========================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
Kepekaan itu terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Sama halnya dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan langsung peka, mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (Efesus 5:10). Untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Istilah "anak terang" dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar keduniawian. Bahkan kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis yang terbungkus rapi sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (ay 13).
Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana, lewat apa yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan "coffee-cupper" dan "wine taster" yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.
Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar