Tampilkan postingan dengan label ekaristi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekaristi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2008

Seliter Air Aqua dan Berharganya Pemberian


Seliter Air Aqua dan Berharganya Pemberian

Dengan berbekal satu botol Aqua ukuran seliter, saya dan seorang kawan memulai perjalanan ‘tidak biasa’ dari Cakung – Jakarta Timur hingga Bintaro –Jakarta Selatan. Tidak biasa karena kami berjalan kaki menyusuri jalanan besar di bawah terik matahari dan hawa tak nyaman dari kendaraan-kendaraan ramai.
Ceritanya kami pingin melihat Jakarta ‘dari dekat’, tidak seperti dari jauh ketika pesawat dari kampung halaman hendak landing; tidak seperti dari kaca jendela mobil kami yang menyaksikan Jakarta yang selalu makin indah di malam hari. Dan kami juga pingin saling kenal ‘lebih dekat’. Temanku orang Jakarta, anak kesayangan papa dan mamanya. Dan aku orang kampuang nun jauh di mato…
Haus tak terhankan, tapi keadaan tidak mengizinkan kami membeli. Sengaja tak bawa duit. Dan pada saat itu saya rasakan betapa penting sekaligus susahnya meminta. Untung tak sedikit yang berbelaskasih; mengisi botol-botol air kami sampai penuh. Entah…,apa karena tampang kami tidak seperti pengemis benaran, saya tidak ingat lagi. Pokoknya, berkat air pemberian orang-orang baik itu, kami berdua bisa menikmati tidur siang di bunderan HI –sebelum renovasi-sebelum melanjutkan perjalanan panjang kami hingga tiba di rumah pkl.23.00 hari yang sama. Itu tahun 2001. Air saat itu begitu berarti.
Orang Israel selama empat puluh tahun menempuh perjalanan panjang di padang gurun setelah mereka keluar dari penindasan Mesir. Mudah sekali membayangkan betapa menderitakannya perjalanan itu. Mereka melewati padang gurun, menghadapi ancaman badai pasir, gigitan kalajengking dan ular-ular berbisa. Kesulitan yang paling serius adalah makin berkurangnya persediaan makanan; berarti makin berkurang pula peluang untuk hidup dan bertahan. Dan pantas mereka mengeluh pada Tuhan “Kenapa Engkau membiarkan kami binasa di tempat ini? Bukankah lebih baik bagi kami tetap tinggal di Mesir daripada harus mati di sini?”
Tuhan mendengarkan mereka dengan memberikan manna sebagai pengganti roti; sebuah peristiwa yang diyakini sebagai kejaiban dari Tuhan sendiri. Manna kemudian disebut sebagai roti dari surga. Yesus menggugat keyakinan orang Israel tentang roti dari surga itu persis setelah peristiwa perbanyakan roti untuk lima ribu orang (Yoh.6:1-15) yang membuat Yesus makin populer dan lantas dicari-cari orang banyak (Yoh.6:1-24).
Roti dari surga bukanlah manna melainkan Tubuh-Nya sendiri. Manna yang kemudian dijadikan roti oleh nenek moyang mereka hanya melepaskan lapar jasmani mereka; kebutuhan dasar akan makanan (basic needs). Dan ini tak bedanya dengan yang lain. (bdk. 6:32). Roti yang sejati adalah roti yang jauh melebihi pemuasaan kebutuhan jasmani melainkan roti yang membuat hidup jauh lebih berarti, penuh dan bermakna. Dan itulah tubuh-Nya sendiri “Akulah roti hidup, barnagsiapa datang kepada-Ku; ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Kita pasti butuh makan dan itu mutlak untuk keberlangsungan hidup kita. Akan tetapi, makanan dan terpenuhinya semua kebutuhan dasar lainnya tak pernah cukup membuat hidup kita berarti. Maka kita butuh makanan yang membuat kita berarti. Dan Yesus dalam kisah injil hari ini menawarkan dirinya: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal; Barangsiapa tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, tidak mempunyai hidup dalam dirimu” (ay.53-54).
Kita bisa langsung merinding mendengar kata-kata ini sebagaimana yang dialami orang Yahudi pada waktu itu: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan” (ay.52b); akan menjadi barbarkah kita?...Tentu saja Yesus tidak memaksudkan demikian. Yesus menantang pendengar-Nya, juga anda dan saya untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan-Nya. Dasar apakah yang mengkohkan hubungan kita dengan-Nya? Kebutuhan kita ataukah ketertarikan kita akan pribadi-Nya?
Mengikuti Dia berarti pertama-tama bersekutu, bersatu dengan-Nya. “Barangsiapa makan daging-Ku, minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Dengan ini Yesus tentu memaksudkan ekaristi sebagai pusat dan kunci hubungan kita dengan-Nya. Kata-kata ini mengantisipasi perjamuan malam terakhir yang baru akan diadakan menjelang kematian-Nya. Akan tetapi, ekaristi itu pun sudah dimulai ketika orang dan para murid-Nya sendiri mendengar dan melakukan sabda-Nya.
Maka makan daging dan minum darah Tuhan adalah pertama-tama undangan untuk membiarkan sabda Tuhan bekerja, mengubah keyakinan-keyakinan kita yang lama untuk terus mengubah hidup kita sendiri. Sabda itu menjadi makanan sesungguhnya jika diterima dengan iman. Sulit membayangkan bagaimana butir-butir manna di padang gurun bisa menguatkan perjalanan orang Israel yang nan lama jika nenek moyang bangsa ini tidak melihat peristiwa ini dengan iman; percaya bahwa Allah mengasihi mereka dan tak ada yang dapat memisahkan mereka dari kasih-Nya. Sabda itu adalah kasih Allah sendiri yang kemudian menjadi darah dan daging, menjadi manusia dalam pribadi Yesus.
Oleh karena itu makan dan minum darah Tuhan adalah undangan untuk mengikuti dengan sempurna cara hidup Yesus; cara hidup yang dengan ringkas dirangkum dalam pembasuhan kaki dan yang dibuktikan nyata-nyata di atas kayu salib. Makan dan minum daging dan darah adalah undangan untuk siap menjadi seperti itu: menjadi orang yang siap memberi waktu, perhatian, pengertian, cinta dan seluruh dirinya bagi mereka yang membutuhkan. Mungkin itu istri anda yang cepat marah tapi sebenarnya ingin dimengerti; anak anda yang terlalu sering anda tinggalkan karena pekerjaan; tetangga-tetangga anda yang selalu sibuk sendiri tapi sebenarnya butuh dukungan dan dorongan anda; bahkan mungkin itu paroki anda yang meski selalu setiap minggu liturginya membosankan tetapi justru sedang memanggil anda untuk berpartisipasi memeriahkannya.
Hari raya tubuh dan darah Kristus mesti kita syukuri bersama dengan memperbaharui komitmen babtis kita untuk menjadi tubuh Kristus yang dibagi-bagikan dan darah-Nya yang dituangkan untuk semakin banyak orang yang butuh cinta dan pengertian. Keaslian dan kekhasan iman Kristiani –yang tidak dimiliki kepercayaan manapun- adalah semangat hidup ekaristis seperti ini. Saya berdoa bagi semua teman-teman dan adik-adik yang merayakan Komuni Pertama hari ini. Saya peluk anda semua dalam doa dan cinta. Hari ini kita tahu bahwa tidak ada yang lebih berharga selain memberi, dan rasanya perjalanan hidup dan cinta kita di dunia terasa hambar jika tanpa ekaristi, bagai seliter air di tahun 2001 itu.

Selasa, 01 April 2008

Aku Melihat Tuhan

AKU MELIHAT TUHAN!

Paskah telah lewat, bisa jadi hilang begitu saja bersama semua tugas, semua rencana, semua target, semua agenda yang ter-scheduled rapi dalam keseharian. Paskah seperti semua perayaan lainnya tetap tinggal perayaan musiman, yang efeknya hilang serta merta bersama berakhirnya perayaan. Apalagi sekarang hidup kita seperti selalu dikepung dengan banyak acara, banyak janji dan komitmen. Nanti ke sini, besok ke situ dan lusa ke sana. Pun juga kita selalu bisa terlibat dalam acara-acara bikinan program televisi. Yah…kita terus berlari bersama dunia yang juga berlari dan bisa sering kita tak tahu kita sedang ke mana. Dan paskah tinggal sebagai satu dari sekian acara yang pernah kita schedule-kan di masa lampau.
Paskah meninggalkan pesan yang panjang dan menantang, tapi juga seringkali susah. Makanya, gema paskah dalam liturgi terus dirayakan selama lima pekan berturut-turut. Kita bisa menelusurinya dengan mengikuti hubungan dinamis antara dua kisah tentang kebangkitan Yesus. Yang pertama adalah kisah penampakan kepada Maria Magdalena (Yohanes 20:11-18) dan yang kedua adalah kisah penampakan kepada Tomas (Yoh.20:24-29). Dalam renungan sebelumnya tentang bunga citra lestari, telah dikatakan bahwa Maria Magdalena adalah orang pertama yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Pengalamannya melihat Tuhan adalah pengalaman yang istimewa baginya: “Aku telah melihat Tuhan (ay.18b). Iman kebangkitan, iman paskah mulai dari keyakinan serupa Maria: bagaimana mungkin orang yang sedemikian mengasihi tanpa syarat dapat mati selamanya! Dengan iman inilah Tuhan menampakkan diri pada Maria. Pengalaman Maria melihat Tuhan tetaplah menjadi pengalaman dia, bukan pengalaman kita. Maka kita tidak bisa menjadikan pengalaman Maria sebagai jawaban ketika misalnya seorang bertanya pada anda, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Tuhan bangkit? Toh pengalaman itu sudah hampir dua ribu tahun yang lalu. Akan tetapi, sikap iman Maria bisa menjadi sikap iman kita meskipun kita tidak melihat dengan kasat mata Kristus yang Bangkit.
Mari kita memberi perhatian pada kalimat “aku melihat Tuhan”. Kalimat itu adalah pernyataan yang tidak melulu demonstratif tapi sangat mendalam, mau mengatakan bagaimana Tuhan sungguh telah mengubah hidupnya, sejak pertama kali berjumpa dengan-Nya waktu tujuh setan diusir daripadanya hingga melihatnya menampakkan diri. Sejak pertama kali berjumpa, hidupnya mulai berubah, mulai baru. Dan pilihan hidup Maria untuk mengikuti Yesus justru diteguhkan dengan pengalaman melihat Tuhan yang bangkit. Mencintai sebagaimana Yesus telah mencintai dia ternyata tidak pernah mati bahkan oleh mautpun. Inilah pengharapan baru yang ditemukan Maria. Pernyataan “aku melihat Tuhan” akhirnya bukan melulu melihat sosok Yesus tapi memahami, menemukan kebenaran bahwa mencintai seperti Yesus tidaklah pernah sia-sia. Pesan menantang pertama Paskah adalah bagaimana mewartakan Yesus yang bangkit, yakni tidak lain menunjukkan kepada orang bagaimana iman pada Yesus telah mengubah hidup kita. Jawaban inilah yang mesti kita berikan pada orang yang minta bukti tadi.
Kisah penampakan Yesus pada Tomas didahului dengan penampakan pada para murid lainnya (ay.19-23). Maka tidak heran jika mereka mengabarkan pada Tomas: “Kami telah melihat Tuhan!” (ay.25). Kalau kita memerhatikan dengan saksama kisah penampakan kepada para murid ini, nampaknya kalimat ‘kami telah melihat Tuhan’ bukan melulu sebagai pernyataan demonstratif meskipun itu tetap merupakan pengalaman istimewa untuk mereka – dan bukan juga pengalaman kita. Pernyataan ‘kami melihat Tuhan’ adalah pernyataan iman komuniter dalam ekaristi, di mana mereka berkumpul pada hari pertama minggu itu (sehari setelah sabat, ay.19). Untuk mengalami buah kebangkitan, buah pesta paskah, mengalami kebangkitan Yesus tidak pernah lepas dari relasi dengan Gereja, tubuh Kristus sendiri. Inilah antara lain yang mau disampaikan melalui kisah Tomas. Tomas tidak melihat Yesus yang bangkit justru ketika ia sedang berada ‘di luar’ persekutuan dan ‘di luar’ ekaristi. Mungkin saja dia masih mencari-cari bukti-bukti lain, hal-hal lain yang meyakinkan dia tentang kebangkitan Yesus, yang menjamin bahwa hidupnya saat itu sedang tidak salah.
Maka tantangan Paskah yang kedua adalah mengundang kita untuk kembali pada cara hidup ekaristis. Dalam ekaristi kita mendengarkan sabda Allah. Ingat bagaimana dua murid Emaus akhirnya melihat Tuhan persis setelah mereka mengakrabi kitab suci dan merayakan ekaristi (Lukas 24:13-35). Dalam ekaristi, kita ikut serta dalam korban Yesus, menerima tubuh dan darah-Nya lalu diutus untuk berbagi hidup bagi dunia. Inilah cara hidup ekaristis.
Pernyataan Tomas yang minta bukti tidak lain mewakili segala kecenderungan kita yang rapuh. Kita suka pada hal-hal sensasional, yang melipur indra dan rasa, yang menyenangkan, yang percaya bahwa berkah Tuhan nampak pada hal-hal yang terlihat, mungkin uang, pekerjaan yang sukses, dst.nya dan sering mengutuk penderitaan.
“ sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”(ay.25)
Tomas baru mengalami Yesus yang bangkit dalam ekaristi (ay.26). Dialognya dengan Yesus seperti mewakili hubungan kita dengan Yesus dalam komuni kudus. Di hadapan Yesus yang menghunjukkan diri-Nya, “taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku…”(ay.27) adalah undangan untuk bersekutu dan bersatu dengan hidup Yesus dan misi-Nya. Tomas seperti mengajak kita, dalam segala kerapuhan dan ketidakpantasan, menyatakan sikap iman ini: “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay.28) sekaligus kesiapan untuk berbagi hidup kita kepada dunia. Inilah buah kebangkitan.
Dialog intim Tomas dan Yesus bisa kita teladani dalam ekaristi yang tiap hari atau tiap minggu kita terima. Saat komuni kudus iman yang sama mesti kita perbaharui yang kita satukan dengan doa kerendahan hati sang perwira “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh!”. Semoga Paskah tetap mendarah daging dalam hidup anda, bukan sebuah perayaan musiman belaka. Dan semoga anda tetap merindukan ekaristi betapapun kita sering merasa tak pantas untuk menerimanya. Percayalah anda akan melihat Tuhan jauh lebih sering dari yang pernah dilihat orang!

Saya yang selalu mendoakan anda semua!

ronald,s.x.

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari