Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Kasih dan Terang

Bagi mereka yang hidup di negara dengan empat musim, inilah saatnya menanami kebun sayur untuk persiapan musim panas. Ada yang memulai lebih awal dengan menanam benih di dalam ruangan supaya kondisinya dapat diawasi dan tunas tanaman dapat bertumbuh. Setelah musim dingin berlalu, mereka akan memindahkan benih muda itu ke luar ruangan. Setelah kebun sayur itu ditanami, mereka harus membersihkan tanaman liar, memupuk, mengairi, dan mencegah serangan hama pengerat dan serangga. Proses menghasilkan bahan makanan itu memerlukan kerja keras.

Musa mengingatkan bangsa Israel tentang hal itu sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Selama tinggal di Mesir, mereka bekerja keras untuk mengairi ladang setelah menabur benih (Ul. 11:10). Namun di tanah yang diberikan Allah, Dia berjanji memudahkan pekerjaan mereka dengan memberikan hujan pada musimnya: “Tuhan akan menurunkan hujan atas tanahmu pada musimnya, sehabis kamu panen, dan pada waktu kamu mulai menanam” (ay.14 BIS). Syaratnya satu: mereka harus “sungguh-sungguh mendengarkan perintah” yang diberikan Tuhan kepada mereka—dengan “mengasihi Tuhan, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (ay.13). Tuhan membawa umat-Nya ke suatu tempat di mana ketaatan dan berkat-Nya akan menjadikan mereka terang bagi bangsa-bangsa di sekitar mereka.

Allah menginginkan hal yang sama untuk dan dari kita: Dia ingin kasih kita diwujudkan dalam ketaatan agar kita dapat menjadi terang-Nya bagi orang-orang di sekitar kita. Meskipun kasih dan ketaatan yang kita persembahkan tidaklah sebanding dengan apa yang layak diterima-Nya, Tuhan terus memelihara, memberkati, dan memampukan kita untuk menjadi terang yang akan diperhatikan oleh dunia.

Mengasihi Allah tidak membuat kita bebas dari kesulitan hidup, tetapi kekuatan yang diberikan-Nya memampukan kita menjalani hidup.



from Santapan Rohani http://ift.tt/1DpTrqp
via IFTTT

Sabtu, 18 April 2015

Dunia Allah


Saya tahu putra saya akan senang menerima gambar peta dunia untuk kado ulang tahunnya. Setelah melihat-lihat di toko, saya menemukan selembar peta dunia berwarna-warni yang dilengkapi dengan ilustrasi dari setiap daerah. Ada kupu-kupu cantik melayang di atas Papua Nugini. Ada rangkaian gunung di Chili. Ada berlian yang menghiasi Afrika Selatan. Saya sangat senang melihat peta itu, tetapi saya merasa ragu saat membaca label di bagian bawah peta itu yang bertuliskan: Dunia Kita.


Di satu sisi, bumi adalah dunia kita karena kita hidup di dalamnya. Kita diizinkan untuk minum airnya, menambang emasnya, meman-cing di lautnya—tetapi itu semata-mata karena Allah sudah memberikan izin-Nya (Kej. 1:28-30). Sesungguhnya, ini adalah Dunia Allah. “Tuhan-lah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1). Saya sangat terpesona saat mengingat bahwa Allah sudah mempercayakan karya ciptaan-Nya yang luar biasa kepada manusia biasa. Dia tahu bahwa ada dari kita yang akan menyalah-gunakannya, menyangkal bahwa Dialah penciptanya, dan mengakuinya sebagai milik kita. Tetap saja Dia mengizinkan kita untuk menghuni bumi ini dan menjaga kelangsungannya melalui Anak-Nya (Kol. 1:16-17).


Hari ini, sediakanlah waktu untuk menikmati hidup di dalam dunia Allah. Kecaplah rasa beberapa jenis buah. Dengarkanlah kicauan burung dan nyanyiannya. Nikmatilah suasana matahari tenggelam. Izinkanlah dunia yang Anda huni ini mengilhami Anda untuk menyembah Allah yang empunya bumi.



Tolong aku, Tuhan, untuk sesekali berhenti. Untuk melihat, mendengar, mencicipi, memikirkan tentang berkat yang Engkau berikan untuk kami nikmati. Terima kasih untuk ungkapan kreativitas dan kasih-Mu kepadaku hari ini. Apakah tempat favorit Anda di dalam dunia Allah?


Keindahan karya ciptaan memberi kita alasan untuk memuji Allah.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1yDTNya

via IFTTT

Jumat, 17 April 2015

Mengalahkan Cheetah


Cheetah Afrika yang hebat diketahui bisa berlari hingga kecepatan 112 km/jam dalam waktu singkat, tetapi tidak mampu mempertahankan kecepatan itu untuk jarak yang jauh. Lewat tayangan kantor berita Inggris, BBC, dilaporkan bahwa empat penduduk dari desa di timur laut Kenya ternyata mampu mengalahkan dua ekor cheetah dalam lomba lari sejauh 6,5 km.


Kedua cheetah besar itu sebelumnya telah memangsa kambing dari desa mereka. Jadi keempat pria itu menyusun rencana untuk menghentikannya. Suatu hari, mereka telah menunggu hingga hari sedang panas-panasnya, lalu mereka mengejar kucing-kucing besar itu. Mereka berhasil mengejar kedua cheetah yang sudah tidak lagi mampu berlari itu. Kedua cheetah yang kelelahan tersebut dapat ditangkap dengan baik dan diserahkan pada dinas perlindungan satwa Kenya untuk dipindahkan.


Dapatkah kita melihat bayangan diri kita pada cheetah tersebut? Kekuatan kita mungkin awalnya mengesankan, tetapi itu tidak bertahan lama. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa kita ini laksana bunga di padang yang segera layu di bawah panasnya matahari (40:6-8).


Namun ketika kita tidak berdaya itulah, Allah menawarkan penghiburan bagi kita. Kejutan akan dialami oleh mereka yang menantikan Tuhan. Pada waktu dan cara yang ditentukan-Nya, Dia dapat memperbarui kekuatan kita. Oleh Roh-Nya, Dia memampukan kita untuk terbang bagai rajawali dengan “kekuatan sayapnya” atau “berlari dan tidak menjadi lesu, . . . berjalan dan tidak menjadi lelah” (ay.31).



Tuhan, ampuni kami karena sering mengandalkan kekuatan kami yang tidak bertahan lama. Tolong kami untuk melihat bahwa semua karunia yang baik itu berasal dari-Mu, dan bahwa Engkaulah sumber kekuatan, harapan, dan sukacita yang tidak pernah mengecewakan.


Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1cDn6Y3

via IFTTT

Kamis, 16 April 2015

Kita Satu Komunitas


Ada istri seorang pendeta yang didiagnosa menderita penyakit Parkinson. Kabar itu membuat keluarganya merasa kesulitan dan tertekan. Sang pendeta tidak tahu bagaimana ia akan mampu merawat istrinya dengan baik, sementara ia masih bertanggung jawab atas jemaat gerejanya. Namun ternyata ia tidak perlu khawatir, karena sejumlah anggota jemaatnya menyediakan diri mereka untuk membantunya dalam menyiapkan makanan dan memenuhi kebutuhan istrinya.


Rasul Paulus menuliskan pada jemaat di Korintus tentang tujuan Tuhan dalam mem-berikan karunia rohani kepada mereka. Sebelum menuliskan daftar berbagai karunia rohani dalam 1 Korintus 12:8-10, ia mengingatkan bahwa “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (ay.7). Allah tidak memberikan karunia rohani-Nya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk melayani sesama, dan dengan demikian, kita juga melayani-Nya.


Kita semua diberi karunia rohani yang berbeda-beda untuk dipakai di saat yang berbeda dan dengan cara yang berbeda. Namun semuanya itu harus dipakai dalam kasih “bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:12). Di mana pun Allah menempatkan kita, kita dapat memakai apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita untuk melakukan sesuai dengan apa yang dibutuhkan, sembari mengingat bahwa kita semua merupakan anggota dari gereja, yaitu tubuh Kristus (1Kor. 12:13-14).



Terima kasih, Bapa, untuk segala karunia indah yang telah Engkau berikan pada gereja-Mu. Tolong aku untuk mengerti bahwa Engkau sudah memberikannya kepadaku untuk menguatkan saudara seiman, dan untuk menyebarkan kabar tentang kasih-Mu pada dunia.


Gunakanlah karunia rohani Anda untuk memberi pelayanan bagi sesama.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1CPSWHd

via IFTTT

Minggu, 05 April 2015

Iman Seteguh Bukit Batu


Saya dan istri sama-sama mempunyai nenek yang berusia lebih dari 100 tahun. Ketika berbicara dengan mereka dan teman-teman mereka, saya mengenali suatu tren yang umumnya dilakukan kaum lansia saat mengenang suatu peristiwa: Mereka mengingat masa-masa sulit dengan perasaan nostalgia. Para lansia itu bergantian menceritakan pengalaman di masa Perang Dunia II dan Depresi Besar; mereka dengan gembira berbicara tentang kesulitan-kesulitan seperti badai salju, kamar kecil di masa kanak-kanak yang terletak di luar rumah, dan pengalaman kuliah mereka ketika harus makan sup kalengan dan roti basi selama 3 minggu berturut-turut.


Secara paradoks, masa-masa sulit justru dapat membantu untuk menumbuhkan iman dan memperkuat keakraban. Setelah melihat prinsip tersebut dihidupi secara nyata, saya dapat memahami lebih jauh salah satu misteri yang berkaitan dengan Allah. Pada intinya, iman adalah soal kepercayaan. Apabila saya memang teguh beriman kepada Allah, bukit batu kita (Mzm. 18:3), keadaan-keadaan terburuk sekalipun tidak akan dapat menghancurkan hubungan saya dengan sesama.


Iman seteguh bukit batu menolong saya percaya bahwa meskipun ada banyak kekacauan saat ini, Allah masih berdaulat. Meskipun saya mungkin merasa tidak dihargai, tetapi hidup saya sungguh berarti di mata Allah yang pengasih. Tidak ada penderitaan yang akan berlangsung selamanya, dan kejahatan tidak akan berjaya pada akhirnya.


Iman seteguh bukit batu bahkan dapat memahami peristiwa terkelam di sepanjang sejarah, yaitu kematian Sang Anak Allah, sebagai awal penting bagi momen paling cemerlang di sepanjang sejarah, yaitu kebangkitan dan kemenangan-Nya atas maut.



Tuhan, Engkaulah gunung batuku, sandaran imanku. Kulandaskan imanku pada-Mu dan bukan pada perasaanku yang tak menentu; jika tidak, aku pasti gagal.


Kristus, Sang Bukit Batu, adalah harapan kita yang pasti.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1MU5XcJ

via IFTTT

Senin, 30 Maret 2015

Mengapa Aku?


Seorang pendeta asal Inggris Joseph Parker ditanya, “Mengapa Yesus memilih Yudas menjadi murid-Nya?” Ia terus memikirkan pertanyaan itu, tetapi tidak juga menemukan jawabannya. Ia mengatakan bahwa ia justru menemukan pertanyaan yang lebih membingungkan, “Mengapa Yesus memilihku?”


Itulah pertanyaan yang telah ditanyakan orang selama berabad-abad. Ketika mereka sungguh-sungguh menyadari dosa mereka dan digelayuti oleh rasa bersalah, mereka pun berseru kepada Yesus untuk meminta belas kasihan-Nya. Dalam rasa takjub yang penuh sukacita, mereka mengalami kebenaran bahwa Allah mengasihi mereka, Yesus mati untuk mereka, dan semua dosa mereka telah diampuni. Sungguh ajaib dan tak terpahami!


Saya juga pernah bertanya, “Mengapa aku, Tuhan?” Saya menyadari bahwa perbuatan dosa yang kelam di dalam hidup saya dimotivasi oleh isi hati saya yang jauh lebih kelam, tetapi Allah masih mengasihi saya! (Rm. 5:8). Saya tidak layak, malang, dan tak berdaya, tetapi Dia membuka tangan-Nya dan hati-Nya untuk menyambut saya. Saya seakan mendengar-Nya berbisik, “Aku mengasihimu jauh lebih daripada kau mengasihi dosamu.”


Itu memang benar! Saya menikmati dosa saya. Saya memeliharanya. Saya bahkan menyangkal telah melakukan kesalahan. Namun Allah begitu mengasihi saya, Dia rela mengampuni dan membebaskan saya.


“Mengapa aku, Tuhan?” Mustahil untuk saya pahami. Namun yang saya tahu, Dia mengasihi saya—dan mengasihi Anda juga!



Betapa indahnya anugerah-Mu, Yesus! Anugerah-Mu mengatasi segala dosaku. Kau telah mengangkat semua bebanku dan memerdekakan jiwaku. Terima kasih.


Allah mengasihi kita bukan karena kita, tetapi karena Dia adalah kasih.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1NzuUXN

via IFTTT

Minggu, 29 Maret 2015

Indah Sekali!


Setelah pergi untuk suatu urusan bisnis, Terry ingin membeli oleh-oleh untuk anak-anaknya. Pegawai toko di bandara mengusulkan sejumlah barang yang mahal harganya. “Saya tak punya uang sebanyak itu sekarang,” katanya. “Saya perlu sesuatu yang tidak semahal itu.” Pegawai itu berusaha membujuk Terry untuk tidak membeli sesuatu yang murah. Namun Terry tahu bahwa anak-anaknya akan senang dengan apa pun yang diberikannya, karena itu datang dari hati yang mengasihi. Dan Terry memang benar, karena anak-anaknya menyukai hadiah yang dibawanya bagi mereka.


Dalam kunjungan terakhir Yesus ke kota Betania, Maria ingin menunjukkan kasihnya kepada Yesus (Mrk. 14:3-9). Jadi ia membawa “suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya” dan mengurapi Yesus (ay.3). Para murid bertanya dengan gusar, “Untuk apa pemborosan ini?” (Mat. 26:8). Yesus meminta mereka untuk berhenti menyusahkan Maria, karena “ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Mrk. 14:6). Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari mengatakan, “Ia melakukan sesuatu yang baik dan terpuji terhadap-Ku.” Yesus sangat senang menerima pemberian Maria, karena itu datang dari hati yang mengasihi. Mengurapi Dia untuk persiapan penguburan-Nya pun merupakan sesuatu yang indah!


Apa yang hendak Anda berikan kepada Yesus untuk menunjukkan kasih Anda? Waktu, talenta, harta Anda? Bukan masalah besar apabila itu sesuatu yang mahal atau murah, entah itu dimengerti atau dicela oleh orang lain, karena apa pun yang diberikan dari hati yang mengasihi adalah sesuatu yang indah bagi-Nya.



Bapa, tak ada pemberianku yang sepadan dengan pengorbanan-Mu. Namun aku ingin memberikan sesuatu yang indah di mata-Mu. Kuberikan hatiku hari ini dalam rasa syukur atas kasih-Mu.


Hati yang sehat akan berlimpah dengan kasih untuk Yesus.






from Santapan Rohani http://ift.tt/19wtsWS

via IFTTT

Sabtu, 28 Maret 2015

Siapakah Anda?


Dari waktu ke waktu, kita membaca tentang orang-orang yang tersinggung karena merasa tidak dihormati dan disegani sebagaimana mestinya. “Kamu tidak tahu siapa saya?” teriak mereka dengan nada marah. Sikap itu membuat kita teringat pada pernyataan yang berbunyi, “Jika Anda sampai perlu memberi tahu orang tentang siapa diri Anda, mungkin sebenarnya diri Anda tidaklah sepenting yang Anda kira.” Kita melihat dalam diri Yesus suatu sikap yang sangat bertolak belakang dengan keangkuhan dan peninggian diri seperti itu. Sikap itu bahkan ditunjukkan Yesus ketika Dia mendekati akhir masa hidup-Nya di dunia.


Yesus memasuki Yerusalem dengan disambut seruan pujian dari orang banyak (Mat. 21:7-9). Ketika orang-orang di seluruh kota bertanya, “Siapakah orang ini?” orang banyak itu menjawab, “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (ay.10-11). Yesus tidak datang dengan menuntut perlakuan khusus, tetapi dengan kerendahan hati, Dia datang untuk menyerahkan hidup-Nya dalam ketaatan pada kehendak Bapa-Nya.


Perkataan dan perbuatan Yesus layak mendapat penghormatan, tetapi tidak seperti para penguasa yang gila hormat, Dia tidak pernah menuntut orang untuk menghormati-Nya. Masa sengsara yang dialami-Nya mungkin terlihat seperti kelemahan dan kegagalan terbesar-Nya. Namun demikian, keyakinan yang kuat akan jati diri dan misi-Nya menopang Yesus sepanjang saat-saat terkelam itu, yaitu ketika Dia mati untuk menebus dosa kita agar kita bisa hidup dalam kasih-Nya.


Yesus layak menerima persembahan hidup kita dan penyembahan kita hari ini. Apakah kita mengenali diri-Nya?



Tuhan, aku takjub akan kerendahan hati, kekuatan, dan kasih-Mu. Aku merasa malu dengan keinginanku untuk mementingkan diri sendiri. Kiranya dengan mengenal-Mu, keegoisan hatiku bisa berubah menjadi kerinduan untuk hidup sebagaimana Engkau hidup di bumi.


Sekali berjumpa Yesus, Anda takkan pernah sama lagi. Oswald Chambers






from Santapan Rohani http://ift.tt/1GAFITI

via IFTTT

Jumat, 27 Maret 2015

Pohon Jejak


Beberapa tahun terakhir ini, putri saya begitu terpikat dengan sejarah penduduk asli dari Michigan Utara, tempat tinggalnya saat ini. Pada suatu sore di musim panas ketika saya ada di sana, ia menunjukkan sebuah jalan bertanda “Trail Trees” (Pohon Jejak). Ia menjelaskan kepada saya bahwa konon para penduduk asli Amerika pada zaman lampau melengkungkan pohon-pohon yang masih muda untuk menunjukkan arah ke tempat tujuan tertentu. Pohon-pohon tersebut kemudian akan terus bertumbuh dalam bentuk yang tidak lazim.


Alkitab Perjanjian Lama memiliki fungsi yang serupa. Ada banyak perintah dan ajaran dalam Alkitab yang mengarahkan hati kita pada jalan hidup yang dikehendaki Tuhan. Sepuluh Perintah Allah adalah contoh yang baik. Namun selain itu, nabi-nabi di Perjanjian Lama juga merujuk kepada Mesias yang akan datang. Ribuan tahun sebelum Yesus datang, mereka telah berbicara tentang Betlehem, tempat kelahiran Yesus (lihat Mik. 5:1 dan Mat. 2:1-6). Mereka melukiskan kematian Yesus di atas kayu salib dengan sangat rinci (lihat Mzm. 22:15-19 dan Yoh. 19:23-24). Dan Yesaya 53:1-12 merujuk pada pengorbanan yang akan Yesus lakukan ketika Allah “menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (ay.6; lihat Luk. 23:33).


Ribuan tahun lalu, para hamba Allah di Perjanjian Lama menunjukkan jalan yang terarah kepada Yesus, Anak Allah. Dialah yang telah menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita (Yes. 53:4). Dialah jalan menuju kehidupan.



Terima kasih Tuhan atas pesan keselamatan yang sederhana. Yesus, Engkaulah jalan, kebenaran, dan hidup. Aku bersyukur karena hidup-Mu telah Engkau serahkan demi hidupku. Aku mengasihi-Mu.


Yesus menyerahkan hidup-Nya demi hidup kita.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1yjyUmr

via IFTTT

Kamis, 26 Maret 2015

Seniman Foley


Kreezz, kreezz. Wuuss! Pada masa industri perfilman baru berkembang, para seniman Foley menciptakan bunyi-bunyian untuk mendukung adegan dalam cerita. Mereka meremas kantong kulit yang penuh berisi tepung maizena untuk menghasilkan bunyi salju berderak, menggoyangkan sepasang sarung tangan untuk mendapat bunyi yang mirip kepakan sayap burung, dan mengibaskan sebilah tongkat tipis untuk menghasilkan suara hembusan. Agar film yang dibuat sedekat mungkin dengan kenyataan, para seniman itu menggunakan teknik-teknik kreatif untuk menghasilkan bunyi tiruan.


Sama seperti bunyi, berita juga dapat ditiru. Satu teknik yang paling sering digunakan Iblis adalah meniru berita dengan cara yang berbahaya secara rohani. Paulus memperingatkan dalam 2 Korintus 11:13-14, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” Ia memperingatkan kita tentang guru-guru palsu yang menyelewengkan perhatian kita dari Yesus Kristus dan kabar baik tentang anugerah-Nya.


Yesus mengatakan bahwa salah satu tujuan Roh Kudus tinggal di dalam hidup kita adalah supaya “apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin [kita] ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13). Dengan pertolongan dan tuntunan Roh Kudus, kita dapat menemukan jaminan kebenaran sejati di tengah dunia yang marak dengan berita-berita palsu.



Kami memerlukan-Mu, Roh Kudus, untuk menolong kami membedakan yang benar dan yang salah. Kami dapat dengan mudah diperdaya oleh orang lain atau bahkan oleh hati kami sendiri. Kiranya kami terbuka untuk belajar dari-Mu dan tidak mudah disesatkan.


Roh Kudus adalah Guru yang senantiasa hadir dalam hidup kita.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1FM5Coe

via IFTTT

Rabu, 25 Maret 2015

Pilihan yang Pasti


Ayah saya dahulu pernah menyembah dewa-dewa leluhur. Pernyataannya di penghujung hidupnya berikut ini sungguh luar biasa: “Ketika aku mati,” ucapnya dengan susah payah, “jangan ada yang melakukan sesuatu selain yang akan dilakukan oleh gereja. Tak perlu ramalan, tak perlu pengorbanan bagi leluhur, tak perlu macam-macam ritual. Hidupku ada di tangan Yesus Kristus, begitu juga kematianku.”


Ayah saya memilih untuk mengikut Kristus ketika ia mengundang Yesus untuk menjadi Juruselamat di masa tuanya. Teman-teman seusianya suka mengejeknya: “Orang tua seperti dirimu seharusnya tidak pantas pergi ke gereja!” Namun pilihan ayah saya untuk mengikut dan menyembah Allah yang sejati sudah bulat, sama seperti pilihan orang-orang yang ditantang oleh Yosua.


“Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah,” tantang Yosua. “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” (24:15). Tanggapan mereka sangat tegas—mereka pun memilih untuk menyembah Tuhan. Bahkan setelah Yosua memperingatkan mereka akan konsekuensi pilihan tersebut (ay.19-20), mereka tetap bertekad untuk mengikut Tuhan, dengan mengingat akan pembebasan, pemeliharaan, dan perlindungan-Nya atas mereka (ay. 16-17, 21).


Namun, pilihan bulat itu menuntut tindakan yang sama tegasnya, sebagaimana diingatkan Yosua dengan keras kepada mereka, “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing . . . dan condongkanlah hatimu kepada Tuhan” (ay.23). Sudahkah Anda mengambil pilihan untuk menjalani hidup bagi Allah?



Tuhan, ajarku arti memilih untuk total mengikut Engkau. Aku mau perkataan, tindakan, tingkah lakuku menunjukkan kasihku yang tulus kepada-Mu dari lubuk hatiku. Engkau layak menerima jauh melebihi apa pun yang dapat kulakukan.


Pilihan yang bulat menuntut tindakan yang tegas.






from Santapan Rohani http://ift.tt/18XqI4W

via IFTTT

Selasa, 24 Maret 2015

Jam Allah Selalu Tepat


Saya sesekali pergi mengunjungi dua wanita lansia. Yang seorang sama sekali tidak memiliki masalah keuangan, sangat sehat untuk ukuran wanita seusianya, dan tinggal di rumahnya sendiri. Namun ia selalu mempunyai komentar yang negatif terhadap apa saja. Wanita yang satu lagi mengalami kelumpuhan akibat penyakit artritis dan agak pelupa. Ia tinggal di tempat sederhana dan mempunyai buku agenda agar ia tidak lupa dengan janji-janji yang dibuatnya. Namun kepada setiap orang yang mengunjungi apartemen mungilnya, komentar pertamanya selalu sama, “Allah begitu baik kepadaku.” Di kunjungan terakhir saya, saat menyerahkan buku agenda itu kepadanya, saya melihat bahwa pada hari sebelumnya ia telah menulis, “Besok makan siang di luar! Asyik! Satu lagi hari yang menyenangkan.”


Hana adalah seorang nabi perempuan pada masa kelahiran Yesus yang sudah sangat lanjut usia (Luk. 2:36-37). Menjanda di usia muda dan kemungkinan tidak mempunyai anak, Hana mungkin pernah merasa tidak berguna dan melarat. Namun ia tetap berfokus kepada Allah dan setia melayani-Nya. Ia merindukan Mesias, tetapi dalam penantiannya, ia tekun beribadah kepada Allah—berdoa, berpuasa, dan mengajarkan kepada orang lain semua yang dipelajarinya dari Allah.


Akhirnya hari yang istimewa pun tiba, ketika di usianya yang ke-80, ia melihat sang bayi Mesias di dalam pelukan ibu-Nya yang masih muda. Kesabaran Hana dalam menanti akhirnya membuahkan hasil. Hatinya meluap dengan sukacita sehingga ia memuji Allah dan kemudian menyampaikan berita sukacita itu kepada sesamanya.



Tuhan, aku tak ingin mengeluh lagi. Aku ingin menjadi orang yang melimpah dengan syukur atas kehadiran orang lain dan kehadiran-Mu. Kiranya aku menerima apa pun yang Engkau berikan sesuai dengan waktu-Mu. Tolonglah aku untuk memulainya hari ini.


Memang tidak mudah menyandingkan rencana Allah dengan rencana kita. Namun ketika keduanya menyatu, itulah pengalaman yang terbaik.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1HxxTMo

via IFTTT

Senin, 23 Maret 2015

Percaya Saja


Ketika anak-anak kami masih kecil, membawa mereka ke dokter adalah pengalaman yang menarik. Ruang tunggu dokter itu dipenuhi mainan yang bisa mereka mainkan dan majalah anak-anak yang suka saya bacakan untuk mereka. Sampai di situ tidak ada masalah. Namun begitu saya menggendong mereka masuk ke kamar praktek dokter, segalanya berubah. Keceriaan tiba-tiba berubah menjadi ketakutan, apalagi ketika perawat mendekati mereka dengan jarum suntik. Semakin dekat langkah si perawat, semakin erat mereka memeluk saya. Mereka memeluk saya dengan erat untuk mendapat kelegaan, atau mungkin mereka berharap tidak perlu disuntik, tanpa menyadari bahwa suntikan itu sebenarnya untuk kebaikan mereka sendiri.


Terkadang dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, kita silih berganti mengalami masa yang damai dan tenang menjadi masa yang menyakitkan dan penuh pergumulan. Pada saat itulah, kita bertanya, “Bagaimana seharusnya saya menanggapi semua ini?” Kita bisa merasa takut dan bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan hal itu menimpa kita. Atau sebaliknya, kita dapat meyakini bahwa di tengah masalah tersebut, Allah sedang melakukan sesuatu yang pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita juga, walaupun itu terasa menyakitkan. Kiranya kita juga mengingat perkataan yang ditulis sang pemazmur, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” (Mzm. 56:4).


Seperti anak-anak saya, semakin sulit keadaannya, semakin erat kita harus bergantung kepada-Nya. Percayalah kepada-Nya. Kasih-Nya tidak pernah berkesudahan!



Datanglah segera, Tuhan, untuk menolongku. Ajarku untuk mempercayai-Mu di masa-masa sulit. Ingatkan aku akan kehadiran-Mu dan pada kenyataan bahwa Engkau memegangku dengan erat dalam tangan kasih-Mu.


Bergantunglah kepada Bapa di surga; Dialah satu-satunya harapan Anda.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1bonxEP

via IFTTT

Minggu, 22 Maret 2015

Cermin Pemantul


Desa Rjukan yang kecil dan nyaman di Norwegia adalah wilayah yang menyenangkan untuk ditinggali—kecuali sepanjang hari-harinya yang gelap di musim dingin. Terletak di lembah pada kaki Gunung Gaustatoppen yang menjulang, desa ini tidak menerima pancaran sinar matahari secara langsung selama hampir setengah tahun. Warga sudah lama mempertimbangkan gagasan untuk menempatkan sejumlah cermin di puncak gunung untuk memantulkan sinar matahari. Namun konsep itu baru dapat direalisasikan akhir-akhir ini. Pada tahun 2005, seorang seniman lokal memulai proyek yang dinamai Proyek Cermin untuk mengumpulkan orang-orang yang bisa mengubah gagasan itu menjadi kenyataan. Delapan tahun kemudian, pada Oktober 2013, cermin-cermin tersebut mulai beroperasi. Warga pun memadati alun-alun kota untuk menikmati sinar matahari yang dipantulkan.


Dari perspektif rohani, sebagian besar dunia ini mirip dengan desa Rjukan—ada segunung masalah yang menghalangi pancaran terang Yesus. Namun Allah secara strategis menempatkan anak-anak-Nya untuk berperan sebagai pemantul terang-Nya. Salah satunya adalah Yohanes Pembaptis yang datang “untuk memberi kesaksian tentang terang itu”, yaitu Yesus yang memberikan terang “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut” (Yoh. 1:7, Luk. 1:79).


Sama seperti sinar matahari berperan penting bagi kesehatan emosi dan fisik manusia, demikian juga pancaran terang Yesus berperan penting bagi kesehatan rohani manusia. Syukurlah, setiap orang percaya berada dalam posisi yang tepat untuk memantulkan terang-Nya agar menembus tempat-tempat gelap di dunia.



Bapa terkasih, tolong aku untuk memantulkan terang-Mu ke dunia di sekitarku hari ini. Kiranya segala perkataan dan perbuatanku dapat menjadi saksi terang dan kebenaran-Mu. Kiranya orang lain melihat betapa menakjubkannya diri-Mu.


Dunia yang terperangkap di dalam gelap membutuhkan terang Yesus.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1N2lkKN

via IFTTT

Sabtu, 21 Maret 2015

Keluarga dalam Iman


Pada dekade 1980-an, kelas pembinaan bagi kaum lajang di gereja kami menjadi sebuah keluarga yang akrab bagi banyak orang yang telah kehilangan pasangan akibat perceraian atau kematian. Ketika seseorang akan pindah, para anggota kelas itu akan membantu untuk mengemas barang-barang, mengangkut perabotan, dan menyediakan makanan. Hari ulang tahun dan hari libur tidak lagi dijalani seorang diri, karena iman dan persahabatan telah melebur menjadi suatu hubungan yang langgeng dan sangat menguatkan. Banyak dari ikatan yang terjalin pada masa-masa sulit tiga dekade lalu itu terus berkembang dan menopang sejumlah pribadi dan keluarga hingga saat ini.


Surat Paulus kepada para pengikut Yesus di Tesalonika melukiskan suatu hubungan yang rela berbagi hidup di dalam keluarga Allah. “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (1Tes. 2:7). “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. . . . supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu” (ay.9). “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang” (ay.11). Bagai seorang ibu, ayah, dan saudara, Paulus dan rekan-rekannya membagikan Injil dan hidup mereka dengan saudara-saudara seiman yang mereka kasihi (ay.8).


Dalam keluarga Allah, Dia mengaruniakan ibu, ayah, dan saudara-saudara kepada kita. Tuhan memberikan sukacita-Nya ketika kita berbagi hidup bersama dalam anugerah dan kasih-Nya.



Bapa, Engkau telah memanggil kami untuk saling melayani. Berilah aku hati yang bersedia menerima perhatian orang lain. Kiranya aku mau meminta tolong saat membutuhkan pertolongan dan menanggapi dengan senang hati saat mereka meminta pertolonganku.


Allah mengasihi Anda dan saya; marilah kita saling mengasihi.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1CHEN2v

via IFTTT

Jumat, 20 Maret 2015

Keadilan dan Belas Kasihan


Ketika seorang terdakwa berdiri di hadapan hakim, nasibnya bergantung pada keputusan pengadilan. Jika ia tidak bersalah, pengadilan menjadi tempat perlindungan baginya. Namun jika ia bersalah, kita berharap pengadilan akan menjatuhkan hukuman.


Dalam kitab Nahum, kita melihat Allah sebagai tempat perlindungan sekaligus hakim. Tertulis demikian, “Tuhan itu baik, Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan” (1:7). Namun dikatakan juga bahwa “Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap” (1:8). Lebih dari 100 tahun sebelumnya, Niniwe pernah bertobat setelah Yunus memberitakan pengampunan Allah, dan bangsa itu diselamatkan (Yunus 3:10). Namun pada masa Nabi Nahum, Niniwe “merancang kejahatan terhadap Tuhan” (Nah. 1:11). Di pasal 3, Nahum menggambarkan secara rinci kehancuran Niniwe.


Banyak orang hanya mengenal satu sisi dari perbuatan Allah terhadap umat manusia tanpa mengenal sisi yang lainnya. Mereka berpikir bahwa Allah itu suci dan semata-mata ingin menghukum kita, atau bahwa Allah itu penuh belas kasihan dan semata-mata ingin menunjukkan kebaikan. Yang benar adalah Allah itu hakim sekaligus tempat perlindungan. Petrus menulis bahwa Yesus “menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1Ptr. 2:23). Hasilnya, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran” (ay.24).


Seluruh kebenaran tentang Allah merupakan kabar baik! Dia adalah hakim, tetapi karena Yesus, kita dapat datang kepada Allah sebagai tempat perlindungan kita.



Tuhan, jangan biarkan kami merendahkan-Mu dengan melihat satu sisi saja dari peran-Mu dalam kehidupan kami. Tolong kami untuk menikmati kasih dan kebaikan-Mu sekaligus menyadari betapa Engkau sangat membenci dosa.


Keadilan dan belas kasihan Allah bertemu di kayu salib.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1H9Qq13

via IFTTT

Kamis, 19 Maret 2015

Anugerah Pengharapan


Ketika topan yang sangat kuat menerjang kota Tacloban di Filipina pada tahun 2013, diperkirakan 10.000 orang meninggal, dan banyak dari mereka yang selamat telah kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Kebutuhan sehari-hari menjadi langka. Tiga bulan kemudian, ketika kota itu masih berjuang untuk bangkit dari kerusakan besar akibat topan tersebut, seorang bayi lahir di tepi jalan dekat Tacloban, di tengah derasnya hujan dan angin kencang. Meskipun cuaca saat itu mengingatkan mereka kembali pada peristiwa yang menyakitkan, warga setempat bekerja sama untuk mencari bidan, lalu mengantar ibu dan bayinya ke klinik. Sang bayi pun selamat, tumbuh sehat, dan menjadi lambang pengharapan di tengah masa sulit.


Penindasan bangsa Filistin selama 40 tahun menandai suatu masa yang suram dalam sejarah bangsa Israel. Pada masa itulah, seorang malaikat mengabarkan kepada seorang wanita Israel bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang istimewa (Hak. 13:3). Anak itu akan menjadi seorang nazir Allah, yaitu orang yang dikhususkan bagi Allah, dan dengannya “akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin” (ay.5). Anak laki-laki yang diberi nama Simson itu menjadi anugerah pengharapan yang lahir di tengah suatu masa yang sulit.


Kesulitan memang tak terhindari, tetapi Yesus sanggup melepaskan kita dari keputusasaan. Dia lahir “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (Luk. 1:76-79).



Tuhan, tolonglah aku untuk melihat jauh melampaui keadaanku dan berharap kepada-Mu. Milik-Mulah segala otoritas dan kuasa. Ingatkan aku akan kebaikan-Mu, dan kiranya aku bersandar pada kasih-Mu.




Yesus adalah harapan yang meneduhkan badai kehidupan.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1xC2LpW

via IFTTT

Rabu, 18 Maret 2015

Tempat Kita Kelak


Ribuan untaian waktu, peristiwa, dan orang terjalin menjadi selembar permadani yang kita sebut sebagai tempat. Lebih dari sekadar sebuah rumah, tempat adalah wadah meleburnya makna, rasa memiliki, dan rasa aman di bawah naungan usaha kita bersama untuk mengasihi tanpa pamrih. Tempat membekaskan kenangan yang merasuk ke dalam jiwa kita. Meskipun tempat kita tidak sempurna, kesan yang diberikannya begitu kuat memikat kita.


Alkitab sering berbicara mengenai tempat. Kita melihatnya dalam kerinduan Nehemia atas pulihnya Yerusalem (Neh. 1:3-4; 2:2). Maka tidak mengherankan apabila Yesus berbicara tentang tempat ketika Dia ingin menghibur kita. “Janganlah gelisah hatimu,” kata-Nya, yang dilanjutkan dengan: “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:1-2).


Bagi mereka yang mempunyai kenangan indah akan berbagai tempat di dunia, janji tersebut menghubungkan kita pada sesuatu yang mudah untuk mereka pahami dan nanti-nantikan. Dan bagi mereka yang tinggal di suatu tempat yang jauh dari rasa nyaman dan aman, Yesus menjanjikan bahwa suatu hari nanti mereka akan mendengar dinyanyikannya kidung indah dari tempat itu, karena mereka akan tinggal di sana bersama-Nya.


Apa pun pergumulan Anda, apa pun hal yang menggoyahkan perjalanan iman Anda, ingatlah ini: Ada suatu tempat di surga yang sudah menanti Anda, yang disediakan khusus bagi Anda. Jika tidak demikian, tentu Yesus tidak akan mengatakannya.



Yesus, aku ingin segera berdiam dalam tempat yang telah Kau sediakan bagiku. Aku bersyukur karena bagaimanapun tempat tinggalku di dunia, baik nyaman ataupun tidak mengenakkan, kediamanku bersama-Mu akan jauh lebih baik.


Kiranya kenangan akan kediaman duniawi kita membuat kita semakin merindukan kediaman surgawi kita dengan penuh harap.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1BV8cFJ

via IFTTT

Selasa, 17 Maret 2015

Jalan Pintas yang Berbahaya


Baru-baru ini diadakan pemilihan umum di negara saya. Kenalan saya, seorang ibu, tengah mengalami kesulitan hidup sehingga ia rela menukarkan hak suaranya demi mendapat sekantong popok bayi. Kami sudah pernah membicarakan keunggulan dari setiap calon, sehingga pilihan ibu itu mengecewakan saya. Saya bertanya, “Lalu bagaimana dengan keyakinanmu?” Ia diam saja. Enam bulan setelah calon yang dipilihnya itu menang, pajak pun dinaikkan. Sekarang harga barang-barang menjadi lebih mahal daripada sebelumnya, termasuk popok bayi!


Di banyak negara, praktik korupsi dalam dunia politik bukanlah hal yang asing. Demikian juga halnya dengan korupsi rohani. Iblis berusaha memikat Yesus agar mau “menjual” keyakinan-Nya (Mat. 4:1-10). Si pencoba datang kepada Yesus ketika Dia sedang letih dan lapar. Iblis menawarkan kepada Yesus kepuasaan sesaat, roti segar yang bisa diciptakan dalam hitungan detik, kelepasan yang ajaib, dan seluruh kerajaan dunia beserta kemegahannya.


Namun Yesus lebih tahu. Dia tahu bahwa jalan pintas adalah musuh yang berbahaya. Jalan pintas mungkin menawarkan suatu pilihan tanpa penderitaan, tetapi pada akhirnya jalan itu mendatangkan penderitaan yang jauh lebih dalam dari yang pernah kita bayangkan. Sepanjang pencobaan-Nya, tiga kali Yesus mengatakan, “Ada tertulis” (ay. 4,7,10). Yesus teguh berpegang pada keyakinan akan kebenaran Allah dan firman-Nya.


Allah juga dapat menolong kita yang sedang dicobai. Kita dapat bergantung kepada-Nya dan pada kebenaran firman-Nya untuk menolong kita menghindari jalan pintas yang berbahaya.



Jalan pintas apakah yang cenderung menggodaku untuk memperoleh kepuasan? Apakah yang dapat kulakukan untuk menjaga diri?


Jalan Allah memang tidak mudah, tetapi akan membawa kita pada kepuasan kekal.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1FwrVN2

via IFTTT

Senin, 16 Maret 2015

Tamu Tak Diundang


Baru-baru ini, saya dan istri saya, Marlene, menerima telepon bernada panik dari putra kami dan istrinya. Malam sebelumnya, mereka menemukan dua ekor kelelawar di dalam rumah mereka. Saya tahu bahwa kelelawar memang bagian penting dari ekosistem, tetapi di antara segala binatang yang ada, saya merasa paling geli dengan kelelawar, apalagi jika kelelawar itu beterbangan di dalam rumah.


Meskipun demikian, saya dan Marlene bersyukur karena kami bisa pergi ke rumah anak-anak kami dan menolong mereka. Kami menolong mereka dengan menutup lubang-lubang yang kemungkinan telah dipakai para tamu yang tak diundang itu untuk masuk ke dalam rumah.


Tamu lain yang tak diundang dan sering menyusup dalam hidup kita adalah penderitaan. Ketika pencobaan datang, kita mudah merasa panik atau putus asa. Namun keadaan-keadaan yang sulit itu dapat menjadi alat yang dipakai oleh Bapa Surgawi yang mengasihi kita guna menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus. Itulah sebabnya Yakobus menulis, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang” (Yak. 1:2-4).


Kita tidak ingin mengalami pencobaan atau penderitaan. Namun bila tamu yang tak diundang itu datang, kita dapat memohon campur tangan Allah dan percaya bahwa Dia bisa memakai kesulitan itu untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Anak-Nya.



Terima kasih, Bapa, karena setiap hari Engkau memberi kami yang terbaik sesuai kehendak-Mu. Kami bersyukur karena dapat mempercayai maksud hati-Mu yang sungguh amat baik.


Pencobaan mungkin datang dan pergi, tetapi Allah selalu bersama kita.






from Santapan Rohani http://ift.tt/1BJRwzs

via IFTTT

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari