====================
"Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran"
“Percaya” sudah menjadi kata yang sangat sulit dialami oleh orang kebanyakan saat ini. Mulai dari iklan-iklan di media sampai teman baik dan bahkan sampai pasangan hidup, hampir semua sulit untuk dipercaya janjinya. Tetapi tanpa “percaya” apalah artinya hidup yang kita jalani di dunia ini? Bahkan untuk sekedar mandi pagi-pun kita harus “percaya” kalau kita tidak akan terpeleset di kamar mandi. Atau ketika berjalan di jalan raya, kita juga butuh “percaya” kalau mobil atau motor kita tidak akan tertimpa papan reklame. Jika kita bahkan sudah kehilangan rasa “percaya” untuk hal-hal yang sedemikian sederhana, maka kita hanya akan menjadi orang-orang yang paranoid yang selalu mencurigai dan was-was sepanjang hari dan sepanjang usia kita. Tentunya tidak ada dari kita yang menginginkan hidup seperti demikian bukan? Lalu jika demikian bagaimana kita bisa “menghidupkan” lagi atau mungkin lebih tepat “menghidupkan ulang” rasa “percaya” itu?Kata Ibrani yang dipakai untuk kata “percaya” pada ayat di atas adalah !m;a' (“aman” demikian bacanya). Bunyi kata Ibrani dari kata “percaya” di atas adalah AMAN! Aman! Ya, bukankah memang “percaya” itu dapat memberikan rasa aman pada jiwa kita. Kita merasa aman ketika mandi bahwa kita tidak akan terpeleset karena kita “percaya” pada keamanan dinding kamar mandi kita. Kita merasa aman ketika berkendaraan di jalan raya dan tidak akan tertimpa papan reklame karena kita “percaya” bahwa pemerintah tata kota yang memasang papan reklame itu tidak akan sembarang memasangnya.
Akhir Desember 2008 yang lalu, saya bersama dengan seorang rekan dan saudara pergi ke Dufan. Sudah beberapa kali saya ke Dufan dan mengikuti semua wahana permainan yang ada di Dufan. Akan tetapi ada satu wahana permainan yang saya belum bisa merasa “aman” untuk menaikinya. Mengapa? Karena saya belum “percaya” sama kualitas dan keamanan permainan tersebut. Nama wahana permainan tersebut adalah TORNADO! Permainan ini begitu memaksa adrenalin manusia sampai di titik puncaknya. Jadi seorang yang pendiam sekalipun pasti akan berteriak ketika duduk dan diputar-putar 360 derajat oleh mesin permainan ini.
Beberapa kali rekan dan saudara saya mengajak tetapi saya terus menolak dengan alasan rasa “aman” tadi. Tetapi waktu itu, saya berpikir. Kalau saya baru timbul rasa “aman” setelah saya cek semua baut dan oli serta karyawan yang mengelola permainan ini, maka rasanya “makna sejati” daripada permainan ini hilang! Saya akan duduk dan diputar-putar 360 derajat tanpa ada rasa apa-apa. Lalu jika demikian apa makna permainan ini? Lalu saya mencoba memberanikan diri dengan belajar “percaya” sama benda ini! Hasilnya sungguh mencengangkan saya secara pribadi: ternyata rasa “aman” itu ada SETELAH saya berani “percaya” dan “mempercayakan” diri saya pada kualitas wahana permainan tersebut!
Bukankah Abram pada ayat-ayat di atas juga merasakan rasa tidak “aman” yang besar? “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan anak yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” (Kejadian 15:2) dan “Engkau [TUHAN] tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kejadian 15:3). Kita semua membutuhkan rasa “aman” di dalam hidup ini. Bahkan menjelang kematianpun kita masih butuh akan rasa “aman” tentang siapa penerusku nanti. Lalu bagaimana Abram menemukan rasa “aman”-nya?
Rasa “aman” Abram tidak ditemukan di atas dasar manapun SELAIN di atas dasar FIRMAN (KATA-KATA) TUHAN! Kata (firman) Tuhan kepada Abram: “Orang ini [Eliezer] tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” (Kejadian 15:4). Setelah Abram mendengar kata-kata Tuhan ini, Alkitab mencatat: “lalu percayalah [amanlah] Abram kepada TUHAN…” Nah, percaya Abram ini timbul setelah Abram mendengarkan kata-kata (firman) Tuhan, dan lihatlah apa yang dikatakan firman kepada Abram ketika ia meng-“aman”-kan dirinya berdasarkan kata-kata Tuhan: “…maka TUHAN memperhitungkan [menghargai] hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6)
Filipi 4:6-7 mengatakan: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam DOA dan PERMOHONAN dengan UCAPAN SYUKUR. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Jika Allah memperhitungkan (menghargai) percaya Abram kepada-Nya, maka Allah juga akan memperhitungkan percaya kita, anak-anak Abra[ha]m, jika kita meneladani Abram yang menaruh percayanya (aman-nya) pada kata-kata Tuhan saja! Kiranya rasa “aman-percaya” kita hanya kita landaskan pada kata-kata-Nya (firman-Nya) yang kekal dan abadi!
Percayalah! Karena firman-Nya masih “berkata-kata” hingga hari ini!
Beberapa hari belakangan ini saya melihat hal-hal yang memprihatinkan. Ada seorang teman yang ternyata tega menjual harga diri dan kehormatan dirinya, mengkhianati orang yang selama ini mengasihinya dengan tulus demi sejumlah uang, Ada juga yang tidak lagi sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan tapi bergeser pada individu-individu tertentu yang dianggap bisa membahagiakan hidup mereka. Ada yang mulai menjauh dari Tuhan sehingga mulai sulit menangkap apa rencana Tuhan dalam hidupnya. Dia menjadi sulit mendengar pesan Tuhan, lebih tepatnya mulai merasa bahwa ia hanyalah sendirian berjuang menghadapi permasalahan hidupnya. Beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah suara dalam hati saya. Kira-kira demikian yang saya dengar. Apakah Tuhan menganugerahkan keselamatan dan rancangan damai sejahteraNya pada semua orang? Ya. Semua orang tanpa terkecuali dianugerahkan keselamatan dan perencanaan akan hal-hal yang terbaik dalam hidupnya. Tapi ingat, ada kehendak bebas pada manusia. Setiap keputusan atau pilihan yang kita ambil akan membawa hasil yang berbeda. Apakah kita ikut apa kata Tuhan, apakah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya, menjalani sesuai kehendakNya, atau kita fokus pada hal-hal yang menurut kita sendiri terbaik buat kita, meski itu bertentangan dengan firman Tuhan, apakah kita memilih untuk patuh mengikuti rencanaNya atau hanya mendasarkan keputusan kita terpusat pada diri sendiri, itu semua adalah pilihan. Kesimpulan yang saya dapat adalah, ya, Tuhan memberikan anugerahNya akan keselamatan dan rancangan terbaik untuk hari depan pada semua orang, namun kepada kita diberikan kehendak bebas (free will) untuk mengikuti atau menolakNya. The choice is up to us. 
Reformasi secara luar biasa mengubah begitu banyak hal di Indonesia mengenai kemerdekaan atau kebebasan. Sekarang kita jauh lebih bebas untuk mengekspresikan diri, mengeluarkan unek-unek dan berpendapat. Itu sebuah sisi positif yang mendapat pujian dari banyak negara-negara di belahan dunia. Tapi di sisi lain, kita melihat efek samping dari reformasi. Kebebasan seringkali diartikan dengan bebas sebebas-bebasnya berbuat apapun. Akhirnya kelompok-kelompok ekstrim kini menampakkan diri dengan mengatasnamakan kebebasan. Aksi-aksi anarkhis, kekerasan, pemaksaan kehendak dari mayoritas pada minoritas, bentuk-bentuk tekanan, dan sebagainya, muncul sebagai konsekuensi dari pemahaman keliru mengenai kebebasan. Salah seorang teman pernah berkata, jika begini jadinya, lebih baik tidak usah reformasi. Bangsa kita ternyata belum siap untuk menerima kebebasan dan perbedaan pendapat secara dewasa. Yang lain berpendapat, kita adalah sebuah bangsa yang terlalu lama disuapi, dan ketika keran kebebasan dibuka, banyak yang menjadi salah tingkah dan akhirnya "keblinger". Just like two sides of coin, selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam kehidupan. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana cara menyikapi sebuah kemerdekaan. Dan hari ini saya ingin berbagi firman Tuhan yang menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap atas sebuah kemerdekaan atau kebebasan.
Semenjak aktif dalam persekutuan keluarga, saya memasuki sebuah fase baru kehidupan yang lebih menyenangkan. Memang menyenangkan bisa berkumpul dengan beberapa keluarga lain yang saat ini dekatnya sudah terasa seperti saudara sendiri. Kita saling menguatkan, saling menasihati, dan bersama-sama berdoa dan memuliakan Tuhan lewat pujian/penyembahan dalam tiap pertemuan seminggu sekali. Saya bersyukur mendapatkan sebuah persekutuan yang serasi, dan kami semua sama-sama bertumbuh. Saya menyadari betul bahwa sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan sendirian. No man is an island. Kita harus hidup berinteraksi dan saling bantu, sebagai sosok mahluk sosial di bumi ini. Seorang teman persekutuan pernah mengalami masalah dengan pekerjaannya, namun dengan kuatnya persaudaraan dalam persekutuan, ia tidak sampai jatuh, malah kini sudah bangkit lagi.
Kalau bicara soal pengabdian, saya selalu mengingat ayah saya. Ia seorang dokter yang sama sekali tidak pernah mementingkan bayaran. Saya ingat ketika saya kecil, ia selalu melayani pasien yang datang kapan saja. Bahkan tengah malam atau subuh sekalipun. Kami sekeluarga sering terbangun tengah malam ketika ada orang yang mengetuk pagar dan memanggil dokter. Ibu saya pun waktu itu sering merasa terganggu dan takut, kalau-kalau yang datang bukanlah pasien tetapi orang jahat. Bagaimana jika maling yang datang? Seringkali ibu saya bertanya seperti itu. Tapi jawaban ayah saya tetap sama. "ya, bisa saja maling.. tapi bagaimana jika yang datang adalah orang yang benar-benar butuh pertolongan?" Ia menyediakan waktunya secara total untuk siapa saja. Bahkan dulu ia sering tidak dibayar karena pasiennya orang yang tidak sanggup. Atau beberapa kali saya melihat ia dibayar tidak dengan uang, melainkan dengan sayur atau sedikit buah. Karena saya waktu itu masih kecil, saya belum mengerti mengapa ia tetap membantu orang walaupun terkadang tidak dibayar. Ia menjawab bahwa menjadi dokter adalah sebuah panggilan untuk menolong orang lain, dan bukan untuk mencari keuntungan. Sebuah keteladanan yang luar biasa, yang masih membekas hingga kini dalam diri saya.
Beda generasi, beda gaya. Itu sudah menjadi hal yang lumrah dalam perkembangan jaman. Karena beda generasi inilah terkadang muncul konflik dalam keluarga antara orang tua dan anak. Orang tua tidak bisa menerima gaya hidup generasi yang lebih muda, mereka tetap berpegang kuat kepada tradisi mereka, sementara anak-anak merasa orang tua mereka terlalu kolot/kuno dan tidak mau mengerti mereka. Selalu ada perbedaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan selalu ada ciri dimana generasi yang lebih muda akan menentang generasi sebelumnya. Jika dalam hal-hal kecil tentu masalah yang timbul dari perbedaan generasi ini tidak akan terlalu berakibat besar. Namun bagaimana mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masa depan? Ada sebuah contoh nyata dari keluarga saya. Salah seorang paman memaksakan kehendaknya agar anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter. Si anak sama sekali tidak tertarik, ia lebih tertarik untuk mendalami komputer dan/atau belajar menjadi koki, karena ia sangat hobi memasak. Karena paksaan, ia pun akhirnya dimasukkan ke fakultas kedokteran. Ini terjadi 6 tahun yang lalu. Saat ini, si anak sudah dikeluarkan karena tidak berprestasi apa-apa, sering bolos dan hidupnya pun tidak karuan. Saya sempat berpikir, seandainya paman saya bisa lebih bijaksana. Andaikan ia memang ragu anaknya bisa sukses, setidaknya mungkin ia bisa memberikan kesempatan bagi si anak untuk membuktikan pilihannya adalah benar. Atau setidaknya mereka bisa berbicara dari hati ke hati sebelum memutuskan secara sepihak. Si anak (sepupu saya) ini dahulu sering berkeluh kesah kepada saya mengenai hal ini. Tapi saya tidak memiliki otoritas untuk ikut campur. Orang tua otoriter, tapi di sisi lain, sepupu saya juga salah karena tidak menurut. Ia memberontak dengan sengaja merusak kuliahnya sendiri. Siapa yang salah? Orang tua yang merasa mereka lebih punya pengalaman dan lebih tahu, atau anak yang merasa mereka tidak didengarkan?
"Waduh, kalau semua kritik dimasukin ke hati, bisa gila mas.." demikian komentar salah seorang anggota penyelenggara event musik pada suatu kali pada saya. "Orang kalau mengkritik suka nggak kira-kira, mereka nggak mau tahu bagaimana sulitnya pekerjaan ini, kita sudah mati-matian kerja, masih juga kejam-kejam komentarnya.." ia melanjutkan. "Mengomentari sih mudah, coba dulu deh duduk di posisi saya, baru tahu bagaimana susahnya." lanjutnya lagi. Ya, mendengarkan kritik seringkali tidak mudah. Ada kalanya kritik yang datang terlalu kejam, sifatnya bukan lagi membangun tapi meremehkan dan menjatuhkan, sehingga jika kita tidak memiliki mental kuat dan benar-benar fokus pada tujuan, kita bisa menjadi lemah dan patah semangat.
Menganut kepercayaan yang berbeda dengan kaum mayoritas terkadang menyulitkan bagi sebagian orang. Ada perasaan disisihkan, sulit untuk diterima ditengah-tengah teman sekerja bahkan ada yang mendapatkan kesulitan untuk naik jabatan atau promosi karena perbedaan keyakinan. Seorang teman mengeluhkan kondisi ini pada suatu ketika. Di kantornya yang dipenuhi mayoritas penganut keyakinan yang berbeda membuatnya sulit menapaki jenjang karir. Contoh lain yang mungkin paling sering adalah ketika tengah mendekati seseorang yang berbeda keyakinan. Ada yang menutupi jati dirinya, malu mengakui bahwa mereka adalah pengikut Kristus, bahkan tidak jarang pula ada yang memilih untuk putus hubungan dengan Kristus demi mendapatkan pasangan hidupnya. Ada situasi-situasi yang mungkin timbul dimana kita harus menentukan sikap atau harus memilih. Sayangnya ada banyak yang lebih memilih kepentingan dunia ketimbang perkara surgawi. Ada orang yang malu menjadi orang Kristen karena takut dianggap tidak gaul. Tapi coba pikirkan ini. Bayangkan jika seandainya Yesus malu membela kita, bagaimana sekiranya Yesus memilih untuk tidak menanggung malu dan penderitaan akibat penyiksaan sampai mati di kayu salib demi menyelamatkan kita. Apa jadinya kita hari ini?