=====================
"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?"
Mata akan melihat lurus ke arah mana kita menoleh. Kalau kita mengarahkan mata ke depan, maka apa yang didepan kitalah yang kita lihat. Demikian juga kalau melihat ke samping, belakang, ke bawah atau ke atas. Mata kita didesain seperti itu, bukan seperti ikan yang letaknya disamping. Seperti itu pula mata rohani kita. Kita sering diliputi kebimbangan dalam hidup. Kita terbiasa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dan mengandalkan logika kita yang padahal terbatas ini untuk menilai segala sesuatu ketimbang bertanya kepada Tuhan dan mengaktifkan kepekaan terhadap suaraNya. Tidaklah mengherankan ketika kita mendapatkan pesan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu, yang mungkin secara logika kita terlihat diluar kemampuan kita, kitapun serta merta merasa ragu untuk melakukannya. Kita lupa bahwa Tuhan mampu melakukan segalanya, dan jika Tuhan berkehendak, Dia sendiri pula yang akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang ada dalam rencanaNya. Lalu kemudian kita pun akan terlalu sibuk tenggelam dalam keraguan kita dan lupa bertanya kepada Tuhan. Kita tentu sudah cukup paham bahwa rencana atau rancangan Tuhan itu selalu yang terbaik. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terbaik kalau kita tidak bertanya kepadaNya atau mencari tahu apa yang menjadi rencanaNya buat kita?Dari pengalaman Yeremia kita bisa belajar akan hal itu. Di awal kisah Yeremia kita akan melihat bagaimana firman Tuhan datang kepadanya. Yeremia sejak semula sudah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, dan kini waktunya tiba. (Yeremia 1:4-5). Maka ia pun kaget mendengar hal itu. Dia langsung menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (ay 6). Yeremia langsung mengukur kemampuannya menurut diri sendiri dalam memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan pun kemudian mengingatkan Yeremia. "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 7-8). Dari sini kita pun melihat sebuah ayat yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (ay 11). Dan Tuhan pun membenarkan penglihatan Yeremia. Untuk kali ini saya akan fokus kepada bentuk pertanyaan terlebih dahulu, selanjutnya saya akan membahas makna dari dahan pohon badam yang ia lihat.
Apa yang Tuhan tanyakan kepada Yeremia adalah apa yang dilihatnya. God asked him, what's your vision, what do you see? Seperti itulah bunyi pertanyaan Tuhan kepada Yeremia. Tuhan sering mempertanyakan hal yang sama pula kepada kita. Apa yang kita lihat? Kemanakah kita mengarahkan pandangan mata rohani kita saat ini? Apakah kepada Tuhan dan rencanaNya yang indah buat kita atau kepada masalah demi masalah yang sepertinya sulit untuk diatasi? Sudahkah kita mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Apa panggilan kita yang diberikan Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kita, yang tidak akan mampu kita jawab jika kita tidak rajin bertanya langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita, memiliki kepekaan yang cukup untuk mendengar suaraNya atau apakah kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan atau tidak.
Adalah wajib bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi garis rencana Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Mengetahui apa panggilanNya, apa yang telah Dia rencanakan sejak awal kepada diri kita. Kenapa? Tidak lain karena apa yang telah Dia rencanakan jelas merupakan yang terbaik bagi diri kita. "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (29:11). Kita bisa saja berusaha membenarkan atau mengambil keputusan hanya dengan mengandalkan pikiran, logika dan kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau juga mengandalkan orang lain namun semua itu bukanlah yang terbaik jika tidak sejalan dengan apa yang telah Dia gariskan sejak semula. Mencari dan menemukan panggilanNya adalah yang terbaik. Mengarahkan pandangan kepadaNya itulah yang tepat, karena dengan berjalan seturut rencanaNya kita pun akan mengalami penyertaan Tuhan dan menerima semua yang baik yang telah Dia persiapkan buat kita.
(bersambung)
Seberapa jauh kita mau menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita? Maksud saya begini. Ketika tanggung jawab itu besar dan disertai imbalan yang besar pula, mungkin kita akan bertanggungjawab penuh tanpa masalah. Tapi bagaimana ketika itu sepertinya tidak menguntungkan bagi kita alias kita anggap tidak penting dengan imbalan yang kecil atau tidak ada sama sekali? Banyak orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting tanggung jawabnya. Tetangga di depan rumah saya pergi ke luar kota selama seminggu dan meminta seorang pemuda yang tinggal tidak jauh dari tempatnya untuk memeriksa rumah sekali-kali dan menyiram tanaman di depan rumahnya sekali dua hari. Ia menyanggupi bahkan memegang kunci rumah. Tapi ia sama sekali tidak pernah datang dalam seminggu itu. Tanaman pun kering, sebagian mati. Masih untung rumahnya aman-aman saja. Tetangga saya pun menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa memang sulit mengharapkan tanggung jawab dari orang lain, meski sudah dikenal baik. Saya pernah tidak digaji dalam mengajar sampai berbulan-bulan. Ketika dosen-dosen lain menolak mengajar bahkan merencanakan untuk mogok bersama, saya memilih untuk terus mengajar normal. Mengapa? Karena buat saya itu adalah tanggung jawab yang harus saya lakukan. Kasihan siswa-siswa yang tidak bersalah jika harus menjadi korban dari sebuah sistem buruk di tempat saya mengajar. Mengapa harus mereka yang terkena? Bagaimana dengan masa depan mereka? Kepada saya sudah dipercayakan sejumlah siswa untuk diajar dan dibina, itu tanggung jawab saya, maka saya harus melakukannya dengan keseriusan yang sama apapun keadaannya. Selain saya ingin belajar untuk menjaga dan melakukan tanggung jawab saya dengan baik, saya percaya Tuhan pun ingin kita melakukan seperti itu.
Jika anda mencoba menelepon seseorang lewat ponsel anda dan mendapat jawaban "please try again in a few more minutes" berulang-ulang, mungkin anda akan merasa kesal, apalagi jika ada hal yang penting yang hendak anda sampaikan. Itulah yang saya alami beberapa hari terakhir ini. Mau tidak mau saya pun menjadi lebih 'akrab' terhadap mesin penjawab dan kalimat yang dikatakannya. Please try again, dan please try again lagi. Tiba-tiba saya berpikir bahwa keadaan tidak tersambung ini pun kerap terjadi antara kita dengan Sang Pencipta kita yang begitu mengasihi kita semua. Jika kita kesal, Tuhan pun mungkin kesal melihat kita yang terus saja melakukan perbuatan-perbuatan yang mengecewakan dan menyedihkan hatiNya. Tapi ternyata kasih Tuhan masih jauh lebih besar ketimbang rasa kecewaNya. Berulang-ulang kita berbuat salah, tetapi Tuhan masih terus dengan sabar memberikan kata "please try again" kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus berproses dan berubah menjadi lebih baik dan taat lagi dari hari ke hari.