From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 34:29
--------------------------------
“Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang wajahnya seperti “bersinar”? Saya pernah, orang itu adalah seorang hamba Tuhan (Pendeta) sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kudus nama kota itu. Pertama kali saya bertemu dengannya adalah di tahun 2002 ketika ia sedang melayani di gereja saya, di Jakarta. Penampilan-nya sederhana, rambutnya berwarna putih ke-abu-abu-an, menyiratkan usia-nya yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan senyum simpul-nya yang men-transfer kehangatan pada setiap orang yang melihatnya, genggaman tangan-nya mantap ketika memberikan salam kepada jemaat, dan yang paling mengesankan saya ialah: di dalam pemberitaan firman, ia sungguh-sungguh memancarkan “cahaya” kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika ia sudah berhenti memberitakan firman, “cahaya” itu masih bersinar di wajahnya!
Saya percaya ia tidak menyadari sama sekali bahwa wajahnya memancarkan “sinar” kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa yang tidak mengetahui bahwa “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Di sinilah sebenarnya “kunci” jawaban mengapa ia dan Musa bisa bercahaya wajahnya; “oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Baik Pendeta ini maupun Musa, mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Tinggi, mereka tidak merindukan apapun di dunia ini, selain merindukan berada di dekat Tuhan. Berada di dekat Tuhan dan Tuhan berada di dekat mereka adalah hal yang utama dalam hidup ini bagi mereka. Keberadaan mereka di dekat Tuhan dan keberadaan Tuhan di dekat mereka, seolah-olah membuat mereka “kenyang” dengan hal-hal yang jasmani dan fana. Alkitab mencatat, “Musa ada di sana [di gunung Sinai] bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman [the Ten Commandments].” (Keluaran 34:28)
Luar biasa! 40 hari dan 40 malam tanpa roti untuk dimakan dan tanpa air untuk diminum, hanya ia dan Tuhan – alone with God! – di gunung itu menikmati kebersamaan, dan Musa kenyang! Sungguh indah ketika kita bisa memiliki bobot relasi yang sedemikian dalam dan intimnya dengan Tuhan. Daud berkata, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat [fountain of life], di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:8-10)
Mari kenyangkan jiwamu, datanglah mendekat pada-Nya, jalinlah relasi dengan-Nya, dan nikmatilah limpah anugerah-Nya bagimu dan bagiku! Bagaimana caranya? Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu menjawabnya: “Baca kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Amin.
Westminster Larger Catechism (Katekismus Besar Westminster)
Q. 1. What is the chief and highest end of man?
(P.1. Apakah pencapaian terpuncak dan terutama dari seorang manusia?)
A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to
enjoy him forever.
(J. Pencapaian terutama dan terpuncak manusia adalah untuk memuliakan Tuhan, dan sepenuh-penuhnya menikmati Tuhan selama-lamanya.)
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kiriman RHO-ers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kiriman RHO-ers. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 November 2010
From RHO-ers: “Konek” sama TUHAN
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 34:29
--------------------------------
“Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang wajahnya seperti “bersinar”? Saya pernah, orang itu adalah seorang hamba Tuhan (Pendeta) sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kudus nama kota itu. Pertama kali saya bertemu dengannya adalah di tahun 2002 ketika ia sedang melayani di gereja saya, di Jakarta. Penampilan-nya sederhana, rambutnya berwarna putih ke-abu-abu-an, menyiratkan usia-nya yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan senyum simpul-nya yang men-transfer kehangatan pada setiap orang yang melihatnya, genggaman tangan-nya mantap ketika memberikan salam kepada jemaat, dan yang paling mengesankan saya ialah: di dalam pemberitaan firman, ia sungguh-sungguh memancarkan “cahaya” kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika ia sudah berhenti memberitakan firman, “cahaya” itu masih bersinar di wajahnya!
Saya percaya ia tidak menyadari sama sekali bahwa wajahnya memancarkan “sinar” kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa yang tidak mengetahui bahwa “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Di sinilah sebenarnya “kunci” jawaban mengapa ia dan Musa bisa bercahaya wajahnya; “oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Baik Pendeta ini maupun Musa, mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Tinggi, mereka tidak merindukan apapun di dunia ini, selain merindukan berada di dekat Tuhan. Berada di dekat Tuhan dan Tuhan berada di dekat mereka adalah hal yang utama dalam hidup ini bagi mereka. Keberadaan mereka di dekat Tuhan dan keberadaan Tuhan di dekat mereka, seolah-olah membuat mereka “kenyang” dengan hal-hal yang jasmani dan fana. Alkitab mencatat, “Musa ada di sana [di gunung Sinai] bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman [the Ten Commandments].” (Keluaran 34:28)
Luar biasa! 40 hari dan 40 malam tanpa roti untuk dimakan dan tanpa air untuk diminum, hanya ia dan Tuhan – alone with God! – di gunung itu menikmati kebersamaan, dan Musa kenyang! Sungguh indah ketika kita bisa memiliki bobot relasi yang sedemikian dalam dan intimnya dengan Tuhan. Daud berkata, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat [fountain of life], di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:8-10)
Mari kenyangkan jiwamu, datanglah mendekat pada-Nya, jalinlah relasi dengan-Nya, dan nikmatilah limpah anugerah-Nya bagimu dan bagiku! Bagaimana caranya? Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu menjawabnya: “Baca kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Amin.
Westminster Larger Catechism (Katekismus Besar Westminster)
Q. 1. What is the chief and highest end of man?
(P.1. Apakah pencapaian terpuncak dan terutama dari seorang manusia?)
A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to
enjoy him forever.
(J. Pencapaian terutama dan terpuncak manusia adalah untuk memuliakan Tuhan, dan sepenuh-penuhnya menikmati Tuhan selama-lamanya.)
Ayat Bacaan: Keluaran 34:29
--------------------------------
“Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang wajahnya seperti “bersinar”? Saya pernah, orang itu adalah seorang hamba Tuhan (Pendeta) sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kudus nama kota itu. Pertama kali saya bertemu dengannya adalah di tahun 2002 ketika ia sedang melayani di gereja saya, di Jakarta. Penampilan-nya sederhana, rambutnya berwarna putih ke-abu-abu-an, menyiratkan usia-nya yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan senyum simpul-nya yang men-transfer kehangatan pada setiap orang yang melihatnya, genggaman tangan-nya mantap ketika memberikan salam kepada jemaat, dan yang paling mengesankan saya ialah: di dalam pemberitaan firman, ia sungguh-sungguh memancarkan “cahaya” kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika ia sudah berhenti memberitakan firman, “cahaya” itu masih bersinar di wajahnya!
Saya percaya ia tidak menyadari sama sekali bahwa wajahnya memancarkan “sinar” kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa yang tidak mengetahui bahwa “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Di sinilah sebenarnya “kunci” jawaban mengapa ia dan Musa bisa bercahaya wajahnya; “oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Baik Pendeta ini maupun Musa, mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Tinggi, mereka tidak merindukan apapun di dunia ini, selain merindukan berada di dekat Tuhan. Berada di dekat Tuhan dan Tuhan berada di dekat mereka adalah hal yang utama dalam hidup ini bagi mereka. Keberadaan mereka di dekat Tuhan dan keberadaan Tuhan di dekat mereka, seolah-olah membuat mereka “kenyang” dengan hal-hal yang jasmani dan fana. Alkitab mencatat, “Musa ada di sana [di gunung Sinai] bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman [the Ten Commandments].” (Keluaran 34:28)
Luar biasa! 40 hari dan 40 malam tanpa roti untuk dimakan dan tanpa air untuk diminum, hanya ia dan Tuhan – alone with God! – di gunung itu menikmati kebersamaan, dan Musa kenyang! Sungguh indah ketika kita bisa memiliki bobot relasi yang sedemikian dalam dan intimnya dengan Tuhan. Daud berkata, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat [fountain of life], di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:8-10)
Mari kenyangkan jiwamu, datanglah mendekat pada-Nya, jalinlah relasi dengan-Nya, dan nikmatilah limpah anugerah-Nya bagimu dan bagiku! Bagaimana caranya? Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu menjawabnya: “Baca kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Amin.
Westminster Larger Catechism (Katekismus Besar Westminster)
Q. 1. What is the chief and highest end of man?
(P.1. Apakah pencapaian terpuncak dan terutama dari seorang manusia?)
A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to
enjoy him forever.
(J. Pencapaian terutama dan terpuncak manusia adalah untuk memuliakan Tuhan, dan sepenuh-penuhnya menikmati Tuhan selama-lamanya.)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Senin, 29 November 2010
From RHO-ers: Tuhan Yang Menanam
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 35:34-35a
------------------------------------
“Dan TUHAN menanam dalam hatinya [Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda – ay. 30], dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia (TUHAN) telah memenuhi mereka dengan keahlian. . .”
Bacaan Alkitab hari ini membuat saya mau gak mau langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena saya diingatkan bahwa segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki semua asalnya adalah dari Tuhan. Jadi, tidak ada “ruang”, seharusnya, bagi saya untuk memegahkan diri – walaupun sesaat – karena segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki saat ini. Tetapi di saat yang sama, seharusnya juga tidak ada “ruang” bagi saya untuk menjadi minder – walaupun sesaat – karena sebenarnya di dalam diri ini ada sesuatu yang baik yang Tuhan tanam.
Bacaan Alkitab hari ini juga mengingatkan saya akan pesan Kakak KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) saya ketika dulu ia memimpin kami. Ia pernah mengatakan, “Ketika kamu dipuji oleh orang lain karena kecakapan-mu di dalam melayani, ingat! Segera kembalikan pujian itu kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang layak menerima pujian tersebut.” – Pujian, hormat, dan kekaguman semuanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk kita. Jangan biarkan diri kita “mencuri” kemuliaan Tuhan. Demikian pesan-nya yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini.
Bezaleel dan Aholiab pada dasarnya adalah manusia biasa, sama seperti saya dan Anda. Tetapi mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan dicatat namanya di dalam Alkitab adalah semata-mata karena “Tuhan yang menanam”-kan kepandaian dan keahlian yang luar biasa itu di dalam hati mereka. Jadi, pusat kekaguman kita yang utama ketika membaca perikop ini seharusnya bukan pada pribadi Bezaleel dan Aholiab tetapi pada pribadi Allah yang sanggup “meniupkan” Roh-Nya (ay. 31) ke dalam pribadi mereka sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang sangat ahli, baik dalam hal mengajar maupun dalam hal pembangunan Kemah Suci pada waktu itu.
Fenomena yang terjadi saat ini justru adalah kebalikan-nya. Jaman ini – menurut pengamatan saya – adalah jaman “Narcissistic”; yaitu jaman dimana semua orang ingin “unjuk gigi” bahwa dirinya itu adalah “something”. Itu sebab lahir acara-acara seperti “Indonesian Idol”, “Kid’s Idol”, dan berbagai acara-acara lain-nya yang intinya menawarkan kepada manusia – kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, cakep-jelek, kurus-gemuk, pintar-bodoh – untuk berani “unjuk gigi” dengan menampilkan potensi diri yang ada di dalam diri mereka. Dan tujuan dari acara seperti ini – selain komersil – adalah untuk mencari popularitas diri sendiri. Kemuliaan Tuhan menjadi nomor dua atau mungkin nomor tiga. Kemuliaan diri menjadi nomor satu.
Ayat bacaan hari ini sekali lagi mengingatkan kita semua bahwa apapun kepandaian dan keahlian yang kita miliki, semua itu adalah “Tuhan yang menanam”. Jadi sudah seharusnya dan sepantasnyalah segala usaha kita menggali potensi diri ini adalah bukan untuk kepuasaan diri kita, melainkan untuk kepuasaan dan keharuman nama Tuhan. Kita hanyalah “seonggok daging” biasa jika Tuhan tidak menanamkan kepandaian dan keahlian-Nya di dalam hati kita. Marilah “dengan takut dan gentar kita mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita” (Filipi 2:12), karena “Allahlah yang (sebenarnya) mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)
Doa: Tuhan ingatkanlah aku untuk menjadi rendah hati jika aku menyombongkan diri dengan segala kepandaian dan keahlian yang asalnya dari-Mu, tetapi juga ingatkanlah aku untuk menjadi percaya diri jika aku terlalu memandang rendah diriku sendiri sehingga aku lupa melihat segala hal yang baik yang Engkau tanam di dalam hatiku. Dalam nama Yesus. Amin.
Ayat Bacaan: Keluaran 35:34-35a
------------------------------------
“Dan TUHAN menanam dalam hatinya [Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda – ay. 30], dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia (TUHAN) telah memenuhi mereka dengan keahlian. . .”
Bacaan Alkitab hari ini membuat saya mau gak mau langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena saya diingatkan bahwa segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki semua asalnya adalah dari Tuhan. Jadi, tidak ada “ruang”, seharusnya, bagi saya untuk memegahkan diri – walaupun sesaat – karena segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki saat ini. Tetapi di saat yang sama, seharusnya juga tidak ada “ruang” bagi saya untuk menjadi minder – walaupun sesaat – karena sebenarnya di dalam diri ini ada sesuatu yang baik yang Tuhan tanam.
Bacaan Alkitab hari ini juga mengingatkan saya akan pesan Kakak KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) saya ketika dulu ia memimpin kami. Ia pernah mengatakan, “Ketika kamu dipuji oleh orang lain karena kecakapan-mu di dalam melayani, ingat! Segera kembalikan pujian itu kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang layak menerima pujian tersebut.” – Pujian, hormat, dan kekaguman semuanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk kita. Jangan biarkan diri kita “mencuri” kemuliaan Tuhan. Demikian pesan-nya yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini.
Bezaleel dan Aholiab pada dasarnya adalah manusia biasa, sama seperti saya dan Anda. Tetapi mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan dicatat namanya di dalam Alkitab adalah semata-mata karena “Tuhan yang menanam”-kan kepandaian dan keahlian yang luar biasa itu di dalam hati mereka. Jadi, pusat kekaguman kita yang utama ketika membaca perikop ini seharusnya bukan pada pribadi Bezaleel dan Aholiab tetapi pada pribadi Allah yang sanggup “meniupkan” Roh-Nya (ay. 31) ke dalam pribadi mereka sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang sangat ahli, baik dalam hal mengajar maupun dalam hal pembangunan Kemah Suci pada waktu itu.
Fenomena yang terjadi saat ini justru adalah kebalikan-nya. Jaman ini – menurut pengamatan saya – adalah jaman “Narcissistic”; yaitu jaman dimana semua orang ingin “unjuk gigi” bahwa dirinya itu adalah “something”. Itu sebab lahir acara-acara seperti “Indonesian Idol”, “Kid’s Idol”, dan berbagai acara-acara lain-nya yang intinya menawarkan kepada manusia – kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, cakep-jelek, kurus-gemuk, pintar-bodoh – untuk berani “unjuk gigi” dengan menampilkan potensi diri yang ada di dalam diri mereka. Dan tujuan dari acara seperti ini – selain komersil – adalah untuk mencari popularitas diri sendiri. Kemuliaan Tuhan menjadi nomor dua atau mungkin nomor tiga. Kemuliaan diri menjadi nomor satu.
Ayat bacaan hari ini sekali lagi mengingatkan kita semua bahwa apapun kepandaian dan keahlian yang kita miliki, semua itu adalah “Tuhan yang menanam”. Jadi sudah seharusnya dan sepantasnyalah segala usaha kita menggali potensi diri ini adalah bukan untuk kepuasaan diri kita, melainkan untuk kepuasaan dan keharuman nama Tuhan. Kita hanyalah “seonggok daging” biasa jika Tuhan tidak menanamkan kepandaian dan keahlian-Nya di dalam hati kita. Marilah “dengan takut dan gentar kita mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita” (Filipi 2:12), karena “Allahlah yang (sebenarnya) mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)
Doa: Tuhan ingatkanlah aku untuk menjadi rendah hati jika aku menyombongkan diri dengan segala kepandaian dan keahlian yang asalnya dari-Mu, tetapi juga ingatkanlah aku untuk menjadi percaya diri jika aku terlalu memandang rendah diriku sendiri sehingga aku lupa melihat segala hal yang baik yang Engkau tanam di dalam hatiku. Dalam nama Yesus. Amin.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Tuhan Yang Menanam
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 35:34-35a
------------------------------------
“Dan TUHAN menanam dalam hatinya [Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda – ay. 30], dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia (TUHAN) telah memenuhi mereka dengan keahlian. . .”
Bacaan Alkitab hari ini membuat saya mau gak mau langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena saya diingatkan bahwa segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki semua asalnya adalah dari Tuhan. Jadi, tidak ada “ruang”, seharusnya, bagi saya untuk memegahkan diri – walaupun sesaat – karena segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki saat ini. Tetapi di saat yang sama, seharusnya juga tidak ada “ruang” bagi saya untuk menjadi minder – walaupun sesaat – karena sebenarnya di dalam diri ini ada sesuatu yang baik yang Tuhan tanam.
Bacaan Alkitab hari ini juga mengingatkan saya akan pesan Kakak KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) saya ketika dulu ia memimpin kami. Ia pernah mengatakan, “Ketika kamu dipuji oleh orang lain karena kecakapan-mu di dalam melayani, ingat! Segera kembalikan pujian itu kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang layak menerima pujian tersebut.” – Pujian, hormat, dan kekaguman semuanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk kita. Jangan biarkan diri kita “mencuri” kemuliaan Tuhan. Demikian pesan-nya yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini.
Bezaleel dan Aholiab pada dasarnya adalah manusia biasa, sama seperti saya dan Anda. Tetapi mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan dicatat namanya di dalam Alkitab adalah semata-mata karena “Tuhan yang menanam”-kan kepandaian dan keahlian yang luar biasa itu di dalam hati mereka. Jadi, pusat kekaguman kita yang utama ketika membaca perikop ini seharusnya bukan pada pribadi Bezaleel dan Aholiab tetapi pada pribadi Allah yang sanggup “meniupkan” Roh-Nya (ay. 31) ke dalam pribadi mereka sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang sangat ahli, baik dalam hal mengajar maupun dalam hal pembangunan Kemah Suci pada waktu itu.
Fenomena yang terjadi saat ini justru adalah kebalikan-nya. Jaman ini – menurut pengamatan saya – adalah jaman “Narcissistic”; yaitu jaman dimana semua orang ingin “unjuk gigi” bahwa dirinya itu adalah “something”. Itu sebab lahir acara-acara seperti “Indonesian Idol”, “Kid’s Idol”, dan berbagai acara-acara lain-nya yang intinya menawarkan kepada manusia – kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, cakep-jelek, kurus-gemuk, pintar-bodoh – untuk berani “unjuk gigi” dengan menampilkan potensi diri yang ada di dalam diri mereka. Dan tujuan dari acara seperti ini – selain komersil – adalah untuk mencari popularitas diri sendiri. Kemuliaan Tuhan menjadi nomor dua atau mungkin nomor tiga. Kemuliaan diri menjadi nomor satu.
Ayat bacaan hari ini sekali lagi mengingatkan kita semua bahwa apapun kepandaian dan keahlian yang kita miliki, semua itu adalah “Tuhan yang menanam”. Jadi sudah seharusnya dan sepantasnyalah segala usaha kita menggali potensi diri ini adalah bukan untuk kepuasaan diri kita, melainkan untuk kepuasaan dan keharuman nama Tuhan. Kita hanyalah “seonggok daging” biasa jika Tuhan tidak menanamkan kepandaian dan keahlian-Nya di dalam hati kita. Marilah “dengan takut dan gentar kita mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita” (Filipi 2:12), karena “Allahlah yang (sebenarnya) mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)
Doa: Tuhan ingatkanlah aku untuk menjadi rendah hati jika aku menyombongkan diri dengan segala kepandaian dan keahlian yang asalnya dari-Mu, tetapi juga ingatkanlah aku untuk menjadi percaya diri jika aku terlalu memandang rendah diriku sendiri sehingga aku lupa melihat segala hal yang baik yang Engkau tanam di dalam hatiku. Dalam nama Yesus. Amin.
Ayat Bacaan: Keluaran 35:34-35a
------------------------------------
“Dan TUHAN menanam dalam hatinya [Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda – ay. 30], dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia (TUHAN) telah memenuhi mereka dengan keahlian. . .”
Bacaan Alkitab hari ini membuat saya mau gak mau langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena saya diingatkan bahwa segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki semua asalnya adalah dari Tuhan. Jadi, tidak ada “ruang”, seharusnya, bagi saya untuk memegahkan diri – walaupun sesaat – karena segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki saat ini. Tetapi di saat yang sama, seharusnya juga tidak ada “ruang” bagi saya untuk menjadi minder – walaupun sesaat – karena sebenarnya di dalam diri ini ada sesuatu yang baik yang Tuhan tanam.
Bacaan Alkitab hari ini juga mengingatkan saya akan pesan Kakak KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) saya ketika dulu ia memimpin kami. Ia pernah mengatakan, “Ketika kamu dipuji oleh orang lain karena kecakapan-mu di dalam melayani, ingat! Segera kembalikan pujian itu kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang layak menerima pujian tersebut.” – Pujian, hormat, dan kekaguman semuanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk kita. Jangan biarkan diri kita “mencuri” kemuliaan Tuhan. Demikian pesan-nya yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini.
Bezaleel dan Aholiab pada dasarnya adalah manusia biasa, sama seperti saya dan Anda. Tetapi mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan dicatat namanya di dalam Alkitab adalah semata-mata karena “Tuhan yang menanam”-kan kepandaian dan keahlian yang luar biasa itu di dalam hati mereka. Jadi, pusat kekaguman kita yang utama ketika membaca perikop ini seharusnya bukan pada pribadi Bezaleel dan Aholiab tetapi pada pribadi Allah yang sanggup “meniupkan” Roh-Nya (ay. 31) ke dalam pribadi mereka sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang sangat ahli, baik dalam hal mengajar maupun dalam hal pembangunan Kemah Suci pada waktu itu.
Fenomena yang terjadi saat ini justru adalah kebalikan-nya. Jaman ini – menurut pengamatan saya – adalah jaman “Narcissistic”; yaitu jaman dimana semua orang ingin “unjuk gigi” bahwa dirinya itu adalah “something”. Itu sebab lahir acara-acara seperti “Indonesian Idol”, “Kid’s Idol”, dan berbagai acara-acara lain-nya yang intinya menawarkan kepada manusia – kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, cakep-jelek, kurus-gemuk, pintar-bodoh – untuk berani “unjuk gigi” dengan menampilkan potensi diri yang ada di dalam diri mereka. Dan tujuan dari acara seperti ini – selain komersil – adalah untuk mencari popularitas diri sendiri. Kemuliaan Tuhan menjadi nomor dua atau mungkin nomor tiga. Kemuliaan diri menjadi nomor satu.
Ayat bacaan hari ini sekali lagi mengingatkan kita semua bahwa apapun kepandaian dan keahlian yang kita miliki, semua itu adalah “Tuhan yang menanam”. Jadi sudah seharusnya dan sepantasnyalah segala usaha kita menggali potensi diri ini adalah bukan untuk kepuasaan diri kita, melainkan untuk kepuasaan dan keharuman nama Tuhan. Kita hanyalah “seonggok daging” biasa jika Tuhan tidak menanamkan kepandaian dan keahlian-Nya di dalam hati kita. Marilah “dengan takut dan gentar kita mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita” (Filipi 2:12), karena “Allahlah yang (sebenarnya) mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)
Doa: Tuhan ingatkanlah aku untuk menjadi rendah hati jika aku menyombongkan diri dengan segala kepandaian dan keahlian yang asalnya dari-Mu, tetapi juga ingatkanlah aku untuk menjadi percaya diri jika aku terlalu memandang rendah diriku sendiri sehingga aku lupa melihat segala hal yang baik yang Engkau tanam di dalam hatiku. Dalam nama Yesus. Amin.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Minggu, 28 November 2010
From RHO-ers: Penundaan
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
---------------------------
“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”
Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.
Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).
Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.
Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.
Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.
Diambil dari: "Saya akan melakukannya... BESOK!", Karya: Jerry & Kirsti Newcombe
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
---------------------------
“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”
Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.
Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).
Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.
Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.
Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.
Diambil dari: "Saya akan melakukannya... BESOK!", Karya: Jerry & Kirsti Newcombe
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Penundaan
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
---------------------------
“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”
Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.
Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).
Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.
Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.
Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.
Diambil dari: "Saya akan melakukannya... BESOK!", Karya: Jerry & Kirsti Newcombe
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
---------------------------
“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”
Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.
Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).
Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.
Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.
Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.
Diambil dari: "Saya akan melakukannya... BESOK!", Karya: Jerry & Kirsti Newcombe
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Sabtu, 27 November 2010
From RHO-ers: Tergerak, Lalu Bergerak
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 35:21a
-------------------------------
“Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN. . .”
Prinsip utama dari persembahan yang sejati adalah lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan si pemberi persembahan tidak ingin menonjolkan nama-nya melalui persembahan tersebut (baca: Matius 6:3-4 – “[J]ika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). Persembahan yang sejati bukan lahir dari keterpaksaan, bukan juga lahir dari motif terselubung, dan yang lebih penting bukan lahir dari keangkuhan.
Dulu ketika saya masih kuliah, saya suka menyisihkan uang jajan mingguan untuk saya berikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Setiap akhir bulan, uang jajan mingguan yang saya sudah sisihkan saya masukkan ke dalam amplop, lalu di dalam amplop itu saya juga masukkan traktat Kristen + waktu itu saya juga masukkan foto Tuhan Yesus - Konsep yang ada di benak saya pada waktu itu sederhana; saya hanya ingin bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan buat orang lain yang membutuhkan, tetapi saya juga ingin orang yang menerima bantuan dari saya itu mengetahui bahwa bantuan itu datang-nya dari Tuhan Yesus bukan dari saya, tetapi kebetulan “orang suruhan” (messenger) yang Tuhan Yesus pilih ialah saya.
Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan cara memilih acak (random choosing) “target” yang akan saya berikan amplop setiap bulannya. Jadi, setiap pulang kuliah saya dalam hati berdoa kepada Tuhan sambil mengendarai motor, saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, tunjukkanlah siapa orang yang Engkau ingin agar dia menerima amplop ini, bimbing aku ya Tuhan.” Demikian doa saya dalam hati.
Nah, biasanya nanti Tuhan condongkan hati saya kepada orang tertentu setelah saya berdoa. Jika dorongan itu makin kuat, maka saya segera menepi lalu men-stop motor saya, dan kemudian saya memanggil orang tersebut – orang itu bisa seorang tukang parkir, seorang tukang sapu jalanan, anak kecil yang sedang mengamen, orang lansia yang sedang terhuyung-huyung berjalan kaki di sore hari, atau ibu-ibu tua yang sedang menenteng bawaannya, dll. – setelah saya memanggil orang tersebut, saya lalu mengatakan demikian kepadanya: “Pak / Bu, ini amplop buat Bapak / Ibu. Di dalamnya ada uang ala kadarnya, silahkan Bapak / Ibu pakai untuk keperluan Bapak / Ibu. Ini dari Tuhan Yesus buat Bapak / Ibu. Terima ya, Tuhan Yesus mengasihi Bapak / Ibu.” Lalu saya tutup dengan senyum simpul dan kemudian saya langsung tancap gas dan perlahan-lahan saya melihat orang itu lewat kaca spion. Ada yang menunjukkan ekspresi bingung, ada yang ekspresinya senang, ada yang ekspresinya kaget, ada yang gabungan dari bingung, senang dan kaget. Tetapi tahukah Anda siapakah orang yang paling senang? Orang yang paling bahagia adalah saya! Bahagia rasanya bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan buat orang lain yang saya tidak kenal sama sekali. Sungguh benar apa yang Yesus katakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Rasul 20:35)
Saya yakin, demikian juga orang-orang yang hatinya tergerak dan yang jiwanya terdorong untuk membawa persembahan khusus bagi Tuhan, yang dicatat di kitab Keluaran, pasti mereka sangat berbahagia! Mereka dengan rela dan sukacita datang membawa “anting-anting hidung”, “anting-anting telinga”, “cincin meterai”, dan “kerongsang” (kalung), serta “segala macam barang emas” ke hadapan Tuhan (Keluaran 35:22). Mereka tergerak – di ayat 21 – lalu mereka bergerak – di ayat 22.
Tetapi melihat kondisi umat Tuhan pada jaman ini sangat disayangkan. Ketika manusia semakin matrelialistis, maka manusia pun semakin dingin untuk memberi bagi orang lain atau bagi pekerjaan Tuhan. Pusat utama mereka bukan lagi apa yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan apa yang menyenangkan dan memanjakan hati mereka. Mereka lupa bahwa segala kekayaan mereka datang-nya adalah dari Tuhan. Salomo – seorang raja Israel yang terkaya di sepanjang sejarah para raja-raja Israel – pernah berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)
Kiranya Tuhan membuat hati kita “tergerak” (bentuk pasif) dan kemudian tangan ini “bergerak” (bentuk aktif) meresponi panggilan Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi sesama dan bagi pekerjaan-Nya di dunia ini. Amin.
Ayat Bacaan: Keluaran 35:21a
-------------------------------
“Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN. . .”
Prinsip utama dari persembahan yang sejati adalah lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan si pemberi persembahan tidak ingin menonjolkan nama-nya melalui persembahan tersebut (baca: Matius 6:3-4 – “[J]ika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). Persembahan yang sejati bukan lahir dari keterpaksaan, bukan juga lahir dari motif terselubung, dan yang lebih penting bukan lahir dari keangkuhan.
Dulu ketika saya masih kuliah, saya suka menyisihkan uang jajan mingguan untuk saya berikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Setiap akhir bulan, uang jajan mingguan yang saya sudah sisihkan saya masukkan ke dalam amplop, lalu di dalam amplop itu saya juga masukkan traktat Kristen + waktu itu saya juga masukkan foto Tuhan Yesus - Konsep yang ada di benak saya pada waktu itu sederhana; saya hanya ingin bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan buat orang lain yang membutuhkan, tetapi saya juga ingin orang yang menerima bantuan dari saya itu mengetahui bahwa bantuan itu datang-nya dari Tuhan Yesus bukan dari saya, tetapi kebetulan “orang suruhan” (messenger) yang Tuhan Yesus pilih ialah saya.
Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan cara memilih acak (random choosing) “target” yang akan saya berikan amplop setiap bulannya. Jadi, setiap pulang kuliah saya dalam hati berdoa kepada Tuhan sambil mengendarai motor, saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, tunjukkanlah siapa orang yang Engkau ingin agar dia menerima amplop ini, bimbing aku ya Tuhan.” Demikian doa saya dalam hati.
Nah, biasanya nanti Tuhan condongkan hati saya kepada orang tertentu setelah saya berdoa. Jika dorongan itu makin kuat, maka saya segera menepi lalu men-stop motor saya, dan kemudian saya memanggil orang tersebut – orang itu bisa seorang tukang parkir, seorang tukang sapu jalanan, anak kecil yang sedang mengamen, orang lansia yang sedang terhuyung-huyung berjalan kaki di sore hari, atau ibu-ibu tua yang sedang menenteng bawaannya, dll. – setelah saya memanggil orang tersebut, saya lalu mengatakan demikian kepadanya: “Pak / Bu, ini amplop buat Bapak / Ibu. Di dalamnya ada uang ala kadarnya, silahkan Bapak / Ibu pakai untuk keperluan Bapak / Ibu. Ini dari Tuhan Yesus buat Bapak / Ibu. Terima ya, Tuhan Yesus mengasihi Bapak / Ibu.” Lalu saya tutup dengan senyum simpul dan kemudian saya langsung tancap gas dan perlahan-lahan saya melihat orang itu lewat kaca spion. Ada yang menunjukkan ekspresi bingung, ada yang ekspresinya senang, ada yang ekspresinya kaget, ada yang gabungan dari bingung, senang dan kaget. Tetapi tahukah Anda siapakah orang yang paling senang? Orang yang paling bahagia adalah saya! Bahagia rasanya bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan buat orang lain yang saya tidak kenal sama sekali. Sungguh benar apa yang Yesus katakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Rasul 20:35)
Saya yakin, demikian juga orang-orang yang hatinya tergerak dan yang jiwanya terdorong untuk membawa persembahan khusus bagi Tuhan, yang dicatat di kitab Keluaran, pasti mereka sangat berbahagia! Mereka dengan rela dan sukacita datang membawa “anting-anting hidung”, “anting-anting telinga”, “cincin meterai”, dan “kerongsang” (kalung), serta “segala macam barang emas” ke hadapan Tuhan (Keluaran 35:22). Mereka tergerak – di ayat 21 – lalu mereka bergerak – di ayat 22.
Tetapi melihat kondisi umat Tuhan pada jaman ini sangat disayangkan. Ketika manusia semakin matrelialistis, maka manusia pun semakin dingin untuk memberi bagi orang lain atau bagi pekerjaan Tuhan. Pusat utama mereka bukan lagi apa yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan apa yang menyenangkan dan memanjakan hati mereka. Mereka lupa bahwa segala kekayaan mereka datang-nya adalah dari Tuhan. Salomo – seorang raja Israel yang terkaya di sepanjang sejarah para raja-raja Israel – pernah berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)
Kiranya Tuhan membuat hati kita “tergerak” (bentuk pasif) dan kemudian tangan ini “bergerak” (bentuk aktif) meresponi panggilan Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi sesama dan bagi pekerjaan-Nya di dunia ini. Amin.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Tergerak, Lalu Bergerak
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 35:21a
-------------------------------
“Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN. . .”
Prinsip utama dari persembahan yang sejati adalah lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan si pemberi persembahan tidak ingin menonjolkan nama-nya melalui persembahan tersebut (baca: Matius 6:3-4 – “[J]ika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). Persembahan yang sejati bukan lahir dari keterpaksaan, bukan juga lahir dari motif terselubung, dan yang lebih penting bukan lahir dari keangkuhan.
Dulu ketika saya masih kuliah, saya suka menyisihkan uang jajan mingguan untuk saya berikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Setiap akhir bulan, uang jajan mingguan yang saya sudah sisihkan saya masukkan ke dalam amplop, lalu di dalam amplop itu saya juga masukkan traktat Kristen + waktu itu saya juga masukkan foto Tuhan Yesus - Konsep yang ada di benak saya pada waktu itu sederhana; saya hanya ingin bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan buat orang lain yang membutuhkan, tetapi saya juga ingin orang yang menerima bantuan dari saya itu mengetahui bahwa bantuan itu datang-nya dari Tuhan Yesus bukan dari saya, tetapi kebetulan “orang suruhan” (messenger) yang Tuhan Yesus pilih ialah saya.
Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan cara memilih acak (random choosing) “target” yang akan saya berikan amplop setiap bulannya. Jadi, setiap pulang kuliah saya dalam hati berdoa kepada Tuhan sambil mengendarai motor, saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, tunjukkanlah siapa orang yang Engkau ingin agar dia menerima amplop ini, bimbing aku ya Tuhan.” Demikian doa saya dalam hati.
Nah, biasanya nanti Tuhan condongkan hati saya kepada orang tertentu setelah saya berdoa. Jika dorongan itu makin kuat, maka saya segera menepi lalu men-stop motor saya, dan kemudian saya memanggil orang tersebut – orang itu bisa seorang tukang parkir, seorang tukang sapu jalanan, anak kecil yang sedang mengamen, orang lansia yang sedang terhuyung-huyung berjalan kaki di sore hari, atau ibu-ibu tua yang sedang menenteng bawaannya, dll. – setelah saya memanggil orang tersebut, saya lalu mengatakan demikian kepadanya: “Pak / Bu, ini amplop buat Bapak / Ibu. Di dalamnya ada uang ala kadarnya, silahkan Bapak / Ibu pakai untuk keperluan Bapak / Ibu. Ini dari Tuhan Yesus buat Bapak / Ibu. Terima ya, Tuhan Yesus mengasihi Bapak / Ibu.” Lalu saya tutup dengan senyum simpul dan kemudian saya langsung tancap gas dan perlahan-lahan saya melihat orang itu lewat kaca spion. Ada yang menunjukkan ekspresi bingung, ada yang ekspresinya senang, ada yang ekspresinya kaget, ada yang gabungan dari bingung, senang dan kaget. Tetapi tahukah Anda siapakah orang yang paling senang? Orang yang paling bahagia adalah saya! Bahagia rasanya bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan buat orang lain yang saya tidak kenal sama sekali. Sungguh benar apa yang Yesus katakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Rasul 20:35)
Saya yakin, demikian juga orang-orang yang hatinya tergerak dan yang jiwanya terdorong untuk membawa persembahan khusus bagi Tuhan, yang dicatat di kitab Keluaran, pasti mereka sangat berbahagia! Mereka dengan rela dan sukacita datang membawa “anting-anting hidung”, “anting-anting telinga”, “cincin meterai”, dan “kerongsang” (kalung), serta “segala macam barang emas” ke hadapan Tuhan (Keluaran 35:22). Mereka tergerak – di ayat 21 – lalu mereka bergerak – di ayat 22.
Tetapi melihat kondisi umat Tuhan pada jaman ini sangat disayangkan. Ketika manusia semakin matrelialistis, maka manusia pun semakin dingin untuk memberi bagi orang lain atau bagi pekerjaan Tuhan. Pusat utama mereka bukan lagi apa yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan apa yang menyenangkan dan memanjakan hati mereka. Mereka lupa bahwa segala kekayaan mereka datang-nya adalah dari Tuhan. Salomo – seorang raja Israel yang terkaya di sepanjang sejarah para raja-raja Israel – pernah berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)
Kiranya Tuhan membuat hati kita “tergerak” (bentuk pasif) dan kemudian tangan ini “bergerak” (bentuk aktif) meresponi panggilan Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi sesama dan bagi pekerjaan-Nya di dunia ini. Amin.
Ayat Bacaan: Keluaran 35:21a
-------------------------------
“Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN. . .”
Prinsip utama dari persembahan yang sejati adalah lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan si pemberi persembahan tidak ingin menonjolkan nama-nya melalui persembahan tersebut (baca: Matius 6:3-4 – “[J]ika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). Persembahan yang sejati bukan lahir dari keterpaksaan, bukan juga lahir dari motif terselubung, dan yang lebih penting bukan lahir dari keangkuhan.
Dulu ketika saya masih kuliah, saya suka menyisihkan uang jajan mingguan untuk saya berikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Setiap akhir bulan, uang jajan mingguan yang saya sudah sisihkan saya masukkan ke dalam amplop, lalu di dalam amplop itu saya juga masukkan traktat Kristen + waktu itu saya juga masukkan foto Tuhan Yesus - Konsep yang ada di benak saya pada waktu itu sederhana; saya hanya ingin bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan buat orang lain yang membutuhkan, tetapi saya juga ingin orang yang menerima bantuan dari saya itu mengetahui bahwa bantuan itu datang-nya dari Tuhan Yesus bukan dari saya, tetapi kebetulan “orang suruhan” (messenger) yang Tuhan Yesus pilih ialah saya.
Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan cara memilih acak (random choosing) “target” yang akan saya berikan amplop setiap bulannya. Jadi, setiap pulang kuliah saya dalam hati berdoa kepada Tuhan sambil mengendarai motor, saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, tunjukkanlah siapa orang yang Engkau ingin agar dia menerima amplop ini, bimbing aku ya Tuhan.” Demikian doa saya dalam hati.
Nah, biasanya nanti Tuhan condongkan hati saya kepada orang tertentu setelah saya berdoa. Jika dorongan itu makin kuat, maka saya segera menepi lalu men-stop motor saya, dan kemudian saya memanggil orang tersebut – orang itu bisa seorang tukang parkir, seorang tukang sapu jalanan, anak kecil yang sedang mengamen, orang lansia yang sedang terhuyung-huyung berjalan kaki di sore hari, atau ibu-ibu tua yang sedang menenteng bawaannya, dll. – setelah saya memanggil orang tersebut, saya lalu mengatakan demikian kepadanya: “Pak / Bu, ini amplop buat Bapak / Ibu. Di dalamnya ada uang ala kadarnya, silahkan Bapak / Ibu pakai untuk keperluan Bapak / Ibu. Ini dari Tuhan Yesus buat Bapak / Ibu. Terima ya, Tuhan Yesus mengasihi Bapak / Ibu.” Lalu saya tutup dengan senyum simpul dan kemudian saya langsung tancap gas dan perlahan-lahan saya melihat orang itu lewat kaca spion. Ada yang menunjukkan ekspresi bingung, ada yang ekspresinya senang, ada yang ekspresinya kaget, ada yang gabungan dari bingung, senang dan kaget. Tetapi tahukah Anda siapakah orang yang paling senang? Orang yang paling bahagia adalah saya! Bahagia rasanya bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan buat orang lain yang saya tidak kenal sama sekali. Sungguh benar apa yang Yesus katakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Rasul 20:35)
Saya yakin, demikian juga orang-orang yang hatinya tergerak dan yang jiwanya terdorong untuk membawa persembahan khusus bagi Tuhan, yang dicatat di kitab Keluaran, pasti mereka sangat berbahagia! Mereka dengan rela dan sukacita datang membawa “anting-anting hidung”, “anting-anting telinga”, “cincin meterai”, dan “kerongsang” (kalung), serta “segala macam barang emas” ke hadapan Tuhan (Keluaran 35:22). Mereka tergerak – di ayat 21 – lalu mereka bergerak – di ayat 22.
Tetapi melihat kondisi umat Tuhan pada jaman ini sangat disayangkan. Ketika manusia semakin matrelialistis, maka manusia pun semakin dingin untuk memberi bagi orang lain atau bagi pekerjaan Tuhan. Pusat utama mereka bukan lagi apa yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan apa yang menyenangkan dan memanjakan hati mereka. Mereka lupa bahwa segala kekayaan mereka datang-nya adalah dari Tuhan. Salomo – seorang raja Israel yang terkaya di sepanjang sejarah para raja-raja Israel – pernah berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)
Kiranya Tuhan membuat hati kita “tergerak” (bentuk pasif) dan kemudian tangan ini “bergerak” (bentuk aktif) meresponi panggilan Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi sesama dan bagi pekerjaan-Nya di dunia ini. Amin.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Jumat, 26 November 2010
From RHO-ers: Tutup Pendamaian
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 37:9
-------------------------------
“Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu.”
Tutup Pendamaian adalah elemen yang sangat penting dari Tabut Perjanjian bangsa Israel. Sebab dari Tutup Pendamaian inilah Allah pernah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan berbicara dari atas tutup peti – yakni Tutup Pendamaian – di antara kedua kerub. “Dan disanalah Aku (YHWH) akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku (YHWH) akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (Keluaran 25:22)
Dengan sangat jelas dan spesifik Allah mengatakan kepada Musa D-I-M-A-N-A Diri-Nya dapat ditemui dan didengar suara-Nya. Itulah sebab proses pembuatan Tabut Perjanjian – yang di atasnya ditutup dengan Tutup Pendamaian – dicatat oleh Alkitab dengan begitu detail dan spesifik, seperti yang Allah perintahkan kepada Musa bagaimana Tabut itu harus dibuat. Bahkan, dengan sangat jelas dan spesifik pula Allah telah menunjuk siapa yang harus membuat Tabut Perjanjian itu, yakni Bezaleel (lihat: Keluaran 36:1)
Dibalik Tutup Pendamaian itu terdapat 3 (tiga) buah benda yang sangat penting. Ketiga benda itu adalah pertama, Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah (lihat: Keluaran 34), kedua, Buli-buli yang berisi Manna, dan ketiga, Tongkat Harun yang bertunas serta berbunga dan berbuah (lihat: Ibrani 9:4; Keluaran 16:32-33; Bilangan 17:8). Ketiga benda ini merupakan simbol dari Kristus yang digenapi-Nya di dalam Perjanjian Baru.
Pertama, “Dua Loh Batu” – Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah ini merupakan simbol yang mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Hidup itu. Firman Hidup yang menyatakan Allah kepada dunia ini (lihat: Yohanes 1:18).
Kedua, “Manna” – Manna (Roti) yaitu makanan yang khusus diberikan oleh Tuhan untuk bangsa Israel ketika mereka masih berada di perantauan. Manna merupakan simbol akan Diri Yesus Kristus yang adalah “Roti Hidup” (lihat: Yohanes 6:35, 48, 51).
Dan ketiga, “Tongkat Harun” – Tongkat Harun yang bertunas, berbunga serta berbuah adalah simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang dapat memberikan “tunas” hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (lihat: Yohanes 11:25-26).
Apa yang Yesus kerjakan di dalam kehidupan-Nya selama 33 ½ tahun adalah menggenapi simbol atau perlambangan di atas. Ia – Kristus – menjadikan Diri-Nya “Tutup Pendamaian” bagi kita semua. Sehingga lewat Yesus Kristus – Sang Tutup Pendamaian itu – kita yang percaya kepada Kristus dapat bertemu dan berbicara kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara Imam Besar lagi.
Membayangkan ribet-nya orang-orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama (PL) jika ingin bertemu dan berbicara dengan Allah, membuat hati saya bergetar penuh syukur karena lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, saya – dan Anda – tidak perlu lagi melalui ke-ribet-an “tata cara” PL untuk dapat bertemu dan berbicara kepada Allah.
Tetapi sungguh miris dan nyeri rasanya ketika merenungi kehidupan orang-orang yang hidup pasca Perjanjian Baru yang justru tidak menghargai waktu untuk boleh bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa. Jika orang-orang PL hanya bisa bertemu dan berbicara kepada Allah setahun sekali, dan itupun hanya seorang Imam Besar saja yang boleh masuk, maka kita yang sekarang hidup justru tidak menghargai akses langsung tanpa hambatan dan birokrasi untuk bertemu dan berbicara dengan Allah lewat Yesus Kristus di dalam doa. Kita malas berdoa, kita enggan berkomunikasi dengan Allah, kita ogah-ogahan ketika menaikkan doa syafaat, dan bahkan kita terkadang lupa untuk sekedar doa syukur untuk makanan “hari ini” yang kita terima.
Kiranya renungan sederhana ini bisa membuat hati kita tergugah dan membangkitkan kerinduan yang hangat untuk mau bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa.
Ayat Bacaan: Keluaran 37:9
-------------------------------
“Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu.”
Tutup Pendamaian adalah elemen yang sangat penting dari Tabut Perjanjian bangsa Israel. Sebab dari Tutup Pendamaian inilah Allah pernah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan berbicara dari atas tutup peti – yakni Tutup Pendamaian – di antara kedua kerub. “Dan disanalah Aku (YHWH) akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku (YHWH) akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (Keluaran 25:22)
Dengan sangat jelas dan spesifik Allah mengatakan kepada Musa D-I-M-A-N-A Diri-Nya dapat ditemui dan didengar suara-Nya. Itulah sebab proses pembuatan Tabut Perjanjian – yang di atasnya ditutup dengan Tutup Pendamaian – dicatat oleh Alkitab dengan begitu detail dan spesifik, seperti yang Allah perintahkan kepada Musa bagaimana Tabut itu harus dibuat. Bahkan, dengan sangat jelas dan spesifik pula Allah telah menunjuk siapa yang harus membuat Tabut Perjanjian itu, yakni Bezaleel (lihat: Keluaran 36:1)
Dibalik Tutup Pendamaian itu terdapat 3 (tiga) buah benda yang sangat penting. Ketiga benda itu adalah pertama, Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah (lihat: Keluaran 34), kedua, Buli-buli yang berisi Manna, dan ketiga, Tongkat Harun yang bertunas serta berbunga dan berbuah (lihat: Ibrani 9:4; Keluaran 16:32-33; Bilangan 17:8). Ketiga benda ini merupakan simbol dari Kristus yang digenapi-Nya di dalam Perjanjian Baru.
Pertama, “Dua Loh Batu” – Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah ini merupakan simbol yang mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Hidup itu. Firman Hidup yang menyatakan Allah kepada dunia ini (lihat: Yohanes 1:18).
Kedua, “Manna” – Manna (Roti) yaitu makanan yang khusus diberikan oleh Tuhan untuk bangsa Israel ketika mereka masih berada di perantauan. Manna merupakan simbol akan Diri Yesus Kristus yang adalah “Roti Hidup” (lihat: Yohanes 6:35, 48, 51).
Dan ketiga, “Tongkat Harun” – Tongkat Harun yang bertunas, berbunga serta berbuah adalah simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang dapat memberikan “tunas” hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (lihat: Yohanes 11:25-26).
Apa yang Yesus kerjakan di dalam kehidupan-Nya selama 33 ½ tahun adalah menggenapi simbol atau perlambangan di atas. Ia – Kristus – menjadikan Diri-Nya “Tutup Pendamaian” bagi kita semua. Sehingga lewat Yesus Kristus – Sang Tutup Pendamaian itu – kita yang percaya kepada Kristus dapat bertemu dan berbicara kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara Imam Besar lagi.
Membayangkan ribet-nya orang-orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama (PL) jika ingin bertemu dan berbicara dengan Allah, membuat hati saya bergetar penuh syukur karena lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, saya – dan Anda – tidak perlu lagi melalui ke-ribet-an “tata cara” PL untuk dapat bertemu dan berbicara kepada Allah.
Tetapi sungguh miris dan nyeri rasanya ketika merenungi kehidupan orang-orang yang hidup pasca Perjanjian Baru yang justru tidak menghargai waktu untuk boleh bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa. Jika orang-orang PL hanya bisa bertemu dan berbicara kepada Allah setahun sekali, dan itupun hanya seorang Imam Besar saja yang boleh masuk, maka kita yang sekarang hidup justru tidak menghargai akses langsung tanpa hambatan dan birokrasi untuk bertemu dan berbicara dengan Allah lewat Yesus Kristus di dalam doa. Kita malas berdoa, kita enggan berkomunikasi dengan Allah, kita ogah-ogahan ketika menaikkan doa syafaat, dan bahkan kita terkadang lupa untuk sekedar doa syukur untuk makanan “hari ini” yang kita terima.
Kiranya renungan sederhana ini bisa membuat hati kita tergugah dan membangkitkan kerinduan yang hangat untuk mau bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Tutup Pendamaian
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 37:9
-------------------------------
“Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu.”
Tutup Pendamaian adalah elemen yang sangat penting dari Tabut Perjanjian bangsa Israel. Sebab dari Tutup Pendamaian inilah Allah pernah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan berbicara dari atas tutup peti – yakni Tutup Pendamaian – di antara kedua kerub. “Dan disanalah Aku (YHWH) akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku (YHWH) akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (Keluaran 25:22)
Dengan sangat jelas dan spesifik Allah mengatakan kepada Musa D-I-M-A-N-A Diri-Nya dapat ditemui dan didengar suara-Nya. Itulah sebab proses pembuatan Tabut Perjanjian – yang di atasnya ditutup dengan Tutup Pendamaian – dicatat oleh Alkitab dengan begitu detail dan spesifik, seperti yang Allah perintahkan kepada Musa bagaimana Tabut itu harus dibuat. Bahkan, dengan sangat jelas dan spesifik pula Allah telah menunjuk siapa yang harus membuat Tabut Perjanjian itu, yakni Bezaleel (lihat: Keluaran 36:1)
Dibalik Tutup Pendamaian itu terdapat 3 (tiga) buah benda yang sangat penting. Ketiga benda itu adalah pertama, Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah (lihat: Keluaran 34), kedua, Buli-buli yang berisi Manna, dan ketiga, Tongkat Harun yang bertunas serta berbunga dan berbuah (lihat: Ibrani 9:4; Keluaran 16:32-33; Bilangan 17:8). Ketiga benda ini merupakan simbol dari Kristus yang digenapi-Nya di dalam Perjanjian Baru.
Pertama, “Dua Loh Batu” – Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah ini merupakan simbol yang mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Hidup itu. Firman Hidup yang menyatakan Allah kepada dunia ini (lihat: Yohanes 1:18).
Kedua, “Manna” – Manna (Roti) yaitu makanan yang khusus diberikan oleh Tuhan untuk bangsa Israel ketika mereka masih berada di perantauan. Manna merupakan simbol akan Diri Yesus Kristus yang adalah “Roti Hidup” (lihat: Yohanes 6:35, 48, 51).
Dan ketiga, “Tongkat Harun” – Tongkat Harun yang bertunas, berbunga serta berbuah adalah simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang dapat memberikan “tunas” hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (lihat: Yohanes 11:25-26).
Apa yang Yesus kerjakan di dalam kehidupan-Nya selama 33 ½ tahun adalah menggenapi simbol atau perlambangan di atas. Ia – Kristus – menjadikan Diri-Nya “Tutup Pendamaian” bagi kita semua. Sehingga lewat Yesus Kristus – Sang Tutup Pendamaian itu – kita yang percaya kepada Kristus dapat bertemu dan berbicara kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara Imam Besar lagi.
Membayangkan ribet-nya orang-orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama (PL) jika ingin bertemu dan berbicara dengan Allah, membuat hati saya bergetar penuh syukur karena lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, saya – dan Anda – tidak perlu lagi melalui ke-ribet-an “tata cara” PL untuk dapat bertemu dan berbicara kepada Allah.
Tetapi sungguh miris dan nyeri rasanya ketika merenungi kehidupan orang-orang yang hidup pasca Perjanjian Baru yang justru tidak menghargai waktu untuk boleh bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa. Jika orang-orang PL hanya bisa bertemu dan berbicara kepada Allah setahun sekali, dan itupun hanya seorang Imam Besar saja yang boleh masuk, maka kita yang sekarang hidup justru tidak menghargai akses langsung tanpa hambatan dan birokrasi untuk bertemu dan berbicara dengan Allah lewat Yesus Kristus di dalam doa. Kita malas berdoa, kita enggan berkomunikasi dengan Allah, kita ogah-ogahan ketika menaikkan doa syafaat, dan bahkan kita terkadang lupa untuk sekedar doa syukur untuk makanan “hari ini” yang kita terima.
Kiranya renungan sederhana ini bisa membuat hati kita tergugah dan membangkitkan kerinduan yang hangat untuk mau bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa.
Ayat Bacaan: Keluaran 37:9
-------------------------------
“Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu.”
Tutup Pendamaian adalah elemen yang sangat penting dari Tabut Perjanjian bangsa Israel. Sebab dari Tutup Pendamaian inilah Allah pernah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan berbicara dari atas tutup peti – yakni Tutup Pendamaian – di antara kedua kerub. “Dan disanalah Aku (YHWH) akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku (YHWH) akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (Keluaran 25:22)
Dengan sangat jelas dan spesifik Allah mengatakan kepada Musa D-I-M-A-N-A Diri-Nya dapat ditemui dan didengar suara-Nya. Itulah sebab proses pembuatan Tabut Perjanjian – yang di atasnya ditutup dengan Tutup Pendamaian – dicatat oleh Alkitab dengan begitu detail dan spesifik, seperti yang Allah perintahkan kepada Musa bagaimana Tabut itu harus dibuat. Bahkan, dengan sangat jelas dan spesifik pula Allah telah menunjuk siapa yang harus membuat Tabut Perjanjian itu, yakni Bezaleel (lihat: Keluaran 36:1)
Dibalik Tutup Pendamaian itu terdapat 3 (tiga) buah benda yang sangat penting. Ketiga benda itu adalah pertama, Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah (lihat: Keluaran 34), kedua, Buli-buli yang berisi Manna, dan ketiga, Tongkat Harun yang bertunas serta berbunga dan berbuah (lihat: Ibrani 9:4; Keluaran 16:32-33; Bilangan 17:8). Ketiga benda ini merupakan simbol dari Kristus yang digenapi-Nya di dalam Perjanjian Baru.
Pertama, “Dua Loh Batu” – Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah ini merupakan simbol yang mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Hidup itu. Firman Hidup yang menyatakan Allah kepada dunia ini (lihat: Yohanes 1:18).
Kedua, “Manna” – Manna (Roti) yaitu makanan yang khusus diberikan oleh Tuhan untuk bangsa Israel ketika mereka masih berada di perantauan. Manna merupakan simbol akan Diri Yesus Kristus yang adalah “Roti Hidup” (lihat: Yohanes 6:35, 48, 51).
Dan ketiga, “Tongkat Harun” – Tongkat Harun yang bertunas, berbunga serta berbuah adalah simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang dapat memberikan “tunas” hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (lihat: Yohanes 11:25-26).
Apa yang Yesus kerjakan di dalam kehidupan-Nya selama 33 ½ tahun adalah menggenapi simbol atau perlambangan di atas. Ia – Kristus – menjadikan Diri-Nya “Tutup Pendamaian” bagi kita semua. Sehingga lewat Yesus Kristus – Sang Tutup Pendamaian itu – kita yang percaya kepada Kristus dapat bertemu dan berbicara kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara Imam Besar lagi.
Membayangkan ribet-nya orang-orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama (PL) jika ingin bertemu dan berbicara dengan Allah, membuat hati saya bergetar penuh syukur karena lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, saya – dan Anda – tidak perlu lagi melalui ke-ribet-an “tata cara” PL untuk dapat bertemu dan berbicara kepada Allah.
Tetapi sungguh miris dan nyeri rasanya ketika merenungi kehidupan orang-orang yang hidup pasca Perjanjian Baru yang justru tidak menghargai waktu untuk boleh bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa. Jika orang-orang PL hanya bisa bertemu dan berbicara kepada Allah setahun sekali, dan itupun hanya seorang Imam Besar saja yang boleh masuk, maka kita yang sekarang hidup justru tidak menghargai akses langsung tanpa hambatan dan birokrasi untuk bertemu dan berbicara dengan Allah lewat Yesus Kristus di dalam doa. Kita malas berdoa, kita enggan berkomunikasi dengan Allah, kita ogah-ogahan ketika menaikkan doa syafaat, dan bahkan kita terkadang lupa untuk sekedar doa syukur untuk makanan “hari ini” yang kita terima.
Kiranya renungan sederhana ini bisa membuat hati kita tergugah dan membangkitkan kerinduan yang hangat untuk mau bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Selasa, 08 Juni 2010
From RHO-ers: Bunuh Diri!
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: 2 Samuel 17:23
=======================
“Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya.”
Kalau kota Ambon pada tanggal 29 Mei 2009 kemarin dihebohkan dengan gempa bumi, maka pada tanggal 30 Mei 2009 dihebohkan kembali dengan berita seorang pemuda yang bunuh diri dengan menggantung diri di menara Gereja Maranatha (http://news.okezone.com/read/2009/05/30/1/224505/seorang-pemuda-gantung-diri-di-menara-gereja). Motif dan penyebab pria ini bunuh diri belumlah jelas. Akan tetapi pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa saya adalah pertanyaan: “apakah yang terjadi di dalam jiwa pria ini sehingga ia merencanakan, mengusahakan, mewujudnyatakan, dan mensukseskan dirinya untuk mati tergantung di menara Gereja?”
Beberapa penduduk yang ikut menyaksikan proses mayat pria tersebut diturunkan dari menara gereja ada yang mengatakan bahwa pria tersebut putus asa karena terlilit hutang. Lalu apakah yang membuat pria ini sampai berpikir begitu sempitnya sehingga memutuskan untuk menyelesaikan masalah hutangnya dengan mengakhiri nyawanya sendiri? Inilah misteri yang hanya dapat dijawab oleh pria tersebut.
Di dalam kutipan firman Tuhan hari ini kita membaca apa yang menjadi motif dari Ahitofel menggantung dirinya sendiri: karena nasihatnya tidak dipedulikan! Ahitofel adalah penasihat Raja Daud yang setia, sampai akhirnya Ahitofel memutuskan untuk berkhianat dengan mendukung kudeta yang dilakukan oleh Absalom. Tetapi kedaulatan Tuhan sekali lagi kita lihat di dalam kisah ini, Tuhan sungguh melindungi Raja Daud dari rencana dan nasihat jahat Ahitofel yang ia coba berikan kepada Absalom. Tuhan memakai Husai untuk memberikan nasihat perbandingan kepada Absalom. Dan akhirnya Absalom justru lebih mendengarkan nasihat Husai daripada nasihat Ahitofel. Sebab memang nasihat Husai adalah bermaksud untuk menyelamatkan Raja Daud dari tangan Absalom yang ambisius dan haus kedudukan.
Alkitab mencatat bahwa setelah Ahitofel melihat bahwa nasihatnya tidak diindahkan oleh Absalom, ia: (1) memasang pelana keledainya, (2) berangkat ke rumahnya, (3) mengatur urusan rumah tangganya, kemudian barulah ia (4) menggantung diri! [perhatikanlah urut-urutan perilaku Ahitofel sebelum ia melakukan bunuh diri!] Tidakkah urut-urutan perilaku Ahitofel juga terjadi pada pria yang belum dikenali identitasnya di atas tadi? Ia pada pukul 06.00 pagi pergi ke Gereja, ia menaiki bambu yang ada di menara Gereja, ia melilitkan tali tersebut pada lehernya, ia merenungi sekali lagi (mungkin) niatnya, akhirnya… ia menjatuhkan dirinya sambil lehernya terikat tali, dan ia mati!
Apakah yang terjadi dengan dunia kita hari ini? Manusia sudah tidak lagi menghargai bukan saja nyawa sesamanya manusia, melainkan manusia sudah tidak lagi menghargai nyawanya sendiri! Bunuh diri seolah-olah sudah menjadi solusi paling praktis untuk menyelesaikan masalah. Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini? Jawaban yang mungkin menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia jauh lebih berani mati daripada berani hidup! Manusia sudah tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang optimistic dan yang menjanjikan. Justru kematian jauh lebih menjanjikan “jalan keluar” dari kesusahan hidup! Tidakkah “mind-set” ini yang sebenarnya sedang “mewabah” pada pikiran dan jiwa manusia yang semakin hari semakin rapuh dan irritated dengan hidup? Manusia menjadi begitu sulit untuk menguasai diri dan menjadi tenang serta cermat menyikapi kehidupan ini. Bukankah Petrus di dalam 1 Petrus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
Saya pikir jawaban atas pertanyaan “Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini?” adalah: karena manusia salah menaruh pusat perhatian jiwa-raga-dan-pikirannya! Manusia menjadi begitu “asyik” dengan problema dan tekanan hidup yang ia alami, sampai-sampai membuat ia lupa bahwa ia mempunyai Tuhan yang Maha Pemelihara! Seandainya saja focus kebanyakan dari kita (apalagi yang sudah menjadi anak-anak Tuhan) tidak kita letakkan pada masalah tetapi pada Tuhan, maka pasti kita tidak akan berani berpikir senekad dan secupet seperti Ahitofel dan pria tersebut. Kita akan mulai melihat “remang” dari “kegelapan” masalah hidup yang kita hadapi, lalu perlahan-lahan “remang” itu menjadi “terang siang hari” di dalam ketenangan dan self-control. Sebab hanya di dalam penguasaan diri dan ketenanganlah kita baru dapat berdoa dan menyelaraskan lagi “mind-set” kita dengan “mind-set” firman Tuhan.
Kiranya perenungan ini boleh membukakan cakrawala hati dan pikiran kita semua bahwa masalah hidup boleh datang silih berganti, akan tetapi fokus kita haruslah kita letakkan sepenuh-penuhnya kepada DIA yang Maha Pemelihara. Ingatkah kita akan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17 yang meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihar kita (anak-anak-Nya) senantiasa – “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, PELIHARALAH mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11)
“Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!” (Lukas 12:24)
Ayat Bacaan: 2 Samuel 17:23
=======================
“Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya.”
Kalau kota Ambon pada tanggal 29 Mei 2009 kemarin dihebohkan dengan gempa bumi, maka pada tanggal 30 Mei 2009 dihebohkan kembali dengan berita seorang pemuda yang bunuh diri dengan menggantung diri di menara Gereja Maranatha (http://news.okezone.com/read/2009/05/30/1/224505/seorang-pemuda-gantung-diri-di-menara-gereja). Motif dan penyebab pria ini bunuh diri belumlah jelas. Akan tetapi pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa saya adalah pertanyaan: “apakah yang terjadi di dalam jiwa pria ini sehingga ia merencanakan, mengusahakan, mewujudnyatakan, dan mensukseskan dirinya untuk mati tergantung di menara Gereja?”
Beberapa penduduk yang ikut menyaksikan proses mayat pria tersebut diturunkan dari menara gereja ada yang mengatakan bahwa pria tersebut putus asa karena terlilit hutang. Lalu apakah yang membuat pria ini sampai berpikir begitu sempitnya sehingga memutuskan untuk menyelesaikan masalah hutangnya dengan mengakhiri nyawanya sendiri? Inilah misteri yang hanya dapat dijawab oleh pria tersebut.
Di dalam kutipan firman Tuhan hari ini kita membaca apa yang menjadi motif dari Ahitofel menggantung dirinya sendiri: karena nasihatnya tidak dipedulikan! Ahitofel adalah penasihat Raja Daud yang setia, sampai akhirnya Ahitofel memutuskan untuk berkhianat dengan mendukung kudeta yang dilakukan oleh Absalom. Tetapi kedaulatan Tuhan sekali lagi kita lihat di dalam kisah ini, Tuhan sungguh melindungi Raja Daud dari rencana dan nasihat jahat Ahitofel yang ia coba berikan kepada Absalom. Tuhan memakai Husai untuk memberikan nasihat perbandingan kepada Absalom. Dan akhirnya Absalom justru lebih mendengarkan nasihat Husai daripada nasihat Ahitofel. Sebab memang nasihat Husai adalah bermaksud untuk menyelamatkan Raja Daud dari tangan Absalom yang ambisius dan haus kedudukan.
Alkitab mencatat bahwa setelah Ahitofel melihat bahwa nasihatnya tidak diindahkan oleh Absalom, ia: (1) memasang pelana keledainya, (2) berangkat ke rumahnya, (3) mengatur urusan rumah tangganya, kemudian barulah ia (4) menggantung diri! [perhatikanlah urut-urutan perilaku Ahitofel sebelum ia melakukan bunuh diri!] Tidakkah urut-urutan perilaku Ahitofel juga terjadi pada pria yang belum dikenali identitasnya di atas tadi? Ia pada pukul 06.00 pagi pergi ke Gereja, ia menaiki bambu yang ada di menara Gereja, ia melilitkan tali tersebut pada lehernya, ia merenungi sekali lagi (mungkin) niatnya, akhirnya… ia menjatuhkan dirinya sambil lehernya terikat tali, dan ia mati!
Apakah yang terjadi dengan dunia kita hari ini? Manusia sudah tidak lagi menghargai bukan saja nyawa sesamanya manusia, melainkan manusia sudah tidak lagi menghargai nyawanya sendiri! Bunuh diri seolah-olah sudah menjadi solusi paling praktis untuk menyelesaikan masalah. Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini? Jawaban yang mungkin menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia jauh lebih berani mati daripada berani hidup! Manusia sudah tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang optimistic dan yang menjanjikan. Justru kematian jauh lebih menjanjikan “jalan keluar” dari kesusahan hidup! Tidakkah “mind-set” ini yang sebenarnya sedang “mewabah” pada pikiran dan jiwa manusia yang semakin hari semakin rapuh dan irritated dengan hidup? Manusia menjadi begitu sulit untuk menguasai diri dan menjadi tenang serta cermat menyikapi kehidupan ini. Bukankah Petrus di dalam 1 Petrus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
Saya pikir jawaban atas pertanyaan “Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini?” adalah: karena manusia salah menaruh pusat perhatian jiwa-raga-dan-pikirannya! Manusia menjadi begitu “asyik” dengan problema dan tekanan hidup yang ia alami, sampai-sampai membuat ia lupa bahwa ia mempunyai Tuhan yang Maha Pemelihara! Seandainya saja focus kebanyakan dari kita (apalagi yang sudah menjadi anak-anak Tuhan) tidak kita letakkan pada masalah tetapi pada Tuhan, maka pasti kita tidak akan berani berpikir senekad dan secupet seperti Ahitofel dan pria tersebut. Kita akan mulai melihat “remang” dari “kegelapan” masalah hidup yang kita hadapi, lalu perlahan-lahan “remang” itu menjadi “terang siang hari” di dalam ketenangan dan self-control. Sebab hanya di dalam penguasaan diri dan ketenanganlah kita baru dapat berdoa dan menyelaraskan lagi “mind-set” kita dengan “mind-set” firman Tuhan.
Kiranya perenungan ini boleh membukakan cakrawala hati dan pikiran kita semua bahwa masalah hidup boleh datang silih berganti, akan tetapi fokus kita haruslah kita letakkan sepenuh-penuhnya kepada DIA yang Maha Pemelihara. Ingatkah kita akan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17 yang meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihar kita (anak-anak-Nya) senantiasa – “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, PELIHARALAH mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11)
“Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!” (Lukas 12:24)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Bunuh Diri!
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: 2 Samuel 17:23
=======================
“Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya.”
Kalau kota Ambon pada tanggal 29 Mei 2009 kemarin dihebohkan dengan gempa bumi, maka pada tanggal 30 Mei 2009 dihebohkan kembali dengan berita seorang pemuda yang bunuh diri dengan menggantung diri di menara Gereja Maranatha (http://news.okezone.com/read/2009/05/30/1/224505/seorang-pemuda-gantung-diri-di-menara-gereja). Motif dan penyebab pria ini bunuh diri belumlah jelas. Akan tetapi pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa saya adalah pertanyaan: “apakah yang terjadi di dalam jiwa pria ini sehingga ia merencanakan, mengusahakan, mewujudnyatakan, dan mensukseskan dirinya untuk mati tergantung di menara Gereja?”
Beberapa penduduk yang ikut menyaksikan proses mayat pria tersebut diturunkan dari menara gereja ada yang mengatakan bahwa pria tersebut putus asa karena terlilit hutang. Lalu apakah yang membuat pria ini sampai berpikir begitu sempitnya sehingga memutuskan untuk menyelesaikan masalah hutangnya dengan mengakhiri nyawanya sendiri? Inilah misteri yang hanya dapat dijawab oleh pria tersebut.
Di dalam kutipan firman Tuhan hari ini kita membaca apa yang menjadi motif dari Ahitofel menggantung dirinya sendiri: karena nasihatnya tidak dipedulikan! Ahitofel adalah penasihat Raja Daud yang setia, sampai akhirnya Ahitofel memutuskan untuk berkhianat dengan mendukung kudeta yang dilakukan oleh Absalom. Tetapi kedaulatan Tuhan sekali lagi kita lihat di dalam kisah ini, Tuhan sungguh melindungi Raja Daud dari rencana dan nasihat jahat Ahitofel yang ia coba berikan kepada Absalom. Tuhan memakai Husai untuk memberikan nasihat perbandingan kepada Absalom. Dan akhirnya Absalom justru lebih mendengarkan nasihat Husai daripada nasihat Ahitofel. Sebab memang nasihat Husai adalah bermaksud untuk menyelamatkan Raja Daud dari tangan Absalom yang ambisius dan haus kedudukan.
Alkitab mencatat bahwa setelah Ahitofel melihat bahwa nasihatnya tidak diindahkan oleh Absalom, ia: (1) memasang pelana keledainya, (2) berangkat ke rumahnya, (3) mengatur urusan rumah tangganya, kemudian barulah ia (4) menggantung diri! [perhatikanlah urut-urutan perilaku Ahitofel sebelum ia melakukan bunuh diri!] Tidakkah urut-urutan perilaku Ahitofel juga terjadi pada pria yang belum dikenali identitasnya di atas tadi? Ia pada pukul 06.00 pagi pergi ke Gereja, ia menaiki bambu yang ada di menara Gereja, ia melilitkan tali tersebut pada lehernya, ia merenungi sekali lagi (mungkin) niatnya, akhirnya… ia menjatuhkan dirinya sambil lehernya terikat tali, dan ia mati!
Apakah yang terjadi dengan dunia kita hari ini? Manusia sudah tidak lagi menghargai bukan saja nyawa sesamanya manusia, melainkan manusia sudah tidak lagi menghargai nyawanya sendiri! Bunuh diri seolah-olah sudah menjadi solusi paling praktis untuk menyelesaikan masalah. Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini? Jawaban yang mungkin menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia jauh lebih berani mati daripada berani hidup! Manusia sudah tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang optimistic dan yang menjanjikan. Justru kematian jauh lebih menjanjikan “jalan keluar” dari kesusahan hidup! Tidakkah “mind-set” ini yang sebenarnya sedang “mewabah” pada pikiran dan jiwa manusia yang semakin hari semakin rapuh dan irritated dengan hidup? Manusia menjadi begitu sulit untuk menguasai diri dan menjadi tenang serta cermat menyikapi kehidupan ini. Bukankah Petrus di dalam 1 Petrus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
Saya pikir jawaban atas pertanyaan “Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini?” adalah: karena manusia salah menaruh pusat perhatian jiwa-raga-dan-pikirannya! Manusia menjadi begitu “asyik” dengan problema dan tekanan hidup yang ia alami, sampai-sampai membuat ia lupa bahwa ia mempunyai Tuhan yang Maha Pemelihara! Seandainya saja focus kebanyakan dari kita (apalagi yang sudah menjadi anak-anak Tuhan) tidak kita letakkan pada masalah tetapi pada Tuhan, maka pasti kita tidak akan berani berpikir senekad dan secupet seperti Ahitofel dan pria tersebut. Kita akan mulai melihat “remang” dari “kegelapan” masalah hidup yang kita hadapi, lalu perlahan-lahan “remang” itu menjadi “terang siang hari” di dalam ketenangan dan self-control. Sebab hanya di dalam penguasaan diri dan ketenanganlah kita baru dapat berdoa dan menyelaraskan lagi “mind-set” kita dengan “mind-set” firman Tuhan.
Kiranya perenungan ini boleh membukakan cakrawala hati dan pikiran kita semua bahwa masalah hidup boleh datang silih berganti, akan tetapi fokus kita haruslah kita letakkan sepenuh-penuhnya kepada DIA yang Maha Pemelihara. Ingatkah kita akan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17 yang meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihar kita (anak-anak-Nya) senantiasa – “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, PELIHARALAH mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11)
“Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!” (Lukas 12:24)
Ayat Bacaan: 2 Samuel 17:23
=======================
“Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya.”
Kalau kota Ambon pada tanggal 29 Mei 2009 kemarin dihebohkan dengan gempa bumi, maka pada tanggal 30 Mei 2009 dihebohkan kembali dengan berita seorang pemuda yang bunuh diri dengan menggantung diri di menara Gereja Maranatha (http://news.okezone.com/read/2009/05/30/1/224505/seorang-pemuda-gantung-diri-di-menara-gereja). Motif dan penyebab pria ini bunuh diri belumlah jelas. Akan tetapi pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa saya adalah pertanyaan: “apakah yang terjadi di dalam jiwa pria ini sehingga ia merencanakan, mengusahakan, mewujudnyatakan, dan mensukseskan dirinya untuk mati tergantung di menara Gereja?”
Beberapa penduduk yang ikut menyaksikan proses mayat pria tersebut diturunkan dari menara gereja ada yang mengatakan bahwa pria tersebut putus asa karena terlilit hutang. Lalu apakah yang membuat pria ini sampai berpikir begitu sempitnya sehingga memutuskan untuk menyelesaikan masalah hutangnya dengan mengakhiri nyawanya sendiri? Inilah misteri yang hanya dapat dijawab oleh pria tersebut.
Di dalam kutipan firman Tuhan hari ini kita membaca apa yang menjadi motif dari Ahitofel menggantung dirinya sendiri: karena nasihatnya tidak dipedulikan! Ahitofel adalah penasihat Raja Daud yang setia, sampai akhirnya Ahitofel memutuskan untuk berkhianat dengan mendukung kudeta yang dilakukan oleh Absalom. Tetapi kedaulatan Tuhan sekali lagi kita lihat di dalam kisah ini, Tuhan sungguh melindungi Raja Daud dari rencana dan nasihat jahat Ahitofel yang ia coba berikan kepada Absalom. Tuhan memakai Husai untuk memberikan nasihat perbandingan kepada Absalom. Dan akhirnya Absalom justru lebih mendengarkan nasihat Husai daripada nasihat Ahitofel. Sebab memang nasihat Husai adalah bermaksud untuk menyelamatkan Raja Daud dari tangan Absalom yang ambisius dan haus kedudukan.
Alkitab mencatat bahwa setelah Ahitofel melihat bahwa nasihatnya tidak diindahkan oleh Absalom, ia: (1) memasang pelana keledainya, (2) berangkat ke rumahnya, (3) mengatur urusan rumah tangganya, kemudian barulah ia (4) menggantung diri! [perhatikanlah urut-urutan perilaku Ahitofel sebelum ia melakukan bunuh diri!] Tidakkah urut-urutan perilaku Ahitofel juga terjadi pada pria yang belum dikenali identitasnya di atas tadi? Ia pada pukul 06.00 pagi pergi ke Gereja, ia menaiki bambu yang ada di menara Gereja, ia melilitkan tali tersebut pada lehernya, ia merenungi sekali lagi (mungkin) niatnya, akhirnya… ia menjatuhkan dirinya sambil lehernya terikat tali, dan ia mati!
Apakah yang terjadi dengan dunia kita hari ini? Manusia sudah tidak lagi menghargai bukan saja nyawa sesamanya manusia, melainkan manusia sudah tidak lagi menghargai nyawanya sendiri! Bunuh diri seolah-olah sudah menjadi solusi paling praktis untuk menyelesaikan masalah. Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini? Jawaban yang mungkin menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia jauh lebih berani mati daripada berani hidup! Manusia sudah tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang optimistic dan yang menjanjikan. Justru kematian jauh lebih menjanjikan “jalan keluar” dari kesusahan hidup! Tidakkah “mind-set” ini yang sebenarnya sedang “mewabah” pada pikiran dan jiwa manusia yang semakin hari semakin rapuh dan irritated dengan hidup? Manusia menjadi begitu sulit untuk menguasai diri dan menjadi tenang serta cermat menyikapi kehidupan ini. Bukankah Petrus di dalam 1 Petrus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
Saya pikir jawaban atas pertanyaan “Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini?” adalah: karena manusia salah menaruh pusat perhatian jiwa-raga-dan-pikirannya! Manusia menjadi begitu “asyik” dengan problema dan tekanan hidup yang ia alami, sampai-sampai membuat ia lupa bahwa ia mempunyai Tuhan yang Maha Pemelihara! Seandainya saja focus kebanyakan dari kita (apalagi yang sudah menjadi anak-anak Tuhan) tidak kita letakkan pada masalah tetapi pada Tuhan, maka pasti kita tidak akan berani berpikir senekad dan secupet seperti Ahitofel dan pria tersebut. Kita akan mulai melihat “remang” dari “kegelapan” masalah hidup yang kita hadapi, lalu perlahan-lahan “remang” itu menjadi “terang siang hari” di dalam ketenangan dan self-control. Sebab hanya di dalam penguasaan diri dan ketenanganlah kita baru dapat berdoa dan menyelaraskan lagi “mind-set” kita dengan “mind-set” firman Tuhan.
Kiranya perenungan ini boleh membukakan cakrawala hati dan pikiran kita semua bahwa masalah hidup boleh datang silih berganti, akan tetapi fokus kita haruslah kita letakkan sepenuh-penuhnya kepada DIA yang Maha Pemelihara. Ingatkah kita akan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17 yang meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihar kita (anak-anak-Nya) senantiasa – “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, PELIHARALAH mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11)
“Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!” (Lukas 12:24)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Senin, 07 Juni 2010
From RHO-ers: Menolong Dengan Iman
From: Berto
Ayat Bacaan: Markus 16:1-8
======================
Setelah lewat hari sabat, hari pertama dalam minggu itu pergilah Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah dan pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
“ Namun mereka berkata seorang kepada yang lain, siapakah yang akan menggulingkan batu itu kepada kita dari pintu kubur”(16:3)
Setiap orang percaya yang mau untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain ada saja tantangan, ada saja halangan yang merintangi niat baik kita, seperti batu kubur/ batu penghalang tersebut. Apa yang diperkatakan Maria dan Maria Ibu Yakobus serta Salome terjadi setelah mereka sudah mendekati pintu kubur, artinya mereka tidak menempatkan tantangan itu pada urutan/posisi yang pertama mereka dalam membuat keputusan untuk pergi meminyaki Yesus.Sebab jika hal itu yang mereka pertimbangkan , maka tentu batu/penghalang itu akan membuat rencana mereka gagal , tetapi mereka melangkah dengan Iman bahwa mereka mau pergi dan akan meminyaki Yesus di dalam kubur. Dan Tuhan menyediakan pintu kubur yang terbuka dan mau menerima dan memberi jawaban yang menggembirakan hati mereka. Inilah jawaban atas Iman mereka walaupun mereka tidak melihat apakah pintu kubur itu sudah terbuka atau dalam keadaan tertutup, tapi dengan Iman mereka melangkah menuju kuburan.
Seringkali kita terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita alami bila kita ingin melakukan perbuatan baik, tidak sering orang gagal berbuat baik karena terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan itu perlu tetapi kita harus membiarkan bisikan Roh Kudus yang sangat halus dan lembut dari dalam hati kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Segala hal yang akan kita alami bukan karena kita telah melihat tantangan didepan mata kita, tetapi kita mau melihat segala hal dengan mata iman, untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain yang di dasari dengan kasih.
Saya mempunyai pengalaman, ketika itu saya sedang mengikuti studi lanjut di Semarang, malam itu adalah malam minggu,Saat saya tidur dan dalam ketiduran itu saya bermimpi, bahwa saya sedang pergi ke gereja, saya melihat gereja yang saya tujui itu adalah sebuah gereja yang berada di atas bukit di Semarang. Saat saya masuk dan duduk disamping saya ada seorang wanita dan mendahului saya memberi salam. Sampai disitu saya terbangun dari mimpi, keesokan harinya, saya pergi ibadah minggu digereja yang ada di dalam mimpi saya tersebut. Saat tiba didepan pintu gereja saya melihat wanita dengan wajah yang sama didalam mimpi saya semalam berdiri didepan pintu gereja memberi salam dan jabat tangan dengan saya,saya langsung teringat wajah wanita ini yang ada dalam mimpi saya, padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya, akhirnya kita masuk ke dalam gereja dan duduk berdekatan, setelah selesai ibadah kita pulang karena kita naik angkot sama maka disaat seperti itu dia menceritakan sesuatu yang sedang dia alami, bahwa dia kehilangan Uang sebesar Rp 300.000 dan uang itu adalah uang study tour teman sekelas yang mereka percayakan kepada dia, saat itu dia bingung dan tidak bisa untuk menggantinya, lalu dia berkata, “Mas bisa bantu saya tolong pinjamkan uang sebesar itu, nanti saya gantikan.” Saya bilang bisa saya bantu asal ini bukan sebuah kebohongan,saya berkata,”Kamu berdoa semoga besok saya bisa menolongmu kalau tidak ada halangan”.
Besoknya,ketika saya pulang kuliah, dia menelpon saya dan saya pergi ke tempat yang ada ATM dan saya mengatakan kepadanya, “Kalau persoalanmu adalah benar-benar terjadi padamu,bukan suatu kebohongan maka saya bersedia menolongmu, dan jangan pikir untuk menggantinya.”
Besok saya pergi besuk teman saya yang anaknya masuk rumah sakit, dan setelah dirawat 3 hari,anaknya telah sembuh, untuk itu dia harus memberes administrasi sebelum keluar tapi saat itu uangnya kurang lalu dia minta tolong pinjam dari saya dan saya dengan senang hati mau membantu dia, saat saya melihat saldo di kartu ATM ada sejumlah uang yang telah masuk yaitu sebesar Rp 2.100.000 Uang itu dikirim oleh pimpinan kita.
Jadi ketika kita melakukan perbuatan baik dengan didasari dengan Iman, Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita, Dia siapkan segala sesuatu untuk hidup kita, tanpa kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang sarat dengan alasan, yang membuat kita tidak mampu untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Ingat: Maria, Maria Ibu Yakobus dan Salome bukan melihat pintu kubur telah terbuka baru mereka pergi meminyaki Yesus. Saya bukan melihat nanti ada kiriman uang ke tabungan saya baru saya mau membantu orang, tetapi semua yang dilakukan berdasarkan iman maka jawabannya adalah Jawaban Iman. Pintu kubur terbuka sama seperti kiriman uang Ke Kartu ATM saya yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran saya, tapi Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya, bagian kitalah untuk mempercayaiNya. Tuhan Yesus memberkati.
Semoga Perenungan Firman Ttuhan ini membuat setiap orang percaya mengalami Mujizat karena perbuatan yang mereka dilakukan dengan Iman.
Ayat Bacaan: Markus 16:1-8
======================
Setelah lewat hari sabat, hari pertama dalam minggu itu pergilah Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah dan pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
“ Namun mereka berkata seorang kepada yang lain, siapakah yang akan menggulingkan batu itu kepada kita dari pintu kubur”(16:3)
Setiap orang percaya yang mau untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain ada saja tantangan, ada saja halangan yang merintangi niat baik kita, seperti batu kubur/ batu penghalang tersebut. Apa yang diperkatakan Maria dan Maria Ibu Yakobus serta Salome terjadi setelah mereka sudah mendekati pintu kubur, artinya mereka tidak menempatkan tantangan itu pada urutan/posisi yang pertama mereka dalam membuat keputusan untuk pergi meminyaki Yesus.Sebab jika hal itu yang mereka pertimbangkan , maka tentu batu/penghalang itu akan membuat rencana mereka gagal , tetapi mereka melangkah dengan Iman bahwa mereka mau pergi dan akan meminyaki Yesus di dalam kubur. Dan Tuhan menyediakan pintu kubur yang terbuka dan mau menerima dan memberi jawaban yang menggembirakan hati mereka. Inilah jawaban atas Iman mereka walaupun mereka tidak melihat apakah pintu kubur itu sudah terbuka atau dalam keadaan tertutup, tapi dengan Iman mereka melangkah menuju kuburan.
Seringkali kita terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita alami bila kita ingin melakukan perbuatan baik, tidak sering orang gagal berbuat baik karena terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan itu perlu tetapi kita harus membiarkan bisikan Roh Kudus yang sangat halus dan lembut dari dalam hati kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Segala hal yang akan kita alami bukan karena kita telah melihat tantangan didepan mata kita, tetapi kita mau melihat segala hal dengan mata iman, untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain yang di dasari dengan kasih.
Saya mempunyai pengalaman, ketika itu saya sedang mengikuti studi lanjut di Semarang, malam itu adalah malam minggu,Saat saya tidur dan dalam ketiduran itu saya bermimpi, bahwa saya sedang pergi ke gereja, saya melihat gereja yang saya tujui itu adalah sebuah gereja yang berada di atas bukit di Semarang. Saat saya masuk dan duduk disamping saya ada seorang wanita dan mendahului saya memberi salam. Sampai disitu saya terbangun dari mimpi, keesokan harinya, saya pergi ibadah minggu digereja yang ada di dalam mimpi saya tersebut. Saat tiba didepan pintu gereja saya melihat wanita dengan wajah yang sama didalam mimpi saya semalam berdiri didepan pintu gereja memberi salam dan jabat tangan dengan saya,saya langsung teringat wajah wanita ini yang ada dalam mimpi saya, padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya, akhirnya kita masuk ke dalam gereja dan duduk berdekatan, setelah selesai ibadah kita pulang karena kita naik angkot sama maka disaat seperti itu dia menceritakan sesuatu yang sedang dia alami, bahwa dia kehilangan Uang sebesar Rp 300.000 dan uang itu adalah uang study tour teman sekelas yang mereka percayakan kepada dia, saat itu dia bingung dan tidak bisa untuk menggantinya, lalu dia berkata, “Mas bisa bantu saya tolong pinjamkan uang sebesar itu, nanti saya gantikan.” Saya bilang bisa saya bantu asal ini bukan sebuah kebohongan,saya berkata,”Kamu berdoa semoga besok saya bisa menolongmu kalau tidak ada halangan”.
Besoknya,ketika saya pulang kuliah, dia menelpon saya dan saya pergi ke tempat yang ada ATM dan saya mengatakan kepadanya, “Kalau persoalanmu adalah benar-benar terjadi padamu,bukan suatu kebohongan maka saya bersedia menolongmu, dan jangan pikir untuk menggantinya.”
Besok saya pergi besuk teman saya yang anaknya masuk rumah sakit, dan setelah dirawat 3 hari,anaknya telah sembuh, untuk itu dia harus memberes administrasi sebelum keluar tapi saat itu uangnya kurang lalu dia minta tolong pinjam dari saya dan saya dengan senang hati mau membantu dia, saat saya melihat saldo di kartu ATM ada sejumlah uang yang telah masuk yaitu sebesar Rp 2.100.000 Uang itu dikirim oleh pimpinan kita.
Jadi ketika kita melakukan perbuatan baik dengan didasari dengan Iman, Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita, Dia siapkan segala sesuatu untuk hidup kita, tanpa kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang sarat dengan alasan, yang membuat kita tidak mampu untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Ingat: Maria, Maria Ibu Yakobus dan Salome bukan melihat pintu kubur telah terbuka baru mereka pergi meminyaki Yesus. Saya bukan melihat nanti ada kiriman uang ke tabungan saya baru saya mau membantu orang, tetapi semua yang dilakukan berdasarkan iman maka jawabannya adalah Jawaban Iman. Pintu kubur terbuka sama seperti kiriman uang Ke Kartu ATM saya yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran saya, tapi Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya, bagian kitalah untuk mempercayaiNya. Tuhan Yesus memberkati.
Semoga Perenungan Firman Ttuhan ini membuat setiap orang percaya mengalami Mujizat karena perbuatan yang mereka dilakukan dengan Iman.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Menolong Dengan Iman
From: Berto
Ayat Bacaan: Markus 16:1-8
======================
Setelah lewat hari sabat, hari pertama dalam minggu itu pergilah Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah dan pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
“ Namun mereka berkata seorang kepada yang lain, siapakah yang akan menggulingkan batu itu kepada kita dari pintu kubur”(16:3)
Setiap orang percaya yang mau untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain ada saja tantangan, ada saja halangan yang merintangi niat baik kita, seperti batu kubur/ batu penghalang tersebut. Apa yang diperkatakan Maria dan Maria Ibu Yakobus serta Salome terjadi setelah mereka sudah mendekati pintu kubur, artinya mereka tidak menempatkan tantangan itu pada urutan/posisi yang pertama mereka dalam membuat keputusan untuk pergi meminyaki Yesus.Sebab jika hal itu yang mereka pertimbangkan , maka tentu batu/penghalang itu akan membuat rencana mereka gagal , tetapi mereka melangkah dengan Iman bahwa mereka mau pergi dan akan meminyaki Yesus di dalam kubur. Dan Tuhan menyediakan pintu kubur yang terbuka dan mau menerima dan memberi jawaban yang menggembirakan hati mereka. Inilah jawaban atas Iman mereka walaupun mereka tidak melihat apakah pintu kubur itu sudah terbuka atau dalam keadaan tertutup, tapi dengan Iman mereka melangkah menuju kuburan.
Seringkali kita terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita alami bila kita ingin melakukan perbuatan baik, tidak sering orang gagal berbuat baik karena terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan itu perlu tetapi kita harus membiarkan bisikan Roh Kudus yang sangat halus dan lembut dari dalam hati kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Segala hal yang akan kita alami bukan karena kita telah melihat tantangan didepan mata kita, tetapi kita mau melihat segala hal dengan mata iman, untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain yang di dasari dengan kasih.
Saya mempunyai pengalaman, ketika itu saya sedang mengikuti studi lanjut di Semarang, malam itu adalah malam minggu,Saat saya tidur dan dalam ketiduran itu saya bermimpi, bahwa saya sedang pergi ke gereja, saya melihat gereja yang saya tujui itu adalah sebuah gereja yang berada di atas bukit di Semarang. Saat saya masuk dan duduk disamping saya ada seorang wanita dan mendahului saya memberi salam. Sampai disitu saya terbangun dari mimpi, keesokan harinya, saya pergi ibadah minggu digereja yang ada di dalam mimpi saya tersebut. Saat tiba didepan pintu gereja saya melihat wanita dengan wajah yang sama didalam mimpi saya semalam berdiri didepan pintu gereja memberi salam dan jabat tangan dengan saya,saya langsung teringat wajah wanita ini yang ada dalam mimpi saya, padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya, akhirnya kita masuk ke dalam gereja dan duduk berdekatan, setelah selesai ibadah kita pulang karena kita naik angkot sama maka disaat seperti itu dia menceritakan sesuatu yang sedang dia alami, bahwa dia kehilangan Uang sebesar Rp 300.000 dan uang itu adalah uang study tour teman sekelas yang mereka percayakan kepada dia, saat itu dia bingung dan tidak bisa untuk menggantinya, lalu dia berkata, “Mas bisa bantu saya tolong pinjamkan uang sebesar itu, nanti saya gantikan.” Saya bilang bisa saya bantu asal ini bukan sebuah kebohongan,saya berkata,”Kamu berdoa semoga besok saya bisa menolongmu kalau tidak ada halangan”.
Besoknya,ketika saya pulang kuliah, dia menelpon saya dan saya pergi ke tempat yang ada ATM dan saya mengatakan kepadanya, “Kalau persoalanmu adalah benar-benar terjadi padamu,bukan suatu kebohongan maka saya bersedia menolongmu, dan jangan pikir untuk menggantinya.”
Besok saya pergi besuk teman saya yang anaknya masuk rumah sakit, dan setelah dirawat 3 hari,anaknya telah sembuh, untuk itu dia harus memberes administrasi sebelum keluar tapi saat itu uangnya kurang lalu dia minta tolong pinjam dari saya dan saya dengan senang hati mau membantu dia, saat saya melihat saldo di kartu ATM ada sejumlah uang yang telah masuk yaitu sebesar Rp 2.100.000 Uang itu dikirim oleh pimpinan kita.
Jadi ketika kita melakukan perbuatan baik dengan didasari dengan Iman, Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita, Dia siapkan segala sesuatu untuk hidup kita, tanpa kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang sarat dengan alasan, yang membuat kita tidak mampu untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Ingat: Maria, Maria Ibu Yakobus dan Salome bukan melihat pintu kubur telah terbuka baru mereka pergi meminyaki Yesus. Saya bukan melihat nanti ada kiriman uang ke tabungan saya baru saya mau membantu orang, tetapi semua yang dilakukan berdasarkan iman maka jawabannya adalah Jawaban Iman. Pintu kubur terbuka sama seperti kiriman uang Ke Kartu ATM saya yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran saya, tapi Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya, bagian kitalah untuk mempercayaiNya. Tuhan Yesus memberkati.
Semoga Perenungan Firman Ttuhan ini membuat setiap orang percaya mengalami Mujizat karena perbuatan yang mereka dilakukan dengan Iman.
Ayat Bacaan: Markus 16:1-8
======================
Setelah lewat hari sabat, hari pertama dalam minggu itu pergilah Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah dan pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
“ Namun mereka berkata seorang kepada yang lain, siapakah yang akan menggulingkan batu itu kepada kita dari pintu kubur”(16:3)
Setiap orang percaya yang mau untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain ada saja tantangan, ada saja halangan yang merintangi niat baik kita, seperti batu kubur/ batu penghalang tersebut. Apa yang diperkatakan Maria dan Maria Ibu Yakobus serta Salome terjadi setelah mereka sudah mendekati pintu kubur, artinya mereka tidak menempatkan tantangan itu pada urutan/posisi yang pertama mereka dalam membuat keputusan untuk pergi meminyaki Yesus.Sebab jika hal itu yang mereka pertimbangkan , maka tentu batu/penghalang itu akan membuat rencana mereka gagal , tetapi mereka melangkah dengan Iman bahwa mereka mau pergi dan akan meminyaki Yesus di dalam kubur. Dan Tuhan menyediakan pintu kubur yang terbuka dan mau menerima dan memberi jawaban yang menggembirakan hati mereka. Inilah jawaban atas Iman mereka walaupun mereka tidak melihat apakah pintu kubur itu sudah terbuka atau dalam keadaan tertutup, tapi dengan Iman mereka melangkah menuju kuburan.
Seringkali kita terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita alami bila kita ingin melakukan perbuatan baik, tidak sering orang gagal berbuat baik karena terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan itu perlu tetapi kita harus membiarkan bisikan Roh Kudus yang sangat halus dan lembut dari dalam hati kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Segala hal yang akan kita alami bukan karena kita telah melihat tantangan didepan mata kita, tetapi kita mau melihat segala hal dengan mata iman, untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain yang di dasari dengan kasih.
Saya mempunyai pengalaman, ketika itu saya sedang mengikuti studi lanjut di Semarang, malam itu adalah malam minggu,Saat saya tidur dan dalam ketiduran itu saya bermimpi, bahwa saya sedang pergi ke gereja, saya melihat gereja yang saya tujui itu adalah sebuah gereja yang berada di atas bukit di Semarang. Saat saya masuk dan duduk disamping saya ada seorang wanita dan mendahului saya memberi salam. Sampai disitu saya terbangun dari mimpi, keesokan harinya, saya pergi ibadah minggu digereja yang ada di dalam mimpi saya tersebut. Saat tiba didepan pintu gereja saya melihat wanita dengan wajah yang sama didalam mimpi saya semalam berdiri didepan pintu gereja memberi salam dan jabat tangan dengan saya,saya langsung teringat wajah wanita ini yang ada dalam mimpi saya, padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya, akhirnya kita masuk ke dalam gereja dan duduk berdekatan, setelah selesai ibadah kita pulang karena kita naik angkot sama maka disaat seperti itu dia menceritakan sesuatu yang sedang dia alami, bahwa dia kehilangan Uang sebesar Rp 300.000 dan uang itu adalah uang study tour teman sekelas yang mereka percayakan kepada dia, saat itu dia bingung dan tidak bisa untuk menggantinya, lalu dia berkata, “Mas bisa bantu saya tolong pinjamkan uang sebesar itu, nanti saya gantikan.” Saya bilang bisa saya bantu asal ini bukan sebuah kebohongan,saya berkata,”Kamu berdoa semoga besok saya bisa menolongmu kalau tidak ada halangan”.
Besoknya,ketika saya pulang kuliah, dia menelpon saya dan saya pergi ke tempat yang ada ATM dan saya mengatakan kepadanya, “Kalau persoalanmu adalah benar-benar terjadi padamu,bukan suatu kebohongan maka saya bersedia menolongmu, dan jangan pikir untuk menggantinya.”
Besok saya pergi besuk teman saya yang anaknya masuk rumah sakit, dan setelah dirawat 3 hari,anaknya telah sembuh, untuk itu dia harus memberes administrasi sebelum keluar tapi saat itu uangnya kurang lalu dia minta tolong pinjam dari saya dan saya dengan senang hati mau membantu dia, saat saya melihat saldo di kartu ATM ada sejumlah uang yang telah masuk yaitu sebesar Rp 2.100.000 Uang itu dikirim oleh pimpinan kita.
Jadi ketika kita melakukan perbuatan baik dengan didasari dengan Iman, Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita, Dia siapkan segala sesuatu untuk hidup kita, tanpa kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang sarat dengan alasan, yang membuat kita tidak mampu untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Ingat: Maria, Maria Ibu Yakobus dan Salome bukan melihat pintu kubur telah terbuka baru mereka pergi meminyaki Yesus. Saya bukan melihat nanti ada kiriman uang ke tabungan saya baru saya mau membantu orang, tetapi semua yang dilakukan berdasarkan iman maka jawabannya adalah Jawaban Iman. Pintu kubur terbuka sama seperti kiriman uang Ke Kartu ATM saya yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran saya, tapi Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya, bagian kitalah untuk mempercayaiNya. Tuhan Yesus memberkati.
Semoga Perenungan Firman Ttuhan ini membuat setiap orang percaya mengalami Mujizat karena perbuatan yang mereka dilakukan dengan Iman.
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Minggu, 06 Juni 2010
From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================
“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”
Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.
Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!
Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?
Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)
Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)
Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!
Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!
Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!
"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)
"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================
“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”
Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.
Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!
Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?
Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)
Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)
Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!
Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!
Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!
"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)
"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================
“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”
Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.
Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!
Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?
Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)
Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)
Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!
Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!
Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!
"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)
"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================
“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”
Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.
Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!
Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?
Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)
Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)
Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!
Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!
Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!
"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)
"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Sabtu, 05 Juni 2010
From RHO-ers: Pikirkanlah Semuanya Itu!
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Filipi 4:8
========================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)
Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)
Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.
Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.
Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”
Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)
Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.
Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)
Ayat Bacaan: Filipi 4:8
========================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)
Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)
Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.
Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.
Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”
Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)
Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.
Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Pikirkanlah Semuanya Itu!
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Filipi 4:8
========================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)
Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)
Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.
Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.
Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”
Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)
Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.
Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)
Ayat Bacaan: Filipi 4:8
========================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)
Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)
Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.
Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.
Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”
Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)
Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.
Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Jumat, 04 Juni 2010
From RHO-ers: Kaya Nggak, Miskin Juga Nggak
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.
Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.
Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.
Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”
Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?
Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!
Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)
Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.
Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.
Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.
Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”
Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?
Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!
Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)
Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
From RHO-ers: Kaya Nggak, Miskin Juga Nggak
From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.
Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.
Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.
Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”
Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?
Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!
Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)
Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.
Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.
Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.
Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”
Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?
Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!
Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)
Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)
Label:
Renungan Kiriman RHO-ers
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2015
(215)
-
▼
April
(28)
- Senin, 27 April 2015 - Masing-masing dengan panggi...
- Senin, 27 April 2015 - Masing-masing dengan panggi...
- Kasih dan Terang
- Dunia Allah
- Dunia Allah
- Mengalahkan Cheetah
- Mengalahkan Cheetah
- Kita Satu Komunitas
- Kita Satu Komunitas
- Kamis, 16 April 2015 - (Bilangan 9)
- Kamis, 16 April 2015 - (Bilangan 9)
- Tempat Pemancingan Terbaik
- Mengapa Aku Tetap Berharap
- Terlalu Berat Bagiku
- Jangan Khawatir!
- Wallpaper: Pengharapan yang Pasti
- Itu Milikku!
- Ketika Kita Dikecewakan
- Berbagi Burger
- Bukan Sebuah Keanehan Alam
- Genangan Lumpur
- Fondasi yang Teguh
- Iman Seteguh Bukit Batu
- Iman Seteguh Bukit Batu
- Datanglah Kepada-Ku
- Sakit yang Mulia
- Keluar Batas
- Menikmati Perjamuan-Nya
-
▼
April
(28)