Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

Bersikap Positif terhadap Teguran dan Kritik

“Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” (Mrk. 6:18)

Inilah teguran yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis yang membuat Herodes dan Herodias geram. Bahkan teguran ini menyisakan benci dan dendam dalam hati Herodias, sehingga bermaksud untuk membunuh Yohanes Pembaptis. Apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis ini memberi gambaran juga mengenai apa yang akan dialami oleh Yesus. Para imam agung yang merasa tersaingi dengan kehadiran dan pembaharuan yang dibawa oleh Yesus, juga bermaksud untuk membunuh Dia. Orang yang tidak mampu menerima teguran dan kritik sesamanya justru sedang merusak dirinya sendiri, karena membiarkan kejahatan menguasai hatinya.

Sahabat, apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis bahkan pula Tuhan Yesus, mengingatkan kita bahwa kritik dan teguran akan selalu ada. Jika hati kita tertutup terhadap kritik dan teguran sesama, maka hidup kita tidak akan berkembang.

Niat jahat, kebencian dan dendam bisa masuk dan merusak diri, jika kita tidak mampu melihat sisi positif dari teguran maupun kritik yang disampaikan orang lain. Oleh karena itu, mari kita terima teguran dan kritik dengan sikap positif. Mari kita gunakan teguran dan kritik sebagai sarana evaluasi diri, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kalau kita memberi masukan atau kritik, hendaknya itu bersifat membangun dan bukan merusak apalagi menghancurkan, dan hendaknya itu disampaikan atas cara yang baik, penuh kasih dan persaudaraan, disampaikan pada kesempatan terbaik dan pada orang yang tepat.

Sumber : Percikan Hati, 8 Februari 2013

Rabu, 06 Februari 2013

Menjadi murid Yesus yang sederhana dan rendah hati

Seorang teman pada suatu hari berujar, "Di banyak tempat di negeri kita ini amat mudah ditemui suatu kompleks masjid yang hampir tidak mempunyai tempat parkir. Sementara itu komplek gereja pada umumnya mempunyai halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan. Ini sungguh suatu hal menarik bukan?" Dilihat dari sisi jumlahnya, jumlah umat Kristen memang kecil. Namun, dilihat dari sisi ekonomi, suka atau tidak, umat Kristen dilihat sebagai kelompok yang berada. Hal ini kadang menimbulkan rasa iri, bahkan sikap antipati dari umat lain.

Injil hari ini menceritakan Tuhan Yesus yang sedang memberikan beberapa petunjuk kepada kedua belas rasul yang hendak diutusNya itu. Yesus menghendaki agar para rasulNya membawa diri sebagai orang-orang yang sederhana, yang tidak "bergaya", yang tidak terlalu terikat dengan harta dunia. Itu sebabnya, antara lain, Ia melarang mereka membawa uang atau pun memakai dua baju. Dengan begitu, kiranya akan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan memberi kesaksian di depan orang kebanyakan, khususnya mereka yang miskin dan menderita. Marilah kita juga menjadi pengikut Kristus yang sederhana dan rendah hati.

(Renungan harian Mutiara Iman 2013, yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Senin, 04 Februari 2013

Kuasa Tuhan Yesus

Renungan:

"Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" Itulah yang dikatakan oleh roh jahat saat Yesus menghampiri dan menghardik roh jahat yang menguasai diri seseorang. Roh jahat ketakutan dan bahkan memohon agar jangan disiksa. Yesus tidak hanya berkuasa atas segala yang baik, kekuatan jahat-pun tunduk kepadaNya. Orang yang kerasukan roh jahatpun disembuhkanNya. Orang ini bersuka cita dan ingin mengikuti Yesus. Tetapi Yesus meminta agar orang ini pulang dengan memberitahukan apa yang telah diperbuat Tuhan atas dirinya dan bagaimana Tuhan mengasihinya. Warta itu telah sampai kepada kita. Mengapa kita masih ragu untuk mengikuti Yesus? Semoga Injil hari ini menginspirasi kita untuk memberi kesaksian atas karya-Nya dalam hidup kita.

(Renungan harian Mutiara Iman 2013, yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Sabtu, 02 Februari 2013

Janganlah menilai sesamamu secara lahiriah belaka

Manusia cenderung menilai seseorang berdasarkan hal yang lahiriah. Penilaian yang demikian berpotensi besar menjadi penilaian yang tidak tepat sebab hanya melihat manusia secara sempit.

Dalam Injil Lukas 4:21-30, kita menemukan kecenderungan yang sama. Orang-orang yang sekampung dengan Yesus, menilai Yesus dari hal-hal lahiriah. Mereka hanya memandang Dia sebagai anak Yusuf, seorang tukang kayu yang sederhana. Kepicikan mereka itu membuat mereka gagal mengenal siapa Yesus yang sebenarnya. Mereka gagal pula melihat kebaikan dan kebenaran yang dihadirkan oleh Yesus. Akibatnya, mereka menolak Yesus.

Kita pun kadang jatuh dalam kecenderungan yang sama. Kita melihat seseorang dari penampilan lahiriah dan luarnya saja. Padahal penampilan luar, biasa dipoles sehingga tidak menunjukkan siapa sesungguhnya orang itu. Kita mungkin bisa terkecoh kalau hanya melihat penampilan luar saja. Kita pun bisa gagal melihat kebaikan dalam diri orang lain. Oleh karena itu, kita perlu membuang jauh-jauh kecenderungan itu agar kita mampu mengenal Tuhan dan sesama dengan lebih baik.

Ya Tuhan, ampunilah aku sebab aku cenderung menilai secara sempit. Bantulah aku agar aku mampu mengenal-Mu dan sesamaku dengan lebih baik. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2013, Renungan dan catatan harian, Minggu, 3 Februari 2013

Jumat, 01 Februari 2013

Gajah yang Sombong

Ada sebuah kisah mengenai seekor gajah. Ia menganggap diri sebagai binatang terkuat di hutan. Dengan tenaganya sendiri, ia mendorong, menarik, dan merubuhkan pohon untuk melintasi hutan. Ia tidak merasa takut pada siapapun dan merasa bebas. Suatu kali, sang gajah mandi di sungai. Tanpa ia sadari, bahaya tengah mengintai. Seekor buaya kini melilit kakinya dan sedang menariknya ke air yang lebih dalam. Sebagai binatang yang kuat, gajah terus bertahan. Tetapi usahanya sia-sia, ia terbenam dalam lumpur. Semakin kuat menarik, gajah ini semakin kehilangan tumpuan dan lebih dalam terbenam. Ia pun sadar akan kesombongannya, kekuatannya kini tidak berarti lagi. Untunglah ada seekor rajawali yang mematuk buaya itu, sehingga gajah itu pun dapat bebas dari cengkraman buaya. Gajah itu pun selamat. Sahabat, sikap sombong membuat hati kita tertutup terhadap kebaikan sesama, tertutup terhadap persahabatan dan persaudaraan, bahkan menyulitkan kita untuk bekerjasama dengan rahmat Allah utk mengerjakan rupa-rupa kebaikan. Rahmat Allah akan bekerja jikalau kita berani mengakui keterbatasan dan kelemahan diri kita, lalu menyediakan diri kita dalam segala potensi maupun keterbatasan utk melakukan banyak kebaikan demi kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan bersama.

Sumber : Percikan Hati, 2 Februari 2013

Kamis, 31 Januari 2013

Belajar tentang Kesabaran

Anda ingin sabar? Belajarlah dari petani. Mereka menyiapkan tanah, membongkar, membersihkan; memilih benih, menanam, mengairi, menambahkan pupuk seperlunya, lalu menanti dan menanti.

Setiap pagi dan sore, ia datang membungkuk, melihat cermat, memperhatikan, tunas-tunas hijau lembut menembus gundukan tanah. Ketika mulai tumbuh, mereka menyiasati datangnya hama, entah kawanan tikus, belalang atau unggas, entah himpitan rumput dan semak ilalang. Terkadang mereka bersenandungriang dan dengan jemarinya yang keras kasar, membelai lembut tunas-tunas hidup yang baru. Yesus, sang anak tukang kayu, memahami kesabaran seorang petani, dan keberhasilan dari benih-benih baik yang berasal dari Allah, serta pertumbuhannya yang akan indah pada waktunya. Kerajaan Allah, kebaikan danpersaudaraan sejati, akan tumbuh, bermula dari benih taburan Allah, makin besar dan kokoh dan terbuka untuk segala lapisan umat manusia.

Saudara-saudariku, cukupkah kita bersabar dan yakin akan benih kebaikan yang Allah taburkan dan ikut pelihara dalam hidup, dalam tugas, dalam misi kita? Mudahkah kita putus asa dan menyerah dalam membangun rumah tangga tangga, komunitas dan paroki? Apakah kita memaksakan kekerasan? Cukupkah kita mengandalkan Allah dan memohonkan Roh KudusNya untuk inspirasi dan tuntunan?

(Mutiara Iman 2013, Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta )

Senin, 28 Januari 2013

Menjadi orang yang komunikatif

Renungan:

Dalam Injil hari ini, dikisahkan Ibu Yesus dan kerabatnya yang datang ke suatu tempat hendak melihat keadaan Yesus. Rupanya telah cukup lama Yesus tidak pulang ke kampung halamanNya di Nazareth.Keluarga tampaknya kuatir terhadap diriNya mengingat berbagai kabar miring yang mereka dengar mengenai Yesus dan aktivitasNya (bdk. Mark.3:21).


Dalam hidup sehari-hari, terkadang kita juga kuatir mengenai keadaan orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. Daripada dilanda kekuatiran yang berkepanjangan, akan lebih baik kita segera mencari informasi tentang mereka. Kita bisa memanfaatkan berbagai alat komunikasi atau transportasi untuk mendapatkan jawaban yang kita perlukan. Tidak jarang kita memang perlu pergi dari rumah untuk menemui orang yang kita kuatirkan itu dan melihat dengan mata kepala sendiri keadaannya. Marilah kita menjadi orang-orang yang komunikatif. Marilah kita tidak segansegan mengeluarkan beaya dan menciptakan waktu untuk memastikan bahwa keadaan orang-orang yang kita cintai memang baik adanya.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2013, yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta )

Selasa, 22 Januari 2013

Hukum dan Peraturan

Mrk. 3:1-6

Renungan :

Hukum atau peraturan merupakan bagian penting dalam kehidupan bersama karena membantu manusia dalam membentuk sebuah kehidupan yang teratur dan damai. Namun para pemimpin atau penguasa sering membuat peraturan dan membebankan kepada masyarakat sehingga peraturan bukan menyenangkan melainkan penderitaan, benturan tak terelakan antara penguasa yang berlaku semenamena dan rakyat yang menderita.

Injil hari ini berbicara tentang Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat. Yesus berhadapan dengan sikap orangorang Farisi yang sangat fanatik mentaati dan menjalankan hukum. Bagi mereka hari sabat menurut hukum Taurat adalah hari Tuhan yang sakral sehingga setiap umat tidak boleh melakukan suatu aktifitas apapun kecuali beribadat. Hukum Taurat memiliki sanksi-sanksi bagi mereka yang melanggar akan dihukum. Yesus menentang penghayatan hukum yang keliru itu. Hukum dibuat bukan untuk hukumitu melainkan menjamin kelangsungan hidup manusia yang tertib, teratur, damai dan menyelamatkan.

Dalam pengalaman kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapan dengan berbagai hukum dan peraturan. Tuhan Yesus tidak mengajak kita untuk menjadi pelanggar hukum melainkan dengan rendah hati menolong dan menyelamatkan orang lain yang susah dan menderita seperti Dia menyelamatkan orang sakit pada hari sabat.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2013, yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

Senin, 21 Januari 2013

Memulai Hari dengan Satu Keberhasilan

Banyaknya hal yang harus dilakukan pada pagi hari sering membuat orang bingung dan cemas; mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Jika berusaha untuk menyelesaikan semuanya sekaligus, maka itu tentu tidak akan berhasil. Cobalah untuk menyelesaikan pekerjaan satu per satu. Fokuskan waktu untuk menyelesaikan satu pekerjaan itu. Jika kita memulai hari dengan menyelesaikan satu pekerjaan, maka itu akan mendatangkan manfaat positif sepanjang hari. Satu keberhasilan yang kita capai itu akan membuat kita lebih bersemangat untuk bekerja. Maka pada pagi hari buatlah prioritas nomor satu sampai sekian, paling atas paling penting, itulah yang diselesaikan terlebih dahulu, menyusul yang lain. Kecuali ada lebih dari satu yang penting carilah cara supaya orang lain membantu anda jika Anda tak mampu atau tak punya waktu. Minta bantu staff anda, sahabat, kenalan, atau orang lain tentu dgn konsekuensi dana atau hal lain, tapi jika pekerjaan itu penting, dana tak menjadi halangan. Tatalah waktu disertai kedisiplinan dan komitmen agar semua bisa jalan sesuai harapan.

PERCIKAN HATI, 21 JANUARI 2013

Kamis, 17 Januari 2013

Jangan Mengeluh Tapi Perbaiki Sikap & Cara Pandang

“Saya tidak dapat mengubah arah angin, namun saya dapat mengubah pelayaran saya agar selalu mencapai tujuan saya.” (Jimmy Dean)


Banyak orang mengeluhkan situasi hidup yang kurang menguntungkan dirinya tanpa memiliki kemauan untuk memperbaiki diri.

Lingkungan yang tidak bersahabat, atasan yang otoriter, tetangga yang cerewet, dan masih banyak lagi keluhan lainnya.

Kita memang tidak bisa mengubah situasi hidup yang kita alami. Tapi kita dapat memperbaiki cara pandang dan sikap kita terhadap situasi tersebut.

Kita perlu lebih berbesar hati, belajar lagi untuk memahami sikap dan watak orang lain, atau barangkali memperbaiki sikap kita dalam pergaulan dengan sesama.

Janganlah berputus asa jika menghadapi situasi hidup yang sulit. Ubahlah cara pandang dan sikap kita agar situasi sulit tersebut tidak mempengaruhi kinerja bahkan aktivitas hidup kita.

PERCIKAN HATI, 17 JANUARI 2013



Kamis, 06 Desember 2012

Mata Hati

Mata jasmani bisa menyesatkan budi. Mata hati menjadi penjaga perjalanan hidup rohani. Mata kaki meneguhkan langkah pasti. Mata-mata berusaha mencari informasi tentang apa yang akan terjadi. Bagaimana kualitas mata kita? Buka mata! Banyak makna tersembunyi dalam setiap peristiwa. Ketajaman mata budi mempengaruhi kualitas seseorang untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Kesucian mata hati menjadi penjamin berlangsungnya hidup rohani.

"Kasihanilah kami, hai Anak Daud," seru kedua orang buta mata jasmaninya tetapi terbuka mata hatinya ! (Matius 9:27). Yesus berkata,"Ya Tuhan, Kami percaya," jadilah kepadamu menurut imanmu! Kata Yesus. Mata mereka pun terbuka.

Kita yang dianugerahi mata dan bisa melihat seringkali justru tidak mau melek terhadap realita di sekitar kita. Mata bisa melihat bukan jaminan bahwa dirinya mau dan mampu melihat yang terjadi disekelilingnya. Alasannya, Pertama, itu bukan urusan saya. Sudah ada bagiannya masing-masing yang mengurus hal itu. Kedua, persepsi bahwa itu akibat kesalahannya sendiri. Dialah yang harus menanggung konsekuensi dan risikonya.

Lain halnya dengan Yesus, Pertama, kepercayaan seseorang akan memelekkan mata. Selagi iman kepercayaan buta maka buta jualah mata kita! Maka, Yesus menantang dua orang buta dengan pertanyaan,"percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya!" Jawaban inilah yang membuat mata jasmani terbuka. Meleklah mata mereka.

Bagaimana dengan mata kita? Secara jasmani mata kita melek! Buktinya, kita mampu melihat dan membaca huruf yang dirangkai menjadi kata dalam kalimat paragraf renungan ini. Mampukan kita secara pribadi menangkap makna dan pesan mendalam dibalik sebuah tulisan atau peristiwa?

Kita bersyukur karena telah dianugerahi melek mata jasmani. Namun, mari kita juga mohon rahmat agar dianugerahi melek mata rohani sehingga pancaran cahaya mata kita mampu memelekkan mata hati orang lain yang kita layani. Bukan sebaliknya, tatapan mata kita membutakan bahkan mematikan pengharapan untuk melihat makna kehidupan yang lebih dalam.

Inspirasi dari : Mardi, Renungan Harian Bercitarasa Katolik, Cafe Rohani, Desember 2012

Rabu, 05 Desember 2012

Yang Paling Kuat

Apa sejatinya yang paling kuat dalam diri manusia? Rasanya sulit sekali kita menemukan jawaban yang pasti. Kalau kita katakan cinta, ada banyak hal jelek yang lahir dalam perilaku para pecinta. Kalau kita katakan harapan, ada banyak keputusasaan yang berakhir tragis. Kalau kita katakan iman, ada banyak perkara pilu kemanusiaan yang muncul dari SARA. Kalau kita katakan pikiran, ada banyak kesalahan dan kesesatan. Bahkan apa yang baik dan benar bisa berubah menjadi salah dan terdakwa. Jika demikian, apakah manusia tidak punya kekuatan?

Manusia adalah ciptaan paling kuat dan cerdas. Hanya saja, kekuatannya belum menguatkan dan mengangkat martabatnya yang mulia. Kekuatan otaknya belum mencerdaskan kehidupan yang ada disekitarnya. Kekuatan pikiran, cinta, harapan dan keyakinannya masih dibangun di atas pasir. Sudah berulangkali kekuatan ini rubuh dan hancur, tetapi terus dibangun dengan fondasi yang sama. Pasir adalah gambaran dari dosa dan kelemahan kita. Apapun yang dibangun diatasnya, sekuat apapun itu, pasti akan rubuh, sebab ia tidak kuat.

Kekuatan manusia adalah sumber kelemahan. Kekuatan ini bisa menghancurkan diri dan juga sesamanya seperti sudah banyak lihat dalam dunia ini. Dan kekuatan manusia adalah penghancur paling banyak didunia ini. Bagaimana caranya agar kekuatan ini tidak menjadi mesin penghancur? Injil menyadarkan kita kembali bahwa bukan orang yang kuat seruannya menyebut nama Tuhan akan diselamatkan, tetapi orang yang kuat keinginannya untuk melakukan kehendak Tuhan, itulah yang diselamatkan.

Jika saja semua kekuatan yang ada dalam diri manusia ini digunakan untuk melakukan kehendak Tuhan, cinta akan menggairahkan kehidupan, harapan tidak akan menuntun orang pada keputusasaan, iman akan menjadi fondasi hidup luar biasa dan pikiran cerdas manusia pasti bisa memberantas semua kelemahan yang ada di bumi ini. Inilah kekuatan yang paling kuat di bumi ini. Inilah kekuatan yang paling kuat dalam diri manusia, yakni melakukan kehendak Allah.

Kekuatan apa pun, jika mengabaikan kehendak Allah, akan menjadi sumber kehancuran. Ingat, kita yang kuat akan menjadi mesin penghancur, jika tidak melakukan kehendak Tuhan.

(Sumber: Kartolo, Renungan Harian Katolik, Cafe Rohani, Desember 2012 tahun C/I).

Selasa, 04 Desember 2012

Kebahagiaan Sejati

Seorang putri hartawan Amerika sudah menikmati kekayaan orang tuanya. Namun, ia merasa tidak bahagia karena belum bisa menemukan makna hidupnya. Pada saat mengikuti rombongan turis Afrika, ia terdampar di suatu daerah yang mayoritas penduduknya menderita penyakit. Ia tergerak ingin menjadi seorang perawat lepas di sebuah rumah sakit milik misi Katolik.

Semula ia agak gemetar menghadapi pasien menjijikkan dengan luka membusuk. Namun setiap kali ia selesai merawatnya, muncul sekelumit rasa bahagia. Rasa bahagia itu makin membuncah bila ia memandang wajah pasien yang tersenyum kepadanya. Tatapan mata pasien mengungkapkan rasa kagum, haru dan terima kasih.

Suatu ketika, sahabatnya datang mengunjunginya. Sahabat itu sangat terkejut melihatnya sedang membalut luka-luka pasien yang membusuk. Dengan rasa jijik ia berkata,"Sahabatku, biar diberi seribu dolar aku tidak akan melakukan seperti ini! Aku juga tidak, Kalau bukan karena ini!" Jawab sang perawat sambil menunjuk kepada salib yang tergantung didadanya.

Kita telah mengimani Kristus dengan meterai Sakramen Baptis dan mengemban tugas menjadi perpanjangan tangan Kristus dalam hidup sehari-hari. Masih banyak sesama kita yang menderita dan tidak bahagia. Mereka membutuhkan perhatian dan uluran belas kasih kita. Kita bisa menjadi penyembuh yang memberdayakan hidup bersama (Matius 15:30-31).

Tugas ini kelihatan sangat sepele, namun kita perlu berjuang untuk mengalahkan rasa malas, cuek, tidak peduli, atau jijik yang sangat menghalangi pelayanan kita. Sebaliknya, sikap belas kasih mendorong kita untuk berempati dan segera bertindak nyata. Bersama Yesus, kita merasakan keprihatinan dan penderitaan sesama.

Putri hartawan Amerika telah melakukan tugas mulia. Ia menjadi firman hidup yang membahagiakan para pasien di Afrika. "Tak ada yang membuatmu lebih bahagia, daripada saat Anda mengulurkan belas kasih pada sesama. Hidup adalah berbagi dan melayani. Layanilah sesama dengan sukacita, maka Anda akan bahagia," kata Beata Teresa dari kalkuta.

Mari kita tingkatkan rasa bahagia kita dengan melayani sesama hingga kelak boleh menikmati kebahagiaan sejati di dalam Kerajaan Surga. (Sumber : Willy, Cafe Rohani, Desember 2012, tahun C/1).

 

Minggu, 02 Desember 2012

Kita adalah misionaris

Hari ini kita merayakan pesta Santo Fransiskus Xaverius, seorang misionaris ulung. Dia pergi ke mana-mana menjelajah dunia, termasuk ke banyak negeri di Asia. Bahkan pewarta Injil asal Spanyol ini sampai ke tanah air kita, tepatnya di Maluku, untuk mewartakan kabar gembira. Ia membaptis puluhan ribu orang. Dia melakukan secara radikal firman Yesus pada hari ini,"Pergilah ke seluruh dunia, wartakanlah Injil kepada segala bangsa" (mrk 16:5).

Semangat misioner kiranya bukan hanya milik para murid pada zaman Yesus. Juga bukan milik St. fransiskus Xaverius dan St Teresia dari Lisieux, yang diberi gelar sebagai pelindung karya misi. Tetapi, semangat misioner juga menjadi milik dan tanggung jawab kita, Gereja pada masa sekarang.

Konsili Vatikan II mengingatkan hal ini, bahwa setiap anggota Gereja memiliki sifat misioner. Seperti ditegaskan dalam Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja bahwa "Pada hakikatnya Gereja peziarah ini bersifat misioner, sebab berasal dari peruturan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa (Ad Gentes,2). Dengan kata lain, asal misi Gereja adalah cinta abadi Tritunggal Mahakudus kepada semua manusia. Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan.

Fransiskus Xaverius sudah menampakkan semangat misionernya, dengan gagah berani. Maka, hendaknya kita juga menjadi misionaris-misionaris Tuhan, yang kita wujudkan di tempat kita masing-masing. Apa pun profesi dan aktivitas kita: petani, nelayan, pejabat, seniman, pengusaha, pedagang, ibu rumah tangga, pegawai swasta, buruh, guru, mahasiswa, dan lain sebagainya, hidup kita berciri misioner. Semua profesi menjadi sarana mewartakan Kabar Gembira.

Menyebarkan Injil tidak harus dengan cara berkotbah kepada orang lain, apalagi terhadap orang yang tidak mau menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kita dapat menyebarkan Injil dengan sikap dan tingkah laku kita sesuai teladah Kristus, dengan mengamalkan hukum cinta kasih. Karena itu mari kita berdoa,"Ya Yesus, berikankah aku kekuatan untuk menyebarkan Injil dengan mengamalkan semua ajaran-Mu. Berkatilah juga semua orang yang belum mau menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat. Amin." (Sumber : Chang, Cafe Rohani, Desember 2012, tahun C/1).

Sabtu, 01 Desember 2012

Memasuki Masa Advent : Berjaga-jaga dan waspada akan hari Tuhan


Injil Lukas 21:25-28,34-36: "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.  Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.  Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

RENUNGAN :

Dalam memasuki masa Adven ini, Yesus menyampaikan beberapa seruannya. Pertama, Yesus meminta agar para murid berjaga-jaga dan waspada akan “hari Tuhan”. Apakah sebenarnya hari Tuhan itu?. Hari Tuhan adalah hari dimana Tuhan itu dating. Hari dimana Sang Juruselamat dating ke dunia. Kita tidak tahu persis kapan hari Tuhan itu tiba. Oleh karena itu, para murid diminta untuk selalu waspada dan berjaga-jaga.

Kedua, Yesus meminta agar kita bertekun dalam doa. Kedatangan Tuhan juga harus disambut dengan sikap doa. Doa mesti dilaksanakan terus menerus dengan kesabaran. Itulah yang diteladankan oleh Santa Monica. Ia adalah wanita luar biasa yang menjadi teladan dalam doa yang tak kunjung henti. Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Namun menunggu dengan penuh kesabaran sambil berdoa dengan tekun merupakan sebuah keutamaan.

Seruan Yesus ini benar-benar merasuk dalam hati kita. Masa Advent merupakan masa yang tepat untuk mengembangkan hidup rohani kita dengan bersikap waspada dan berjaga-jaga dalam doa. Kita perlu serius dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Hanya mereka yang waspada, berjaga-jaga dan bertekun dalam doa akan beroleh kekuatan, kedamaian dan keselamatan dari Tuhan sendiri. (inspirasi renungan dari : Teguh, Ruah 2012 – Sabda Allah Menyegarkan Jiwa) 

Jumat, 30 November 2012

Tuhan memiliki cara lain jika manusia tetap berdosa

Lukas 21:34-36 : "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

Renungan :

Ajakan Yesus untuk berjaga dan berdoa tetap aktual. Yesus tahu, kita manusia lemah, mudah jatuh dalam dosa. Dia tahu kita yang sarat dengan pesta pora dan kenikmatan duniawi. Kotbah dan nasihat orang lain bagai angin lalu. Tapi Yesus tetap mengajak kita untuk berjaga dan berdoa meski sering tidak mempan.

Tuhan punya cara sendiri untuk membawa pertobatan. Ketika manusia sudah angkat tangan, Tuhan sendiri turun tangan. Melalui pelbagai cara dan peristiwa hidup, sakit parah, kecelakaan yang fatal, usaha gagal dan sebagainya, Tuhan membawa pulang manusia kepada keselamatan. Tuhan sungguh tak pernah gagal.

Ajal bisa menjemput kita setiap saat. Tak ada seorang pun yang tahu. Waspada adalah sikap yang tepat untuk menghadapi situasi apa saja. Kita harus tetap berjaga dan berdoa. Sikap ini harus datang dari dalam. Nanti, bila ajal tiba segalanya sudah siap.

St. Dionisius dan Redemtus telah member teladan. Dua Karmelit ini berani datang ke tengah serigala tapi sudah siap dengan senjata. Keberanian itu mereka timba dari spiritualitas Karmel. Karmel dipanggil untuk menjadi tanda buat sesama agar selalu bejaga dan berdoa.

(Sumber inspirasi, Simon R, Café Rohani, Desember 2012) 

Kamis, 29 November 2012

Mengambil bagian dalam misi keselamatan Allah

Matius 4 : 18-22 : "Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia."

RENUNGAN : 

Warta keselamatan Allah mesti terus disebarluaskan sampai ke ujung bumi. Warta keselamatan ini ditawarkan kepada semua orang. Tuhan Yesus memilih para rasul untuk ikut ambil bagian dalam misi keselamatan Allah. Mereka berani meninggalkan cara hidup lama. Yesus menawarkan hidup baru dalam kasih dan pelayanan. Berkat Sakramen Baptis, kita masuk dalam persekutuan anak-anak Allah. kita pun menjadi rasul-rasul Yesus di zaman modern ini. Bagaimana selama ini kita menghayati tugas ini? 

(Ruah 2012 - Sabda Allah Menyegarkan Jiwa) 

Rabu, 28 November 2012

Tanda-tanda alam menyampaikan pesan iman

Lukas 21:20-28:"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu."Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."

Renungan :

Tiap hari kita mengalami aneka peristiwa alam. Tanda-tanda alam ini mempunyai makna yang mendalam. Sebagai orang beriman, kita cukup bijak menyikapi aneka peristiwa ini dalam kerangka karya keselamatan Allah. Melalui aneka peristiwa itu, Allah mau mengatakan sesuatu kepada kita. Allah mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita. Sudahkah kita mampu menyikapi tiap peristiwa dengan iman? Jawaban Anda menunjukkan kedewasaan hidup Anda sendiri.

Selasa, 27 November 2012

Hidup iman mengalami saat-saat hangat dan saat-saat lesu

Lukas 21:12-19

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh. dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

Renungan:

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan saya akan seorang Suster. Suster ini berasal dari keluarga dan lingkungan bukan Katolik. Semakin ia berusaha mencari informasi menjadi Suster, semakin hatinya tergoda untuk menjadi biarawati. Tetapi orangtua pasti menentangnya; sanak-saudara dan lingkup keluarganya pun demikian. Ia mencari akal. Kepada keluarganya ia berkata: "Saya mau sekolah. Tempatnya jauh. Kalian tak perlu mencemaskan saya." Masa kritis tiba, tatkala orangtua curiga: sekolah terlalu lama; masa libur juga sangat singkat. Pihak keluarga ingin mengetahui apa yang terjadi. Sang Suster berdoa agar panggilan jangan putus. Perlahan-lahan dan dengan segala cara, Suster memberitahukan panggilannya kepada keluarga. Yakin akan rahmat Allah, ia memasrahkan segalanya kepada Tuhan, dalam membimbing panggilannya dan didukung oleh keluarganya.

Menurut Rasul Paulus, hidup iman kita mirip dengan gelanggang pertandingan, dan "setiap orang turut berlari, untuk memperoleh medali".Sebenarnya, hidup iman bukanlah melulu militansi, melainkan seperti dikatakan oleh Santa Theresiadari Lisieux: hidup iman mengalami saat-saat hangat dan saat-saat lesu. Menyiasati hidup yang demikian, seturut nasehatnya, ada tiga diskresi: Pertama tahu bersyukur atas dorongan kehangataniman yang dari Tuhan. Kedua bersabar dalam masa suram. Ketiga usaha untuk bangun kembali. Jangan terlalu lama biarkan diri terhanyut dalam kelelapan iman.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)

 

Minggu, 25 November 2012

Persembahan dan Ketulusan Hati

Lukas 21:1-4: Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

Renungan :

Kehadiran janda miskin dalam bacaan hari ini menjadi perhatian pengajaran Yesus. Bacaan Injil mengisahkan tentang persembahan seorang janda miskin. Walaupun jumlah persembahan janda itu tidak sebanyak dari persembahan yang lain, Yesus memuji janda itu. Yesus melihat persembahan tersebut walaupun kecil, namun memiliki nilai yang sangat besar. Kebesaran nilai itu ditegaskan karena ketulusan hati dalam membawa persembahan. Tuhan tidak menetapkan seberapa besar persembahan yang bias kita berikan, namun Tuhan meminta persembahan yang dipersembahkan dengan ketulusan hati. Ya, ketulusan hati itulah yang hendak ditekankan Yesus.
Apapun yang kita lakukan, jika disertai ketulusan seperti janda miskin dalam bacaan Injil , itu lebih berharga dihadapan Tuhan. Sebagai orang Katolik, menolong orang lain juga menjadi salah satu tugas perutusan kita. Bantuan yang diberikan dengan ketulusan hati akan lebih mulia. Dalam memberikan persembahan maupun bantuan kepada orang lain, janganlah kita menghitung-hitung besarnya bantuan supaya dibalas orang lain. Bantuan dan persembahan yang kita lakukan dengan ketulusan hati, akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kita, sesama dan Tuhan.


Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari