Mg Paskah V :
Kis 14:21b-27; Why 21:1-5a; Yoh 13:31-33a.34-35
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."
Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr, alm. sebagai klerus atau imam, telah membuat wasiat di hadapan Notaris perihal pembagian kekayaan yang dimiliki jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Surat wasiat tersebut disimpan di Keuskupan, yang secara kebetulan saya sebagai Ekonom Keuskupan harus merawatnya. Dari akte notaris yang saya baca antara lain tertulis bahwa jika Bapak Kardinal dipanggil Tuhan maka mohon agar 75% kekayaan dipersembahkan ke Keuskupan, sedangkan 25% dibagikan kepada keluarganya alias adik-adiknya. Namun pada jam-jam terakhir hidupnya, ketika Yang Mulia terbaring di rumah sakit, Bapak Uskup Julius Darmaatmaja SJ dalam kunjunganya di rumah sakit kepada Bapak Kadinal dan dihadapan saudara-saudarinya yang berkumpul pada waktu itu bertanya "Apa yang dikehendaki Bapak Kardinal dengan kekayaan atau uang yang akan ditinggalkan?". Bapak Kardinal memberi jawaban yang isinya sangat berbeda dengan apa yang pernah dinyatakan dihadapan Notaris dan tertulis di akte notaris, dan apa yang dikatakan pada saat-saat terakhir hidupnya inilah yang akhirnya menjadi kebijakan atau keputusan untuk dilaksanakan. Kata-kata atau nasihat orangtua atau tokoh pada saat-saat terakhir hidupnya pada umumnya sungguh bermakna serta menjadi pegangan atau pedoman cara hidup dan bertindak bagi mereka yang ditinggalkan. Yesus yang telah bangkit dari mati sering menampakkan diri kepada para murid dan sebelum naik ke sorga Ia juga memberi nasihat-nasihat kepada para rasul, antara lain :"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi"., maka marilah kita renungkan dan hayati perintah atau nasihat Yesus ini.
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yoh 13:34).
Tolok ukur atau barometer saling mengasihi adalah sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. Yesus mengasihi kita dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada kita, antara lain sampai wafat di kayu salib. Ia menghayati apa yang pernah disabdakanNya yaitu "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Luk 10:27), maka marilah kita salng mengasihi satu sama lain `dengan segenap hari, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh'.
Saling mengasihi sebagaimana disabdakan oleh Yesus diatas kiranya pernah dihayati oleh para suami-isteri atau orangtua, yang antara lain memuncak dalam hubungan seks, maka kami berharap para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup saling mengasihi bagi anak-anaknya. Kami mengingatkan juga hendaknya hubungan seks antar suami isteri sungguh merupakan perwujudan kasih, bukan sekedar mengikuti hawa nafsu saja, yang pada umumnya muncul dari pihak suami, sehingga isteri merasa diperkosa alias dipaksa. Hidup saling mengasihi buahnya adalah kebahagiaan dan kebebasan sejati serta memperteguh kebebasan dan kebahagiaan.
Yesus juga mengajarkan bentuk kasih yang lain serta telah menghayatinya yaitu "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."(Mat 5:44), maka marilah kita hayati ajaran kasih ini. Kami percaya bahwa kita semua memiliki `musuh' yaitu apa-apa atau siapa saja yang kurang berkenan di hati atau selera pribadi saya atau yang tidak kita sukai atau senangi alias kurasakan sebagai yang mengganggu atau menghambat. "Musuh" itu antara lain berupa makanan, minuman, cuaca, lingkungan hidup, barang, orang, pekerjaan atau jabatan dst… Sekali lagi kami ingatkan disini perihal makanan. Dalam hal makan hendaknya berpedoman sehat dan tidak sehat, bukan nikmat dan tidak nikmat atau suka dan tidak suka. Hendaknya jenis makanan apapun asal sehat santap dan nikmati saja, nikmat dan tidak nikmat, enak dan tidak enak dalam hal makanan itu hanya sesaat saja, yaitu di lidah. Jika kita dalam hal makanan yang sehat tidak ada masalah, maka kami percaya kita juga akan dengan mudah mengasihi atau menikmati cuaca, lingkungan hidup, pekerjaan, jabatan atau barang dan orang yang mungkin tidak sesuai dengan selera pribadi.
"Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara" (Kis 14:22)
Paulus dan Barnabas `menguatkan hati murid-murid, menasihati mereka supaya bertekun dalam iman, dan mengingatkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak sengsara'. Marilah kita renungkan dan hayati bersama apa yang dinasihatkan dan dikatakan oleh para rasul ini:
• "Bertekun dalam iman". Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada `yang tak kelihatan' alias masih menjadi harapan, cita-cita atau dambaan. Secara konkret `bertekun dalam iman' antara lain dapat kita hayati dalam tekun bekerja, bertugas maupun berdoa serta panggilan. Apa yang menjadi panggilan dan tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing? "Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahun dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27). Kepada mereka yang sedang bertugas belajar, para peserta didik, pelajar maupun mahasiswa kami harapkan sungguh tekun dalam belajar; demikian juga para pekerja dimanapun kami harapkan tekun dalam bekerja. Untuk memperteguh dan memperkuat ketekunan belajar maupun berdoa, hendaknya juga tidak dilupakan tekun berdoa setiap hari atau kesempatan penting.
• "Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak sengsara". Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti dikuasai atau dirajai oleh Allah, dan dengan demikian senantiasa setia melaksanakan kehendak dan perintah Allah dalam situasi dan kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Kehendak dan perintah Allah yang utama dan pertama-tama adalah hidup saling mengasihi. Rasanya jika kita sungguh hidup saling mengasihi pasti harus menghadapi penderitaan atau kesengsaraan. Saling mengasihi berarti saling memberi dan menerima: nasihat, sapaan, sentuhan, kritikan, saran, pujian, dst.. Hemat saya yang sulit bagi kebanyakan orang adalah dikasihi, yang berarti diberti dan menerima. Kalau menerima ciuman, pujian, sentuhan kasih, hadiah dst. mungkin dengan senang hati kita menerimanya, tetapi bagaimana dengan saran, kritik, ejekan, cemoohan, peringatan dst…; hendaknya semuanya ini diterima dan dihayati sebagai kasih juga. Ingat jika orang tidak mengasihi kita pasti tidak akan mengritik, memberi saran, mengejek, mencemooh atau mengingatkan kita dengan keras, melainkan akan mendiamkan kita. Memang menerima dan dikasihi harus berani sengsara dan menderita, derita dan sengsara yang lahir dari kesetiaan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati. Sikapi dan hayati aneka macam sapaan, sentuhan atau perlakuan orang lain terhadap diri kita sebagai kasih, dan tanggapi dengan singkat `terima kasih'.
"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu." (Mzm 145:8-12)
Jakarta, 2 Mei 2010
Apa yang menjadi alasan anda untuk menjadi pengikut Kristus? Ada banyak orang yang memilih untuk menjadi seorang Kristen agar usahanya diberkati, hidupnya selalu baik, masalah-masalah menjauh dari mereka, sakit disembuhkan, bisnis lancar dan sebagainya. Tuhan memang menyediakan itu semua kepada kita seperti yang sudah Dia janjikan. Dia lebih dari sanggup untuk itu. Tapi kekristenan bukanlah hanya berbicara mengenai berkat-berkat materi dan jasmani saja. Firman Tuhan mengingatkan kita demikian: "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17). Kerajaan Allah bukan cuma secara sempit berbicara mengenai berkat-berkat melimpah di dunia yang fana ini, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai kebenaran yang memerdekakan, damai sejahtera dan sukacita yang telah diberikan oleh Roh Kudus. Terlalu picik jika kita menganggap bahwa menjadi seorang kristen hanya berarti menerima berkat semata tanpa mau menderita apa-apa.
Memberi sumbangan untuk yang membutuhkan tentu baik. Tapi ada banyak orang yang memberi bukan karena merasa terpanggil untuk menolong, melainkan untuk mencari popularitas atau menarik simpati orang lain. Kita melihat para kandidat atau calon pemimpin di berbagai tingkat tiba-tiba gemar memberi ketika sedang berlomba memenangkan pemilihan, namun kemudian lupa setelah sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kita pernah melihat selebritis yang sengaja memanggil wartawan ketika mereka hendak menyambangi rumah yatim piatu atau memberi sedekah. Di sisi lain kita terus menemukan perdebatan antara keharusan memberi tepat 10% dari penghasilan atau memberi persembahan secara sukarela di gereja. "Pendapatan saya tidak banyak, jadi saya tidak bisa memberi saat ini. Setelah saya kaya nanti saja deh.." kata seseorang pada suatu kali. Ini semua menjadi gambaran yang umum kita lihat hari-hari ini. Memberi tanpa mengharapkan balasan, memberi dengan ikhlas, memberi dengan sukacita, memberi karena mengasihi semakin lama semakin langka. Seperti apa sebenarnya pandangan Tuhan tentang memberi?
Seringnya mudah untuk melihat kesalahan orang lain, tapi sulit bagi kita untuk melihat kesalahan sendiri. Kita sering merasa diri kitalah yang benar dan segala yang berjalan tidak sesuai dengan kemauan kita dapat dijadikan sumber kecaman atau setidaknya gunjingan. Tidak peduli siapa orangnya, jika apa yang mereka lakukan atau putuskan seperti keinginan kita, maka kita akan mempersalahkan mereka. Di pekerjaan, dalam bertetangga, atau bermasyarakat dan bernegara kita berlaku seperti itu, dalam lingkungan gereja atau persekutuan pun sama saja. Ketika kita merasa sudah rajin beribadah, rajin berdoa dan sebagainya, berhati-hatilah agar tidak terlena dan merasa bahwa kita sudah menjadi yang paling sempurna. Bukan berarti kita tidak boleh bersyukur, itu tentu baik. Namun jangan kemudian menjadi sombong dan menganggap orang lain berada di bawah tingkat kerohanian atau kepatuhan kita. Orang-orang Farisi di jaman Yesus ada di muka bumi ini menjadi contoh nyata mengenai apa yang saya sebutkan di atas.