Selasa, 01 April 2008

Aku Melihat Tuhan

AKU MELIHAT TUHAN!

Paskah telah lewat, bisa jadi hilang begitu saja bersama semua tugas, semua rencana, semua target, semua agenda yang ter-scheduled rapi dalam keseharian. Paskah seperti semua perayaan lainnya tetap tinggal perayaan musiman, yang efeknya hilang serta merta bersama berakhirnya perayaan. Apalagi sekarang hidup kita seperti selalu dikepung dengan banyak acara, banyak janji dan komitmen. Nanti ke sini, besok ke situ dan lusa ke sana. Pun juga kita selalu bisa terlibat dalam acara-acara bikinan program televisi. Yah…kita terus berlari bersama dunia yang juga berlari dan bisa sering kita tak tahu kita sedang ke mana. Dan paskah tinggal sebagai satu dari sekian acara yang pernah kita schedule-kan di masa lampau.
Paskah meninggalkan pesan yang panjang dan menantang, tapi juga seringkali susah. Makanya, gema paskah dalam liturgi terus dirayakan selama lima pekan berturut-turut. Kita bisa menelusurinya dengan mengikuti hubungan dinamis antara dua kisah tentang kebangkitan Yesus. Yang pertama adalah kisah penampakan kepada Maria Magdalena (Yohanes 20:11-18) dan yang kedua adalah kisah penampakan kepada Tomas (Yoh.20:24-29). Dalam renungan sebelumnya tentang bunga citra lestari, telah dikatakan bahwa Maria Magdalena adalah orang pertama yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Pengalamannya melihat Tuhan adalah pengalaman yang istimewa baginya: “Aku telah melihat Tuhan (ay.18b). Iman kebangkitan, iman paskah mulai dari keyakinan serupa Maria: bagaimana mungkin orang yang sedemikian mengasihi tanpa syarat dapat mati selamanya! Dengan iman inilah Tuhan menampakkan diri pada Maria. Pengalaman Maria melihat Tuhan tetaplah menjadi pengalaman dia, bukan pengalaman kita. Maka kita tidak bisa menjadikan pengalaman Maria sebagai jawaban ketika misalnya seorang bertanya pada anda, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Tuhan bangkit? Toh pengalaman itu sudah hampir dua ribu tahun yang lalu. Akan tetapi, sikap iman Maria bisa menjadi sikap iman kita meskipun kita tidak melihat dengan kasat mata Kristus yang Bangkit.
Mari kita memberi perhatian pada kalimat “aku melihat Tuhan”. Kalimat itu adalah pernyataan yang tidak melulu demonstratif tapi sangat mendalam, mau mengatakan bagaimana Tuhan sungguh telah mengubah hidupnya, sejak pertama kali berjumpa dengan-Nya waktu tujuh setan diusir daripadanya hingga melihatnya menampakkan diri. Sejak pertama kali berjumpa, hidupnya mulai berubah, mulai baru. Dan pilihan hidup Maria untuk mengikuti Yesus justru diteguhkan dengan pengalaman melihat Tuhan yang bangkit. Mencintai sebagaimana Yesus telah mencintai dia ternyata tidak pernah mati bahkan oleh mautpun. Inilah pengharapan baru yang ditemukan Maria. Pernyataan “aku melihat Tuhan” akhirnya bukan melulu melihat sosok Yesus tapi memahami, menemukan kebenaran bahwa mencintai seperti Yesus tidaklah pernah sia-sia. Pesan menantang pertama Paskah adalah bagaimana mewartakan Yesus yang bangkit, yakni tidak lain menunjukkan kepada orang bagaimana iman pada Yesus telah mengubah hidup kita. Jawaban inilah yang mesti kita berikan pada orang yang minta bukti tadi.
Kisah penampakan Yesus pada Tomas didahului dengan penampakan pada para murid lainnya (ay.19-23). Maka tidak heran jika mereka mengabarkan pada Tomas: “Kami telah melihat Tuhan!” (ay.25). Kalau kita memerhatikan dengan saksama kisah penampakan kepada para murid ini, nampaknya kalimat ‘kami telah melihat Tuhan’ bukan melulu sebagai pernyataan demonstratif meskipun itu tetap merupakan pengalaman istimewa untuk mereka – dan bukan juga pengalaman kita. Pernyataan ‘kami melihat Tuhan’ adalah pernyataan iman komuniter dalam ekaristi, di mana mereka berkumpul pada hari pertama minggu itu (sehari setelah sabat, ay.19). Untuk mengalami buah kebangkitan, buah pesta paskah, mengalami kebangkitan Yesus tidak pernah lepas dari relasi dengan Gereja, tubuh Kristus sendiri. Inilah antara lain yang mau disampaikan melalui kisah Tomas. Tomas tidak melihat Yesus yang bangkit justru ketika ia sedang berada ‘di luar’ persekutuan dan ‘di luar’ ekaristi. Mungkin saja dia masih mencari-cari bukti-bukti lain, hal-hal lain yang meyakinkan dia tentang kebangkitan Yesus, yang menjamin bahwa hidupnya saat itu sedang tidak salah.
Maka tantangan Paskah yang kedua adalah mengundang kita untuk kembali pada cara hidup ekaristis. Dalam ekaristi kita mendengarkan sabda Allah. Ingat bagaimana dua murid Emaus akhirnya melihat Tuhan persis setelah mereka mengakrabi kitab suci dan merayakan ekaristi (Lukas 24:13-35). Dalam ekaristi, kita ikut serta dalam korban Yesus, menerima tubuh dan darah-Nya lalu diutus untuk berbagi hidup bagi dunia. Inilah cara hidup ekaristis.
Pernyataan Tomas yang minta bukti tidak lain mewakili segala kecenderungan kita yang rapuh. Kita suka pada hal-hal sensasional, yang melipur indra dan rasa, yang menyenangkan, yang percaya bahwa berkah Tuhan nampak pada hal-hal yang terlihat, mungkin uang, pekerjaan yang sukses, dst.nya dan sering mengutuk penderitaan.
“ sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”(ay.25)
Tomas baru mengalami Yesus yang bangkit dalam ekaristi (ay.26). Dialognya dengan Yesus seperti mewakili hubungan kita dengan Yesus dalam komuni kudus. Di hadapan Yesus yang menghunjukkan diri-Nya, “taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku…”(ay.27) adalah undangan untuk bersekutu dan bersatu dengan hidup Yesus dan misi-Nya. Tomas seperti mengajak kita, dalam segala kerapuhan dan ketidakpantasan, menyatakan sikap iman ini: “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay.28) sekaligus kesiapan untuk berbagi hidup kita kepada dunia. Inilah buah kebangkitan.
Dialog intim Tomas dan Yesus bisa kita teladani dalam ekaristi yang tiap hari atau tiap minggu kita terima. Saat komuni kudus iman yang sama mesti kita perbaharui yang kita satukan dengan doa kerendahan hati sang perwira “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh!”. Semoga Paskah tetap mendarah daging dalam hidup anda, bukan sebuah perayaan musiman belaka. Dan semoga anda tetap merindukan ekaristi betapapun kita sering merasa tak pantas untuk menerimanya. Percayalah anda akan melihat Tuhan jauh lebih sering dari yang pernah dilihat orang!

Saya yang selalu mendoakan anda semua!

ronald,s.x.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Kumpulan Khotbah Stephen Tong

Khotbah Kristen Pendeta Bigman Sirait

Ayat Alkitab Setiap Hari