"Imanmu telah menyelamatkan engkau".
(Ibr 12:1-4; Mrk 5:21-43)
"Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"" (Mrk 5:25-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Sehat dan sakit, sembuh dari aneka macam bentuk penyakit erat kaitannya dengan iman. Orang yang sungguh beriman kiranya senantiasa dalam keadaan sehat wal'afiat, segar bugar baik secara jasmani maupun rohani. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan antara lain tercermin atau menjadi nyata dalam aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka jika kita mendambakan hidup sehat wal'afiat dan segar bugar, hendaknya mentaati dan melaksanakan sepenuh tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita. Anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga untuk dibiasakan dan dididik mentaati serta melaksanakan tata tertib yang ada. Pertama-tama marilah masing-masing dari kita dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan senantiasa berusaha untuk hidup teratur dan tertib. Kami berharap bagi siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama dapat menjadi teladan dalam pelaksanaan tata tertib. Marilah kita hayati atau laksanakan 7 prinsip Suryamentaraman ini, yaitu : "Toto -> teratur, Titi-> teliti, hati-hati, Titis-> tepat, berfokus, efektif dan efisien, Temen-> jujur, tulus, Tetep-> konsisten, mantap, Tatag-> tabah, Tatas-> tegas"
· "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibr 12:2). Marilah kita hayati 7 prinsip di atas 'dengan mata yang tertuju kepada Yesus', yang berarti meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus. Hemat saya 7 prinsip tersebut di atas juga dihayati oleh Yesus dalam melaksanakan tugas pengutusanNya untuk menyelamatkan dunia seisinya. Memang penghayatan 7 prinsip di atas sungguh menuntut perjuangan dan pengorbanan alias 'tekun memikul salib'. Tekun memikul salib antara lain mempersembahkan pikiran/otak, perasaan/hati dan tenaga pada panggilan dan tugas pengutusan. Jika masing-masing dari kita setia 'memkul salib kehidupan' kiranya kita bersama-sama akan mencapai kesempurnaan hidup, yaitu ketika meninggal dunia atau dipanggil Tuhan segera menikmati hidup bahagia dan mulia selamanya di sorga bersama Allah Pencipta dan Yesus Kristus yang kita imani. Marilah kita kenangkan bahwa setiap kali mengawali doa, yang berarti mengawali suatu tindakan, kita sering membuat tanda salib, dengan harapan dan dambaan agar apapun yang kita lakukan sungguh meneladan cara hidup dan cara bertindak Yang Tersalib. Semoga setiap membuat tanda salib tidak hanya manis di bibir atau mulut, tetapi juga menjadi manis dalam kaki, tangan, otak alias seluruh anggota tubuh kita, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menarik, memikat dan mempesona bagi siapapun.
"Nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia. Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya." (Mzm 22:26b-28)
Jakarta, 1 Februari 2011
Hari ini ketika sedang di jalan saya iseng-iseng memutar radio. Sebuah lagu yang sudah lama tidak saya dengar kebetulan di putar di sebuah channel. Rasanya seperti baru kemarin lagu itu saya dengar dan sukai, tetapi kenyataannya lagu itu berasal dari tahun 1987, berarti usianya sudah 24 tahun. Perubahan trend dan gaya di dunia musik berjalan begitu cepat. Setiap saat kita melihat hadirnya jenis musik baru, baik sebagai sebuah kreasi yang saam sekali baru atau merupakan perpaduan (fusi) antara satu jenis musik dengan jenis lainnya. Hari ini menjadi trend, besok sudah menjadi barang usang. Dalam segala jenis musik kita bisa melihat hal itu, mulai dari rock, jazz, r&b, pop dan sebagainya. Ambil contoh jenis musik punk yang dahulu dikenal sebagai jenis punk rock. Belakangan aliran ini terpecah dengan lahirnya jenis emo dengan gayanya sendiri. Ketika punk menekankan kebebasan berekspresi seluas-luasnya dan seringkali terkesan "memberontak", emo lebih menekankan kepada curahan atau jeritan perasaan yang perih. Belakangan emo pun terbagi lagi dengan munculnya screamo, dimana teriakan itu menjadi jauh lebih intens dari sebelumnya. Tanyakan kepada orang tua anda bagaimana The Beatles merubah pakem musik di seluruh dunia. Tanpa mereka mungkin musik dunia bukanlah seperti sekarang. Dari blues kemudian muncul jazz dan rock, lalu kedua genre ini pun terus berkembang biak sehingga muncullah puluhan sub-genre lainnya. Musik selalu dipercaya sebagai sesuatu yang dinamis dan progresif. Meski ada kalanya kita rindu dengan lagu-lagu yang dahulu pernah kita sukai, tetapi tidakkah kita selalu menunggu lagu baru untuk hadir dalam playlist kita? Jika kita suka itu, dan kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tidakkah itu berarti bahwa Tuhan pun menyukai lagu-lagu yang baru untuk mewakili pujian-pujian yang hadir dari anak-anakNya?
Kesabaran adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Hampir di setiap lini kehidupan kita bertemu dengan situasi-situasi dimana kesabaran kita harus diuji. Ketika orang lain mengalami sesuatu, mungkin mudah bagi kita untuk mengingatkan mereka agar bersabar, tetapi ketika kita sendiri yang mengalami, seringkali kita gagal menerapkan kata ini dalam menyikapi situasi sulit tersebut. Ketidaksabaran sering menjadi alasan utama terjadinya kehancuran. Perceraian dalam rumah tangga hingga kecelakaan di jalan raya bisa terjadi berawal dari ketidaksabaran kita.
"The world is a lonely planet." Demikian status seorang teman saya di sebuah situs jejaring dunia maya. Usut punya usut ternyata ia sedang merasa kesepian. Penduduk dunia diperkirakan mencapai 7 milyar jiwa tahun depan. Lantas bagaimana mungkin dunia ini ia katakan sepi? Indonesia sendiri berada pada urutan keempat dalam daftar negara dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu sekitar 236 juta jiwa. Tetapi tetap saja teman saya itu merasa kesepian, meski setiap hari ia pasti sama seperti anda dan saya, bersinggungan dan bertemu dengan banyak orang hampir setiap saat. Apa yang ia katakan saya yakin mewakili banyak orang yang merasa seperti dirinya, merasa kesepian, sendirian atau bahkan mungkin terasing dari orang-orang disekitarnya.