Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Baru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

RENUNGAN NATAL 2012-YESUS ADALAH IMANUEL

Renungan Natal 2012

 
Bacaan Alkitab pada Renungan menyambut Natal 2012 : Matius 1 : 18-25.
Renungan Natal tahun 2012 ini mengangkat tema "Yesus adalah Imanuel". Besok 25 Desember 2012, kita bersama dengan semua saudara kita seiman memperingati peristiwa Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Istilah "memperingati" berbeda dengan "mengingat". Mengingat berarti kita melayangkan kenangan kita ke sesuatu yang terjadi di masa lalu. Sedangkan memperingati berarti kita menghadirkan peristiwa masa lalu pada masa kini. Demikian halnya dengan memperingati Kelahiran Yesus Kristus. Merayakan NATAL bukan sekedar mengenang suatu peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, melainkan kita menghadirkan arti NATAL bagi kehidupan kita di masa kini. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah : "apa arti kelahiran Yesus Kristus bagi kita?"

Yesus yang lahir adalah IMANUEL yang berarti ALLAH beserta Kita. Imanuel adalah sebuah nama yang mengandung makna yang dalam sekaligus menjelaskan makna kelahiran Yesus Kristus. Setidaknya ada 3 (tiga) makna yang terkandung dalam nama itu.

Pertama; dengan kelahiran Yesus Kristus berarti Allah telah datang ke dalam dunia dan telah ada dalam dunia ini. Untuk bertemu dengan Allah manusia tidak perlu ke luar dari dunia dan mengembara mencari Allah, artinya manusia manusia tidak perlu keluar dari kehidupan yang sedang dijalaninya melainkan Allah sudah ada, sudah datang,sudah masuk dan beserta dengan kita manusia. Yang perlu bagi manusia untuk bertemu dengan Allah adalah menerima Dia yang telah datang ke dunia ini.

Kedua; dengan kelahiran Imanuel berarti jurang pemisah antara Allah dan manusia terjembatani. Yang menciptakan jurang pemisah itu adalah manusia sendiri. Ketika manusia berdosa maka terbentuklah jurang pemisah tersebut, dengan demikian manusia terpisah dari Tuhan Allah dan hal itu membawa kebinasaan bagi manusia. Tetapi dengan kelahiran Yesus Kristus jurang pemisah itu kini terjembatani.

Ketiga; dengan kelahiran Imanuel berarti Allah beserta kita. Allah beserta kita dimanapun dan dalam keadaan apapun. Allah tidak terikat pada satu tempat tertentu dan pada orang-orang tertentu. Di pihak lain, ini berarti bahwa Tuhan senantiasa mengawasi kehidupan anak-anakNya yang percaya kepadaNya.

Itulah makna Natal bagi kita yang memberi makna baru bagi kita dalam menjalani hidup kita di dunia ini. Allah dekat dengan kita, Allah memberi pengampunan dan damai sejahtera dalam hidup kita. Oleh karena itu bagi saudara-saudara sekalian atau siapa saja yang belum menerima Yesus Kristus di dalam kehidupannya, mari terima Yesus sekarang... Anda terlalu amat rugi jika tidak menerima Yesus Kristus dalam hidup anda sebab dalam Yohanes 3:16 dengan jelas dikatakan : 

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal" 

Jadi, Natal - Kelahiran Yesus Kristus, yang adalah Anugerah Allah bagi manusia, membawa sukacita bagi kita yang percaya kepadaNYA... Imanuel ! Selamat Merayakan NATAL !

Jumat, 03 Agustus 2012

PEREMPUAN PENDOSA

Lukas 7:36–50

PEREMPUAN PENDOSA YANG MERAIH KERAJAAN SORGA!

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Lukas 7 : 36-50

Dapat kita bayangkan situasi pesta yang diselenggarakan oleh seorang yang bernama Simon dalam nas ini. Tentu ini bukanlah pesta biasa, tetapi pesta istimewa. Maklum, Simon adalah seorang sosok yang dianggap terhormat di lingkungan sosial masyarakatnya. Tentu yang diundangnya juga adalah para orang terpandang setingkat pejabat. Orang-orang dari kalangan terhormat. Yesus pun rupanya diundang juga ke perjamuan tersebut. Namun apa dinyana,rupanya, di tengah suasana pesta yang mulia dan terhormat, terjadi suatu peristiwa yang sebenarnya tidak diharapkan. Tamu tak diundang datang ke tengah pesta, merusak pemandangan. Ya, karena yang datang adalah seorang perempuan hina, bahkan diberi embel-embel sebagai “pelacur” kelas kakap! (ay. 37).

Oh..., suasana pesta si Simon yang terhormat seolah tercoreng begitu saja dengan kehadiran tamu yang satu ini! Bayangkan seorang pelacur, seorang pendosa ada di tengah-tengah pesta para orang terhormat. Situasi yang seharusnya tidak diinginkan terjadi. Namun itu pernah terjadi. Sungguh-sungguh terjadi di luar dugaan di tempat pesta si Simon orang terpandang! Disaksikan puluhan hingga ratusan mata geram yang memandang! Lalu apa yang dilakukan perempuan ini? Astaga... Perempuan ini datang sambil menangis. Tangis dibawa-bawa ke tempat orang bersukaria? Merusak suasana pesta?!

Oh... situasi rusaknya pesta semakin menjadi-jadi manakala perempuan jalang ini duduk mendekat kumpulan para tamu laki-laki terhormat! Sungguh suatu tindakan yang sangat merusak! Tidak terpuji! Merusak tatanan adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat Yahudi. Malah ia duduk dekat kaki Yesus, membasahi kaki Yesus dengan air matanya, lalu minyaki dengan minyak yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya! Astaga..... Suatu sikap penghormatan yang luar biasa. Suatu tindakan rasa merendahkan diri yang tidak mampu terucap dengan kata-kata.
Namun itu dilakukan oleh seoran perempuan pendosa yang hina, bukan oleh seorang Simon yang mulia!

Saudara, bukankah biasanya bila berangkat ke sekolah umpama, seorang anak paling banter hanya mencium tangan papi maminya saja? Tidak sampai mencium kakinya segala sebagai tanda kehormatan?! Bukankah antara tuan rumah dan para tamu undangan yang datang ke pesta, umpama (juga yang biasa terjadi di Indonesia yang sudah ke-Barat-Baratan) biasanya paling-paling hanya cium pipi saja sebagai tanda simpatik keramahan? Tidak sampai cium kaki segala?! Namun itu sungguh-sungguh dilakukan oleh seorang perempuan berdosa ini kepada Yesus, bukan oleh Simon atau oleh orang terhormat, atau oleh orang suci yang mengaku beragama!

Lalu apa tindakan Simon sebagai tuan rumah yang empunya pesta kehormatan? Atau reaksi para tamu istimewa yang diundang? Oh.... pasti dapat Anda duga! Lontaran kritik pedas dari sana sini, tentu saja! Dengan bermacam versi dan gaya seperti yang biasa terjadi juga dalam situasi kehidupan nyata kita! Coba baca saja dalam nas in! Simon juga tidak kalah pedasnya mengkritik, baik kepada Yesus, juga kepada perempuan ini (walau itu dilakukannya hanya dalam hati!).

Apa kritik Simon dalam hati kepada Yesus? Nah, ini! Simon melecehkan kredibitas salah satu jabatan Yesus sebagai nabi yang “Maha Tahu”! Sebab jika Yesus itu “Maha Tahu” (demikian katanya dalam hati), mestinya Ia menegor atau mengusir perempuan pelacuri ini. Karena najis hukumnya?! Hanya yang tidak kalah menarik, si Simon sendiri serba terjepit, dan ia sendiri tidak berani mengusir perempuan sundal ini. Ada apa dengan Simon yang satu ini, kelihatannya terhormat di masyarakat ini? Jangan-jangan si Somon adalah salah seorang langganan si perempuan sundal ini? (Akh, maaf.... ini cuma dugaan saja....!). Tapi bila dugaan itu misalnya benar? Nah...nah...nah...! Pantas saja si Simon tidak berani mengusirnya. Sebab bila sampai Simon mengusirnya, dapatkah Anda bayangkan bagaimana pelacur ini menempelak Simon di tengan orang banyak, bahwa ia juga salah satu langganannya? Bisa jadi, karena nyatanya Simon hanya berani mengkritik di dalam hati! Eheeem....!

Apa kritik Simon dalam hati kepada perempuan ini? Terang bagai siang, karena jelas-jelas dalam nas ini menyebutkan, bahwa Simon juga melecehkan status perempuan ini, tidak ubahnya seperti sampah saja di matanya! Jelas-jelas Simon juga menghakimi perempuan ini sebagai yang dianggap pelacur orang “berdosa”, calon penghuni neraka tak berguna! Oh....betapa sulitnya seseorang menerima kehadiran sesamanya bila dianggap memiliki reputasi buruk di tengah-tengah mereka. Seorang perempuan yang dikenal umum berprofesi sebagai perempuan sundal dianggap berdosa dan sangat tidak layak berada di tengah-tengah orang Farisi, orang suci, orang terhormat! Toh pun perempuan ini sekarang telah bertobat!

Lalu reaksi para undangan terhormat, para tokoh Farisi, orang saleh, orang terhormat lainnya? Dari nas yang sejajar, dalam cerita yang sama (bdk. Mat. 26:8-9; Mrk. 14:4; Yoh. 12:4-5), tidak kurang si Yudas bendaharawan terhormat juga tidak kalah pedasnya memberikan kritik pedas! Menurut Yudas, minyak narwastu itu mahal, bernilai ekonomis tiga ratus dinar. Lebih berguna uang sebesar itu dibagikan kepada orang miskin. Tujuan penggunaan uang hasil penjualan narwastu itu benar mulia. Eittt, tapi tunggu dulu, lihat motivasinya..!!! Apa sesungguhnya yang ada di otak Yudas? Karena sebenarnya bukan karena ia memperhatikan nasib orang–orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri. Yudas tidak tulus untuk memberi kepada orang–orang miskin. Yudas menghargai Yesus terlalu rendah sehingga ia protes ketika perempuan berdosa ini meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya.

Sekarang, apa reaksi Yesus sendiri? Nah, ini perlu kita renung dalam-dalam! Dugaan Simon ternyata meleset! Ternyata Yesus sungguh-sungguh Maha Tahu. Ternyata Tuhan Yesus menunjukkan kepekaan seorang nabi; Ia tahu apa yang ada di benak Simon (ay.40), dan hal ini sangat mengejutkan Simon. Ironisnya, Tuhan Yesus tidak menanggapi pertanyaan tersebut, Ia malah memberikan contoh ilustrasi tentang dua orang yang berhutang dan kedua-duanya dibebaskan dari hutang. Menarik sekali, Simon sebenarnya tahu jawabannya tapi ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut; ia enggan menjawab namun ia tahu pertanyaan itu harus dijawab.

Yesus langsung memberikan tiga perbandingan (ay. 41-45 ): (1) Perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan air mata sedang Simon tidak, (2) Perempuan itu menciumi kaki Yesus dengan tiada henti-hentinya sedang Simon tidak, (3) Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi sedang Simon tidak meminyaki kepala Yesus bahkan dengan minyak biasa. Yesus memberikan cara pandang yang seharusnya orang lakukan, bila mengaku bertobat, bila sungguh-sungguh sebagai orang beragama atau orang terhormat. Terhormat dalam pandangan Allah Yang Maha tahu, tentu saja!

Saudara, siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa namanya tidak disebut di sini? Saudara, rupanya penulis Injil Lukas sengaja tidak mencantumkan nama perempuan ini di sini, tidak ingin mempermalukannya (kode etik), terlebih karena ia sudah cukup menderita, jangan lagi menambah penderitannya. Berbeda dengan manusia-manusia pada umumnya, sudah baik dan banyak sekali pun yang dilakukan sesdamanya, pengakuan dan penghargaan pun terkadang bisa jarang dilakukan. Apalagi bila itu dilakukan oleh para mantan pelacur, mantan narapidana, atau oleh orang-orang kecil biasa. Walau sekarang mereka telah bertobat! Berbeda dengan orang besar, sekali saja berbuat kebaikan hal yang biasa, bisa jadi namanya terpampang di koran dengan huruf-huruf besar! Walau itu dengan motivasi sekedar menutupi dosa yang lebih besarlagi!

Bila kita membaca dalam nas lain, dalam cerita yang sama (Yoh.12:3), kita temukan bahwa nama perempuan ini adalah Maria, atau lengkapnya Maria Magdalena. Di masa lalunya, ia disembuhkan oleh Yesus dari penyakitnya, yaitu yang dicatat: "Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan." (Luk. 8:2; bdk.Mrk.16:9). Perempuan yang bernama Maria ini bukan saja mengorbankan apa yang mungkin merupakan seluruh tabungannya, ia juga mempertaruhkan reputasinya. Dalam budaya Timur Tengah abad pertama, wanita terhormat tidak pernah memperlihatkan rambutnya di depan umum. Namun ibadah yang benar tidaklah peduli pada apa pendapat orang lain tentang kita (bdk.2 Sam. 6:21-22).

Kenapa dan apa alasannya hingga ia sanggup melakukan perkara besar, bahkan bila kita mau jujur mungkin jarang, malah mungkin tak pernah dilakukan oleh orang yang mengklaim dirinya beragama, suci, dan sebagai orang terhormat?! Permohonan ampun memang dilakukan juga, namun yang hanya sebatas doa kepada Tuhan dalam kata-kata basa-basi saja? Tanpa aksi nyata, apalagi tindakan besar seperti yang dilakukan perempuan berdosa yang satu ini! Untuk menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral. Namun iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang percaya.

Tetapi kita harus hati-hati dalam mengartikan ayat 47; ayat tersebut seolah-olah menggambarkan pada kita bahwa karena ia telah berbuat kasih maka dosanya diampuni. Itu keliru besar! Justru sebaliknya, Tuhan terlebih dahulu mengampuni dosa perempuan itu dan sebagai ucapan syukurnya, ia berbuat kasih. Menurut penafsiran, dilihat dari konteks sebelumnya dan sesudahnya maupun dari bahasa aslinya, lebih tepat diterjemahkan dengan “sebab itu.“ Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia banyak berbuat kasih (Luk. 7:47).

Dari fakta-fakta yang ada dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perempuan tersebut telah bertobat sebelumnya. Ia telah terlebih dahulu membuka diri, diisi oleh kasih Tuhan, dan telah menerima pengampuanan besar dari Allah terlebih dahulu (bdk. ayat sebelumnya 18-35). Kesadaran ini, membuatnya mengasihi lebih daripada yang dilakukan orang lain. Perempuan ini melakukan perbuatan yang lebih dari batas sewajarnya dan paling berharga, karena keluar dari lubuk hati yang terdalam sebagai tanda ucapan syukurnya atas pengampunan dosa yang telah ia terima. Karena itu sebagai ungkapan syukurnya, ia berbuat kasih; ia menyadari hutangnya terlalu besar untuk diampuni, namun Tuhan Yesus mau berkenan mengampuni dosanya yang banyak itu.

Karenanya, untuk menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral. Namun iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang percaya. Dan lihatlah, seperti yang dicatat dalam kitab-kitab Injil, bahwa ia juga adalah sebagai orang pertama yang bertemu Yesus setelah bangkit dari kematian, dan orang pertama yang mengabarkan tentang "Yesus yang bangkit" kepada murid-murid yang lain. Luar biasa! Seorang perempuan yang dianggap hina, namun pertobatannya bukan sekedar sebatas kata-kata doa permohonan ampun semata! Imannya tidak sekedar teori saja, tapi mempersembahkan, bahkan mempertaruhkan yang terbaik dari seluruh hidupnya! AMIN! *
_____________________
(Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Kamis, 14 Juni 2012

Dasar Kehidupan Orang Kristen


Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Matius 7:24-29

Bila memperhatikan perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus kita dapat mengetahui bahwa Ia sering menggunakan perbandingan dalam perumpamaan-Nya. Misalnya perumpaan sepuluh anak dara (Matius 25), orang kaya dan Lazarus (Lukas 16), dua orang yang membangun rumah (Mat 7:21-29, Luk 6:46-49), dll. Perumpamaan-perumpamaan tersebut menghadapkan perbandingan-perbandingan antara yang pandai/bijak dengan yang bodoh dan yang kaya dengan yang miskin. Adapun orang itu terdapat di antara pendengar-pendengar yang sehari-hari mengelilingi Tuhan Yesus untuk mendengar perkataan-Nya. Karena itulah Tuhan Yesus menegaskan kepada para pendengar-Nya, bahwa barang siapa yang mendengar perkataan-Nya diumpamakan dengan seorang yang bijak (ay 24). Tetapi bukan saja menjadi pendengar melainkan harus juga menurutinya. Ini berarti orang tersebut menyambut Tuhan Yesus dan menjadikan-Nya sebagai batu alas/dasar kehidupannya sehingga dalam hidupnya akan beroleh damai dan sentosa.

Dengan demikian orang yang bijak itu diumpamakan sebagai yang mendirikan rumah di atas batu dan ketika turun hujan dan air bah melanda serta angin topan menerpa rumah itu tidak roboh karena beralaskan pada batu (ay 24-25). Demikian pula di kehidupan ini, sering kali kita diserang dengan sangat ganas oleh kuasa kegelapan yang diibaratkan sebagai air bah dan angin topan, hidup kita hendak ditangkap oleh kuasa kegelapan dengan berbagai jebakan-jebakannya yang menuju kepada kebinasaan. Namun berbahagialah kita karena iman kita beralaskan Batu Zaman yang Kekal yakni Tuhan Yesus, karena itu kita tidak akan gentar dan takut terhadap segala bahaya yang diterbitkan oleh kuasa kegelapan.

Sebaliknya dikemukakan oleh Tuhan Yesus tentang orang yang bodoh, yakni yang hanya mendengar perkataan-perkataan-Nya tetapi tidak menuruti-Nya. Orang ini diumpamakan oleh Tuhan Yesus sebagai yang rumahnya dialaskan di atas pasir saja dan ketika hujan lebat, banjir dan angin topan melanda maka robohlah rumah tersebut. Ini berarti jikalau hidup kita didasarkan pada keduniawian (kekayaan dan kesenangan dunia) semata maka ketika segala bahaya yang diterbitkan oleh kuasa kegelapan menerpa kita maka kita pun ikut terseret kedalam kebinasaan.

Oleh karena itu baiklah kita menjadi orang yang bijak yang menjadikan Tuhan Yesus sebagai dasar kehidupan kita orang Kristen !

Kamis, 12 April 2012

Menikmati Hadirat Tuhan

Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini: : Keluaran 16
“Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35)

Kisah Tuhan menurunkan manna kepada Bangsa Israel merupakan kisah di mana kita pada hari ini belajar untuk mempercayai bimbinganNya hari demi hari. Ketika kita bangun di pagi hari, apakah yang ada di benak kita: pekerjaan yang bertumpuk, beban-beban sepanjang hari, urusan-urusan yang masih terbengkalai? Pernakah terpikir oleh kita untuk memulai hari baru dengan merenungkan kasih Yesus yang telah berkorban untuk kita? Saat orang Israel bersungut-sungut, Tuhan menurunkan manna di perkemahan orang Israel, dan tidak ada satu orangpun yang kekurangan. Dari firman Allah, kita mengenal Yesus sebagai roti hidup, pada hari ini Ia ingin memberikan damai, kasih karunia, penghiburan dan sukacita kepada kita(dengan kata lain menurunkan manna), tetapi bila kita lebih memikirkan kepentingan-kepentingan kita sendiri- kita melibatkan Tuhan hanya untuk membuat program-program kita berhasil atau dengan kata lain Tuhan bukan yang terutama dalam hidup kita, roti itu akan berulat dan berbau busuk. Kita menjadi mudah marah kepadaNya saat kita malah terjebak dalam kesulitan atau bahkan apa yang ingin kita raih tidak tercapai.

Kekhawatiran juga menyebabkan kita tidak dapat memuliakan namaNya. Orang Israel yang kuatir tidak akan mendapat manna keesokan harinya, mengambil jatah yang melebihi kebutuhannya sehari, dan hasilnya roti itu juga tidak dapat dimakan. Saat kita tenggelam dalam kekuatiran, kita cenderung meragukan pimpinan Tuhan, dan karenanya kita mengambil langkah apa yang menurut pikiran kita benar dan masuk akal. Akibatnya, kita mudah sekali kehilangan sukacita, damai, penghiburan dan kasihNya yang sebenarnya sungguh berlimpah dan diberikan cuma-cuma bagi kita. Sesungguhnya kasih karunia Tuhan baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23), dan pemeliharaanNya selalu tersedia bagi kita, anak-anakNya. Namun, kita akan menganggap Tuhan jahat dan tidak sayang pada kita bila hati kita hanya terisi oleh kesibukan-kesibukan duniawi serta tidak bersandar penuh kepadaNya.

Kiranya kita dapat selalu menikmati hadirat Tuhan dalam setiap pergumulan yang kita hadapi. Seperti manna yang rasanya manis, kasih Yesus pada kita juga sangatlah manis. Semakin kita bertekun di dalamNya, hidup kita semakin lama semakin akan terasa manis. Ikutlah Yesus dan berpeganglah pada firman Tuhan agar jangan sampai hidup kita menjadi tawar, dan berarti kita telah menyia-nyiakan kematian Yesus di kayu salib. Amin!

__________________________
Dikirim oleh : Kumalawaty Sundari

Sabtu, 07 April 2012

Renungan Paskah - Yesus Telah Bangkit

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini :
Markus 16:1-8 dan Yohanes 20:1-10

Hari ini merupakan perayaan Paskah. Kebangkitan Yesus Kristus berarti kemenangan iman Kristen; dan ini merupakan penggenapan dari nubuat mengenai Mesias yang terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Siapa dari kita, pengikut Kristus, yang tidak beriman dan bersyukur akan kematian dan kebangkitan-Nya? Kita sadar bahwa kedua peristiwa penting itu menentukan baik Kekristenan maupun kehidupan iman kita. Keduanya tidak dapat dipisah dan mengandung arti teologis yang mencengangkan. Bila kematian adalah tindakan ketaatan Tuhan Yesus kepada rencana kasih Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan upahnya, yaitu murka Allah, maka kebangkitan adalah bukti bahwa ketaatan Tuhan Yesus itu berhasil!.

Apabila Tuhan Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman percaya kita dan kita pun masih hidup di dalam dosa. Jika Kristus tidak bangkit, Injil hanyalah sebagai buku cerita fiksi belaka dan percuma Injil diberitakan ke seluruh penjuru dunia ini. Namun dengan kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga, berita Injil adalah ya dan amin. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi perintah kepada murid-muridNya dan juga kita;
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum." (Markus 16:15-16)

Kebangkitan Yesus Kristus adalah bukti bahwa Dia adalah Tuhan dan bukti bahwa Injil Kristus adalah kebenaran sejati. Dengan tepat Rasul Paulus mengatakan: 
"andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Kor. 15:12). 
Kebangkitan Yesus Kristus telah memberikan kepastian bahwa di balik kematian ada kehidupan. Hal ini ditegaskan Tuhan Yesus Kristus sendiri; 
"Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada-KU, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). 
Jadi dengan kebangkitan Kristus ada jaminan pasti bahwa kita yang percaya juga akan dibangkitkan dari kematian dan beroleh hidup yang kekal.

Oleh karena itu dengan momentum Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, mari kita bangkitkan iman, harap dan kasih kita, sebab Dia yang bangkit mampu mengubah kita. Amin! 

Selasa, 03 April 2012

Hidup di Bawah Bimbingan Roh-Nya

 Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini: Yohanes 2:1-11

Mujizat air menjadi anggur
Mujizat pertama yang dibuat oleh Tuhan Yesus adalah saat Ia mengubah air menjadi anggur pada perkawinan di Kana. Kita tahu pasti bahwa pada saat itu pihak yang mengadakan pesta kehabisan anggur. Pada hari ini, barangkali hidup kita juga dalam kondisi yang tidak baik; kita mempunyai banyak rencana-rencana bagus, tetapi di tengah jalan rencana-rencana tersebut menemui hambatan. Hal pertama yang seharusnya ada di benak kita saat kita kehilangan selera dalam menjalani hidup adalah menceritakan kesulitan kita kepada Yesus. Anggur yang habis itu dapat berupa kesulitan ekonomi, pertikaian dalam kehidupan rumah tangga atau kewajiban-kewajiban lain yang kita rasa sangatlah berat untuk dilakukan. Saat kita merasa hidup kita hancur, kita perlu lebih mempercayaiNya. Dalam hal ini, Ibu Yesus menyuruh pelayan-pelayan pesta untuk melakukan apa saja yang Yesus suruh mereka perbuat, dan keajaiban pun terjadi! Bahkan pemimpin pesta memuji anggur yang baru saja diberikan kepadanya.
“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!” (Mazmur 34:9)
Saat kita bertumbuh dalam iman, kehidupan kita akan semakin lama semakin manis. Menurut pemimpin pesta, anggur yang baik hanya dihidangkan pada saat awal pesta, setelah itu kualitas anggur yang dihidangkan tentu akan berkurang. Banyak orang pada hari ini beranggapan bahwa semakin bertambah usia, hidup akan semakin sulit, bahkan mereka lebih menyukai masa kecil mereka, di mana masa tersebut mereka tidak perlu bekerja keras. Hendaknya kita membuang jauh-jauh berbagai pandangan dunia yang berusaha menjauhkan kita dari kasih Kristus. Karena Yesus telah mengalahkan dunia, pada hari ini kita tentu dapat merasakan bahwa hidup di bumi ini seperti di Surga. Walaupun semua orang telah pasrah, sebagai orang percaya, kita harus ingat bahwa kita mempunyai harapan yang teguh di dalam Tuhan.

Ada tekanan-tekanan ketika anggur sudah habis, tetapi jalan terakhir yang para pelayan itu pilih, yakni melaksanakan semua perkataan Yesus, malah dapat membuat pesta tetap dapat berjalan. Hari ini hidup kita dipenuhi berbagai macam tuntutan, misalnya: seorang anak yang dituntut orang tuanya untuk dapat meraih peringkat terbaik di sekolah atau menjadi seperti yang mereka ingini. Ketika kita beranjak dewasa, kita dituntut untuk bekerja keras dan memperoleh uang banyak. 

Nilai pengorbanan Tuhan Yesus melebihi segalanya, oleh karena itu, mujizat pertama ini mengajarkan kepada kita bagaimana Tuhan ingin agar kita menikmati kebebasan di dalamNya. Jika kita melakukan perintah Tuhan, hidup kita akan diberkati, dan jauh dari segala macam keluhan dan putus asa. Sebaliknya, bila kita memilih anggur dunia yang suatu saat dapat habis, kemudian kita terus berusaha untuk meraihnya, kepahitan akan senantiasa menghinggapi kehidupan kita. Kiranya damai sejahtera Yesus Kristus senantiasa tinggal dalam hati kita.  Amien !
_____________________________
Dikirim oleh : Kumalawaty Sundari

Senin, 02 April 2012

Konsekuensi Teramat Berat

penderitaan Yesus
Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Markus 14:32-52
Misi Tuhan Yesus datang ke dunia sangat jelas. Ia datang untuk menggenapi rencana Allah menyelamatkan umat manusia. Namun konsekuensi tugas itu luar biasa berat. Yesus harus menderita dan mati di kayu salib. Dari kisah-kisah sengsara Yesus (minggu-minggu sengsara) kita berjumpa dengan Yesus yang perkasa. Namun dalam kisah ini, Yesus mengakui sendiri bahwa Ia "takut dan gentar, ... sangat sedih seperti mau mati rasanya." (Markus 14:33-34). Apakah Yesus takut menghadapi penderitaan dan kematian? Apakah tiba-tiba Yesus berubah menjadi seorang pengecut yang berusaha mengelak dari ancaman? Tidak!! Itu adalah ungkapan dari seorang yang hidup sepenuhnya untuk Allah namun menyadari bahwa Ia harus dipisahkan dari Allah karena dosa-dosa manusia yang ditanggung-Nya. 
Renungkan : bagaimana nasib anda dan saya bila Yesus menolak cawan murka Allah!


Konsekuensi menjadi murid Yesus



Semua murid diajak ke Getsemani namun hanya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang diajak sampai ke tempat Yesus bergumul dalam doa. Semua pengikut Yesus memang harus paham terntang penderitaan Yesus, bahkan tidak cukup hanya paham, sebagai murid inti Petrus, Yakobus dan Yohanes, bahkan harus ikut lebih dekat bersama Yesus. Apakah Yesus memerlukan hiburan dan dukungan doa mereka? Bagaimana mungkin dari orang yang berambisi keliru dan yang akan menyangkali diri-Nya Yesus mengharapkan hiburan dan dukungan doa mereka? Bukan seperti itu, Yesus mengajak mereka ikut dekat dengan-Nya untuk menyaksikan sendiri pergumulan berat Tuhan mereka. Juga untuk mengungkapkan perhatian-Nya dengan berulangkali membangunkan mereka dari tidur dan mengajarkan tentang perlunya berwaspada dan berdoa.
Sesudah menundukan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah Bapa, Yesus membiarkan diri-Nya ditangkap. Kini tak ada kekuatan apapun yang dapat merintangi Yesus untuk merampungkan rencana keselamatan Allah bagi dunia ini!


Arti penderitaan Tuhan Yesus


Apakah kita sungguh paham dan menghayati arti penderitaan Tuhan Yesus? Sebagai orang Kristen, mungkin kebanyakan kita akan menjawab bahwa kita paham dan menghayati penderitaan Tuhan Yesus. Buktinya, beda dengan para murid Yesus yang sukar menerima ajaran bahwa Yesus harus menderita dan mati, kita sudah hafal luar kepala ikrar iman yang berkaitan dengan penderitaan dan kematian Yesus. Namun tidakkah mungkin terjadi bahwa karena kita menganggap biasa, hal-hal yang luar biasa dalam penderitaan dan kematian Yesus justru luput dari penghayatan kita?


Bukan hanya murid-murid-Nya yang perlu menjadi saksi dari penderitaan-Nya, namun kita pun perlu bersekutu dalam penderitaan-Nya agar kasih dan iman kita tumbuh semakin utuh dan teguh !

Senin, 19 Maret 2012

SIKAP DI DALAM DOA

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Matius 6:5-8


Doa..... apalagi namanya kalau bukan sebagai “nafas hidup orang beriman” seperti yang sering orang istilahkan? Ya, itulah makna doa. Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa doa adalah “meminta” kepada Tuhan. Oh, itu juga ada benarnya. Sebab, apa pun alasan Anda mendefinisikan tentang doa, ujung-ujungnya pasti juga soal meminta. Ada juga orang mengatakan bahwa berdoa itu adalah sarana “berkomonikasi dengan Allah”. Oh, siapa yang mengatakan itu salah? Kalau doa bukan berkomunikasi dengan Allah, lalu apa istilah lain yang lebih tepat untuk kita dapat menggambarkannya secara sempurna? Saudara, sepanjang kita menganggap bahwa doa itu penting dan berharga, sepanjang itu pula kita kita memberikan makna yang berharga sebagai bentuk logis penghargaan kita tentang doa. Tentang doa, tidak jarang saking orang menghargainya, soal cara pun dipersoalkan. Ya, sampai sampai soal mana cara doa yang benar yang sekiranya berkenan kepada Tuhan!

Ada yang berpendapat bahwa berdoa dengan lipat tangan dan pejamkan mata, itu cara yang paling khusuk dalam berdoa. O, ya? Yang lain lagi berpendapat, bahwa berdoa itu bebas, sebebas kita mengekspresikan jiwa kita, tanpa harus terikat dengan cara segala. Biasanya kedua ektrim tersebut mempunyai alasan masing-masing. Yang menganggap bahwa berdoa dengan lipat tangan dan pejamkan mata, itu cara berdoa yang lebih sreg! Oh...oh...oh...oh... alasannya? Karena dengan lipat tangan dan pejamkan mata itu merupakan ekspresi paling mendalam yang merangkum seluruh jiwa raga secara bulat dan utuh. Oh, ya? Sedangkan yang mengatakan, bahwa berdoa dengan dengan tangan bebas, sikap tengadah ke atas dan tanpa tutup mata itulah cara berdoa yang benar! Oh...oh...oh...oh...alasannya? Karena itulah cara berdoa yang paling alkitabiah, ada ayatnya lagi! Oh, ya?

Soal doa..... terkadang kita hanya sibuk mempermasalahkan soal cara, dan soal dengan kalimat apa dan bagaimana kita harus berdoa. Padahal persoalan kita yang paling prinsif adalah, apakah kita sungguh-sungguh menganggap bahwa doa itu sebagai nafas hidup kita? Apakah kita menganggap bahwa doa itu sesuatu yang penting dalam hidup kita sehingga kita menjadi sungguh-sungguh berdoa? Jika jawabnya “Ya”, tentu kita akan selalu berdoa, baik ketika mengawali segala aktivitas memohon penyertaan, petunjuk dan berkat dari Tuhan dan mengakhiri aktivitas kita dengan ucapan syukur dalam doa-doa kita. Bukan hanya sekekali berdoa, kapan-kapan diperlukan. Kapan-kapan berdoa, tunggu masalah menimpa, baru berdoa. Layaknya ban serep, kapan-kapan dibutuhkan! Jika jawabannya “Ya”, tentu kita akan berusaha untuk belajar berdoa, supaya bisa berdoa. Bukan seumuran tak bisa berdoa. Mengucapkan beberapa kalimat mohon berkat Tuhan ketika hadapi piring makanan pun sampai kiamat terlalu sulit untuk diucapkan!

Memang banyak orang yang dapat berdoa dengan lancar, kata-katanya pun indah di dengar. Itu baik, tidak salah. Kita tidak boleh mengatakan bahwa orang-orang yang mengucapkan kalimat doanya dengan indah itu salah. Tidak, tidak sama sekali! Apalagi kalau itu memang cara dia berdoa, karena sudah terbiasa berdoa. Tetapi masalahnya, bila doa itu hanya sebatas mulut, apa pun sikap tubuh yang Anda peragakan, belumlah berarti apa-apa untuk sebuah doa dalam arti yang sesungguhnya! Itu hanyalah ibarat buah-buah plastik. Bagus dan menarik kulitnya, indah bentuknya menyerupai buah yang aslinya, tapi kosong tak berisi. Namun salah jugalah kita, bila hanya karena alasan bahwa karena itu “maha tahu” lalu kita sembarangan saja mengucapkan kalimat doa, kesana kemari tidak jelas tujuan, berputar-putar cukup lama akhirnya kembali ke kalimat semula. Ibaratkan kapal pesiar yang hanya mondar mandir di tengah lautan akhirnya kembali lagi ke dermaga semula! Apalagi bila ini dilakukan untuk doa syafaat, maaf......jangan-jangan hanya memperlambat berkat, padahal Tuhan sudah mau mencurahkan berkat secara cepat! Lalu bagaimana sikap yang benar di dalam doa? Nah ini. Sederhana sekali, seperti yang Yesus ajarkan dalam nas ini. Apa intinya?

Bagaimana Cara Berdoa yang Benar ?

Pertama, berdoa yang benar itu harus dimulai dari kedalaman niat hati yang murni. Bukan dimulai dari cara apa Anda berdoa. Bukan dimulai dari bagaimana tangan, kepala atau mata Anda! Bukan pula dimulai dari mulut atau kalimat yang hanya basa basi ada di mulut, sementara hati masih terpenjara dalam benci, dendam, dan diselimuti awan keduniawian yang hitam! Ya, mulailah dari hati yang murni, dan ekspresikan dengan sepenuh jiwa raga secara nyaman, pantas, yang sekiranya layak Allah berkenan. Jika ini Anda lakukan, kecil kemungkinan Anda akan berdoa seperti orang munafik, seperti yang Yesus sebutkan (ay. 5).

Kedua, ungkapkan saja isi hati Anda secara wajar walau dengan kalimat yang sederhana, dengan kerendahan hati, tapi jelas dan bermana. Bukan sekedar kata-kata indah yang hanya basa-basi semata. Apalagi kata-kata yang sifatnya membentak-bentak, memaksa-maksa Tuhan. Terlebih dengan Tuhan, ucapkanlah kalimat dengan sopan, karena Anda sedang berbicara dengan Raja di atas segala Raja! (ay.7).

Ketiga, milikilah sikap berdoa layaknya seperti seorang anak kepada bapaknya. Ya, layaknya seorang anak yang meyakini bahwa bapaknya pasti lebih mendengarkannya, ketimbang dengan bapak orang lain. Ya, seperti seorang anak yang meyakini bahwa ayahnya pasti menyayangi dan mengasihinya. Ya, seperti seorang anaka yang meyakini bahwa yang akan diberikan bapaknya kepadanya adalah pemberian yang baik, jika ia minta roti atau ikan yang nikmat dan menyenangkan, bukan diberikan batu atau ular atau yang mematikan! ((ay.8; bdk.Mat. 7:8-11). Ya, seperti seorang Anak yang bergantung dan percaya sepenuhnya atas kebaikan, kemurahan dan kasih sayang bapaknya!

Saudara, terlalu sulitkah berdoa? Bisa jadi, bila itu dilakukan dengan cara-cara berdoa orang munafik. Karena orang munafik bila berdoa harus memerankan tiga cara sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana memikirkan strategi supaya dianggap benar-benar berdoa, padahal hatinya tidak. Bagaimana memikirkan kaki, tangan, kepala dan mata terlebih dahulu, ya berdoa sambil berpikir! Belum lagi memikirkan kata-kata untuk di taruh di mulut, sementara hatinya disembunyikan. Ya, berdoa cara munafik memang sulit!

Saudara, apakah berdoa itu sulit? Oh...Ternyata tidak sulit bagi orang-orang yang sungguh rindu untuk berdoa. Yang menjadikan doa itu sebagai nafas hidupnya! Ya, seperti semudah dan seindah ketika anda secara otomatis bernafas. Seperti bahagianya seorang anak ketika berkomunikasi dengan bapaknya walau terkadang ia ungkapkan kata-katanya dengan terbata-bata, polos dan bersahaja. Tapi semua dimengerti oleh bapaknya walau sebelum semua kalimatnya berakhir yang tak mampu ia ucapkan secara tuntas! Saudara, sulitkah berdoa? Oh, tidak! Semudah bila saja Anda mau segera bertindak untuk mencoba. Ibaratkan lampu listrik, tinggal Anda tekan stop kontak maka lampu akan segera menyala! AMIN!
____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Minggu, 11 Maret 2012

Fokus pada Kasih dan Karunia Tuhan bukan pada Masalah

Ayat Renungan Harian Kristen hari ini :

"Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya" (Mazmur 34:4).

Selama berabad-abad, jauh sebelum penemuan kacamata, orang menggunakan kaca pembesar untuk membaca cetakan yang berhuruf kecil atau membantu mereka untuk melihat lebih baik. Tentu saja, kaca pembesar tidak benar-benar mengubah ukuran sesuatu, ia mengubah perspektif anda sehingga tampak lebih besar pada penglihatan anda.

Menariknya, pikiran kita bekerja layaknya seperti kaca pembesar. Semakin anda memikirkan sesuatu, semakin besar anda melihat hal itu terjadi. Ketika anda fokuskan perhatian pada situasi anda, tidak benar-benar mengubah apa pun di alam, tetapi situasi anda menjadi lebih besar dan lebih besar dalam pikiran anda. Membesarkan hal yang salah dapat secara cepat membawa hidup anda pada jalan yang salah. Itu sebabnya kita harus menjaga hal-hal dalam perspektif yang benar dan tahu kapan harus berhenti memikirkan hal yang tidak dapat kita tidak rubah. Jika anda terus fokus pada masalah anda, mereka (masalah anda) bisa menjadi begitu besar dalam pikiran anda bahkan anda benar-benar dapat tenggelam dalam masalah-masalah tersebut. Tapi ketika anda berfokus pada Tuhan dan memuliakan-Nya dalam hidup anda, semua hal dari dunia ini; tantangan, hambatan dan kekecewaan semuanya akan lenyap begitu saja.

Berikut adalah cara lain untuk menggambarkan penjelasan di atas: jika anda memegang uang logam di tangan anda dengan posisi lengan terentang dan satu mata ditutup, uang logamnya tampaknya kecil dibandingkan dengan segala sesuatu yang anda lihat di sekitar anda. Tetapi jika anda menarik uang logam lebih dekat ke mata anda, maka akan tampak jauh lebih besar. Bahkan, jika anda memegangnya dengan sangat dekat dengan mata, anda tidak akan dapat melihat hal lain. Inilah yang sering terjadi dalam hidup - kesulitan dan tantangan yang tampaknya jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya, hanya karena kita menaruh mereka lebih dekat dari yang diperlukan.

Perspektif yang salah akan membawa anda ke jalan yang salah, tetapi mengubah perspektif anda dapat terjadi dalam hitungan detik hanya dengan mengubah fokus anda. Ketika saya menghadapi tantangan, saya mengingatkan diriku pada semua hal besar yang telah Tuhan lakukan bagi saya. Saya mulai berterima kasih karena telah mengizinkan saya untuk mengenal Dia, saya berterima kasih untuk keluarga saya, pekrjaan saya, teman-teman saya bahkan segala hal yang telah DIA karuniakan dalam hidup saya. Saya ingat bagaimana Tuhan membawa saya melalui ujian, masa lalu dan kesulitan. Saya selalu takjub melihat betapa perubahan perspektif saya ketika saya memiliki hati yang bersyukur dan memilih untuk memperbesar/fokus pada hal yang benar dalam hidup saya!

Saat ini, saya mendorong anda untuk melakukan inventarisasi pikiran anda. Anda dapat membuat daftar semua hal yang dikaruniakan-Nya dalam kehidupan anda sekarang. Pegang daftar itu di depan anda dan renungkanlah tentang seberapa besar Allahmu! Mintalah Dia untuk menyatakan diri-Nya kepada anda dalam cara yang lebih besar. Nyanyikan sebuah lagu pujian kepada-Nya saat anda melepas daftar itu ke dalam pelukan kasihNya. Ingat, muliakan Dia dan lihat segala beban dan masalah duniawi anda akan hilang. Amin !

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku"
(Filipi 4:13)

Rabu, 07 Maret 2012

Kehidupan Kekristenan Kita

STANDAR HIDUP KEKRISTENAN KITA


Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : I Korintus 10:1-13


Saudara, hidup dan keselamatan yang kita peroleh hanyalah karena anugerah Allah.  Benar! Hanya persoalannya, bagaimana bentuk Injil yg dapat menjadi standar kehidupan kita dan kekuatan kita untuk menjalani kehidupan hingga akhirnya? Standar  tentang apa? Standar yang bagaimana? Kekuatan memang diperlukan. Manusia pun mencari berbagai bentuk kekuatan. Baik kekuatan secara fisik, kekuatan secara material, kekuatan bisnis, kekuatan magis, dst. Kekuatan memang diperlukan. Tetapi tidak semua kekuatan itu tujuannya baik. Malah banyak juga kekuatan yang dapat menjerumuskan! Apalagi kalau bukan kekuatan dunia yang menawan, yang membuat manusia sewmakin jauh dari Allah? Itu jauh lebih mengerikan! Kekuatan memang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan, sebab tanpa kekuatan, orang sulit untuk bertahan dalam perjuangan hidup. Tetapi kekuatan yang hanya sementara di dunia ini, apalah artinya? Lalu setelah meninggalkan dunia yang fana ini, apakah kekuatan-kekuatan yang disebutkan tadi dapat menjadi kekuatan yang menyelamatkan? Nah, disinilah persoalannya! Berbeda dengan kekuatan Injil. Karena memang kekuatan  Injil (Ewanggelion) yang dimaksud di sini  adalah kekuatan (kabar gembira) bahwa pembenaran kita hanya karena Injil oleh Allah.

Pembenaran itu mesti diterima dgn iman, pembenaran itu perlu diterima menjadi bagian yang utuh dalam kehidupan, sebagai standar hidup kekristenan kita. Karena itulah satu-satunya kekuatan yang dapat menyelamatkan manusia untuk mendapatkan keselamatan. Bukan oleh kekuatan yang lain! Dalam arti Injil, keselamatan itu bukanlah  usaha manusia, tetapi sebaliknya, karena anugerah Allah semata. Berita tentang Injil imemang sudah sampai kepada kita. Tapi persoalannya,  apakah hidup kita yang menerimanya sudah sesuai dengan maksud Injil yang kita terima?

Saudara, dalam hidup kekristenan kita, tidak jarang orang memiliki pemahaman yang keliru tentang konsep keselamatan.  Apabila sudah dibaptis, ya seolah-olah otomatis memperoleh keselamatan. Bila ikut perjamuan kudus, ya soal dosa bereslah sudah. Bila rajin ikut persekutuan doa, ya itulah tandanya orang yang sudah lahir baru dan buah dari iman serta pertobatannya. Pokoknya, bila yang rutinitas rohani itu sudah dijalankan, ya cukuplah. Bereslah sudah.  Lalu setelah menjalani kehidupan nyata dalam sosial masyarakat sehari-hari? Nah...nah...nah...  Inilah yang mungkin jadi pertanyaan.

Saudara, apakah hanya sesederhana itu soal keselamatan? Dan apa maknanya jika Injil itu sebagai kekuatan? Ya, apalagi sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan? Jika segampang dan sesederhana  yang kita pahami tentang arti keselamatan, tentu tidak perlu Injil itu disebut sebagai kekuatan. Apalagi dikatakan sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan! Pemahaman yang keliru tentang Injil keselamatan rupanya telah dianut juga oleh jemaat di korintus. Karena itu Rasul Paulus memperingatkan mereka bahwa anugerah keselamatan yang diberikan Allah mestinya harus menjadi dasar kehidupan.

Dari contoh kehidupan umat Israel dalam Perjanjian Lama (PL) disebutkannya bahwa tidak semua umat Israel masuk ke tanah perjanjian. Rasul Paulus hendak mengingatkan dan menegaskan bahwa hal yang demikian juga bisa terjadi dalam kehidupan jemaat Korintus bila mereka tdk menjaga kekudusan hidup mereka. Karena itu janganlah menganggap remeh arti mahalnya anugerah keselamatan dari Allah yang memberikanNya bagi mereka. Karena itu pula, tidak sepantasnya mereka hidup sama seperti orang-orang dunia dalam lingkungan mereka yang penuh dengan pesta pora, penyembah berhala, penuh tipu daya, kemesuman, bersungut-sungut, dan hanya mengejar kesenangan sebagai sesuatu “kekuatan” di dunia ini semata!

Lalu bagaimana kita memahami bila Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan kita? Menjadi standar hidup kekristenan kita? Singkatnya begini. Kita tidak akan pernah menukarkan anugerah keselamatan yang Allah berikan kepada kita hanya karena berbagai alasan yang kekanak-kanakan. Karena harga keselamatan yang kita miliki tidaklah murah, maka kita sanggup menghadapi berbagai pencobaan hidup ini dengan ikhlas, tanpa bersungut-sungut! Apalagi jika sampai menukar iman kita dengan sejumput kenikmatan dunia yang sementara ini. Karena hidup ini juga adalah anugerah, maka apa pun keadaan kita di dunia ini, tetaplah kita setia dalam menjalankan berbagai aktivitas dan karya-karya kita, sampai akhirnya kita benar-benar kuat hingga berada bersama dengan Tuhan yang memberikan sukacita yang sesungguhnya. Amin. 
_____________________________________
Dikirim oleh : (Pdt.Kristinus Unting, STh., M.Div)

Senin, 30 Januari 2012

Melupakan Masa Lalu dan Bergerak Maju didalam Allah

Ayat Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini:

Filipi 3:13-14,  "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus".

Apa yang dikatakan Paulus dalam Filipi 3:13, pada dasarnya bahwa ia tidaklah sempurna, "Kau tahu, aku tidak sempurna, saya belum mencapai semuanya.. Tapi satu hal yang saya lakukan-saya mengarahkan diri pada apa yang di depanku." Dia fokus pada bergerak maju. Dia tidak mau tinggal di mana dia berada sekarang. Dia tidak ingin puas biasa-biasa saja. Dia membuat keputusan untuk terus tumbuh dan berusaha untuk maju. Dan kemudian, ia memberitahu kita apa yang dia lakukan untuk maju, ia melepaskan diri dari (dosa) masa lalu. Dia "melupakan" apa yang ada di belakangnya. Dengan kata lain, ia tidak terpaku dengan (dosa) masa lalunya. Dia tidak membiarkan hal itu menahannya. Sebaliknya, ia mengarahkan masa depannya dengan berpedoman pada Firman Tuhan.

Ini tidak selalu mudah. Bahkan, ini adalah sebuah pertarungan. Tapi, itu pertarungan yang bagus. Alkitab menyebut ini pertandingan iman. Apakah Anda tahu apa yang membuat pertarungan yang bagus? Ketika Anda berada di pihak yang menang! Anda tahu bahwa Anda menang selama Anda terus berdoa, terus menyatakan kasih Allah, tetap mengampuni, tetap mentaati Firman-Nya. Anda harus tinggal dalam permainan jika Anda tahu akan menang! Musuh (iblis) akan mencoba sepanjang waktu untuk mengambil Anda keluar dengan mengingatkan Anda tentang apa yang terjadi di masa lalu Anda. Dia akan mengingatkan Anda setiap kali Anda membuat kesalahan atau mengatakan sesuatu yang salah. Iblis akan terus menyerang dengan segala daya di medan perang pikiran Anda. 
Tapi apakah Anda tahu bagaimana untuk melawan pikiran-pikiran negatif ketika mereka datang? Anda hanya dapat melawannya dengan berbicara kebenaran Firman Tuhan. Lihat, Anda tidak dapat berbicara satu hal dan berpikir tentang sesuatu yang berbeda. Pikiran Anda harus mengikuti kata-kata Anda. Itulah mengapa Matius 6:31 mengatakan, "Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" 
Karena ketika Anda mengatakan sesuatu, Anda memegang itu dalam hati Anda. Jika Anda mengucapkan kata-kata khawatir, Anda akan memegang khawatir. Jika Anda berbicara janji-janji Allah, Anda memegang janji Allah.

Hari ini, saya mendorong Anda untuk memegang hal-hal baik yang Tuhan telah sediakan untuk masa depan Anda. Seperti Paulus, jika ada satu hal yang menjadi fokus pada tahun ini, fokuslah pada bergerak ke depan. Fokuslah pada berbicara Firman Allah atas diri dan keluarga Anda setiap hari. Memegang kebenaran. Mengikat ke hati Anda. Biarkan Firman Allah memelihara dan menyegarkan jiwa Anda. Ketika Anda mengatur fokus ke depan, Anda akan bergerak maju dan menjadi apa yang telah Tuhan rencanakan bagi anda.
_________________________
Renungan Harian Kristen

Jumat, 27 Januari 2012

Lahir Baru - Dilahirkan Kembali

Yohanes 3:3
"...Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah"

Ada seorang pria di dalam Alkitab yang bernama Nikodemus, ia bertanya kepada Yesus, "Apa yang dimaksud dengan lahir baru?? Apa artinya dilahirkan kembali?? Bagaimana seseorang bisa masuk ke rahim ibu mereka untuk kedua kalinya?" Yesus menjawab dengan menjelaskan bahwa dilahirkan kembali berarti bahwa roh kita yang terlahir kembali dan dibuat hidup. Roma 10:9-10 mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali ketika kita mengatakan "ya" kepada Yesus.

Mengatakan "ya" kepada Yesus berarti percaya dalam hati kita, bahwa Yesus dibangkitkan dari kematian dan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Ketika kita mengatakan "ya" kepada Yesus dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kita segera menjadi hidup dalam roh kita. Bila kita menerima pengampunan-Nya, kita dibersihkan dari semua dosa dan segala kejahatan. Roh Kudus Allah akan berdiam dalam hati kita, dan kita dibuat baru! Seolah-olah Dia mengambil keluar DNA yang membuat kita untuk berdosa dan menggantikannya dengan DNA yang suci. Dan kita tidak diprogram untuk berdosa lagi, bahkan, menjadi sulit untuk hidup dengan cara lama yang sama karena ada hasrat baru untuk Allah di dalam diri kita.
I Yohanes 5:12 berkata bahwa, "Barangsiapa memiliki Anak ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak Allah tidak memiliki hidup". Dan kehidupan yang Yesus berikan adalah abadi dan berlimpah, penuh dengan sukacita dan kedamaian abadi!
Mengatakan "ya" kepada Yesus bukan hal yang satu kali; dalam artian tidak hanya kita berkata "ya" kepada Yesus kemudian ya sudah, berhenti sampai disitu. Tidak saudara, tidak seperti itu. Ini dimulai dengan penyerahan diri, kita harus bangun setiap pagi dan mengatakan "ya" kepada-Nya dalam pikiran kita, dalam sikap kita dan dalam tindakan kita. Kita harus mengatakan "ya" untuk mentaati Firman-Nya dan memilih untuk merangkul janji-janji-Nya yang berharga dengan iman. Sama halnya ketika kita berlatih dan makan setiap hari agar tubuh kita tumbuh dan menjadi kuat, kita pun harus berlatih dan memberi makan roh kita setiap hari sehingga dapat tumbuh dan menghasilkan hal-hal besar yang telah Allah siapkan didalam kita!

Saya mendorong Anda hari ini, jika Anda belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saatnya untuk mendapatkan kehidupan yang baru! "Ya Yesus saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku dan berserah penuh kepada-MU, buatlah hidupku menjadi baru seturut kehendak MU!" Ucapkan doa ini dari hati Anda dan biarkan Dia membuat Anda menjadi baru.

Jika Anda sudah dilahirkan kembali, luangkan waktu untuk menyelidiki hati Anda dan melihat apakah ada area yang telah tertutup bagiNya. Membuka hati Anda dan berkata "ya" di setiap area. Selalu ingat bahwa Dia mengasihi Anda dengan kasih yang kekal, dan Dia memiliki rencana yang indah untuk masa depan Anda. Jangan buang waktu lagi dengan rasa takut, ragu atau penyesalan. Katakan "ya" kepada-Nya dan rangkul hidup berkelimpahan yang telah Dia siapkan untuk Anda!
___________________

Kamis, 05 Januari 2012

Harapan yang Tak Pernah Hilang

Sebuah harapan adalah awal dari setiap hal yang baik dalam hidup kita. Harapan selalu membantu memberikan rasa percaya untuk mendapatkan yang terbaik, bahkan dalam menghadapi keadaan terburuk sekalipun. Bagi kita orang yang percaya kepada Kristus, harapan jauh lebih dari sekedar keinginan, kerinduan atau pandangan positif, hal itu didasarkan pada janji-janji Allah yang ditemukan dalam FirmanNya.

Kita dapat memiliki harapan dalam hidup tidak peduli apa yang mengelilingi dan terjadi di sekeliling kita, karena kita melayani Allah yang perkasa yang peduli, Allah yang tahu nama kita (Yesaya 45:3), Allah yang memahami keinginan hati kita (1 Tawarikh 28:9), dan Allah yang tahu siapa kita bahkan sebelum kita  dibentuk di dalam rahim ibu (Yeremia 1:5).

Mungkin Anda sedang menghadapi tantangan ataupun kemunduran didalam pekerjaan Anda atau mungkin juga didalam hubungan dengan orang yang anda kasihi. Mungkin Anda sedang berjuang secara finansial atau tekanan hidup yang besar sedang menimpa Anda. Jika itu sedang terjadi pada Anda, JANGAN TAKUT SAUDARA KU ... selalu ada harapan! Allah SELALU ada untuk Anda, DIA tidak akan berpaling dari Anda bahkan tidak untuk sedetikpun !. Sumber daya-Nya tak terbatas, kekuasaan dan cinta kasihNYA tidak mengenal batas. Tuhan ada di pihak Anda. Jangan biarkan musuh, Setan, pikiran Anda sendiri, atau orang lain memberitahu Anda sesuatu yang berbeda yang ingin menjauhkan harapan hidup dari anda. Ingat, jangan pernah menyerah! Lihatlah kepada Allah dan mengharapkan mukjizat, tetaplah berpengharapan.

Saya berdoa agar pengharapan menjadi nyata di dalam kamu. Allah adalah Allah yang "Maha" segalanya. Dia tidak memiliki kekurangan apapun. Dia selalu memiliki solusi bagi setiap persoalan kita.Allah siap untuk berbicara kepada Anda, untuk mendukung Anda dan menyelamatkan Anda.

Di mana harapan Anda hari ini... Apakah pada orang? pada Kemampuan Anda sendiri? pada Pekerjaan Anda? Bangkitkan dan bangunlah harapan Anda hanya pada Yesus saja. Siapa yang berpengharapan di dalam Tuhan dan percaya di dalam Dia, tidak akan pernah kecewa. Yesus adalah satu satunya harapan kita yang tak akan pernah hilang. HE will always stand by you !!!
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau !
(Mazmur 55:23a)
________________________________________________
Renungan Harian Kristen

Minggu, 18 Desember 2011

Bagaimana Membuat Sebuah Hubungan Menjadi Lebih Baik ?

Renungan Harian Kristen hari ini mengenai Bagaimana Membuat Sebuah Hubungan Menjadi Lebih Baik. Bagian dari memiliki hubungan yang sehat adalah memahami apa yang bisa dan tidak bisa Anda harapkan dari orang lain. Itu fakta, bahwa tidak peduli seberapa besar Anda menginginkan steak dan lobster, Anda tidak bisa berharap untuk mendapatkannya dari McDonald drive-thru karena mereka memang tidak memilikinya. Boleh saja Anda mengantri di barisan paling depan dan memohon pelayannya untuk untuk mendapatkan itu, tetapi tidak akan membuat perbedaan karena memang di McDonald tidak ada steak atau lobster. Demikian pula halnya dengan perasaan manusia, ada beberapa hal yang tidak dapat anda harapkan dari seseorang sesuai dengan keinginan anda.
Jika seseorang tidak pernah menerima pengakuan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk bertumbuh, mereka mungkin tidak tahu bagaimana memberikan pengakuan dan dukungan kepada orang lain. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak ingin memberikannya, mereka hanya tidak tahu bagaimana untuk memberikannya. Jika pasangan Anda tidak pernah didorong, dia mungkin tidak tahu bagaimana mendorong Anda. Jika suami/istri Anda tidak berbicara banyak kasih sayang atau menunjukkan sikap seperti yang anda ingin dia lakukan, anda perlu memahami bahwa ia mungkin tidak tahu bagaimana. Anda tidak bisa mengharapkan orang untuk memberikan apa yang mereka tidak miliki. Tentu, orang bisa berubah dari waktu ke waktu, tetapi mereka tidak pernah mungkin tidak baik dalam mengekspresikan cinta sesuai seperti yang Anda harapkan.

Jika Anda sedang mencari sesuatu yang berbeda dalam hubungan Anda, Anda mungkin bisa mulai dengan melihat diri sendiri. Sering kali, ketika Anda melihat sesuatu yang hilang dalam hubungan Anda, seharusnya Anda sendirilah yang menmunculkan terlebih dahulu sebelum anda mengharapkan datang dari pasangan anda. Anda membawa benih-benih perubahan. Jika Anda ingin lebih banyak dorongan di rumah Anda, mak taburlah benih dorongan. Jika Anda ingin lebih banyak kasih sayang dan kelembutan, maka taburlah kasih sayang kepada orang lain. Secara sederhana, apa yang anda ingin orang lain lakukakan atau berikan bagi anda, maka lakukakan dan berikanlah dahulu bagi mereka.
Dengan demikian hubungan yang lebih harmonis akan dapat tercipta.Ingat, pada akhirnya, hanya Tuhan yang dapat memenuhi semua dari kebutuhan kita. Kasih-Nya sempurna, dan ketika kita menerima kasih-Nya yang sempurna, kita dapat mewujudnyatakan dalam orang di sekitar kita. Ingat, Anda memiliki begitu banyak untuk memberikan kontribusi terhadap hubungan Anda. Berikan pasangan Anda dan orang-orang di dalam  hidup Anda dan sesuatu untuk menjadi teladan. Anda menjadi model perubahan. Jangan mendorong orang untuk berubah, melainkan memimpin dengan contoh (menjadi teladan).

Gali dalam diri Anda dan sebarkan benih-benih cinta dan kehidupan, dan bersiap-siap untuk melihat limpahan berkat datang kembali kepada Anda di masa depan Anda!
"... Jadilah contoh untuk semua orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1 Timotius 4:12).

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika renungan harian kristen  ini memberikan motivasi bagi anda untuk berubah ke arah yang lebih baik  maka dengan rendah hati kami berharap anda untuk berbagi renungan ini kepada teman, kerabat dan keluarga melalui tombol social media (Facebook, Google+, Twitter) yang tersedia di bagian bawah judul tulisan ini. Tuhan Yesus memberkati!

Sabtu, 26 November 2011

MENGENAKAN SIFAT-SIFAT SEORANG HAMBA

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini Filipi 2:5-9

Mendengar istilah "hamba" (abdi, pelayan), atau "jipen" (bhs. Dayak Ngaju), "walah" (bhs.Dayak Maanyan), maka yang segera terlintas dalam benak kita adalah, suatu penempatan posisi yang rendah dalam strata sosial kemanusiaan, yang di lekatkan pada seseorang atau sekelompok orang, Dalam dunia nyata (kalau mau jujur), berstatus "hamba" (abdi, pelayan, jipen atau walah), sekiranya mungkin pastilah dihindari orang. Terhadapnya, komentar pun mungkin bernada sama: "amit-amit, jangan sampai mengenai kita, sebab mendengar namanya saja sudah tak mengundang se­lera!". Demikian kira-kira tanggapan kebanyakan orang bila diungkap dengan kata-kata.
Hal demikian dapat dimaklumi. Sebab, bukankah berstatus "hamba" gelar-gelar terhormat ja­di susah didapat? Tapi pasti lain sikap orang terhadap istilah "tuan" (majikan, bos, pimpinan atau komandan), umpama. Itu kebalikannya! Ham­pir setiap orang mengidamkannya. Berstatus "tuan", duhai sangatlah menggoda! Manusia normal macam apa bentuknya bila sampai tak tergiur untuk meraih­nya? Atau paling tidak memimpikannya? Berstatus "tuan", wahai sangatlah mempesona! Maklum, di sana tersedia seperangkat nikmat segudang kesenangan Boleh jadi hidup dibuatnya terasa nyaman. Serba menjanjikan Tidak heran bila ada orang sampai stres best gara-gara kemilaunya idaman seperti disebutkan tadi karena hanya singgah di penghi­as mimpi-mimpi semata. Tak mampu muncul di alam nyata! Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih e­naknya? Ah, itu terang bagai siang! Sebab predi­kat "hamba" bukanlah kemilaunya sosok seorang raja dengan mahkota. Semua orang pun tau itu! Tapi kenapa kepada kita selaku orang percaya atau ge­reja dinasihatkan Rasul Paulus melalui nas ini, supaya kita mengenakan sifat-sifat "hamba" seperti diteladankan oleh Yesus sendiri? Di sinilah intinya. Ini penting dan sangat menentukan! Pasalnya? Karena di sinilah kita menjumpai kedalaman hakikat kekristenan kita, standar kenormalan hidup kekristenan kita (bdk.Matius 20:26-27; bdk. Markus 10:43-44).

Sifat-sifat “hamba" yang dinyatakan di situlah titik berangkat peran keterpanggilan dan pe­ngabdian kita yang sesungguhnya. Bahwa hakikat kekristenan kita adalah pengabdian dan pelayanan bagi kemanusiaan. Hadir dan berjuang untuk kehi­dupan yang lebih manusiawi. Hadir di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Bagi pembebasan kemanusiaan dari kepekatan dosa. Dari segala ma­cam penderitaan, ketidakadilan, maupun dari berbagai bentuk pelecehan kemanusiaan. Itu antinya, sifat-sifat "hamba" yang dinyatakan adalah bobot, nilai dan isi dari kekristenan kita. Di situlah dijumpai kehormatan dan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Dengan kata lain, bahwa segala bentuk kehormatan dan kemuliaan itu baru me­miliki nilai apabila kita tempatkan pada aras yang setara dengan pengabdian, dalam pelayanan, kerja dan karsa yang dilandasi kerendahan hati, ketulusan dan ketaatan.

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih nikmatnya? Nah... nah... nah.. disinilah masalah­nya. Di sinilah kesulitannya! Pasalnya? Apabila orang mau sungguh-sungguh mengenakan sifat-si­fat "hamba" maka sekaligus ia harus berani ber­jalan pada jalan salib! Berjalan pada sebuah keberprilakuan solidaritas kemanusiaan secara u­tuh dan menyeluruh. Kenapsa mesti jalan salib? Karena hanya jalan saliblah jalan satu-satunya yang telah teruji kualitas kemafanannya untuk sebuah solidaritas. Tak ada jalan lain. Toh pun ada jalan lain, pastilah jalan pintas namanya! Gaya hidup kehambaan adalah gaya hidup berteladankan Yesus sendiri.dengan komitmen penuh bersedia merendahkan diri, mengabdi. Turun dari ketinggiannya yang mengawan-awan. Hadir dan berada di tengah-tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Berjuang untuk kehidupan manusia yang lebih manu­siawi. Bukan sebaliknya, semakin meninggi mangawang-awang membangun kelompok alit rohani bagi pemuliaan diri sendiri!

Tapi di sinilah titik masalahnya! Pasalnya ? Sebab dalam dunia nyata orang lebih suka yang se­baliknya. Kekuasaan, kehormatan dan kemuliaan adalah sarana pemasyuran diri pribadi. Sedangkan materi dan kelimpahan adalah tujuan pemasyhuran untuk di­ri sendiri. Dalam keadaan demikian, nilai-nilai pengabdian dan pelayanan sering menjadi persoal­an. Sebab itu dapat kita mengerti jika untuk sebuah kekuasaan, kemasyhuran dan ketenaran, orang bersedia mengorbankan apa saja untuk nueraihnya ;Bahkan mengorbankan orang lain kalau perlu. Demi meraup sejumput kekuasaan dan kehormatan, orang tak segan-segan melepaskan seberapa yang ada di tangan, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Karena memang, manusia lebih cenderung sera­kah dan mementingkan diri sendiri. Lebih cenderung menghitung-hitung untung ruginya. Karena i­tu tidak heran bila orang baru mungkin melakukan hal-hal besar dan spektakuler asal nama juga i­kut besar dan popoler! Tidak heran pula bila o­rang sulit berkorban, apalagi sampai mati demi pengabdian dan pelayanan. Tetapi sebaliknya rela berkorban bahkan sampai mati kalau perlu demi kekuasaan, kemasyhuran, ucapan selamat demi tumpukan piagam penghargaan!

Mengenakan sifat-sifat “hamba", apa sih is­timewanya? Nah... nah...nah... di sinilah tantangannya Di sinilah batu ujiannya! Pasalnya? Apabila orang sungguh-sungguh mengenakan sifat-sifat "hamba" maka sekaligus ia harus berani meng­hadapi resiko yang siap menghadang di muka! Kenapa mesti resiko? Karena itulah harga pantas yang harus dibayar mahal taruhannya! Soalnya, mengenakan sifat-sifat "hamba" memang tidak mudah. Popularitas pun tak cukup kuat untuk ikut serta. Me­ngenakan sifat-sifat "hamba" juga tidak murah. Dacing penimbang untung rugi mana pun tak mampu menimbangnya!

Sebagai orang-orang Kristen yang mengaku percaya pada Yesus atau gereja yang mengaku-nga­ku sebagai tubuh Kristus, apakah kita juga mengenakan sifat-sifat "hamba" yang diteladankan Yesus sendiri? Orang-orang Kristen yang menyadari hakikatnya sebagai pengikut Kristus atau gereja sebagai tubuh Kristus adalah orang-orang Kris­ten atau gereja yang mampu mempersepsikan diri­nya dalam pengabdian dan pelayanannya di tengah-tengah dunia di mana ia hadir di dalamnya. Karena itu, sifat-sifat "hamba" yang dimiliki selaku pengikut-pengikut Kristus mestinya menjadi norma di setiap aktivitas kita; entah kita sebagai pemimpin (abdi negara), entah kita sebagai tokoh (abdi masyarakat), entah kita sebagai pelayan-pelayan gereja atau pun kita sebagai jemaat Tuhan.

Orang-orang Kristen atau gereja yang tidak memiliki sift-sifat "hamba" adalah orang-oramg Kristen atau gereja yang telah kehilangan haki­kat dirinya dan telah kehilangan kesadaran akan panggilannya di tengah-tengah dome di mana is ditempatkan. Karena itu, maaf, mumpung tak lu pa members tahu, bahwa tugas orang Kristen atau gereja bukan nikmat-nikmat rohani saja Atau penjaja doa dan mujizat semata! Kalau hanya i­tu, orang Kristen atau gereja yang pincang namanya, Banci den mandul istilahnya! Orang Kristen atau gereja yang tak bereksistensi lagi bahasa elitnya. Orang Kristen atau gereja yang tak selayaknya hadir di bumi nyata!

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apakah an­da termasuk salah satunya? Bila anda telah faham sampai kedalaman maknanya, renungkan dalam-­dalam dan tariklah nafas panjang! Sebab sifat-sifat "hamba" hanya dapat dikenakan oleh orang-orang Kristen atau gereja sungguhan. Bukan yang tiruan. Dan selanjutnya, gelar-gelar kehormatan dan keagungan yang sesungguhnya diberikan oleh Allah sendiri secara absolut tak meragukan. Tanpa rekayasa apalagi kekeliruan! (bdk, ay.9). A­pakah anda juga termasuk hitungan?

Dan... Oh ya, sifat-sifat "hamba"  hanya kemilau, agung, mempesona, jika dikenakan oleh o­rang-orang Kristen sungguhan. Bukan yang "kristen-kristenan". Hanya oleh orang Kristen atau gere­ja yang bernyali dan paham akan kedalaman makna hidup dan matinya. Ya, hanya bagi orang-orang atau gereja yang paham pula akan letak kehormatan, keagungan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Karena memang, keagungan seorang Kristen sejati itu bukan diukur dari gelar, jabatan atau repu­tasinya. Bukan pula diukur dari apa dan berapa yang ia dapatkan. Tetapi dari apa dan berapa yang dapat ia berikan. Dari apa dan berapa be­sar pengabdian, pelayanan serta kerelaan berkorban yang dapat kita nyatakan sebagai bukti ketaatan iman dan kasih tulusnya kepada Tuhan. AMIN.
____________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh., M.Div)

Senin, 21 November 2011

KETIKA TUHAN MENGUNDANGMU

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini : Matius 22:1-14

Pernahkah saudara mendapat undangan untuk menghadiri suatu acara panting? Undangan pasta ulang tahun, pengucapan syukur, pesta pernikahan, atau pun undangan-undangan penting lain misalnya? Saudara, barangkali kita pernah mendapatkan undangan-undang­an semacam itu. Bahkan mungkin sering. Bila kita mendapatkan undangan itu artinya kita mendapat suatu penghargaan besar dari si pengundang. Semakin besar pengaruh atau status si pengundang maka semakin be­sar pula nilai penghargaan bagi yang diundang.

Coba umpama bila yang mengundang itu adalah seorang jutawan. Maka biasanya orang yang diundang a­dalah orang-orang yang dianggap pantas untuk diundang. Mana mungkin kira-kira ia mengundang orang-o­rang buta, orang timpang, orang gembel, orang yang korengan diharapkan menghadiri undangan. Coba pula misalnya bila si pengundang itu adalah seorang raja. Maka tentu orang yang diundangnya adalah orang­-orang yang dianggap panting untuk diundang. Orang­-orang yang dianggap terhormat tentu saja! Bagaimana kira-kira andaikata kita sebagai orang biasa tau-tau mendapat undangan dari bapak Presiden untuk manghadiri undangan kenegaraan? Boleh jadi kita berkata: "mimpi apa aku semalam"? Tentu kita pasti berupaya untuk datang karena peristiwa semacam itu tentulah suatu peristiwa yang tak terlupakan seumur hidup kita, sebuah kenang-kenangan yang berharga!
Betapa tidak, apabila kita telah diundang dan mendapatkan suatu suatu penghargaan besar tiada tara. Suatu penghargaan langka yang tidak mungkin didapat semua orang. Seumur hidup belum tentu semua orang mendapatkannya. Walaupun setiap orang mendambakan­nya. Saudara, bagaimana kira-kira bila hal tersebut memang benar-benar terjadi dalam kehidupan ki­ta? Bagaimanakah sikap kita? Dan... maaf, bila me­ngingatkan, bahwa saudara den saya memang benar-benar telah diundang. Ya, benar-benar jugs diundang dalam pasta perkawinan. Ya, Sang Penguasa, raja di atas segala raja, Sang Mahakaya benar-benar mengundang kitea dalam suasana pesta anak-Nya. Bagmana sikap kita?

Saudara, Ini adalah soal Kerajaan Sorga. Yang dipaparkan Yesus dalam nas ini, Yesus sendiri mengumpamakannya sama dengan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anak-Nya. Ia telah mengundang banyak o­rang ke pasta yang diadakan-Nya. Untuk bersama- sama bergembira. Tapi masalahnya, para undangan tidak dapat menghadiri pesta tersebut. Apa pasalnya? Me­reka mesing-masing punya alasan. Alasan yang memang tak dapat ditawar-tawar. Alasan yang memang juga tak boleh diremehkan! Ya, karena menyangkut keperluan hidup alias jaminan hidup. Yang bila diabaikan bisa fatal akibatnya!

Untuk itulah mereka satu-persatu meminta maaf kepada si pengundang. Maaf karena urusan ladang. Maaf karena harus mengusrus usaha. Yang lain juga maaf.., karena barang sebentar bersenang menakmati kebahagiaan keluarga. Ya, maaf,., ma­af. , , maaf ... Dan siapa yang mengatakan bahwa se­gala urusan mereka itu salah? Tidak, tidak sa­lah! Hanya masalahnya saudara, mereka tidak menyadari bahwa undangan tersebut teramat penting. Bahwa undangan itu bukanlah undangan biasa, tetapi da­ri sang baginda raja, yang bisa menentukan nasib seseorang!

Taukah saudara apa artinya bila undangan tersebut tak diindahkan? Mengertikah kita apabila sang baginda kecewaa? Yang pasti bisa terjadi ke­sulitan bagi si diundang nantinya! Karena bila tak datang ke undangan raja boleh jadi dianggap suatu penghinaan bagi sang baginda raja. Bila i­ni sampai terjadi tentu malanglah nasib si orang yang tak mengindahkan undangan sang baginda. Pa­dahal undangan semacam itu belum tentu terjadi kedua kali.

Saudara, apa yang mau dikatakan Yesus melalui perumpamaan dalam nas ini? Nah, ini! Apa­bila hanya karena urusan perut, soal jamian hidup, atau juga masalah kebahagiaan hidup di alam fana ini kite menjadi sangat sibuk. Selalu sibuk. Terlalu sibuk. Dan akhirnya diperbudak oleh kesi­bukan. Dan persoalan yang diurus kesibukan tadi menjadi satu-satunya yang dianggap paling berharga. Menja­di satu-satunya tujuan hidup. Di sinilah celakanya! Apalagi bila karenanya kita sampai menganggap soal keselamatan menjadi tak ada artinya. Di sinilah bahayanya! Lalu akhirnya kita menjadi ke­hilangan makna hidup yang sesungguhnya. Untuk apa sebenarnya kita ada di tengah-tengah kehidupan i­ni. Apa yang mestinya dilakukan sebagai persiapan bila nanti memasuki alam yang di seberang sana!

Saudara, kesibukan adalah bahaya nomor satu paling menggoda, yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Si­buk itu sendiri sebenarnya tidaklah salah! Tetapi bila terlalu sibuk, nah inilah yang bisa berbaha­ya. Kita lalu seperti orang terkena bius. Lupa capek. Lupa sakit. Lupa hari-hari ajal kita yang makin mendekat. Akhirnya kita tidak menyadari untuk apa semua yang kita cari, kita kerjakan, kita usahakan den kita peroleh bila malaikat maut keburu datang.

Saudara, perumpamaan Yesus tentang hal Kerajaan sorga dalam nas ini masih ada kelanjutannya. Rupa-rupanya sang raja ini seorang yang murah hati. Walaupun para undangan istana itu mempunyai dalih yang bermacam-macam, bahkan sampai menangkap, menyiksa bahkan membunuh hamba-hamba utusannya. Na­mun ia tetap mengundang orang-orang untuk datang ke pestanya. Namun kali ini para undangannya bukan lah orang-orang terhormat. Pokoknya orang jahat, orang gembel, bandit, dan sebagainya diuhdang! Namun saudara, ada satu situasi yang sangat mengagetkan kita. Salah seorang undangan itu mendapat hukuman berat. Diikat kaki tangannya. Dilemparkan ke tempat yang paling gelap. Apa masalahnya? Sederha­na kelihatannya! Ia tidak mengenakan pakaian pes­ta. Hanya itu? Akh, keterlaluan. Hanya gara-gara pakaian.

Tapi dalam latar belakang kebudayaan Timur Tengah (melalui mana nas ini ditulis) memang lain. Soal pakaian itu sangat riskan. Orang ke pesta memang diharuskan (diwajibkan) mengenakan pakaian pasta! Entah bagaimana bentuk pakaian pasta itu, kita ti­dak tahu. Tapi yang jelas itu rupanya semacam tan­da sikap kehormatan. Tanpa mengenakan pakaian pes­ta berarti penghinaan bagi sang raja. Sebab itulah sang raja sangat marah kepadanya dan menghukumnya. Ya, tentu saja. Sebab itu adalah acara panting di kerajuaan. Dianggap suatu acara kehormatan.

Saudara, kita mungkin sering mendapat undangan se­macam itu, acara yang resmi. Lalu dalam undangan itu diberikan catatan: "Bagi yang Pegawai Negeri supaya memakai pakaian Korpri. Bagi para undangan lain supaya memakai safari, rapi...dsb." Coba bayangkan bila kita tidak mengindahkannya. Boleh jadi kita dianggap kurang sopan, kurang menghargai acara tersebut. Bayangkan saudara, seperti dalam nas i­ni! Orang tersebut telah diundang. Padahal sebenarnya ia tidak layak mendapat undangan. Ia dihargai, dianggap penting oleh raja. Namun ia tidak menghargai raja yang telah mengundangnya. Ia tidak menge­nakan pakaian pesta!

Apakah anti kiasan dalam nas ini? Adalah orang-orang yang telah dipanggil menjadi pengikut-pengikut Kristus. Menjadi anggota jemaat warga Ke­rajaan Allah, tetapi masih tetap dalam dosanya. Tidak mau mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan oleh Kristus. Yaitu "pakaian" kebenaran (Mat. 28 3; Why. 3:18). Jadi dalam nas ini ada dua pelajar­an penting yang perlu kita perhatikan, ketika Tuhan mengundang Anda: soal kesungguhan, keseriusan kita dalam hal hidup keagamaan kita. Bahwa soal kesibukan janganlah sampai menggantikan hal-hal yang paling prinsip dalam hidup kita. Sedangkan yang berikutnya: bahwa soal hidup dalam kebenaran haruslah selalu diutamakan. Jang­an dikesampingkan, Kitea telah dikasihi oleh Allah melalui korban Kristus. Kite telah dianggap berharga dan te­lah diundang dalam sukacita sorgawi hanya semata­ oleh kasih Allah. Janganlah sampai kita sia-siakan atau mengabaikannya! AMIN.
___________________________
Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari