Tampilkan postingan dengan label Kejadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejadian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Minggu, 13 Oktober 2013 - BUKAN SALAH SAYA (Kejadian 3:1-24)

  Tampilan cetakMinggu, 13 Oktober 2013

Bacaan   : Kejadian 3:1-24Setahun : Markus 1-3Nats       : Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu. (Kejadian 3:12)

Seorang psikolog mengunjungi penjara bertanya kepada banyak napi, "Mengapa Anda berada di sini?" Ternyata, tidak sedikit napi yang melontarkan jawaban dengan nada membenarkan diri. Beberapa dalih disampaikan, seperti difitnah, tidak memiliki uang untuk membayar petugas, salah tangkap akibat kekeliruan identitas. Setelah melakukan serangkaian observasi, psikolog itu menyimpulkan bahwa banyak penghuni penjara yang merasa dirinya tidak bersalah. Sungguh ironis.

Gejala seperti itu bukan hanya berlaku pada para tahanan, tapi lazim menghinggapi kebanyakan manusia. Sikap tuding-menuding antara Adam dan Hawa ternyata terus berlanjut sampai sekarang dan, sungguh menyedihkan, orang Kristen juga tidak luput dari kecenderungan serupa. Sejatinya, jika kita mau jujur, kita harus mengakui bahwa tidak ada sedikitpun manfaat dari berdalih dan memaparkan berbagai alasan untuk membenarkan diri. Dengan pembenaran diri mungkin kita berharap agar nama kita tetap baik, tetapi di sisi lain hal itu juga menjadikan kita orang yang keras hati, sulit untuk menerima nasihat dan kritik atas setiap kesalahan yang kita lakukan. Bahkan Tuhan pun akan sangat sulit untuk menegur kita melalui Firman-Nya jika kita selalu merasa diri kita paling benar.

Kesalahan itu wajar dan manusiawi. Selama kita masih hidup sebagai darah dan daging, kita akan melakukan kesalahan. Mengapa harus gengsi untuk mengakuinya? Mengapa harus repot memikirkan dalih atau alasan untuk membenarkan diri? --Petrus Kwik

MEMBIASAKAN DIRI BERDALIH MENGERASKAN HATI, BELAJARMENGAKUI DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESALAHAN MELEMBUTKANNYA.

Dilarang mengutip atau memperbanyak materi Renungan Harian tanpa seizin penerbit (Yayasan Gloria)

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:https://www.facebook.com/groups/renungan.harian/

Sumber : www.sabda.org

Minggu, 13 Oktober 2013 - BUKAN SALAH SAYA (Kejadian 3:1-24)

  Tampilan cetakMinggu, 13 Oktober 2013

Bacaan   : Kejadian 3:1-24Setahun : Markus 1-3Nats       : Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu. (Kejadian 3:12)

Seorang psikolog mengunjungi penjara bertanya kepada banyak napi, "Mengapa Anda berada di sini?" Ternyata, tidak sedikit napi yang melontarkan jawaban dengan nada membenarkan diri. Beberapa dalih disampaikan, seperti difitnah, tidak memiliki uang untuk membayar petugas, salah tangkap akibat kekeliruan identitas. Setelah melakukan serangkaian observasi, psikolog itu menyimpulkan bahwa banyak penghuni penjara yang merasa dirinya tidak bersalah. Sungguh ironis.

Gejala seperti itu bukan hanya berlaku pada para tahanan, tapi lazim menghinggapi kebanyakan manusia. Sikap tuding-menuding antara Adam dan Hawa ternyata terus berlanjut sampai sekarang dan, sungguh menyedihkan, orang Kristen juga tidak luput dari kecenderungan serupa. Sejatinya, jika kita mau jujur, kita harus mengakui bahwa tidak ada sedikitpun manfaat dari berdalih dan memaparkan berbagai alasan untuk membenarkan diri. Dengan pembenaran diri mungkin kita berharap agar nama kita tetap baik, tetapi di sisi lain hal itu juga menjadikan kita orang yang keras hati, sulit untuk menerima nasihat dan kritik atas setiap kesalahan yang kita lakukan. Bahkan Tuhan pun akan sangat sulit untuk menegur kita melalui Firman-Nya jika kita selalu merasa diri kita paling benar.

Kesalahan itu wajar dan manusiawi. Selama kita masih hidup sebagai darah dan daging, kita akan melakukan kesalahan. Mengapa harus gengsi untuk mengakuinya? Mengapa harus repot memikirkan dalih atau alasan untuk membenarkan diri? --Petrus Kwik

MEMBIASAKAN DIRI BERDALIH MENGERASKAN HATI, BELAJARMENGAKUI DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESALAHAN MELEMBUTKANNYA.

Dilarang mengutip atau memperbanyak materi Renungan Harian tanpa seizin penerbit (Yayasan Gloria)

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:https://www.facebook.com/groups/renungan.harian/

Sumber : www.sabda.org

Selasa, 08 Oktober 2013

Rabu, 9 Oktober 2013 - GOYAH SAAT MENANTI (Kejadian 16:1-16)

  Tampilan cetakRabu, 9 Oktober 2013

Bacaan   : Kejadian 16:1-16Setahun : Matius 21-22Nats       : Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." (Kejadian 16:2)

Menanti bukanlah kegiatan yang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Ketika seseorang menanti, ia menghadapi ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi. Apalagi kalau masa penantian itu begitu lama. Tidaklah mengherankan jika ada orang yang akhirnya menyerah dan mengambil jalan pintas.

Ini pula yang terjadi pada Abram dan Sarai dalam bacaan hari ini. Kisah ini terjadi sekitar sebelas tahun setelah Tuhan berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapak bangsa yang besar. Kita tentu setuju bahwa sebelas tahun adalah periode waktu yang sangat panjang bagi siapa pun yang sedang menanti, apalagi bagi Abram dan Sarai yang sudah sangat tua.

Tak heran kalau kemudian, di tengah kegundahan menantikan pemenuhan janji ini, keyakinan Abram dan Sarai goyah. Akibatnya mereka mengambil jalan pintas untuk "membantu" Allah memenuhi janji-Nya, dan akhirnya lahirlah Ismael dari Hagar. Tetapi, kita tahu bahwa usaha mereka ini kemudian justru mendatangkan banyak masalah bagi mereka sendiri, bagi Hagar, dan bagi keturunan mereka.

Apakah saat ini Anda sedang menantikan pemenuhan janji Tuhan atau jawaban dari-Nya? Mungkin itu soal buah hati, soal jodoh, soal karier, dsb.? Jangan menyerah! Tetapi, jangan pula mengambil jalan pintas melalui cara yang tidak kudus, seperti menggunakan bantuan ilmu klenik. Sebaliknya, pakailah waktu menanti ini untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga ketika akhirnya Tuhan menjawab penantian tersebut, Anda siap menyambutnya dengan penuh rasa syukur. --Alison Subiantoro

TUHAN SANGGUP UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA;KITA TIDAK PERLU REPOT-REPOT MEMBANTU-NYA.

Dilarang mengutip atau memperbanyak materi Renungan Harian tanpa seizin penerbit (Yayasan Gloria)

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:https://www.facebook.com/groups/renungan.harian/

Sumber : www.sabda.org

Kamis, 06 Juni 2013

Jumat, 7 Juni 2013 - LANGKAH KAKI (Kejadian 3:8-24)

  Tampilan cetakJumat, 7 Juni 2013

Bacaan   : Kejadian 3:8-24Setahun : Nehemia 4-6Nats       : ...mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah... (Kejadian 3:8)

Saat berbaring di tempat tidur, saya bisa mengenali siapa orang rumah yang berjalan di ruang sebelah. Saya bisa membedakan apakah itu ayah, ibu atau adik saya dengan mendengar langkah kaki mereka. Ini karena kami sudah hidup serumah selama lebih dari 30 tahun.

Adam dan Hawa mengenal langkah kaki Allah (ay. 8) karena mereka tinggal dengan-Nya di Taman Eden. Mereka bertemu dan bercakap-cakap dengan-Nya. Mereka menikmati kasih-Nya setiap saat. Sayang, dosa kemudian merampas kesempatan indah itu. Mereka harus meninggalkan taman itu (ay. 24); artinya, mereka tidak dapat lagi mengalami sukacita seperti saat hidup bersama dengan Allah segala sumber berkat.

Kita pun dahulu hidup dalam dosa. Kita jauh dari Allah, jauh dari cinta kasih-Nya. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin kita dapat menceritakan kasih-Nya kepada orang lain? Bagaimana pula orang lain akan tertarik pada Allah jika kita sendiri tidak mengenali "langkah kaki-Nya"?

Syukurlah, Allah telah menawarkan pendamaian dengan kita melalui putra-Nya (Roma 5:10). Kita telah dibenarkan oleh darah-Nya (Roma 5:9) sehingga kita bisa kembali mendengarkan "langkah kaki-Nya". Allah tidak lagi jauh. Dia menyertai kita sampai selamalamanya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Rayakanlah kehidupan bersama-Nya, sehingga berkat dan penyertaan-Nya nyata dalam hari-hari kita. Jika kita menuruti kehendak-Nya, sukacita akan melimpah dalam hidup kita (Maz 16:11) dan orang lain pun dapat melihat Allah dalam hidup kita. --Gigih Dwiananto

JIKA KITA MENGENALI LANGKAH KAKI ALLAH,KITA AKAN DAPAT MENGUNDANG ORANG LAIN MENGIKUTI DIA.

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/06/07/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 20 Mei 2013

Selasa, 21 Mei 2013 - PENYESALAN MASIH BERGUNA (Kejadian 47:1-12)

  Tampilan cetakSelasa, 21 Mei 2013

Bacaan   : Kejadian 47:1-12Setahun : 2 Tawarikh 1-3Nats       : Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang as (Kejadian 47:9)

Seandainya hidup ini bisa diulang kembali, bagian manakah yang ingin Anda ubah? Bagi saya, ada beberapa peristiwa yang memalukan dan patut disesali. Beberapa dosa masa lalu dan kekalahan fatal ketika berperang melawan hawa nafsu ingin saya hapus dari sejarah hidup saya. Ada pula kesengsaraan hidup yang pernah saya alami akibat kesalahan saya.

Mungkin Yakub juga mengenang masa lalunya ketika Firaun bertanya berapa usianya. Yakub menyelipkan keluhan akan hidupnya yang buruk. Ia pernah secara licik menukar hak kesulungan kakaknya, Esau, dengan semangkuk kacang merah dan membohongi ayahnya untuk mendapatkan doa berkat.Hidupnya terasa pahit ketika ia lari ketakutan dari rumah, ketika istri tercintanya -Rahel-- meninggal, anak perempuannya diperkosa, dan Yusuf hilang dan dikabarkan meninggal. Setelah bencana kekeringan yang memaksa anak-anaknya membeli gandum di Mesir, Yakub khawatir akan kehilangan lagi anak bungsunya, Benyamin. Beruntung Yakub sempat menyaksikan anugerah Tuhan yang memelihara diri dan keluarganya sebagai cikal bakal bangsa Israel.

Apakah Anda menyesali bagian-bagian dari hidup Anda? Mungkin Anda tidak sempat lagi memperbaiki hidup yang semakin menyimpang dari angan-angan Anda semula. Tampaknya saat ini Tuhan pun tidak peduli terhadap Anda. Namun, yakinlah bahwa Tuhan memperhatikan penyesalan dan pertobatan Anda. Tetaplah percaya bahwa Tuhan tengah bekerja untuk merajut kembali hidup Anda. Terimalah hasil akhirnya tanpa bersungut-sungut. --HEM

MELAMPAUI PILIHAN TERBURUK KITA SEKALIPUN,ALLAH TURUT BEKERJA UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN.

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/05/21/

Sumber : www.sabda.org

Selasa, 16 April 2013

Rabu, 17 April 2013 - JALAN PINTAS (Kejadian 19:30-38)

  Tampilan cetakRabu, 17 April 2013

Bacaan   : Kejadian 19:30-38Setahun : 2 Samuel 17-18Nats       : Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. (Kejadian 19:32)

Seorang atlet binaraga menempuh jalan pintas untuk meraih prestasi. Ia menggunakan hormon pemacu, agar otot-ototnya terbentuk dengan lebih cepat. Masalahnya, setelah bertanding ia malah jatuh sakit, koma, dan lima hari kemudian meninggal. Jalan pintas bukan mendatangkan solusi, melainkan memunculkan tragedi.

Begitu juga pengalaman dua anak perempuan Lot. Sudah sewajarnya mereka ingin menyambung keturunan. Namun, mereka menghadapi jalan yang seakan buntu. Mereka tinggal di gua hanya dengan sang ayah (ay. 30), dan tidak ada laki-laki yang menjadi suami mereka (ay. 31). Bagaimana mereka dapat memperoleh anak? Mereka menempuh jalan pintas. Mereka membuat sang ayah mabuk, lalu tidur dengannya (ay. 33-35). Benar saja, mereka mengandung. Melahirkan bapa leluhur bangsa Amon dan Moab. Yang tidak mereka ketahui, kedua bangsa ini nantinya akan menjadi penentang bagi umat Allah dalam perjalanan menuju Kanaan (lihat Ulangan 23:3-4).

Mereka baru saja menyaksikan penghakiman Tuhan yang begitu dahsyat atas Sodom dan Gomora. Bukanlah ini dapat menjadi sebuah pengalaman iman yang luar biasa? Nyatanya, mereka tidak melihat kebesaran Allah di balik peristiwa itu. Akibatnya, ketika menghadapi jalan yang tampak buntu, mereka tidak berpaling kepada Allah, namun berusaha mengatasinya sendiri. Ah, seandainya mereka mengerti bahwa Allah yang membebaskan tentunya juga akan memelihara mereka. Bagaimana dengan kita? Apakah pengalaman hidup yang kita lewati mendorong kita semakin mengandalkan Allah? --MRT

MENGAMBIL JALAN PINTAS MERAMPAS BUAH TERBAIKYANG DAPAT KITA PETIK DARI PERJALANAN IMAN KITA.

Anda diberkati melalui Renungan Harian?Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan Yayasan Gloria.Rekening Bank BCA, No. 456 500 8880 a.n. YAY GLORIA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/04/17/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 25 Februari 2013

Senin, 25 Februari 2013 - MENJARING ANGIN (Kejadian 11:1-9)

  Tampilan cetakSenin, 25 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 28-29Nats: ... mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. (Kejadian 11:6)

Bacaan: Kejadian 11:1-9

Bisakah menjaring angin? Para ilmuwan dari Delft Technical University mencoba menjaring angin untuk menghasilkan tenaga listrik. Mereka memanfaatkan layang-layang dengan luas permukaan 10 meter persegi untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sejak tahun 2008 mereka sudah mencoba untuk membuat model yang pas.

Daya cipta manusia memang mengagumkan. Menara Babel, misalnya, kerap dijadikan simbol keangkuhan, kekuasaan duniawi, dan perlawanan terhadap kuasa Tuhan. Namun, menara ini juga simbol dari kecerdasan akal budi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dalam terjemahan FAYH dikatakan, "Lihatlah! Jika sekarang ini, pada waktu mereka baru mulai memanfaatkan persatuan bahasa dan bangsa, mereka sudah sanggup menyelesaikan semua ini, bayangkan apa yang akan dilakukan mereka kemudian hari. Segala apa pun dapat mereka capai!" Allah sendiri mengakui potensi besar dalam diri manusia.

Kebenaran ini seharusnya menggelitik setiap orang percaya, mendorong kita mengembangkan keunggulan di bidang masing-masing untuk menyatakan kehebatan Tuhan. Kuncinya: kita perlu bergandeng tangan dan saling mendorong dalam mengembangkan potensi. Setiap orang perlu bekerja dengan rajin dan tekun untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya. Bersama-sama sebagai jemaat kita dapat menyumbangkan solusi bagi persoalan praktis kehidupan sehari-hari. Dan, melalui karya tersebut, kiranya kita dapat memperkenalkan kepada orang banyak Tuhan yang menyertai kita dan memberi kita kreativitas. --MRT

ALLAH KITA ALLAH YANG MAHABESAR DAN MAHAKREATIF,MARI KITA BERKARYA UNTUK MENYATAKAN KEAGUNGAN-NYA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/25/

Sumber : www.sabda.org

Minggu, 24 Februari 2013

Senin, 25 Februari 2013 - MENJARING ANGIN (Kejadian 11:1-9)

  Tampilan cetakSenin, 25 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 28-29Nats: ... mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. (Kejadian 11:6)

Bacaan: Kejadian 11:1-9

Bisakah menjaring angin? Para ilmuwan dari Delft Technical University mencoba menjaring angin untuk menghasilkan tenaga listrik. Mereka memanfaatkan layang-layang dengan luas permukaan 10 meter persegi untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sejak tahun 2008 mereka sudah mencoba untuk membuat model yang pas.

Daya cipta manusia memang mengagumkan. Menara Babel, misalnya, kerap dijadikan simbol keangkuhan, kekuasaan duniawi, dan perlawanan terhadap kuasa Tuhan. Namun, menara ini juga simbol dari kecerdasan akal budi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dalam terjemahan FAYH dikatakan, "Lihatlah! Jika sekarang ini, pada waktu mereka baru mulai memanfaatkan persatuan bahasa dan bangsa, mereka sudah sanggup menyelesaikan semua ini, bayangkan apa yang akan dilakukan mereka kemudian hari. Segala apa pun dapat mereka capai!" Allah sendiri mengakui potensi besar dalam diri manusia.

Kebenaran ini seharusnya menggelitik setiap orang percaya, mendorong kita mengembangkan keunggulan di bidang masing-masing untuk menyatakan kehebatan Tuhan. Kuncinya: kita perlu bergandeng tangan dan saling mendorong dalam mengembangkan potensi. Setiap orang perlu bekerja dengan rajin dan tekun untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya. Bersama-sama sebagai jemaat kita dapat menyumbangkan solusi bagi persoalan praktis kehidupan sehari-hari. Dan, melalui karya tersebut, kiranya kita dapat memperkenalkan kepada orang banyak Tuhan yang menyertai kita dan memberi kita kreativitas. --MRT

ALLAH KITA ALLAH YANG MAHABESAR DAN MAHAKREATIF,MARI KITA BERKARYA UNTUK MENYATAKAN KEAGUNGAN-NYA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/25/

Sumber : www.sabda.org

Senin, 25 Februari 2013 - MENJARING ANGIN (Kejadian 11:1-9)

  Tampilan cetakSenin, 25 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 28-29Nats: ... mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. (Kejadian 11:6)

Bacaan: Kejadian 11:1-9

Bisakah menjaring angin? Para ilmuwan dari Delft Technical University mencoba menjaring angin untuk menghasilkan tenaga listrik. Mereka memanfaatkan layang-layang dengan luas permukaan 10 meter persegi untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sejak tahun 2008 mereka sudah mencoba untuk membuat model yang pas.

Daya cipta manusia memang mengagumkan. Menara Babel, misalnya, kerap dijadikan simbol keangkuhan, kekuasaan duniawi, dan perlawanan terhadap kuasa Tuhan. Namun, menara ini juga simbol dari kecerdasan akal budi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dalam terjemahan FAYH dikatakan, "Lihatlah! Jika sekarang ini, pada waktu mereka baru mulai memanfaatkan persatuan bahasa dan bangsa, mereka sudah sanggup menyelesaikan semua ini, bayangkan apa yang akan dilakukan mereka kemudian hari. Segala apa pun dapat mereka capai!" Allah sendiri mengakui potensi besar dalam diri manusia.

Kebenaran ini seharusnya menggelitik setiap orang percaya, mendorong kita mengembangkan keunggulan di bidang masing-masing untuk menyatakan kehebatan Tuhan. Kuncinya: kita perlu bergandeng tangan dan saling mendorong dalam mengembangkan potensi. Setiap orang perlu bekerja dengan rajin dan tekun untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya. Bersama-sama sebagai jemaat kita dapat menyumbangkan solusi bagi persoalan praktis kehidupan sehari-hari. Dan, melalui karya tersebut, kiranya kita dapat memperkenalkan kepada orang banyak Tuhan yang menyertai kita dan memberi kita kreativitas. --MRT

ALLAH KITA ALLAH YANG MAHABESAR DAN MAHAKREATIF,MARI KITA BERKARYA UNTUK MENYATAKAN KEAGUNGAN-NYA

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/25/

Sumber : www.sabda.org

Selasa, 12 Februari 2013

Selasa, 12 Februari 2013 - RACUN TIKUS (Kejadian 3:1-19)

  Tampilan cetakSelasa, 12 Februari 2013

Bacaan Setahun: Bilangan 1-2Nats: Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. (Kejadian 3:6a)

Bacaan: Kejadian 3:1-19

Ada berbagai jenis racun tikus. Salah satunya berbentuk seperti makanan bagi tikus. Si binatang pengerat, mengira benda itu makanan enak, akan memakannya tanpa curiga. Beberapa jam kemudian, racun yang terkandung di dalam "makanan" tersebut akan bekerja dan membunuh si tikus dari dalam.

Cara kerja dosa mirip dengan cara kerja racun tikus tersebut. Pada awalnya tampak nikmat dan menggoda, tetapi kemudian menghancurkan hidup kita. Itulah yang terjadi pada Adam dan Hawa di Taman Eden. Meskipun Allah sudah melarang mereka, Hawa tergoda untuk menikmati buah pengetahuan karena buah itu terlihat sedap. Godaan ini terasa lebih kuat lagi karena si ular berkata bahwa buah tersebut akan membuatnya mengerti hal-hal yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh Allah (ay. 5). Hawa (dan kemudian Adam) pun akhirnya tergoda dan melanggar perintah Tuhan dengan mencicipi buah itu (ay. 6). Akibatnya, Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden dan menanggung kutukan Tuhan (ay. 16-19).

Dosa memang sangat menggoda pada awalnya, tetapi konsekuensinya selalu buruk bagi hidup kita. Menjadi kaya dengan korupsi memang menggoda, tetapi konsekuensi hukumnya berat. Berselingkuh memang menggoda, tetapi akan menghancurkan keluarga kita. Bolos sekolah untuk bermain memang menggoda, tetapi dapat merusak masa depan kita. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga diri agar tidak tergoda oleh dosa. Anugerah-Nya menyadarkan kita akan parahnya konsekuensi dosa dan memampukan kita untuk menolak godaannya. --ALS

SEBUAH LUBANG KEBOCORAN DAPAT MENENGGELAMKAN KAPAL,SEBUAH DOSA DAPAT MENGHANCURKAN KEHIDUPAN ORANG PERCAYA -- JOHN BUNYAN

Diskusi renungan ini di Facebook:http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2013/02/12/

Sumber : www.sabda.org

Minggu, 26 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Senin, 27 Agustus 2012 - Iman yang menatap ke depan (Kejadian 50:22-26)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com
Senin, 27 Agustus 2012 - Iman yang menatap ke depan (Kejadian 50:22-26)
Aug 26th 2012, 17:42

Judul: Iman yang menatap ke depan Kita sampai kepada penutup kitab pertama dalam Alkitab, yang sekaligus menjadi kesimpulan kisah Yusuf dan keluarga Yakub. Sampai akhir hidupnya, Yusuf tetap tinggal di Mesir dan seperti Yakub, ia diberi kesempatan menyaksikan kelahiran generasi baru dari putra-putranya. Identitas Yusuf benar-benar mencerminkan pengalaman Israel di tanah asing: sungguh-sungguh Israel, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari Mesir, tanah asing itu. Juga seperti Yakub, menjelang ajal, Yusuf menitipkan pesan buat saudara-saudaranya, pesan yang dikukuhkan dengan sumpah.

Sebagai bangsawan Mesir, Yusuf masih tetap Israel yang yakin akan janji Tuhan dan menanti penggenapannya melampaui masa hidupnya sendiri. Ia yakin akan lawatan Allah atas umat-Nya yang akan membawa mereka ke Tanah Perjanjian. Kata yang diterjemahkan "memperhatikan" dalam Alkitab Indonesia sering digunakan dalam arti tindakan Tuhan yang melawat umat-Nya untuk menyelamatkan. "Allah akan melawat kamu!" Yusuf, pelindung saudara-saudaranya, hanya dapat memberi jaminan sementara. Namun karya penyelamatan yang jauh lebih besar masih akan dikerjakan Allah bagi umat-Nya.

Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk berpesan agar tulang-belulangnya dibawa keluar kelak bersama keluarnya Israel dari Mesir. Tentu bukan tulang-belulang ini yang terpenting, melainkan janji Tuhan yang tetap diyakininya sampai akhir. Pesan Yusuf terwujud ketika Musa membawanya keluar bersama umat Israel (Kel. 13:19) dan ketika Yosua menguburkannya di Sikhem (Yos. 24:32).

Sebenarnya Tanah Perjanjian pun dimengerti hanya sebagai persinggahan bagi umat Tuhan. Penulis surat Ibrani menegaskan bahwa tokoh-tokoh iman seperti Abraham, Yakub, dan Yusuf, ternyata tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab, Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi umat-Nya (Ibr 11:39). Inilah yang kita imani sementara menatap ke depan, ke negeri baru yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya yang baru, yang melampaui batas Israel lahiriah (Why. 21:1-7)!

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/27/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Jumat, 24 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Sabtu, 25 Agustus 2012 - Iman yang melampaui pembalasan (Kejadian 50:15-21)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com
Sabtu, 25 Agustus 2012 - Iman yang melampaui pembalasan (Kejadian 50:15-21)
Aug 24th 2012, 17:36

Judul: Iman yang melampaui pembalasan Apa yang bakal terjadi? Pertanyaan menyangkut masa depan kerap dilontarkan anak-anak yang ditinggal oleh orangtua mereka. Anak-anak Yakub pun merasa khawatir. Mereka dikejar rasa bersalah dan ketakutan akan pembalasan atas perbuatan mereka yang keji terhadap Yusuf. Dalam pandangan Ibrani kuno, hukum pembalasan ini sedemikian kuat pengaruhnya. Mereka yang berbuat jahat tidak akan luput dari hukuman. Pandangan inilah yang tercermin dalam ungkapan penyesalan saudara-saudara Yusuf di hadapannya ketika mereka diharuskan membawa saudara bungsunya (Kej. 42:20-22). Ketakutan ini juga yang membayang ketika Yusuf menyingkapkan jati dirinya di hadapan saudara-saudaranya (Kej. 45:3).

Alangkah bedanya pandangan Yusuf tentang semua kejadian buruk yang menimpanya! Bagi Yusuf, tindakan mereka yang jahat justru telah diubah Allah menjadi rencana keselamatan (Kej. 45:7). Dalam kedudukan yang diraihnya, tak terpikir olehnya rencana pembalasan atas saudara-saudaranya. Malah, ia meyakini, di tangan Allah, rencana jahat pun dapat menjadi berkat.

Saudara-saudara Yusuf sujud di hadapannya dan menawarkan diri menjadi budaknya (18). Bukankah ini penggenapan mimpinya yang paling nyata (Kej. 37:6)? Tetapi, justru tindakan ini menyedihkan hatinya. Ia menangis mendengar permohonan ampun mereka setelah kematian ayah mereka. Mirip teguran Yakub terhadap Rahel (Kej. 30:2), Yusuf menegur mereka: "Aku inikah pengganti Allah?" (19). Dengan kata lain, ia tidak berhak menghukum mereka. Hanya Allah yang menentukan hidup mati mereka!

Memang sulit memercayai rencana Allah di balik penderitaan bila kita sedang menjadi korban kejahatan atau ketidakadilan. Namun seperti yang kita pelajari dari kisah Yusuf, kita diajak melihat Tangan Yang Tak Kelihatan itu menuntun perjalanan hidup kita, bahkan di saat terburuk dan terpuruk (Rm. 8:28). Seperti Yusuf, kiranya iman kepada-Nya mengubah hati kita, dari kesesakan, pahit getir, menjadi hati yang penuh pengampunan!

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/25/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Kamis, 23 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Jumat, 24 Agustus 2012 - Meninggal dalam pengharapan (Kejadian 49:29-50:14)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com
Jumat, 24 Agustus 2012 - Meninggal dalam pengharapan (Kejadian 49:29-50:14)
Aug 23rd 2012, 17:33

Judul: Meninggal dalam pengharapan Untuk kedua kalinya, Yakub berpesan mengenai tempat pemakamannya (32; bdk. Kej. 47:29-30), karena ia tidak ingin menetap di tanah asing dan ingin dikumpulkan bersama dengan leluhurnya di tanah Kanaan. Gua yang telah dibeli Abraham dari Efron orang Het telah menjadi makam keluarga (Kej. 23:3-20). Di situlah dimakamkan Sara, Abraham, Ishak, Ribka, dan istri Yakub sendiri, Lea.

Bagi kita yang hidup dalam dunia yang semakin pragmatis ini keinginan terakhir untuk dipersatukan dengan para leluhur dalam satu makam bisa saja terkesan berlebihan. Namun, bagi manusia Ibrani kuno seperti Yakub, ini bukanlah hanya soal "selera" pribadi. Makam bukan cuma tempat membaringkan mayat. Makam adalah lambang kasat mata yang mengingatkan kita kepada rentetan hubungan dan peristiwa yang pernah dialami dan dijalani bersama orang-orang yang kita kasihi, termasuk jejak-jejak iman yang mereka wariskan.

Banyak suku bangsa di dunia menganggap pemakaman sebagai peristiwa religius penting yang bahkan harus diadakan secara besar-besaran. Tidak terbatas hanya pada tokoh terkemuka ataupun seisi keluarganya, tetapi juga rakyat biasa. Yakub, ayah seorang pejabat tinggi Mesir, juga diberi penghormatan terakhir yang setinggi-tingginya. Jenazahnya dijadikan mumi dan diratapi sampai tujuh puluh hari (50:2-3).

Akan tetapi, di balik segala penghormatan terakhir itu, kita menyimak kembali hidupnya janji Tuhan yang tak pernah mati! Dengan izin Firaun, perkabungan ini dilanjutkan dengan perjalanan panjang untuk memakamkan Yakub di Tanah Perjanjian (50:4-11). Meninggal secara terhormat tidak cukup bagi seorang Yakub yang telah kenyang makan asam garam dunia ini (50:11). Lebih dari segala penghormatan kasat mata itu, yang terpenting adalah iman dan pengharapannya akan janji Tuhan yang akan diwujudkan bagi anak-anaknya.

Kelak, nama Yakub disebut di antara saksi-saksi iman bagi umat Tuhan. Sungguh, iman seperti itulah yang merupakan dasar pengharapan kita dan "bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1).

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/24/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Rabu, 22 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Kamis, 23 Agustus 2012 - Berkat dan perlindungan Allah (Kejadian 49:22-28)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com
Kamis, 23 Agustus 2012 - Berkat dan perlindungan Allah (Kejadian 49:22-28)
Aug 22nd 2012, 17:32

Judul: Berkat dan perlindungan Allah Tentang wasiat Yakub kepada kedua putra Rahel, Yusuf dan Benyamin, kita lihat bahwa pesan untuk Yusuf lebih banyak dan positif ketimbang Benyamin. Secara singkat dapat dicatat, Benyamin dibandingkan dengan serigala yang menerkam (27). Gambaran ini cocok untuk suku Benyamin yang dikenal kelak sebagai pejuang yang ganas (Hak. 12:30; 19-21).

Yusuf sebagai "orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya" (26) menerima berkat yang khusus dari ayahnya. Ia dibandingkan dengan pohon buah-buahan muda yang tumbuh subur (22), yang menerima kelimpahan air dari atas dan bawah (25). Sungguh luar biasa berkat yang diterima Yusuf dalam wasiat Yakub tersebut.

Namun, kehidupan dan berkat yang berlimpah seperti itu tidaklah menjadikan kehidupan Yusuf dan keturunannya terbebas dari tantangan. Kekayaan yang dinikmati oleh Yusuf dan keturunannya pada gilirannya akan menyulut kecemburuan dan permusuhan dari lawan-lawannya. Inilah yang digambarkan sebagai para pemanah yang menyerangnya (23).

Kelak keturunan Yusuf berperan penting dalam kehidupan suku-suku Israel di tanah Kanaan. Yosua, tokoh yang memimpin Israel masuk ke Kanaan dan membagi-bagi tanah itu di antara suku-suku Israel adalah seorang Efraim. Samuel bin Elkana, yang mengurapi Saul dan Daud, juga berasal dari suku Efraim (1Sam 1:1).

Segala kelimpahan dan berkat serta kekuatan mengatasi para lawan diyakini bersumber dari Allah yang disebut berulang kali dengan beragam gelar "Yang Mahakuat, pelindung Yakub", "Gunung Batu Israel" dan "Allah Yang Mahakuasa". Keyakinan yang sama kiranya juga mengilhami hidup kita sebagai umat yang diberkati Tuhan. Kehidupan kita pun tidak akan kebal dari tantangan dan kesulitan. Namun, kita pun dapat meyakini bahwa Allah yang melindungi Yusuf adalah Allah yang juga akan melindungi kita. Dialah sumber berkat dan kekuatan yang sungguh-sungguh dapat diandalkan, baik pada masa kelimpahan maupun pada masa penuh tantangan.

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/23/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Selasa, 21 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Rabu, 22 Agustus 2012 - Wasiat berisi doa (Kejadian 49:13-21)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com

Rabu, 22 Agustus 2012 - Wasiat berisi doa (Kejadian 49:13-21)
Aug 21st 2012, 17:27

Judul: Wasiat berisi doa Bacaan hari ini berbicara tentang berkat kepada keturunan Yakub dari Lea (Zebulon, Isakhar), Zilpa -hamba Lea- (Gad, Asyer), serta Bilha -hamba Rahel- (Dan, Naftali). Masing-masing mendapat berkat yang berlainan sebagaimana watak mereka yang berbeda pula.

Apa yang dikatakan tentang para leluhur Israel ini terwujud dalam situasi kehidupan suku-suku Israel kemudian. Wilayah suku Zebulon terletak dekat pantai Laut Tengah, cocok sebagai pelabuhan (13). Isakhar dibandingkan dengan keledai beban yang kuat, yang menundukkan bahunya untuk memikul beban (14). Boleh jadi, gambaran ini berbicara tentang kehidupan suku Isakhar yang memilih untuk menghamba kepada suku atau bangsa lain. Nama Dan, yang seakar dengan kata kerja "dîn" ('mengadili'), akan berperan dalam peradilan (16; Kej. 30:6). Simson, salah seorang "hakim" terkenal, adalah orang Dan (Hak. 13). Suku ini digambarkan sebagai ular yang menyerang secara diam-diam, seperti yang dilakukan terhadap Lais (Hak. 18:1-2, 27-29). Keturunan Gad kelak berdiam di sebelah timur Sungai Yordan, daerah yang mudah diserang oleh Moab (Yos. 13:24-28; 2Raj. 3:4-5). Suku Asyer, seperti yang dinubuatkan, kelak tinggal di daerah yang subur (20). Gambaran rusa yang terlepas mengenai Naftali agaknya menunjuk kepada watak suku ini yang senang kebebasan (21).

Hubungan antara gambaran yang diberikan dan kenyataan hidup masing-masing suku keturunan leluhur Israel memperlihatkan bahwa masing-masing mereka memiliki peluang dan tantangan sesuai dengan watak dan perilakunya.

Menariknya, di tengah-tengah wasiat Yakub terselip seruan akan keselamatan dari Tuhan (18). Ada yang berpendapat, seruan ini "mengganggu" alur pesannya. Namun, kita dapat memaknai seruan itu sebagai sebuah doa di tengah-tengah segala tantangan hidup yang telah dilihat oleh Yakub bahkan sebelum hal itu terjadi. Bukankah seruan seperti ini yang perlu kita ungkapkan kepada Tuhan ketika menatap ke hari depan yang penuh tantangan bagi kita dan anak cucu kita?

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/22/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Senin, 20 Agustus 2012

RSS Santapan Harian: Selasa, 21 Agustus 2012 - Yehuda, penerus berkat sesungguhnya (Kejadian 49:8-12)

RSS Santapan Harian
Daftar Edisi RSS Santapan Harian // via fulltextrssfeed.com
Selasa, 21 Agustus 2012 - Yehuda, penerus berkat sesungguhnya (Kejadian 49:8-12)
Aug 20th 2012, 17:37

Judul: Yehuda, penerus berkat sesungguhnya Brbeda dengan nada peringatan keras yang terdengar dalam pesan terakhir Yakub kepada Ruben, Simeon, dan Lewi, kita mendengar nada sebaliknya dalam wasiat kepada Yehuda. Menggantikan kedudukan ketiga saudaranya itu, Yehuda menjadi yang terkemuka di antara anak-anak Israel. Sekalipun tanpa hak kesulungan, Yehuda akan memimpin keturunan ayahnya. Serupa dengan pengalaman Yusuf (Kej. 37:7-10), saudara-saudara Yehuda akan sujud kepadanya (8).

Yehuda digambarkan sebagai singa yang menggentarkan hati para lawannya (9). Dialah yang akan memegang tongkat kepemimpinan bukan saja atas bangsanya sendiri, tetapi juga atas bangsa-bangsa (10). Di bawah kepemimpinan Yehuda, negeri mereka akan berlimpah anggur dan susu, gambaran mengenai kesejahteraan dan kemakmuran yang luar biasa (11-12). Gambaran-gambaran yang diberikan di sini tidak perlu dimengerti secara harfiah. "Mata yang merah karena anggur" (12) tidak berarti bahwa mabuk anggur merupakan ciri kemakmuran. Maksudnya hanyalah untuk menggambarkan kelimpahan anggur dalam negeri itu di kemudian hari.

Sebenarnya berkat yang diungkapkan Yakub mengenai Yehuda ini pernah digenapi pada masa kejayaan Israel di bawah pemerintahan Raja Daud. Israel begitu makmur dan berkuasa di antara bangsa lain. Namun, penggenapan itu masih belum merupakan penggenapan yang bersifat sepenuhnya. Sebab penggenapan yang sesungguhnya hanya ada di dalam diri Yesus Kristus. Umat pengikut Kristus di kemudian hari memahami penggenapannya yang penuh dalam kedatangan Mesias. Dialah "singa dari suku Yehuda" (Why. 5:5) yang telah menang atas Iblis dan maut. Melampaui kelimpahan anggur dan susu yang fana, Kristus yang telah menang itu menjanjikan buah pohon kehidupan bagi semua yang menang bersama Dia (Why. 2:7). Berkat Yakub dalam wasiat terakhirnya benar-benar melampaui batas suku Yehuda. Kini berkat itu ditawarkan kepada kita yang bersedia menanggapi undangan Yesus Kristus, Sang Singa dari Yehuda.

Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/08/21/

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Minggu, 02 Mei 2010

Semua Istimewa

Oleh karena engkau berharga dimata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau Yesaya 43 : 4a



Saya mempunyai sahabat yang memiliki 2 orang kakak dengan kondisi cacat sejak lahir dan mereka hanya bisa duduk di kursi roda sampai dengan saat ini. Mereka tidak pernah mengenal dunia luar yang mereka tahu hanyalah situasi dalam rumah, mama dan kakak adik mereka yang terlahir dengan kondisi normal.

Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.
Baca selengkapnya »

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari