"Semuanya itu Engkau nyatakan kepada orang kecil"
(Yes 11:1-10; Luk 10:21-24)
"Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya." (Luk 10:21-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Beato Dionisius dan Beato Redemptus, biarawan dan martir Indonesia, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Para petinggi atau atasan pada umumnya merasa puas telah menerima laporan dari bawahan atau anggotanya, sebagaimana tertulis dalam laporan kegiatan/kerja, dan dengan demikian lebih melihat secara 'umum' daripada 'detil', apalagi jika petinggi atau atasan yang bersangkutan tidak pernah atau jarang 'turba', turun ke bawah, untuk melihat dan mencermati kenyataan yang ada. Hal yang demikian itu pernah terjadi, ada contoh konkret: seorang sarjana tehnik bangunan kalah bijak dan terampil dibandingkan dengan para pekerja alias 'tukang batu', yang tidak pernah lulus pendidikan dasar. "Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil", demikian sabda Yesus, yang sebaiknya kita renungkan di masa adven ini. Kita dipanggil untuk memperhatikan yang kecil, entah dalam hal jabatan, kedudukan, kekayaan, usia, kepandaian, dst.., maka baiklah secara konkret saya mengajak dan mengingatkan pentingnya memperhatikan anak-anak kecil/balita dan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang. Untuk memperhatikan mereka ini memang dibutuhkan keutamaan-keutamaan khusus maupun pengorbanan; keutamaan-keutamaan itu antara lain sabar, lembah lembut, teliti, tekun, pemaaf, ceria dst.., sedangkan pengorbanan antara lain waktu, tenaga maupun harta benda/uang. Ketika kita mampu memperhatikan dan melayani mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan tersebut dengan 'turba', maka segala kebijakan yang kita ambil akan lebih membahagiakan dan menyelamatkan daripada hanya menerima laporan berupa kertas atau kata-kata lisan. Marilah 'membumi', menunduk, melihat ke bawah, agar kita siap sedia untuk menyambut Allah yang 'membumi', lahir sebagai manusia hina seperti kita kecuali dalam hal dosa.
· "Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang."(Yes 11:2-3), demikian penglihatan Yesaya perihal Penyelamat Dunia yang kita songsong pesta/kenangan akan kelahiranNya. Kutipan dari Yesaya ini selayaknya menjadi bahan permenungan atau refleksi kita di masa adven ini. Apakah kita takut akan Tuhan? Bagaimana sikap kita terhadap orang lain atau sesama kita, apakah menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang? Sekali lagi kami ingatkan kepada para petinggi atau atasan, hendaknya tidak menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan atau membuat kebijakan menurut kata orang, melainkan sesuai dengan tuntutan keadilan dan kejujuran. Keadilan paling dasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia atau menjunjung tinggi harkat martabat/hak-hak asasi manusia, sedangkan "jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). Para petinggi atau atasan hendaknya tidak begitu saja percaya pada kata orang, tetapi lihatlah dan cermati kenyataan dengan adil dan jujur, agar dapat mengambil keputusan atau kebijakan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Dengan kata lain para petinggi atau atasan kami harapkan dapat menjadi teladan atau contoh dalam cara hidup dan cara bertindak yang adil dan jujur dengan membumi, perhatian kepada mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan.
"Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi .. Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin"
(Mzm 72:7-8.12-13)
Jakarta, 1 Desember 2009
"Nggak tau ah, gelap.." menjadi sebuah ungkapan yang begitu sering dipakai orang untuk menggambarkan ketidaktahuan dan ketidakjelasan terhadap berbagai hal. Seorang teman pernah bercanda dan menjawab seperti itu ketika ditanya apa hobinya, apa rencananya ke depan, apa yang ia suka, dan sebagainya. Ada pula yang memakai kalimat ini karena malas menjawab atau tidak tertarik kepada lawan bicaranya. Mengapa gelap? Karena tidak ada orang yang bisa melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Sebuah restoran memakai konsep kegelapan ini untuk mempertajam indra rasa dan penciuman. Orang yang tuna netra biasanya memiliki pendengaran dan perasaan yang lebih tajam dibanding orang lain. Mereka mampu membedakan siapa yang berada di dekat mereka bahkan hanya dari langkah kakinya saja. Di Indonesia ada tokoh fiksi bernama Si Buta Dari Goa Hantu, di Jepang ada sosok Zatoichi. Mereka tokoh-tokoh yang ternyata menjadi luar biasa justru setelah tidak lagi bisa melihat. Ini beberapa sisi positif yang bisa muncul dari gelap. Tapi saya rasa kita semua sepakat bahwa kita tidak mau berlama-lama dalam kegelapan. Penderitaan dan kesulitan hidup seringkali membuat hidup kita gelap. Masa depan kita pun bisa terasa gelap ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, atau tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah yang tengah kita hadapi.
Seorang aktris pernah bercerita mengenai pengalamannya memerankan tokoh orang gila. Ia menceritakan totalitasnya dalam mengambil peran sulit itu. Berbulan-bulan ia melakukan observasi di rumah sakit jiwa untuk mendapatkan gambaran yang tepat bagaimana reaksi dan perilaku orang-orang yang dirawat disana. Usahanya berhasil. Ia sukses memerankan tokoh itu. Satu hal yang saya ingat adalah apa yang ia katakan: "untuk berhasil memerankan orang gila, saya tidak harus gila dulu kan?" Dia benar. Tanpa harus menjadi gila benaran ia bisa sukses menjalankan perannya.
Stres sudah menjadi bagian hidup manusia sejak dulu. Terlebih sekarang ketika hidup terasa lebih berat. Beban pekerjaan, masalah-masalah kehidupan, krisis multi dimensi dan sebagainya bisa dengan mudah membuat kita stres. Persoalan bertimbun dan tidak kunjung selesai, belum lagi satu beres masalah berikutnya sudah muncul, bisa membuat kita depresi. Orang jahat ada di mana-mana. Perampok, pencopet, maling, penipu, dan orang-orang yang punya niat jahat lainnya bisa membuat jiwa kita resah. Biaya hidup melambung? Sulit keuangan? Terlilit hutang? Bingung mencukupi biaya sekolah anak? Semua itu pun bisa membuat jiwa tak tenang. Ada begitu banyak orang yang sulit tidur karena terlalu banyak pikiran, ada pula yang begitu bangun pagi sudah langsung diserang stres dan kekalutan. Jika kita biasakan stres merajalela dalam hidup kita, hal kecil dan sepele sekalipun bisa membuat kita stres. Jika dibiarkan, stres bisa membuat kita sakit bahkan membunuh kita.