Yesus. Menariknya kisah ini diintroduksi oleh kehadiran seorang perempuan berdosa yang datang meminyaki kaki Yesus ketika Ia dan para murid makan bersama di rumah Simon. Bagi Yesus minyak yang diurapkan padanya adalah persiapan untuk penguburan-Nya (Mrk.14:1-9). Lalu kita juga bertanya, seperti para murid, apa yang bisa diharapkan dari Dia yang hidupnya akan berakhir tragis, mati dan dikuburkan seperti kebanyakan orang? Mungkin hal inilah yang menjelaskan kenapa sebagian besar murid lari meninggalkan Yesus ketika Dia ditangkap dan dihukum. Kisah penderitaan ini sangat elegik, bukan hanya karena kita sedih dan perih melihat Yesus dianiaya, apalagi seperti yang difilimkan Mel Gibson, tapi juga karena kita bisa jadi seperti orang-orang yang menyambut Yesus dengan sorak sorai namun akhirnya merasa salah berharap pada orang yang hidupnya akan berakhir tragis. Kalau Nietzche berkata Tuhan telah mati dan kitalah pembunuhnya, lebih bagus mengatakan, Tuhan telah mati dan kitalah penontonnya, karena kita tidak bisa berbuat apa-apa, pun tidak bisa mencegahnya selain membiarkan Dia menyelesaikan tugasnya.
Pada minggu Palma, kita mesti bertanya, apakah kita adalah penonton yang berada di stadion, yang tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan permainan selesai ataukah kita ikut ‘bermain’, ikut serta dalam perjalanan Yesus mulai ketika Ia masuk ke Yerusalem hingga penderitaan dan kematiannya. Dua tokoh misterius yang dikisahkan oleh dua Injil hari ini membantu kita untuk itu. Peran tokoh pertama, yang menyediakan keledainya untuk Yesus, harus dipandang signifikan. Dia merelakan binatang piaraannya dipakai Tuhan pun dengan resiko bahwa binatang itu kemungkinan besar tidak kembali. Tokoh kedua adalah perempuan berdosa yang meminyaki kaki Yesus dengan parfum yang dibeli dengan segala yang ia punya. Dan menurut Yesus itu adalah parfum untuk penguburan-Nya. Bukankah aneh meminyaki seseorang yang masih hidup, yang belum mati? Bukankah ini terbalik dengan kebiasaan orang yang meminyaki jasad sebelum dimakamkan?
Lalu apa artinya pembenaran Yesus atas tindakan perempuan yang terlanjur dicap Yudas menghambur-hamburkan uang yang lebih pantas diberikan untuk orang miskin itu? Dalam pembacaan saya, meminyaki tubuh Yesus sebelum saatnya melambangkan cinta dan pengharapan seorang murid sejati. Di balik tindakan meminyaki tubuh atau jasad, terdapat harapan akan keabadiaan tubuh, harapan bahwa kematian bukan akhir dari penderitaan. Justru pengharapan seperti inilah yang diharapkan Yesus dari para murid-Nya
Ateisme yang paling besar bagi saya adalah menonton Tuhan yang menderita. Allah telah menderita satu kali selamanya untuk kita melalui penderitaan Yesus. Sekarang kita dipanggil untuk siap menderita bersama Dia dalam kebutuhan-kebutuhan sekitar. Pengingkaran Tuhan yang paling besar adalah membiarkan kebutuhan-kebutuhan itu tak terjawab, membiarkan penderitaan orang-orang sekitar kita berakhir tanpa menemukan penyelesaian terbaik. Kalau Nietzche memaklumatkan kematian Tuhan, kita orang Kristiani, mengikuti seruan Paulus, mewartakan Tuhan yang tersalib, Tuhan yang menderita dan tersalib dalam penderitaan yang juga kita alami untuk sesama yang menderita. Kerelaan dan pengorbanan kita pada masa prapaskah apapun itu bentuknya adalah pernyataan paling besar tentang solidaritas Tuhan yang selalu aktual sepanjang masa. Saya menulis ini untuk seorang sahabat di Bintaro yang ke Situ Gunung- Sukabumi bersama banyak sukarelawan lain meringankan penderitaan saudara kita di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari