======================
"Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!"
Dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah ayat disebutkan berulang-ulang dalam hati saya. Sesampainya di rumah pun saya segera bergegas membaca apa yang tertulis pada ayat itu. Ayat yang saya dengar itu menjadi ayat bacaan hari ini. Ini pesan Tuhan bagi kita semua untuk menyambut 2009.Tahun ini dimulai dengan kondisi sulit dan krisis yang terjadi di mana-mana. Sejak dua bulan terakhir, setidaknya, kita melihat betapa kondisi dunia menjadi memprihatinkan. Tidak saja di negara kita, tapi krisis ekonomi kali ini sifatnya global. Negara kuat seperti Amerika sekalipun tidak mampu mencegah krisis global ini. Imbasnya menjalar kemana-mana, termasuk apa yang kita alami hari-hari ini. Begitu banyak karyawan yang dirumahkan, ancaman PHK ada dimana-mana, banyak perusahaan bangkrut, dan sebagainya. Hidup yang sudah sulit menjadi semakin sulit, dan ada banyak orang mulai putus asa dan tidak tahu harus bagaimana untuk bertahan hidup. Ada beberapa teman saya pengusaha berkata bahwa krisis yang terjadi ini sudah di luar nalar, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisa lagi dengan logika. Situasi kacau. Salah seorang dari mereka menggambarkannya dengan sebuah kiasan menarik: "kalau di lapangan bola, ini seolah-olah pemain menendang bola tidak lagi terarah dan beraturan. Bola ditendang kemana-mana, kena kemana-mana tanpa arah." Inilah yang terjadi hari-hari ini. Bukan sebuah suasana menyenangkan tentunya memasuki sebuah tahun baru yang secara logika kita akan terlihat begitu suram dan bagi sebagian besar orang, tanpa harapan.
Tuhan mau kita belajar dari apa yang terjadi pada masa pelayanan Mikha. Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang pelayanannya ada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Situasi dan kondisi dunia saat ini sudah terjadi pula pada masa Mikha. Mari kita lihat apa saja yang terjadi pada masa itu dalam Mikha pasal 7. Kelaparan, gagal panen (ay 1), kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2), sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3), orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4), tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5), kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6). Semua ini dikatakan Mikha seperti sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular (Mikha 1:9).
Apa yang kita hadapi ke depan kurang lebih sama dengan situasi yang Mikha hadapi. Kita bisa belajar darinya bagaimana bersikap menghadapi kondisi sulit ke depan. Ayat hari ini menggambarkan penyerahan sepenuhnya pada Tuhan. "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!" Jika Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan pun sanggup! Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya. (Ibrani 13:8) "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub." (Mazmur 46:2-8). Haleluya! Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, karenanya kita tidak perlu takut memasuki tahun baru yang secara manusia adalah suram dan penuh ketidakpastian. Dalam Ibrani selanjutnya kita baca sebagai berikut: "Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan." (Ibrani 12:26-27). Ayat selanjutnya berbicara mengenai apa yang harus kita lakukan. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (ay 28).
Mikha tetap menanti-nantikan Tuhan, percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu menyelamatkan dan mendengarkan doa anak-anakNya. Daud mengingatkan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita meski bumi hancur sekalipun. Dalam Ibrani kita juga membaca bahwa ada kita harus selalu bersyukur dan beribadah pada Allah karena Dia memberi janji buat kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, meski segala yang lain tergoncangkan. Yesus sendiri berkata: "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Karena itu, memasuki tahun baru, 2009, mari kita semua tetap setia menantikan Tuhan, teruslah mengucap syukur dan berdoa, karena Tuhan akan meluputkan permasalahan bagi setiap yang percaya kepadaNya. Mari masuki tahun baru dengan penuh sukacita. Tidak perlu takut, khawatir dan ragu, karena Tuhan ada bersama kita! Selamat Tahun Baru 2009, Tuhan Yesus memberkati!
Bersukacitalah dan bersyukurlah dalam tahun yang sulit, karena Tuhan ada bersama kita

Menjelang Tahun Baru, di Gereja saya ada dua Pendeta dalam kesempatan berbeda menyampaikan sebuah pesan yang sama. Saya menangkap ini pesan profetik yang menjadi pesan Tuhan bagi kita semua untuk memasuki tahun yang baru. Tahun 2009 dipercaya banyak orang sebagai tahun yang sukar. Ada ancaman PHK besar-besaran sebagai akibat dari krisis global yang tengah melanda dunia. Efek PHK itu akan membawa efek domino yang bakal membuat begitu banyak orang menderita. Dan terpaan krisis itu sudah mulai dirasakan orang saat ini. Ada banyak orang yang mulai merasa kesulitan. Di sebuah harian di kota saya menyebutkan jumlah penderita stress disini meningkat pesat beberapa bulan terakhir. Krisis boleh saja terjadi, dan memang tidak pernah dijanjikan bahwa kehidupan Kristiani berarti lepas 100% dari masalah. Setiap saat badai bisa boleh menerpa kita, setiap saat "kapal" kehidupan kita bisa "bocor" dan terancam karam. Tapi jangan lupa, kita punya Allah yang luar biasa yang jauh lebih besar dari semua masalah dunia, sebesar apapun.
Sebagian orang merasa geli pada sosok cicak, bahkan ada yang merasa jijik. Kita semua pasti sepakat menyimpulkan bahwa cicak adalah binatang yang sangat lemah. Tidak seperti ular yang bisa menggigit dan berbisa, cicak tidak mempunyai sistem pertahanan yang memadai untuk melindungi dirinya dari hewan yang lebih besar atau manusia. Maka manusia pun bisa menangkap cicak dengan tangan tanpa bantuan senjata apapun, memegang cicak tanpa resiko apapun, bahkan dengan mudah bisa membunuh cicak. Tapi lihatlah betapa Tuhan menciptakan segala sesuatu itu bukan tanpa sebab. Tuhan tidaklah menciptakan cicak asal-asalan dan menjadikan cicak hanya sebagai mangsa atau santapan empuk predator saja. Cicak dilengkapi dengan ekor yang sanggup ber-regenerasi alias tumbuh lagi jika terputus. Ekor cicak ini akan terputus ketika cicak merasa sedang dalam bahaya. Ekornya akan terus bergerak-gerak sehingga pemangsa akan terfokus pada ekor yang putus dan akibatnya cicak bisa berlari jauh-jauh untuk menyelamatkan diri. Cicak juga dibekali dengan kemampuan beradaptasi tingkat tinggi. Coba lihat, mereka ada dimana-mana, mulai dari lingkungan kotor, kumuh hingga lingkungan mewah. Cicak ada di rumah, di sekolah, di kantor hingga istana-istana raja.
Pepatah "ada gula ada semut" agaknya kurang tepat saat ini. Kenapa demikian? Karena saya melihat semut tetap hadir dimana-mana dengan aktif meski ada gula atau tidak. Di atas meja, di lantai, bahkan semut masuk ke dalam dispenser yang isinya hanya air mineral. Mungkin anda pernah juga merasa kesal dengan keberadaan semut di mana-mana, dan mungkin anda juga pernah membunuh semut-semut itu saking kesalnya. Semut memang binatang yang sangat kecil dan tidak sebanding dengan kita, tetapi ada begitu banyak hal positif yang dapat kita pelajari lewat perilaku dan kebiasaan semut.
Pelanduk adalah sejenis hewan menyusui yang berukuran kecil. Masih tergolong keluarga rusa, tapi ukuran pelanduk dewasa kira-kira sama dengan kelinci. Hewan ini kecil dan lemah. Bayangkan jika hewan berukuran kecil ini berkeliaran bebas di hutan belantara. Pelanduk akan dengan mudah menjadi santapan hewan-hewan lain yang lebih besar darinya. Burung elang misalnya, akan dengan mudah menyambar pelanduk dan memangsanya. Begitu pula ular, dan hewan-hewan buas lainnya. Bagaimana pelanduk mampu melindungi dirinya? Ternyata pelanduk cukup bijaksana untuk membuat rumahnya di bukit batu. Pelanduk melindungi dirinya dari keganasan rimba dengan cara berlindung di balik bebatuan. Jika tidak demikian, rasanya mustahil bagi pelanduk untuk dapat bertahan hidup. Alkitab Perjanjian Lama pun menyebutkan bahwa gunung tinggi dan bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. (Mazmur 104:18).
Ada beberapa orang yang saya kenal memutuskan untuk tidak mau bekerja untuk orang karena tidak mau disuruh-suruh atau bekerja di bawah perintah. Bagi mereka daripada bekerja untuk orang lebih baik duduk diam di rumah. Dan itulah yang terjadi. Mereka hanya mau bekerja wiraswasta, seperti membuka usaha, tapi modal tidak pernah kunjung datang. Istri mereka lah akhirnya yang bekerja, dan sampai pada satu titik tertentu, usia mereka tidak lagi memadai untuk mencari pekerjaan. Dalam beberapa contoh kasus yang saya saksikan sendiri, mereka ini bukan saja menganggur, tapi kerap merepotkan dengan sikap mereka. Rasa minder atau rendah diri membuat mereka tampil penuh emosi dan sindiran untuk menutupi perasaan rendah diri yang mereka rasakan. Kalau sudah begini, dimana lagi letak keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga? Mereka tidak kekurangan, karena istri mereka bekerja, namun sukacita dalam rumah tangga tidak lagi mereka rasakan. Maka tepatlah apa yang dikatakan sebuah peribahasa terkenal: "Money can't buy happiness."